Anda di halaman 1dari 18

.

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Rumusan Masalah

Di era globalisasi ini, mungkin kita menduga udara yang akhir-akhir ini di
bumi semakin hari semakin panas kita rasakan. Suhu pun tidak stabil. Cuaca yang
tidak menentu membuat kehidupan di muka bumi ini terancam. Pembangunan
gedung-gedung besar dan tinggi serta pembabatan hutan secara liar merupakan salah
satu penyebab semakin panasnya suhu bumi, karena tidak seimbangnya kadar karbon
dioksida di udara dengan polusi yang ditimbulkan oleh mesin-mesin industri, asap
kendaraan bermotor, dan lain-lain. Hal tersebut bukanlah suatu masalah yang mesti
kita risaukan. Mana mungkin tindakan dari satu atau dua orang makhluk hidup bisa
mengganggu kondisi planet bumi yang maha besar ini. Mungkin itu semua yang ada
dipikiran kita.

Sejak revolusi industri tahun 1750, industrialisasi di dunia khususnya di


Eropa terus meningkat. Ini menyebabkan kadar gas yang berbahaya semakin tajam.
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi membuat orang lupa akan kelestarian
lingkungannya, namun seiring dengan itu usaha-usaha perbaikan lingkungan pun juga
gencar dilaksanakan. Masalah-masalah lingkungan makin lama makin bertambah,
terlebih saat ini berhembus masalah yang lebih besar mengenai efek rumah kaca dan
global warming. Oleh karena itu kami mencoba membahas masalah-masalah diatas
dalam makalah ini. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan efek rumah kaca,
penyebab efek rumah kaca, dampak-dampak yang diberikan, dan keterkaitan
masalah-masalah tersebut diatas satu sama lain. Semua ini akan kami coba cari tahu
dan membahasnya dalam makalah ini.

1
1.2 Rumusan Masalah

Masalah-masalah yang akan kami bahas dalam makalah ini meliputi:


1. Pengertian efek rumah kaca.
2. Mekanisme terjadinya efek rumah kaca dan penyebabnya.
3. Keterkaitan efek rumah kaca dengan global warming dan perubahan iklim.
4. Gas yang dianggap penyebab terbesar terjadinya efek rumah kaca
5. Dampak yang diakibatkan oleh efek rumah kaca.
6. Cara-cara menanggulangi efek rumah kaca.

1.3 Tujuan Penulisan

Masalah-masalah yang akan kami bahas dalam makalah ini meliputi:


1. Untuk mengetahui pengertian efek rumah kaca.
2. Untuk mengetahui mekanisme terjadinya efek rumah kaca dan penyebabnya.
3. Untuk mengetahui keterkaitan efek rumah kaca dengan global warming dan
perubahan iklim.
4. Untuk mengetahui gas yang dianggap penyebab terbesar terjadinya efek rumah
kaca
5. Untuk mengetahui dampak yang diakibatkan oleh efek rumah kaca.
6. Untuk mengetahui cara-cara menanggulangi efek rumah kaca.

1.4 Manfaat Penulisan

1. Untuk menambah wawasan kepada mahasiswa tentang efek rumah kaca


2. Untuk menginformasikan kepada mahasiswa tentang penyebab terjadinya efek
rumah kaca
3. Untuk mengetahui cara mengatasi efek rumah kaca

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Efek Rumah Kaca

Efek rumah kaca, yang pertama kali diusulkan oleh Joseph Fourier pada
1824, merupakan proses pemanasan permukaan suatu benda langit ( terutama
planet atau satelit ) yang disebabkan oleh komposisi dan keadaan atmosfernya.
Mars, Venus, dan benda langit beratmosfer lainnya (seperti satelit alami Saturnus,
Titan) memiliki efek rumah kaca. Istilah efek rumah kaca atau bahasa inggris
disebut dengan green house effect ini dulu berasal dari pengalaman para petani
yang tinggal di daerah beriklim sedang yang memanfaatkan rumah kaca untuk
menanam sayur mayur dan juga bunga-bungaan. Suhu di dalam rumah kaca lebih
tinggi daripada di luar rumah kaca.
Hal ini dikarenakan dikarenakan cahaya matahari yang menembus kaca akan
dipantulkan kembali oleh benda-benda di dalam ruangan kaca sebagai gelombang
panas yang berupa sinar infra merah, tapi gelombang panas tersebut terperangkap
dan tidak bercampur dengan udara luar yang dingin. Itulah gambar sederhana
mengenai terjadinya efek rumah kaca.

2.2 Mekanisme terjadinya efek rumah kaca dan penyebabnya

Efek rumah kaca disebabkan karena naiknya gas karbondioksida ( CO2) dan
gas-gas lainnya di atmosfer. Kenaikan konsentrasi gas CO2 disebabkan oleh
kenaikan pembakaran bahan bakar minyak, batu bara dan bahan bakar organic
lainnya yang melampaui kemampuan tumbuhan-tumbuhan dan laut untuk
menyerapnya. Energi yang masuk ke bumi, 25 % dipantulkan oleh awan atau
partikel lain di atmosfer, 25 % diserap awan, 45 % diserap permukaan bumi, 5 %
dipantulkan kembali oleh permukaan bumi. Energy yang diserap dipantulkan
kembali dalam bentuk radiasi inframerah yang dipancarkan bumi tertahan oleh

3
awan dan gas CO2 dan gas lainnya, untuk dikembalikan ke permukaan bumi.
Selain gas CO2, yang dapat menimbulkan efek rumah kaca adalah belerang
dioksida, nitrogen monoksida (NO) dan nitrogen dioksida (NO2) serta beberapa
senyawa organic seperti gas metana dan klorofluorokarbon (CFC). Gas-gas
tersebut memegang peranan penting dalam meningkatkan efek rumah kaca.
Sinar inframerah yang dipantulkan bumi kemudian diserap oleh molekul gas
yang antara lain berupa uap air atau H2O, CO2, metan (CH4), dan ozon (O3). Sinar
panas inframerah ini terperangkap dalam lapisan troposfir dan oleh karenanya
suhu udara di troposfir dan permukaan bumi menjadi naik. Hal inilah yang
menyebabkan terjadinya Efek Rumah Kaca. Gas yang menyerap sinar inframerah
disebut Gas Rumah Kaca. Efek rumah kaca bisa terjadi karena berubahnya
komposisi GRK (gas rumah kaca), yaitu meningkatnya konsentrasi GRK secara
global akibat kegiatan manusia terutama yang berhubungan dengan pembakaran
bahan bakar fosil (minyak, gas, dan batubara) seperti pada pembangkitan tenaga
listrik, kendaraan bermotor, AC, komputer, memasak. Selain itu GRK juga
dihasilkan dari pembakaran dan penggundulan hutan serta aktivitas pertanian dan
peternakan, GRK yang dihasilkan dari kegiatan tersebut, seperti karbondioksida,
metana, dan nitroksida. Hal tersebut di atas juga merupakan salah satu penyebab
pemanasan global yang terjadi saat ini.
Dunia memperoleh sebagian besar energi dari pembakaran bahan bakar fosil
yang berupa pembakaran minyak bumi, arang maupun gas bumi. Ketika
pembakaran berlangsung sempurna, seluruh unsur karbon dari senyawa ini diubah
menjadi karbon dioksida. Senyawa karbon dari bahan bakar fosil telah tersimpan
di dalam bumi selama beratus-ratus milliar tahun lamanya. Dalam jangka waktu
satu atau dua abad ini, senyawa karbon ini dieksploitasi dan diubah menjadi
karbon dioksida. Tidak semua karbon dioksida berada di atmosfir (sebagian
darinya larut di laut dan danau, sebagian juga diubah menjadi bebatuan dalam
wujud karbonat kalsium dan magnesium), tetapi hasil pengukuran menunjukkan
bahwa kadar CO2 di atmosfir perlahan-lahan meningkat tiap tahun dan terus
meningkat dekade-dekade terakhir. Peningkatan dari kadar CO2 di atmosfir

4
menimbulkan masalah-masalah penting yang disebabkan oleh alasan-alasan
berikut ini. Karbon dioksida memiliki sifat memperbolehkan cahaya sinar tampak
untuk lewat melaluinya tetapi menyerap sinar infra merah. Agar bumi dapat
mempertahankan temperatur rata-rata, bumi harus melepaskan energi setara
dengan energi yang diterima. Energi diperoleh dari matahari yang sebagian besar
dalam bentuk cahaya sinar tampak. Oleh karena CO2 di atmosfer memperbolehkan
sinar tampak untuk lewat, energi lewat sampai ke permukaan bumi. Tetapi energi
yang kemudian dilepaskan (dipancarkan) oleh permukaan bumi sebagian besar
berada dalam bentuk infra merah, bukan cahaya sinar tampak, yang oleh
karenanya disearap oleh atmosfer CO2. Sekali molekul CO2 menyerap energi dari
sinar infra merah, energi ini tidak disimpan melainkan dilepaskan kembali ke
segala arah, memancarkan balik ke permukaan bumi. Sebagai konsekuensinya,
atmosfer CO2 tidak menghambat energi matahari untuk mencapai bumi, tetapi
menghambat sebagian energi untuk kembali ke ruang angkasa. Fenomena ini
disebut dengan efek rumah kaca.
Lapisan terbawah (troposfir) adalah bagian yang terpenting dalam kasus efek
rumah kaca atau ERK. Sekitar 35% dari radiasi matahari tidak sampai ke
permukaan bumi. Hampir seluruh radiasi yang bergelombang pendek (sinar alpha,
beta dan ultraviolet) diserap oleh tiga lapisan teratas. Yang lainnya dihamburkan
dan dipantulkan kembali ke ruang angkasa oleh molekul gas, awan dan partikel.
Sisanya yang 65% masuk ke dalam troposfir. Di dalam troposfir ini, 14 % diserap
oleh uap air, debu, dan gas-gas tertentu sehingga hanya sekitar 51% yang sampai
ke permukaan bumi. Dari 51% ini, 37% merupakan radiasi langsung dan 14%
radiasi difus yang telah mengalami penghamburan dalam lapisan troposfir oleh
molekul gas dan partikel debu. Radiasi yang diterima bumi, sebagian diserap
sebagian dipantulkan. Radiasi yang diserap dipancarkan kembali dalam bentuk
sinar inframerah. Sinar inframerah yang dipantulkan bumi kemudian diserap oleh
molekul gas yang antara lain berupa uap air atau H2O, CO2, metan (CH4), dan
ozon (O3). Sinar panas inframerah ini terperangkap dalam lapisan troposfir dan

5
oleh karenanya suhu udara di troposfir dan permukaan bumi menjadi naik.
Terjadilah Efek Rumah Kaca.

2.3 Keterkaitan antara Efek Rumah Kaca, Global Warming, dan Perubahan
Iklim.

Secara umum iklim merupakan hasil interaksi proses-proses fisik dan


kimiafisik dimana parameter-parameternya adalah seperti suhu, kelembaban,
angin, dan pola curah hujan yang terjadi pada suatu tempat di muka bumi. Iklim
merupakan suatu kondisi rata-rata dari cuaca, dan untuk mengetahui kondisi iklim
suatu tempat, diperlukan nilai rata-rata parameterparameternya selama kurang
lebih 10 sampai 30 tahun. Iklim muncul setelah berlangsung suatu proses fisik dan
dinamis yang kompleks yang terjadi di atmosfer bumi. Kompleksitas proses fisik
dan dinamis di atmosfer bumi ini berawal dari perputaran planet bumi
mengelilingi matahari dan perputaran bumi pada porosnya. Pergerakan planet
bumi ini menyebabkan besarnya energi matahari yang diterima oleh bumi tidak
merata, sehingga secara alamiah ada usaha pemerataan energi yang berbentuk
suatu sistem peredaran udara, selain itu matahari dalam memancarkan energi juga
bervariasi atau berfluktuasi dari waktu ke waktu. Perpaduan antara proses-proses
tersebut dengan unsur-unsur iklim dan faktor pengendali iklim menghantarkan kita
pada kenyataan bahwa kondisi cuaca dan iklim bervariasi dalam hal jumlah,
intensitas dan distribusinya.
Secara alamiah sinar matahari yang masuk ke bumi, sebagian akan
dipantulkan kembali oleh permukaan bumi ke angkasa. Sebagian sinar matahari
yang dipantulkan itu akan diserap oleh gas-gas di atmosfer yang menyelimuti
bumi disebut gas rumah kaca, sehingga sinar tersebut terperangkap dalam bumi.
Peristiwa ini dikenal dengan Efek Rumah Kaca (ERK) karena peristiwanya
sama dengan rumah kaca, dimana panas yang masuk akan terperangkap di
dalamnya, tidak dapat menembus ke luar kaca, sehingga dapat menghangatkan

6
seisi rumah kaca tersebut. Efek rumah kaca. Peristiwa alam ini menyebabkan bumi
menjadi hangat dan layak ditempati manusia, karena jika tidak ada ERK maka
suhu permukaan bumi akan 33 derajat Celcius lebih dingin. Gas Rumah Kaca
(GRK) seperti CO2 (Karbon dioksida),CH4 (Metan) dan N2O (Nitrous Oksida),
HFCs (Hydrofluorocarbons), PFCs (Perfluorocarbons) and SF6 (Sulphur
hexafluoride) yang berada di atmosfer dihasilkan dari berbagai kegiatan manusia
terutama yang berhubungan dengan pembakaran bahan bakar fosil (minyak, gas,
dan batubara) seperti pada pembangkitan tenaga listrik, kendaraan bermotor, AC,
komputer, memasak.
Selain itu GRK juga dihasilkan dari pembakaran dan penggundulan hutan
serta aktivitas pertanian dan peternakan. GRK yang dihasilkan dari kegiatan
tersebut, seperti karbondioksida, metana, dan nitroksida, menyebabkan
meningkatnya konsentrasi GRK di atmosfer. Berubahnya komposisi GRK di
atmosfer, yaitu meningkatnya konsentrasi GRK secara global akibat kegiatan
manusia menyebabkan sinar matahari yang dipantulkan kembali oleh permukaan
bumi ke angkasa, sebagian besar terperangkap di dalam bumi akibat terhambat
oleh GRK tadi. Meningkatnya jumlah emisi GRK di atmosfer pada akhirnya
menyebabkan meningkatnya suhu rata-rata permukaan bumi, yang kemudian
dikenal dengan Pemanasan Global.
Sinar matahari yang tidak terserap permukaan bumi akan dipantulkan
kembali dari permukaan bumi ke angkasa. Setelah dipantulkan kembali berubah
menjadi gelombang panjang yang berupa energi panas. Namun sebagian dari
energi panas tersebut tidak dapat menembus kembali atau lolos keluar ke angkasa,
karena lapisan gas-gas atmosfer sudah terganggu komposisinya. Akibatnya energi
panas yang seharusnya lepas keangkasa (stratosfer) menjadi terpancar kembali ke
permukaan bumi (troposfer) atau adanya energi panas tambahan kembali lagi ke
bumi dalam kurun waktu yang cukup lama, sehingga lebih dari dari kondisi
normal, inilah efek rumah kaca berlebihan karena komposisi lapisan gas rumah
kaca di atmosfer terganggu, akibatnya memicu naiknya suhu rata-rata
dipermukaan bumi maka terjadilah pemanasan global. Karena suhu adalah salah

7
satu parameter dari iklim dengan begitu berpengaruh pada iklim bumi, terjadilah
perubahan iklim secara global.
Pemanasan global dan perubahan iklim menyebabkan terjadinya kenaikan
suhu, mencairnya es di kutub, meningkatnya permukaan laut, bergesernya garis
pantai, musim kemarau yang berkepanjangan, periode musim hujan yang semakin
singkat, namun semakin tinggi intensitasnya, dan anomaly-anomali iklim seperti
El Nino La Nina dan Indian Ocean Dipole (IOD). Hal-hal ini kemudian akan
menyebabkan tenggelamnya beberapa pulau dan berkurangnya luas daratan,
pengungsian besar-besaran, gagal panen, krisis pangan, banjir, wabah penyakit,
dan lain-lainnya.

2.4 Gas - gas efek rumah kaca

Karbondioksida

Kenaikan karbon dioksida (CO2) yang merupakan sejenis senyawa kimia


berbentuk gas ini biasanya disebabkan oleh adanya pembakaran bahan bakar minyak,
batu bara serta bahan bakar organik lainnya yang melampaui kemampuan tumbuhan-
tumbuhan maupun laut untuk menyerapnya. Hal inilah yang akhirnya mengakibatkan
adanya efek rumah kaca.

Metana

Gas Hidrokarbon Metana biasanya dilepaskan selama produksi serta transportasi


batu bara, gas alam, maupun minyak bumi. Metana yang dianggap sebagai komponen
utama gas alam masuk dalam kategori gas rumah kaca dan mengakibatkan efek
rumah kaca.

Nitrogen Oksida

8
Sebuah gas yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil dan juga dari
lahan pertanian. Gas Nitrogen Oksida dihasilkan dari reaksi antara nitrogen dan
oksigen di udara saat terjadi pembakaran, biasanya pada suhu tinggi. Sering kali gas
ini berasal dari tempat dengan kepadatan lalu lintas tinggi. Gas ini juga termasuk gas
rumah kaca dan bisa mengakibatkan efek rumah kaca.

Gas-Gas Lain

Selain Karbondioksida, Metana dan Nitrogen Oksida yang menyumbang gas


rumah kaca, ada pula beberapa gas lain diantaranya adalah belerang dioksida, kloro
fluoro karbon (CFC) dan lain-lain.

2.5 Dampak yang Diakibatkan oleh Efek Rumah Kaca


Efek rumah kaca adalah seperti yang diuraikan diatas, bahwa konsentrasi
CO2 yang tebal diatmosfer bumi menyebabkan emisi panas yang dikeluarkan oleh
makhluk ataupun benda lain di muka bumi tidak dapat dilepaskan sehingga suhu
bertambah panas di didalam linkungan bumi. efek berantainya adalah apabila
ketebalan mencapai batas limit maka sinar matahari tidak akan mamapu lagi
menembus sampai kepermukaan bumi. Logikanya apabila konsentrasi sudah
mencapai titik jenuh tersebut maka bumi akan mengalami gelap karena radiasi
panas tidak mampu menembus bumi akibat dipantulkannya kembali keluar
angkasa. Dengan demikian maka suhu bumi akan turun drastis dan permukaan air
akan membeku.
efek lain dari emisi gas rumah kaca adalah hewan & ikan dibumi akan
mengalami kerusakan jaringan dan reproduksi, kerabang telur ayam akan susah
terbentuk telur ikan akan pecah sebelum diselaputi lendir pelindung. sehingga
populasi hewan dan ikan akan menurun bahkan musnah. Tumbuhan yang
sebetulnya memerlukan CO2 untuk fotosintesis justru tidak dapat melakukan
fungsi tersebut dikarenakan sel fotosintesis pada daun tertutup jelaga yang
merupakan efek samping dari CO2, pada permukaan daun akan timbul kutikula

9
daun atau bintil bintil daun, itu seperti kanker pada hewan atau manusia.
Ganggang dan fitoplankton pun setali tiga uang dengan tumbuhan besar, sel
fotosintesis tidak akan berfungsi. Yang jelas apapun bila tidak sesuai ukuran akan
mengakibatkan kerusakan. Coba bila anda makan sesuai porsi dengan makan yng
berlebih sampai kekenyangan, maka akan jelas efeknya. Makan sesuai porsi akan
jadi sehat. makan berlebih perut jadi sakit dan kelanjutannya keorgan lainnya.
demikian juga emisi gas rumah kaca (CO2) bila berlebihan akan menimbulkan
penyakit, tetapi bila sesuai porsi akan membuat sehat tumbuhan dan bumi. Jadi
yang jelas akibat global warming yang disebabkan efek rumah kaca bukan akan
menambah jumlah ikan karena air yng semakin banyak dan tumbuhan bukannya
menghasilkan oksigen bertambah banyak karena berlebihannya CO2.
Efek rumah kaca itu tidak berbanding lurus dengan melimpahnya sinar
matahari. Rasa hangat dan panas yang kita rasakan itu bukan dari sinar matahari
tapi dari emisi/radiasi yang terjebak dibawah permukaan gas CO2 yg tebal. Perlu
dicatat emisi,radiasi dan sinar itu hal yang berbeda. Sinar matahari kebumi
membawa serta radiasi dan emisi (emisi adalah efek hasil pemanasan yang berupa
gas, sedangkan radiasi dihasilkan akibat tidak stabilnya elektron akibat tumbukan
antara elektron yang akan menimbulkan pemanbahan atau pengurangan jumlahnya
untuk mencapai kesetabilan, tetapi hal ini juga mempengaruhi inti atomnya,
akibatnya akan mengeluarkan sinar seperti alfa, gama, beta, ultraviolet, X, dll).
Jadi jelasnya bumi kita ini harus dirawat dikelola dengan bijaksana agar terus
seimbang. Karena ketidak seimbangan akan mengakibatkan petaka bukan manfaat.
Meningkatnya suhu permukaan bumi akan mengakibatkan adanya perubahan iklim
yang sangat ekstrim di bumi. Hal ini dapat mengakibatkan terganggunya hutan dan
ekosistem lainnya, sehingga mengurangi kemampuannya untuk menyerap karbon
dioksida di atmosfer. Pemanasan global mengakibatkan mencairnya gunung-
gunung es di daerah kutub yang dapat menimbulkan naiknya permukaan air laut.
Efek rumah kaca juga akan mengakibatkan meningkatnya suhu air laut sehingga
air laut mengembang dan terjadi kenaikan permukaan laut yang mengakibatkan
negara kepulauan akan mendapatkan pengaruh yang sangat besar.

10
Menurut perhitungan simulasi, efek rumah kaca telah meningkatkan suhu
rata-rata bumi 1-5 C. Bila kecenderungan peningkatan gas rumah kaca tetap
seperti sekarang akan menyebabkan peningkatan pemanasan global antara 1,5-4,5
C sekitar tahun 2030. Dengan meningkatnya konsentrasi gas CO2 di atmosfer,
maka akan semakin banyak gelombang panas yang dipantulkan dari permukaan
bumi diserap atmosfer. Hal ini akan mengakibatkan suhu permukaan bumi
menjadi meningkat. Peningkatan suhu bumi juga mempengaruhi terjadinya
perubahan cuaca dan suhu laut yang begitu ekstrim. Perubahan cuaca dan lautan
dapat mengakibatkan munculnya penyakit-penyakit yang berhubungan dengan
panas (heat stroke) dan kematian. Temperatur yang panas juga dapat menyebabkan
gagal panen sehingga akan muncul kelaparan dan malnutrisi. Perubahan cuaca
yang ekstrem dan peningkatan permukaan air laut akibat mencairnya es di kutub
utara dapat menyebabkan penyakit-penyakit yang berhubungan dengan bencana
alam (banjir, badai dan kebakaran) dan kematian akibat trauma. Timbulnya
bencana alam biasanya disertai dengan perpindahan penduduk ke tempat-tempat
pengungsian dimana sering muncul penyakit, seperti: diare, malnutrisi, defisiensi
mikronutrien, trauma psikologis, penyakit kulit, dan lain-lain.
Pergeseran ekosistem dapat memberi dampak pada penyebaran penyakit
melalui air (Waterborne diseases) maupun penyebaran penyakit melalui vektor
(vector-borne diseases). Seperti meningkatnya kejadian Demam Berdarah karena
munculnya ruang (ekosistem) baru untuk nyamuk ini berkembang biak. Dengan
adamya perubahan iklim ini maka ada beberapa spesies vektor penyakit (eq Aedes
Agipty), Virus, bakteri, plasmodium menjadi lebih resisten terhadap obat tertentu
yang target nya adala organisme tersebut. Selain itu bisa diprediksi kan bahwa ada
beberapa spesies yang secara alamiah akan terseleksi ataupun punah dikarenakan
perbuhan ekosistem yang ekstrem ini. hal ini juga akan berdampak perubahan
iklim (Climate change)yang bisa berdampak kepada peningkatan kasus penyakit
tertentu seperti ISPA (kemarau panjang / kebakaran hutan, DBD Kaitan dengan
musim hujan tidak menentu).

11
Efek rumah kaca dapat mengakibatkan mencairnya gunung-gunung es
didaerah kutub. Hal akan berakibat naiknya permukaan laut yang dapat
mengancam pemukiman penduduk disepanjang pantai. Naiknya permukaan air
laut dapat mengakibatkan erosi disekitar wilayah pesisir pantai, kerusakan hutan
bakau dan terumbu karang, berkurangnya intensitas cahaya didasar laut, serta
naiknya tinggi gelombang air laut. Disamping itu efek rumahkaca mengakibatkan
terganggunya keseimbangan biologis di laut sehingga dapat meningkatkan jumlah
ganggang di lautan. Beberapa jenis ganggang ini ada yang dapat mengeluarkan
racun yangmembahayakankehidupan lautdan meracuni manusia yang memakan
hasil laut. Efek rumah kaca juga akan meningkatkan suhu bumi sekitar 1 5
. Hal ini akan mengganggu ekosistem dan lingkungan. Gradasi Lingkungan
yang disebabkan oleh pencemaran limbah pada sungai juga berkontribusi pada
waterborne diseases dan vector-borne disease. Ditambah pula dengan polusi udara
hasil emisi gas-gas pabrik yang tidak terkontrol selanjutnya akan berkontribusi
terhadap penyakit - penyakit saluran pernafasan seperti asma, alergi,
coccidiodomycosis, penyakit jantung dan paru kronis, dan lain-lain.
Namun disamping hal-hal tersebut efek rumah kaca juga memiliki dampak
yang positif bagi kehidupan, terutama manusia. Efek rumah kaca sangat
dibutuhkan oleh segala makhluk hidup yang ada di bumi. Karena tanpanya, planet
ini akan menjadi sangat dingin. Dengan suhu rata-rata sebesar 15 C (59 F), bumi
sebenarnya telah lebih panas 33 C (59 F) dari suhunya semula, jika tidak ada
efek rumah kaca suhu bumi hanya -18 C sehingga es akan menutupi seluruh
permukaan bumi. Akan tetapi sebaliknya, apabila gas-gas tersebut telah berlebihan
di atmosfer, akan mengakibatkan pemanasan global.

2.6 Cara-cara Menanggulangi Efek Rumah Kaca

Ada dua pendekatan utama untuk memperlambat semakin bertambahnya gas


rumah kaca. Pertama, mencegah karbon dioksida dilepas ke atmosfer dengan
menyimpan gas tersebut atau komponen karbon-nya di tempat lain. Cara ini

12
disebut carbon sequestration (menghilangkan karbon). Kedua, mengurangi
produksi gas rumah kaca. Cara yang paling mudah untuk menghilangkan karbon
dioksida di udara adalah dengan memelihara pepohonan dan menanam pohon
lebih banyak lagi. Pohon, terutama yang muda dan cepat pertumbuhannya,
menyerap karbon dioksida yang sangat banyak, memecahnya melalui fotosintesis,
dan menyimpan karbon dalam kayunya. Di seluruh dunia, tingkat perambahan
hutan telah mencapai level yang mengkhawatirkan. Di banyak area, tanaman yang
tumbuh kembali sedikit sekali karena tanah kehilangan kesuburannya ketika
diubah untuk kegunaan yang lain, seperti untuk lahan pertanian atau pembangunan
rumah tinggal. Langkah untuk mengatasi hal ini adalah dengan penghutanan
kembali yang berperan dalam mengurangi semakin bertambahnya gas rumah kaca.
Gas karbon dioksida juga dapat dihilangkan secara langsung. Caranya dengan
menyuntikkan (menginjeksikan) gas tersebut ke sumur-sumur minyak untuk
mendorong agar minyak bumi keluar ke permukaan. Injeksi juga bisa dilakukan
untuk mengisolasi gas ini di bawah tanah seperti dalam sumur minyak, lapisan
batubara atau aquifer. Hal ini telah dilakukan di salah satu anjungan pengeboran
lepas pantai Norwegia, dimana karbon dioksida yang terbawa ke permukaan
bersama gas alam ditangkap dan diinjeksikan kembali ke aquifer sehingga tidak
dapat kembali ke permukaan. Salah satu sumber penyumbang karbon dioksida
adalah pembakaran bahan bakar fosil. Penggunaan bahan bakar fosil mulai
meningkat pesat sejak revolusi industri pada abad ke-18. Pada saat itu, batubara
menjadi sumber energi dominan untuk kemudian digantikan oleh minyak bumi
pada pertengahan abad ke-19. Pada abad ke-20, energi gas mulai biasa digunakan
di dunia sebagai sumber energi. Perubahan trend penggunaan bahan bakar fosil ini
sebenarnya secara tidak langsung telah mengurangi jumlah karbon dioksida yang
dilepas ke udara, karena gas melepaskan karbon dioksida lebih sedikit bila
dibandingkan dengan minyak apalagi bila dibandingkan dengan batubara.
Walaupun demikian, penggunaan energi terbaharui dan energi nuklir lebih
mengurangi pelepasan karbon dioksida ke udara. Energi nuklir, walaupun
kontroversial karena alasan keselamatan dan limbahnya yang berbahaya, t Untuk

13
kendraan bermotor, perlu digunakan alat penyaring khusus gas buangan pada
bagian knalpot (tempat keluar gas buangan) yang dapatmenetralisirdan
mengurangi dampak negatif gas buangan tersebut. Bisa juga dengan mengganti
bahan bakar dengan bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan, seperti tenaga
surya (matahari) atau biodisel. Perlu dikeluarkan regulasi tentang usia kendraan
bermotor yang boleh beroperasi agar tidak menimbulkan pencemaran. Untuk skala
industri, perlu dibuat sistem pembuangan dan daur ulang gas buangan yang baik.
Saluran buangan perlu diperhatikan, kearah mana akan dibuang dan haruslah
memperhatikan lingkungan sekitar. Reboisasi lahan yang gundul merupakan salah
satu langkah untuk menahan laju karbondioksida yang berlebih diudara. Termasuk
penanaman pohon-pohon disepanjang jalan raya yang dapat menetralisir
pencemaran udara disepanjang jalan raya.Tetapi tidak melepas karbon dioksida
sama sekali.
Selain itu diperlukan juga adanya pengelolaan sampah.Pengelolaan sampah
adalah pengumpulan , pengangkutan , pemrosesan , pendaur-ulangan , atau
pembuangan dari material sampah. Kalimat ini biasanya mengacu pada material
sampah yg dihasilkan dari kegiatan manusia, dan biasanya dikelola untuk
mengurangi dampaknya terhadap kesehatan, lingkungan atau keindahan.
Pengelolaan sampah juga dilakukan untuk memulihkan sumber daya alam .
Pengelolaan sampah bisa melibatkan zat padat , cair , gas , atau radioaktif dengan
metoda dan keahlian khusus untuk masing masing jenis zat. Praktek pengelolaan
sampah berbeda beda antara Negara maju dan negara berkembang , berbeda juga
antara daerah perkotaan dengan daerah pedesaan , berbeda juga antara daerah
perumahan dengan daerah industri. Pengelolaan sampah yg tidak berbahaya dari
pemukiman dan institusi di area metropolitan biasanya menjadi tanggung jawab
pemerintah daerah, sedangkan untuk sampah dari area komersial dan industri
biasanya ditangani oleh perusahaan pengolah sampah. Selain itu perlu diadakan
kerja sama internasional untuk mensukseskan pengurangan gas-gas rumah kaca.
Apabila pada suatu negara diterapkan peraturan kebijakan lingkungan yang ketat,
maka ekonominya dapat terus tumbuh walaupun berbagai macam polusi telah

14
dikurangi. Akan tetapi membatasi emisi karbon dioksida terbukti sulit dilakukan.
Sebagai contoh, Belanda, negara industrialis besar yang juga pelopor lingkungan,
telah berhasil mengatasi berbagai macam polusi tetapi gagal untuk memenuhi
targetnya dalam mengurangi produksi karbon dioksida. Oleh karena itu, perlu
adanya upaya yang serius, konsisten, dan kontinyu agar masalah kerusakan
lingkungan ini dapat diatasi atau diminimalisir.

15
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Dari penjelasan-penjelasan yang telah diuraikan diatas dapat ditarik


kesimpulan sebagai berikut :
1. Secara alamiah sinar matahari yang masuk ke bumi, sebagian akan
dipantulkan kembali oleh permukaan bumi ke angkasa. Sebagian sinar
matahari yang dipantulkan itu akan diserap oleh gas-gas di atmosfer yang
menyelimuti bumi yang disebut gas rumah kaca, sehingga sinar tersebut
terperangkap dalam bumi. Peristiwa ini dikenal dengan Efek Rumah Kaca
(ERK).
2. Selain gas CO2, yang dapat menimbulkan efek rumah kaca adalah belerang
dioksida, nitrogen monoksida (NO) dan nitrogen dioksida (NO2) serta
beberapa senyawa organik seperti gas metana dan klorofluorokarbon (CFC).
3. Efek rumah kaca dapat mengakibatkan meningkatnya suhu air laut sehingga
air laut mengembang dan terjadi kenaikan permukaan laut yang
mengakibatkan negara kepulauan akan mendapatkan pengaruh yang sangat
besar.
4. Menanggulangi dampak dari efek rumah dapat dilakukan dengan dua cara
yakni, pertama dengan cara mencegah karbon dioksida dilepas ke atmosfer
dengan menyimpan gas tersebut atau komponen karbon-nya di tempat lain.
Kedua, mengurangi produksi gas rumah kaca.
5. Efek rumah kaca menjadikan suhu bumi layak untuk kehidupan manusia.

3.2 Saran
Dunia yang kita huni ini bukan hanya untuk beberapa tahun saja. Bukan
hanya untuk kita saja. Generasi kita jugalah yang akan menikmati kehidupan di

16
dunia ini. Kalau bukan kita yang akan menjaga dan merawat bumi ini siapa lagi.
Sejak dini mulailah kita memperbaiki sikap kita, mulailah kita ramah terhadap
lingkungan, mulailah kita bersikap arif terhadap bumi. Bila tidak dari sekarang,
kita akan merasakan dampak yang sangat besar untuk generasi-generasi
mendatang.

17
18