Anda di halaman 1dari 15

ZONASI NANOPLANTOK OLEH MARTINI (1971)

Disusun Oleh Kelompok 1 :

Andrean Dwiki 111.130.206


Holy Chrisnanda 111.130
Megasari
Linda M
M. S. Irfandie
Andy F
Matheus Vito

BISTRATIGRAFI A

PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI


FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONALVETERAN
YOGYAKARTA
2016

1. TEORI DASAR BIOSTRATIGRAFI


Biostratigrafi merupakan cabang ilmu stratigrafi yang berkaitan dengan studi
paleontologi pad batuan sedimen.berbagai macam fosil dapat ditemukan dalam batuan sedimen
yang diendapkan pada lingkungan yang berbeda. Tujuan dari analisis biostratigrafi adalah
penentuan umur relatif pada batuan sedimen, peentuan lingkungan pengendapan, paleoekologi,
paleotemperatur, paleomorfologi, analisis cekungan dan sebagai penunjuk dalam penentuan
horizon marker untuk korelasi stratigrafi.

Biostratigrafi dapat berperan dalam menginterpretasi stratigrafi sekuen karena dalam


menginterpretasi sebuah sekuen diperlukan pemahaman akan hubungan stratigrafi, umur dan
fasies. Dimana fasies itu sendiri merupakan suatu tubuh batuan yang memiliki karakteristik
litologi yang sama secara fisik, biologi dan kimia.

Satuan dasar dalam biostratigrafi yadalah zona, yang merupakan suatu lapisan tubuh batuan
yang dicirikan oleh kandungan fosilnya yang terdiri dari satu tasin atau lebih dapat dibagi lagi
menjadi satuan yang lebih kecil disebut dengan sub-zona. Batas batas dari suatu zona tidak
dapat ditentukan oleh luas atau tebalnya penyebaran tubuh batuan, namun bedasarkan
kandungan fossilnya. Mikro makro fosil yang umum digunaan untuk analisis biostratigrafi
antara lain foraminifera, nannofossil, spora, polen, ostracoda, diatom radiolaria, moluska,
dinoflagelata, coral, algae, dan poifera. Zona itu sendiri dapat dikelompokan menjadi 4 tipe,
yaitu :

1. Zona kumpulan (assemblage Zone)


Lapisan batuan dicirkan oleh kumpulan fosil yang khas yang dapat dibedakan dalam
sifat biosratigrafinya dengan lapisan yang berbatasan
2. Zona Kisaran (Range Zone)
Lapisan batuan yang dicirikan oleh kisaran total setiap unsur yang terpilih dari
keseluruhan fosil dalam urutan stratigrafinya.
3. Zona Puncak (Abundant Zone)
Lapisan Batuan yang dicirikan oleh adanya perkembangan maksimum suatu takson
tertentu.
4. Zona Selang (Interval Zone)
Selang startigrafi antar dua horizon biostratigrafi yang merupakan kemunculan awal
atau kemunculan akhir dari suatu takson-takson penciri.

1. NANNOFOSSIL/NANNOPLANKTON
Kalkareus nannoplankton atau ada juga peneliti yang menyebut sebagai nannofosil
merupakan salah satu mikrofosil yang penting dalam studi biostratigrafi, ini merupakan sisa-
sisa dari coccolithophore. Coccolithophore adalah organisme bersel satu dan eukariotik
fitoplankton (alga) yang hidup di laut. Mereka adalah tumbuhan yang sangat membutuhkan
sinar matahari untuk berfotosintesis sehingga merupakan organisme yang hiduip terapung di
dekat permukaan (planktonik). Organisme ini merupakan salah satu produsen/sumber
makanan dalam rantai makanan di laut.

Alga ini membuat plat kalsit yang melingkupi tubuh sel alga (coccolith) yang akan
dilepaskan dan akan jatuh ke dasar laut. Komponen utama dari coccoliths berupa kalsium
karbonat, karena sifatnya yang transparan,sehingga kegiatan fotosintesis nannoplankton ini
tidak akan terganggu oleh proses enkapsulasi dan membentuk exoskeleton. Fungsi dari
exoskeleton dapat membantu proses fotosintesis, sebagai pelindung dari faktor lingkungan dan
kemungkinan menambah berat sehingga alga dapat turun ke bawah yang mempunyai lebih
banyak nutrisi.

Kalkareus nannofossil merupakan indikator umur sedimen yang paling tepat untuk
batuan sedimen laut mulai dari umur Jura (205 juta tahun) sampai dengan resen karena evolusi
yang cepat dan distribusi geografis yang luas. Kemunculan awal/FAD dan kemunculan
akhir/LAD untuk spesies nannofosil biasanya terjadi pada horison yang sama secara global dan
akurasi dari umur sedimennya kurang lebih bisa sampai satu juta tahun. Dalam oceanografi
dapat juga digunakan sebagai penentu suhu lingkungan dan arus laut purba.

Seperti namanya kalkareus nannofossils berukuran kecil, umumnya kurang


dari 30 mikron dan biasanya antara 5 dan 10 mikron (individu coccoliths). Nannofossil
ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan dari nannofossil meliputi:
Pengawetan yang baik, karena berukuran kecil sehingga tidak terlalu terpengaruh pada
proses mekanik sedimentasi.
Penyebaran geografis yang luas, hidup pada zona fotik di hampir semua lingkungan laut.
Jumlah yang sangat banyak nannofossil dapat ditemukan dalam batuan sedimen yang
sedikit.

Kekurangan dari nannofossi adalah :


Sangat terpengaruh oleh faktor CCD (Carbonat Compensation Depth) sehingga tidak
terawetkan dalam baik di laut lebih dalam..
Karena berukuran sangat kecil sangat mudah untuk terjadi kontaminasi dalam preparasi
nannofossil.
BIOGRAFI MARTINI MASUKIN DISINI

BIOZONASI MARTINI 1971

Nannofossils planktonik Kenozoikum (nannoplantkton) zona biostratigrafi telah dipelajari oleh


Hays, et al (1967), Bramlette & Wilcoxon (1967), Martini (1971), Bukry (1973) dan Okada &
Bukry (1980). Standar Biozonasi nanofossil oleh martini merupakan biozonasi yang paling
popler di indonesia. 25 zona nannoplankton pada paleogen diberikan nomor NP.1 to NP25 dan
21 zona nannoplankton pada Neogene Quarter diberi nomo NN1 to NN21 yang menjadi
standar zonasi Calcareous pada Tersier Quarter. Martini dan Okada&Bukry membuat zonasi
nannoplankton bedasarkan kejadian Stratigrafi yang sama.

Martini, dalam standard Palaeogene calcareous nanno-plankton zonation 1971


membagi zona zona nannoplankton bedasarkan kemunculan awal dan kemunculan akhir, zona
kumpulan dan penamaan umur nya (NN, NP) mengacu pada Geologic Time Scale.

Standar zonasi oleh Martini (1971) dan zonasi oleh Okada & Bukry (1980) sekarang
sudah digunakan selama beberapa dekade dan terbukti sangat berguna di berbagai daera dnan
untuk korelasi antara daerah. Zonasi oleh Martini biasanya digunakan sebagai dasar acuan
karena telah dipergunakan secara menyeluruh namun beberapa marker species tidak ditemukan
pada kumpulan laut terbuka, maka dari itu zonasi okada &bukry memberikan hasil yang lebih
baik.

Cretaceous/Tertiary Boundary

Terjadi perubahan besar pada kumpulan nannofossil gampingan pada Cretaceous/


Tertiary boundary yang di catat dan diilurstrasikan pertama kali oleh Martini. Kumpulan
Keragaman pada zaman kapur menghilang secara tiba tiba dan setelah ribuan taun setelah
terjadi kepunahan pada batas, telah tergantikan oleh beberapa spesies yang merupakan
perkembangan dari spesies yang masih bertahan dari batas kapur.

PALEOCENE
Paleocen adalah waktu yang cepat terjadinya evolusi setelah kepunahan yang terjadi
pada batas kapur. Bedasarkan asumsi, semua kandungan nanofosil yang terdapat pada paleocen
berasal dari kapur akhir. Semua batas zona bedasarkan kemunculan awal, terkadang beberapa
genus, ataupun kemunculan spesies tertua dari genus yang masih teridentifikasi.
Table.1 Pembagian Biozonasi Peleocene Kuarter Oleh Okada & Bukry 1980 dengan
Martini 1971
NP1

NP2 Cruciplacolithus tenius Zone

Umur : paleocene awal (awal Danian)


Korelasi : Cruciplacolithus tenius Subzone, CP1b (Okada & Bukry)
Remarks : merupakan batas bawah dari NP3 dan batas atas dari NP1. Dan pada zona
ini, fosil yang dijadikan sebagai marker adaah Cruciplacolithus edwardsii

NP3 Chiasmolithus danicus Zone

Umur : Paleocene Awal (akhir Danian)


Korelasi : Chiasmolithus danicus zone CP2 dari Okada & Bukry
Remarks : merupakan batas bawah dari NP4, batas atasnya adalah kemunculan awal
E. Macellus yang mana mudah untuk diidentifikasi. Chiasmolithus danicus
merupakan mark species dari zona ini

NP 4 Ellipsolithus Marcellus Zone

Umur : Paleocene Awal (akhir Danian)


Korelasi : Ellipsolithus Marcellus Zone CP3 dari Okada & Bukry
Remarks : merupakan batas bawah dari NP5, batas atasnya adalah kemunculan awal
E. Macellus, kemunculan awal seperti E.distichus muncul setelahnya yang
mana keduanya ditemukan bersamaan dan dijadikan sebagai marker species
oleh beberapa peneliti.

NP 5 Fasciculithus tympaniformis Zone


Umur : Paleocene akhir
Korelasi : Fasciculithus tympaniformis Zoone CP4 dari Okada & Bukry
Remarks : merupakan batas bawah dari NP6. Beberapa spesies baru dari genus
Fasciculithus dan berhubungan dengan perkembangannya seperti
Heloplithus dan Bomolithus hadir sebelum kemunculan awal dari H.
Kleinpellii

NP6 Heliolithus kleinpellii Zone


Umur : Paleocene akhir
Korelasi : Heliolithus kleinpellii Zone CP5 dari Okada & Bukry
Remarks : merupakan batas bawah dari NP7. Setelah evoluisi dari H.kleinpellii
beberapa kali, menjadi awal mula kemunculan awal dari Discoaster
bramlettei pada bagian atas zona dan kemunculan awal dari Dicoaster
mohleri pada zona berikutnya.

NP 7 Discoaster mohleri Zone


Umur : Paleocene akhir
Korelasi : Discoaster mohleri Zone CP6 dari Okada & Bukry
Remarks : merupakan batas bawah dari NP8. Kemunculan awal dari H.riedelii secara
keseluruhan tidak dijadikan sebagai marker event karena pada beberapa
section tidak dijumpai H.riedelii yang seharusnya terdapat kehadirannya.
Kemunculan awal Discoaster nobilis yang terjadi pada waktu yang
bersamaan, di rujuk sebagai marker antara kemunculan awal D.mohleri dan
kemunculan awal D.multiradiatus. atara kedua spesies ini tersebar secara
luas dan mudah untuk dikelani.

NP 8 Heliolithus riedelli / Discoaster nobilis Zone


Umur : Paleocene akhir
Korelasi : Discoaster nobilis Zone CP7 dari Okada & Bukry
Remarks : merupakan batas bawah dari NP9. NP8 sering kali menyatu ddengan NP 7
di beberapa section dimana H.riedelii tidak ditemukan. Beberapa species
baru dari genus Discoaster berkembang pada rentan waktu ini. Sebelum
kemunculan awal D.multiradiatus

NP 9 Discoaster multiradiatus Zone


Umur : Paleocene akhir
Korelasi : Discoaster multiradiatus Zone CP8 dengan subzona CP8a Chiasmolithus
bidens dan CP8b Campylosphaera eodela dari Okada & Bukry
Remarks : difinisi dari batas atas NP 9 berbeda dengan batas ata dari CP8 walaupun
difinisi secara keseluruhan sama. Pada CP8 terdapat subzone. Pada NP 9
beberapa spesies dari genus Rhomboaster berkembang dan dapat dijadikan
marker pada selang subzone tersebut.
PALEOCENE/ EOCENE BOUNDARY

Batas dari Paleocene Eocene dalam nanofosil gampingan biasanya berhubungan


dengan batas atas NP9/CP8 yang mana berkaitan dengan kemunculan Pseudihatigerina
diantara Foraminifera Plankton. Beberapa Genus hilang di dekat batas paleocene seperti
Fasciculithus, Hornibrookina, Placozygus, Rhomboaster, Frasciculithus hilang sekitar 0,8 m.y
sebelum batas NP.9/NP10 berakhir.

EOCENE
Keragaman kembali meningkat selama awal Eocene namun pada tengah Ecoene banyak
spesies menghilang dan hanya beberepa saja yangmuncul sebagai sisa dari Eocene. Demikan
pula dengan kemunculan awal dan kemunculan akhir juga tehlah didefinisikan sebagai batas
zona dan subzona. Pada awal Eocene, Tribrachiatus muncul sebagai marker yang baik diikuti
oleh Discoaster, nannotetrina, Chiasmolithus, Isthmolius dan Sphenolitus.

NP10 Tribrachiatus contortus Zone


Umur : Awal Eocene
Korelasi : Tribrachiatus contortus subZone CP9a dari Okada & Bukry
Remarks : difinisi dari batas atas NP 11.pada zona ini di berbeberapa cection dimana
T.contortus sangat jarang dan kemunculan akhir sulit ditemukan,
kemunculan awal dari Tribrachiatus orthostylus dapat digunakan sebagai
rujukan mengenai batas NP10/NP11.
NP 11 Discoaster binodosus Zone
Umur : Awal Eocene
Korelasi : Discoaster binodosus subZone CP9b dari Okada & Bukry
Remarks : Discoaster binodosus mungkin hadir atau tidak hadir pada zona ini yang
mana ditunjukan oleh marker spesies yang ada di atas ataupun bawah zona.
NP 12 Tribrachiatus orthostylus Zone
Umur : Awal Eocene
Korelasi : Tribrachiatus orthostylus Zone CP10 dari Okada & Bukry
Remarks : bercampurnya D.lodensis dan T.orthostyhes mudah untuk dikenali pada
kumpulan yang dipengaruhi disolsi tetapi sangat sulit untuk dikenali bila
kumpulan dipengaruhi oleh pertumbuhan yang sangat cepat. Dimana
D.lodensis dan T.orthostyhes sulit untuk di identifikasi.
NP 13 Discoaster lodoensis Zone
Umur : Awal Eocene
Korelasi : Discoaster lodoensis CP11 dari Okada & Bukry
Remarks : batas bawah dari zona ini merupakan zona NP12. Jumlah tangan Discoaster
lodensis menurun dari 8 hingga 5-7 beriringan dengan kemunculan awal
D.sublodensis.

NP 14 Discoaster sublodoensis Zone


Umur : Eocene tengah
Korelasi : Discoaster sublodoensis CP12 dari Okada & Bukry
Remarks : Discoaster lodensis D.sublodensis saling bercampur pada bagian bawah
zona dan kemunculan awal R.inflata digunakan untuk bats penentuan CP12a
dan CP12b. Pada bagian atas zona terkadang dibatasi dengan kemunculan
awal N.fulgen.

NP 15 Nannotetrina fulgens Zona


Umur : Eocene tengah
Korelasi : markers dari NP15 dan CP13 adalah sama atau berhubungan kemudian
ekuivalen
Remarks : di banyak section, N.fulgens tidak representativ bagi Nannotetrina untuk
muncul. Dan juga lebih jarang dari spesies lainnya seperti N.cristata, yang
telah berkembang. Dalam pertumbuhannya kesamaan genus Nannotetrina
masih dapat dikenali dan dijadikan sebagai marker walaupun sering
spesiesnya tidak dapat dibedakan.

NP 16 Discoaster tanii nodifer Zona


Umur : Eocene tengah
Korelasi : Discoaster bifaz Subzone, CP14a dari Okada & Bukry, sesuai dengan
penyebaran NP16 namun memiliki perbedaan batas pspesies.
Remarks : merupakan batas atas dari NP 15, NP16 merupakan salah satu zona dari
Eocene tengah yang dapat didefinisikan namun sulit untuk digunakan.
Marker pada zona ini sering tidak dijumpai dan sedikit yang dapat digunakan
untuk penentuan zonasi.
NP 17 Discoaster saipanensis Zona
Umur : Eocene tengah
Korelasi : Discoaster saipanensis subZone CP14b dari Okada & Bukry sesuai dengan
penyebaran NP16 namun memiliki perbedaan batas spesies
Remarks : Discoaster saipanensis Zona sulit untuk diidentifikasi di daerah lintang yang
rendah (daerah tropis) dimana genus Chiasmolithus sangat jarang atau sering
tidak hadir pada zona kumpulannya.

NP 18 Chiasmolithus oasmaruensis Zone


Umur : Eocene akhir
Korelasi : Chiasmolithus oasmaruensis subZone CP15a dari Okada & Bukry. Yang
memiliki perbedaan definisi subzone dimana kemunculaan akhir dari
C.grandis atau kemunculan awal C.oamaruensis kemunculan awal
I.recurus
Remarks :C.oamaruenis Zone salah satu zona yang sulit di kenali pada daerah tropis
karena Chaismolithus dan Isthmolithus sangat jarang diteukan atau lebih
sering tidak hadir.

NP 19 Isthmolithus recurvus Zone


Umur : Eocene akhir
Korelasi : bagian bawah dari Isthmolithus subzone CP15b dari Okada & Bukry (1980).
Remarks : sebagai salah satu zona eocen akhir, I.recurvus Zone salah satu zona yang
sulit di kenali pada daerah tropis. Kemunculan awal S.pseudiradians tidak
bisa digunakan sebagai marker dan martini (1976) mengajukan combinasi
NP19/NP20 pada garis equatorial Pacific

N20 Sphenolithus pseudoradians Zone


Umur : Eocene akhir
Korelasi : bagian atas dari Isthmolithus recurvus Subzone CP15 Okada & Bukry
(1980)
Remarks : seperti zona pada eocene akkhir lainnya, S.pseudoradians tidak dapat
diandalkan sebagai marker NP19 dan NP20 seharsnya tidak dibedakan.
EOCEN/OLIGOCENE BOUNDARY

Batas dari Eocene/Oligocene pada nannofosil gampingan tergambarkan pada bagian atas
NP20/CP15 yang dijelaskan oleh keterdapatan kemunculan akhir D.barbadiensis dan
D.saipanensis. kejadian ini sedikit lebih awal dari hilangnya foraminifera plankton genus
Hantkenina.

OLIGOCENE
Tingkat keragaman spesies relatif rendah pada kebanyakan sampel Oligocen. Beberapa spesies
Eocene hilang pada bagian bawah Oligocene, dan juga spesies Sphenoliths baru muncul di
bagian atas. Tidak ada bentuk cd Discoaster yang ditemukan, dan juga Discoaster daflandrei,
D.tanii nodifer dan D.tanni sajalah genus Discoaster yang hadir.

NP21
NP22
NP23
NP24
NP25
NN1
NN2
NN3
NN4
NN5
NN6
NN7
NN8
NN9
NN 10 Discoaster calcaris Zone
Umur : Miocene akhir
Korelasi : Discoaster neohamatus Zone (CN8) dari Okada & Bukry (1980)
Remarks : C.calyculus menghilang di bagian atas zona NN10, biasanya terjadi setelah
kemunculan akhir dari C.coalitus. Okada&Bukry membagi zona ini menjadi
2 subzone yaitu CN8a &CN8b. kemunculan awal dari D.mendomobensis
didfeinisikan manjadi marker yang dapat dikorelasikan dengan bagian atas
CN8b.

NN 11 Discoaster quinqueramus Zone


Umur : Miocene akhir
Korelasi : Discoaster quinqueramus Zone (CN9) dari Okada & Bukry (1980)
Remarks : kemunculaan awal Amaurolithus primus.merupakan kemunculan pertama
kali bentuk tapal kuda pada nanofosil gampingan pada Neogene.

NN12 Amaurolithud tricorniculatus Zone

Umur : Miocene akhir/ Pliocene Awal


Korelasi : bawah dan tengah subZone dari Amaurolithus tricorniculatus zone (CN10)
dari Okada & Bukry (1980)
Remarks : kemunculan awal dari Ceratolithus acutus dan kemunculan akhir genus
Triquetrorhabdulus menjelakan batas antara T.rugosus Subzone (CN10a)
dan tampalan C.acutus subZone (CN10b). Bagian atas dari zona ini ditandai
dengan kehadiran birefringent ceratolith.

MIOCENE/PLIOCENE BOUNDARY

Batas Miocene-Pliocen pada nanofosil gampingan berada pada A.triconiculatus zone


pada Okada&Bukry (1980) dan bertampalan dengan C.rugosus Zone (NN13) oleh martini
(1971). Kemunculan awal dari C.acutus telah diidentifiikasi hanya ada pada bagian atas batas
Miocene-Pliocene.
NN13
NN14
NN15
NN16
NN17 Discoaster pentaradiatus Zone
Umur : Pliocene akhir
Korelasi : Discoaster pentaraditus Zone (CN12c) dari Okada & Bukry (1980)
Remarks : NN 17 biasanya zona yang sangat tipis, setelah genus discoaster menghilang
setelah mendekati batas pliocene/pleistosen. Kemunculan akhir dari D.
Penaradiatus hanya sedikit lebih awal dari D.surculus. D. Asymetricus
menghilang dengan D.pentaradiatus pada waktu yang sama.

NN18 Discoaster Brouweri Zone


Umur : Pliocene akhir
Korelasi : Calcidiscus macintyrei subZone (CN12d) dari Okada & Bukry (1980)
Remarks : NN 18 biasanya lebih tipis. Pada section dengan debris glacial seperti di
utara atlantik, keterdapatan zona kumpulan Discoaster sangat jarang

PLIOCENE/PLEISTOCENE BOUNDARY
Batas dari Pliocene- Pleisocene dalam nanofosil gampingan biasanya berada di atas
kemunculan akhir dari D.brouweri.

PLEISTOCENE
Pleistocene secara primer dibagi oleh kehadiran kecil dari family Prinsiaceae dan skunder
diwakili oleh C.macintyrei, Helicosphaerea sellii dan Pontosphaera indooceanica.

NN19 Pseudoemiliania lacunosa Zona


Umur : Pleistosen awal
Korelasi : Crenalithus doronicoide Zone (CN13 dan bagian bawah dari Gephyrocapsa
oceanica Zone (CN14)) Okada & Bukry (1980)
Remarks : NN19 didefinisika oleh Martini (1971) dapat dibagi menjadi beberapa
kejadian yang berbeda yang terjadi secara berurutan. Seperti kemunculan
awal dari G.caribbeanica dan kemunculan akhir dari C.macintyrei dan
kemunculan akhir dari Helicosphaera sellii.

NN20 Gephyrocapsa Oceanica Zone


Umur : Pleistosen akhir.
Korelasi : bagian atas dari Gephyrocapsa oceanica Zone (CN14), Ceratolothus
cristatus subzone (CN14B) dari Okada & Bukry (1980)
Remarks : hal ini sangat sulit untuk dikenali E.huxleyi dengan LM kecuali zona
kumpulannya tersebar secara luas. Kemunculan awa dari Gephyrocapsa
ericonii dan G.muellerai berada disekitar batas NN20-N21
NN21 Emiliania huxleyi Zone
Umur : Pleistosen akhir
Korelasi : Emiliania huxleyi Zone (CN15) dari Okada & Bukry (1980)
Remarks : tiga kejadian diduga menjadi dasar terjadinya pembagian interval lebih jauh,
kemunculan awal E.huxleyi, kemunculan akhir Pontosphaera indooceanica
dan kehadiran secara luas G.caribbeanica diduga sebagai waktu transgresi
terjadi.