Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN KASUS

ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN

Tn. S usia 36 Tahun Datang Dengan Gatal dan Penebalan Pada Hampir
Seluruh Bagian Tubuh

Pembimbing : dr. Irma Yasmin, Sp.KK

Disusun Oleh :

Mohammad Hasvian Ahda (H2A012003P)

KEPANITERAAN KLINIK FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG

2017

i
BAB I

PENDAHULUAN

Psoriasis adalah penyakit kulit kronik residif dengan lesi yang khas berupa
bercak-bercak eritema berbatas tegas, ditutupi oleh skuama yang tebal berlapis-lapis
berwarna putih mengkilap serta transparan, disertai fenomen tetesan lilin, Auspitz dan
Kobner, Psoriasis ini juga disebut dengan psoriasis vulgaris.1,2
Tempat prediksi pada Scalp, perbatasan daerah tersebut dengan muka,
ekstremitas bagian ekstensor terutama siku serta lutut dan daerah lumbosakral.1,2
Etiopatogenesis psoriasis hingga saat ini belum diketahui Penyebab psoriasis
hingga saat ini tidak diketahui, terdapat predisposisi genetik tetapi secara pasti cara
diturunkan tidak diketahui.1,4,5 Psoriasis ini bisa juga disebabkan oleh faktor
imunologik yang mengakibatkan terjadinya proliferasi epidermis diawalin dengan
adanya pergerakan antigen, baik eksogen maupun endogen oleh sel langerhans.1,2,3
Bisa juga disebabkan oleh stres psikik, infeksi fokal, trauma, endokrin, gangguan
metabolik, obat, juga alkohol dan merokok.
Variasi klinis pada psoriasi ini adalah lesi sangat khas, sering disebut dengan
plak karena terdapat peninggian pada kulit yang berwarna merah dan berbatas tegas.
Diatas plak tersebut terdapat skuama yang berlapis-lapis, kasar dan berwarna putih
seperti mika, serta transparan. Besar kelainan bervariasi : lentikular, numular atau
plakat, dapat berkonfluensi.1,2,3
Diagnosis psoriasis vulgaris didasarkan gambaran klinis, dan pemeriksaan
yang khas pada psoriasis diantaranya fenomena tetesan lilin, Auspitz dan Kobner
(isomorfik), psoriasis juga dapat menyebabkan kelainan pada kuku yang disebut
pitting nail atau nail pit berupa lekukan lekukan miliar.1,2,3,4
Penatalaksaan secara umum perlu diberikan pengobatan sistemik seperti
Kortikosteroid, obat sitostatik, levodopa, DDS, Etretinat dan Siklosporin. Pengobatan

1
topikal biasa diberikan preparat tar, kortikosteroid topikal, ditranol, pengobatan
dengan penyinaran, calcipotriol, tazaroten, dan emolien.1,2,3,4

2
BAB II
LAPORAN KASUS

A. IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn. S
Umur : 36 Tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Pekerjaan : Wiraswasta
Pendidikan :-
Suku/bangsa : Jawa / Indonesia
Alamat : Jatisari, Mijen, Semarang

B. ANAMNESIS
Autoanamnesis dilakukan pada tanggal 19 Juni 2017 pukul 10.30 WIB.
Keluhan Utama : Gatal dan bersisik di seluruh tubuh
1. Riwayat Pasien Sekarang
Seorang pasien datang ke poli Kulit dan Kelamin RS Tugurejo dengan
keluhan gatal dan menebal bersisik di seluruh tubuh. Sejak 10 tahun yang lalu
pasien mengeluhkan timbulnya ketombe pada kulit kepala yang disertai rasa gatal.
Awalnya pasien mengeluhkan timbulnya ketombe pada kulit kepala, semakin lama
semakin bertambah banyak. Pasien sudah mencoba berbagai shampo, namun
keluhan tidak kunjung membaik. Kemudian 9 tahun yang lalu pasien
mengeluhkan timbul bercak kemerahan sebesar uang koin yang terdapat pada
kedua lengan nya lama kelamaan bercak tersebut semakin gatal, lama kelamaan
bercak bercak tersebut membesar sehingga membentuk bercak bercak
kemerahan yang meninggi dan bersisik tebal dan berlapis berwarna putih dan tidak
berminyak. Jika bercak bercak kemerahan terasa gatal pasien mengaruk nya dan
mengakibatkan jadi mengelupas. Bila keringatan dan pada malam hari terasa lebih

3
gatal sehingga menggaruknya sampai berdarah, kemudian pasien berobat ke poli
kulit Rumah Sakit Umum Daerah Tugurejo dan diberikan obat dan salep.
Berdasarkan pengakuan pasien, bercak bercak kemerahan tersebut semakin
hari semakin meluas dan menyatu sehingga penebalan dirasakan hampir menutupi
sebagian besar punggungnya dan pasien masih merasakan gatal gatal terutama
saat setelah mandi dan saat berkeringat.

2. Riwayat Penyakit Dahulu


Sakit seperti ini : diakui, sejak 10 tahun yang lalu
Riwayat Diabetes : disangkal
Riwayat Alergi : seafood
Riwayat Asma : disangkal

3. Riwayat Penyakit Keluarga


Sakit seperti ini : disangkal
Riwayat Alergi : disangkal
Riwayat Asma : disangkal

4. Riwayat Pribadi dan Sosial Ekonomi


Pasien bekerja sebagai teknisi servis elektronik. Pasien tinggal
bersama istri dan anaknya. Pembayaran menggunakan BPJS.

C. PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan fisik dilakukan pada tanggal 19 Juni 2017 pukul 10.30 WIB di
Poli Kulit RSUD Tugurejo Semarang.
1. Keadaan umum : Baik
2. Kesadaran : Compos Mentis
3. Vital sign
a. Tekanan darah :-
b. Nadi : 73 x/menit
c. Respiratory rate : 28 x/menit

4
d. Suhu : 36,5C
4. Status gizi
a. Berat badan : 68 kg
b. Tinggi badan :-
c. IMT :-
d. Kesan : Gizi baik
5. Status interna
a. Kepala : Kesan mesosefal
b. Mata : Konjungtiva anemis (-/-)
c. Hidung : Deformitas (-), sekret (-), warna sama dengan sekitar
d. Telinga : Sekret (-), nyeri tekan tragus (-), nyeri ketok mastoid
(-)
e. Mulut : Lesi pada mukosa (-), faring hiperemis (-), tonsil
hiperemis (-)
f. Leher : Lesi (-), pembesaran limfe (-), pembesaran tiroid (-)
g. Thoraks : Dalam batas normal
h. Abdomen : Dalam batas normal
i. Ekstremitas Atas : lesi (+/+), kesemutan (-/-), ujung jari terasa dingin (-/-
), bengkak (-/-)
j. Ekstremitas Bawah : lesi (+/+), kesemutan (-/-), ujung jari terasa
dingin (-/-), bengkak (-/-)

5
6. Status Dermatologis
a. Regio Capitis

Gambar 1. Regio Capitis


Tampak plak plakat eritematosa, annular, irreguler, sirkumskrip.
Tampak makula hipopigmentasi, lentikuler, annular, regular,
sirkumskrip.
b. Regio Scapula dan Vertebra

Gambar 2. Punggung Atas


Tampak plak plakat eritematosa, irregular, konfluens, sirkumskrip.

6
Gambar 3. Punggung Bawah
Tampak plak plakat eritematosa, irregular, konfluens, sirkumskrip.
c. Regio Antebrachii Dextra

Gambar 4. Regio Antebrachii Dextra


Tampak plak eritematosa diliputi skuama putih, lentikular, regular,
sirkumskrip .

7
d. Regio Antebrachii Sinistra

Gambar 5. Regio Antebrachii Sinistra


Tampak skuama putih, lentikular, regular, sirkumskrip.
e. Regio Cruris Dextra

Gambar 6. Regio Cruris Dextra


Tampak plak eritematosa, anular, multiple, regular, sirkumskrip
disertai dengan skuama berlapis - lapis diatasnya.

8
f. Regio Cruris Sinistra

Gambar 7. Regio Cruris Sinistra


Tampak plak eritematosa, anular, multiple, regular, sirkumskrip
disertai dengan skuama berlapis - lapis diatasnya.

7. Status Venerologis : tidak diperiksa


a. Inspeksi : tidak diperiksa
b. Inspekulo : tidak diperiksa
c. Palpasi : tidak diperiksa

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan anjuran yang disarankan:
1. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium disini tujuannya untu menyingkirkan diagnosa
banding. Misalnya KOH 10% untuk menyikirkan diagnosis dermatofitosis.
Caranya diambil kerokan di bagian yang terkena kemudian diteteskan KOH 10%
dan dilihat diatas miskoskop pembesaran mulai dari 10x kemudian 40x dan dilihat
akan terlihat hifa dan spora terlihat gambaran hifa sebagai dua garis sejajar terbagi

9
oleh sekat dan bercabang maupun spora berderet (artrospora) pada Tinea
(Dermatofitosis) dan terlihat campuran hifa pendek dan spora spora bulat yang
dapat berkelompok (gambaran Meat ball and spagheti) pada Pitiriasis Versikolor
(panu), pada psoriasis tidak terlihat gambaran hifa.
2. Pemeriksan tetes lilin
Fenomena tetesan lilin ialah skuama yang berubahwarnanya menjadi putih
pada goresan, seperti lilin yang digores, disebabkan oleh berubahnya indeks bias.
Cara menggores dapat dengan pinggir gelas alas.
3. Pemeriksan Auspitz
Pada fenomena Auspitz tampak serum atau darah berbintik-bintik yang
disebabkanoleh papilomatous. Cara mengerjakannya demukian : skuama yang
berlapis-lapis dikerok, misalnya dengan pinggir gelas alas. Setelah skuamanya
habis, maka pengerokan harus dilakukan perlahan-lahan, jika terlalu dalam tidak
akan tampak perdarahan yang berbintik-bintik, melainkan perdarahan yang
merata.
4. Pemeriksan kobner
Fenomena Kobner trauma pada kulit penderita psoriasis misalnya oleh
garukan sehingga menimbulkan kelainan yang sama dengan kelainan psoriasis.
Timbul kira-kira setelah 3 minggu.1,2,4,5
5. Pemeriksaan Histopatologi
Pemeriksaan histopatologi, yaitu dengan cara mengambil potongan jaringan
yang akan diperiksa. Jaringan yang sudah dipotong difiksasi dengan larutan fiksasi
seperti formalin 10% supaya sel menjadi keras dan sel-selnya mati. Pewarnaan
dilakukan dengan Hematosilin Eosin (HE) atau dengan orselin dan giemsa
Psoriasis memberikan gambaran histopatologi, yaitu perpanjangan (akantosis)
reteridges dengan bentuk clubike, perpanjangan papila dermis, lapisan sel granuler
menghilang, parakeratosis, mikro abses munro (kumpulan netrofil leukosit
polimorfonuklear yang menyerupai pustul spongiform kecil) dalam stratum
korneum, penebalan suprapapiler epidermis (menyebabkan tanda Auspitz), dilatasi

10
kapiler papila dermis dan pembuluh darah berkelok-kelok, infiltrat inflamasi
limfohistiositik ringan sampai sedang dalam papila dermis atas.1,3,5

E. RESUME
Seorang pasien laki laki datang ke Poli Kulit dan Kelamin RS Tugurejo
dengan keluhan gatal dan mengalami penebalan pada hampir seluruh tubuhnya.
Awalnya pasien mengeluh berketombe pada kulit kepala kurang lebih 10 tahun
yang lalu dan keluhan tidak membaik. Kemudian pada tahun berikutnya, timbul
bercak bercak kemerahan berukuran kecil dan menyebar pada punggungnya.
Pasien mengaku bercak bercak tersebut semakin hari semakin membesar dan
menyatu menjadi penebalan yang sangat luas hingga menutupi hampir sebagian
besar punggungnya. Pasien mengeluhkan gatal hebat pada kulit yang mengalami
penebalan terutama pada saat setelah mandi dan saat berkeringat.

1. Daftar Masalah
Masalah Aktif Masalah Pasif
1. Gatal 2. Lokasi : Kepala, Tangan,
Punggung, Kaki
3. Jenis : skuama
4. Plak Eritematosa
5. Konfigurasi : Konfluens
6. Distribusi : Generalisata,
bilateral

11
2. Inisial Plan
a. Diagnosis : Psoriasis
b. Differensial Diagnosis :
1) Tinea Corporis
2) Ptiriasis Rosea
3) Liken Simplek Kronis
4) Parapsoriasis
c. Terapi
1) Terapi sistemik :
- metilprednisolon 3x4 mg per hari 7 hari
- cetirizine 1 x10 mg tablet per hari selama 7 hari jika gatal
2) Terapi topical :
Betamethason dipropionat 0.05% salep yang di oles tipis tipis pada
lesi yang diberikan 2 kali sehari terutama pada pagi dan malam hari.
d. Monitoring : keluhan dan UKK
e. Edukasi :
1) Menjelaskan diagnosis kepada pasien bahwa psoriasis merupakan
penyakit autoimun yang bersifat kronik dan residif, ditandai dengan
adanya bercak bercak eritema berbatas tegas dengan skuaa yang kasar,
berlapis-lapis dan transparan, disertai fenomena tetesan lilin.
2) Setelah mendapat pengobatan kemungkinan lesi bisa hilang dan warna
kulit kembali normal. Namun tidak menutup kemungkinan lesi akan
muncul lagi di tempat yang lain dengan ukuran yang lebih besar.
a. Prognosis
Quo ad vitam : dubia ad bonam
Quo ad sanam : dubia ad bonam
Quo ad cosmeticam : dubia ad bonam

12
BAB III
PEMBAHASAN

Psoriasis Vulgaris merupakan penyakit autoimun, bersifat kronik dan residif,


ditandai dengan adanya bercak-bercak eritema berbatas tegas dengan skuama kasar,
berlapis-lapis dan transparan; disertai dengan fenomenon tetesan lilin, Auspitz, dan
Kobner.1,2 Pada Pasien ini didapatkan dari anamnesis terdapat bercak bercak
kemerahan yang meninggi yang disertai sisik tebal dan berlapis lapis, dan pasien
juga pernah mengalamin penyakit yang sama jadi kemungkinan penyakit pasien ini
bersifat residif, dari hasil pemeriksaan penunjang nya dilakukan fenomena tetesan
lilin dengan menggoreskan penggaris pada lesi primer lalu tampak skuama putih
seperti lilin yang digores, pemeriksaan auspitz dengan cara lesi primer dikerok
dengan penggaris , hingga skuama berlapis lapis tersebut habis lalu akan tampak
bintik bintik perdarahan, dan tidak dilakukan pemeriksan Kobner.
Pada psoriasis terdapat fenomena tetesan lilin, auspitz dan kobner (isomorfik)
kedua fenomena yang disebutkan lebih dahulu dianggap khas, sedangkan fenomena
kobner tidak khas, hanya kira kira 47 % yang positif dan didapatkan pula penyakit
lain, misalnya liken planus dan veruka plana juvenils.
Secara epidemiologi dua kelompok usia yang terbanyak adalah pada usia
antara 20 30 tahun dan yang lebih sedikit pada usia antara 50 60 tahun.8 Insiden
pada orang kulit putih lebih tinggi daripada penduduk kulit berwarna.Faktor-faktor
lain yang diduga menimbulkan penyakit ini antara lain genetik, imunologik, dan
beberapa faktor pencetus lainnya seperti stres psikik, infeksi lokal, truma, gangguan
metabolik, obat, juga alkohol dan merokok.2,3,4 Dari anmnesis didapatkan bahwa Tn.
R mengeluhkan banyak pikiran dan merupakan perokok aktif ini bisa menjadi faktor
pencetus terjadinya psoriasis vulgaris. Dalam keluarga pasien tidak ada yang
memiliki keluhan yang sama seperti yang dialami oleh pasien, berdasarkan teori
faktor genetik dan imunologik turut berperan dalam etipatogenesis psoriasis. Bila
orang tua tidak menderita psoriasis resiko menederita 12%, sedangkan jika salah satu

13
menderita psoriasis resiko mencapai 34 39%. Defek genetik pada psoriasis dapat
diekspresikan pada salah satu dari tiga jenis sel yaitu limfosit T, sel penyaji antigen
(dermal) atau keratinosit.
Pasien mengaku sudah 10 tahun mengalami seperti ini, namun semakin
meluas pernah berobat sudah sejak 3 tahun yang lalu namun penyakit nya kambuh
lagi, hal ini terjadi kerena sifat penyakit psoriasis yang residif.
Psoriasis Vulgaris mengeluh adanya bercak kemerahan yang menonjol pada
kulit dengan pinggiran merah, tertutup dengan sisik keperakan, dengan ukuran yang
bervariasi, makin melebar, bisa pecah dan menimbulkan nyeri, bisa juga timbul gatal-
gatal.3 Pada stadium penyembuhannya sering eritema yang di tengah menghilang dan
hanya terdapat di pingir.2,6 Skuama berlapis-lapis, kasar dan berwarna putih seperti
mika (mica-like scale), serta transparan. Plak eritematous yang tebal menandakan
adanya hiperkeratosis, parakeratosis, akantosis, pelebaran pembuluh darah dan
inflamasi.2,6,8 Besar kelainan bervariasi dari milier, lentikular, numular, sampai
plakat, dan berkonfluensi. Pada kasus ini didapatkan dari pemeriksaan hanya di
temukan plak eritematosa multiple dengan ukuran numular disertai dengan skuama
yang berlapis lapis (psoriaformis) jadi pada kasus ini sesuai dan didapatkan juga
hipopigmentasi multiple dengan ukuran numular disebabkan krn penyembuhan dari
plak eritematosa dari psoriasis vulgaris dalam teori nya seharusnya tahap
penyembuhannya eritema yang ditengahnya harusnya menghilang dan hanya
dipinggir saja.
Tempat predileksi pada ekstremitas bagian ekstensor terutama (siku, lutut,
lumbosakral), daerah intertigo (lipat paha, perineum, aksila), skalp, perbatasan skalp
dengan muka, telapak kaki dan tangan, tungkai atas dan bawah, umbilikus, serta
kuku.1,2,5 Pada pasien ini hanya terdapat di skalp, punggung, kedua lengan atas dan
bawah, kedua tungkai atas bawah berarti sesuai dengan tempat predikleksi psoriasis.

14
Gambar 6. Daerah Predileksi Psoriasis vulgaris

Penilaian luasnya area yang terkena dengan derajat keparahan eritema,


desquamasi dan indurasi dapat dilakukan dengan menggunakan Skor Psoriasis area
severity index (PASI). Untuk perhitungan PASI, empat area utama yang di nilai
adalah kepala, badan, extremitas atas dan ekstremitas bawah. Psoriasis Area and
Severity Index, terdiri atas 4 bagian ( P / Presentase ) :
1. Kaki ( 40% = 0. 4 )
2. Badan ( 30% = 0.3 )
3. Lengan ( 20% = 0.2 )
4. Kepala ( 10% = 0.1 )

AREA :

Setiap Area tubuh, dihitung persentasi daerah yg terkena , skor 0 6

Persentase Cakupan Area yang Terkena = Skor / Nilai ( A )

0%=0
< 10 % = 1
10 29 % = 2
30 % 49 % = 3
50 % 69 % = 4

15
70 % 89 % = 5
90 % 100 % = 6

Jadi Tn. S yang terkena :


1. Kepala terkena sekitar 10-29% % Skor pada kepala : A kepala adalah : 2
2. Lengan terkena sekitar <10% skor pada lengan : A lengan adalah : 1
3. Badan terkena sekitar 70-89%% skor pada badan : A badan adalah : 5
4. kaki terkena sekitar 30-49% skor pada kaki : A kaki adalah : 3

KEPARAHAN Dihitung berdasar 3 parameter :

Eritema ( E )
Scaling ( S )
Indurasi ( I )
Setiap parameter ini dihitung berdasarkan tingkat keparahan
Non = 0 Ringan = 1 Sedang = 2 Berat = 3 Amat Berat = 4
Total PASI di hitung dr penjumlahan :

1. Kepala : (E.kepala+S.kepala+I.kepala) x A.kepala x 0.1 = Totalkepala


(0.1) x 2 x (3+3+1) = 1,4
2. Lengan : (E.lengan+S.lengan+I.lengan) x A.lengan x 0.2 = Total lengan
(0.2) x 1 x (2+1+1) = 0,8
3. Badan : (E.badan+S.badan+I.badan) x A.body x 0.3 = Total badan
(0.3) x 5 x (3+3+1) = 10,5
4. Kaki : (E.kaki+S.kaki+I.kaki) x A.kaki x 0.4 = Total kaki
(0.4) x 3 x (2+2+1) = 6

PENILAIAN PASI

PASI< 7 : Ringan
PASI 7 12 : Sedang
PASI > 12 : Berat
Jadi total PASI pada Tn. S adalah 18,7 termasuk berat

16
Penilaian beradasarkan PASI bersifat subjektif, karena tidak ada standar
pengukuran yg pasti, jenis plaque atau eritema bisa berubah, sehingga sulit
menginterpretasikannya.
Pasien mengaku merasa gatal dan mengaruk sampai mengakibatkan
terkelupas. Gatal dalam psoriasis ini bersifat kronik, mekanisme yang mendasari
berbagai jenis pruritus kronis yang kompleks. Sejumlah mediator yang terlibat dalam
sensasi gatal Sinyal gatal ditularkan terutama oleh kecil, gatal merupakan selektif
serat C yang bermylin berasal di kulit kemudian akan memicu histamin neuron -
neuron dan dipicu non histamin mungkin terlibat. Mereka membentuk sinaps dengan
neuron sekunder yang menyeberang ke traktus spinotalamikus kontralateral dan naik
ke beberapa daerah otak yang terlibat dalam sensasi , proses evaluatif , emosi ,
penghargaan , dan memori. Daerah ini akan di hantar kan sebagai respon dari nyeri.
Pasien dengan gatal kronis sering memiliki perifer serta hypersensitivitas saraf pusat.
Dalam keadaan ini, saraf gatal peka bereaksi berlebihan terhadap rangsangan
berbahaya yang biasanya menghambat gatal, seperti panas dan menggaruk .
Diagnosa banding pada kasus ini yaitu psoariasis vulgaris adalahtinea coporis,
ptiriasis rosea, liken simplek kronis, parapsoriasis.
Tinea Coporis
Tinea coporis adalah infeksi dermatofita superfisial yang ditandai oleh baik lesi
inflamsi maupun non inflamasi pada glabrous skin ( kulit tubuh yang tidak
berambut) seperti muka, leher, badan, lengan, tungkai dan gluteal. Kelainan klinis
merupakan lesi bulat atau lonjong, terpisah satu dengan yang lain, berbats tegas
terdiri atas eritema, skuama, kadang kadang dengan vesikel dan papul di tepi,
dapat pla terlihat sebagai lesi dengan pinggir yang polisiklik. Daerah tengahnya
biasanya lebih tenang, kadang kadang terlihat erosi dan krusta akibat garukan
pada permulaan penederita merasa sangat gatal, akan tetapi kelainan yang
menahun tidak menimbulkan keluhan pada penderita. Pemeriksaan sediaan
langsung KOH diperoleh positif.1,3,5 Pada kasus ini tempat predileksi dari tinea

17
coporis sama dengan psoriasis, pada psoriasis didapatkan plak eritema dengan
skuama yang tebal, kasar dan berlapis lapis sedangkan pada tinea coporis hanya
terdapat eritema dengan skuama yang halus untuk menyikirkan diagnosis banding
dilakukan pada psoriasis fenomena tetesan lilin, auspitz, kobner sedangkan untuk
tinea coporis di lakukan pemeriksan dengan KOH 10%.
Ptiriasis rosea
Ptiriasis rosea adalah penyakit kulit yang belum diketahui penyebabnya, dimulai
dengan sebuah lesi insial berbentuk eritema dan skuama halus, kemudian disusul
oleh lesi lesi yang lebih kecil dibadan, lengan dan paha atas dan dilipatan kulit
biasanya sembuh dalam waktu 3 8 minggu. Tempat predileksi pada daerah yang
tertutup seperti daerah dada, punggung, lengan atas dan paha. Penderita mengeluh
kan gatal ringan dan lesi nya umumnya eritema yang berbentuk oval dan anular
dengan skuama halus dipinggir, gambaran yang khas yang membedkan dengan
psoriasis vulgaris adalah lesi yang tersusun sejajar dengan kosta, sehingga
menyerupai pohon cemara terbalik.1,3,5 pada kasus ini ruam nya sama eritema
dengan skuama yang halus dan bisa tebal jika sering terjadi gesekan atau tekanan,
tempat predileksi nya hampir sama dengan psoriasis vulgaris, hanya yang
mebedakan nya adalah pada psoriasis skuama yang berlapis lapis dan tedapat
fenomena tetesan lilin dan auspitz dan kobner sedang kan pada ptriasis rosea ruam
nya skuama nya halus dan biasanya menyerupai seperti pohon cemara terbalik dan
terdapat papul papul milier.
Liken Simplek Kronis
Liken Simplek kronis atau juga dikenal dengan Neurodermatitis sirkumkripta
merupakan suatu peradangan kronis, gatal, sirkumskrip, ditandai dengan kulit tebal
dan garis kulit tampak menonjol (likenifisikasi) menyerupai kulit batang kayu,
akibat garukan atau gosokan yang berulang-ulang karena berbagai rangsangan
pruritogenik. Keluhan dan gejala dapat muncul dalam waktu hitungan minggu
sampai bertahun-tahun. Keluhan utama yang dirasakan pasien dapat berupa gatal

18
dan seringkali bersifat paroxismal. Untuk membedakan dengan psoriasis vulgaris
biasanya dari lesiny tunggal pada awalnya berupa plak eritematosa, sedikit
edematosa, lambat laun edema dan eritema menghilang, bagan tengah berskuama
dan menebal, terdapat likenifikasi dan ekskoriasi, sekitarnya hiperpigmentasi,
batas dengan kulit normal tidak jelas.1,3,4,5
Parapsoriasis
Parapsoriasis merupakan penyakit kulit yang blum diketahui penyebabnya, tempat
predikleksi nya badan, lengan atas dan paha, tidak terdapat pada kulit kepala,
muka dan tangan. Biasanya pasien mengeluhkan eritema dan skuama dapat
hemoragik sedangkan pada pasien psoriasis didapatkan skuama yang berlapis
lapis dan tebal, kadang kadang berkonfluensi dan umumnya simetrik.1,2,5
Penatalaksanaan dari psoriasis vulgaris secara primer adalah menghindari
pasien dari kebiasaan menggaruk dan menggosok secara terus-menerus. Ini dapat
dilakukan dengan berbagai cara, seperti memotong kuku pasien, memberikan
antipruritus, glukokortikoid topical atau intralesional, obat sitostatik, levodopa, DDS,
Etretinat, Siklosporin, dan pemberian obat topikal seperti preparat tar, kortikosteroid,
ditranol, pengobatan dengan penyinaran, calcipotriol, tazaroten, emolien.
1. Pengobatan sistemik
Kortikosteroid
Kortikosteroid dapat mengontrol psoriasis, pada kortikosteroid ada
yang kerja singkat, sedang dan kerja lama. Pada psorisis bisa diberika
prednison dengan dosis ekuivalen 30 mg per hari, setelah membaik
dosis diturunkan perlahan lahan, kemudian bisa diberika dosis
pemeliharan, bisa juga diberikan metilprednisolon dengan dosis mulai
dari 4 mg 48 mg perhari, dosis tunggal/ terbagi.
Obat sitostatik
Obat yang digunakan adalah metotreksat, mekanismekerja obat ini
yang spesifik dalam menghambat terjadi inflamasi dan tidak

19
menimbulkan efek samping seperti obat-obat golongna NSAID. Dosis
mulai dari 3 x 2,5mg dengan interval 12 jam dalam seminggi dengan
dosis total 7,5 mg, jika tidak tampak perbaikan dosis dinaikkan 2,5 mg
5 mg per minggu.
Levodopa
Obat ini di pakai untuk parkinson , diantara nya penderita parkinson
sekaligus psoriasis, dengan dosis 2 x 250 mg 3 x 500 mg, efek
samping nya berupa mual, muntah, anoreksia, hipotensi dan gangguan
psikis.
DDS (Diaminodifenilsulfon)
Dipakai untuk pengobatan psoriasis pustulosa tipe barber dengan dosis
2 x 100 mg sehari. Efek samping nya anemia hemolitik,
methemoglobinemia dan agranulositosis.
Etretinat dan asitretin
Etretinat merupakan retinoid aromatik, digunakan bagi psoriasis yang
sukar di sembuhkan dengan obat obat lain menginggat efek
sampingnya. Pada psoriasis obat tersebut mengurangin proliferasi sel
epidermal pada lesi psoriasis dan kulit normal. Dosis pada bulan
pertama diberikan 1mg/kgBB, jika belum terjadi perbaikan dosis dapat
dinaikan menjadi 1 mg/kbb.
Asitretin merupakan metabolik aktif etetinat yang utama.
Kelebihannya hanya waktu paruh eliminasinya hanya 2 hari,
dibandingkan dengan etretinat yang lebih dari 100 hari.
Siklosporin
Efeknya ialah imunosupresif, dosis nya 6 mg/kgbb sehari, bersifat
nefrototoksik dan hepatotoksik, hasil pengobtan untuk psoriasis baik,
hanya setelah obat dihentikan dapat terjadi ke kambuhan.

20
2. Pengobatan topikal
Kortikosteroid1,2,3.5
Kortikosteroid Topikal, sampai saat ini masih merupakan pilihan pengobatan.
Pemberiannya akan lebih efektif jika diaplikasikan kemudian dibalut dengan
perban oklusif kering. Yang menjadi pilihan adalah kortikosteroid dengan potensi
tinggi seperti Clobetassol Propionat, Diflorasone Diasetat, atau bethamethason
dipropionat 0,05%, Fluocinolone 0.01% atau 0.025%, hidrokortison valerat 0,2%,
triamcinolone, fluocionida.
- Clobetasol
Topical steroid super poten kelas I, dengan menekan mitosis dan menambah
sintesi protein yang mengurangi inflamasi dan menyebabkan vasokontriksi.4
- Betametahasone dipropionate cream 0,05%
Merupakan anti inflamasi kulit yang berespon baik terhadap steroid. Bekerja
mengurangi peradangan dengan menekan migrasi sel leukosit
polimorfonuklear dan memperbaiki permeabilitas kapiler.4
- Triamcinolone 0,025%, 0,1%, 0,5% atau ointment
Untuk peradangan kulit yang berespon baik terhadap steroid. Bekerja
mengurangi peradangan dengan menekan migrasi leukosit polimorfonuklear
dan memperbaiki permeabilitas kapiler. Pemberian kortikosteroid berupa
Triamcinolone secara intralesi, biasanya sangat efektif (3mg/ml). Namun
harus sangat diperhatikan karena pada konsentrasi tinggi dapat menyebabkan
atropi.4
- Fluocinolone 0.01% atau 0.025%
Topical kosrtikosteroid potensi tinggi yang mengahmbat proliferasi sel
.mempunyai sifat imunosupresif dan anti inflamasi.4

Preparat Ter1,2,3,4
Obat topikal yang biasa digunakan adalah preparat ter, yang efeknya adalah anti
radang.Preparat ter berguna pada keadaan-keadaan:

21
1. Bila psoriasis telah resisten terhadap steroid topikal sejak awal atau
takhifilaksis oleh karena pemakaian pada lesi luas.
2. Lesi yang melibatkan area yang luas sehingga pemakaian steroid topikal
kurang bijaksana.
3. Bila obat-obat oral merupakan kontra indikasi oleh karena terdapat penyakit
sistemik.
Ter dari kayu dan batubara yang efektif untuk psoriasis, dimana ter batubara lebih
efektif dari pada ter kayu, sebaliknya kemungkinan memberikan iritasi juga jauh
lebih besar. Pada psoriasis yang menahun lebih baik digunakan ter yang beasal
dari batubara, sebaliknya psoriasis akut dipilih ter dari kayu.Preparat tar seperti
liquor carbonis detergent 2-5% dalam salep dipakai untuk pengobatan psoriasis
yang kronis. Diduga mempunyai efek yang menghambat proliferasi keratinosit.
Efeknya akan meningkat bila dikombinasi dengan asam salisilat 2-5%, akan
efektif jika diaplikasikan pada daerah-daerah yang optimal misalnya lengan, dan
kaki.
Asam salisilat merupakan zat keratolitik yang tertua yang dikenal dalam
pengobatan topikal, efeknya ialah mengurangi proliferasi epitel dan
menormalisasi keratinisasi yang terganggu. Konsentrasi rendah (1-2%)
mempunyai efek keratoplastik yaitu menunjang pembentukan keratin yang baru,
konsentrasi tinggi 3 -20% bersifat keratolitik dan dipake untuk keadaan
dermatosis yang hiperkeratotik. Pada kasus ini asam salisiat diberikan hanya 3%,
efek desmolitik asam salisilat ini terbukti meningkatkan penetrasi kortikosteroid
topikal.
Antihistamin1,2,3,4
Pemberian antihistamin oral secara luas digunakan untuk mengurangi keluhan
pruritus dengan memblokir efek pelepasan anti histamine secara endogen.namun
peran dan keuntungannya dalam mengatasi pruritus lokal sangat rendah.
Beberapa obat antihistamin lainnya yaitu:3

22
- dipenhidramin,untuk mengurangi gejala pruritus yang disebabkan oleh
pelepasan histamine
- Loratadine merupakan suatu antihistamin trisiklik yang bekerja cukup lama
(Long acting), mempunyai selektivitas tinggi pada reseptor histamin - H1
perifer dan tidak menimbulkan efek sedasi atau antikolinergik.
- chlorpheniramine, bekerja sama dengan histamin atau permukaan reseptor
H1 pada sel efektor di pembuluh darah dan traktus respiratori
- Hidroxyzine, reseptor H1 antagonis di perifer. Dapat menekan aktiviras
histamine diregio subkortikal sistem saraf pusat .
- Klonazepam, untuk anxietas yang disertai pruritus. Berikatan dengan
reseptor-reseptor di SSP, termasuk system limbic dan pembentukan reticular.
Efeknya bisa dimediasi melalui reseptor GABA.
- Cetirizin HCl adalah antihistamin antagonis H1 generasi kedua, terbukti
lebih nyaman dan menguntungkan karena tidak menimbulkan efek
mengantuk sehingga tidak mengganggu aktifitas pasien.
Ditranol (antralin)
Konsentrasi yang digunakan biasanya 0,2 0,8 % dalam pasta, salep atau krim.
Lama pemakaian hanya - jam sehari sekali untuk mencegah iritasi,
penyembuhan dalam 3 minggu.
Tazaroten
Merupakan derivat vitamin A, misalnya etretinat atau acitretin. Mempunyai efek
menghentikan diferensiasi dan proliferasi keratinosit dan bersifat anti inflamasi,
dengan menghambat fungsi netrofil. Dipakai untuk pengobatan psoriasis
pustulosa generalisata ataupun lokalisata, dan eritroderma psoriatik.3,4
Tazaroten tersedia dalam bentuk gel dan krim dengan konsentrasi 0.05 % dan
0,1%. Bila dikombinasikan dengan steroid topical potensi sedang dan kuat akan
mempercepat penyembuhan dan mengurangin iritasi.

23
Pengobatan dengan sinar
Sinar ultraviolet mempunyai efek menghambat mitosis, sehingga dapat digunakan
untuk pengobatan psoriasis. Cara yang terbaik adalah dengan penyinaran secara
alamiah, tetapi sayang tidak dapt diukur dan jika berlebihan maka akan
memperparah psoriasis. Karena itu, digunakan sinar ulraviolet artifisial,
diantaranya sinar A yang dikenal sebagai UVA.2 Sinar tersebut dapat digunakan
secara tersendiri atau berkombinasi dengan psoralen (8-metoksipsoralen,
metoksalen) dan disebut PUVA, atau bersama-sama dengan preparat ter yang
dikenal sebagai pengobatan cara Goeckerman.4,5
Karena psoralen bersifat fotoaktif, maka degan UVA akan terjadi efek
sinergik. Diberikan 0,6 mg/kgbb secara oral 2 jam sebelum penyinaran ultraviolet.
Dilakukan 2x seminggu, kesembuhan terjadi 2-4 kali pengobatan. Selanjutnya
dilakukan pengobatan rumatan (maintenance) tiap 2 bulan.1,3

Pada kasus ini tatalaksana meliputi tatalaksana umum dan khusus.


Penatalaksanaan umum yaitu dengan memberikan edukasi kepada pasien, seperti:1,3,4
- menjelaskan kepada pasien tentang penyakit dan penatalaksanaannya
- hindari stres dan kelelahan.
- mencegah garukan dan gosokan
- cukup istirahat
- menghindari faktor pencetus.

24
Penatalaksanaan khusus pada kasus ini yaitu dengan memberikan
farmakologi, berupa:
- Sistemik:
1. Cetirizin HCl 1 x 10 mg jika gatal.
Alasan Pada pasien ini diberikan antihistamin antagonis H1 generasi
kedua, terbukti lebih nyaman dan menguntungkan karena tidak
menimbulkan efek mengantuk sehingga tidak mengganggu aktifitas
pasien, juga tidak menimbulkan jantung berdebar dan penggunaannya
cukup satu kali sehari. Selain itu, obat ini aman diberikan dalam
jangka panjang, mengingat obat ini hanya diberikan jika diperlukan
saja. Efektifitas cetirizin HCl lebih baik jika dibandingkan dengan
antihistamin generasi kedua lain yaitu loratadin dalam hal menurunkan
kemerahan pada kulit.
2. Metilprednisolon 3 x 4 mg selama 7 hari.
Metilprednisolon adalah glukokortioid turunan prednisolon yang
mempunyai efek kerja dan penggunaan yang sama seperti senyawa
induknya. Metilprednisolon tidak mempunyai aktivitas retensi natrium
seperti glukokortikoid yang lain. Dosis metilprednisolon 4 48 mg
perhari dengan pemberian 3x4mg/hari diharapkan dapat mengurangi
efek inflamasi yang dapat menimbulkan rasa gatal pada pasien ini,
efek samping nya biasanya terlihat pada pemberian jangka panjang
atau pemberian dalam dosis besar, misalnya gangguan elektrolit dan
cairan tubuh, kelemahan otot, resistensi terhadap infeksi menurun,
gangguan penyembuhan luka, meningkatnya tekanan darah, katarak,
gaangguan pertumbuhan pada anak-anak, insufisiensi adrenal, cushing
syndrome, osteoporosis, tukak lambung.

25
Topikal:
- Salep Betametason dipropionat 0,05% yang dioleskan tipis-tipis pada lesi
yang diberikan 2 kali sehari terutama pada pagi dan malam hari.
Kerja steroid topikal pada psoriasis diketahui melalui beberapa cara, yaitu:
1. Vasokonstriksi untuk mengurangi eritema.
2. Menurunkan turnover sel dengan memperlambat proliferasi seluler.
3. Efek anti inflamasi, dimana diketahui pada psoriasis, leukosit memegang
peranan dan steroid topikal dapat menurunkan inflamasi.
Alasan pemilihan Betametason dipropionat 0,05% karena obat ini merupakan
anti inflamasi kulit yang berespon baik terhadap steroid. Bekerja mengurangi
peradangan dengan menekan migrasi sel leukosit polimorfonuklear dan
memperbaiki permeabilitas kapiler.

26
DAFTAR PUSTAKA

1. Djuanda A, Hamzah M, Aisah S. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. 3rd ed.
Jakarta : Universitas Indonesia; 2013.

2. Siregar RS. Atlas berwarna saripati penyakit kulit. 2nd ed. Jakarta : EGC; 2005.

3. Wiryadi BE. Penatalaksanaan psoriasis. Dalam : Tjarta A, Sularsito SA, kurniati


DD, Rihatmaja R, Editor. Metode diagnostik dan penatalaksanaan psoriasis dan
dermatitis seboroik, Edisi I. Jakarta : Balai Penerbit FKUI, 2003 : 35 -50.

4. Christophers E, Mrowietz U. Psoriasis. In : Freedberg IM, Eisen AZ, Wolff K,


Austen KF, Goldsmith LA, Katz SI, Fitzpatrick TB eds. Fitzpatrick's dermatology
in general medicine. 5 th ed, vol 1. New York : McGraw-Hill Companies, 1999 :
495-521.

5. Gottlieb AB, Lebwohl M, Totoritis MC, Abdulghani AA, Shuey SR, Romano P.
Clinical and histologic response to single-dose treatment of moderate to severe
psoriasis with an anti CD 80 monoclonal antibody. J am acad dermatol. 2002 ;
47 (5) : 692-99.

27