Anda di halaman 1dari 13

Sistem Instrumentasi Elektronik

Penggunaan instrumentasi elektronik baik yang sederhana maupun yang


otomatis/modern, telah banyak digunakan dalam pengamatan meteorologi dan geofisika oleh
BMG. Perkembangan metode pengamatan tersebut haruslah diikuti dengan kemampuan dan
pengetahuan sumber daya manusia dilingkungan BMG, terutama dalam hal pengoperasian dan
perawatan alat-alat pengamatan. Dalam tulisan ini akan diberikan sedikit gambaran tentang
sistem dasar yang digunakan dalam sebagian besar alat-alat elektronik, terutama yang
berhubungan dengan instrumentasi elektronik pengamatan cuaca/iklim. Diharapkan dengan
adanya tulisan ini, para pengamat/teknisi BMG didaerah nantinya dapat mengetahui lebih jauh
tentang sistem instrumentasi elektronik. Sehingga dapat mempermudah pengoperasian dan
perawatan alat-alat elektronik yang digunakan dalam pengamatan di stasiun.

1. PENDAHULUAN

Sistem pengukuran dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu secara manual atau dengan
menggunakan instrumen/alat. Adapun sistem instrumen terbagi pula menjadi dua, yaitu dengan
sistem mekanik dan elektronik. Sistem instrument elektronik secara garis besar terbagi menjadi 5
bagian dasar, yaitu: tranducer, power supply, signal conditioner, amplifier dan recorder (lihat
gambar 1).

Gambar 1. Blok diagram sistem instrumen elektronik

Tranduser merupakan bagian terdepan yang berhubungan langsung dengan objek yang diukur,
adapun daya untuk menggerakan sistem ini diberikan oleh power supply. Perubahan fisis dari
objek yang diukur kemudian diubah oleh tranduser menjadi besaran listrik (umumnya memiliki
perubahan yang sangat kecil). Setelah melalui pengkondisian sinyal dalam signal conditioner,
kemudian sinyal listrik yang sangat kecil tersebut diperkuat di amplifier agar mudah untuk diolah
dan dimonitor. Untuk alat-alat elektronik sederhana, output dari amplifier ini umumnya langsung
dihubungkan dengan display unit seperti jarum penunjuk, sevensegment atau liquid cristal
display (LCD). Sedangkan pada alat-alat elektronik otomatis, output amplifier tersebut kemudian
dihubungkan dengan recorder unit untuk dilakukan perekaman (contoh: kertas pias, printer, data
logger atau komputer). Pada alat elektronik modern, recorder unit ini dilengkapi pula dengan
software untuk pengontrol dan pemroses data sehingga output yang dihasilkan akan jauh lebih
baik dan lebih informatif. Output data inilah yang selanjutnya digunakan untuk analisa atau
dipancarkan bila alat tersebut telah dilengkapi dengan transmitter unit seperti pada AWS.

2. Sensor atu Tranducer

Sensor adalah alat untuk mendeteksi / mengukur sesuatu yang digunakan untuk mengubah
variasi mekanis, magnetis, panas, sinar dan kimia menjadi tegangan dan arus listrik. Sensor itu
sendiri terdiri dari transduser dengan atau tanpa penguat/pengolah sinyal yang terbentuk dalam
satu sistem pengindera.
Tranduser adalah suatu peralatan atau analog devices yang berfungsi untuk mengkonversi suatu
perubahan mekanis atau perubahan fisis yang terukur menjadi besaran listrik sehingga dapat
dilihat/dimonitor. [setelah dilewatkan melalui pengkondisi sinyal]. Karakteristik terpenting
sebuah transduser adalah aspek linearitas, sensitivitas, dan temperatur operasional yang
ditentukan oleh sensor di dalam transduser, dimana output akhir yang dihasilkan adalah keluaran
sinyal listrik.
Transduser dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu: tranduser pasif dan aktif. Dikatakan
tranduser pasif apabila energi yang dikeluarkannya diperoleh seluruhnya dari sinyal masukan.
Sedangkan tranduser aktif memiliki sumber energi tambahan yang digunakan untuk output
sinyalnya, adapun sinyal input hanya memberikan kontribusi yang kecil terhadap daya keluaran.

2.1 Klasifikasi Sensor

Terdapat beberapa tipe sensor yang berdasar pada :

21.1. Keprluan Power Suplaynya


o Pasif, sensor yang tidak memerlukan power supply pada saat bekerja, outputnya
muncul akibat adanya rangsangan atau dikatakan sensor pasif apabila energi yang
dikeluarkannya diperoleh seluruhnya dari sinyal masukan.
mis. Termocouple, piezoelectric, microphone.
o Aktif, sensor yang memerlukan power supply dari luar agar sensor tersebut dapat
berfungsi atau memiliki sumber energi tambahan yang digunakan untuk output
sinyalnya, adapun sinyal input hanya memberikan kontribusi yang kecil terhadap
daya keluaran.

2.1.2. Sifat Dasar dari Sinyal Outputnya


o Analog Sensor, sensor yang memberikan sinyal kontinyu dari besaran yang
diukur. Semua besaran fisika pada dasarnya adalah analog.
o Digital Sensor, sensor yang outputnya bersifat diskrit.

2.2. Macam-macam sensor

Proximity Sensor atau Sensor Kedekatan, yaitu sensor atau saklar yang dapat
mendeteksi adanya target (jenis logam) dengan tanpa adanya kontak fisik. Sensor jenis
ini biasanya tediri dari alat elektronis solid-state yang terbungkus rapat untuk
melindunginya dari pengaruh getaran, cairan, kimiawi, dan korosif yang berlebihan.
Sensor ini dapat diaplikasikan pada kondisi penginderaan pada objek yang dianggap
terlalu kecil/lunak untuk menggerakkan suatu mekanis saklar. Prinsip kerjanya adalah
dengan memperhatikan perubahan amplitudo suatu lingkungan medan frekuensi.
Sensor Magnet juga disebut relai buluh, adalah alat yang akan terpengaruh medan
magnet dan akan memberikan perubahan kondisi pada keluaran. Seperti layaknya saklar
dua kondisi (on/off) yang digerakkan oleh adanya medan magnet di sekitarnya. Biasanya
sensor ini dikemas dalam bentuk kemasan yang hampa dan bebas dari debu, kelembaban,
asap ataupun uap.
Sensor Sinar terdiri dari 3 kategori.
o Fotovoltaic atau sel solar adalah alat sensor sinar yang mengubah energi sinar
langsung menjadi energi listrik, dengan adanya penyinaran cahaya akan
menyebabkan pergerakan elektron dan menghasilkan tegangan.
o Fotokonduktif (fotoresistif) yang akan memberikan perubahan tahanan (resistansi)
pada sel-selnya, semakin tinggin intensitas cahaya yang terima, maka akan
semakin kecil pula nilai tahanannya.
o Fotolistrik adalah sensor yang berprinsip kerja berdasarkan pantulan karena
perubahan posisi/jarak suatu sumber sinar (inframerah atau laser) ataupun target
pemantulnya, yang terdiri dari pasangan sumber cahaya dan penerima.
Sensor Efek-Hall dirancang untuk merasakan adanya objek magnetis dengan
perubahan posisinya. Perubahan medan magnet yang terus menerus menyebabkan
timbulnya pulsa yang kemudian dapat ditentukan frekuensinya, sensor jenis ini biasa
digunakan sebagai pengukur kecepatan.
Sensor Ultrasonik bekerja berdasarkan prinsip pantulan gelombang suara, dimana
sensor ini menghasilkan gelombang suara yang kemudian menangkapnya kembali
dengan perbedaan waktu sebagai dasar
penginderaannya. Perbedaan waktu antara gelombang suara dipancarkan dengan
ditangkapnya kembali gelombang suara tersebut adalah berbanding lurus dengan jarak
atau tinggi objek yang memantulkannya. Jenis objek yang dapat diindera diantaranya
adalah: objek padat, cair, butiran maupun tekstil.
Sensor Tekanan sensor ini memiliki transduser yang mengukur ketegangan kawat,
dimana mengubah tegangan mekanis menjadi sinyal listrik. Dasar penginderaannya pada
perubahan tahanan pengantar (transduser) yang berubah akibat perubahan panjang dan
luas penampangnya.
Sensor Suhu- ada 4 jenis utama sensor suhu yang biasa digunakan : thermocouple (T/C),
resistance temperature detector (RTD), termistor dan IC sensor.
o Thermocouple, terdiri dari sepasang transduser panas dan dingin yang
disambungkan/dilebur bersama, perbedaan yang timbul antara sambungan
tersebut dengan sambungan referensi yang berfungsi sebagai pembanding.
o Resistance Temperature Detector (RTD) didasari pada tahanan listrik dari logam
yang bervariasi sebanding dengan suhu. Kesebandingan variasi ini adalah presisi
dengan tingkat konsisten/kestabilan yang tinggi pada pendeteksian tahanan.
Platina adalah bahan yang sering digunakan karena memiliki tahanan suhu,
kelinearan, stabilitas dan reproduksibilitas.

o Termistor, resistor yang peka terhadap panas yang biasanya mempunyai koefisien
suhu negatif, karena saat suhu meningkat maka tahanan menurun atau sebaliknya.
Jenis ini sangat peka dengan perubahan tahan 5% per oC sehingga mampu
mendeteksi perubahan suhu yang kecil.
o IC Sensor adalah sensor suhu dengan rangkaian terpadu yang menggunakan
chipsilikon untuk kelemahan penginderanya. Mempunyai konfigurasi output
tegangan dan arus yang sangat linear.
Sensor Kecepatan/RPM proses penginderaan merupakan proses kebalikan dari suatu
motor, dimana suatu poros/object yang berputar pada suatui generator akan menghasilkan
suatu tegangan yang sebanding dengan kecepatan putaran object. Kecepatan putar sering
pula diukur dengan menggunakan sensor yang mengindera pulsa magnetis (induksi) yang
timbul saat medan magnetis terjadi.

Sensor Penyandi (Encoder) digunakan untuk mengubah gerakan linear atau putaran
menjadi sinyal digital, dimana sensor putaran memonitor gerakan putar dari suatu alat.
Sensor ini biasanya terdiri dari 2 lapis jenis penyandi,
o Penyandi rotari tambahan (yang mentransmisikan jumlah tertentu dari pulsa untuk
masing-masing putaran) yang akan membangkitkan gelombang kotak pada objek
yang diputar.
o Penyandi absolut (yang memperlengkapi kode binary tertentu untuk masing-
masing posisi sudut) mempunyai cara kerja sang sama dengan perkecualian, lebih
banyak atau lebih rapat pulsa gelombang kotak yang dihasilkan sehingga
membentuk suatu pengkodean dalam susunan tertentu.

3. Power Suplay (Catu Daya)

Tranduser pada dasarnya memerlukan energi atau tenaga untuk dapat beroperasi, sehingga
diperlukan sebuah penyuplai daya dalam bentuk constant-voltage atau constant -current power
supply. Power supplay dapat diambil langsung dari jalur listrik PLN atau menggunakan sumber
listrik lain. Untuk alat-alat elektronik otomatis yang dioperasikan jauh dari jalur listrik PLN,
biasanya menggunakan power supply dari baterai atau solar cell. Instrumen-instrumen elektronik
umumnya menggunakan arus searah (DC), sehingga bila sumber tegangan masih dalam bentuk
arus bolak-balik (AC) maka diperlukan pengubah arus. Rangkaian elektronik sederhana untuk
penyearah arus dapat dilihat seperti gambar 3.1.
Gambar 3.1. Rangkaian
sederhana penyearah arus dan sinyal output yang dihasilkan.

4. Signal Conditioner ( Pengkondisian Sinyal )

Keluaran Sinyal dari transduser umumnya masih tercampur dengan noise atau sinyal-sinyal lain
yang bukan bersumber dari objek yang diukur (parasitic signal). Bila dibiarkan, hal ini jelas akan
menimbulkan penyimpangan terhadap output data yang dihasilkan sehingga diperlukanlah
sebuah filter yang dapat menghilangkan sinyal-sinyal parasit tersebut agar tidak tercampur
dengan sinyal data yang diamati. Tipe-tipe dari filter yang umum digunakan diantaranya adalah:

Low-Pass Filter = High-Cut Filter


Filter ini berfungsi untuk menghilangkan tegangan/amplitudo yang melebihi dari batas
toleransi yang dibuat, sehingga sinyal-sinyal lain yang tidak diharapkan seperti noise
dapat dihilangkan. Rangkaian elektronik sederhana low pass filter dapat dilihat pada

gambar 4.1. Gambar. 4.1. Rangkaian


Low Pass Filter
High-Pass Filter = Low-Cut Filter
Filter ini berfungsi untuk menghilangkan tegangan/amplitudo yang kurang dari batas
toleransi yang dibuat (lihat gambar 4.2).
Gambar 4.2. Rangkaian High Pass
Filter
Band-Pass Filter
Filter ini berfungsi untuk menghilangkan tegangan/amplitudo yang kurang atau melebihi
dari batas toleransi yang dibuat (membatasi sinyal input pada range tegangan/amplitudo

tertentu). Gambar 4.3.


Rangkaian Band Pass Filter.

Reject Filter Gambar. 4.4.


Rangkaian Reject Filter

5. Amplifier

Amplifier digunakan hampir dalam setiap sistem instrumentasi untuk menaikan sinyal yang
lemah dari tranduser menjadi sinyal yang lebih kuat agar dapat digunakan pada alat pengukur
atau untuk keperluan recorder. Bentuk grafik antara input tegangan dan outputnya dari amplifier
dapat dilihat pada gambar 5.1.
Gambar 5.1. Grafik antara input dan output tegangan dari amplifier.

Jenis jenis Amplifiers

a. Noninverting Amplifier
Merupakan penguat tegangan dengan nilai output sama phase dengan inputnya (input positif,
output positif). Besarnya penguatan tegangan output dan rangkaian elektroniknya dapat dilihat
pada gambar 5.2

Gambar 5.2. Rangkaian Non Inverting Amplifier dan persamaan tegangan inputnya.

b. Inverting Amplifier
Merupakan penguat tegangan dengan nilai output berbeda phase 1800 dari inputnya (input positif
menjadi output negatif). Besarnya penguatan tegangan output dan rangkaian elektroniknya dapat
dilihat pada gambar 5.3.
Gambar 5.3. Rangkaian inverting amplifier dan persamaan tegangan outputnya.

c. Differential Amplifier
Berbeda dengan inverting/noninverting amplifier yang hanya memiliki input tegangan sangat
kecil (biasanya kurang dari 1 mV), pada differential amplifier dapat memiliki tegangan input
yang dapat diset melalui V1 dan V2. Gambar rangkaian dan persamaan differential amplifier
dapat dilihat pada gambar 5.4.

Gambar. 5.4.
Rangkaian dan persamaan output dari differential amplifier.

d. Differentiator Amplifier
Differentiator menghasilkan tegangan output yang proposional terhadap perubahan input
(membentuk persamaan garis diferensial). Gambar rangkaian dan persamaan differentiator
amplifier dapat dilihat pada gambar 5.5
Gambar 5.5. Rangkaian dan rumus output differentiator amplifier.

e. Integrator Amplifier
Integrator menghasilkan tegangan output yang proposional terhadap perubahan input
(membentuk persamaan garis integral). Gambar rangkaian dan persamaan integrator amplifier
dapat dilihat pada gambar 5.6.

Gambar 5.6.
Rangkaian dan rumus output integrator amplifier.

6. Recorder

6.1. Recorder Sistem Analog

Karakteristik Umum

Input Impedansi
Input impedansi harus memiliki kisaran impedansi sebesar 1,000,000 ohm, hal ini dimaksudkan
agar dapat memperkecil kehilangan tenaga p sehingga dapat menghasilkan kesalahan
pengukuran sebesar nol.
p = v / Zm Zm = input impedance
Sensitivitas
Perbandingan pergerakan pena/pointer dengan tegangan pada instrumen, dapat diukur dengan
persamaan:
S = d / Vi Vi = d SR
S = Sensitivitas
D = pergeranan pena/pointer pada instrumen analog.
Vi = voltage yang akan diukur
Beberapa alat perekam /recorder dibuat dengan sensitivitas tegangan/ voltage sensitivty ~ SR (SR
= 1 / S)
SR = 1 / S, menggambarkan nilai tegangan persatuan panjang.
Range
Range adalah kisaran tegangan atau besarnya tegangan aktual yang dapat direkam oleh recorder.
Perbandingan lebar skala/chart dengan sensitifitas dinyatakan dengan:
v* = d* / S = d* SR
v* adalah maximum voltage atau range dan d* adalah lebar skala/chart.

6.2. Sistem Recorder Digital

Digital merupakan suatu sistem pembacaan yang berbasis binery atau sistem pembacaan dua
angka (1 dan 0). Sistem digital ini biasa pula disebut dengan sistem ON OFF karena
prinsipnya hampir sama seperti saklar. Metode pembacaan yang sangat sederhana ini ternyata
pada perkembangannya memiliki aplikasi yang sangat besar dalam dunia elektronik, sehingga
dewasa ini sistem digital telah banyak menggantikan sistem analog. Namun satu hal yang perlu
diperhatikan bahwa sinyal-sinyal yang dikeluarkan oleh alam ini hampir semuanya berbentuk
analog, seperti gelombang suara, perubahan suhu udara,
perubahan tekanan udara, perubahan kelembaban dan lain-lain. Karena salah satu fungsi dari
instrumentasi elektronik yang dibuat adalah untuk mengukur perubahan fisis yang terjadi di
alam, maka jelas nantinya akan berhubungan dengan sinyal-sinyal berbentuk analog. Hal ini
menyebabkan dibutuhkannya sebuah perubah sinyal (converter), baik dari bentuk Analog to
Digital Converter (ADC) maupun dari bentuk Digital to Analog Converter (DAC).

Gambar 6.1 Prinsip Dasar Perekam Digital

Perubah Analog ke Digital (Analog to Digital Converters -ADC)


Perubahan besaran fisis di alam yang umumnya berbentuk sinyal analog, dideteksi oleh sensor
kemudian diubah dalam bentuk digital agar mudah diproses oleh perangkat elektronik. Sinyal
digital yang hanya berbentuk 1-0 (ON-OFF) ternyata lebih mudah dan lebih cepat diolah dalam
perangkat elektronik dengan hasil data lebih baik. Rangkaian pengubah sinyal analog ke digital
dapat dilihat seperti gambar 6.2

Gambar 6.2.
Rangkaian elektronik ADC

Gambar
6.3. Contoh rangkaian ADC tipe SAC

Perubah Digital ke Analog (Digital to Analog Converters DAC)

Sinyal-sinyal digital yang berasal dari alat/instrumen elektronik, bila ingin ditampilkan kembali
dalam bentuk seperti semula (seperti sinyal di alam-misalnya berbentuk suara) maka perlu
diubah kedalam bentuk analog kembali.
Rangkaian elektronik untuk mengubah sinyal digital ke analog dapat dilihat seperti gambar 6.4.

Gambar 6.4.
Rangkaian elektronik DAC

Gambar 6.5.
Blok Diagram DAC