Anda di halaman 1dari 21

TUGAS MATA KULIAH

SURVAILENS KESEHATAN MASYARAKAT

OLEH:

KELOMPOK III

NILUH SARINDRAWATI M201601046


MIRAJ FATMAWATI M201601041
RITA SAHARA M201601054
SECTIO AKDARISTAN ASMAHADI M201601079
MULIANA M201601044
NUR AISYAH M201601048
RUSLAN HAMZAH M201601056
RASMIWATI PASANDANG M201601053
MUH. IQBAL YUSTIKA RUSLAN M201601043

PROGRAM STUDI MAGISTER KESEHATAN MASYARAKAT


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
STIKES MANDALA WALUYA
KENDARI
2017
MAKALAH

SUMBER DATA DAN SUMBER DAYA SURVAILENS

A. Latar Belakang

Menurut WHO Surveilans adalah proses pengumpulan, pengolahan, analisis dan

interprestasi data secara sistematik dan terus menerus serta penyebaran informasi kepada

Unit yang membutuhkan untuk diambil tindakan. Oleh karena itu perlu dikembangkan

suatu definisi Surveilans epidemiologi yang lebih mengedepankan analisis atau kajian

epidemiologi serta pemanfaatan informasi epidemiologi

Surveilans adalah kegiatan pengamatan secara sistematis dan terus menerus

terhadap penyakit atau masalah-masalah kesehatan serta kondisi yang mempengaruhi

resiko terjadinya penyakit atau masalah-masalah kesehatan tersebut agar dapat melakukan

tindakan penanggulangan secara efektif dan efisien melalui proses pengumpulan,

pengolahan data dan penyebaran informasi epidemiologi kepada penyelenggara program

kesehatan.

Pengumpulan data merupakan tahap awal dari rangkaian kegiatan surveilans yang

paling penting untuk proses selanjutnya. Dalam pengumpulan data surveilans dapat

dilakukan melalui surveilans aktif dan pasif. Pengumpulan data tersebut harus

mengumpulkan data-data dari bebagai sumber data. Sumber data dalam surveilans

epidemologi merupakan sumber data/ subyek dari mana data dapat diperoleh yang

digunakan untuk kegiatan surveilans epidemologi.

Surveilans kesehatan masyarakat (public health surveillance) adalah suatu

kegiatan yang dilakukan secara terus menerus berupa pengumpulan data secara

sistematik, analisis dan interpretasi data mengenai suatu peristiwa yang terkait dengan
kesehatan untuk digunakan dalam tindakan kesehatan masyarakat dalam upaya

mengurangi angka kesakitan dan kematian, dan meningkatkan status kesehatan.

Data yang dihasilkan oleh sistem surveilans kesehatan masyarakat dapat digunakan :

1. Sebagai pedoman dalam melakukan tindakan segera untuk kasus-kasus

penting kesehatan masyarakat

2. Mengukur beban suatu penyakit atau terkait dengan kesehatan lainnya, termasuk

identifikasi populasi resiko tinggi

3. Memonitor kecenderungan beban suatu penyakit atau terkait dengan kesehatan

lainnya, termasuk mendeteksi terjadinya outbreak dan pandemic

4. Sebagai pedoman dalam perencanaan, implementasi, dan evaluasi program

5. Mengevaluasi kebijakan-kebijakan publik

6. Memprioritaskan alokasi sumber daya kesehatan dan

7. Menyediakan suatu dasar untuk penelitian epidemiologi lebih lanjut.

Sementara menurut pendapat lain dikemukakan, surveilans merupakan sebuah

istilah umum yang mengacu pada observasi yang sedang berjalan, pengawasan

berkelanjutan, pengamatan menyeluruh, pemantauan konstan, serta pengkajian perubahan

dalam populasi yang berkaitan dengan penyakit, kondisi, cedera, ketidakmampuan, atau

kecenderungan kematian.

B. Tujuan

Tujuan penulisan makalah ini yaitu untuk mengetahui sumber-sumber data apa

saja dan juga sumber daya yang digunakan Survaielns.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Sumber Data Survailens

Pengumpulan data merupakan tahap awal dari rangkaian kegiatan surveilans yang

paling penting untuk proses selanjutnya. Dalam pengumpulan data surveilans dapat

dilakukan melalui surveilans aktif dan pasif. Pengumpulan data tersebut harus

mengumpulkan data-data dari bebagai sumber data. Sumber data dalam surveilans

merupakan sumber data/ subyek dari mana data dapat diperoleh yang digunakan untuk

kegiatan surveilans.

Macam-macam sumber data dalam surveilans (Kepmenkes RI

No.1116/Menkes/SK/VIII/2003) yaitu :

1. Data kesakitan yang dapat diperoleh dari unit pelayanan kesehatan dan masyarakat.

2. Data kematian yang dapat diperoleh dari unit pelayanan kesehatan serta laporan

kantor pemerintah dan masyarakat.

3. Data demografi yang dapat diperoleh dari unit statistik kependudukan dan masyarakat

4. Data geografi yang dapat diperoleh dari unit unit meteorologi dan geofisika

5. Data laboratorium yang dapat diperoleh dari unit pelayanan kesehatan dan

masyarakat.

6. Data kondisi lingkungan

7. Laporan wabah

8. Laporan penyelidikan wabah/KLB

9. Laporan hasil penyelidikan kasus perorangan

10. Studi epidemiology dan hasil penelitian lainnya


11. Data hewan dan vektor sumber penular penyakit yang dapat diperoleh dari unit

pelayanan kesehatan dan masyarakat.

12. Laporan kondisi pangan

B. Pengumpulan Data

Data- data yang dikumpulkan dalam kegiatan survey haruslah dianalisis. Untuk

dapat melakukan analisis dan pelaporan hasil kegiatan surveilans maka terdapat 2 hal

penting yang harus dikumpulkan datanya yaitu angka yang akan menjadi numerator dan

denominator.

1. Numerator

a. Data yang perlu dicatat

Terdapat tiga kategori data yang perlu dicatat dari seorang pasien yang

terkena infeksi nosokomial yaitu :

1) Data demografik yang meliputi data tentang : nama, umur, jenis kelamin,

nomor register rumah sakit, ruang rawat, tanggal masuk rumah sakit.

2) Data infeksi yang meliputi data tentang : tanggal mulai timbul gejala, tempat

terjadinya infeksi

3) Data laboratorium yang meliputi data tentang : nama kuman pathogen,

antibiotic yang diperoleh pasien, pathogen antibiogram.

4) Data factor resiko utama terjadinya infeksi ; sejauh hal ini memungkinkan

untuk didapatkan dan digunakan dalam analisis data ini dapat dicatat. Faktor

resiko spesifik antara lain : pemasangan kateter urine, pemasangan ventilator,

tanggal operasi, dll.

5) Data tentang perkembangan infeksi nosokomial pasien, misalnya pasien

meninggal setelah terkena infeksi nosokomial


b. Petugas Pengumpul Data

Petugas dari Komite Infeksi Nosokomial atau Panitia Infeksi Nosokomial

bertanggungjawab atas pengumpulan data tersebut, oleh karena itu mereka harus

mempunyai ketrampilan dalam mengidentifikasi infeksi nosokomial sesuai

dengan kriteria yang ada.

c. Sumber Data

Banyak sumber data yang dibutuhkan dalam pelaksanaan surveilans

infeksi nosokomial. Petugas pengumpul data harus memiliki akses untuk

mendapatkan semua data yang dibutuhkan. Untuk itu diperlukan dukungan dan

kerja sama dari berbagai pihak di lingkungan rumah sakit agar suatu program

surveilans dapat berjalan dengan baik.

Dalam mengumpulkan sumber data petugas surveilans pertama-tama harus

melakukan penemuan kasus terlebih dahulu baru kemudian melakukan konfirmasi

kasus. Untuk melakukan konfirmasi kasus, sumber data internal yang paling

penting adalah rekam medik pasien, selain itu juga dapat dilakukan konfirmasi

kasus kepada dokter yang mengobati pasien dan perawat ruangan dimana pasien

berada. Sumber informasi lainnya adalah petugas apotik, petugas laboratorium,

petugas patologi.

d. Cara mengumpulkan data

Apapun metode yang digunakan dalam melaksanakan surveilans infeksi

nosokomial, perlu menggunakan cara pengumpulan data yang seragam. Cara yang

biasa digunakan adalah dengan menelaah data laboratorium dan catatan medik

pasien.

Biasanya penemuan kasus diawali dengan menelusuri data rekam medis

pasien yang masuk dengan infeksi dan pasien-pasien dengan resiko infeksi
nosokomial, misalnya pasien dengan diabetes mellitus, pasien yang mendapatkan

terapi imunosupresan kuat.

Kemudian petugas surveilans mengunjungi laboratorium untuk melihat

laporan biakan mikrobiologi. Langkah ini akan sangat membantu petugas untuk

menentukan rekam medik mana yang perlu ditelaah lebih lanjut.

2. Denominator

Untuk dapat menentukan infection rate, maka denominator yang perlu dicatat

adalah tabulasi data dari kelompok pasien yang memiliki resiko untuk mendapatkan

infeksi nosokomial yang sama. Bila angka infeksi nosokomial akan diperbandingkan

antar rumah sakit, maka denominator yang digunakan haruslah merupakan

denominator yang digunakan secara bersama-sama. Sebagai contoh denominator yang

digunakan oleh NNIS untuk surveilans di ICU adalah jumlah pasien, jumlah hari

rawat di ICU, jumlah hari inseri ventilator, jumlah total hari insersi line sentral,

jumlah hari insersi kateter urin, dll.

C. Pengolahan Data Dan Analisis Data

Setelah kegiatan survey dilakukan hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah

melakukan analisis data. Dalam melakukan analisis data petugas pengumpul data harus

tetap dilibatkan dan sangat tidak dianjurkan menggunakan seorang ahli statistic ataupun

epidemiologist dari luar rumah sakit yang tidak mengetahui permasalahan untuk

melakukan analisis.

1. Menentukan dan menghitung rates

Rate adalah suatu probabilitas suatu kejadian. Biasa dinyatakan dalam formula

sebagai berikut :

(x/y)k

dimana :
x = numerator dalam kurun waktu tertentu

y = denominator

k = angka bulat agar mudah membacanya ( 100 ;1.000 ; atau 10.000 ).

kurun waktu ini antara denominator dan numerator harus sama

Ada tiga macam rate yang biasa digunakan dalam surveilans infeksi

nosokomial yaitu :

a. Incidence : adalah jumlah kasus baru dari suatu penyakit yang timbul dalam suatu

kelompok populasi tertentu dalam kurun waktu tertentu pula. Dalam surveilans

nosokomial, incidence adalah jumlah kasus baru infeksi nosokomial dalam kurun

waktu tertentu dibagi jumlah pasien dengan resiko untuk mendapatkan infeksi

nosokomial yang sama dalam kurun waktu yang sama pula.

b. Prevalence : adalah jumlah total kasus baik baru maupun lama dakan suatu

kelompok populasi tertentu dalam kurun waktu tertentu (period prevalence) atau

dalam satu titik waktu tertentu ( point prevalence). Point prevalence pada infeksi

nosokomial adalah jumlah kasus infeksi nosokomial yang didapat dibagi dengan

jumlah pasien dalam survey.

c. Incidence density : adalah rata-rata instant dimana infeksi terjadi, relative terhadap

besaran populasi yang bebas infeksi. Incidence density diukur dalam satuan

jumlah kasus penyakit per satuan orang per satuan waktu. Sebagai contoh

incidence density yang sering digunakan dalam infeksi nosokomial di rumah sakit

adalah jumlah infeksi nosokomial per 1.000 pasien per hari. Incidence density

sangat berguna pada keadaan tertentu yaitu bila infection rate yang dihitung

merupakan fungsi linier. Contoh : Incidence Rate (IR) pasien terpasang kateter

urine adalah jumlah Infeksi Saluran Kemih / Jumlah pasien terpasang kateter.
Sedangkan Incidence Density Rate ( IDR ) pasien terpasang kateter urine adalah

jumlah infeksi saluran kemih / jumlah hari pemasangan kateter.

Pada IDR panitia infeksi nosokomial dapat mengontrol lamanya pasien

terpapar oleh factor resikonya dalam hal contoh di atas dapat diketahui berapa hari

pasien terpapar pemasangan kateter.

2. Memperbandingkan rates

Agar rates yang telah dihitung dapat diperbandingkan maka sangatlah penting

untuk melakukan penyesuaian terhadap rates yang akan diperbandingkan dengan

menggunakan metode statistic.

Untuk dapat membandingkan rates maka syaratnya adalah :

a. Menggunakan definisi yang sama

b. Menggunakan metode surveilans yang sama dan cara penemuan kasus yang sama.

c. Memiliki akurasi metode yang sama dan sumber daya manusia yang sama

d. Mempunyai karakteristik rumah sakit yang sama antara lain lama rawat yang

sama.

Dalam memperbandingkan rates, maka perbandingan dapat dilakukan

antara lain :

a. Diantara kelompok pasien

Denominator dari suatu rates haruslah menggambarkan population at

risk. Dalam membandingkan rates antar kelompok pasien dalam satu rumah

sakit, maka rates tersebut haruslah disesuaikan terlebih dahulu terhadap factor

resiko yang berpengaruh besar terhadap terjadinya infeksi nosokomial. Dalam

melakukan penyesuaian perlu dipertimbangkan factor resiko intrinsic dan

ekstrinsik pasien.
b. Menurut waktu

Penyesuaian rates juga harus dilakukan bila memperbandingkan rates

berdasarkan kurun waktu yang berbeda. Sebagai ilustrasi misalnya akan

diperbandingkan rate infeksi luka operasi pasien kelas III saat ini dengan

beberapa tahun yang lalu. Karena sosioekonomi yang jelek beberapa tahun

yang lalu, maka banyak pasien yang pulang paksa setelah selesai dioperasi,

sehingga seolah-olah beberapa tahun yang lalu angka infeksi luka operasi kecil

dibandingkan saat sekarang.

c. Infection Rates

Infection rates dalam satu rumah sakit dapat diperbandingkan. Hal ini

dapat dilakukan untuk membandingkan angka laju infeksi dengan populasi

yang sama di dalam rumah sakit yang sama, misalnya membandingkan laju

infeksi nosokomial dari dua ICU atau membandingkannya dengan benchmark

rates yang telah ditetapkan oleh rumah sakit.

D. Langkah Surveilans Epidemiologi

Langah-langkah dalam surveilans sangat di butuhkan agar kita mendapatkan hasil

yang diinginkan dan tepat penggunaannya. Terdapat beberapa langkah-langkah dalam

surveilans epidemiologi, antara lain yaitu:

1. Perencanaan surveilans

Perencanaan kegiatan surveilans dimulai membuat kerangka kegiatan

surveilans yaitu dengan penetapan tujuan surveilans, dilanjutkan dengan penentuan

definisi kasus, perencanaan perolehan data, teknik pengumpulan data, teknik analisis

dan mekanisme penyebarluasan informasi (Masrochah, S.2006).


2. Pengumpulan data

Pengumpulan data merupakan awal dari rangkaian kegiatan untuk memproses

data selanjutnya. Data yang dikumpulkan memuat informasi epidemiologi yang

dilaksanakan secara teratur dan terus-menerus dan dikumpulkan tepat waktu.

Pengumpulan data dapat bersifat pasif yang bersumber dari Rumah sakit, Puskesmas

dan lain-lain, maupun aktif yang diperoleh dari kegiatan survei.

Pengumpulan data dilakukan dengan mengadakan pencatatan insidensi

terhadap orang-orang yang dianggap penderita malaria atau population at risk melalui

kunjungan rumah (active surveillance) atau pencatatan insidensi berdasarkan laporan

sarana pelayanan kesehatan yaitu dari laporan rutin poli umum setiap hari, laporan

bulanan Puskesmas desa dan Puskesmas pembantu, laporan petugas surveilans di

lapangan, laporan harian dari laboratorium dan laporan dari masyarakat serta petugas

kesehatan lain (pasive surveillance). Atau dengan kata lain, data dikumpulkan dari

unit kesehatan sendiri dan dari unit kesehatan yang paling rendah, misalnya laporan

dari Pustu, Posyandu, Barkesra, Poskesdes.

Proses pengumpulan data diperlukan sistem pencatatan dan pelaporan yang

baik. Secara umum pencatatan di Puskesmas adalah hasil kegiatan kunjungan pasien

dan kegiatan luar gedung. Sedangkan pelaporan dibuat dengan merekapitulasi data

hasil pencatatan dengan menggunakan formulir tertentu, misalnya form W1 Kejadian

Luar Biasa (KLB), form W2 (laporan mingguan) dan lain-lain (Masrochah, S.2006).

3. Pengolahan dan penyajian data

Data yang sudah terkumpul dari kegiatan diolah dan disajikan dalam bentuk

tabel, grafik (histogram, poligon frekuensi), chart (bar chart, peta/map area).

Penggunaan komputer sangat diperlukan untuk mempermudah dalam pengolahan data

diantaranya dengan menggunakan program (software) (Masrochah, S.2006).


4. Analisis data

Analisis merupakan langkah penting dalam surveilans epidemiologi karena

akan dipergunakan untuk perencanaan, monitoring dan evaluasi serta tindakan

pencegahan dan penanggulangan penyakit. Kegiatan ini menghasilkan ukuran-ukuran

epidemiologi seperti rate, proporsi, rasio dan lain-lain untuk mengetahui situasi,

estimasi dan prediksi penyakit.

Data yang sudah diolah selanjutnya dianalisis dengan membandingkan data

bulanan atau tahun-tahun sebelumnya, sehingga diketahui ada peningkatan atau

penurunan, dan mencari hubungan penyebab penyakit malaria dengan faktor resiko

yang berhubungan dengan kejadian malaria (Masrochah, S.2006).

5. Penyebarluasan informasi

Penyebarluasan informasi dapat dilakukan ketingkat atas maupun ke bawah.

Dalam rangka kerja sama lintas sektoral instansi-instansi lain yang terkait dan

masyarakat juga menjadi sasaran kegiatan ini. Untuk diperlukan informasi yang

informatif agar mudah dipahami terutama bagi instansi diluar bidang kesehatan.

Penyebarluasan informasi yang baik harus dapat memberikan informasi yang

mudah dimengerti dan dimanfaatkan dalam menentukan arah kebijakan kegiatan,

upaya pengendalian serta evaluasi program yang dilakukan. Cara penyebarluasan

informasi yang dilakukan yaitu membuat suatu laporan hasil kajian yang disampaikan

kepada atasan, membuat laporan kajian untuk seminar dan pertemuan, membuat suatu

tulisan di majalah rutin, memanfaatkan media internet yang setiap saat dapat di akses

dengan mudah (Masrochah, S.2006).

6. Umpan balik

Kegiatan umpan balik dilakukan secara rutin biasanya setiap bulan saat

menerima laporan setelah diolah dan dianalisa melakukan umpan balik kepada unit
kesehatan yang melakukan laporan dengan tujuan agar yang mengirim laporan

mengetahui bahwa laporannya telah diterima dan sekaligus mengoreksi dan memberi

petunjuk tentang laporan yang diterima. Kemudian mengadakan umpan balik laporan

berikutnya akan tepat waktu dan benar pengisiannya. Cara pemberian umpan balik

dapat melalui surat umpan balik, penjelasan pada saat pertemuan serta pada saat

melakukan pembinaan atau suvervisi.

Bentuk dari umpan balik bisa berupa ringkasan dari informasi yang dimuat

dalam buletin (news letter) atau surat yang berisi pertanyaan-pertanyaan sehubungan

dengan yang dilaporkan atau berupa kunjungan ke tempat asal laporan untuk

mengetahui keadaan yang sebenarnya. Laporan perlu diperhatikan waktunya agar

terbitnya selalu tepat pada waktunya, selain itu bila mencantumkan laporan yang

diterima dari eselon bawahan, sebaliknya yang dicantumkan adalah tanggal

penerimaan laporan (Masrochah, S.2006).

7. Investigasi penyakit

Setelah pengambilan keputusan perlunya mengambil tindakan maka terlebih

dahulu dilakukan penyelidikan epidemiologi penyakit malaria. Dengan investigator

membawa ceklis atau format pengisian tentang masalah kesehatan yang terjadi dalam

hal ini adalah penyakit malaria dan bahan untuk pengambilan sampel di laboratorium.

Setelah melakukan investigasi penyelidikan kemudian disimpulkan bahwa benar-

benar telah terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) malaria yang perlu mengambil

tindakan atau sebaliknya (Masrochah, S.2006).

8. Tindakan penanggulangan

Tindakan penanggulangan yang dilakukan melalui pengobatan segera pada

penderita yang sakit, melakukan rujukan penderita yang tergolong berat, melakukan

penyuluhan mengenai penyakit malaria kepada masyarakat untuk meningkatkan


kesadaran agar tidak tertular penyakit atau menghindari penyakit tersebut, melakukan

gerakan kebersihan lingkungan untuk memutuskan rantai penularan (Masrochah,

S.2006).

9. Evaluasi data sistem surveilans

Program surveilans sebaiknya dinilai secara periodik untuk dapat dilakukan

evaluasi manfaat kegiatan surveilans. Sistem dapat berguna apabila memenuhi salah

satu dari pernyataan berikut:

a. Apakah kegiatan surveilans dapat mendeteksi kecenderungan dan mengidentifikasi

perubahan dalam kejadian kasus.

b. Apakah program surveilans dapat mendeteksi epidemik kejadian kasus di wilayah

tersebut.

c. Apakah kegiatan surveilans dapat memberikan informasi tentang besarnya

morbiditas dan mortalitas yang berhubungan dengan kejadian penyakit di wilayah

tersebut.

d. Apakah program surveilans dapat mengidentifikasi faktor-faktor resiko yang

berhubungan dengan kasus atau penyakit.

e. Indikator surveilans

Indikator surveilans meliputi:

Kelengkapan laporan.

Jumlah dan kualitas kajian epidemiologi dan rekomendasi yang dapat

dihasilkan.

Terdistribusinya berita epidemiologi lokal dan nasional.

Pemanfaatan informasi epidemiologi dalam manajemen program kesehatan.

Meningkatnya kajian Sistem Kewaspadaan Dini (SKD) penyakit. (Masrochah,

S.2006).
Surveilans epidemiologi dalam penyelenggaraannya memiliki banyak

indikator kerja, sehingga membutuhkan banyak kegiatan perekaman, pengumpulan,

pengolahan, dan analisis data yang diperoleh dari berbagai unit sumber data.

Banyaknya kegiatan perekaman, pengumpulan, pengolahan data akan memberikan

beban kerja dan menganggu upaya meningkatkan kinerja surveilans. Oleh karena itu,

diperlukan penyelengaraan sistem surveilans yang sesedikit mungkin indikator kerja

serta sesederhana mungkin, tetapi tetap dapat mengukur kualitas penyelengaraan

surveilans dalam memberikan informasi. Indikator yang paling sering digunakan

adalah kelengkapan laporan, ketepatan waktu laporan, kelengkapan

distribusi/desiminasi informasi, dan terbitnya buletin epidemiologi, (Desi Aryanti,

Dkk, 2015).

E. Sumber Daya Survailens

Agar kegiatan surveilans dapat tercapai, sumber daya dalam mencapai tujuan yang

diinginkan atau telah ditetapkan dibutuhkan infrastruktur sebagai berikut:

1. Perencanaan

2. Sumber daya manusia

3. Komputer

4. Sumber daya lainnya termasuk dana

1. Perencanaan

Perencanaan merupakan hal yang penting agar suatu program surveilans dapat

berhasil dengan baik. Perencanaan yang baik harus memiliki tujuan yang jelas yang

telah ditentukan terlebih dahulu dan diuraikan dalam bentuk langkah-langkah untuk

mencapai tujuan yang telah ditetapkan dengan biaya seminimal mungkin. Tujuan

yang ditetapkan haruslah berdasarkan prioritas pengendalian infeksi rumah sakit.

Sebaiknya Komite Pengendalian Infeksi rumah sakit membuat daftar proyek dan
aktivitas yang dapat mereka laksanakan dalam waktu satu tahun ke depan, kemudian

program surveilans yang akan dibuat disesuaikan dengan aktivitas tersebut. Hal ini

dikenal sebagai surveilan sesuai tujuan (Haley). Bila hal tersebut dapat dijalankan

dengan baik maka dapat digunakan Komite Infeksi Nosokomial untuk menilai hasil

pekerjaan tim apakah telah dilakukan dengan baik, terlalu berat atau bahkan telah

melakukan suatu kegiatan surveilans yang tidak relevan.

Dalam membuat perencanaan atau program surveilans harus mencakup

beberapa hal, yaitu :

a. Definisi infeksi

Definisi ini perlu ditetapkan atau distandarisasi untuk seluruh rumah sakit

agar datanya mempunyai nilai. Ada beberapa definisi sebagai hasil dari consensus

yang dapat dijadikan pegangan dalam pembuatan definisi infeksi bagi suatu rumah

sakit.

b. Populasi surveilans

Pengumpulan data infeksi dari seluruh rumah sakit tidaklah seefektif yang

diduga sebelumnya, karena angka-angka ini tidak dapat diperbandingkan antara

satu rumah sakit dengan rumah sakit lainnya. Hal ini disebabkan karena adanya

perbedaan pada factor-faktor resiko. Rekomendasi terbaru adalah dilakukannya

suatu survey terhadap kejadian-kejadian spesifik yang dijadikan target

pengendalian. Kelompok beresiko tinggi seperti pasien-pasien Intensive Care Unit

(ICU) atau pasien dengan luka operasi dapat dijadikan titik awal.

c. Indentifikasi sumber data

Setelah menentukan populasi target, maka perlu dilakukan evaluasi

terhadap ketersediaan data yang akan dipakai, apakah datanya tersedia, mudahkah

mendapatkan data yang dibutuhkan. Misalnya, bila dilakukan survey luka operasi,
dapat dipakai data dari kamar bedah, maka data tersebut harus sudah tersedia dan

tersusun dengan rapih. Unit yang bersangkutan harus bersedia untuk

memperbolehkan petugas survey melihat data yang dibutuhkan oleh petugas

survey.

d. Pemilihan metoda surveilans

Dalam memilih metoda surveilans pertimbangan sumber daya sangatlah

penting, baik sumber daya manusia, dana maupun sumber daya lainnya. Selain itu

perlu juga dipertimbangkan metoda surveilans yang dipilih hendaklah yang hemat

biaya tetapi dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

e. Distribusi laporan dan penilaian

Distribusi laporan dan penilaian merupakan bagian terakhir dari suatu

program surveilans. Walaupun merupakan bagian yang terakhir tetapi tetap harus

dipertimbangkan pada penyusunan program surveilans. Data yang telah

dikumpulkan tidak akan bermanfaat apabila tidak digunakan, oleh karena itu

Komite Infeksi Nosokomial harus menentukan konsumen dari data yang telah

disurvei dan memperkirakan efek dari pengumpulan data tersebut sebelum survey

dilaksanakan.

2. Sumber Daya Manusia

Angka yang dapat dijadikan patokan untuk surveilans atau program

pengendalian infeksi lainnya adalah 1 orang Komite Infeksi Nosokomila untuk setiap

250 tempat tidur di rumah sakit. Namun sebagian besaar rumah sakit tidak dapat

memenuhi rekomendasi ini. Pendekatan yang lebih praktis adalah dengan menentukan

kebutuhan sumber daya manusia berdasarkan kebutuhan dan rencana program

surveilans yang dibuat. Dukungan sumber daya manusia untuk aspek administrative
dan kemampuan computer juga penting agar para pekerja dapat bekerja dengan lebih

efektif.

3. Komputer

Apabila data yang masuk cukup banyak maka akan sulit melakukan analisis

secara manual, dukungan computer akan sangat membantu pekerjaan Komite Infeksi

Nosokomial dalam melakukan analisis data.

4. Dana dan sumber daya lainnya

Dibutuhkan dukungan dari pihak adminstrasi rumah sakit baik dalam bentuk

dukungan kebijakan, dana yang mencukupi mapun sumber daya lainnya seperti ruang

kantor yang mencukupi agar Komite Infeksi Nosokomial dapat bekerja dengan baik.
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Data- data yang dikumpulkan dalam kegiatan survey haruslah dianalisis. Untuk

dapat melakukan analisis dan pelaporan hasil kegiatan surveilans maka terdapat 2 hal

penting yang harus dikumpulkan datanya yaitu angka yang akan menjadi numerator dan

denominator. Yang menjadi numerator terdiri dari :

1. Data yang perlu dicatat

2. Petugas pengumpul data

3. Sumber data dan

4. Cara mengumpulkan data

Agar kegiatan surveilans dapat tercapai, sumber daya yang dibutuhkan dalam

mencapai tujuan yang diinginkan atau telah ditetapkan dibutuhkan infrastruktur sebagai

berikut:

1. Perencanaan

2. Sumber daya manusia

3. Komputer

4. Sumber daya lainnya termasuk dana

B. Saran

Sebagai seorang Ahli Kesehatan Masyarakat harus memiliki pengetahuan yang

baik tentang suurveilans dan mampu mengaplikasikan terhadap masyarakat baik yang

berhubungan dengan sumber data survailens maupun terhadap sumber daya yang
digunakan survailens, seperti saat melakukan diagnosa penyakit dan perencanaan

penanggulangan serta pencegahan penyakit.


DAFTAR PUSTAKA

Bennet J.V. and Brachaman J.V. 1992, Hospital Infection 3rd edition, Boston-Toronto-
London, Little Brown Co.

Dalima Ari Wahono Astrawinatan, Epidemiologi Klinik dan Sistem Surveilans Infeksi di
Rumah Sakit, 2003, Kursus Pengendalian Infeksi di Rumah Sakit.

Demak L Tobing, Struktur Pengendalian Infeksi di Rumah Sakit, 2003, Kursus Pengendalian
Infeksi di Rumah Sakit.
Desi Arwanti, Dkk, 2015, Pelaksanaan Surveilans Epidemiologi Di Puskesmas Se-Kota
Kendari, Kendari, Sultra.

Djoyosugito A, Roeshadi Dj. Pusponegoro A, Supardi Imam, 2001, Buku Manula


Pengendalian Infeksi Nosokomial di Rumah Sakit.

Elsa Pudji Setiawati, 2103, Sumber Daya Survailens, Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas
Kedokteran Unpad.

Kurikulum dan Modul Pelatihan Kewaspadaan Universal, 1999, Departemen Kesehatan,


Direktorat Jendral Pelayanan PPM & PLP , ; 173 180.

Kepmenkes RI No.1116/Menkes/SK/VIII/2003 tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem


Surveilans Epidemiologi Kesehatan.

Masud Yunesian, Nosocomial Infection Surveilans Methods,


http://www/pit.edu/~super1/lecture/lec.2004/001/htm.