Anda di halaman 1dari 159

Mengenal Fisika Nuklir

Mengenal Fisika Nuklir Imam Fachruddin Departemen Fisika, Universitas Indonesia Untuk dipakai dalam kuliah Pendahuluan

Imam Fachruddin Departemen Fisika, Universitas Indonesia

Untuk dipakai dalam kuliah Pendahuluan Fisika Nuklir Dapat diunduh dari http://staff.fisika.ui.ac.id/imamf/

Mengenal Fisika Nuklir

Imam Fachruddin Departemen Fisika, Universitas Indonesia

Daftar Pustaka:

• P. E. Hodgson, E. Gadioli, E. Gadioli Erba, Introductory Nuclear Physics (Oxford U. P., New York, 2000)

• J. M. Blatt & V. F. Weisskopf, Theoretical Nuclear Physics (Dover Publications, Inc., New York, 1991)

• W. E. Meyerhof, Elements of Nuclear Physics (McGraw-Hill Book Co., Singapore, 1989)

ii

iii

Isi

• pendahuluan

1

• sifat-sifat inti

25

• ketidakstabilan inti

53

• radioaktivitas

63

• model inti

75

• gaya nuklir / interaksi kuat

105

• fisika partikel

121

• astrofisika nuklir

135

• akselerator dan detektor

143

• reaktor nuklir

149

iv

1

Pendahuluan

Beberapa istilah:

• Atom terdiri atas inti (nucleus, jamak: nuclei) dan elektron di sekitar inti.

• Sebutan nuklir (nuclear) menunjukkan sesuatu yang berhubungan dengan / melibatkan inti (inti atom). Sementara, sebutan inti bisa berarti inti atom itu sendiri atau sesuatu yang berhubungan dengan inti atom. Contoh:

• reaksi nuklir atau reaksi inti: reaksi yang melibatkan inti atom,

• energi nuklir: energi yang dihasilkan pada reaksi nuklir

• bom nuklir: bom yang memanfaatkan reaksi inti

• fisika nuklir atau fisika inti: fisika mengenai inti atom

• Nuklida (nuclide) yaitu, sebutan untuk inti atom suatu unsur (element). Contoh: nuklida hidrogen, nuklida alumunium, nuklida emas, nuklida yodium, nuklida fosfor dll.

2

Perbandingan ukuran beberapa benda:

benda

ukuran [m]

sel

molekul

10

atom

10

inti

10

nukleon

10 -5

9

10

10

10

14

10

10

10

15

11

15

Catatan:

nukleon yaitu proton dan netron

10 -6

m = 1 µ (mikron),

10 -15

m = 1 fm (fermi)

Saat-saat awal fisika nuklir:

3

NOK! OK! OK! NOK!

NOK!

OK!

waktu

penemu / pencetus

penemuan / ide

± awal abad 20

Thomson

• elektron

• model atom Thomson

1911

Rutherford

• inti atom

 

• model atom Rutherford

1919

Rutherford

• proton

• inti mengandung proton

sampai 1932

fisikawan

• model inti: inti terdiri atas

proton dan elektron

• kemungkinan adanya obyek

1920

Rutherford

netral hasil pasangan proton

 

dan elektron

1932

Chadwick

• netron

1932

Heisenberg

• model inti: inti terdiri atas proton dan netron

4

Hamburan Rutherford

Untuk mempelajari struktur atom, Rutherford membuat eksperimen menembakkan partikel alfa ke lembar tipis emas.

Saat itu masih dipercaya model atom Thomson. Menurut model ini, diperkirakan partikel alfa akan dibelokkan hanya sedikit saja. Namun ternyata, ada juga partikel alfa yang dihamburkan balik ke belakang (sudut hambur besar).

Eksperimen ini menunjukkan bahwa model atom Thomson salah dan membawa Rutherford pada model atom yang lebih baik yaitu, atom memiliki inti di pusat yang merupakan konsentrasi seluruh massa atom, sementara di sekeliling inti beredar elektron-elektron. Partikel alfa yang lewat dekat dari inti emas akan dibelokkan dengan kuat, sementara yang lewat jauh dari inti emas dibelokkan sedikit.

Perhitungan sederhana Rutherford (berbekal fisika ‘SMA’) berdasarkan model ini sesuai dengan hasil eksperimen.

5

muatan positif menyerupai bola

Model Atom Thomson

− e
e
5 muatan positif menyerupai bola Model Atom Thomson − e elektron bertaburan Model Atom Rutherford −

elektron

bertaburan

Model Atom Rutherford

− e Ze
e
Ze
− e elektron bertaburan Model Atom Rutherford − e Ze elektron di sekitar inti kosong inti,

elektron di sekitar inti

Model Atom Rutherford − e Ze elektron di sekitar inti kosong inti, tempat massa atom terkonsentrasi,

kosong

inti, tempat massa atom terkonsentrasi, bermuatan positif Ze (Z disebut nomor atom)

6 Hamburan Rutherford menurut model atom Thomson:

hamburan hanya ke arah muka proyektil α − e tidak sesuai dgn eksperimen atom emas
hamburan hanya
ke arah muka
proyektil α
e
tidak sesuai dgn
eksperimen
atom emas

Hamburan Rutherford menurut model atom Rutherford:

atom emas proyektil α − e Ze inti emas
atom emas
proyektil α
e
Ze
inti emas

sesuai dengan eksperimen

hamburan ke arah muka mungkin

hamburan ke belakang / sudut besar mungkin

7

Model Inti Sampai 1932

inti

7 Model Inti Sampai 1932 inti − e p elektron sebanyak A-Z proton sebanyak A Inti
− e p
e
p

elektron sebanyak A-Z

7 Model Inti Sampai 1932 inti − e p elektron sebanyak A-Z proton sebanyak A Inti

proton sebanyak A

Inti terdiri dari proton dan elektron. Jumlah proton menentukan massa inti (nomor massa A sama dengan jumlah proton), jumlah elektron sedemikian sehingga bersama semua proton menentukan muatan inti (nomor atom Z sama dengan jumlah proton – jumlah elektron).

Contoh, nuklida Nitrogen dgn A = 14 (

Namun, model ini gagal menjelaskan spin

7 N

14 ) terdiri dari 14 proton dan 7 elektron.

N

14 yang bernilai 1:

Proton dan elektron masing-masing berspin

buah spin bernilai

1 2
1
2

. Tidak mungkin kombinasi 21

1 2
1
2

menghasilkan spin bernilai 1 (bilangan bulat).

Dengan begitu, model ini gagal, inti tidak terdiri dari proton dan elektron.

8

1 Nilai spin S yang mungkin hasil kombinasi N buah spin bernilai 2 : N
1
Nilai spin S yang mungkin hasil kombinasi N buah spin bernilai
2
:
N
N
N
 0 (N bilangan genap)
S
=
,
− 1,
− 2,
,
2
2
2
1
(N bilangan ganjil)
2
Contoh:
Menurut model inti ‘proton-
N = 2:
S = 0, 1
elektron’, spin
N
14 yang
S
=
1
,
3
• N = 3:
2
2
mungkin yaitu,
• N = 4:
S
= 0, 1, 2
1
,
3 5
,
7
9 11
2 ,
2 ,
2 ,
2 ,
2
2
3
,
5
• N = 5:
S
=
1
,
13
15
17
19
21
2
2
2
2 ,
2 ,
2 ,
2 ,
2
• N = 6:
S
= 0, 1, 2, 3
Ini tidak sesuai dengan hasil
eksperimen.
• N = 7:
S
=
1
,
3
,
5
,
7
2
2
2
2

Model Inti yang Diterima

inti

n p
n p

n

p

n p
n p
Model Inti yang Diterima inti n p netron proton Inti terdiri dari proton dan netron. Jumlah
Model Inti yang Diterima inti n p netron proton Inti terdiri dari proton dan netron. Jumlah
Model Inti yang Diterima inti n p netron proton Inti terdiri dari proton dan netron. Jumlah

netron

proton

Inti terdiri dari proton dan netron. Jumlah proton merupakan nomor atom Z, muatan inti sebesar muatan total proton (Ze), jumlah proton (Z) dan jumlah netron (N) merupakan nomor massa (A = Z + N = jumlah nukleon).

Contoh,

Netron berspin

kombinasi keadaan spin 14 partikel berspin

bernilai 1.

Netron bukan obyek netral hasil pasangan proton dan elektron (Rutherford

1920). Partikel netral seperti itu tidak mungkin berspin

N

14 terdiri dari 7 proton (Z = 7) dan 7 netron (N = 7).

1 2
1
2

. Maka dengan model ini spin

N

14 bisa dijelaskan, bahwa

dapat menghasilkan spindan 7 netron (N = 7). 1 2 . Maka dengan model ini spin N 14

1 2
1
2

, tapi 0 atau 1.

n

− e p
e
p

9

10

Beberapa catatan:

• Inti terdiri dari Z proton dan N netron (atau A nukleon).

• = nomor atom = jumlah proton

Z

N

= jumlah netron

A

= nomor massa = jumlah nukleon (A = Z + N)

• Nuklida-nuklida yang memiliki Z sama tapi A berbeda disebut isotop.

• Nuklida-nuklida yang memilki N sama tapi A berbeda disebut isoton.

• Nuklida-nuklida yang memiliki A sama tapi Z berbeda disebut isobar.

• Ada sekelompok bilangan yang disebut bilangan ajaib (magic numbers)

yaitu, 8, 20, 28, 50, 82, 126,

bilangan ajaib tersebut, maka terdapat lebih banyak isotop / isoton dibandingkan jumlah isotop / isoton untuk nilai Z / N yang lain untuk nilai A yang sama atau berdekatan.

Jika Z / N sama dengan salah satu dari

• Magic number juga menandakan kestabilan inti. (Inti bersifat stabil jika tidak pecah secara spontan, inti tidak stabil pecah secara spontan.) Inti dengan Z dan / atau N bernilai sama dengan salah satu magic number lebih

stabil dari yang lain. Contoh, inti-inti berikut sangat stabil karena baik Z

maupun N sama dengan magic number:

O

16

,

Ca

40

,

Ca

48

,

Pb

208

.

11

Perhitungan Hamburan Rutherford

α

Au
Au

proses

interaksi : Coulomb

: hamburan partikel alfa (

2 He

muatan

muatan Au = Ze, (Z = 79)

= 2e

α

gaya:

F =

k

2Ze

2

r

3

r, (r : posisi

4

) oleh inti emas (

79 Au

α relatif thd inti Au)

197

)

12

Besaran utama yang dicari untuk sebuah proses hamburan yaitu penampang lintangnya (σ). Penampang lintang hamburan berkaitan dengan peluang proses hamburan itu terjadi. Dalam ungkapan lain, rasio jumlah partikel yang terhambur terhadap jumlah partikel yang datang ditentukan oleh penampang lintang.

partikel yang datang ditentukan oleh penampang lintang. kerucut dengan sudut ruang dΩ partikel terhambur partikel
partikel yang datang ditentukan oleh penampang lintang. kerucut dengan sudut ruang dΩ partikel terhambur partikel

kerucut dengan sudut ruang dΩ

partikel terhambur

lintang. kerucut dengan sudut ruang dΩ partikel terhambur partikel datang target sudut hambur θ Penampang lintang
lintang. kerucut dengan sudut ruang dΩ partikel terhambur partikel datang target sudut hambur θ Penampang lintang
lintang. kerucut dengan sudut ruang dΩ partikel terhambur partikel datang target sudut hambur θ Penampang lintang

partikel datang

target

sudut hambur θ

Penampang lintang differensial dihitung sebagai:

dΩ

=

arus partikel terhambur ke arah θ per sudut ruang dΩ

arus partikel datang

× rapat luas pusat hamburan

Arus partikel yaitu, jumlah partikel yang lewat per satuan waktu. Pusat hamburan Rutherford yaitu inti Au, yang merupakan pusat massa sistem α-Au.

13

r

Sudut Ruang

elemen luas dS : : posisi elemen luas dS terhadap O bidang dS tegak lurus
elemen luas dS :
: posisi elemen luas
dS terhadap O
bidang dS tegak lurus
terhadap r
dS
O
elemen sudut ruang dΩ:
dΩ =
2
r
2
dalam koordinat bola:
dS
=
r sin θ dθ dφ
dΩ = sin θ dθ dφ

14

y titik A: C v f ˆ kecepatan α: v = v k i 0
y
titik A:
C
v
f
ˆ
kecepatan α:
v
=
v k
i
0
posisi α:
r ,
r
→ ∞, β
→ 0°
B
A
A
A
r
momentum angular sistem α-Au:
A
v
i
l
=
r
×
p
µ
=
A
A
A
β
θ
massa tereduksi
m m
=
µ r
(
×
v
)
z
α
Au
=
A
i
Au
m
+
m
l
=
A
µv r sinβ
= µv b
α
Au
b
0
A
A
0
impact
sudut
kekal, karena tidak ada gaya
luar bekerja pada sistem α-Au
parameter
hambur
titik B:
titik C:

posisi α pd sembarang waktu:

momentum angular α–Au:

l

=

l

A

r = (r,β)

=

µv b

0

kecepatan α:

v , v

f

f

= v

0

=

π

sudut hambur θ:

posisi:

momentum angular α–Au:

cos θ

, β

C

=

v ˆ

θ

f

v ˆ

i

l

C

=

r ,

C

r

C

→ ∞

l

A

=

µv b

0

15

momentum angular:

l

= µ|r × v| ds = µ r × dt dβ 2 = µr r
=
µ|r
×
v|
ds
= µ
r ×
dt
2
= µr
r
ˆ
dt
2
=
µr
dt

ˆ

× ds

(dβ

 

(ds

=

rdβ)

0)

momentum angular kekal:

l

=

µr

2

dt

= µv b

0

0) momentum angular kekal: l = µr 2 dβ dt = µv b 0 dβ =

= v b

dt

0

r

2

B ds r + ds α r β + dβ β Au
B ds
r
+ ds
α
r
β + dβ
β
Au

z

16

gerak pada sumbu y:

y

dv 2 2Ze µ y = k sinβ 2 dt r v α 2 2Ze
dv
2
2Ze
µ
y =
k
sinβ
2
dt
r
v
α
2
2Ze
dv
=
k
sinβdt
y
r
2
µr
1
2
2Ze
dβ 
=
k
sinβ 
2
µr
dt
2
2Ze
=
k
sinβdβ
β
µv b
0
z
v
f,y
Au
v
=
dv
f,y
y
0
2
π
θ
2Ze
θ
θ
2
2
=
k
sinβdβ
cos θ
= cos
− sin
µv b
2
2
0
0
2
2
2Ze
θ
θ
2Ze
θ
sin θ
= 2sin
cos
b
=
k
cot
=
k
(1
+
cos θ)
2
2
2
µv
2
µv b
0
0
=
v
sin θ
0

17

= ?

Sudut hambur θ berhubungan dengan impact parameter b; partikel α yang datang dengan impact parameter b akan terhambur ke arah θ:

b

=

k

2Ze

2

µv

2

0

cot

θ

2

Partikel α yang datang dengan impact parameter lebih besar (jauh dari inti Au, interaksi lebih lemah) akan terhambur ke sudut yang lebih kecil:

db

=

k

Ze

2

µv

2

0

cosec

2 θ

2

(

dθ )

Partikel α yang terhambur ke arah θ sampai θ+dθ (= partikel α yang terhambur ke sudut ruang dΩ pada arah θ) yaitu, yang datang mendekati Au dengan impact parameter b sampai b-db.

18

y

18 y j Au y z rapat fluks partikel α = arus partikel α per satuan

j

18 y j Au y z rapat fluks partikel α = arus partikel α per satuan

Au

y

18 y j Au y z rapat fluks partikel α = arus partikel α per satuan

z

rapat fluks partikel α = arus partikel α per satuan luas yang ditembus secara tegak lurus:

j

n

v

nv

=

= jumlah partikel

α per volume

= kecepatan partikel α

db b dφ ⊗ ⊗ ⊗ ⊗ ⊗ ⊗ b ⊗ dφ φ x Au
db
b dφ
⊗ ⊗
b
⊗ dφ
φ
x
Au
elemen luas
b db dφ

partikel α datang searah sumbu z (masuk ke layar)

arus partikel α yang menembus elemen luas b db dφ pada arah φ yaitu,

jb db dφ

arus partikel α yang datang dengan impact parameter b sampai b-db yaitu,

0

jb (

db) dφ

=

=

2π jb ( db)

πj k

2Ze

2

µv

2

0

2

cot

θ

2

cosec

2 θ

2

Jadi,

arus partikel α terhambur ke sudut ruang dΩ pada arah θ

=

πj k

2Ze

2

µv

2

0

2

cot

θ

2

cosec

2 θ

2

19

Nilai di atas merupakan arus partikel α yang terhambur ke sudut ruang dΩ pada arah θ untuk semua arah φ dari 0 sampai 2π. Dengan kata lain, ke elemen sudut ruang dΩ berupa kulit kerucut yang simetris terhadap arah partikel α datang:

kerucut yang simetris terhadap arah partikel α datang: partikel terhambur sudut hambur θ partikel datang elemen

partikel terhambur

terhadap arah partikel α datang: partikel terhambur sudut hambur θ partikel datang elemen sudut ruang dΩ
terhadap arah partikel α datang: partikel terhambur sudut hambur θ partikel datang elemen sudut ruang dΩ
terhadap arah partikel α datang: partikel terhambur sudut hambur θ partikel datang elemen sudut ruang dΩ
terhadap arah partikel α datang: partikel terhambur sudut hambur θ partikel datang elemen sudut ruang dΩ

sudut hambur θ

partikel α datang: partikel terhambur sudut hambur θ partikel datang elemen sudut ruang dΩ berupa kulit
partikel α datang: partikel terhambur sudut hambur θ partikel datang elemen sudut ruang dΩ berupa kulit

partikel datang

elemen sudut ruang dΩ berupa kulit kerucut

target

datang elemen sudut ruang dΩ berupa kulit kerucut target Besar elemen sudut ruang seperti itu: d

Besar elemen sudut ruang seperti itu:

d =2π sin θ dθ

 

 

2π didapat dari

0

Dengan begitu diperoleh:

arus partikel α terhambur ke arah θ per sudut ruang dΩ

j

4

2Ze

  

 

2

µv

0

2

2

4 θ

2

=

k

cosec

20

Penampang Lintang

Penampang lintang differensial:

dΩ

=

arus partikel terhambur ke arah θ per sudut ruang dΩ

arus partikel datang

× rapat luas pusat hamburan

Pada perhitungan telah digunakan 1 inti Au sebagai target (pusat hamburan):

arus partikel datang

× rapat luas pusat hamburan

=

arus partikel datang

×

1 / satuan luas

=

arus partikel datang / satuan luas

=

rapat fluks j

Jadi, diperoleh:

dσ 1 = 2  dΩ 4  µv 2   0
1
=
2
dΩ
4
 µv
2
 
0

  

2Ze

2

k

    2Ze 2 k 2 cosec 4 θ
    2Ze 2 k 2 cosec 4 θ

2

cosec

4 θ

21

Dalam eksperimen digunakan target berupa lempeng tipis emas. Berarti ada lebih dari satu atom emas sebagai pusat hamburan.

Lempeng itu dibuat setipis mungkin (d kecil sekali) sehingga dianggap tidak ada atom emas yang tumpang tindih (tidak ada atom emas yang berada di belakang yang lain). Dengan kata lain, atom-atom emas itu terdistribusi pada suatu luasan.

lain, atom-atom emas itu terdistribusi pada suatu luasan. α lempeng Au d tidak ada atom emas
lain, atom-atom emas itu terdistribusi pada suatu luasan. α lempeng Au d tidak ada atom emas
α
α

lempeng Au

emas itu terdistribusi pada suatu luasan. α lempeng Au d tidak ada atom emas yang tumpang

d

emas itu terdistribusi pada suatu luasan. α lempeng Au d tidak ada atom emas yang tumpang
emas itu terdistribusi pada suatu luasan. α lempeng Au d tidak ada atom emas yang tumpang

tidak ada atom emas yang tumpang tindih

rapat luas pusat hamburan = rapat luas atom emas = ? jumlah partikel terhambur =
rapat luas pusat hamburan = rapat luas atom emas = ?
jumlah partikel terhambur = ?

22

Satu mol zat berisi

6.022 × 10

23

6.022 × 10

23 satuan penyusun zat itu (atom, sel, molekul,

6.022 × 10

23

molekul air, 1 mol emas

unit kristal dll). Contoh: 1 mol air berisi

berisi

atom emas. Angka ini disimpan dalam bilangan Avogadro

N

A

=

6.022

×

10

23

mol

1

Bilangan itu juga merupakan jumlah atom dalam 12 gr

massa molar

C

12

= 12 gr.mol

1

C

12 . Dengan begitu:

N

A :

Nomor massa A suatu nuklida merupakan pembulatan nilai massa atomnya dalam satuan u (unified atomic mass unit), yang didefinisikan sebagai:

1u

1

12

massa atom C

Contoh: massa atom emas (

Au

197 ) = 196.97 u.

12

Maka untuk atom

X

A

:

massa atom X

A

A

12

× massa atom C

12

untuk atom X A : massa atom X A ≈ A 12 × massa atom C

massa molar X

A

A gr.mol

1

Jumlah atom dalam M gram

X

A

:

massa

massa molar

= M

A

×

N A

N A

Jika ρ massa jenis (massa/volume) emas, A nomor massa Au,

bilangan Avogadro dan tebal target d, maka rapat luas atom emas:

N

A

ρd N A A
ρd
N
A
A

23

Pusat hamburan (atom Au) lebih dari satu; berapa jumlah partikel terhambur pada arah θ memasuki sudut ruang ∆Ω?

Jumlah partikel yang lewat dapat diketahui dari arus atau rapat fluksnya:

rapat fluks partikel terhambur ke arah θ per sudut ruang dΩ

rapat fluks partikel datang

=

=

=

arus partikel terhambur ke arah θ per sudut ruang dΩ

arus partikel datang

rapat luas pusat hamburan

ρd

A

N

A

1

4

k

2Ze

2

µv

2

0

2   θ

cosec

4

2

×

dΩ

Maka, rapat fluks partikel yang terhambur ke sudut ruang ∆Ω pada arah θ:

A

4

 

µv

0

2

2

ρd

N

A

j   k

2Ze

2

2

cosec

4 θ

∆Ω

24

Sifat-Sifat Inti

Energi Ikat Inti

Jika

selisih massa ∆ antara jumlah massa nukleon penyusun inti dan massa inti:

M

p

massa proton,

M

n

massa netron dan

M massa inti, maka terdapat

=

ZM

p

+

NM

n

M

25

Di sini tidak ada massa yang hilang melainkan perubahan massa menjadi energi, sesuai kesetaraan massa-energi dari Einstein:

E = mc

2

Dalam hal ini, ∆ berubah menjadi energi yang dilepaskan ketika Z proton dan N netron diikat menjadi satu inti. Energi ini disebut energi ikat inti B:

B = ∆c

2

= (ZM + NM M)c

p

n

2

Catatan, biasanya c dinyatakan sama dengan 1, sehingga tidak muncul dalam rumus tersebut (juga rumus-rumus lain dalam fisika nuklir). Juga, massa dan energi biasa dinyatakan dalam satuan MeV:

B

=

=

ZM

p

+

NM

n

M

26

Dapat juga selisih massa ∆ (berarti juga energi ikat inti B) dihitung bukan berdasarkan massa inti melainkan massa atom; atom terdiri atas

proton, netron dan elektron yang massanya

M

:

e

=

=

Z(M

p

+

M )

e

ZM

H

+

NM

n

+

NM

M

n

atom

M

atom

dengan

M

H

massa atom Hidrogen.

Pada perhitungan di atas energi ikat elektron dalam atom diabaikan karena relativ sangat kecil (orde eV) dibandingkan dengan energi ikat inti (orde MeV).

Fraksi Ikat Inti

Fraksi ikat inti f yaitu energi ikat rata-rata per nukleon

B

:

ave

f =

B ave

=

B

A

27

Untuk inti-inti stabil diperoleh f sebagai berikut (hanya ilustrasi):

8,5

10 5 0 A 240 30 150 f [MeV]
10
5
0
A
240
30
150
f [MeV]

Kecuali untuk A besar dan A kecil, tampak f relatif konstan di sekitar 8,5 MeV (A di antara kurang lebih 30 dan 150), tidak bergantung pada A. Pada kedua ujung (A besar dan A kecil), f berkurang.

Apa artinya / penjelasan untuk itu?
Apa artinya /
penjelasan untuk
itu?

28 Nilai f yang relatif konstan itu menunjukkan saturasi (kejenuhan) energi ikat per nukleon dalam inti, bahwa setelah sejumlah nukleon terkumpul energi ikat itu mencapai batasnya.

Secara kasar dikatakan, bahwa tidak bergantung pada jumlah nukleon, tiap nukleon merasakan ikatan yang sama kuat, penambahan / pengurangan nukleon tidak menambah / mengurangi kuat ikatan yang dirasakan satu nukleon dalam inti.

Secara kasar dengan begitu, energi ikat inti B sebanding dengan jumlah nukleon A.

Sifat inti seperti ini serupa dengan sifat setetes cairan atau sekeping metal:

energi ikat pada setetes cairan atau sekeping metal sebanding dengan jumlah molekul penyusun cairan atau metal itu; energi ikat per molekul sama.

Ketika A semakin besar jumlah proton semakin banyak. Maka gaya tolak Coulomb antar proton makin kuat, sehingga mengurangi ikatan dan energi ikat per nukleon berkurang.

Untuk A kecil energi ikat per nukleon mengecil dikarenakan efek permukaan yaitu, terdapat relatif banyak nukleon di permukaan inti, yang tentu saja kurang terikat dibandingkan nukleon-nukleon yang berada di dalam inti, sehingga energi ikat rata-rata per nukleon berkurang.

Efek Permukaan

permukaan inti
permukaan inti

permukaan inti

permukaan inti
permukaan inti

Nukleon di permukaan inti kurang terikat dibandingkan nukleon di dalam inti.

29

30

S

Energi Separasi

a = energi separasi partikel a yaitu, energi yang diperlukan untuk memisahkan partikel a dari inti X, meninggalkan inti tersisa Y.

S

a

partikel a dari inti X, meninggalkan inti tersisa Y. S a S X ( Z ,
S X ( Z , N ) S a = M a + M −
S X ( Z , N ) S a = M a + M −

S

S X ( Z , N ) S a = M a + M − M

X(Z,N)

S a

=

M

a

S X ( Z , N ) S a = M a + M − M
S X ( Z , N ) S a = M a + M − M
+ M − M = B − (B + B ) Y X X a
+
M
M
=
B
(B
+
B )
Y
X
X
a
Y

a(Z ,N )

a

a

Y(Z

Z ,N

a

N )

a

a dapat bernilai negatif, yang berarti inti X tidak stabil dan secara spontan

S

α

pada

meluruh menjadi inti Y sambil memancarkan partikel a. Contoh,

beberapa inti berat (inti dengan A besar) yang tidak stabil, yang meluruh sambil memancarkan sinar (partikel) α.

31

Radius Inti

Inti dianggap menyerupai bola

31 Radius Inti Inti dianggap menyerupai bola Radius inti: inti R 1 R = R A

Radius inti:

inti R 1 R = R A 3 0
inti
R
1
R
=
R A
3
0

R

0 =

1,5

×

10

-15

m

=

1,5 fm

punya radius.

32

Rumus Massa Semiempiris

Massa inti M dapat dinyatakan dalam rumus yang cukup akurat, sebagai fungsi Z, N dan A. Rumus ini disebut rumus massa semiempiris:

M

=

Zm

p

+

Nm

n

a A

v

+

a A

s

2

3 +

a

c

Z(Z

1)

1

3

A

+ a

a

(N

Z)

2

A

+ ∆(A)

Parameter

terhadap data eksperimen (fitting) atau dihitung berdasarkan model- model inti. Cara fitting biasanya memberikan hasil lebih akurat.

Salah satu hasil fiting:

a

v

, a , a

s

c

, a

a

didapat dengan mencocokkan rumus massa di atas

a

v

15,56,

a

s

=

17,23,

a

c

0,7,

a

a

23,285

=

=

=

Dengan rumus ini energi ikat inti B menjadi

(ingat, B

=

Zm

p

+

Nm - M)

n

:

B

=

a A

v

a A

s

2

3 a

c

Z(Z

1)

1

3

A

a

a

(N

Z)

2

A

∆(A)

33

Makna Tiap Suku pada Rumus Massa Semiempiris

1. Inti terdiri dari proton dan netron, maka sebagian besar massa inti berasal dari massa nukleon penyusunnya:

Zm + Nm

p

n

Untuk suku-suku berikutnya, pembahasan lebih mudah jika yang dilihat energi ikat, bukan massa inti.

2. Sifat interaksi/gaya nuklir yaitu short range (berjangkauan pendek). Ini berbeda dari interaksi elektromagnetik yang bersifat long (infinite) range. Jadi, tiap nukleon hanya berinteraksi dengan nukleon-nukleon di dekatnya. Maka diharapkan, berapapun jumlah nukleon yang ada dalam inti, tiap nukleon terikat sama kuat. Dengan begitu, energi ikat inti kurang lebih sama dengan jumlah energi ikat tiap nukleon atau energi ikat inti sebanding dengan jumlah nukleon:

a A

v

34

3. Inti diketahui mempunyai ukuran, yang berarti punya batas, tepi atau permukaan. Sebagian nukleon berada di permukaan inti. Nukleon-nukleon ini tidak terikat sama kuat seperti nukleon di dalam inti. Karena itu, energi ikat inti yang sebelumnya dihitung sebanding dengan jumlah nukleon itu perlu dikoreksi, yaitu dikurangi oleh suatu faktor yang berkaitan dengan efek permukaan ini.

Radius inti sebanding dengan

A

1

3 , berarti luas permukaannya sebanding

dengan

A

3 2 , maka ditambahkan faktor koreksi:

a A

s

2

3

4. Antar proton dalam inti terjadi interaksi Coulomb yang saling tolak, sehingga mengurangi ikatan inti. Tiap proton berinteraksi dengan (Z-1) proton lain. Sesuai energi interaksi Coulomb, ditambahkan koreksi Coulomb pada energi ikat inti berupa:

a

c

Z(Z

1)

1

A 3

35

5. Sesuai larangan Pauli, dua nukleon yang sama (proton-proton atau netron-netron) tidak dapat memiliki/menempati keadaan kuantum (quantum state) yang sama. Sebaliknya, proton-netron dapat menempati keadaan kuantum yang sama. Akibatnya, sistem proton-netron memiliki energi minimum lebih rendah dari energi minimum sistem proton-proton atau netron-netron. (Ingat, energi lebih rendah berarti ikatan lebih kuat, energi ikat lebih besar.) Inti dengan jumlah proton sama dengan jumlah netron memiliki energi minimum lebih rendah, yang berarti energi ikat lebih tinggi, ikatan lebih stabil, dibandingkan dengan inti dengan jumlah proton sangat tidak seimbang dengan jumlah netron. Koreksi pada energi ikat menurut hal ini (koreksi asimetri) yaitu:

a

(N

Z)

2

a A

36 6. Dua nukleon yang sama (proton-proton atau netron-netron) di sekitar tingkat energi terluar (Fermi surface) pada suatu inti memiliki kecenderungan untuk membentuk pasangan dengan energi terendah yaitu, keduanya memiliki momentum angular yang saling berlawanan. Jika sebuah inti memiliki jumlah proton genap dan jumlah netron genap (inti genap-genap), maka proton dan netron pada Fermi sufrace-nya berpeluang membentuk pasangan seperti itu. Sedangkan pada inti genap-ganjil, ganjil-genap, ganjil-ganjil terdapat proton atau netron pada Fermi surface yang tidak berpasangan. Dengan demikian pada suatu isobar, inti genap-genap memiliki energi lebih rendah, energi ikat lebih tinggi, ikatan lebih stabil dari yang dimiliki inti genap-ganjil atau inti ganjil-genap, dan inti genap-ganjil atau inti ganjil-genap memiliki energi lebih rendah, energi ikat lebih tinggi, ikatan lebih stabil dari yang dimiliki inti ganjil-ganjil. Mengingat hal ini, ditambahkan koreksi pasangan (pairing) pada energi ikat:

∆(A) = ± ∆(A)

Untuk inti genap-ganjil atau inti ganjil-genap dipilih |∆(A)| = 0, maka untuk inti genap-genap –∆(A) = |∆(A)| dan untuk inti ganjl-ganjil –∆(A) = -|∆(A)|.

Salah satu perhitungan menghasilkan

∆(A) = 12A

-

2

1

.

37

Spin Inti

Inti terdiri dari nukleon (proton dan netron). Tiap nukleon memiliki spin (momentum angular intrinsik).

Di dalam inti nukleon tidak diam melainkan bergerak. Karena itu, selain spin nukleon juga memiliki momentum angular orbital.

Spin inti didefinisikan sebagai jumlah momentum angular atau momentum angular total (terdiri dari spin dan momentum angular orbital) seluruh nukleonnya:

spin inti

dan momentum angular orbital) seluruh nukleonnya: spin inti I = A ∑ S i spin nukleon

I

=

A

S

i

angular orbital) seluruh nukleonnya: spin inti I = A ∑ S i spin nukleon + A

spin nukleon

+

A

i

=

1

L

i

angular orbital) seluruh nukleonnya: spin inti I = A ∑ S i spin nukleon + A

momentum angular orbital

38

 

spin inti:

I

=

S

+

L,

S

 

L

 

I =

=

=

A

1

=

A

i

i

=

1

S

L

i

  I =   = = A ∑ 1 = A ∑ i i =

S =

integer

(2n

+

1)

1

2

L = integer

(A

(A

integer

(A

=

genap)

(2n

+

1)

2 1 (A

=

ganjil, n

= 0, 1, 2,

= genap) = ganjil, n = 0, 1, 2, ) ) teruji oleh eksperimen
=
genap)
=
ganjil, n
=
0, 1, 2,
)
)
teruji oleh
eksperimen

Dari pengamatan diperoleh, inti dengan A = genap berspin I = 0, kecuali inti ganjil-ganjil (Z dan N keduanya ganjil) berikut:

2

H ,

6

Li ,

B

10

,

N

14

(Sekedar info, dari sekian banyak inti ganjil-ganjil, hanya keempat inti ganjil-ganjil di atas yang stabil.)

39

Spin inti pada keadaan dasar (ground state) dapat berbeda dari spin inti pada keadaan tereksitasi (excited state). Sebutan spin inti tanpa keterangan lebih lanjut berarti spin inti pada keadaan dasar.

Keadaan inti dengan spin I (

ψ

I ) terdegenerasi dalam (2I + 1) keadaan

ψ

I

m

: ψ

I

m

,

I

m

I

(m

= −

I,

I

+

1,

,

I)

= bilangan kuantum magnetik spin I

ψ

I

m

:

= proyeksi spin I pada sumbu quantisasi (misal sumbu z)

40

Momen Listrik Inti

fungsi gelombang inti:

dengan:

ψ(r ,

r ,

1

,r

Z

Z

,r

Z

+

1

,

,

r )

A

,r

: koordinat proton,

1

ψ dinormalisasi sebagai berikut:

ψ(r ,

1

peluang mendapatkan inti dengan nukleon 1 berada di

posisi

r

1

sampai

r

1

+

dr

1

, nukleon 2 di

r

2

sampai

r

2

+

dr

2

,

, nukleon A di

r

A

sampai

r

A

+

dr

A

:

r

Z

+

1

,r

A

,

)

2

,

d

r

A

τ

:

=

koordinat netron

1

d

τ

A

j

=

1

dr

j

=

ψ(r ,

1

,

r )

A

2

dτ

peluang mendapatkan nukleon i berada

di posisi

lain pada posisi sembarang:

r

sampai

r

+

dr

, nukleon yang

P(r)dr

i

=

ψ(r ,

1

,r

i-1

,r,r

i

+

1

,

,r

A

)

2

A

j

i

dr

j

dr

P(r) yaitu rapat peluang menemukan nukleon i:

i

rapat muatan listrik inti:

ρ(r)

P(r)

i

=

e

=

Z

i

=

1

ψ(r ,

1

P(r)

i

,r

i-1

,r,r

i

+

1

,r )

A

2

A

j

i

dr

j

(e = muatan proton)

muatan listrik inti:

ρ(r)dr

=

e

Z

∑∫

i

=

1

P(r)dr

i

=

e

Z

∑∫

i

=

1

ψ(r ,

1

,r

A

)

2

d

τ

= Ze

41

Momen Dipol Inti

momen dipol inti dari proton i:

momen dipol inti dari Z proton:

f(r)

i

=

f(

r)

i

r ψ(r ,

i

1

,r

A

= −

r ψ(r ,

i

1

)

2

,r

A

)

2

= − f(r)

i

, i 1 ,r A = − r ψ(r , i 1 ) 2 ,r A
, i 1 ,r A = − r ψ(r , i 1 ) 2 ,r A

D

=

e

D

i

D

=

=

e rP(r)dr

i

i

i

i

=

Z

=

1

i

D

i

=

e

Z

∑∫

i

=

1

r

i

e

r ψ(r ,

i

1

ψ(r ,

1

,r

A

)

,r

A

)

2 d

τ

2

dτ

f(r)

i

= fungsi ganjil

Z

∑∫

i

=

1

r ψ(r ,

i

1

,r

A

)

2

d

τ

= 0

∫

f(r) dr

i

i

=

0

Jadi, inti tidak punya momen dipol listrik.

42

Momen Quadrupol Inti

momen quadrupol inti pada keadaan ψ:

Mencari Q(ψ):

Q(ψ )

=

e

Z

∑∫

i

=

1

(3z

2

i

r ) ψ(r ,

i

1

2

,r

A

)

2

Anggap (3z

maka:

2

i

r

i

2

,r

A

dengan

F(r ,

1

) sebagai sebuah fungsi gelombang

φ(r) i

:

φ(r) = 3z r

i

i

i

2

)

Q(ψ )

=

=

=

=

(3z

φ(r) ψ(r ,

ψ

,r

2

i

i

(r ,

1

r ) ψ(r ,

i

1

1

,r

A

)

2

2

,r

A

d τ

)

A

)φ(r)ψ(r ,

i

1

2

d

τ

,r

A

ψ

(r ,

1

,r

A

)F(r ,

1

,r

A

)d τ

)d τ

merupakan gabungan (coupled) dua fungsi gelombang:

F(r ,

1

,r

A

)

=

φ(r)ψ(r ,

i

1

,r

A

)

= ?

d

2

τ

0

43

= ?

ψ(r ,

1

,r

A

)

memiliki momentum angular I (spin inti).

φ(r) i

mengingatkan pada polinomial Legendre orde 2

P

2

, dan dengan begitu

pada fungsi spherical harmonics

Y

20

, berarti memiliki momentum angular L = 2.

maka:

F(r ,

1

,r

A

)

=

φ(r)ψ (r ,

i

1

,

r )

A

=

I

+

2

J

=

I

F

J

2

(r ,

1

,r

A

)

dengan F (r ,

J

1

,r

A

) fungsi gelombang dengan momentum angular J.

Sesuai aturan penjumlahan momentum angular:

J = I + L

(L = 2)

aturan penjumlahan momentum angular: J = I + L (L = 2) I − 2 ≤

I

2

J

I

+

2

Kembali ke:

maka ditemui:

Q(ψ ) =

ψ

J ≤ I + 2 Kembali ke: maka ditemui: Q(ψ ) = ∫ ψ ∗ momentum

momentum angular I

ψ (r ,

1

(r ,

1

,r

A

,r

A

)F(r ,

1

)F (r ,

J

1

,r

A

,r

A

)dτ

momentum angular I ∫ ψ (r , ∗ 1 (r , 1 ,r A ,r A

)dτ

= ?

momentum angular J

44

Sesuai sifat orthogonal eigenstate operator momentum angular:

ψ

(r ,

1

,r

A

)F (r ,

J

1

,r

A

)d

τ

=

0

(J

I)

Dengan kata lain integral di atas tidak nol jika J = I.

Ingat kembali nilai-nilai J:

I

maka:

I

I :

:

:

0

1

2

1

=

=

=

I

I :

I

I

:

:

3

2

2

2

=

=

>

2

J

I

+

2

I

3

2

1

1

2

0

2

J

=

J

J

J

J

J

2

5

2

3

7

2

4

I

 

J

I

 

J

I

J

= 1

= I

J

 

3

I

=

2

=

J

= 2 = I

 

2

J

= I

 

+

Jadi, ditemui J = I jika I 1 , berarti Q(ψ ) = 0 untuk inti berspin

I = 0 &

1

2

.

45

Keadaan inti dengan spin I (

dengan m = -I, -I + 1, -I + 2, …, I.

I ) terdegenerasi dalam (2I + 1) keadaan

ψ

Didefinisikan:

Q = momen quadrupol inti yaitu, momen quadrupol listrik inti untuk keadaan

Q(m) = momen quadrupol inti untuk keadaan

I

ψ

I

ψ

I

m

, dengan

m I

:

ψ

I

m ,

 

Q(m) =

3m

2

I(I

+

1)

Q

(m

I)

 

I(2I

1)

 

multipol:

Q

lm

(ψ )

=

e

Z

∑∫

l

r Y (θ , φ )

i

lm

i

i

ψ(r ,

1