Anda di halaman 1dari 79

PERANAN PAJAK DAERAH DAN RETRIBUSI DAERAH

DALAM RANGKA
PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN DAERAH
DI LAMPUNG UTARA

Oleh

REZA ADINARDO

Skripsi
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Hukum
Pada
Program Studi Ilmu Hukum

SEKOLAH TINGGI ILMU HUKUM MUHAMMADIYAH


KOTABUMI LAMPUNG
2012
ABSTRAK

PERANAN PAJAK DAERAH DAN RETRIBUSI DAERAH


DALAM RANGKA PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN DAERAH
DI LAMPUNG UTARA

Oleh

REZA ADINARDO

Pajak Daerah dan Retribusi Daerah merupakan salah satu sumber pendapatan
daerah yang penting guna membiayai penyelenggaraan pemerintah daerah untuk
memantapkan otonomi daerah yang luas, nyata dan bertanggung jawab. Peran
pajak dalam pembangunan terlihat dalam setiap proyek yang dilaksanakan
pemerintah selalu di dengungkan bahwa proyek yang dibangun dibiayai dari dana
pajak yang telah dikumpulkan dari masyarakat. Dengan demikian perlu kiranya
dievaluasi dan dibahas mengenai bagaimana peran pajak dan retribusi daerah
terhadap pelaksana pembangunan daerah, khususnya di Kabupaten Lampung
Utara.

Permasalahan dalam penelitian ini adalah: 1) Apakah yang menghambat


pelaksanaan perolehan pajak daerah dan retribusi daerah, 2) Apakah pajak daerah
dan retribusi daerah mempunyai peran dalam pembangunan di Kabupaten
Lampung Utara. Oleh sebab itu, tujuan penelitian ini adalah: 1) untuk mengetahui
peran pajak dan retribusi daerah dalam pembangunan daerah di Lampung Utara. 2)
Untuk mengetahui faktor-faktor serta faktor yang mempengaruhi perolehan pajak
dan retribusi daerah.

Pendekatan masalah dilakukan secara normatif dan empiris dengan menggunakan


jenis data primer dan data sekunder. Pengumpulan data dilakukan dengan jalan
studi kepustakaan dan studi lapangan yang kemudian dianalisis secara deskriptif,
kualitatif dan kuantitatif.

Hasil penelitian menunjukan bahwa Realisasi hasil penerimaan Pajak dan


Retribusi Daerah di Lampung Utara pada tahun 2010 jumlah realisasi
Rp.38.524.714.228,- dan 2011 jumalah realisasi Rp. 41.810.181.349,- terlihat dari
tabel 9 menunjukkan Pajak dan Retribusi Daerah dari tahun ke tahun terjadi
peningkatan secara signifikan. ini berarti bahwa Pemerintah Daerah Kabupaten
Lampung Utara selalu berusaha meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD)
yang bersumber dari Pajak dan Retribusi Daerah dengan cara menambah obyek
retribusi dan melakukan revisi terhadap bebarapa Peraturan Daerah tentang Pajak
& Retribusi Daerah.

ii
Reza Adinardo
Hambatan yang ditemui antara lain: 1) Perlawanan pasif yaitu masyarakat enggan
(pasif) membayar pajak, yang disebabkan perkembangan intelektual dan moral
masyarakat, sistem perpajakan yang mungkin sulit dipahami masyarakat, sistem
kontrol tidak dapat dilakukan dengan baik, 2) Perlawanan aktif meliputi semua
usaha dan perbuatan yang secara langsung ditujukan kepada fiskus dengan tujuan
untuk menghindari pajak, bentuknya antara lain: tax avoidance dan tax evasion.
Sedangkan hambatan yang dihadapi Pemerintah Daerah khususnya Dinas
Pendapatan Daerah Kabupaten Lampung Utara antara lain: tentang sanksi,
penyesuaian tarif, kurangnya kesadaran wajib pajak daerah dan retribusi daerah,
pengolahan data yang belum tertata secara baik dan sarana mobilitas yang belum
memadai.

Berdasarkan hasil penelitian, disarankan: 1) Pemerintah Daerah Kabupaten


Lampung Utara Perlu meningkatkan kembali sosialisasi Peraturan Daerah
mengenai Pajak Daerah dan Retribusi Daerah melalui media massa dan
elektronika dalam menjelaskan fungsi dan peran Pajak Daerah dan Retribusi
Daerah terhadap pelaksanaan Pembangunan Daerah yang intinya akan
meningkatkan kesadaran para wajib pajak dan retribusi dalam melakukan
pembayaran Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. 2) Memberi peringatan dan
teguran kepada Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) Kabupaten Lampung Utara
yang menangani pemungutan Retribusi Daerah karena menurut hasil penelitan
penulis ada beberapa Peraturan Daerah mengenai Retribusi Daerah yang belum
disetor kepada Kas Daerah, padahal menurut ketentuan setelah 6 bulan Peraturan
Daerah tersebut dikeluarkan, bagi wajib Retribusi yang tidak mengindahkan akan
dikenakan tindakan baik pidana maupun denda. contoh: Perda tentang Retribusi
Izin Pengelolaan dan Pengusahaan Burung Walet, Perda tentang Retribusi Izin
usaha Balai Pengobatan, Rumah Bersalin dan Izin Usaha Laboratorium Klinik
Swasta dan lain-lain.

iii
Judul Skripsi : PERANAN PAJAK DAERAH DAN RETRIBUSI
DAERAH DALAM RANGKA PEMBIAYAAN
PEMBANGUNAN DI LAMPUNG UTARA

Nama Mahasiswa : Reza Adinardo

No. Pokok Mahasiswa : 0902882710.P

Program Studi : Ilmu Hukum

MENYETUJUI
1. Komisi Pembimbing

Pembimbing Utama, Pembimbing Kedua,

Salis M.Abduh, S.H., M.H. Kuspermadi Putra, S.H., M.H.


NKAM 680 649 NKAM 877 587

2. Kasubbag Akademik

Kamilatun, S.H.
NKAM 715 604
MENGESAHKAN

1. Tim Penguji

Ketua : Salis M. Abduh, S.H., M.H.

Penguji Utama : Muhammad Idran, S.H., M.H.

Anggota : Kuspermadi Putra, S.H., M.H.

Sekertaris : Ansori, S.H., M.H.

2. Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Muhammadiyah


Kotabumi Ketua,

Kuspermadi Putra, S.H., M.H.


NKAM 877 587

Tanggal Lulus Ujian Skripsi: 08 Agustus 2012


RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Bandar Lampung

pada tanggal 05 September 1988, dari

pasangan Bapak Zainuddin Ramli,

S.H. dan Ibu Isyanawati. Penulis

merupakan anak kedua dari empat

bersaudara. Pada saat ini penulis

bertempat tinggal di Jalan 9Kangga

Besar Nomor 54 Kelurahan Kelapa

Tujuh Kecamatan Kotabumi Selatan.

Penulis menyelesaikan pendidikan

Sekolah Dasar di SDN 01 Teladan

Kotabumi paada tahun 2000, Sekolah

9Kenengah Pertama di S9KPN 02

Kotabumi lulus pada tahun 2003, dan

menamatkan pendidikan Sekolah

9Kenengah Atas di S9KAN 04

Kotabumi pada tahun 2006. Pada

tahun 2007 penulis masuk perguruan

tinggi Universitas Lampung dan pada

tahun 2009 terdaftar sebagai

mahasiswa pada Sekolah Tinggi Ilmu


Hukum (STIH) 9Kuhammadiyah

Kotabumi Lampung Utara hingga saat

ini.

vi
Motto

Jadikanlah segala cobaan sebagai

salah satu bentuk pengorbanan dalam

proses keberhasilan.

Jadikanlah hari kemarin

pengalaman, Hari ini harapan,

dan Hari esok tujuan.

(REZA ADINARDO)
vii
PERSEMBAHAN

Skripsi ini kupersembahkan kepada orang tuaku

(Zainuddin Ramli, S.H. dan Isyanawati) motivator

terbesarku, Ayukku Yudistya, S.E., yang selalu memberi

semangat serta Adik-adikku, Fevi Oktarina dan Dina

Lorenza, yang selalu menantikan dan mendoakan

Keberhasilanku, Kekasihku Shelvina Rosa Bahrie yang

memberikan dukungan dan motivasi serta semangat,

sahabat sekaligus rekan seperjuangan STIH-M 2007,

Sahabat Angkatan 2008, 2009 dan Lainnya baik didalam

maupun diluar kampus, Bapak/Ibu Dosen dan Staf

Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Muhammadiyah Kotabumi

yang telah banyak membantu selama perkuliahan

dikampus dan Almamaterku tercinta.


viii
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh

Puji dan syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan limpahan rahmat dan

karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul

Peranan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Dalam Rangka Pembiayaan

Pembangunan Daerah di Lampung Utara.

Penulis menyadari, bahwa penulisam skripsi ini dapat diselesaikan berkat bantuan,

arahan, bimbingan serta masukan dari berbagai pihak. Untuk itu penulis

sampaikan rasa terimakasih atas segala pengertian dan kesabaran hati dalam

mengarahkan penulis selama menjalani masa studi dan proses penulisan skripsi.

Dalam kesempatan ini dengan segala ketulusan hati, penulis ingin menyampaikan

rasa terimakasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Bapak Kuspermadi Putra, S.H., M.H., selaku Ketua Sekolah Tinggi Ilmu

Hukum Muhammadiyah Kotabumi dan sekaligus Pembimbing Kedua yang

telah memberikan arahan dan masukkannya dalam penyusunan skripsi ini.

2. Bapak Salis M.Abduh, S.H., M.H., selaku Pembimbing Utama Yang telah

memberikan petunjuk, memberikan pengetahuan dimana letak semua

kesalahan penulis dan meluangkan waktunya hanya untuk memberikan

bimbingan kepada penulis selama ini.

3. Bapak M. Yasir Fauzi, S.Ag., M.H., selaku Penasehat Akademik yang

selalu memberi kritik dan saran dalam perkuliahan.

ix
4. Bapak Drs.Hi.Fahrizal Ismail, S.H., M.H., Kepala Dinas, Ibu Neliwati, SE, Sekretaris, Ibu

Siti Nasroh, SE, Kasi Penetapan dan Penertiban, Ibu Darneli Adami, S.Kom, Kasubbag

Umum dan Kepegawaian Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) Kabupaten Lampung Utara.

5. Bapak dan Ibu Dosen Pengajar serta Civitas Akademika STIH-M Kotabumi dan lain-lain

yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah berbaik hati kepada penulis selama masa

perkuliahan sampai penulis menyelesaikan studi.

0. STIH-M Angkatan 2007, 2008 dan 2009 rekan-rekan semua pihak yang telah

memberikan bantuan dan dukungan.

Semoga bantuan dan kebaikan yang telah diberikan kepada penulis dapat dijadikan amal ibadah

dan mendapat balasan dari Allah SWT, Amin.

Akhirnya penulis berharap semoga banyak manfaat yang dapat diambil dari penulisan skripsi ini

dan dapat menambah wawasan bagi yang membaca.

Wassalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh

Kotabumi, Juli 2012 Penulis,

Reza Adinardo

x
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.......................................................................................... .
i
ABSTRAK.......................................................................................................... ..
ii
PERSETUJUAN................................................................................................ ...
iv
P E N G E S A H A N ...................................................................................... .
v
RI WAYAT HI D U P.....................................................................................
vi
MOTTO.............................................................................................................. ...
vii
PERSEMBAHAN............................................................................................... .....
viii
KATA PENGANTAR..................................................................................
ix
DAFTAR ISI ....
xi
DAFTAR TABEL DAN GAMBAR................................................................... .....
xiii

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah ................................................................1


1.2. Permasalahan dan Ruang Lingkup .
3
1.3. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ....................................................
4
1.4. Sistimatika Penulisan .........................................................
5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1. Pengertian Peranan dan Pembangunan........................................... .
7
2.2. Pengertian Pajak dan Pajak Daerah 12
..
2.3. Sistem dan Dasar Hukum Perpajakan Daerah................................ ...
18
2.4. Prinsip dan Kriteria Perpajakan Daerah ...
23

xi
BAB III METODE PENELITIAN
3.1. Pendekatan Masalah ...
28
3.2. Jenis dan Sumber Data ...
28
3.3. Prosedur Pengumpulan dan Pengolahan Data ................................ ...
29
3.4. Analisis Data.......................................................................................
30

BAB IV PENYAJIAN DAN PEMBAHASAN


4.1. Gambaran Umum Objek Penelitian ...................................................
31
4.2. Pelaksanaan Perolehan Pajak dan Retribusi Daerah...........................
36

4.3. Kontribusi Pajak dan Retribusi Daerah untuk


Pembangunan Dearah ..
52

BAB V PENUTUP

5.1. Simpulan .......................................................................................54

5.2. Saran Saran ..............................................................................55....

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

xii
DAFTAR TABEL DAN GAMBAR

Halaman
Gambar 1. Struktur Organisasi Dispenda Kabupaten Lampung
Utara.................................................................................. 34
Tabel 1..........Keadaan Pegawai Dispenda Kabupaten Lampung Utara
Tahun 2012........................................................................ 35
Tabel 2..........Keadaan Pegawai Dispenda Kabupaten Lampung Utara
Menurut Pendidikan Tahun 2012...................................... 35
Tabel 3....................Realisasi Penerimaan Pajak Daerah di Kabupaten
Lampung Utara Tahun 2010.............................................. 37
Tabel 4....................Realisasi Penerimaan Pajak Daerah di Kabupaten
Lampung Utara Tahun 2011 ............................................. 39
Tabel 5..................Realisasi Penerimaan Retribusi Daerah Kabupaten
Lampung Utara Tahun 2010.............................................. 41
Tabel 6..................Realisasi Penerimaan Retribusi Daerah Kabupaten
Lampung Utara Tahun 2011 ............................................. 43
Tabel 7...........Realisasi Hasil Penerimaan Pajak dan Retribusi Daerah
di Kabupaten Lampung Utara Tahun 2010-2011 ......... 46
Tabel 8...................Hubungan Teori dan Analisis Penelitian Mengenai
Hambatan Pelaksanaan Perolehan Pajak dan Retribusi
Daerah............................................................................... 50
Tabel 9.........Kontribusi Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Terhadap
Anggaran Pendapatan Asli Daerah (PAD) ................. 52

x ii i
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Pembangunan di suatu daerah dimaksudkan untuk membangun masyarakat

seutuhnya, untuk itu diharapkan pembangunan tersebut tidak hanya mengejar

kemajuan daerah saja, akan tetapi mencakup keseluruhan aspek kehidupan

masyarakat yang dapat berjalan serasi dan seimbang di segala bidang dalam

rangka menciptakan masyarakat adil dan makmur yang merata materil dan

spiritual.

Pembangunan Nasional dan Pembangunan Daerah sesungguhnya menjadi

tanggung jawab warga negara dan masyarakatnya. Kaitannya dengan

pembangunan daerah dalam rangka otonomi daerah, pendapatan daerah menjadi

sangat penting karena dapat meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan

masyarakat. Dengan pembangunan daerah yang serasi dan terpadu disertai

perencanaan pembangunan yang baik, efisien dan efektif maka akan tercipta

kemandirian daerah dan kemajuan yang merata diseluruh wilayah Indonesia.

Pelaksanaan pembangunan di daerah sangat tergantung dari pendapatan asli daerah

serta pengelolaan daerah itu sendiri. Hadirnya Undang-Undang Nomor 12 Tahun

2008 tentang perubahan kedua atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004

tentang Pemerintah Daerah membawa perubahan yang begitu besar bagi


2

pelaksanaan pembangunan daerah. Secara tegas undang-undang ini memberikan

kewenangan kepada daerah untuk mengatur dan mengurus kepentingan

masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat

atau dengan kata lain daerah berdasarkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008

telah diberikan Otonomi.

Upaya pemerintah untuk membangun harus ditingkatkan dengan melakukan

pembinaan dan pengarahan kepada segenap masyarakat sehingga dapat terwujud

tujuan dari pembangunan itu sendiri, disamping peran serta masyarakat untuk

mendukung kelancaran proses pembangunan.

Untuk melaksanakan pembangunan yang berkesinambungan maka daerah / kota

lebih dituntut untuk dapat menggali seoptimal mungkin sumber-sumber

keuangannya, seperti; pajak, retribusi atau pungutan yang merupakan sumber-

sumber Pendapatan Asli Daerah, sebagaimana yang dimaksud dalam Undang-

Undang Nomor 32 tahun 2004.

Pendapatan Asli Daerah merupakan sumber pembiayaan yang paling penting

dimana komponen utamanya adalah penerimaan yang berasal dari komponen

pajak daerah dan retribusi daerah. Pajak daerah berdasarkan Undang-Undang

Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi adalah kontribusi

wajib kepada daerah yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat

memaksa berdasarkan Undang-Undang dengan tidak mendapatkan imbalan

secara langsung dan digunakan untuk keperluan Daerah bagi sebesar-besarnya

kemakmuran rakyat. Retribusi daerah atau retribusi berdasarkan Undang-Undang

Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah adalah pemungutan Daerah sebagai
3

pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan/

atau diberikan oleh Pemerintah Daerah untuk kepentingan orang pribadi atau

badan.

Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Pemerintah Daerah, menjelaskan

bahwa tiap-tiap daerah telah diserahkan kewenangan untuk mengatur dan

mengurus rumah tangga sendiri bedasarkan kepentingan masyarakat menurut

prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dan dalam melaksanakan

pembangunan di daerah harus lebih mengutamakan kepentingan masyarakat dan

senantiasa bekerjasama antara pemerintah dan masyarakat dalam pelaksanaan

pembangunan.

Berdasarkan uraian tersebut di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian,

yang hasilnya ditulis dalam bentuk skripsi dengan judul Peranan Pajak Daerah

dan Retribusi Daerah Dalam Rangka Pembiayaan Pembangunan Daerah di

Lampung Utara

1.2. Permasalahan dan Ruang Lingkup

1.2.1. Permasalahan

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dikemukakan permasalahan dalam

rencana penelitian ini sebagai berikut:

1. Apakah yang menghambat pelaksanaan perolehan pajak daerah dan

retribusi daerah?

2. Apakah pajak daerah dan retribusi daerah mempunyai peran dalam

pembangunan di Kabupaten Lampung Utara ?


4
1.2.2. Ruang Lingkup

Agar penulisan skripsi ini sesuai dengan pokok permasalahan yang akan dibahas,

maka pembahasan penulisan skripsi ini penulis batasi dengan ruang lingkup pada

peran pajak dan retribusi daerah dalam pembangunan daerah di Lampung Utara

serta faktor yang mempengaruhi perolehan pajak dan retribusi daerah.

1.3. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

1.3.1. Tujuan Penelitian

Yang menjadi tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peran pajak dan

retribusi daerah dalam pembangunan daerah di Lampung Utara serta faktor yang

mempengaruhi perolehan pajak dan retribusi daerah.

1.3.2. Kegunaan Penelitian

Kegunaan yang diharapkan dari penelitian ini dapat penulis kemukakan sebagai

berikut :

1. Secara teoritis, sebagai bahan bacaan bagi pihak-pihak yang

memerlukannya mengenai peran pajak daerah dalam pembangunan daerah di

Lampung Utara serta faktor yang mempengaruhi perolehan pajak dan retribusi

daerah.

2. Secara praktis, menambah wawasan pengetahuan penulis dan untuk

melengkapi salah satu syarat akademik dalam rangka memperoleh gelar

kesarjanaan dalam bidang ilmu hukum pada Sekolah Tinggi Ilmu Hukum
(STIH) Muhammadiyah Kotabumi.
5

1.4. Sistematika Penulisan

Untuk mempermudah dalam membaca dan memahami isi dari penelitian ini, maka

penulis menyusunnya kedalam lima bab dengan sistematika penulisan sebagai

berikut:

BAB I PENDAHULUAN, pada bab ini diuraikan mengenai latar belakang

masalah, permasalahan dan ruang lingkup, tujuan dan kegunaan penelitian serta

sistematika penulisan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, pada bab ini diuraikan secara teoritis

Pengertian Peranan dan Pembangunan, Pengertian Pajak dan Pajak Daerah,

Sistem dan Dasar Hukum Perpajakan Daerah, Prinsip dan Kriteria Perpajakan

Daerah.

BAB III METODE PENELITIAN, pada bab ini diuraikan tentang tata cara

melakukan penelitian yang meliputi pendekatan masalah, jenis dan sumber data,

prosedur pengumpulan dan pengolahan data serta analisis data.

BAB IV PENYAJIAN DAN PEMBAHASAN, pada bab ini akan disajikan

mengenai Gambaran Umum Objek Penelitian, Pelaksanaan Perolehan Pajak dan

Retribusi Daerah, Kontribusi Pajak dan Retribusi Daerah untuk Pembangunan

Daerah.

BAB V PENUTUP, bab ini memuat simpulan dan saran-saran yang penulis

anggap perlu yang berkaitan dengan hasil penelitian.


6

DAFTAR PUSTAKA, yaitu bahan-bahan pustaka yang penulis pergunakan dalam

penulisan skripsi ini.

LAMPIRAN-LAMPIRAN, yaitu berkas-barkas yang mendukung penulisan

skripsi ini.
BAB II
TINJUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Peranan dan Pembangunan

2.1.1. Peranan

Seseorang hanya mungkin dapat melaksanakan pekerjaannya secara efektif, jika

mereka telah mengetahui secara pasti tentang perannya di dalam sebuah organisasi

tempat kerjanya.

Kata peranan berasal dari kata peran. Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia

(W.J.S. Poerwadarminta, 2001: 854) diartikan sebagai tindakan yang dilakukan

oleh seseorang dalam suatu peristiwa. Dari arti ini dapat dimaknai bahwa peran di

sini adalah tindakan seseorang yang melakukan tugas-tugasnya terhadap tugas

yang diamanatkan. Lebih spesifik lagi adalah tindakan seseorang yang melakukan

tugas fasilitas pada sebuah unit atau instansi.

Pengertian peranan menurut Soerjono Soekanto (2002: 243) adalah sebagai

berikut:

Peranan merupakan aspek dinamis kedudukan (status). Apabila seseorang

melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya, maka ia

menjalankan suatu peranan.

Konsep tentang peran (role) menurut Komarudin, (1994: 768) dalam buku

Ensiklopedia Manajemen mengungkapkan sebagai berikut :


8

1. Bagian dari tugas utama yang harus dilakukan oleh manajemen.

2. Pola perilaku yang diharapkan dapat menyertai suatu status.

3. Bagian suatu fungsi seseorang dalam kelompok atau pranata.

4. Fungsi yang diharapkan dari seseorang atau menjadi karakteristik yang ada

padanya.

5. Fungsi setiap variabel dalam hubungan sebab akibat.

Berdasarkan pengertian tersebut dapat diambil pengertian bahwa peranan

merupakan penilaian sejauh mana fungsi seseorang atau bagian dalam menunjang

usaha pencapaian tujuan yang ditetapkan atau ukuran yang mengenai hubungan

dua variabel yang mempunyai hubungan sebab akibat.

Pajak mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan bernegara,

khususnya di dalam pelaksanaan pembangunan karena pajak merupakan sumber

pendapatan negara untuk membiayai semua pengeluaran termasuk pengeluaran

pembangunan. Berdasarkan hal diatas maka pajak mempunyai beberapa fungsi

(Waluyo dan Wirawan 2002: 8), yaitu:

1. Fungsi anggaran (budgetair)

Sebagai sumber pendapatan negara, pajak berfungsi untuk membiayai

pengeluaran-pengeluaran negara. Untuk menjalankan tugas-tugas rutin negara

dan melaksanakan pembangunan, negara membutuhkan biaya. Biaya ini dapat

diperoleh dari penerimaan pajak. Pajak digunakan untuk pembiayaan rutin

seperti belanja pegawai, belanja barang, pemeliharaan, dan lain sebagainya.

Untuk pembiayaan pembangunan, uang dikeluarkan dari tabungan

pemerintah, yakni penerimaan dalam negeri dikurangi pengeluaran


9

rutin. Tabungan pemerintah dari tahun ke tahun harus ditingkatkan sesuai

kebutuhan pembiayaan pembangunan yang semakin meningkat dan ini

terutama diharapkan dari sektor pajak.

2. Fungsi mengatur (regulerend)

Pemerintah bisa mengatur pertumbuhan ekonomi melalui kebijaksanaan

pajak. Dengan fungsi mengatur, pajak bisa digunakan sebagai alat untuk

mencapai tujuan. Contohnya dalam rangka menggiring penanaman modal,

baik dalam negeri maupun luar negeri, diberikan berbagai macam fasilitas

keringanan pajak. Dalam rangka melindungi produksi dalam negeri,

pemerintah menetapkan bea masuk yang tinggi untuk produk luar negeri.

3. Fungsi stabilitas

Dengan adanya pajak, pemerintah memiliki dana untuk menjalankan

kebijakan yang berhubungan dengan stabilitas harga sehingga inflasi dapat

dikendalikan. Hal ini bisa dilakukan antara lain dengan jalan mengatur

peredaran uang di masyarakat, pemungutan pajak, penggunaan pajak yang

efektif dan efisien.

0. Fungsi redistribusi pendapatan

Pajak yang sudah dipungut oleh negara akan digunakan untuk membiayai

semua kepentingan umum, termasuk juga untuk membiayai pembangunan

sehingga dapat membuka kesempatan kerja, yang pada akhirnya akan dapat

meningkatkan pendapatan masyarakat.


10
2.1.2. Pembangunan

Pembangunan adalah rentetan berbagai perubahan yang mempunyai tujuan

tertentu. Pembangunan pada hakekatnya merupakan proses perubahan yang

berlangsung secara terus menerus yang merupakan kemajuan yang ingin dicapai.

Garis garis Besar Haluan Negara (GBHN) memberikan arahan yang jelas

mengenai makna dan hakekat pembangunan menurut pandangan bangsa

Indonesia.

Pembangunan secara umum diartikan sebagai suatu usaha untuk lebih

meningkatkan produktifitas sumber daya alam, sumber daya potensial yang

dimiliki oleh suatu negara berupa sumber daya alam sumber daya manusia

maupun sumber daya finansial. Dengan demikian pembangunan pada dasarnya

dapat dikatakan usaha dasar untuk mengubah masa lampau yang buruk menjadi

zaman baru yang lebih baik untuk mewariskan masa depan kepada generasi yang

akan datang.

Pembangunan dapat diartikan sebagai `suatu upaya terkoordinasi untuk

menciptakan alternatif yang lebih banyak secara sah kepada setiap warga negara

untuk memenuhi dan mencapai aspirasinya yang paling manusiawi (Nugroho dan

Rochmin Dahuri, 2004: 78).

Mengenai pengertian pembangunan, para ahli memberikan definisi yang

bermacam-macam seperti halnya perencanaan. Istilah pembangunan bisa saja

diartikan berbeda oleh satu orang dengan orang lain, daerah yang satu dengan

daerah lainnya, Negara satu dengan Negara lain. Namun secara umum ada suatu
11

kesepakatan bahwa pembangunan merupakan proses untuk melakukan perubahan

(Riyadi dan Deddy Supriyadi Bratakusumah, 2005: 275).

Pembangunan sering diartikan sebagai suatu upaya untuk melakukan perubahan

menjadi lebih baik. Karena perubahan yang dimaksud adalah menuju arah

peningkatan dari keadaan semula, tidak jarang pula ada yang mengasumsikan

bahwa pembangunan adalah juga pertumbuhan. Seiring de-ngan

perkembangannya hingga saat ini belum ditemukan adanya suatu kesepakatan

yang dapat menolak asumsi tersebut. Akan tetapi untuk dapat membedakan

keduanya tanpa harus memisahkan secara tegas batasannya, Siagian (1983:

241) dalam bukunya Administrasi Pembangunan mengemukakan,

Pembangunan sebagai suatu perubahan, mewujudkan suatu kondisi kehidupan

bernegara dan bermasyarakat yang lebih baik dari kondisi sekarang, sedangkan

pembangunan sebagai suatu pertumbuhan menunjukkan kemampuan suatu

kelompok untuk terus berkembang, baik secara kualitatif maupun kuantitatif dan

merupakan sesuatu yang mutlak harus terjadi dalam pembangunan.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pada dasarnya pembangunan tidak

dapat dipisahkan dari pertumbuhan, dalam arti bahwa pembangunan dapat

menyebabkan terjadinya pertumbuhan dan pertumbuhan akan terjadi sebagai

akibat adanya pembangunan. Dalam hal ini pertumbuhan dapat berupa

pengembangan/perluasan (expansion) atau peningkatan (improvement) dari

aktivitas yang dilakukan oleh suatu komunitas masyarakat.


12
2.2. Pengertian Pajak dan Pajak Daerah

2.2.1. Pengertian Pajak

Pajak adalah iuran wajib yang dipungut oleh pemerintah dari masyarakat (wajib

pajak) untuk menutupi pengeluaran rutin negara dan biaya pembangunan tanpa

balas jasa yang dapat ditunjuk secara langsung.

Pengetian pajak menurut beberapa ahli :

1. Prof Dr Adriani, pajak adalah iuran masyarakat kepada negara yang dapat

dipaksakan, yang terutang oleh wajib pajak membayarnya menurut

peraturan-peraturan umum (undang-undang) dengan tidak mendapat prestasi

kembali yang langsung dapat ditunjuk secara langsung. (Thomas Sumarsan,

2009 : 3)

2. Prof. DR. Rachmat Sumitro,SH., pajak adalah iuran rakyat kepada kas

negara (peralihan kekayaan dari kas rakyat ke sektor pemerintah berdasarkan

undang-undang) dapat dipaksakan dengan tiada mendapat jasa timbal (tegen

prestasi)yang langsung dapat ditunjukkan dan digunakan untuk membiayai

pengeluaran umum. (Mardiasmo, 2008 : 1)

3. Sommerfeld Ray M., Anderson Herschel M., dan Brock Horace R., pajak

adalah suatu pengalihan sumber dari sektor swasta ke sektor pemerintah,

bukan akibat pelanggaran hukum, namun wajib dilaksanakan, berdasarkan

ketentuan yang ditetapkan lebih dahulu, tanpa mendapat imbalan yang

langsung dan proporsional, agar pemerintah dapat melaksanakan tugas-

tugasnya untuk menjalankan pemerintahan. (Muqodim, 1999 : 1)


13

Dari definisi definisi tersebut dapat ditarik suatu kesimpulan tentang ciri-ciri yang

melekat pada pengertian pajak, sebagai berikut :

a. Iuran rakyat kepada negara, yang berhak memungut pajak hanyalah

negara/pemerintah, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.

b. Berdasarkan Undang Undang, pajak dipungut berdasarkan atau dengan

kekuatan Undang Undang serta aturan pelaksanaannya. Oleh karena itu

pemungutan pajak bisa dipaksakan. Sekalipun demikian walaupun negara

mempunyai hak untuk memungut pajak namun pelaksanaannya harus

memperoleh persetujuan dari rakyatnya melalui Undang Undang.

c. Tanpa jasa timbal atau kontra prestasi secara individual dari negara yang

secara langsung dapat ditunjuk, dalam arti bahwa jasa timbal atau kontra

prestasi yang diberikan oleh negara kepada rakyatnya tidak dapat

dihubungkan secara langsung dengan besarnya pajak.

d. Untuk membiayai pengeluaran pemerintah yang bersifat umum, pajak

diperuntukkan bagi pengeluaran rutin pemerintah. Dan jika masih surplus

digunakan untuk public saving dan public saving ini yang akan digunakan

untuk membiayai public invesment.

Dari ke-4 ( empat ) ciri tersebut diatas, ciri ke-2 ( dua ) merupakan ciri yang paling

menonjol dalam suatu negara modern karena pengalihan sumber-sumber

(resources) dari sektor swasta ke sektor pemerintah harus selalu berdasarkan

peraturan atau Undang Undang, yang mana peraturan atau Undang-Undang

tersebut telah mendapat persetujuan dari rakyat melalui wakil-wakilnya. Hal ini

telah memunculkan sebuah slogan di negara-negara maju bahwa dalam


14

pemungutan pajak berlaku istilah no taxation without representation yang

artinya tidak ada pajak tanpa persetujuan dari wakil rakyat.

Indonesia sebagai negara hukum telah menempatkan landasan pemungutan pajak

dalam Undang Undang Dasar nya, yaitu Pasal 23 ayat (2) UUD 1945 yang

berbunyi bahwa segala pajak untuk keperluan negara harus berdasarkan Undang

Undang. Hal ini dipertegas dalam penjelasan dari pasal 23 ayat (2) tersebut, yaitu

Betapa caranya rakyat sebagai bangsa akan hidup dan dari mana didapatnya

belanja buat hidup harus ditetapkan oleh rakyat itu sendiri, dengan perantaraan

Dewan Perwakilannya. Rakyat menentukan nasibnya sendiri, karena itu juga cara

hidupnya.

2.2.2. Pengertian Pajak Daerah

Menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan

Retribusi, Pajak Daerah adalah iuran wajib yang dilakukan oleh pribadi atau badan

kepada daerah tanpa imbalan langsung yang seimbang, dapat dipaksakan

berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku digunakan untuk

penyelenggaraan pemerintahan, dan pembangunan daerah.

Dengan demkian, pajak daerah merupakan pajak yang ditetapkan oleh pemerintah

daerah dengan peraturan daerah (Perda), yang wewenang pemungutannya

dilaksanakan oleh pemerintah daerah dan hasilnya digunakan untuk membiayai

pengeluaran pemerintah daerah dalam melaksanakan penyelenggaraan

pemerintahan dan pembangunan didaerah. Karena pemerintah daerah di Indonesia

terbagi menjadi dua, yaitu pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota,


15

maka wewenang pemungutannya ditetapkan oleh pemerintah daerah masing-

masing yang diatur dalam undang-undang.

Disamping pemungutan berbagai macam pajak, pemerintah masih dapat

kewenangan untuk malakukan berbagai pungutan lain, antara lain :

1. Retribusi, retribusi menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang

Pajak daerah dan Retribusi adalah pungutan daerah sebagai pembayaran atas

jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan/atau diberikan

oleh Pemerintah Daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan kepada

pemerintah daerah. Berbeda dengan pajak pusat seperti Pajak Penghasilan dan

Pajak Pertambahan Nilai yang dikelola oleh Direktorat Jenderal Pajak,

Retribusi yang dapat di sebut sebagai pajak Pajak Daerah dikelola oleh Dinas

Pendapatan Daerah (Dispenda).

Jenis Pos retribusi daerah dapat dikelompokan menjadi tiga yaitu :

a. Retribusi Jasa Umum

- Retribusi Pelayanan Kesehatan

- Retribusi Pelayanan Persampahan/Kebersihan

- Retribusi Penggantian Biaya Cetak Kartu Tanda Penduduk dan Akta

Catatan Sipil

- Retribusi Pelayanan Pemakaman dan Pengabuan Mayat

- Retribusi Pelayanan Parkir di Tepi Jalan Umum

- Retribusi Pelayanan Pasar

- Retribusi Pengujian Kendaraan Bermotor

- Retribusi Pemeriksaan Alat Pemadam Kebakaran

- Retribusi Penggantian Biaya Cetak Peta


16

- Retribusi Penyediaan dan/atau Penyedotan Kakus

- Retribusi Pengolahan Limbah Cair

- Retribusi Pelayanan Tera/Tera Ulang

- Retribusi Pelayanan Pendidikan

- Retribusi Pengendalian Menara Telekomunikasi

b. Retribusi Jasa Usaha

- Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah

- Retribusi Pasar Grosir dan/atau Pertokoan

- Retribusi Tempat Pelelangan

- Retribusi Terminal

- Retribusi Tempat Khusus Parkir

- Retribusi Tempat Penginapan/Pesanggrahan/Villa

- Retribusi Rumah Potong Hewan

- Retribusi Pelayanan Kepelabuhanan

- Retribusi Tempat Rekreasi dan Olahraga

- Retribusi Penyebranga di Air

- Retribusi Penjualan Produksi Usaha Daerah.

c. Retribusi Perizinan

- Retribusi Izin Mendirikan Bangunan

- Retribusi Izin Tempat Penjualan Minuman Beralkohol

- Retribusi Izin Gangguan

- Retribusi Izin Trayek

- Retribusi Izin Usaha Perikanan.


17

2. Sumbangan atau iuran yaitu pungutan yang dilakukan sehubungan dengan

sesuatu jasa atau fasilitas yang diberikan pemerintah secara langsung dan

nyata kepada sekelompok atau golongan pembayarnya atau golongan tertentu.

Misalnya : SWP3D (Sumbangan Wajib Pembangunan dan Pemeliharaan

Prasarana Daerah).

0. Cukai yaitu pungutan yang dikenakan atas barang-barang tertentu.

Misalnya : cukai terhadap tembakau, cukai gula, cukai bensin, cukai

minuman keras.

1. Bea Meterai yaitu pajak yang dikenakan atas dokumen dengan

menggunakan benda meterai ataupun cara lainnya (menggunakan mesin

teraan atau pemeteraian kemudian).

Sesuai Undang - Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan

Retribusi Daerah, berikut jenis-jenis Pajak Daerah:

1. Pajak Provinsi terdiri dari:

a. Pajak Kendaraan Bermotor;

b. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor;

c. Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor;

d. Pajak Air Permukaan; dan

e. Pajak Rokok.

2. Jenis Pajak Kabupaten/Kota terdiri atas:

a. Pajak Hotel;

b. Pajak Restoran;

c. Pajak Hiburan;
18

d. Pajak Reklame;

e. Pajak Penerangan Jalan;

f. Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan;

g. Pajak Parkir;

h. Pajak Air Tanah;

i. Pajak Sarang Burung Walet;

j. Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan; dan

k. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan.

Dari pengertian pajak daerah tersebut diatas maka dapat dimaknai bahwa pajak

daerah merupakan wewenang daerah yang diatur dalam undang-undang dan

hasilnya digunakan untuk membiayai rumah tangga daerah itu sendiri.

2.3. Sistem dan Dasar Hukum Perpajakan Daerah

2.3.1. Sistem Perpajakan Daerah

Perpajakan daerah adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan sistem dan

permasalahan pelaksanaan pajak-pajak. Masalah perpajakan dapat ditinjau dari

berbagai perspektif yaitu hukum, politik, sosial, ekonomi, administrasi dan

akuntansi. Namun, di banyak negara pada dasarnya perspektif yang digunakan

untuk melihat masalah perpajakan ada 2 (dua) yaitu perspektif hukum dan

perspektif ekonomi.

Pajak dari perspektif hukum menurut Soemitro (2003: 38) merupakan suatu

perikatan yang timbul karena adanya undang-undang yang menyebabkan

timbulnya kewajiban warga negara untuk menyetorkan sejumlah penghasilan


19

tertentu kepada negara, negara mempunyai kekuatan untuk memaksa dan uang

pajak tersebut harus dipergunakan untuk penyelenggaraan pemerintahan.

Perspektif ini juga sering disebut dengan aspek legalitas.

Pajak dari perspektif ekonomi dipahami sebagai beralihnya sumber daya dari

sektor privat kepada sektor publik. Pemahaman ini memberikan gambaran bahwa

adanya pajak menyebabkan dua situasi menjadi berubah. Pertama, berkurangya

kemampuan individu dalam menguasai sumber daya untuk kepentingan

penguasaan barang dan jasa. Kedua, bertambahnya kemampuan keuangan negara

dalam penyediaan barang dan jasa publik yang merupakan kebutuhan masyarakat.

Perspektif ini juga sering disebut pendekatan aspek keuangan daerah.

Sistem perpajakan daerah (tax system) adalah pola pelaksanaan perpajakan yang

terkoordinasi secara serasi meliputi tax policy, tax law, dan tax administration.

Ketiga faktor tersebut saling terkait satu dengan yang lainnya. Untuk mewujudkan

sistem perpajakan daerah yang baik dan sehat, maka ketiga faktor tersebut harus

berjalan secara seimbang dan harmonis (sinergis). Sehingga dalam pelaksanaannya

dapat menunjang penerimaan daerah.

Tax Policy adalah kebijakan mengenai perubahan sistem perpajakan yang berlaku

sesuai perkembangan, tujuan ekonomi, politik, dan sosial pemerintah. Tax policy

hanyalah merupakan bagian dari fiscal policy, misalnya tax reform yang dilakukan

tahun 1983. Adanya tax reform ini pemerintah mengharapkan terjadi peningkatan

penerimaan negara dari sektor pajak, dalam rangka untuk mencapai kemandirian

pembiayaan dan pembangunan negara dan bangsa.


20

Tax Reform pajak daerah merupakan bagian dari tax reform secara nasional, terjadi

pada tahun 1983. Karena pada tahun 1983 ini terjadi perubahan yang sangat

mendasar dari sistem perpajakan yang berlaku di Indonesia, dari official

assessment system (berlaku sampai dengan tahun 1984). Tujuan utama tax reform

adalah untuk meningkatkan penerimaan pajak dari sektor pajak, pajak untuk

menegakkan kemandirian dalam membiayai pembangunan nasional.

Upaya kebijakan pajak yang ditempuh menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun

2007 Tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, antara lain:

a. Penyederhanaan struktur perpajakan meliputi jenis, tarif dan tata cara

pembayaran.

b. Pemerataan pengenaan dan pembebanan pajak yang makin adil dan wajar.

c. Mengusahakan adanya kepastian hukum baik bagi wajib pajak maupun

fiskus.

d. Pembenahan aparatur perpajakan baik prosedur, tata kerja, disiplin,

penyelundupan maupun penyalahgunaan wewenang.

Tindak lanjut tax reform untuk pajak daerah terjadi di tahun 1997, yaitu ditandai

dengan dikeluarkan Undang-Undang No. 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan

Retribusi Daerah.

Sampai akhir tahun 1997, pungutan pajak daerah dan retribusi daerah masih

menggunakan Undang-Undang Pajak Undang-Undang Pajak Daerah No. 11

Darurat (Drt) 1957 dan Undang-Undang Retribusi Daerah No. 12 Darurat (Drt)

tahun 1957, untuk menyempurnakan Undang-Undang Pajak Daerah No. 11

Darurat (Drt) 1957 dan Undang-Undang Retribusi Daerah No. 12 Darurat (Drt)
21

tahun 1957, maka Pemerintah menyusun Undang-Undang Pajak Daerah dan

Retribusi Daerah, yaitu:

a. Undang-Undang No. 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi

Daerah.

b. Undang-Undang No. 34 Tahun 2000 yaitu perubahan Undang-Undang No.

18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.

c. Undang-Undang No. 28 Tahun 2009 yaitu perubahan Undang-Undang No.

34 Tahun 2000 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.

Pemungutan pajak daerah saat ini menggunakan tiga sistem pemungutan pajak,

sebagaimana dijelaskan berikut ini :

1. Official Assessment adalah sistem perpajakan dimana yang berperan aktif

dalam proses perpajakan adalah fiskus, fiskus yang mengatur, menghitung dan

menetapkan pajak dari suatu wajib pajak. Wajib pajak hanya menunggu

adanya surat perintah membayar pajak untuk membayar pajak. Sistem ini di

gunakan sebelum tax reform 1983.

2. Self Assessment adalah sistem perpajakan dimana wajib pajak diberikan

kepercayaan penuh untuk mendaftarkan, menghitung, dan melaporkan

pajaknya. Disini fiskus lebih pasif dan wp aktif. Sistem ini digunakan setelah

adanya tax reform 1983.

3. Witholding System, sistem ini sebenarnya hanyalah pembantu/melengkapi

proses-prose yang berada dalam self assessment. Dimana proses perpajakan

dipungun dan/atau dipotong oleh pihak ketiga misalnya bendahara.


22

2.3.2. Dasar Hukum Pajak Daerah

Dalam sistem dan struktur perpajakan daerah dan retribusi yang lama, dasar

hukum pemungutannya diatur dalam berbagai undang-undang/ordonansi, antara

lain:

a. Ordonansi Pajak Kendaraan Bermotor 1934;

b. Ordonansi Pajak Potong 1936;

c. Undang-undang Nomor 12 Tahun 1947 tentang Pajak Radio;

d. Undang-undang Nomor 14 Tahun 1947 tentang Pajak Pembangunan I;

e. Undang-undang Nomor 32 Tahun 1956 tentang Perimbangan Keuangan

antara Negara dan Daerah-Daerah yang berhak bengurus rumah rangganya

sendiri;

f. Undang-undang Nomor 11 Drt. Tahun 1957 tentang Peraturan Umum

Pajak Daerah;

g. Undang-undang Nomor 12 Drt. Tahun 1957 tentang Peraturan Umum

Retribusi Daerah;

h. Undang-undang Nomor 74 Tahun 1958 tentang Pajak Bangsa Asing;

i. Undang-undang Nomor 27 Prp. Tahun 1959 tentang Bea Balik Nama

Kendaraan Bermotor;

j. Undang-undang Nomor 10 Tahun 1968 tentang Penyerahan Pajak-Pajak

Negara, Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor, Pajak Bangsa Asing, dan

Pajak Radio kepada Daerah.

Peraturan perundang-undangan yang lama tersebut didasarkan pada situasi dan

kondisi pada waktu itu yang sudah sangat berbeda dengan keadaan sekarang,

dengan kemajuan di berbagai bidang dan lebih-lebih lagi peraturan perundang-


23

undangan tersebut tidak mungkin dapat menampung ataupun mengantisipasi

perkembangan sosial dan ekonomi masyarakat pada masa yang akan datang.

Dalam pembentukan Undang-undang tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah

ini, diperhatikan, diacu, dan dikaitkan dengan undang-undang lainnya, yaitu:

1. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana

(Lembaran Negara Tahun 1981 Nomor 76,Tambahan Lembaran Negara

Nomor 3209);

2. Undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata

Cara Perpajakan (Lembaran Negara Tahun 1983 Nomor 49, Tambahan

Lembaran Negara Nomor 3262) sebagaimana telah diubah dengan

Undangundang Nomor 9 Tahun 1994 (Lembaran Negara Tahun 1994 Nomor

59, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3566);

3. Undang-undang Nomor 17 Tahun 1997 tentang Badan Penyelesaian

Sengketa Pajak (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 40, Tambahan

Lembaran Negara Nomor 3684);

Untuk pelaksanaan pemungutan pajak daerah dan retribusi daerah, setiap daerah

provinsi dan kabupaten/kota menerbitkan peraturan daerah untuk masing-masing

pajak daerah dan retribusi daerah.

2.4. Prinsip dan Kriteria Perpajakan Daerah

Kemandirian suatu daerah sangat ditentukan oleh upaya daerah dalam menggali

dan meningkatkan sumber-sumber keuangan sendiri. Salah satu masalah yang

dihadapi daerah dalam meningkatkan Pendapatan Asli Daerah adalah kelemahan


24

dalam pengukuran atau penilaian atas pungutan daerah. Untuk mendukung upaya-

upaya peningkatan PAD perlu diadakan pengukuran atau penilaian dan penetapan

kriteria-kriteria penetapan sumber-sumber PAD khususnya pajak daerah dan

retribusi daerah agar dapat dipungut secara berkesinambungan tanpa

memperburuk alokasi faktor-faktor produksi dan keadilan.

Prinsip dan kriteria perpajakan daerah tidak jauh berbeda dengan kriteria pajak

secara umum, yang membedakan keduanya adalah pihak pemungutnya. Pajak

umum yang memungutnya adalah Pemerintah Pusat, sedangkan pajak daerah yang

memungutnya adalah Pemerintah Daerah.

Prinsip-prinsip umum perpajakan daerah pada dasarnya sama dengan sistem

perpajakan yang dianut oleh kebanyakan negara di dunia, yaitu harus memenuhi

kriteria umum tentang perpajakan (Sidik, 2002: 2), sebagai berikut :

1. Prinsip memberikan pendapatan yang cukup dan elastis, artinya dapat

mudah naik turun mengikuti naik/turunnya pendapatan masyarakat.

2. Adil dan merata secara vertikal artinya sesuai dengan tingkat kelompok

masyarakat sehingga tidak ada yang kebal pajak.

3. Administrasi yang fleksibel artinya sederhana, mudah dihitung, pelayanan

memuaskan bagi wajib pajak.

4. Secara politis dapat ditermia oleh masyarakat, sehingga timbul motivasi

dan kesadaran pribadi untuk membayar pajak.

5. Non-distorsi terhadap perekonomian : implikasi pajak atau pungutan yang

hanya menimbulkan pengaruh minimal terhadap perekonomian. Pada dasarnya

setiap pajak atau pungutan akan menimbulkan suatu beban baik bagi
25

konsumen maupun produsen. Jangan sampaisuatu pajak atau pungutan

menimbulkan beban tambahan (extra burden) yang berlebihan, sehingga akan

merugikan masyarakat serta menyeluruh (dead-weight loss).

Kriteria pajak daerah secara spesifik diuraikan oleh K.J. Davey (1988: 39) yang

terdiri dari 4 (empat) hal yaitu :

1. Pajak yang dipungut oleh pemerintah daerah berdasarkan pengaturan dari

daerah sendiri

2. Pajak yang dipungut berdasarkan peraturan pemerintah pusat tetapi

penetapan tarifnya dilakukan oleh pemerintah daerah

3. Pajak yang ditetapkan atau dipungut oleh pemerintah daerah

4. Pajak yang dipungut dan diadministrasikan oleh pemerintah pusat tetapi

hasil pungutannya diberikan kepada pemerintah daerah.

Dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 28 Tahun 2009 Tentang Pajak

Daerah dan Retribusi Daerah disebutkan kriteria-kriteria pajak daerah sebagai

berikut :

a. Bersifat pajak dan bukan retribusi, artinya bahwa pajak yang ditetapkan

harus sesuai dengan pengertian pajak.

b. Objek pajak terletak atau terdapat di wilayah Daerah Kabupaten/Kota

yang bersangkutan dan mempunyai mobilitas yang cukup rendah serta hanya

melayanai masyarakat di wilayah Daerah Kabupaten/Kota yang

bersangkutan.

c. Objek dan dasar pengenaan pajak tidak bertentangan dengan kepentingan

umum, artinya bahwa pajak tersebut dimaksudkan untuk kepentingan


26

bersama yang lebih luas anatara pemerintah dan masyarakat dengan

memperhatikan aspek ketentraman, dan kestabilan politik, ekonomi, sosial,

budaya, pertahanan dan keamanan.

d. Objek pajak bukan merupakan objek pajak propinsi dan/atau objek pajak

pusat.

e. Potensi memadai, artinta bahwa hasil pajak cukup besar sebagai salah satu

sumber pendapatan daerah dan laju pertumbuhannya diperkirakan sejalan

dengan laju pertumbuhan ekonomi daerah.

f. Tidak memberikan dampak ekonomi yang negatif, artinya bahwa pajak

tidak mengganggu alokasi sumber-sumber ekonomi secara efisien dan tidak

merintangi arus sumber daya ekonomi anat daerah maupun kegiatan ekspor

impor.

g. Memeperhatikan aspek keadilan dan kemampuan masyarakat, antara lain

objek dan subjek pajak harus jelas sehingga dapat diawasi pemungutannya,

jumlah pembayaran pajak dapat diperkirakan oleh wajib pajak yang

bersangkutan, dan tarif pajak ditetapkan dengan memperhatikan keadaan

wajib pajak. Sedangkan kemampuan masyarakat maksudnya adalah

kemampuan subjek pajak untuk memikul tambahan beban pajak.

h. Menjaga kelestarian lingkungan, artinya bahwa pajak harus bersifat netral

terhadap lingkungan, yang berarti pengenaan pajak tidah memberikan

peluang kepada pemerintah daerah dan masyarakat untuk merusak

lingkungan yang akan menjadi beban bagi pemerintah daerah dan

masyarakat.
BAB III
METODE PENELITIAN

Dalam menjawab permasalahan sebagaimana yang telah dikemukakan pada bab

terdahulu, maka dilakukan suatu penelitian yang pelaksanaannya menggunakan

cara-cara atau metode tertentu.

Penelitian hukum dapat dianggap sebagai penelitian ilmiah apabila memenuhi

kriteria berikut :

a. Didasarkan pada metode, sistematika, dan logika tertentu,

b. Bertujuan untuk mempelajari gejala hukum tertentu (data primer) dan data

sekunder,

c. Guna mencari solusi atas permasalahan yang timbul dari gejala yang

diteliti tersebut.

Penelitian hukum didasarkan pada metode, artinya semua kegiatan yang meliputi

persiapan penelitian, proses penelitian, dan hasil penelitian menggunakan cara-

cara yang secara umum diakui dan berlaku pada ilmu pengetahuan. (Abdulkadir

Muhammad, 2004: 32)

Adapun langkah-langkah yang penulis tempuh dalam melakukan penelitian ini

adalah sebagai berikut :


28

3.1. Pendekatan Masalah

Pendekatan masalah yang dipergunakan dalam penelitian ini menggunakan dua

cara yaitu :

1. Pendekatan normatif, yang dilakukan dengan cara mempelajari kaidah-

kaidah

hukum yang terdapat dalam buku-buku literarur, perundang-undangan yang

berlaku dan berhubungan dengan penelitian ini.

0. Pendekatan empiris, pendekatan yang dilakukan dengan cara melihat atau

memperhatikan peristiwa yang terjadi di lapangan.

3.2. Jenis dan Sumber Data

Penelitian merupakan aktivitas ilmiah yang sistematis, terarah dan bertujuan,

maka data yang dikumpulkan harus relevan dengan permasalahan yang

dihadapi.Data yang diperlukan dalam penelitian ini terdiri dari 2 (dua) jenis yaitu

sekunder dan primer, yang sumbernya masing-masing sebagai berikut :

a. Data Sekunder, yaitu data yang berupa bahan pustaka, buku-buku yang ada

hubungannya dengan permasalahan yang sedang penulis teliti.

b. Data primer, yaitu data lapangan yang dikumpulkan penulis secara

langsung dari pihak-pihak terkait dengan masalah yang diteliti.

3.3. Prosedur Pengumpulan dan Pengolahan Data

3.3.1. Prosedur Pengumpulan Data

Adapun alat pengumpulan data yang penulis pergunakan dalam penelitian ini

adalah sebagai beikut :

a. Studi pustaka, studi ini dilakukan untuk mendapatkan data sekunder, yang
dilakukan dengan jalan mempelajari, menelaah dan mengutip data dari
29

berbagai buku literatur dan peraturan perundang -undangan yang berlaku dan

mempunyai hubungan dengan masalah yang dibahas dalam penelitian ini.

b. Studi lapangan, studi ini dilakukan untuk mendapatkan data primer, dengan cara

observasi dan wawancara. Observasi dimaksud adalah pengamatan dan

pencatatan data yang diperlukan di lokasi penelitian. Sedangkan wawancara

adalah proses tanya jawab secara langsung dengan pihak-pihak terkait dalam

penelitian ini. Sebelum melakukan wawancara, terlebih dahulu dipersiapkan

daftar pertanyaan yang bersifat garis besar sebagai pedoman dalam melakukan

wawancara. Adapun pihak-pihak yang menjadi responden dalam wawancara

ini antara lain : Bapak Drs. Rusman Effendi, M.M. Sebagai Kepala Kantor

Pelayanan Pajak Pratama Kotabumi dan Bapak Iskandar Zulkarnain selaku

Kasubbag Umum dan Neliwati, S.E. selaku Sekretaris Dinas Pendapatan

Daerah (Dispenda) Kabupaten Lampung Utara.

3.3.2. Prosedur Pengolahan Data

Dari keseluruhan data yang telah terkumpul kemudian diperiksa kembali dengan

maksud untuk mengetahui apakah data-data yang diperlukan sudah lengkap dan

jelas dengan cara editing (pemeriksaan data), coding (penandaan data), dan

penyusunan data.

a. Editing atau pemeriksaan data, yaitu pembenaran apakah data yang

terkumpul melalui studi pustaka, dokumen, wawancara, dan koesioner sudah

dianggap lengkap, relevan, jelas tidak berlebihan dan tanpa kesalahan.

b. Coding atau penandaan data, yaitu pemberian tanda pada data yang

diperoleh, baik berupa penomoran ataupun pengguna tanda atau simbol atau
kata tertentu
30

yang menunjukkan golongan/kelompok/klasifikasi data menurut jenis dan

sumbernya, dengan tujuan untuk menyajikan data secara sempurna,

memudahkan rekonstruksi serta analisis data.

c. Penyusunan atau sistematisasi data yaitu kegiatan menabulasi secara sistematis

data yang sudah di edit dan diberi tanda itu dalam bentuk tabel-tabel yang

berisi angka-angka dan prosentase bila data itu kualitatif.

3.4. Analisis Data

Dari keseluruhan data yang telah diolah dari hasil studi kepustakaan dan studi

lapangan, maka kegiatan terakhir yang perlu dilakukan adalah menganalisis data.

Adapun analisis data yang penulis gunakan adalah analisis kualitatif yaitu dengan

cara menguraikan data dari hasil dilapangan, yang selanjutnya diadakan

pembahasan terhadap masalah yang diteliti, sehingga memudahkan untuk menarik

kesimpulan dalam menjawab permasalahan dalam penulisan ini.


BAB IV
PENYAJIAN DAN PEMBAHASAN

4.1. Gambaran Umum Objek Penelitian

4.1.1. Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Kotabumi

Penelitian dalam penyusunan skripsi ini dilakukan di Kantor Pelayanan Pajak

(KPP) Pratama Kotabumi. Berdasarkan hasil wawancara dengan responden, Bapak

Iskandar Zulkanain, Kasubbag Umum Kantor Pelayanan Pajak Pratama Kotabumi,

ada 8 (delapan) seksi di lingkungan KPP Pratama Kotabumi, 8 (delapan) seksi

tersebut adalah sebagai berikut :

1. Subbag Umum, bertugas mengkoordinasikan tugas pelayanan

kesekretariatan dengan cara mengatur kegiatan tata usaha dan kepegawaian,

keuangan, rumah tangga serta perlengkapan untuk menunjang kelancaran

tugas Kantor Pelayanan Pajak.

2. Pengolahan Data dan Informasi, bertugas mengkoordinasi pengumpulan,

pengolahan data, penyajian informasi perpajakan, perekaman dokumen

perpajakan, pelayanan dukungan teknis komputer, pemantauan aplikasi e-SPT

dan e-filling (electronic filling), serta penyiapan laporan kinerja.

3. Pelayanan Perpajakan, bertugas mengkoordinasikan penetapan dan

penerbitan produk hukum pajak, pengadministrasian dokumen dan berkas

perpajakan, penerimaan dan pengolahan surat dari wajib pajak langsung.


32

4. Penagihan, bertugas menatausahakan piutang pajak, penundaan dan

angsuran tunggakan pajak, melaksanakan proses penagihan aktif, usulan

penghapusan piutang pajak, serta penyimpanan dokumen-dokumen penagihan

sesuai ketentuan yang berlaku.

5. Pemeriksaan, bertugas melaksanakan penyusunan rencana pemeriksaan,

pengawasan pelaksanaan aturan pemeriksaan, penerbitan dan penyaluran

Surat Perintah Pemeriksaan Pajak serta administrasi pemeriksaan perpajakan

lainnya.

6. Ekstensifikasi Perpajakan, bertugas menyebarluaskan segala sesuatu yang

berhubungan dengan pajak keluar Kantor Pelayanan Pajak.

7. Pengawasan dan Konsultasi I, bertugas mengkoordinasikan pengawasan

kepatuhan kewajiban perpajakan wajib pajak, bimbingan/himbauan kepada

wajib pajak, dan konsultasi teknik perpajakan, penyusunan profil wajib pajak,

analisis kinerja wajib pajak, rekonsiliasi data wajib pajak dalam rangka

intensifikasi, dan evaluasi hasil banding berdasarkan ketentuan yang berlaku.

8. Pengawasan dan Konsultasi II, bertugas mengkoordinasikan pengawasan

kepatuhan kewajiban perpajakan wajib pajak, bimbingan/himbauan kepada

wajib pajak, dan konsultasi teknik perpajakan, penyusunan profil wajib pajak,

analisis kinerja wajib pajak, rekonsiliasi data wajib pajak dalam rangka

intensifikasi, dan evaluasi hasil banding berdasarkan ketentuan yang berlaku.

Berdasarkan wawancara dengan responden, Bapak Drs. Rusman Effendi, M.M.,

Kepala Kantor Pelayanan Pajak Pratama Kotabumi, didapatkan keterangan bahwa

KP2KP terdiri dari 3 (tiga) yaitu: KP2KP Liwa, KP2KP Menggala, KP2KP

Baradatu. Masing-masing Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi


33

Perpajakan tersebut, bertugas menyelenggarakan penyuluhan, sosialisasi, dan

pelayanan konsultasi perpajakan, pelayanan kepada masyarakat di bidang

perpajakan dalam wilayah kerjanya masing-masing, dalam rangka membantu

Kantor Pelayanan Pajak Pratama dan pengawasan kepatuhan kewajiban

perpajakan Wajib Pajak sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang

berlaku. Dengan adanya KP2KP ini diharapkan dapat menjadi perpanjangan

tangan Kantor Pelayanann Pajak Pratama Kotabumi dalam melaksanakan tugasnya

dibidang perpajakan.

4.1.2. Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) Kabupaten Lampung Utara

Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) Kabupaten Lampung Utara didirikan

berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Lampung Utara No. 21 Tahun 2011

sebagai pengganti Peraturan Daerah Kabupaten Lampung Utara No. 09 Tahun

2009 tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Perangkat Daerah, dengan

dasar evaluasi:

a. Peraturan Pemerintah No. 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat

Daerah;

b. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 56 Tahun 2010 tentang Petunjuk

Teknis Penataan Organisasi Perangkat Daerah.

Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan Dan Aset (DP2KA) menjadi Dinas

Pendapatan Daerah (Dispenda) dan Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset

(BPKA), dengan dasar evaluasi:

a. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 56 Tahun 2010 tentang Perubahan atas

Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 57 Tahun 2007 tentang Petunjuk Teknis
34

Penataan Organisasi Perangkat Daerah pada Lampirannya menyebutkan

bahwa adanya pelimpahan kewenangan dibidang perpajakan Bea Perolehan

Hak Atas dan Bangunan (BPHTB) sebagai Pajak Daerah dan Pajak Bumi dan

Bangunan (PBB) diserahkan pada Pemerintah Daerah.

b. Peraturan Bersama Menteri Keuangan dan Menteri Dalam Negeri No.

186/PMK.07/2010 No. 53 Tahun 2010 tentang Tahapan Persiapan Pengalihan

Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan sebagai pajak daerah.

Susunan Organisasi dan Tata Kerja Dispenda Kabupaten Lampung Utara,

berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Lampung Utara No. 21 Tahun 2011

tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Perangkat Daerah, maka dapat

terlihat, sebagaimana dalam gambar berikut.

Gambar 1. Struktur Organisasi Dispenda Kabupaten Lampung Utara.

KEPALA DINAS

Kelompok Jabatan Sekretaris


Fungsional Kasubag
Kasubag
Keuangan dan Perencanaan Kasubag
Perlengkapan Monitoring dan Umum dan
Evaluasi Kepegawaian

Bidang Bidang Bidang Bidang


Pendaftaran Penilaian dan Penagihan dan Pengendalian
dan Pendataan Penetapan Pembukuan dan Pengawasan

Seksi Pembukuan
Seksi Pendaftaran Seksi
dan Laporan
dan Pendataan Penilaian dan
Perhitungan
Seksi
Seksi Penetapan
Pengolahan Data
dan Penerbitan
dan Informasi

Seksi Penagihan
dan Tunggakan
Seksi Pengendalian dan keberatan Seksi Pengawasan dan Konsultasi

UPT
Sumber: Peraturan Derah Kabupatem Lampung Utara No. 21 Tahun 2011
35

Selama tahun anggaran 2012 keadaan dan jumlah pegawai Dispenda Kabupaten

Lampung Utara terdiri dari 48 orang dengan Golongan/Ruang dan pangkat serta

pendidikan berbeda-beda, yang disajikan pada table 1 dan 2.

Tabel 1. Keadaan Pegawai Dispenda Kabupaten Lampung Utara Tahun 2012

No. Pangkat Golongan Jumlah


1. Pembina IV/c 1
2. Pembina Muda IV/a 5
3. Pembina Tk I III/d 4
4. Penata III/c 3
5. Penata Muda Tk I III/b 6
6. Penata Muda III/a 4
7. Pengatur Tk I II/d -
8. Pengatur II/c 4
9. Pengatur Muda Tk I II/b 6
10. Pengatur Muda II/a 11
11. Juru Tk I I/d -
12. Juru I/c -
13. Juru Muda Tk I I/b -
14. Juru Muda I/a -
15. THL - 2
16. TKS - -
Jumlah 48
(Sumber: Dispenda Kabupaten Lampung Utara,Tahun 2012)

Tabel 2. Keadaan Pegawai Dispenda Kabupaten Lampung Utara Menurut


Pendidikan Tahun 2012

No. Jenjang Jurusan Jumlah


1. Pasca Sarjana Megister Hukum 2
Megister Manajemen 3
2. Sarjana Sarjana Hukum 3
Sarjana Ekonomi 11
Sarjana Komputer 1
Sarjana Ilmu Politik 1
3. Sarjana Muda Akuntansi/Manajemen 2
4. SMA - 25
5. SMP - -
Jumlah 48

(Sumber: Dispenda Kabupaten Lampung Utara, Tahun 2012)


36

Berdasarkan Pasal 56 Peraturan Daerah Kabupaten Lampung Utara No. 21 Tahun

2011 Dinas Pendapatan Daerah mempunyai tugas melaksanakan urusan

pemerintah dibidang pendapatan. Untuk melaksanakan tugas sebagaimana

dimaksud dalam pasal 56, Dinas Pendapatan Daerah menyelenggarakan fungsi:

a. Perumusan kebijakan teknis perencanaan, pemanfaatan, pembinaan,

b. Pengawasan dan pengendalian dibidang pendapatan;

c. Pemberian dukungan atas penyelenggaraan pemerintahan daerah dibidang

pendapatan daerah;

d. Pembinaan dan pelaksanaan tugas dibidang pendapatan daerah;

e. Pengkoordinasian pendapatan daerah; dan

f. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh bupati sesuai dengan tugas dan

fungsinya.

4.2. Pelaksanaan Perolehan Pajak dan Retribusi Daerah

4.2.1. Hasil Pelaksanaan Perolehan Pajak dan Retribusi Daerah di Kabupaten


Lampung Utara

Hasil Penerimaan perolehan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah di Kabupaten

Lampung Utara dapat dilihat berdasarkan jenis pungutan yang akan ditampilkan,

yaitu :

1) Hasil realisasi penerimaan Pajak Daerah Kabupaten Lampung Utara Tahun 2010 s/d

2011 adalah sebagaimana tampak pada tabel berikut ini :


37

Tabel 3. Realisasi Penerimaan Pajak Daerah di Kabupaten Lampung Utara Tahun


2010

Target Realisasi Sisa


No. Jenis Penerimaan %
(Rp.) (Rp.) (Rp.)

1. Pajak Hotel 18.670.000 18.855.000 (185.000) 100,99

2. Pajak Restoran 42.030.000 53.660.000 (11.630.000) 127,67


3. Pajak Hiburan
5.000.000 4.200.000 800.000 84,00

4. Pajak Reklame 163.003.636 174.615.641 (11.612.005) 107,12


5. Pajak Penerangan
Jalan 5.020.000.000 4.198.787.225 821.212.745 83,64

6. Pajak Pengambilan
Bahan Galian
Golongan C 485.000.000 282.789.170 202.210.830 58,31
7. Pajak Bumi dan
Bangunan
Perdesaan dan (16.361.831.89
Perkotaan 26.631.918.472 28.582.837.941 0) 107,33
8. Bea Perolehan Hak
Atas Tanah dan
Bangunan (BPHTB) 5.396.383.674 1.862.756.275 5.327.131.964 34,52

JUMLAH 37.762.005.782 35.178.501.252 93,15

Sumber: Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Lampung Utara, 2012.

Realisasi Pajak Daerah untuk tahun 2010 adalah sebesar Rp. 35.178.501.252,-

kurang dari target sebesar Rp.2.583.504.530,- dari yang telah ditetapkan sebesar

Rp. 37.762.005.782,-, sehingga pencapaian target hanyalah sebesar 93,15%. Hal

ini terjadi dikarenakan menurut Sekretaris Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda)

Neliwati, S.E., penerimaan Pajak Daerah yang dapat mencapai target pada tahun

2010 hanya Pajak Hotel sebesar Rp.18.855.000,- dengan persentase 100,99%,

Pajak Restoran Rp.53.660.000,- dengan persentase 127,67%, Pajak Bumi dan

Bangunan Perdesaan dan Perkotaan 28.582.837.941,- dengan persentase 107,33%,

sehingga pencapaian target hanyalah sebesar 93,15%, dan yang tidak mencapai

target pada tahun 2010 adalah Pajak Hiburan Rp.4.200.000,- dari target
38

Rp.5.000.000.,- atau 84,00 kurang dari target sebesar Rp.800,000,- atau 26,00%,

hal ini dikarenakan potensi pajak hiburan yang menurun, Pajak Penerangan Jalan

Rp.4.198.787.225,- dari target Rp.5.020.000.000.,- atau 83,64 kurang dari target

sebesar Rp.821.212.745,- atau 16,36%, kurangnya target pada Pajak Penerangan

Jalan dikarenakan pada tahun 2010 banyak terdapat fasilitas yang tidak berfungsi,

Pajak Pengambilan Bahan Galian Gol. C Rp.282.789.170,- dari target

Rp.485.000.000.,- atau 58,31% kurang dari target sebesar Rp.202.210.830,- atau

41,69%, dikarenakan pada tahun 2010 mengalami penurunan potensi Pajak

Pengambilan Bahan Gol. C dan BPHTB Rp.1.862.756.275,- dari target

Rp.5.396.383.674.,- atau 34,52% kurang dari target sebesar Rp.202.210.830,- atau

65,48%, hal ini dikarenakan Pemerintah Kabupaten Lampung Utara belum bisa

menggali potensi BPHTB.


39

Tabel 4. Realisasi Penerimaan Pajak Daerah di Kabupaten Lampung Utara Tahun


2011

Target Realisasi Sisa


No. Jenis Penerimaan %
(Rp.) (Rp.) (Rp.)

1. Pajak Hotel 18.210.000 17.610.000 600.000 96,70

2. Pajak Restoran 42.030.000 50.740.000 (2.710.000) 120,72


3. Pajak Hiburan 5.000.000 2.000.000 3.000.000 49,09
4. Pajak Reklame 143.003.496 179.845.266 (27.841.670) 117,08

5. Pajak Penerangan
Jalan 5.700.000.000 5.599.264.754 140.735.206 97,53

6. Pajak Pengambilan
Bahan Galian
Golongan C 50.000.000 31.797.867 18.202.133 63,00
7. Pajak Air Bawah
Tanah 49.835.000 92.822.981 (42.987.981) 186,39
8. Pajak Air Bawah
Permukaan 25.977.000 25.977.000 -
9. Pajak Parkir
Kendaraan` 112.920.000 75.610.000 37.310.000 66,96

1 Pajak Sarang
0. Burung Walet 23.000.000 48.995.000 (17.995.000) 178,24
1 Pajak Bumi dan
1. Bangunan Perdesaan
dan Perkotaan 29.705.890.586 27.099.312.407 2.606.578.179 91,23

1 Bea Perolehan Hak


2. Atas Tanah dan
Bangunan (BPHTB) 200.000.000 5.086.373.095 (4.886.373.095) 2543

JUMLAH 36.075.866.082 38.284.371.370 106,12

Sumber: Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Lampung Utara, 2012.

Realisasi Pajak Daerah untuk tahun 2011 adalah sebesar Rp. 38.284.371.370.-,

malampaui target sebesar Rp.2.208.505.288,- dari yang telah ditetapkan sebesar

Rp. 36.075.866.082,-, sehingga pencapaian target seluruhnya adalah mencapai

106,12%, Dikarenakan penerimaan Pajak Daerah yang dapat mencapai target pada

tahun 2011 hanya Pajak Restoran sebesar Rp50.740.000,- dengan persentase

120,72%, Pajak Reklame Rp.179.845.226,- dengan persentase 117,08%, Pajak Air

Bawah Tanah Rp.92.822.981,- dengan persentase 186,39%, Pajak Sarang Burung


40

Walet Rp.48.995.000,- dengan persentase 178,24%, BPHTB Rp. 5.086.373.095,-

dengan persentase 2543%, sehingga pencapaian target hanyalah sebesar 106,12%,

dan yang tidak mencapai target pada tahun 2011 adalah Pajak Hotel

Rp.17.610.000,- dari target Rp.18.210.000,- atau 96,70%, kurang dari target

sebesar Rp.600.000,- atau 3,3% dikarenakan kurangnya pengunjung hotel dari

tahun sebelumnya, Pajak Hiburan Rp.2.000.000,- dari target Rp.5.000.000.,- atau

49,09% kurang dari target sebesar Rp.3.000.000,- atau 50,91%, hal ini

dikarenakan potensi pajak hiburan yang menurun dan kurangnya kegiatan hiburan

yang sifatnya insidentil, Pajak Penerangan Jalan Rp.5.599.264.754,- dari target

Rp.5.700.000.000.,- atau 97,53% kurang dari target sebesar Rp. 140.735.206,-atau

2,47%, kurangnya target pada Pajak Penerangan Jalan dikarenakan pada tahun

2011 banyak terdapat fasilitas yang tidak berfungsi, Pajak Pengambilan Bahan

Galian Gol. C Rp.31.797.867,- dari target Rp.31.797.867,- atau 63,00% kurang

dari target sebesar Rp.18.202.133,- atau 37,00%, dikarenakan pada tahun 2011

mengalami penurunan potensi Pajak Pengambilan Bahan Gol. C, Pajak Parkir

Kendaraan Rp.75.610.000,- dari target Rp.112.920.000 atau 66,96% kurang dari

target sebesar Rp.37.310.000,- atau 33,94%, hal ini dikarenakan pada tahun 2011

Pemerintah Kabupaten Lampung Utara belum bisa menggali potensi Pajak Parkir

Kendaraan, Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan

Rp.27.099.312.407,- dari target Rp.29.705.890.586,- atau 91,23% kurang dari

target 2.606.578.179 atau 8,77%, hal ini dikarenakan belum bisa menggali potensi

Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan.

Penjelasan mengenai pendapatan yang tidak mencapai target pada Tabel 3 dan 4

yaitu mengenai Realisasi Pajak Hiburan hal ini disebabkan oleh :


41

a. Menurunnya tingkat perekonomian masyarakat.

b. Rendahnya tingkat kunjungan.

c. Kurangnya kegiatan hiburan yang bersifat insidentil.

2) Hasil penerimaan pemungutan yang bersumber dari Retribusi Daerah dapat

dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 5. Realisasi Penerimaan Retribusi Daerah Kabupaten Lampung Utara


Tahun 2010

Target Realisasi Sisa


No. Jenis Penerimaan %
(Rp.) (Rp.) (Rp.)

A. Retribusi Jasa Umum 2.339.934.750 1.736.281.935 603.652.815 74,20


1. Ret. Pelayanan
Kesehatan 1.641.914.750 971.456.435 670.458.315 59,17
2. Ret. Pelayanan
Persampahan/Kebersihan 25.000.000 16.550.000 8.450.000 66,20
3. Ret. Penggantian Biaya
KTP ,KK, dan Akte 307.500.000 452.650.000 (145.150.000) 348
4. Ret. Parkir ditepi jalan
umum 80.020.000 68.950.000 11.070.000 86,17
5. Ret. Pasar 132.000.000 79.545.000 52.455.000 60,26
6. Ret. Pengujian
Kendaraan Bermotor 93.500.000 115.922.500 (22.422..500) 123,98
7. Sewa Rumah Dinas
Guru - - - -
8. Ret. Keamanan Pasar 60.000.000 31.208.000 28.792.000 52,01

B. Retribusi Jasa Usaha 978.850.000 1.063.570.765 (84.720.765) 108,66


1. Sewa Gedung Pusiban 7.000.000 6.719.002 280.998 95,99
2. Sewa Alat alat berat 36.000.000 36.225.000 (225.000) 100,63
3. Ret. Terminal 63.500.000 43.150.000 20.350.000 67,95
4. Ret. Tempat Parkir
Khusus 16.500.000 38.500.000 (22.000.000) 233,33
5. Ret. Rumah Potong
Hewan 8.250.000 7.300.000 950.000 88,48
6. Ret. Tempat Olah Raga - - - -
7. Ret. Tempat Rekreasi - - - -
8. Ret. Izin Usaha
Angkutan 40.000.000 26.904.500 13.095.500 67,26
42

9. Sewa Toko 240.000.000 190.469.080 49.530.920 79,36


10 Sewa Los 36.000.000 30.890.000 5.110.000 85,81
.
11 Sewa Auning 6.000.000 2.268.000 3.732.000 37,80
.
12 Ret. Kayu Hasil Hutan
. Rakyat 419.600.000 495.200.483 (25.600.483) 118,02
13 Ret. Izin penghasilan
. Hutan Ikutan 101.000.000 176.444.700 (75.444.700) 174,70
14 Stadion Sukung
. Kotabumi (Sewa GOR) 2.000.000 6.500.000 (4.500.000) 325,00
15 Ret. Penjualan Produksi
. Usaha Daerah - - - -
16 Penjualan BBU Tanjung
. Raja Sri Menanti 3.000.000 3.000.000 - 100,00
17 Ret. Rumah Makan - - - -
.
18 Ret. Izin Pemakaian
. Jalan - - - -
19 Bagi Hasil Jamsostek - - - -
.
20 Sumbangan Pengadaan
. Gabah/ Beras - - - -
C. Retribusi Perizinan
455.480.864 546.360.336 (90.879.472) 119,95
Tertentu
1. Ret. Izin Mendirikan
Bangunan (IMB) 90.880.000 218.882.075 (128.002.075) 240,84
2. Ret. Izin Gangguan 180.600.864 190.357.081 (9.756.217) 105,40
3. Ret. Izin Trayek 55.000.000 27.800.000 27.200.000 50,55
4. Ret. Izin Berjualan - - - -
5. Ret. Sarang Burung
Walet 23.000.000 36.147.520 (13.147.520) 157,16
6. Penjualan Bibit
Perkebunan - - - -
7. Ret. Izin Industri dan
Perdagangan 93.000.000 55.093.660 37.906.340 59,24
8. Lain-lain Dinas
Perhubungan 7.000.000 2.880.000 4.120.000 41,14
9. Cicilan Penjualan Toko/
Los - - - -
10 Penerimaan WC Umum 6.000.000 4.200.000 1.800.000 70,00
.
11 Sawit - 11.000.000 (11.000.000) -
.
JUMLAH
3.774.265.614 3.346.213.036 88,66
KESELURUHAN
Sumber: Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Lampung Utara, 2012.
43

Dari Tabel 5 terlihat realisasi Retribusi Daerah untuk tahun 2010 adalah sebesar

Rp. 3.346.213.036 kurang dari target APBD sebesar Rp. 428.052.578,- dari yang

telah ditetapkan sebesar Rp. 3.774.265.614,-, sehingga pencapaian realisasi

penerimaan Retribusi Daerah adalah sebesar 88,66 %.

Penjelasan mengenai pendapatan yang kurang dari 80 % dari target adalah sebagai

berikut :

1. Realisasi Retribusi Izin Trayek sebesar Rp. 27.800.000.- dari target

Rp.55.000.000,- atau 50,55% kurang dari target sebesar Rp.27.200.000,- atau

49,45% hal ini disebabkan kurangnya kesadaran masyarakat dalam membayar

retribusi izin.

2. Realisasi Retribusi Terminal sebesar Rp. 43.150.000,- dari target

Rp.63.500.000,- atau 67,95% kurang dari target sebesar Rp.20.350.000,- atau

32,05%. Hal ini disebabkan oleh kurangnya kendaraan yang menggunakan

terminal.

Tabel 6. Realisasi Penerimaan Retribusi Daerah Kabupaten Lampung Utara Tahun


2011

No. Target Realisasi Sisa %


Jenis Penerimaan (Rp.) (Rp.) (Rp.)
A. Retribusi Jasa Umum 2.102.230.750 2.474.248.728 (372.017.978) 117,69
1. Ret. Pelayanan
Kesehatan 1.354.870.750 1.704.797.728 (146.462.738) 125,82
2. Ret. Pelayanan
Persampahan/Kebersihan 25.000.000 25.530.000 (530.000) 102,12
3. Ret. Penggantian Biaya
KTP, KK dan Akte 307.500.000 399.040.000 91.540.000 129,77
4. Retribusi Parkir ditepi
jalan umum 111.560.000 89.560.000 22.000.000 80,27
5. Ret. Pelayanan Pasar
(Ret..Pasar,Keamanan,
Sewa WC) 198.000.000 136.827.000 61.173.000 69,19
44

6. Ret. Pengujian
Kendaraan Bermotor 105.300.000 118.494.000 (13.194.000) 112,53
7. Sewa Rumah Dinas
Guru - - - -
B. Retribusi Jasa Usaha 401.250.000 383.986.568 17.263.432 95,69
1. Sewa Ged Pusiban (Ret.
Pemakaian Kekayaan
Daerah ) 7.000.000 7.500.000 (500.000) 107,14
2. Sewa Alat alat berat
(Ret. Pemakaian
Kekayaan Daerah ) 36.000.000 38.700.000 (2.700.000) 107,59
3. Ret. Terminal 53.000.000 33.900.000 19.100.000 63,96
4. Ret. Tempat Parkir
Khusus - - - -
5. Ret. Rumah Potong
Hewan 8.250.000 8.300.000 (50.000) 100,61
6. Ret. Tempat Rekreasi
dan Olah Raga 10.000.000 7.500.000 2.500.000 75,00
7. Ret. Izin Usaha
Angkutan - - - -
8. Sewa Toko 240.000.000 252.199.688 (12.199.688) 105,08
9. Sewa Los 36.000.000 27.000.000 9.000.000 75,00
1 Sewa Auning 6.000.000 3.386.880 2.613.120 56,45
0.
1 Ret. Kayu Hasil Hutan
1. Hutan Rakyat - - - -
1 Ret. Izin penghasilan
2. Hutan Ikutan - - - -
1 Sewa GOR dan Stadion
3. Sukung Kotabumi 2.000.000 2.500.000 (500.000) 125,00
1 Ret. Penjualan Produksi
4. Usaha Daerah - - - -
1 Ret. BBU Padi
5. Srimenanti Tanjung Raja 3.000.000 3.000.000 - 100,00
1 Ret. Rumah Makan - - - -
6.
1 Ret. Izin Pemakaian
7. Jalan - - - -
1 Bagi Hasil Jamsostek - - - -
8.
1 Sumbangan Pengadaan
9. Gabah/ Beras - - - -
45

C. Retribusi Perizinan
251.300.000 667.574.683 (416.274.683) 265,64
Tertentu
1. Ret. Izin Mendirikan
Bangunan (IMB) 115.800.000 326.768.300 (210.968.300) 282,18
2. Ret. Izin Gangguan 80.500.000 244.356.483 (163.856.483) 303,55
3. Ret. Izin Trayek 30.000.000 30.850.000 (850.000) 102,83
4. Ret. Izin Berjualan - - - -
5. Penjualan Bibit
Perkebunan - - - -
6. Ret. Izin Industri dan
Perdagangan - 36.349.900 (36.349.900) -
7. Lain-lain Dinas
Perhubungan - - - -
8. Penerimaan 25.000.000 29.250.000 (4.250.000 117,00
9. Cicilan Penjualan Toko/
Los - - - -
1 Penerimaan WC Umum
0.
JUMLAH
2.754.780.750 3.525.809.979 127,98
KESELURUHAN
Sumber: Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Lampung Utara, 2012.

Dari Tabel 6 terlihat realisasi Retribusi Daerah untuk tahun 2011 adalah sebesar

Rp. 3.525.809.979.- melampaui target sebesar Rp. 771.029.229,- dari yang telah

ditetapkan sebesar Rp. 2.754.780.750,-, sehingga pencapaian realisasi penerimaan

Retribusi Daerah adalah sebesar 127,98%.

Penjelasan mengenai pendapatan yang kurang dari 80 % dari target adalah sebagai

berikut :

1. Realisasi Retribusi Pelayanan Pasar sebesar Rp.136.827.000.- dari target

Rp.198.000.000,- atau 69,19% kurang dari target sebesar Rp. 61.173.000,-

atau 30,81 % hal ini disebabkan belum semua kios di Pasar terjual.

2. Realisasi Retribusi Tempat Rekreasi dan Olahraga sebesar Rp. 7.500.000,-

dari target Rp.10.00.000,- atau 75% kurang dari target sebesar Rp.2.500.000,-
46

atau 25 %. Hal ini disebabkan oleh kurangnya masyarakat mengunjungi

tempat Rekreasi atau wisata dan kurangnya menggunakan tempat olahraga.

Untuk mengatasi hal tersebut perlu diambil suatu kebijakan oleh Pemerintah

Daerah Kabupaten Lampung Utara dalam rangka peningkatan penerimaan daerah

yaitu melalui :

1. Penyuluhan kepada wajib Pajak / Retribusi.

2. Peningkatan Tertib Administrasi.

3. Pendataan obyek pajak dan retribusi yang meliputi seluruh wilayah

Kabupaten Lampung Utara.

4. Intensifikasi pemungutan.

5. Peningkatan Pengawasan pelaksanaan pemungutan.

6. Peningkatan koordinasi dengan semua unit pengelola pendapatan daerah.

Adapun hasil komulatif realisasi penerimaan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah di

Kabupaten Lampung Utara Tahun 2010-2011 adalah seperti terlihat pada tabel di

bawah ini.

Tabel 7. Realisasi Hasil Penerimaan Pajak dan Retribusi Daerah di Kabupaten


Lampung Utara Tahun 2010-2011

Realisasi Hasil Penerimaan


Tahun Jumlah
Pajak Daerah Retribusi Daerah
2010 35.178.501.252 3.346.213.036 38.524.714.288

2011 38.284.371.370 3.525.809.979 41.810.181.349


Sumber Data Sekunder : Dinas Pendapatan Daerah : Data diolah

Pada Tabel 7 menunjukkan bahwa penerimaan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah

dari tahun ke tahun terjadi peningkatan secara signifikan, ini berarti bahwa
47

Pemerintah Daerah Kabupaten Lampung Utara selalu berusaha meningkatkan

Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang bersumber dari Pajak dan Retribusi Daerah

dengan cara menambah obyek retribusi dan melakukan revisi terhadap bebarapa

Peraturan Daerah tentang Pajak & Retribusi Daerah.

4.2.2. Faktor yang menghambat dalam pelaksanaan perolehan Pajak dan Retribusi
Daerah

Hambatan yang selalu timbul dalam pelaksanaan perolehan pajak dan retribusi

daerah dalam suatu sistem perpajakan adalah kesulitan menciptakan sistem yang

dapat menghasilkan suatu pengertian yang baik antara masyarakat sebagai

pembayar pajak dan pemerintah selaku pembuat undang-undang dan peraturan

perpajakan. Pemerintah selaku fiskus pajak merencanakan dan menggodok

undang-undang perpajakan atas dasar dan prinsip perpajakan yang seadil-adilnya,

yang memliki nilai dan manfaat bagi masyarakat maupun bagi negara itu sendiri.

Dalam melaksanakan tugasnya selaku perancang dan pembuat undang-undang

perpajakan, pemerintah harus membuat peraturan itu sedemikian rupa sehingga

mudah dimengerti. Jika produk peraturan yang dibuat sulit dimengerti oleh

masyarakat, otomatis akan timbul suatu bentuk perlawanan pajak, yang cara

bentuk dan dalihnya bisa bermacam-macam.

Mengamati secara umum tentang hambatan mengenai pemungutan pajak daerah

dan retribusi daerah dapat diprediksikan dan diungkapkan melalui pemikiran

secara universal, yakni:

1. Tentang tarif pemungutan pajak daerah dan retribusi daerah seperti dalam

Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Perubahan Atas Undang-


48

Undang Nomor 34 Tahun 2000 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah pada

Pasal 3 ayat (1) huruf e sampai k, dengan tarif sebagai berikut :

a. Pajak Hotel 10 %.
b. Pajak Retoran 10 %
c. Pajak Hiburan 15 %
d. Pajak Reklame 25 %
e. Pajak Penerangan Jalan 10 %
f. Pajak Pengambilan
dan Pengolahan Bahan Gol C 20 %
g. P a j a k P a r k i r 2 0 % .

Sedangkan tarif retribusi berdasarkan pasal 21 Undang-Undang Nomor 28

Tahun 2009 besarnya tidak ditentukan, tetapi berdasarkan kepada prinsif dan

sasaran penetapan tarif.

2. Tentang tanggung jawab (accountability) pemerintah daerah dalam mengelola

dan memanfaatkan pajak daerah dan retribusi daerah. Pajak daerah dan

retribusi daerah dipungut berdasarkan penetapan Kepala Daerah dengan

menggunakan Surat Ketetapan Pajak Daerah (SKPD) dan Surat Ketetapan

Retribusi Daerah (SKRD), atau dokumen lain yang dipersamakan. Untuk

melakukan pembayaran pajak daerah menggunakan Surat Setoran Pajak

Daerah (SSPD) dan untuk retribusi daerah menggunakan Surat Setoran

Retribusi Daerah (SSRD), pembayaran dilakukan pada Kantor Pos atau Bank

Persepsi, Bank umum yang ditunjuk oleh Bendahara Umum Negara (BUN)/

Kuasa BUN untuk menerima setoran penerimaan negara bukan pajak dalam

rangka ekspor dan impor yang meliputi penerimaan pajak, cukai dalam negeri

dan penerimaan bukan pajak). Jika wajib pajak dan wajib retribusi tidak

membayar akan ditagih dengan menggunakan Surat Tagihan Pajak Daerah

(STPD) dan Surat Tagihan Retribusi Daerah (STRD).


49

Disisi lain hambatan-hambatan terhadap pemungutan pajak dapat dikelompokkan

menjadi :

1. Perlawanan pasif.

Masyarakat enggan (pasif) membayar pajak, yang dapat disebabkan antara lain:

a. Perkembangan intelektual dan moral masyarakat

b. Sistem perpajakan yang mungkin sulit dipahami masyarakat

c. Sistem kontrol tidak dapat dilakukan atau dilaksanakan dengan baik

2. Perlawanan aktif

Perlawanan aktif meliputi semua usaha dan perbuatan yang secara langsung

ditujukan kepada fiskus dengan tujuan untuk menghindari pajak. Bentuknya

antara lain :

a. Tax avoidance, usaha meringankan beban pajak dengan tidak


melanggar undang undang.
b. Tax evasion, usaha meringankan beban pajak dengan cara
melanggar undang-undang (menggelapkan pajak).

Sebelum menguraikan dan mengungkapkan serta menganalisis data yang

diperoleh melalui penelitian, terlebih dahulu diketengahkan hubungan antara

konsep teori dan analisis penelitian mengenai permasalahan nomor 1 pada bab I

poin 1.2.1. sebagaimana tampak pada tabel dibawah ini :


50

Tabel 8. Hubungan Teori dan Analisis Penelitian Mengenai Hambatan Pelaksanaan


Perolehan Pajak dan Retribusi Daerah

Rumusan
Persoalan Teori yang
Permasalah Data Penelitian
Potensial digunakan
n
Faktor-faktor Terdapat beberapa faktor hambatan Tentang Teori kesadaran
yang menjadi tekhnis dalam bentuk: kesiapan sanksi, hukum/budaya
hambatan (kuantitatif/kualitatif) penyesuaian hukum.
dalam para fiskus, dokumentasi tentang tarif dan Satjipto Rahardjo
pelaksanaan obyek dan subjek pajak, sarana dan kinerja (1980:144), Lili
perolehan pajak prasarana pendukung, persoalan aparat Rasjidi dan I.B
dan retribusi internal obyek pajak (kesadaran, birokrasi Wyasa Putra
daerah kesiapan, waktu yang tepat), yang lemah (1993; 114) L.M
kondisi geografis dll Friedman (1969;27-
30).
Sumber : Data Penelitian diolah

Dari tabel di atas dapat dijelaskan permasalahan tentang faktor-faktor yang menjadi

hambatan dalam pelaksanaan perolehan pajak dan retribusi daerah di Kabupaten

Lampung Utara. Ditemukan sesuai dengan data penelitian dimana terdapat

beberapa faktor kendala teknis dalam bentuk kesiapan (kuantitatif/ kualitatif) para

fiskus, dokumentasi tentang subjek dan obyek pajak, sarana dan prasarana

pendukung, persoalan internal obyek pajak (kesadaran, kesiapan waktu yang tepat).

Bila dianalisis dengan menggunakan teori kesadaran/budaya hukum oleh Satjipto

Rahardjo (1980: 144) diketahui bahwa terdapat persoalan potensial mengenai

sanksi, penyesuaian tarif dan kinerja aparat birokrasi yang lemah.

Hasil penelitian melalaui wawancara (22 Juni 2012) terhadap Sekretaris Dinas

Pendapatan Daerah (Dispenda) Kabupaten Lampung Utara, Neliwati, S.E.,

kendala-kendala yang dihadapi Pemerintah daerah khususnya Dinas Pendapatan

Daerah Kabupaten Lampung Utara dalam melakukan pemungutan pajak dan

retribusi daerah yang secara teknis dapat diungkap antara lain :


51

1. Tentang sanksi, sering terdapat kendala untuk menerapkan sanksi pada

wajib pajak dan wajib retribusi yang sekarang hanya dilakukan dengan

menyampaikan surat teguran/ peringatan saja.

2. Penyesuaian tarif, yang kadangkala membingungkan masyarakat sebagai

wajib pajak dan wajib retribusi yang tidak pernah diberitahu sebelumnya

tentang penyesuaian tarif terutama bagi masyarakat dipedesaan.

3. Kurangnya kesadaran wajib pajak daerah dan retribusi daerah.

4. Kemampuan dan keterampilan pegawai yang belum merata.

5. Pengolahan data yang belum tertata secara baik.

6. Pemahaman pegawai terhadap tata kerja dan prosedur belum merata.

7. Jabatan struktural sebagian belum terisi.

8. Sarana mobilitas yang belum memadai.

Usaha-usaha dalam rangka mengatasi atau paling tidak mengurangi hambatan-

hambatan sebagaimana tersebut diatas perlu dilakukan langkah-langkah

antisipatif sebagai berikut :

1. Meningkatkan kesadaran wajib pajak dengan memberikan informasi yang

seluas luasnya kepada masyarakat melalui berbagai media antara lain spanduk,

dan papan himbauan serta siaran radio.

2. Mengupayakan peningkatan kompetensi SDM aparatur.

3. Melakukan pendataan baik pajak daerah maupun retribusi daerah serta

membantu pendataan PBB.

4. Memelihara base data pajak daerah dan retribusi daerah.

5. Melakukan monitoring dan pengawasan serta penagihan kepada wajib

pajak baik pajak daerah maupun retribusi daerah serta pajak PBB.
52

6. Mengusulkan pengisian jabatan yang lowong sesuai struktur organisasi.

7. Memantapkan koordinasi dan konsultasi baik sesama unit kerja perangkat

daerah maupun dengan pemerintah propinsi.

8. Mengupayakan pemenuhan sarana mobilitas.

9. Mengupayakan revisi/perubahan terhadap perangkat hukum yang melandasi

berbagai pungutan daerah yang telah ada dan mengupayakan adanya pungutan

daerah yang baru.

4.3. Kontribusi Pajak dan Retribusi Daerah untuk Pembangunan Daerah

Kontribusi hasil penerimaan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah terhadap

Pendapatan Asli Daerah (PAD) dalam anggaran Pendapatan Daerah dan Anggaran

Belanja Daerah dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 9. Kontribusi Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Terhadap Anggaran


Pendapatan Asli Daerah (PAD)
Realisasi Hasil
Realisasi Pendapatan Penerimaan
Tahun %
Asli Daerah (PAD) Pajak dan Retribusi Daerah
2010 42.044.652.526 38.524.714.288 91,63

2011 57.134.961.036 41.810.181.349 73,18


Sumber Data Sekunder : Dinas Pendapatan Daerah : Data diolah

Tabel 9 tersebut di tampilkan kontribusi pajak dan retribusi daerah terhadap hasil

penerimaan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Pada tahun 2010 kontribusi pajak dan

retribusi daerah terhadap PAD adalah sebesar 91,63 %, ini berarti 8,37 %

Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebagian besar diperoleh dari Hasil Pengelolaan

Kekayaan Daerah yang di pisahkan dan lain-lain PAD yang sah, dan pada tahun

2011 kontribusi pajak dan retribusi daerah terhadap PAD adalah sebesar 73,18%
5

3 ini berarti 26,82 % Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebagian besar diperoleh dari

Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang di pisahkan dan lain-lain PAD yang

sah.

Pada tahun 2010 Realisasi Pendapatan Daerah (PAD) sebesar

Rp.42.044.652.526,-, dan Realisasi hasil Penerimaan Pajak dan Retribusi Daerah

Rp.38.524.714.288,- mencapai 91,43% sangat besar terhadap penerimaan

Pendapatan Asli Daerah (PAD), namun demikian pada tahun 2011 Realisasi

Pendapatan Daerah (PAD) sebesar Rp. 57.134.961.036,-, dan Realisasi hasil

Penerimaan Pajak dan Retribusi Daerah Rp. 41.810.181.349,- mencapai 73,18%

mengalami penurunan persentase dari tahun 2010 sebagaimana terlihat pada

tabel di atas.
BAB V
PENUTUP

5.1. Simpulan

Berdasarkan uraian pada bab-bab sebelumnya, maka dapat diambil beberapa

simpulan yang merupakan jawaban terhadap permasalahan yang telah disusun

yaitu :

1. Berdasarkan hasil penelitian di lapangan bahwa masih terdapat hambatan

dalam pelaksanaan perolehan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah antara lain:

Kurangnya kesadaran wajib Pajak Daerah dan Retribusi Daerah dalam

melakukan pembayaran Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, Kemampuan

dan keterampilan pegawai yang belum merata.

2. Jelaslah bahwa Pajak Daerah dan Retribusi Daerah mempunyai peranan

dalam pelaksanaan Pembangunan Daerah, karena hasil penerimaan dari Pajak

Daerah dan Retribusi Daerah di Kabupaten Lampung Utara Provinsi

Lampung seluruhnya dipergunakan untuk membiayai penyelenggaraan daerah

dan menunjang pelaksanaan Pembangunan Daerah. Namun demikian

kontribusi pajak dan retribusi daerah terhadap Anggaran Pendapatan dan

Belanja Daerah masih sangat kecil yaitu masih di bawah + 10 % dari realisasi

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Lampung Utara.


55
5.2. Saran - Saran

Guna lebih meningkatkan penerimaan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah yang

pada akhirnya mempunyai peranan yang sangat penting terhadap Pembangunan

Daerah di Kabupaten Lampung Utara, maka berdasarkan hasil penelitian dapat

diajukan beberapa saran sebagai berikut :

1. Pemerintah Daerah Kabupaten Lampung Utara Perlu meningkatkan

kembali sosialisasi Peraturan Daerah mengenai Pajak Daerah dan Retribusi

Daerah melalui media massa dan elektronika dalam menjelaskan fungsi dan

peran Pajak Daerah dan Retribusi Daerah terhadap pelaksanaan Pembangunan

Daerah yang intinya akan meningkatkan kesadaran para wajib pajak dan

retribusi dalam melakukan pembayaran Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.

2. Memberi peringatan dan teguran kepada instansi terkait yang menangani

pemungutan Retribusi Daerah karena menurut hasil penelitan penulis ada

beberapa Peraturan Daerah mengenai Retribusi Daerah yang belum disetor

kepada Kas Daerah, padahal menurut ketentuan setelah 6 bulan Peraturan

Daerah tersebut dikeluarkan, bagi wajib Retribusi yang tidak mengindahkan

akan dikenakan tindakan baik pidana maupun denda. contoh: Perda tentang

Retribusi Izin Pengelolaan dan Pengusahaan Burung Walet, Perda tentang

Retribusi Izin usaha Balai Pengobatan, Rumah Bersalin dan Izin Usaha

Laboratorium Klinik Swasta dan lain-lain.

3. Pemerintah Daerah kabupaten Lampung Utara perlu melakukan kebijakan

pajak (Fiscal Policy) terhadap para investor dengan cara memberikan

insentif/rangsangan berupa pembebasan pajak (Tax Holiday) atau

pengurangan pajak yang nantinya diharapkan banyak investor asing yang


56

akan menanamkan modalnya terutama di daerah kawasan wisata yang

menurut pemantauan peneliti sangat besar potensinya dalam menggali

pendapatan daerah melalui retribusi daerah yang setiap tahun pada hari libur

dan hari-hari tertentu (seperti liburan Idul Firi, Natal dan Tahun Baru)

antusias pengunjung sangat besar tentunya hal ini akan berdampak dalam

peningkatan pendapatan dalam rangka menunjang pelaksanaan

pembangunan daerah.
DAFTAR PUSTAKA

Arsyad, Lincolin. 2005. Pengantar Perencanaan Pembangunan Daerah.

Brotodiharjo, Santoso R, Pengantar Ilmu Hukum Pajak

Davey, K.J. 1988. Pembiayaan Pemerintah Daerah. UI Press. Jakarta.

Iwan Nugroho dan Rokhmin Dahuri. 2004. Pembangunan Wilayah: Perspektif


ekonomi, sosial dan lingkungan. Penerbit Pustaka LP3ES Jakarta.

Komarudin, 1994. Ensiklopedia Manajemen

Kunarjo. 1993. Perencanaan dan Pembiayaan Pembangunan Daerah. Universitas


Indonesia. Jakarta.

Mardiasmo, 2008. Perpajakan, Penerbit Andi, Yogyakarta.

Muhammad, Abdulkadir. 2004. Hukum dan Penelitian Hukum. Bandung, PT. Citra
Aditia Bakti

Muqodim, 1999. Perpajakan Buku Satu. Edisi Revisi : UII Press dan Ekonesia.
Yogyakarta.

Nano Hanafi, Buku Saku Perpajakan Indonesia, Jakarta, 2004.

Nugroho dan Rochmin Dahuri, 2004. Pembangunan Wilayah, Perspektif,


Ekonomi, Sosial dan Lingkungan. LP3ES. Jakarta.

Poerwodarminto, W.J.S. 2001. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Balai Pustaka.


Jakarta.

Riyadi dan Deddy Supriyadi Bratakusumah, 2005. Perencanaan Pembangunan


Daerah. PT.Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Rochmat Soemitro, 1990, Asas dan Dasar Perpajakan 1, PT. Eresco, Bandung.

Siagian, 1983. Administrasi Pembangunan. PT. Gunung Agung. Jakarta.

Siahaan, Marihot p, 2005. Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah Edisi 1, PT. Raja
Grafindo Persada, Jakarta.

Sidik, Machmut, 2002. Strategi Meningkatkan Kemampuan Keuangan Daerah


Melalui Penggalian Potensi Daerah Dalam Rangka Otonomi Daerah,
Bandung, Makalah Seminar.
Soerjono Soekanto, 2003. Sosiologi Suatu Pengantar. PT. Raja Grafindo Persada.
Jakarta

Soemitro, 2003. Asas-asas Perpajakan, PT. Eresco. Bandung.

STIH Muhammadiyah Kotabumi. 2003. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah.

Thomas Sumarsan, 2009. Perpajakan Indonesia. Esia Media. Jakarta

Tunggal, Hadi Setia. 1999, Tanya Jawab : Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah,
penerbit Harvarind, Jakarta.

Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983, Pajak Penghasilan

Waluyo dan Wirawan, 2002. Perpajakan Indonesia : Pembahasan sesuai dengan


ketentuan pelaksanaan Perundang-undangan Perpajakan, Jakarta.
LAMPIRAN-LAMPIRAN