Anda di halaman 1dari 8

Masa Disintegrasi dan Kondisi

Perkembangan Intelektual
Oleh:
M.e. Widjaya
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Disintegrasi
Disintegrasi merupakan suatu keadaan yang terpecah belah dari kesatuan yang utuh menjadi
terpisah-pisah.
Adapun dalam makalah ini, kami (penulis) akan mencoba membahas tentang disintegrasi yang
terjadi pada kekhalifahan di masa lampau.
Semenjak pemerintahan Harun ar-Rasyid (786-809 M./ 170-194H). Dikatakan pada saat itu
terjadinya masa keemasan bani Abbasiyah. Tetapi pada waktu inilah terjadi benih-benih
disintegrasi tepatnya pada saat penurunan tahta. Harun Ar-rasyid telah mewariskan tahta
kekhalifaan pada putra tertuanya yaitu Al-Amin (809-812 M./ 194-198 H.) dan kepada puteranya
yang lebih muda yaitu al-Mamun yang pada saat itu menjabat sebagai gubernur Khurasan.
Setelah wafatnya Harun ar-Rasyid, al-Amin berusaha mengkhianati hak adiknya dan menunjuk
anak laki-lakinya sebagai penggantinya kelak. Akhirnya pecah perang sipil. Al-amin didukung
oleh militer Abbasiyah di Baghdad, sementara al-Mamun harus berusaha memerdekakan
Khurasan dalam rangka untuk mendapatkan dukungan dari pasukan perang Khurasan. Al-
Mamun akhirnya dapat mengalahkan saudara tertuanya al-Amin dan mengklaim khalifah pada
tahun 813 H. Namun peperangan sengit tersebut tidak hanya melemahkan kekuatan militer
Abbasiyah melainkan melemahkan warga Irak dan propinsi lainnya.
Pada masa kekhalifaan al-Mamun (198-218 H./813-833 M.) juga terjadi disintegrasi yang
menyebabkan munculnya dinasti Thahiriyah, yang didirakan oleh Thahir, dia adalah mantan
guberner Khurasan dan menjadi jendral militer Abbasiyah, yang diangkat karena membantu
merebut kekuasaan al-Amin. Al-Mamun telah memberikan jabatan kepada Thahir dan berjanji
jabatan-jabatan tersebut dapat diwariskan kepada keturunannya. Upaya untuk menyatukan
kalangan elit di bawah arahan khalifah tidak dapat terwujud dan sebagai gantinya pemerintahan
dikuasai oleh sebuah persekutuan khalifah dengan penguasa gubernur besar[1].

2.2. Penyebab Terjadinya disintegrasi


a. Dinasti-Dinasti yang Memerdekakan Diri Dari Baghdad
Disintegrasi dalam bidang politik sebenarnya sudah mulai terjadi di akhir zaman bani
Umayyah. Akan terlihat perbedaan antara pemerintahan bani Umayyah dengan pemerinatahan
bani Abbas. Wilayah kekuasaan bani Umayyah, mulai dari awal berdirinya sampai masa
keruntuhanya, sejajar dengan batas wilayah kekuasaan Islam. Ada kemungkinan bahwa para
khalifah Abbasiyah sudah cukup puas dengan pengakuan nominal dari provinsi-provinsi tertentu.
Dengan pembiayaan upeti. Alasanya, pertama mungkin para khalifah tidak cukup kuat untuk
membuat mereka tunduk kepadanya. Kedua, penguasa bani Abbas lebih menitik beratkan
pembinaan peradaban dan kebudayaan dari pada politik dan ekspansi.
Akibat dari kebijaksanaan yang lebih menekankan pada pembinaan peradaban dan
kebudayaan Islam dari pada persoalan politik itu, provinsi-provinsi tertentu di pinggiran mulai
lepas dari genggaman penguasa bani Abbas, dengan berbagai cara diantaranya pemberontakan
yang dilakukan oleh pemimpin lokal dan mereka berhasil memperoleh kemerdekaan penuh,
seperti Daulah Bani Umayyah diSpanyol dan Idrisiyah di Maroko. Seseorang yang ditunjuk
menjadi gubernur oleh khalifah, kedudukanya semakin bertambah kuat, seperti daulah
Aghlabiyah di Tunisia dan Thahiriyah di Khurasan.

Kecuali bani Umayyah di Spanyol dan Idrisiyah di Maroko, provinsi-provinsi itu pada mulanya
patuh membayar upeti selama mereka menyaksikan Baghdad stabil dan Khalifah mampu
mengatasi pergolakan yang muncul. Namun, saat wibawa khalifah sudah memudar mereka
melepaskan diri dari Baghdad. Mereka tidak hanya menggerogogoti kekuasaan, bahkan diantara
mereka ada yang berusaha menguasai Khalifah itu sendiri.
Menurut Watt, sebenarnya keruntuhan kekuasaan bani Abbas mulai terlihat sejak awal
abad kesembilan. Fenomena ini mungkin bersamaan dengan datangnya pemimpin-pimimpin
yang memiliki kekuasaan militer di provinsi-provinsi tertentu yang membuat mereka benar-benar
independen.
Kekuatan militer Abbasiyah waktu itu mulai mengalami kemunduran. Sebagai gantinya,
para penguasa Abbasiyah mengerjakan orang-orang profesional di bidang kemiliteran,
khususnya tentara Turki dengan sistem perbudakan baru. Pengangkatan anggota militer Turki
ini, dalam perkembangan selanjutnya ternyata menjadi ancaman besar terhadap kekuasaan
khalifah. Apalagi pada periode pertama pemerintahan dinasti Abbasiyah sudah muncul fanatisme
kebangsaan berupa gerakan syuubiyyah (kebangsaan/anti Arab). Gerakan inilah yang banyak
memberikan inspirasi terhadap gerakan politik, di samping persoalan-persoalan keagamaan.
Nampaknya para khalifah tidak sadar akan bahaya politik dari fanatisme kebangsaan dan aliran
keagamaan itu, sehingga meskipun dirasakan dalam hampir semua segi kehidupan, seperti dalam
kesusasteraan dan karya-karya ilmiah, mereka tidak bersungguh-sungguh menghapuskan
fanatisme tersebut, bahkan ada diantara mereka yang justru melibatkan diri dalam konflik
kebangsaan dan keagamaan itu.
Dinasti-dinasti yang lahir dan melepaskan diri dari kekuasaan Baghdad pada masa
khalifah Abbasyiah, diantaranya adalah :
1. Yang berbangsa Persia :
a. Thahiriyah[2] di Khurasan (205-259 H/820-872 M)
b. Shafariyah[3] di Fars (254-290 H/868-901 M)
c. Samaniyah[4] di Transoxania (261-289 H/873-998 M)
d. Sajiyyah di Azerbeijan (266-318 H/878-930 M)
e. Buwaihiyah bahkan menguasai Baghdad (320-447 H / 932-1055 M)
2. Yang berbangsa Turki
a. Thuluniyah di Mesir (254-292 H/837-903 M)
b. Ikhsyidiyah di Turkistan (320-560 H/932-1163 M)
c. Ghazanawiyah di Afganistan (351-585 H/962-1189 M)
d. Dinasti Seljuk dan cabang-cabangnya
3. Yang berbangsa Kurdi
a. Al Barzuqani (348-406 H/959-1015 M)
b. Abu Ali ((380-489 H/990-1095 M)
c. Ayubiyah (564- 648 H/1167-1250 M)
4. Yang berbangsa Arab
a. Idrisiyah di maroko (172-375 H/788-985 M)
b. Aghlabiyah di Tunisia (184-289 H/800-900 M)
c. Dulafiyah di Kurdistan (210-285 H/825-898 M)
5. Yang mengaku dirinya sebagai khalifah
a. Umawiyah di spanyol
b. Fathimiyah di mesir (909-1171 M)[5]
Faktorfaktor yang menyebabkan kemunduran bani Abbas, sehingga daerah banyak yang
memerdekakan diri ;
a. Luasnya wilayah kekuasan Bani Abbasiyah
b. Dengan profesionalisasi angkatan senjata, ketergantungan khalifah sangat tinggi
c. Keuangan negara sangat sulit karena untuk biaya tentara sangat besar[6].

b. Perebutan Kekuasaan Di Pusat Pemerintahan


Faktor lain yang menyebabkan peran politik bani Abbas menurun adalah perebutan
kekuasaan di pusat pemerintahan. Hal ini sebenarnya juga terjadi pada pemerintahan-
pemerintahan Islam sebelumnya. Nabi Muhammad memang tidak menentukan bagaiman acara
penggantian pemimpin setelah ditinggalkanya. Beliau menyerahkan masalah ini kepada kaum
muslimin sejalan dengan jiwa kerakyatan yangberkembang dikalangan masyarakat Arab dan
ajaran demokrasi dalam Islam. Setelah nabi wafat, terjadi pertentangan pendapat diantara kaum
muhajirin dan anshar dibalai kota bani Saidah di madinah. Akan tetapi, karena pemahaman
keagaamaan mereka yang baik, semangat musyawarah, ukhuwah yang tinggi, perbedaan itu
dapat diselesaikan. dan Abu Bakar terpilih menjadi khalifah.
Pertumpahan darah pertama dalam Islam karena perebutan kekuasaan terjadipada masa
kekhalifahan Ali bin abi thalib. Ali terbunuh oleh bekas pengikutnya sendiri. Pemberontakan-
pemberontakan yang muncul pada masa Ali ini bertujuan untuk menjatuhkanya dari kursi
khalifah dan diganti oleh pemimpin pemberontak itu. Hal ini sama juga terjadi pada masa
kekhalifahan bani Umayyah di Damaskus. Seperti pemberontakan Husein bin Ali, syiah yang
dipimpin oleh al- Muchtar, Abdullah bin Zubair, dan terakhir pemberontakan Bani Abbas yang
untuk pertama kalinya dengan menggunakan nama gerakan Bani Hasyim. Pemberontakan
terakhir ini berhasil dan kemudian mendirikan pemerintahan baru yang diberi nama khilafah
Abbasiyah atau Bani abbas.
Pada pemerintahan bani Abbas, perebutan kekuasaan seperti itu juga terjadi, terutama di
awal berdirinya. Akan tetapi pada masa-masa berikutnya, seperti terlihat pada periode kedua dan
seterusnya, meskipun khalifah tidak berdaya, tidak ada usaha untuk merebut jabatan khilafah dari
tangan Bani Abbas. Yang ada hanyalah usaha merebut kekuasaanya dengan membiarkan jabatan
khalifah tetap dipegang Bani Abbas.
Hal ini terjadi karena Khalifah dianggap sebagai jabatan keagamaan yang sakral dan tidak
bisa di ganggu gugat lagi. Sedangkan kekuasaan dapat didirikan di pusat maupun di daerah yang
jauh dari pusat pemerintahan dalam bentuk dinasti-dinasti kecil yang merdeka. Tentara Turki
berhasil merebut kekuasaan tersebut.Ditangan mereka khalifah bagaikan boneka yang tak bisa
berbuat apa-apa. Bahkan merekalah yang memilih dan menjatuhkan khalifah sesuai dengan
keinginan politik mereka.
Setelah kekuasaan berada di tangan orang-orang Turki pada periode kedua, pada periode
ketiga (334 H/945 M-447 H/1055 M), Daulah Abbasyiah berada dibawah kekuasaan bani
Buwaih.
Setelah Baghdad dikuasai, Bani Umayyah memindahkan markas kekuasaan dari Syiraz ke
Baghdad. Mereka membangun gedung tersendiri di tengah-tengah kota dengan nama Dar al-
Mamlakah.
Kekuatan politik Bani Buwaih tidak lama bertahan. Kekuasaan Bani Buwaih akhirnya
jatuh ke tangan Saljuk. Pergantian kekuasaan ini menandakan awal periode keempat Bani
Abbasiyah.
Dinasti Saljuk diakui sebagai dinasti yang sukses dalam membangun masyarakat ketika
itu. Diantara jasa-jasanya antara lain:
1. Memperluas Masjidi al-Haram dan Masjid Nabawi
2. Pembangunan rumah sakit di Naisabur
3. Pembangunan gedung peneropong bintang
4. Pembangunan sarana pendidikan.
Di bawah pemerintahan Malik Syah (1072-1092) kekuasaan Saljuk mencapai puncaknya,
wilayah kekuasaan terbentang luas dari kasygar, sebuah kota kecil di wilayah paling ujung Turki,
setelah kematian Malik syah, sejumlah perang antara putera-puteranya ditambah berbagi
kerusauhan telah melemahkan otoritas Saljuk dan mengakibatkan hancurnya pemerintahan[7].

c. Perang Salib
Perang Salib ini terjadi pada tahun 1095, saat Paus Urbanus II[8] berseru kepada Umat
Kristen di Eropa untuk melakukan perang suci, untuk memperoleh kembali keleluasaan berziarah
di Baitul Maqdis yang dikuasai oleh Penguasa Seljuk yang menetapkan beberapa peraturan yang
memberatkan bagi Umat kristen yang hendak berziarah ke sana.
Sebagaimana telah disebutkan, peristiwa penting dalam gerakan ekspansi yang dilakukan
oleh Alp Arselan adalah peristiwa Manzikart, tahun 464 H (1071 M). Tentara Alp Arselan yang
hanya berkekuatan 15.000 prajurit, dalam peristiwa ini berhasi1 mengalahkan tentara Romawi
yang berjumlah 200.000 orang, terdiri dari tentara Romawi, Ghuz, al-Akraj, al-Hajr, Perancis
dan Armenia. Peristiwa besar ini menanamkan benih permusuhan dan kebencian orang-orang
Kristen terhadap umat Islam, yang kemudian mencetuskan Perang Salib. Kebencian itu
bertambah setelah dinasti Seljuk dapat merebut Bait al-Maqdis pada tahun 471 H dari kekuasaan
dinasti Fathimiyah yang berkedudukan di Mesir. Penguasa Seljuk menetapkan beberapa
peraturan bagi umat Kristen yang ingin berziarah ke sana. Peraturan itu dirasakan sangat
menyulitkan mereka. Untuk memperoleh kembali keleluasaan berziarah ke tanah suci Kristen
itu, pada tahun 1095 M, Paus Urbanus II berseru kepada umat Kristen di Eropa supaya
melakukan perang suci. Perang ini kemudian dikenal dengan nama Perang Salib, yang terjadi
dalam tiga periode[9].
Walaupun umat Islam berhasil mempertahankan daerah-daerahnya dari tentara Salib,
namun kerugian yang mereka derita banyak sekali, karena peperangan itu terjadi di wilayahnya
dengan demikian hal ini mengakibatkan kekuatan poloitik umat Islam menjadi lemah dan
terpecah belah. Banyak dinasti kecil yang memerdekakan diri dari pemerintahan pusat
Abbasiyah di Baghdad.[10]
d. Sebab-sebab Kemunduran Bani Abbas
Berakhirnya kekuasaan dinasti Saljuk atas Baghdad atau khilafah Abbasiyah merupakan
awal dari periode kelima. Pada periode ini, khalifah Abbasiyah tidak lagi berada di bawah
kekuasaan suatu dinasti tertentu, walaupun banyak sekali dinasti Islam berdiri. Ada diantaranya
yang cukup besar, namun yang terbanyak adalah dinasti kecil. Para khalifah Abbasiyah, sudah
merdeka dan berkuasa kembali, tetapi hanya di Baghdad dan sekitarnya. Wilayah kekuasaan
khalifah yang sempit ini menunjukkan kelemahan politiknya. Pada masa inilah tentara Mongol
dan Tartar menyerang Baghdad. Baghdad dapat direbut dan dihancurluluhkan tanpa perlawanan
yang berarti. Kehancuran Baghdad akibat serangan tentara Mongol ini awal babak baru dalam
sejarah Islam, yang disebut masa pertengahan.
Sebagaimana terlihat dalam periodisasi khilafah Abbasiyah, masa kemunduran dimulai
sejak periode kedua. Namun demikian, faktor-faktor penyebab kemunduran itu tidak datang
secara tiba-tiba. Benih-benihnya sudah terlihat pada periode pertama, hanya karena khalifah pada
periode ini sangat kuat, benih-benih itu tidak sempat berkembang. Dalam sejarah kekuasaan Bani
Abbas terlihat bahwa apabila khalifah kuat, para menteri cenderung berperan sebagai kepala
pegawai sipil, tetapi jika khalifah lemah, mereka akan berkuasa mengatur roda pemerintahan.
Disamping kelemahan khalifah, banyak faktor lain yang menyebabkan khilafah
Abbasiyah menjadi mundur, masing-masing faktor tersebut saling berkaitan satu sama lain.
Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Persaingan antar Bangsa
Khilafah Abbasiyah didirikan oleh Bani Abbas yang bersekutu dengan orang-orang Persia.
Persekutuan dilatarbelakangi oleh persamaan nasib kedua golongan itu pada masa Bani
Umayyah berkuasa. Keduanya sama-sama tertindas. Setelah khilafah Abbasiyah berdiri, dinasti
Bani Abbas tetap mempertahankan persekutuan itu. Ada dua sebab dinasti Bani Abbas memilih
orang-orang Persia daripada orang-orang Arab. Pertama, sulit bagi orang-orang Arab untuk
melupakan Bani Umayyah. Pada masa itu mereka merupakan warga kelas satu. Kedua, orang-
orang Arab sendiri terpecah belah dengan adanya Nashabiyah (kesukuan). Dengan demikian,
khilafah Abbasiyah tidak ditegakkan di atas Nashabiyah tradisional.
Meskipun demikian, orang-orang Persia tidak merasa puas. Mereka menginginkan sebuah
dinasti dengan raja dan pegawai dari Persia pula. Sementara itu bangsa Arab beranggapan bahwa
darah yang mengalir di tubuh mereka adalah darah (ras) istimewa dan mereka menganggap
rendah bangsa non-Arab di dunia Islam.
Selain itu, wilayah kekuasaan Abbasiyah pada periode pertama sangat luas, meliputi berbagai
bangsa yang berbeda, seperti Maroko, Mesir, Syria, Irak, Persia, Turki dan India. Mereka
disatukan dengan bangsa Semit. Kecuali Islam, pada waktu itu tidak ada kesadaran yang merajut
elemen-elemen yang bermacam-macam tersebut dengan kuat. Akibatnya, disamping fanatisme
kearaban, muncul juga fanatisme bangsa-bangsa lain yang melahirkan gerakansyuubiyah.
Fanatisme kebangsaan ini nampaknya dibiarkan berkembang oleh penguasa. Sementara itu,
para khalifah menjalankan sistem perbudakan baru. Budak-budak bangsa Persia atau Turki
dijadikan pegawai dan tentara. Mereka diberi nasab dinasti dan mendapat gaji. Oleh Bani Abbas,
mereka dianggap sebagai hamba. Sistem perbudakan ini telah mempertinggi pengaruh bangsa
Persia dan Turki. Karena jumlah dan kekuatan mereka yang besar, mereka merasa bahwa negara
adalah milik mereka, mereka mempunyai kekuasaan atas rakyat berdasarkan kekuasaan khalifah.
Kecenderungan masing-masing bangsa untuk mendominasi kekuasaan sudah dirasakan sejak
awal khalifah Abbasiyah berdiri. Akan tetapi, karena para khalifah adalah orang-orang kuat yang
mampu menjaga keseimbangan kekuatan, stabilitas politik dapat terjaga. Setelah al-Mutawakkil,
seorang khalifah yang lemah, naik tahta, dominasi tentara Turki tak terbendung lagi. Sejak itu
kekuasaan Bani Abbas sebenarnya sudah berakhir. Kekuasaan berada di tangan orang-orang
Turki. Posisi ini kemudian direbut oleh Bani Buwaih, bangsa Persia, pada periode ketiga, dan
selanjutnya beralih kepada dinasti Seljuk pada periode keempat.
2. Kemerosotan Ekonomi
Khilafah Abbasiyah juga mengalami kemunduran di bidang ekonomi bersamaan dengan
kemunduran di bidang politik. Pada periode pertama, pemerintahan Bani Abbas merupakan
pemerintahan yang kaya. Dana yang masuk lebih besar dari yang keluar, sehingga Bait al-Mal
penuh dengan harta. Pertambahan dana yang besar diperoleh antara lain dari al-Kharaj, semacam
pajak hasil bumi.
Setelah khilafah memasuki periode kemunduran, pendapatan negara menurun sementara
pengeluaran meningkat lebih besar. Menurunnya pendapatan negara itu disebabkan oleh makin
menyempitnya wilayah kekuasaan, banyaknya terjadi kerusuhan yang mengganggu
perekonomian rakyat. diperingannya pajak dan banyaknya dinasti-dinasti kecil yang
memerdekakan diri dan tidak lagi membayar upeti. Sedangkan pengeluaran membengkak antara
lain disebabkan oleh kehidupan para khalifah dan pejabat semakin mewah, jenis pengeluaran
makin beragam dan para pejabat melakukan korupsi. Kondisi politik yang tidak stabil
menyebabkan perekonomian negara morat-marit. Sebaliknya, kondisi ekonomi yang buruk
memperlemah kekuatan politik dinasti Abbasiyah kedua, faktor ini saling berkaitan dan tak
terpisahkan.
3. Konflik Keagamaan
Fanatisme keagamaan berkaitan erat dengan persoalan kebangsaan. Munculnya gerakan yang
dikenal dengan gerakan Zindiq ini menggoda rasa keimanan para khalifah. Al-Manshur berusaha
keras memberantasnya. Al-Mahdi bahkan merasa perlu mendirikan jawatan khusus untuk
mengawasi kegiatan orang-orang Zindiq dan melakukan mihnah (ujian) dengan tujuan
memberantas bidah. Akan tetapi, semua itu tidak menghentikan kegiatan mereka. Konflik antara
kaum beriman dengan golongan Zindiq berlanjut mulai dari bentuk yang sangat sederhana
seperti polemik tentang ajaran, sampai kepada konflik bersenjata yang menumpahkan darah di
kedua belah pihak. Gerakan al-Afsyin dan Qaramithah adalah contoh konflik bersenjata itu.
4. Ancaman dari Luar
Apa yang disebutkan di atas adalah faktor-faktor internal. Disamping itu, ada pula faktor-
faktor eksternal yang menyebabkan khilafah Abbasiyah lemah dan akhirnya hancur. Pertama,
Perang Salib yang berlangsung beberapa gelombang atau periode dan menelan banyak korban.
Kedua serangan tentara Mongol ke wilayah kekuasaan Islam. Sebagaimana telah disebutkan,
orang-orang Kristen Eropa terpanggil untuk ikut berperang setelah Paus Urbanus II (1088-1099
M) mengeluarkan fatwanya. Perang Salib itu juga membakar semangat perlawanan orang-orang
Kristen yang berada di wilayah kekuasaan Islam. Namun, diantara komunitas-komunitas Kristen
Timur, hanya Armenia dan Maronit Lebanon yang tertarik dengan Perang Salib dan melibatkan
diri dalam tentara Salib itu.
Pengaruh Salib juga terlihat dalam penyerbuan tentara Mongol. Disebutkan bahwa Hulagu
Khan, panglima tentara Mongol, sangat membenci Islam karena ia banyak dipengaruhi oleh
orang-orang Budha dan Kristen Nestorian. Gereja-gereja Kristen berasosiasi dengan orang-orang
Mongol yang anti Islam itu dan diperkeras di kantong-kantong ahl al-kitab. Tentara Mongol,
setelah menghancurleburkan pusat-pusat Islam, ikut memperbaiki Yerussalem.[11]

2.3. Perkembangan Intelektual Masa Disintegrasi


Betapapun juga seramnya situasi politik di ibukota negara baghdad tetapi ilmu-
ilmu pengetahuan dan kebudayaan Islam tetap menunjukkan semaraknya.
Pada masa disintegrasi yang menyebabkan kehancuran dalam kekhalifahan
Abbasiyah, tetapi tidak menghambat perkembangan intelektual. Pada saat disintegrasi yang
dimulai dengan berdirinya dinasti Thahiriyah, perkembangan intelektual mengalami
perkembangan yang cukup berarti. Ini terbukti dengan munculnya tokoh-tokoh intelektual pada
bidangnya, baik itu dalam bidang ilmu sastra, ilmu filsafat, dan kedokteran maupun dalam
bidang hukum dan politik.
1) Ilmu sastra, tokohnya ;
a. Abul Alla al- maary (363449 H./973-1057 M.), seorang penyair filosof yang banyak
karangannya, diantaranya diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan Inggris oleh Thomas Carlyle
dan ke bahasa Jerman oleh Von Kremer.
b. Pujangga Proza Shabi (313 383 H./925-994 M.)
c. Shahib ibnu Ubbad (326385 H./938-985 M.)
d. Ulama penyair, Abu Bakar Khuwarizmi (389 H./993 M.)
e. Penyair pengarang Badieuz Zaman Hamdani ( 358398 H./969-1007 M.)
f. Penyair Ibnu Amied

2) Ilmu Filsafat dan kedokteran


a. Muhammad ibn Zakaria ar razi, seorang filosof dan dokter yang terkenal
b. Ali ibn alMajusi, dokter pribadi dari Adhudud Daulah dan sekaligus pengarang buku Kamil
as-Shinaat
3) Hukum dan Politik
Satu nama yang tidak boleh dilupakan ialah seorang ahli hukum yang menjabat
sebagai mahkamah agung dan juga pengarang politik yaitu Imam Mawardi (368-450 H./974-
1058 M.) seorang pengarang ilmu politik yang sangat aktif, penulis buku Al Ahkam as-
Sulthaniyah tentang hukum pemerintahan[12].

BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Disintegrasi merupakan suatu keadaan yang terpecah belah dari kesatuan yang utuh
menjadi terpisah-pisah. Penyebab terjadinya disintegrasi pada masa kekhalifahan Islam di masa
lampau yaitu di antaranya; adanya dinasti-dinasti yang memerdekakan diri dari
Baghdad, perebutan kekuasaan di pusat pemerintahan, perang salib serta faktor-faktor yang
menyebabkan kemunduran Bani Abbas.
Masa disintegrasi itu muncul akibat adanya perpecahan dalam pemerintahan Bani
Abbasiyah. Perpecahan itu mulai terjadi sejak akhir pemerintahan Harun ar-Rasyid tepatnya pada
saat penurunan tahta beliau mengangkat puteranya yaitu al-Amin. Selain itu yang menyebabkan
kemunduran Bani Abbas adalah persaingan antar bangsa, kemerosotan ekonomi, konflik
keagamaan, dan ancaman dari luar.
Perkembangan intelektual dalam masa disintegrasi tetap menunjukkan perkembangan
yang berarti. Itu terbukti dengan munculnya tokoh-tokoh intelektual pada bidangnya baik itu
dalam bidang ilmu sastra, ilmu filsafat, dan kedokteran maupun dalam bidang hukum dan politik.
.
REFERENSI
K. Hitti, Philip. 2010. Terjemah History of the Arabs. Jakarta: Serambi.
Syukur, Fatah. 2011. Sejarah Peradaban Islam. Semarang: Pustaka Rizki Putra.
Yatim, Badri. 2003. Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II. Jakarta: LSIK.

http://estanuwijaya.blogspot.co.id/2014/10/masa-disintegrasi-dan-kondisi.html