Anda di halaman 1dari 33

LOMBA KARYA TULIS ILMIAH NASIONAL (LKTIN)

TINGKAT PERGURUAN TINGGI

PHARMACOPEIA 2014 (Padjadjaran Pharmacy Competition and


Seminar)

FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS PADJADJARAN

(POTENSI OLAHAN LIMBAH TANDAN KOSONG KELAPA SAWIT (TKKS)


SEBAGAI BAHAN BAKU OBAT KUMUR MASA MENDATANG)

Disusun Oleh :

Youngky Haryanto I21112057

Puryanto I21112006

Muhammad Hafizh I21112003

UNIVERSITAS TANJUNGPURA

PONTIANAK

2014
I

I
I

LEMBAR PENGESAHAN

Karya tulis ini diajukan untuk mengikuti

LOMBA KARYA TULIS ILMIAH NASIONAL (LKTIN)

TINGKAT PERGURUAN TINGGI


PHARMACOPEIA 2al4 (Padjadjaran Pharmacy competition and seminar)

FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS PADJADJARAN

lToinNsl oLAEAN LIMBAH TANDAN KosoNG KELAPA sAwTT


(TIffS) SEBAGAI BAHAN BAKU OBAT KUMUR MASA MBNI}ATANG)

Disusun Oleh :

Youngky F{aryanto I21fi2057


Puryanto r21fi2006
Muhammad Hafizh 12l l l2003

i:ri
Pontianalg 5 September 2Al4
Menyetujui,

Dosen Pembimbing, Ketua Pelaksana Kegiatan,

(narahhyriaty M. Si.,Apt) gky Haryanto)


(198004072009t22002) $2fi120s7)
i,

Tanjungpura
ST'RAT PERNYATAAN ORISINALITAS

Yang bertanda ungan di bawah ini

nama Youngky Haryanto

tempat/tanggal lahir Kendari, 21 Desember 1994

NIM t2tt12Q57

fakultas/universitas Kedokeran/Tanj un gpura

alamat rumah Desa Kapur Kompleks Mekar Sari 3 no 8.12 Kab Kubu Raya, Pontianak

Dengan ini menyatakan bahwa karya ilmiah dengan judul "Potensi Olahan Limbah
Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) sebagai Bahan Baku Obat Kumur Masa Mendatang "
belum pemah dipublikasikan, diikutsertakan maupun menjuarai lomba karya tulis ilmiah
tingkat nasional/intemasional sebelumnya dan tidak mengandung unsur plagiaxisme.

Demikianlah pemyataan ini dibuat dalam keadaan sadar dan tanpa ada unsur paksaan dari
siapapun untuk keperluan pengajuan Karya ilmiah PI{ARMACOPEIA 2014 (Padiadjaran
Pharmacy Competition and Seminor).

05 - September - 2014

Yang Membuat Pemyataan

Youngky Haryanto

r21t1205'l
i

Kata Pengantar

Segala puji dan syukur kami Kepada Allah Subhanahu wa Taala atas segala limpahan
rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan karya tulis yang berjudul Potensi
Olahan Limbah Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) sebagai Bahan Baku Obat Kumur Masa
Mendatang.
Karya tulis ini ditujukan untuk mengikuti Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional (LKTIN)
Tingkat Perguruan Tinggi yang diadakan oleh Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran.
Melalui karya tulis ini, penulis ingin memberikan gagasan terhadap permasalahan dari limbah
Tandan Kosong Sawit yang melimpah dan belum termanfaatkan secara optimal.
Ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kami sampaikan kepada
Inarah Fajriaty M.Si.,Apt selaku dosen pendamping yang telah memberikan bimbingan dan
arahan kepada kami dalam penyusunan karta tulis ini. Tidak lupa penulis juga mengucapkan
terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dan memberikan dukungan pada kami.
Kami menyadari terdapat banyak kekurangan baik dari segi materi, ilustrasi, contoh,
dan sistematika penulisan dalam pembuatan karya tulis ini. Oleh karena itu, saran dan kritik
dari para pembaca yang bersifat membangun sangat kami harapkan. Besar harapan kami karya
tulis ini dapat diapresiasi sehingga dapat bermanfaat baik bagi kami sebagai penulis dan bagi
pembaca pada umumnya terutama bagi dunia industri farmasi penyedia obat kumur di
Indonesia.

Pontianak, 5 September 2014

Penulis
ii

Abstrak

Indonesia memiliki industri kelapa sawit yang terbilang besar, akan tetapi limbah dari
kelapa sawit itu belum dimanfaatkan secara optimal. Tandan kosong kelapa sawit (TKKS)
merupakan limbah yang cukup banyak sekitar 50% yang dihasilkan dari sisa proses pembuatan
minyak kelapa sawit. Limbah TKKS ini dapat diolah menjadi berbagai macam produk yang
bernilai ekonomi, salah satunya adalah xylitol. Xylitol ini dapat dimanfaatkan di berbagai
bidang, salah satunya bidang Farmasi. Namun, pemanfaatannya dalam industri farmasi masih
belum dipergunakan secara maksimal. Xylitol yang dihasilkan dari TKKS dapat dibuat dengan
bantuan mikroorganisme. Keuntungannya dibandingkan dengan olahan secara komersial yaitu
harga produksinya akan lebih murah.
Penelitian yang telah dilakukan terdahulu membuktikan bahwa ternyata xylitol memilki
kemampuan untuk mengurangi karies, plak gigi dan dapat menguatkan email gigi. Belum ada
pemanfaatan xylitol yang dihasilkan dari limbah TKKS sebagai bahan baku obat kumur. Tetapi
dengan ditemukannya penelitian tentang manfaat yang dimiliki oleh xylitol tersebut, tidak
menutup kemungkinan limbah TKKS ini akan menjadi bahan baku obat kumur di masa
mendatang.
Kata kunci : limbah TKKS, mikroorganisme, Xylitol, Obat kumur

Absract

Indonesia has quite big Palm Oil industries, but the wastes of those industries werent used
optimally. Waste of Oil Palm Empty-fruit-bunch is one of the waste which around 50% of total
wastes that produced. This waste can use to make some product that has economic value, such
as xylitol. Xylitol can be use in many sector, like Pharmacy. But in the fact, utilization of xylitol
in Pharmacy wasnt optimized. This xylitol can be produced with help of some microorganisms
by fermentation way. The benefits of this kind of xylitol is low cost production.
The research that has done before has showed that xylitol can be used to reduce caries,
plaque, and strengthen emails. Xylitol that produced from Waste of Oil Palm Empty-fruit-
bunch is not used in any mouthwash product. But, with the researches that showed us the
function of xylitol, theres some possibility that xylitol Waste of Oil Palm Empty-fruit-bunch
from would be use in mouthwash industries in the future.
Keywords: Waste of Oil Palm Empty-fruit-bunch, microorganisms, Xylitol, Mouthwashes
iii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..........................................................................................................i


ABSTRAK/ABSRACK ...................................................................................................... ii
DAFTAR ISI...................................................................................................................... iii
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................................... v
BAB 1. PENDAHULUAN .................................................................................................. 1
1.1 Latar Belakang...................................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ................................................................................................ 2
1.3 Tujuan Penelitian .................................................................................................. 2
1.4 Manfaat Penelitian ................................................................................................ 2
BAB 2. LANDASAN TEORI.............................................................................................. 4
2.1 Tandan Kosong Kelapa Sawit .............................................................................. 4
2.2 Obat Kumur .......................................................................................................... 4
2.3 Xylitol ................................................................................................................... 5
2.3.1 Definisi ......................................................................................................... 5
2.3.2 Struktur dan Sifat Fisikokimiawi .................................................................. 6
2.3.3 Pemanfaatan Xylitol ..................................................................................... 7
2.4 Mikroorganisme di Mulut..................................................................................... 7
2.4.1 Streptococcus mutans ................................................................................... 8
2.4.2 Staphylococcus aureus.................................................................................. 9
2.4.3 Candida albicans ........................................................................................ 10
BAB 3. METODOLOGI PENELITIAN ........................................................................... 12
3.1 Prosedur Pengumpulan Data .............................................................................. 12
3.2 Kerangka Penelitian............................................................................................ 12
BAB 4. HASIL dan PEMBAHASAN ............................................................................... 14
4.1 Pembuatan Xylitol dari TKKS ........................................................................... 14
4.1.1 Menggunakan Mikroba Candida tropicalis................................................ 14
4.1.2 Menggunakan mikroba Debaromyces hansenii.......................................... 16
4.2 Potensi Xylitol sebagai Obat Kumur .................................................................. 17
BAB 5. PENUTUP ............................................................................................................ 19
5.1 Kesimpulan ......................................................................................................... 19
5.2 Saran ................................................................................................................... 19
iv

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................ 20


BIODATA PESERTA
v

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Tandan kosong kelapa sawit .................................................................................. 3
Gambar 2. Stuktur dan gambar Kristal xylitol ......................................................................... 5
Gambar 3. Karies Gigi ............................................................................................................. 6
Gambar 4. Desain Penelitian.................................................................................................. 12
Gambar 5. Metabolisme Xylosa dari khamir ......................................................................... 15
Gambar 6. Jalur Metabolisme xilosa oleh D.hansenii ........................................................... 16
1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tandan kosong kelapa sawit (TKKS) merupakan limbah padat yang dihasilkan
pabrik/industri pengolahan minyak kelapa sawit. Produksi minyak kelapa sawit
kasar mencapai 6 juta ton per tahun. Secara bersamaan dihasilkan pula limbah
TKKS dengan potensi sekitar 2,5 juta ton per tahun (Anonim, 1999). Di pabrik
minyak kelapa sawit, TKKS hanya dibakar dan sekarang telah dilarang karena
adanya kekhawatiran pencemaran lingkungan, atau dibuang sehingga menimbulkan
keluhan/masalah karena dapat menurunkan kemampuan tanah menyerap air. Di
samping itu, TKKS yang membusuk di tempat akan menarik kedatangan jenis
kumbang tertentu yang berpotensi merusak pohon kelapa sawit hasil peremajaan di
lahan sekitar tempat pembuangan (Anonim, 1998). Salah satu usaha dalam
mengatasi hal tersebut adalah memanfaatkan TKKS menjadi produk berguna dan
bernilai tambah, antara lain diolah menjadi Xylitol. Xylitol adalah salah satu bahan
tambahan makanan yang penambahannya bertujuan sebagai pemanis pengganti
gula. Selain sebagai pemanis, bahan tambahan makanan ini mempunyai berbagai
manfaat bagi kesehatan, misalnya kesehatan mulut.

Survei Kesehatan Nasional (Surkesnas) membuktikan bahwa dari 10 kelompok


penyakit yang dikeluhkan masyarakat, penyakit gigi dan mulut menempati urutan
pertama (60 %). Ini menggambarkan bahwa kesadaran masyarakat Indonesia dalam
menjaga kesehatan gigi dan mulut masih tergolong rendah. Salah satu penyebab
kerusakan gigi adalah makanan atau minuman yang mengandung sukrosa yang
berpotensi menyebabkan gigi berlubang.

Obat kumur kini menjadi salah satu alternatif yang banyak digunakan untuk
menjaga kesehatan mulut. Salah satu bahan yang dapat digunakan sebagai bahan
aktif obat kumur adalah Xylitol. Xylitol berperan aktif dalam memperbaiki kavitas
kecil yang disebabkan oleh karies karena menghambat akumulasi plak pada gigi.
Xylitol juga mendukung proses remineralisasi dan memperkuat email gigi karena
2

menyebabkan aliran saliva bertambah sehingga menormalkan pH rongga mulut dan


menetralisir semua asam yang telah terbentuk.

Obat kumur yang mengandung xylitol dipilih karena merupakan hal yang relatif
masih baru di Indonesia, bahkan saat penelitian ini selesai dilakukan belum terdapat
obat kumur mengandung xylitol yang telah beredar di Indonesia yang berasal dari
limbah TKKS. Bakteri Streptococcus mutans serotip E dipilih sebagai objek
penelitian karena bakteri tersebut dilaporkan banyak ditemukan pada plak gigi
manusia dan juga merupakan agen penyebab karies gigi (Samaranayake, 2002). Di
beberapa negara pasta gigi mengandung xylitol ini telah direkomendasikan
penggunaannya karena terbukti efektif menurunkan karies (Peldyak, 2006). Namun
belum terdapat penelitian lebih lanjut tentang seberapa besar pengaruhnya terhadap
pertumbuhan Streptococcus mutans serotip E.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimanakah cara memanfaatkan limbah tandan kosong kelapa sawit yang
melimpah sebagai bahan baku obat kumur?
2. Apakah xylitol yang dihasilkan dari olahan tandan kosong kelapa sawit
dapat mengurangi penyakit karies dan plak gigi yang banyak diderita oleh
masyarakat serta dapat memperkuat email gigi?
3. Berapa konsentrasi Xylitol yang perlu digunakan untuk menghambat karies
dan plak gigi?

1.3 Tujuan Penelitian


1. Mengetahui cara yang tepat untuk memanfaatkan limbah tandan kosong
kelapa sawit sebagai bahan baku obat kumur.
2. Xylitol yang dihasilkan dari olahan tandan kosong kelapa sawit dapat
diaplikasikan sebagai obat kumur untuk mengurangi penyakit karies dan
plak gigi serta dapat memperkuat email gigi.
3. Mengetahui konsentrasi penggunaan xylitol yang dapat menghambat karies
dan plak gigi.

1.4 Manfaat Penelitian


Setelah dilakukan penulisan karya tulis ini diharapkan dapat memberikan
informasi ilmiah mengenai potensi limbah tandan kelapa sawit yang masih belum
3

maksimal dimanfaatkan, dan limbah tersebut dapat digunakan sebagai bahan baku
obat kumur masa mendatang sehingga penyakit karies dan plak gigi di Indonesia
dapat berkurang.
4

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Tandan Kosong Kelapa Sawit

Tandan kosong kelapa sawit merupakan limbah utama berligniselulosa yang


belum termanfaatkan secara optimal dari industri pengolahan kelapa sawit. Basis
satu ton tandan buah segar akan dihasilkan minyak sawit kasar sebanyak 0,21 ton
(21%) , minyak inti sawit sebanyak 0,05 ton (0,5%) dan sisanya merupakan limbah
dalam bentuk tandan kosong, serat dan cangkang biji yang masing masing
sebanyak 0,23 ton (23%), 0,135 ton (13,5%) dan 0,055 ton (5,5%) (Darnoko, 1992).

Gambar 1. Tandan kosong kelapa sawit


Tandan kosong kelapa sawit yang merupakan 23 persen dari tandan buah segar,
mengandung bahan lignoselulosa sebesar 55-60 persen berat kering. Dengan
produksi puncak kelapa sawit per hektar sebesar 20-24 ton tandan buah segar per
tahun berarti akan menghasilkan 2,5-3,3 ton bahan lignoselulosa. TKKS termasuk
biomassa lignoselulosa, yang kandungan utamanya adalah selulosa 38,76%,
hemiselulosa 26,69% dan lignin 22,23%. Kandungan selulosa yang cukup tinggi
pada TKKS dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan pulp untuk kertas.
(Darnoko, 1995).

2.2 Obat Kumur

Obat kumur atau mouthwash adalah suatu produk yang digunakan untuk
meningkatkan kebersihan rongga mulut. Obat kumur antiseptik dan antiplak
mampu membunuh bakteri plak penyebab karies, gingivitis, dan bau mulut. Obat
kumur anti gigi berlubang menggunakan fluoride untuk mencegah terjadinya gigi
berlubang atau tooth decay (Gunsolley, 2006)
5

Bahan aktif beberapa merk obat kumur komersial terdiri dari timol, eukaliptol
(Stoeken et al., 2007), hexetidine, metil salisilat, mentol, chlorhexidine (Ribeiro et
al., 2007) benzalkonium chloride, cetylpyridinium chloride (Goldberg et al., 1990),
metilparaben, hydrogen peroxide, domiphen bromide, fluoride (Levy, 2003), enzim
dan kalsium. Bahan-bahan dalam obat kumur juga terdiri dari air, pemanis
(misalnya sorbitol, sukralose, sodium saccharine) dan xylitol (Giertsen et al., 1999).

Efektivitas antibakteri obat kumur tergantung pada konsentrasi bahan aktif


dalam larutan, waktu lamanya kontak antara bahan aktif dengan bakteri, suhu
larutan, pH mulut, kemampuan mikroorganisme untuk bertahan, dan adanya
bahan organik lain yang dapat menghambat kontak obat kumur dengan bakteri
(Tjay dan Rahardja, 2002).

2.3 Xylitol
2.3.1 Definisi

Xylitol adalah gula alkohol atau gula polialkohol tipe pentitol karena didalam
molekulnya, xylitol mengandung lima rantai atom karbon atau lima golongan
hidroksil. Xylitol dimetabolisme di hati dan dikonversikan menjadi D-xylulose
dan glukosa oleh polyol dehydrogenase. Xylitol mempunyai atom karbon yang
lebih pendek daripada pemanis lainnya, antara lain sorbitol, fruktosa, dan
glukosa. Atom karbon pada xylitol membuat bakteri pathogen seperti
Streptococcus mutans tidak dapat mengkonsumsinya, yang menyebabkan
bakteri-bakteri ini gagal berproliferasi. Xylitol merupakan KH dgn tingkat
kemanisan 80-100 pesen sukrosa, biasanya digunakan untuk permen, karena
dipercaya mempunyai kemampuan menurunkan pertumbuhan bakteri yang
dapat menyebabkan karies gigi (Persatuan Ahli Gizi Indonesia, 2009).

Keunggulan yang dimiliki xylitol dibandingkan gula lainnya, yaitu tingkat


kemanisan xylitol setara dengan sukrosa namun nilai kalorinya 40% lebih
rendah dari kelompok karbohidrat lainnya. Selain itu, indeks glikemik xylitol
sebesar 7 termasuk ke dalam indeks glikemik rendah (<55). Indeks glikemik
adalah indeks (tingkatan) pangan menurut efeknya dalam meningkatkan kadar
gula darah (Widowati, 2007). Dengan indeks glikemik yang rendah tersebut,
xylitol aman dikonsumsi bagi penderita diabetes karena xylitol di dalam tubuh
6

tidak cepat meningkatkan kadar gula sehingga metabolismenya tidak


melibatkan insulin.

Xylitol juga bersifat nonkariogenik karena struktur C5 yang dimiliki xylitol


menjadikan xylitol tidak dapat difermentasikan oleh bakteri Streptococcus
mutans sehingga aman untuk kesehatan gigi dan telah diaplikasikan pada
produk pasta gigi dan permen karet (Uhari et al. 1996; Sampaio et al. 2003).

2.3.2 Struktur dan Sifat Fisikokimiawi

Xylitol merupakan serbuk kristal berwarna putih tidak berbau yang


memiliki rumus kimia C5H12O5. Nama IUAPC untuk ikatan kimia Xylitol
adalah (2R,3r,4S)-Pentane-1,2,3,4,5-pentanol, nama lainnya adalah 1,2,3,4,5-
Pentehidroksipentan. Titik cair Xylitol terletak antara 92 C 96 C dan titik
didihnya 126 C. Densitas Xylitol sebesar 1,52 g/cm3 dengan massa mol
152,15 g/mol. (Sari, 2011)

Gambar 2. Stuktur dan gambar Kristal Xylitol


Satu sendok teh Xylitol mengandung 9,6 kalori, sedangkan satu sendok gula
pasir mengandung 15 kalori. Xylitol tidak mengandung karbohidrat efektif
(zero net effective carbohydrates), sedangkan gula pasir mengandung 4 gram
per sendok teh. Xylitol juga tidak mempunyai efek aftertaste (rasa tidak enak
yang bertahan setelah mengkonsumsi sesuatu) (Rachima, 2008).

Xylitol memiliki sifat fisis dan kimiawi, yaitu apabila dilarutkan, panas
pelarutan xylitol yang negatif sepuluh kali lebih besar daripada sukrosa.
Dengan demikian xylitol terasa dingin apabila mencair dalam mulut seperti
permen. xylitol tidak ikut bereaksi dalam peristiwa pencoklatan Maillard
seperti halnya yang terjadi antara gula reduksi yang lain dengan air (Sari,
2011).
7

2.3.3 Pemanfaatan Xylitol

Pemberian permen karet xylitol tiga sampai empat kali perhari minimal lima
menit setelah makan untuk menghambat akumulasi plak dan menghambat
demineralisasi dan meningkatkan remineralisasi lesi awal dan mengurangi
jumlah S. Mutans. Pemberian permen karet mengandung xylitol sesudah
makan makanan yang mengandung karbohidrat, mempunyai efek menurunkan
akumulasi plak dan meningkatkan buffer saliva. (Sari, 2011)

Penelitian terkini menunjukkan bahwa xylitol mempunyai efek dalam


mereduksi plak. Diperkirakan bahwa komponen xylitol mempunyai beberapa
kandungan kimiawi yang mirip dengan sukrosa, yamg menyebabkan
mikroorganisme pathogen yang ada (termasuk jamur) menderita kelaparan
karena jamur kehilangan sumber makanannya, yaitu gula. (Rachima, 2008)

Gambar 3. Karies gigi

Selain itu xylitol pun mampu mengurangi pelekatan bakteri Stretococcus


mutans yang berkaitan langsung dengan pembusukan gigi. Jadi, xylitol
mengurangi kemampuan bakteri melekat pada email dengan mempengaruhi
metabolisme bakteri dan kemampuannya membentuk kapsul-kapsul dalam
plak bakteri. Hal ini memberi kesempatan kepada mulut untuk melakukan
remineralisasi pada gigi berlubang tanpa gangguan (Dewi, 2008).

2.4 Mikroorganisme di Mulut

Mulut merupakan salah satu bagian tubuh yang mengandung beberapa macam
mikroorganisme normal. Namun, adakalanya mulut juga menjadi tempat tinggal
bagi mikroorganisme yang dapat menimbulkan kerusakan, terutama di bagian gigi.
8

Mikroorganisme tersebut antara lain Streptococcus mutans, Staphylococcus aureus,


dan Candida albicans.

2.4.1 Streptococcus mutans

Streptococcus mutans adalah bakteri anaerob fakultatif, gram-positif dan


berbentuk coccus yang umum ditemukan dalam rongga mulut manusia dan
merupakan kontributor yang signifikan terhadap kerusakan gigi. Streptococcus
mutans termasuk dalam Famili Streptococcaceae. S.mutans merupakan bakteri
gram positif berbentuk ovoid dengan diameter 0,5-0,75 m. S.mutans
ditemukan berpasangan dengan rantai pendek atau rantai medium dan tidak
berkapsul. Dalam lingkungan asam, bakteri ini dapat berbentuk batang pendek
dengan panjang 1,5-3,0 m. Habitat utama S.mutans rongga mulut, faring dan
usus (Octaria, 2008; Forsten dkk, 2010).

S.mutans merupakan bakteri spesifik penyebab karies gigi dan pembentuk


plak. S.mutans merupakan salah satu jenis bakteri yang termasuk dalam
kelompok Streptococcus -haemolyticus yang terdiri dari 7 subspecies yaitu
serotipe-a sampai serotipe-g. S.mutans serotipe-cn merupakan salah satu galur
yang paling tersebar pada populasi manusia dan sekitar 80% isolat plak berisi
serotipe-c (Suwondo, 2008).

S.mutans sangat asidogenik, yaitu menghasilkan asam. Selain itu, S.mutans


juga bersifat asidourik, yaitu dapat tinggal pada lingkungan asam dan
menghasilkan suatu polisakarida yang lengket yang disebut glukan. Oleh
karena kemampuan yang dimilikinya ini, maka S.mutans dapat mendukung
bakteri lain untuk melekat pada email gigi, mendukung pertumbuhan bakteri
asidourik yang lainnya, sehingga mengakibatkan email gigi menjadi larut.
Data klinis dan laboratorium yang ada menunjukkan bahwa spesies ini
merupakan patogen utama pada karies gigi manusia. S.mutans juga
diidentifikasi sebagai faktor risiko perkembangan karies (Nishimura dkk,
2012; Gross dkk, 2012)
9

2.4.2 Staphylococcus aureus

S.aureus adalah bakteri yang berasal dari kata staphele dalam bahasa
Yunani yang berarti anggur dan kata aureus dalam bahasa latin berarti emas.
Nama tersebut diberikan berdasarkan atas bentuk sel-sel bakteri tersebut jika
dilihat di bawah mikroskop dan warna keemasan yang terbentuk jika bakteri
tersebut ditumbuhkan dalam suatu media pertumbuhan. S.aureus termasuk
family Micrococcaceae, kecuali pada beberapa strain. Beberapa di antaranya
tergolong flora normal dalam kulit, orofaring, dan selaput mukosa manusia dan
sering menyebabkan abses dan berbagai infeksi lainnya (Rieuwpassa, 2011;
Ganiswara, 1995).

S.aureus termasuk ke dalam Famili Staphylococcus. S. aureus adalah


bakteri gram positif yang menghasilkan enzim koagulase. Bakteri ini
menempati hidung, tenggorokan, ketiak, sela jari kaki dan perineum pada orang
yang sehat tanpa menyebabkan infeksi klinis. S.aureus adalah penyebab
tersering infeksi piogenik (pembentukan nanah) dan menyebabkan beragam
infeksi yang meliputi bisul, abses, jari septik, stye impetigo dan mata lengket
pada neonates (Subhankari dkk, 2012).

Staphylococcus aureus berbentuk bulat dengan diameter kira-kira 1 m,


yang tersusun dalam kelompok secara tidak beraturan. Biakan pada medium
cair bisa juga terlihat sebagai kokus tunggal, berpasangan, berempat, atau
membentuk rantai pendek. Pada pembiakan mikroorganisme yang sudah
berkembang, sel-sel dari S.aureus serempak merupakan gram positif dan
bentuknya teratur dan memiliki diameter 0,5 1,5 m. Pada pembiakan
terdahulu, pada lesi-lesi yang terurai, dan pada beberapa antibiotik, sel-sel
tersebut terkadang menjadi lebih bervariasi dalam ukurannya dan beberapa
sel tersebut kehilangan gram positifnya (Hidayati, 2010).

Staphylococcus tidak bergerak dan tidak berspora. Akibat pengaruh


beberapa zat kimia, misalnya penicilin, Staphyloccocus bisa kehilangan
dinding selnya yang keras, dan berubah menjadi bakteri bentuk L
(protoplast). Protoplast ini bisa berubah kembali menjadi Staphyloccocus
yang berdinding keras bila pengaruh bahan kimia yang bersangkutan
10

dihilangkan dari lingkungan untuk beberapa waktu. Staphyloccocus tidak


dipengaruhi oleh garam empedu dan opotochin (Hidayati, 2010).

S. aureus bisa tumbuh dengan cepat pada sebagian besar medium dalam
situasi aerobik atau mikroaerofilik. Mikroorganisme ini tumbuh lebih cepat
pada 37C. Bermacam-macam hemolisis bias disebabkan oleh S. aureus
dan spesies lainnya. S. aureus menghasilkan katalase, sehingga bisa
dibedakan dari S. aureus yang tidak menghasilkan katalase. S. aureus
meragikan berbagai karbohidrat secara perlahan dan menghasilkan asam
laktat tanpa gas (Hidayati, 2010).

2.4.3 Candida albicans

Berdasarkan sistem taksonomi, C. albicans termasuk dalam kingdom


Myceteae (fungi) dan divisi Eumycophyta (jamur sejati) yang memiliki dinding
sel. Karena belum memiliki alat perkembangbiakan seksual yang jelas, maka
C. albicans dimasukkan dalam subdivisi Deuteromycotina (imperfect fungi)
dengan kelas Deuteromycetes. C. albicans termasuk dalam subkelas
Blastomycetidae (imperfect yeast) dan famili Candidoidea. C. albicans
termasuk genus Candida dengan nama spesies Candida albicans (Suprihatin,
1982; McCracken, Awson, 1983; Schuster, 1983).

Candida albicans dapat ditemukan baik dalam bentuk ragi maupun dalam
bentuk hifa semu, tergantung kondisi lingkungannya. Bila dibiak pada suhu
37C, C. albicans akan membentuk sel ragi, sedangkan bila dibiak pada suhu
30C, C. albicans akan membentuk hifa semu (Hoerl & Bryan, 1986). Dalam
media biakan, C. albicans dapat tumbuh baik pada media alami seperti infusum
buah atau sayuran maupun pada media kultur yang mengandung pepton dengan
kadar gula yang tinggi (Pelczar, 1985).

C. albicans sering ditemukan pada daerah lidah terutama area dorsum lidah
bagian posterior di regio papila sirkumvalata, memiliki ciri khas tumbuh
sebagai sel ragi bertunas berbentuk bulat/lonjong berukuran 35 m x 510
m yang dikenal sebagai blastopora (Samaranayake, 2002).
11

Umumnya, C. albicans hidup secara komensal antara lain dalam rongga


mulut, saluran pencernaan, dan alat genital. Infeksi terjadi bila terdapat
ketidakseimbangan antara mikroorganisme penyebab (C. albicans) dan
daya tahan tubuh hospes, baik karena virulensi dan jumlah jamur yang
meningkat ataupun karena daya tahan tubuh hospes yang menurun
(Schuster, 1983). Jumlah normal C. albicans dalam rongga mulut kurang
dari 200 sel/ml saliva (Lynch dkk, 1984).
12

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

4.1 Prosedur Pengumpulan Data

Proses pengumpulan data dalam penelitian ini diperoleh dengan melakukan studi
literatur seperti mempelajari hasil-hasil penelitian atau jurnal-jurnal yang berkaitan
dengan penelitian ini dan mencari informasi dari media elektronik.

4.2 Kerangka Berpikir

Indonesia merupakan negara penghasil minyak kelapa sawit terbesar akan tetapi
limbah hasil olahan tandan kelapa sawit tersebut belum banyak dimanfaatkan.
Menurut Kittikun (2000), Indonesia merupakan salah satu negara penghasil utama
kelapa sawit dunia. Disamping volume produk berupa minyak yang sangat besar
maka terdapat potensi limbah yang juga sangat besar. Seperti diketahui, dalam
proses pengolahan tandan buah segar menjadi minyak sawit sekitar 45% bahan akan
menjadi limbah padat berupa seresah, serbuk, serabut, tempurung, dan tandan
kosong. Sekitar 50% dari limbah padat tersebut adalah tandan kosong. Tentunya
jika limbah ini digunakan dengan sebaik-baiknya tentunya akan lebih
menguntungkan negara Indonesia baik dari segi materil maupun dari
kemanfaatannya bagi masyarakat.

Tandan kosong kelapa sawit (TKKS) apabila diolah lebih lanjut maka akan
menghasilkan xylitol karena mengandung komponen selulosa dan hemiselulosa.
Berdasarkan informasi dari ITB News (2014) sebagian besar komponen
hemiselulosa dari limbah kelapa sawit akan terurai menjadi xilosa yang dapat
dikonversi menjadi xylitol dengan beberapa jenis ragi tertentu. Dari hasil penelitian
Tom Granstorm (2002) bahwa mikroorganisme terbaik untuk memproduksi xylitol
adalah khamir Candida tropicalis. xylitol yang dihasilkan dari TKKS saat ini belum
digunakan sebagai bahan baku obat kumur, padahal menurut penelitian yang
dilakukan oleh Purdiktasari (2013) Larutan xylitol 6,25%, 12,5% dan 25% sebagai
bahan obat kumur mampu menurunkan jumlah pertumbuhan bakteri S. mutans pada
perawatan ortodonsi dengan sistem perlekatan langsung. Sintawati (2009)
13

mengemukakan data yang didapat dari SKRT tahun 2004 yang dilakukan oleh
Depkes menyebutkan bahwa prevalensi karies gigi di Indonesia adalah berkisar
antara 85%-99%. Dengan demikian kami menyimpulkan bahwa xylitol yang
dihasilkan dari limbah kosong kelapa sawit memiliki potensi untuk dijadikan
sebagai bahan baku pembuatan obat kumur .

Kondisi Saat Ini Tindakan Tujuan/Hasil

Limbah Tandan Limbah TKKS Indonesia akan


Kosong Kelapa mulai diteliti kaya akan bahan
Sawit (TKKS) sebagai bahan baku obat
melimpah. baku penghasil khususnya obat
Limbah TKKS xylitol. kumur.
belum digunakan Mencari cara Memanfaatkan
secara maksimal. pengolahan yang xylitol sebagai
Menyebarnya tepat untuk bahan baku obat
penyakit gigi dan memaksimalkan kumur.
mulut di produksi xylitol Berkurangnya
masyarakat. dari TKKS. penyakit karies
Indonesia Meneliti sifat dan plak gigi di
kekurangan xylitol sebagai masyarakat.
bahan baku obat antibakteri
kumur yang terhadap bakteri,
berasal dari terutama
negaranya Streptocuccus
sendiri. mutans.
Indonesia
merupakan
negara
pengimpor
xylitol.

Gambar 4. Desain Penelitian


14

BAB IV

PEMBAHASAN

4.1 Pembuatan Xylitol dari TKKS

Produksi xylitol secara komersial memiliki tingkat kesulitan tinggi dengan hasil
yang rendah. Prinsip pembuatannya adalah hidrolisis xilan ( polisakarida ) yang
biasa diambil kayu Birk dengan asam. Hasilnya adalah gula xilosa yang selanjutnya
dihidrogenasi menjadi xylitol. Dengan cara ini, harga xylitol cukup mahal. Pada
tahun 2001 kebutuhan xylitol dunia adalah 40000 ton dengan nilai sekitar 250
miliar rupiah, sekitar Rp. 7000,- per Kg. Ini adalah biaya produksi, tentunya harga
dipasaran akan lebih tinggi. Saat ini mungkin harganya sudah naik lebih tinggi lagi.
Untuk menekan biaya produksi, dikembangkan cara baru memproduksi xylitol,
yaitu dengan memanfaatkan mikroba. Prinsipnya adalah dengan memfermentasi
gula xilosa dengan khamir. Persoalan yang muncul dengan adanya metode baru
tersebut adalah penyedian substrat khamir berupa xilosa murni yang mahal. Dengan
diketahuinya kandungan xilan pada beberapa limbah pertanian dan perkebunan,
maka biaya produksi akan lebih murah. Khusus untuk TKKS, limbah ini sangat
banyak jumlahnya, bahkan jika dibuat perhitungannya, produksi xylitol dari limbah
ini dapat menutupi kebutuhan xylitol dunia (Iqbal, 2012). Ada beberapa cara untuk
membuat xylitol dari TKKS, diantaranya yaitu:
4.1.1. Menggunakan Mikroba Candida tropicalis
Salah satu mikrob yang berperan dalam biokonversi xilosa menjadi Xylitol
adalah khamir, terutama dari genus Candida. Candida merupakan kelompok
makhluk hidup eukariot bersel tunggal (uniseluler) yang umumnya melakukan
reproduksi vegetatif dengan tunas (Pelczar et al, 2005). Menurut Gong et al.
(1981), dari 10 jenis khamir ditemukan bahwa Candida tropicalis adalah
penghasil xylitol terbaik yang berasal dari xilosa. Begitu juga dengan penelitian
yang dilakukan oleh Barbosa et al. (1988) (diacu dalam Santos et al. 2008),
dari 44 golongan khamir yang berperan dalam biokonversi xilosa menjadi
xylitol, diantaranya Candida guilliermondii dan Candida tropicalis sebagai
penghasil xylitol terbaik. Xylitol reduktase mengkatalisis reduksi xilosa
15

menjadi xylitol dan xylitol dehidrogenase mengoksidasi xylitol menjadi D-


xilulosa. Kemudian D-xilulosa dikonversi menjadi D-xilulosa 5-fosfat oleh
xilulosa kinase dan memasuki jalur pentosa fosfat. XDH menggunakan NAD
sebagai koenzim sedangkan XR koenzimnya adalah NAD(P)H (Ko et al.
2006). Jalur pentosa fosfat terdiri atas tahap oksidatif dan nonoksidatif. Tahap
oksidatif mengubah heksosa fosfat menjadi pentosa fosfat yang memerlukan
NADPH dalam biosintesisnya. Tahap nonoksidatif mengubah pentosa fosfat
menjadi heksosa fosfat (fruktosa-6-fosfat) dan trigliserida (Granstrom 2002).
Kedua senyawa ini akan masuk ke dalam Lintasan Embden Meyerhoff Parnas
(glikolisis). Siklus ini akan menghasilkan produk berupa piruvat, yang
selanjutnya dikonversi menjadi etanol atau masuk ke dalam siklus asam
karboksilat. Penelitian Choi et al. (2000), produksi xylitol melalui proses
fermentasi daur ulang sel (cell recycle) dengan Candida tropicalis dapat
meningkatkan produktivitas xylitol. Hasil yang diperoleh yaitu rendeman
sebesar 0.82 g/g dan produktivitas xylitol 4.94 g/L jam.
Horitsu dkk. (1992) mencapai produksi xylitol yang maksimal dengan
menggunakan konsentrasi awal xilosa sebesar 172 g/L dan konsentrasi ekstrak
khamir 21 g/L. Oh dan Kim (1998) melakukan percobaan dengan
menambahkan xilosa dan glukosa pada rasio yang berbeda dan melihat
pengaruhnya pada produksi xylitol oleh C. tropicalis. Hasil yang diperoleh dari
300 g/L xilosa dengan rasio glukosa/xilosa 15% adalah 91% sedangkan
produksi volumetrik diperoleh sebesar 3.98 g/L dengan rasio glukosa/xilosa
20%. Penelitian yang dilakukan oleh Yahashi dkk. (1996) menggunakan
fed batch pada produksi xylitol oleh Candida tropicalis memperoleh
rendemen sebesar 0.82 g/g dan produktivitas volumetrik sebesar 3.26 g/L
jam dengan penambahan glukosa sebagai kosubstrat.
Berdasarkan Penelitian yang dilakukan oleh Windarti (2010) Kondisi
optimum untuk produksi xylitol dicapai dengan bobot basah sel sebesar
2.5 gram, waktu inkubasi 96 jam, dan rasio antara xilosa dan arabinosa
sebesar 6:3%. Pada kondisi optimum tersebut diperoleh produksi xylitol
sebesar 5.90 g/L. Penambahan glukosa kedalam media xilosa diketahui dapat
menurunkan produksi Xylitol sebesar 20% dibandingkan media kontrol.
16

Gambar 5. Metabolisme Xylosa oleh khamir

4.1.2. Menggunakan mikroba Debaromyces hansenii

Produksi Xylitol oleh D. hansenii telah diminati selama beberapa dekade


terakhir karena ragi ini mampu menghasilkan xylitol dibandingkan etanol
dengan rasio lebih dari empat (>4) (Breuer and Harms, 2006). Menurut
Vongsuvanlert dan Tani (1998), xylitol dapat diproduksi melalui dua jalur
metabolism oleh sel khamir. Xilosa akan diproduksi menjadi xylitol oleh
NADH atau NADPH dependent xylose reductase, atau melalui isomerasi D-
xilosa menjadi D xilulosa oleh Dxilosa isomerase baru kemudian D-xilulosa
akan direduksi menjadi xylitol oleh NADH dependent xylitol dehydrogenase.
D. hansenii mensintesis produk bergantung pada substrat yang digunakan.
D. hansenii dapat memproduksi arabinitol dan xylitol sebaik memproduksi
etanol dari gula pentosa. Pada fermentasi menggunakan kemostat dalam
keadaan oksigen berlebih, D. hansenii tidak memproduksi xylitol maupun
etanol (Breuer and Harms, 2006). Dalam keadaan Oksigen terbatas, maka
yield biomassa akan berkurang, sedangkan yield xylitol akan bertambah
seiring juga dengan terbentuknya gliserol (Breuer and Harms, 2006).
17

Gambar 6. Jalur Metabolisme xilosa oleh D.hansenii


Sumber: Girio FM, Pelica F, Amaral-Collaco MT. 1996. Characterization of
Xylitol dehydrogenase from Debaryomyces hansenii

4.2. Potensi Xylitol dari limbah TKKS sebagai obat kumur


Penelitian yang dilakukan oleh Mangundjaja (2001) telah menyebutkan bahwa
pasta gigi yang mengandung xylitol mampu menekan pertumbuhan bakteri
penyebab karies yaitu Streptococcus mutans di dalam mulut serta menurut
penelitian Purdiktasari (2013) menyebutkan bahwa larutan xylitol sebagai obat
kumur dengan kosnentrasi 25% paling efektif dalam menurunkan jumlah S.
mutans pada perawatan ortodonsi dengan sistem perlekatan langsung (Penelitian
Eksperimental Laboratoris). Hasil yang menunjukkan bahwa xylitol dapat sebagai
antibakteri terhadap pertumbuhan Streptococcus mutans serotif E juga didapat dari
penelitian oleh Resti dkk (2008). Xylitol juga terbukti dapat menghambat
pertumbuhan S. Aureus (Aslim, 2014). Manfaat lainnya tentang xylitol juga
diperkuat dengan beberapa penelitian telah dilakukan. Penelitian terkini
menunjukkan bahwa xylitol memiliki efek dalam mereduksi plak karena
menyebabkan mikroorganisme patogen yang ada (termasuk jamur) menderita
18

kelaparan karena jamur kehilangan sumber makanannya yaitu gula. Hal ini
memberi kesempatan pada mulut untuk melakukan remineralisasi pada gigi
berlubang tanpa gangguan.
Peningkatan konsentrasi xylitol berpengaruh dalam menurunkan jumlah koloni
C. albicans secara in vitro dan konsentrasi xylitol 10 % serta durasi 3 hari adalah
konsentrasi dan durasi paling berpengaruh dalam menurunkan jumlah koloni C.
albicans (Sastra ,2009). Penambahan xylitol pada larutan remineralisasi dapat
mempengaruhi remineralisasi email yang telah mengalami demineralisasi ditinjau
dari kekerasan gigi, email yang telah terdemineralisasi menjadi lebih keras setalah
diberi aplikasi larutan remineralisasi yang ditambah xylitol sehingga xylitol dapat
dipergunakan sebagai alat bantu penguat gigi dalam kehidupan sehari-hari (Afnida,
2008).
19

BAB V

PENUTUP

5.1. Kesimpulan
1. Cara yang tepat untuk memproduksi Xylitol dari TKKS yaitu dengan
bantuan mikroba seperti Candida tropicalis dan Debaromyces hansenii.
2. Xylitol terbukti dapat mengurangi karies , plak gigi, memperkuat email gigi
dan mengurangi koloni Candida albicans
3. Konsentrasi Xylitol 10 % dalam durasi 3 hari sudah dapat menurunkan
koloni C. albicans secara in vitro serta konsentrasi Xylitol 25% efektif
dalam menurunkan jumlah S. mutans.
5.2. Saran
1. Pemanfaatan limbah TKKS di Indonesia sebagai bahan baku obat kumur
belum ada, sehingga sangat baik jika industri farmasi memanfaatkan
potensinya.
2. Obat kumur dari bahan baku Xylitol perlu dilakukan penelitian lebih lanjut
lagi mengenai efektivitasnya terhadap mikroorganisme yang lain.
20

DAFTAR PUSTAKA

Afnida, Fitri. 2008. Pengaruh Xylitol terhadap proses remineralisasi email gigi: uji
kekerasan email gigi [Skripsi]. Universitas Indonesia.

Anonim. 1998. Summing-up on the 1998s International Oil-Palm Conference on


September 23 25, 1998. Nusa Dua, Bali, Indonesia.

Anonim. 1999. Project proposal: Pulp and paper from empty oil-palm bunches. PT
Triskisatrya Daya Pratanma. Jakarta, Indonesia.

Aslim, Fuad . 2014. Daya Hambat Xylitol terhadap pertumbuhan Mikroorganisme


Rongga Mulut (Streptococcus mutans, Staphylococcus aureus, dan Candida
albicans studi in vitro. Universitas Hasanudin

Breuer, Uta dan Hauke Harms. 2006.Debaryomyces hansenii an extremophilic


yeast with biotechnological potential. Yeast 2006; 23: 415437.
http://www.researchgate.net/publication/7129904_Debaryomyces_hansenii-
an_extremophilic_yeast_with_biotechnological_potential/file/d912f501780
47cc501.pdf

Choi JH, Moon K, Ryu YW, Seo JH. 2000. Production of Xylitol in cell
recycle fermentations of Candida tropicalis. Biotechnol. Lett. 22: 1625-
1628.

Darnoko. 1992. Potensi Pemanfaatan Limbah Lignoselulosa Kelapa Sawit Melalui


Biokonversi. Medan: Berita Penelitian Perkebunan.

Darnoko. 1995. Pembuatan Pulp dari Tandan kosong kelapa sawit dengan
Penambahan Surfakan. Indonesian Journal of Oil Palm Research. 3(1): 82.

Dewi, Putti Fatiharani.2008. Pengaruh Konsumsi Permen Karet yang mengandung


Xylitol terhadap Pembentukan Plak Gigi (Skripsi). Universitas Diponegoro.

F.X. Sintawati. Indirawati yhahja N. 2009. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi


Kebersihan Gigi dan mulut Masyarakat DKI Jakarta Tahun 2007. Jurnal
Ekologi Kesehatan. Volume 8. No-1. Maret 2009. Hlm 860-873.
21

Forsten SD, Bjorklund M, Ouwehand AC.2010. S.mutans, caries and simulation


models. Nutrients.
Ganiswara, et al. 1995. Farmakologi dan Terapi. Jakarta: Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia.

Granstrom T. 2002. Biotechnological production of Xylitol with Candida yeasts.


[tesis]. Finlandia: Universitas Teknologi Helsinki.

Gong CS, Chen LF, Tsao GT. 1981. Quantitative production of Xylitol from
Dxylose by a high Xylitol producing yeast mutant Candida tropicalis
HXP2. Biotechnology Letters 3: 130-135.

Gross EL, Beall CJ, Kutsch SR, Firestone ND, Leys EJ, Griff AL. 2012. Beyond
S.mutans: dental caries onset linked to multiple species by 16S rRNA
community analysis. Plos One.

Hidayati N.2010. Isolasi dan identifikasi Jamur Endofit pada umbi bawang putih
(Allium sativum) sebagai Penghasil Senyawa Antibakteri S.mutans dan E.
Coli. Fakultas Sains dan Teknologi UN, Malang

Hoerl BG, Bryan GH. 1986. Basic medical microbiology. 3rd ed. Boston: Little,
Brown and Co.
Horitsu et al. 1992. Production of Xylitol from D-xylose by Candida tropicalis:
optimization of production rate. Biotech. Bioeng. 40: 1085-1091.

Iqbal, Affan. 2012. Produksi Xilito dari limbah. [Online].


http://ekonomi.kompasiana.com/agrobisnis/2012/02/20/produksi-Xylitol-
dari limbah%E2%80%A6-440903.html.
[Diakses 03 September 2014]
ITB News. 2014. Dosen Teknik Kimia ITB Hasilkan Bioetanol dan Xylitol dari
Limbah Kelapa Sawit.[Online]
www.itb.ac.id/news/4382.xhtml
[Diakses 24 Agustus 2014]

J.C Gunsolley, 2006. A Meta-analysis of Six- month Studies of Antiplaque and


Antigingivitis Agents. J Am Dent Assoc. No 137(12):1649-1657.
22

Kim JH, Ryu YW, Seo JH. 1999. Analysis and optimization of a two substrate
fermentation for Xylitol production using Candida tropicalis. J. Ind
Microbiol & Biotech 22: 181-186.

Kittikun, A.H. Prasertsan, P. Srisuwan, G. Krause. 2000. Environmental


Management forPalm Oil mil. Conference on Material Flow Analysis of
Integrated Bio-System.

Ko BS, Kim J, Kim JH. 2006. Production of Xylitol from D-xylose by a Xylitol
dehydrogenase gene-disrupted mutant of Candida tropicalis. Appl Environ
Microbiol 72:6.

Lynch MA, Brightman VJ, Greenberg MS.1984. Burkets oral medicine,diagnosis


and treatment. 8th ed. Philadelphia: JB Lippincott Co. p. 22136.

Mangundjaja S, Sutadi H, Andika DK. 2001. Effectiveness of Dentifrice


Containing Xylitol on Salivary mutans streptococci. FDI Annual World
Dental Congress Malaysia.

Mc.Cracken AW, Cawson RA. Clinical and oral microbiology. 2nd ed.
Washington: Hemisphere Pub Corp; 1983. p. 227.

Nishimura J, Saito T, Yoneyama H, Bai LL, Okumera K, Isogai E. Biofilm


formation by S.mutans and related bacteria. Advanced in Microbiology; 2012

Oh DK, Kim SY. 1998. Increase of Xylitol by feeding xylosa and glucose in
Candida tropicalis. J. Appl Microbiol Biotechnol 50:419-425.

Octiara E, Budiardjo S. 2008. S.mutans: faktor virulensi dan target spesifik vaksin.
Dentika Dental Journal.

Pelczar MJJr, Chen ECS. 2005. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Volume ke-1.


Hadioetomo RS, Imas T, Tjirosomo SS, Angka SL, penerjemah. Jakarta:
UI Press. Terjemahan dari: Elements of Microbiology.

Pelczar MJ, Reid RD. Microbiology.1985. 2nd ed. New York: Mc. Graw Hill.
23

Peldyak J, Bybee LW, Johnson E, Misner LR. 2006. Practical Application of


Xylitol in Dentistry. Finnish Dent J ; 1: 54-61.

Persatuan Ahli Gizi Indonesia . 2009. Kamus Gizi Pelengkap Kesehatan Keluarga.
Jakarta : Penerbit Buku Kompas.

Purdiktasari, Ratih Sisca. 2013 Efektivitas Larutan Xylitol 6,25%, 12,5% dan
25% sebagai Bahan Obat Kumur Terhadap Jumlah Pertumbuhan Bakteri
Streptococcus mutans pada Perawatan Ortodonsi dengan Sistem Perlekatan
Langsung (penelitian Eksperimental Laboratoris). [Skripsi]. Jawa Tengah:
Universitas Jember.

Rachima, Soraya. 2008. Pengaruh Permen Karet dengan Pemanis Xylitol terhadap
pH Plak [Skripsi]. Universitas Diponegoro.

Resti,dkk. 2008 Pengaruh Pasta Gigi Mengandung Xylitol Terhadap Pertumbuhan


Streptococcus mutans Serotipe E (in vitro). Indonesian Journal of Dentistry
15 (1 ):15-22 Universitas Indonesia.

Rieuwpassa IE, Rahmat, Karlina. 2011. Daya Hambat Ekstrak Aloe Vera terhadap
pertumbuhan S.aureus (studi in vitro). Jurnal Dentofasial; 10(2): 65-5.

Samaranayake LP. Essential Microbiology for Dentistry. 2nd ed. Hongkong:


Churchill Livingstone, 2002: 38-52, 95-8.

Sampaio FC, WB Silveira, VMC Alves, FML Pasos, JLC Coelho. 2003. Screening
of filamentous fungi for production of Xylitol from D-xylose. Braz J.
Microbiol 34: 325-328.

Santos et al. 2008. Use of sugarcane bagasse as biomaterial for cell


immobilization for Xylitol production. J. Food Engineering 86:542-548.

Sari, Ni Nyoman Gemini. 2011. Permen Karet Xylitol yang Dikunyah Selama 5
Menit Meningkatkan danMempertahankan pH Saliva Perokok Selama 3 Jam
(Thesis). Universitas Udayana.
24

Sastra, Shandy. 2008. Efek Xylitol dalam berbagai konsentrasi dan durasi terhadap
jumlah koloni candida albicans (uji In vitro) [Skripsi]. Universitas Indonesia.

Schuster GS. Oral microbiology and infectious disease. 2nd student ed. Baltimore:
Williams and Wilkins; 1983. p. 3614.

Subhankari PC, Santanu KM, Somenath R. 2011. Biochemical characters and


antibiotic susceptibility of S.aureusisolates. Asian Pacific Journal of Tropical
Biomedicine.

Suprihatin SD. Candida dan candidiasis pada manusia. Jakarta: FKUI; 1982.

Tjay, T.H., Rahardja, K. 2002. Obat-obat Penting : Khasiat, Penggunaan, dan Efek-
Efek Sampingnya. Edisi VI. Jakarta: Penerbit PT. Elex Media Komputindo.

Uhari M, T Kontiokari, M Koskela, M Niemela. 1996. Xylitol chewing gum in


prevention of acute otitis media: double blind randomized trial. Br Med
Journal 313: 1180-1184.

Widowati, S. 2007. Sehat dengan Pangan Indeks Glikemik Rendah. Warta


Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Bogor. Vol 29. No. 3.

Windarti, Wiwin. 2010. Optimasi Konsentrasi Arabinosa sebagai KO- Substrat


untuk Produksi Xylitol oleh Sel Amobil Candida. Institut Pertanian Bogor.

Yahashi et al. 1996. Production of Xylitol from D-xylosa by Candida tropicalis: the
effect of D-glucose feeding. J. Fermentation Engineering 81: 148-152.
Anggota
1. Nama Lengkap : Youngky Haryanto
NRP : I21112057
Tempat, Tanggal Lahir : Kendari, 21 Desember 1994
Departemen/Fakultas : Farmasi / Kedokteran
Universitas : Universitas Tanjungpura
Alamat : Desa Kapur Komp. Mekar Sari III, Pontianak
Telepon : 089693952479

2. Nama Lengkap : Puryanto


NRP : I211120006
Tempat, Tanggal Lahir : Air Putih, 22 Februari 1994
Departemen/Fakultas : Farmasi / Kedokteran
Universitas : Universitas Tanjungpura
Alamat : Jl. Ahmad Yani II, Pontianak
Telepon : 085252583607

3. Nama Lengkap : Muhammad Hafizh


NRP : I21112003
Tempat, Tanggal Lahir : Pontianak, 28 Oktober 1994
Departemen/Fakultas : Farmasi / Kedokteran
Universitas : Universitas Tanjungpura
Alamat : Jl. Kom Yos Sudarso, Pontianak
Telepon : 085246614830