Anda di halaman 1dari 8

DESAIN SEMEN UNTUK SQUEEZE

CEMENTING PADA SUMUR X PT. PERTAMINA


EP ASSET 2 FIELD LIMAU

Winwibisma Putra Anggara | 113130027


Latif Riscahyo Nugroho | 113130057
Petroleum Engineering UPN Veteran Yogyakarta
Copyright 2016, Petroleum Engineering UPN Veteran Yogyakarta
Jl. SWK 104 (Lingkar Utara) Condong Catur, Yogyakarta 55283
Telp. (0274) 486733 Ext 303 Fax. (0274) 566800, 514056

Paper ini ditujukan untuk memenuhi laporan kerja praktek di Teknik Perminyakan UPN Veteran Yogyakarta

Abstrak:

Squeeze cementing adalah penyemenan ulang yang dilakukan sebagai salah satu perawatan
sumur dengan menempatkan cement slurry ditempat yang diinginkan. Pada kasus ini squeeze
cementing digunakan untuk menutup zona perforasi. Squeeze cementing ini dilakukan karena
pada zona tersebut terproduksi air 100%. Digunakan squeezeCRETE slurry agar hasil semen
memuaskan. Perhitungan sifat semen dilakukan di laboratoratorium sedangkan perhitungan
volume semen dilakukan berdasarkan data sumur yang ada. Sifat aditif yang digunakan yaitu
antifoam, fluid loss, dispersant, dan retarder. Hasil perhitungan semen, diperlukan cement
slurry yang dicampurkan sebanyak 15 bbl yang terdiri dari 10 bbl volume semen pada casing,
3 bbl untuk squeeze cementing dan dead volume 2 bbl.

I. PENDAHULUAN Menutup zona lost circulation.


Memperbaiki kebocoran yang
Squeeze cementing adalah bagian dari
terjadi di casing.
secondary cementing yaitu penyemenan
Memperbaiki primary cementing
ulang yang dilakukan sebagai salah satu
yang kurang memuaskan.
perawatan sumur dengan menempatkan
cement slurry ditempat yang diinginkan. Squeeze cementing memiliki 3 teknik yaitu
Squeeze cementing bertujuan untuk: pada placement, pemompaan, dan aplikasi.
Placement pada squeeze cementing dibagi
Mengurangi water-oil ratio, water-
menjadi 2 yaitu dengan tekanan tinggi
gas ratio, maupun gas-oil ratio.
maupun tekanan rendah. Tekanan tinggi
Menutup formasi yang tidak lagi
digunakan untuk memindahkan semen
produktif.
dalam jumlah banyak. Squeeze cementing 1. Melakukan pressure test line dari
ini digunakan untuk mengisi ruang yang cementing unit sampai ke rig floor
kosong. Tekanan rendah digunakan untuk pada tekanan 200 psi.
volume semen yang sedikit, biasanya 2. Melakukan injectivity test untuk
digunakan pada pada pay zone. mengetahui volume squeeze, rate,
dan tekanan yang dibutuhkan.
Pada pemompaan, squeeze cementing
3. Menghitung volume semen
memiliki 2 cara yaitu dengan cara running
(volume semen, volume squeeze,
dan hesitation. Running adalah cara
dan dead volume), water ahead,
pemompaan dengan memompa cement
water behind, dan displace.
slurry terus menerus dengan tekanan yang
4. Mixing/ pencampuran cement
terus naik. Semen dengan jumlah banyak
slurry.
biasanya dipompa dengan cara ini.
5. Memompa water ahead.
Hesitation adalah cara memompa cement
6. Memompa cement slurry.
slurry dengan tekanan naik kemudian
7. Memompa water behind.
turun kemudian naik lagi/ intermittent.
8. Memompa displace.
Digunakan untuk semen dengan volume
9. Rise up/ mengangkat tubing hingga
sedikit dan untuk rate pompa yang kecil.
berada diatas kondisi semen
Aplikasi squeeze cementing tanpa setimbang.
menggunakan peralatan khusus yaitu 10. Reverse circulation/ sirkulasi
bradenhead. Digunakan saat squeeze terbalik untuk membersihkan
cementing menggunakan tekanan rendah tubing dari semen.
selain itu digunakan karena casing 11. Melakukan pemompaan dengan
memiliki ketahanan terhadap tekanan cara running atau hesitation.
tinggi. Sedangkan squeeze tools yaitu
Pemilihan semen dilakukan berdasarkan
dengan menggunakan packer dan
keperluan penyemenenan. Semen yang
sebagainya.
digunakan dalam operasi penyemenan
Prosedur dalam melakukan squeeze suatu sumur minyak (oil well cementing)
cementing juga berbeda dengan prosedur biasanya sesuai dengan standar American
primary cementing. Prosedur squeeze Petroleum Institute (API) dapat
cementing secara umum adalah: diklasifikasikan menjadi semen kelas A,
semen kelas B, semen kelas C, semen
kelas D, semen kelas E, semen kelas F,
semen kelas G, dan semen kelas H. Perbaikan bonding semen pada
Pengklasifikasian semen didasarkan pada lapisan target (jika dilakukan
kemampuan semen dalam pekerjaan yang CBL/VDL logging)
akan dilakukan. Digunakan berbeda-beda
Squeeze pada lapisan target akan dilakukan
pada sumur karena adanya perbedaan
dengan teknik bradenhead, serta plug &
kedalaman dan suhu.
squeeze. Menggunakan kedua teknik ini
Selain semen, aditif juga ditambahkan memberikan dua tantangan pekerjaan
pada cement slurry. Aditif memiliki utama, yaitu (1) bahaya merusak casing
masing-masing kegunaan seperti: yang relatif tua sepanjang interval hingga
1885 m dan (2) risiko cement plug
Menaikan atau menurunkan berat
swapping ke bawah sebelum squeeze,
jenis semen.
meninggalkan air dan brine di depan
Mempercepat atau memperlambat
perforasi. Hal ini dapat mengakibatkan
waktu pengerasan.
kegagalan squeeze.
Mencegah loss circulation.
Menaikan kekuatas semen. Lapisan dalam pekerjaan ini merupakan

Menambah sifat tahan lama pada lapisan yang tight, remedial cementing

semen. dengan semen konvensional telah


dilakukan sebelumnya, namun tidak
Tolok ukur keberhasilan squeeze job
memberikan hasil yang memuaskan.
antara lain:
Karena itu pada pekerjaan ini

Tidak ada HSE issue selama menggunakan squeezeCRETE slurry

persiapan dan eksekusi job. dengan harapan mampu memasuki lapisan

Jajak semen keras setelah waktu yang tight dan memberikan hasil yang

tunggu semen kering atau waktu memuaskan.

TSK 500 psi sesuai lab report, yang II. METODE PENELITIAN
manapun yang lebih cepat.
Penelitian dilakukan di field Limau PT.
Pressure holding (500 psi, 10
Pertamian EP Asset 2 pada tanggal 2 Mei
menit) pada saat melakukan
2016 - 31 Mei 2016. Data yang didapat
pengetesan terhadap zona perforasi
merupakan data penampang sumur X di
yang ditutup semen setelah drill-
field Limau dan data laboratorium.
out semen (WOC / TSK)
III. DATA DAN HASIL Volume pada casing adalah volume
PERHITUNGAN minimal slurry yang ada atau tertinggal
didalam casing setelah dilakukan squeeze,
A. Perhitungan Volume Semen
biasanya 20 meter sampai 25 meter dan
Data penampang sumur: volume disesuaikan dengan volume
casing.
Diameter casing : 9,6 inch
2
Diameter tubing : 2 7/8 inch Vol. Cement = (ID Casing / 1029,4) x
End of tubing : 5334,9 ft 3,281 x Tinggi Slurry cement.
Top Perforation : 5315,2 ft
Untuk sumur X volume slurry dicasing
: 1620,0 m
yaitu setinggi saat dilakukan hesitation,
End perforation : 5325,1 ft
slurry akan turun hingga ke level open end.
: 1623,0 m
39,4 meter, dari hasil perhitungan volume
slurry dicasing yaitu sebanyak 10 bbls.

1. Perhitungan Volume to squeeze Total volume semen yaitu 15 bbl yaitu


semen pada volume squeeze ditambah
Volume to squeeze adalah volume slurry
volume semen pada casing ditambah
yang akan di squeeze kedalam zona
dengan dead volume yaitu 2 bbl.
perforasi berdasarkan banyaknya lubang
perforasi (spf), interval perforasi, dan 3. Perhitungan tinggi slurry di Sumur X

asumsi sumur. Perhitungan volume slurry


Tinggi slurry direncanakan sesuai volume
dari sumur dihitung dengan persamaan :
total cement slurry yang sudah dihitung

V to squeeze = interval perfo (ft) x SPF x dan data casing, tubing, dan annulus

Vol / shoot (cuft) masing-masing sumur.

Pada sumur X, interval perforasi yaitu 3 Sedangkan untuk menghitung level slurry,

meter atau 9,84 ft dengan shoot per feet dihitung dengan persamaan :

yaitu 12 spf dan volume per shoot


Level Slurry = Open End (m) h slurry
sebanyak 0,15 cuft/shoot didapat volume
(m)
untuk di-squeeze yaitu sebanyak 3,158
bbls cement slurry atau 29 sax semen. Untuk sumur X didapat ketinggian slurry
yaitu 39,4 meter dengan level slurry yaitu
2. Perhitungan Volume Slurry di casing
pada 1586,6 m kedalaman
4. Displacing Fluid sisa-sisa slurry yang masih menempel di
tubing dan casing. Jadi volume reverse
Displacing fluid adalah fluida yang
circulation yang akan dilakukan pada
digunakan untuk men-displace slurry tepat
sumur X yaitu sebanyak 54 bbls.
ke zona yang akan disqueeze melalui
tubing dalam penyemenan kali ini fluida B. Aditif
yang dipakai adalah salt water.
Pemilihan jenis semen sangat berpegaruh
Volume displacing fluid (V df) dapat pada sifat semen yang akan didapat, tetapi
dihitung dengan : ada faktor-faktor lain, selain pemilihan
jenis semen, yang turut mempengaruhi
V df = (Open End (h slurry + h spacer))
hasil semen oleh karena itu digunakan
x Capasity of tubing
aditif agar dicapai hasil penyemenan yang
Didapat volume displacing fluid sumur X diinginkan. Terutama pada squeeze
yaitu sebanyak 27,4 bbl salt water. cementing yang mana merupakan remedial
Displacing fluid bagian atas adalah pada cementing yang memerlukan berbagai
permukaan (0 m) dan bagian bawah pada macam aditif.
titik 4909,2 ft atau 1496,3 meter.
Aditif yang ditambahkan yaitu
5. Raise up tubing
Kode Konsentrasi Komponen
Raise up tubing yaitu proses pengangkatan D047 0,010 gal/sk Antifoam
tubing sampai di atas level spacer. Banyak D193 2,500 gal/sk Fluid loss
joint tubing yang akan diangkat dapat D145A 0,125 gal/sk Dispersant
dihitung dengan persamaan: D110 0,023 gal/sk Retarder

Raise Up = Open End Level Spacer

Dengan penambahan aditif tersebut, sifat


1 joint tubing panjangnya yaitu 32,81 ft.
semen yang didapat yaitu
Jadi berdasarkan level spacer sumur,
jumlah tubing yang akan di angkat pada Rheologi
sumur X yaitu sebanyak 21 joint tubing Pada temperatur 27o C

6. reverse circulation Up Down Average


Rpm
Reverse circulation adalah proses (derajat) (Derajat) (Derajat)

pensirkulasian ulang salt water dari anullus 300 67,0 67,0 67,0

masuk ke tubing, untuk membersihkan 200 45,0 46,0 45,5


100 25,0 24,0 24,5 Free Fluid
60 16,0 15,0 15,5
0,0 mL/ 250 mL pada 2 jam
30 9,0 9,0 9,0
Pada 27 derajat celcius dan inclinasi 0o
6 3,0 3,0 3,0
Tak ada sedimentasi
3 2,0 2,0 2,0
Dengan perhitungan rheologi yang didapat
Fluid Loss
yaitu viscositas 64,837 cP dan yield point
2,35 lb/100ft2 12 mL fluid loss dalam 30 menit pada suhu

o
195o F dan 1000 psi.
Pada temperatur 91 C
IV. KESIMPULAN
Up Down Average
Rpm
(Derajat) (Derajat) (Derajat) A. Squeeze cementing adalah remidial
300 58,0 58,0 58,0 cementing yang bertujuan untuk
200 37,0 38,0 37,5 menutup zona perforasi yang sudah
100 21,0 22,0 21,5 100% air.
60 12,0 13,0 12,5 B. Squeeze cementing ini

30 9,0 9,0 9,0 menggunakan squeezeCRETE

6 3,0 3,0 3,0 slurry.

3 2,0 2,0 2,0 C. Sifat aditif yang digunakan yaitu

Dengan perhitungan rheologi yang didapat antifoam, fluid loss, dispersant, dan

yaitu viscositas 54,938 cP dan yield point retarder.

2,32 lb/ 100ft2 D. Total volume semen pada squeeze


cementing ini sebesar 15 bbl.
Thickening Time E. Keberhasilan squeeze cementing

Konsistensi Waktu berdasarkan hasil log CBL/VDL.

50 Bc 4 jam 35 menit V. DAFTAR PUSTAKA


70 Bc 4 jam 42 menit
1. Rubiandini, Rudi. 2009. Teknik Operasi
100 Bc 4 jam 58 menit
Pemboran. Bandung.
Thickening time tidak termasuk waktu
pengumpulan bahan dan waktu 2. Kristanto, Dedy. 2011. Teknik
pencampuran. Reservoir: Teori dan Aplikasi. Yogyakarta.
3. Adams, Neal. 1985. Drilling
Engineering: a Complete Well Planning
Approach. New York.

4. Adam T, Bourgoyne Jr. et.al. 1986.


Applied Drilling Engineering, SPE
Textbook Series. Texas, USA.
Lampiran 1. Data Penampang Sumur X