Anda di halaman 1dari 19

68

BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN

Tahapan metodologi penelitian ini secara garis besar terdiri dari tahap
pendekatan penelitian dan metode penelitian. Secara umum penjelasannya adalah
sebagai berikut:

4.1 Pendekatan Penelitian


Pendekatan penelitian merupakan paradigma atau cara pandang yang
bersifat khas dan terfokus dalam mencapai tujuan. Dalam penelitian ini digunakan
sebuah pendekatan geospasial (SIG) dan pendekatan sistem aktivitas. Model
pendekatan ini nantinya berperan sebagai representasi atau gambaran dari sistem
yang nyata. Alasan pemilihan pendekatan penelitian ini dikarenakan orientasi
penelitian menerangkan mengenai konsep evaluasi lahan khususnya terkait
dengan lahan kritis di kawasan Dataran Tinggi Dieng yang ditinjau dari kondisi
biofisik, aktivitas sosial masyarakat, dan aktivitas ekonomi. Menurut Baja (2012:
225) bahwa salah satu tahap yang penting dalam perencanaan tata guna lahan
adalah menentukan indikator dan kriteria perencanaan tata guna lahan (baik
biofisik, ekonomi, dan sosial) dengan cara memilih dan membangun analisis baik
secara spasial maupun non spasial.

4.1.1 Pendekatan Spasial


Pendekatan spasial bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis
kondisi lahan kritis secara fisik di kawasan studi dalam hal ini kawasan Dataran
Tinggi Dieng. Dalam pendekatan ini terdapat beberapa kelompok parameter
boifisik spasial yang akan dianalisis yaitu, terkait dengan kondisi penggunaan
lahan (land use), kesesuaian lahan (land suitablity), dan derajat/ tingkat kekritisan
lahan di wilayah studi.
69

4.1.2 Pendekatan Sistem Aktivitas


Pendekatan sistem aktivitas secara umum dapat dipahamin sebagai upaya
untuk memahami pola-pola perilaku dari perorangan, lembaga-lembaga dan
firma-firma yang mengakibatkan terciptanya pola-pola keruangan (Chapin, 1965
dalam Yunus, 2000: 173). Sedangkan sistem aktivitas manusia di dalam suatu
ruang terdiri atas kegiatan sosial (kegiatan dalam berkeluarga, kesehatan,
pendidikan, agama, rekreasi, dan sebagainya). Kemudian kegiatan ekonomi yang
terdiri dari (kegiatan dalam mata pencaharian, cara berkonsumsi, pertukaran
barang dan jasa, dan sebagainya) (Jayadinata, 1999: 27).

4.2 Metode Penelitian


Metode penelitian merupakan suatu kesatuan sistem yang digunakan
untuk memecahkan masalah dalam penelitian. Tahapan dalam metode penelitian
secara garis besar terdiri dari tahap pengumpulan data, pengolahan data, dan tahap
analisis. Dapat dijelaskan sebagai berikut:

4.2.1 Tahap Pengumpulan Data


A. Kebutuhan Data
Data-data yang dibutuhkan dalam penelitian ini antara lain berupa data
fisik di wilayah studi berupa data penggunaan lahan eksisting, data peta topografi/
kelerengan, jenis tanah, dan curah hujan. Selanjutnya terkait dengan kebutuhan
data lahan kritis maka jenis data yang diperlukan diantaranya adalah data tutupan
lahan, kemiringan lereng, tingkat bahaya erosi, pengolahan lahan (produktivitas
dan manajemen lahan), dan data singkapan batuan. Adapun terkait dengan
kebutuhan data sosial ekonomi (sistem aktivitas) di wilayah studi dapat berupa
data jumlah dan kepadatan penduduk, tingkat pendidikan penduduk, mata
pencaharian penduduk, tingkat pendapatan, dan produktivitas lahan pertanian.
Untuk lebih jelasnya terkait dengan kebutuhan data kajian lahan kritis di
Kawasan Dataran Tinggi Dieng dapat dilihat pada tabel dibawah ini;
70

TABEL IV. 1
KEBUTUHAN DATA
No. Sasaran Variabel Atribut Jenis Data Sumber
1 Penggunaan Lahan
Identifikasi dan Guna Lahan - Permukiman Sekunder Bappeda,
analisis Eksisting - Komersial Dinas
Penggunaan Lahan Pertanian, dan
- Industri Dinas
- Taman Kehutanan dan
- Pertanian Perkebunan

- Hutan
2 Aspek Kesesuaian Lahan
Identifikasi Jenis tanah Aluvial Sekunder Bappeda,
karakteristik fisik Asosiasi Aluvial Dinas
dan kesesuaian Kelabu Pertanian,
lahan
Gerosol BPN
Grumosol
Latosol Coklat
Latosol Coklat
Kemerahan
Mediteran Coklat
Tua
Kelerengan Datar Sekunder
Landai dan Primer

Agak Curam
Curam
Sangat Curam
Curah Hujan 0-13,6 mm/hr Sekunder
13,6-20,7 mm/hr
20,7 27,7 mm/hr
27,7 34,8 mm/hr
>34,8 mm/hr
Fungsi Lindung Sekunder
Kawasan Penyangga
Budidaya

2 Aspek Tingkat Kekritisan lahan
Mengidentifikasi Penutupan > 80% Sekunder Bappeda,
dan menganalisis lahan Dinas
kondisi fisik alam 61 - 80 % Pertanian, dan
dan menentukan 41 - 60 % Dinas
tingkat kekritisan 21 - 40 % Kehutanan dan
lahan Perkebunan

< 20 %
Kemiringan - Datar < 8% Sekunder
lereng - Landai 8 - 15%
71

No. Sasaran Variabel Atribut Jenis Data Sumber


- Agak curam 15-25
%
- Curam 25 - 40%
- Sangat curam
>40%
Produktivitas - Sngt Tinggi > 80% Sekunder
dan Primer
- Tinggi 61 - 80 %
- Sedang 41 - 60 %
- Rendah 21 - 40 %
- Sngt rendah < 20 %
Erosi - Ringan Sekunder
- Sedang
- Berat
- Sangat berat
Singkapan - Sedikit Sekunder
Batuan - Sedang
- Banyak
Manajemen - Baik Sekunder
dan Primer
- Sedang
- Buruk
4 Aspek Sosial
ekonomi
Identifikasi Kependudukan - Jumlah dan Sekunder Bappeda, BPS,
karakteristik sosial kepadatan penduduk dan Primer Kecamatan
dan ekonomi Batur, dan
masyarakat masyarakat
setempat
- Tingkat pendidikan
- Mata pencaharian
- Kelembagaan
Dampak lahan - Tingkat - Jumlah produksi Sekunder Bappeda, BPS,
kritis terhadap produktivitas tanaman (kw) dan Primer Kecamatan
sosial ekonomi lahan Batur, dan
masyarakat - Tingkat - Luas panen (ha) masyarakat
pendapatan - Pendapatan
keluarga pertanian
- Pendapatan non
pertanian
Sumber : Penulis, 2013
72

B. Sumber Data
1) Data Primer
Teknik ini merupakan pengumpulan data langsung dari sumbernya atau
dengan pengamatan langsung untuk mengetahui fakta aktual di lapangan.
Pengumpulan data yang dilakukan melalui teknik pengamatan langsung, yaitu
berupa pengamatan kondisi fisik alam dan pengamatan sistem aktivitas
masyarakat yang selanjutnya dilakukan visualisasi berupa dokumen foto
maupun video. Teknik pengumpulan data primer selanjutnya yaitu melalui
teknik wawancara, berupa proses bertukar pandangan dan informasi antara
dua orang atau lebih dengan tujuan mendapatkan pandangan dan opini dari
informan mengenai tema penelitian. Sedapat mungkin, wawancara dilakukan
secara face to face. Pertanyaan yang diajukan bersifat terbuka dengan
tujuan mengembangkan jawaban, namun tetap dalam konteks penelitian.
Terkait dengan wilayah studi maka informan yang dibutuhkan sedapat
mungkin memahami tentang;
- Menyangkut kebijakan penataan ruang terkait pemafaatan lahan di
Kawasan Dataran Tinggi Dieng. Untuk itu informan yang dapat
diambil dari instansi Bappeda, Dinas Pertanian, dan Dinas Kehutanan
dan Perkebunan Kabupaten Banjarnegara.
- Menyangkut sistem aktivitas masyarakat Kawasan Dataran Tinggi
Dieng yang berkaitan dengan metode pengolahan lahan, tingkat
produktivitas pertanian, dan sistem pemasaran hasil pertanian dapat
ditanyakan langsung ke informan masyarakat, kelompok tani, dan
pegawai penyuluh pertanian di Kecamatan Batur.
Teknik pengumpulan data lainnya adalah melalui penyebaran kuesioner.
Kuesioner adalah suatu teknik pengumpulan informasi yang memungkinkan
analis mempelajari sikap-sikap, keyakinan, perilaku, dan karakteristik
beberapa orang utama di dalam organisasi yang bisa terpengaruh oleh sistem
yang diajukan atau oleh sistem yang sudah ada. Dengan menggunakan
kuesioner, analis berupaya mengukur apa yang ditemukan dalam wawancara,
selain itu juga untuk menentukan seberapa luas atau terbatasnya sentimen
yang diekspresikan dalam suatu wawancara. Pembagian kuesioner dengan
73

pemilihan sampel dengan metode stratified random sampling dengan


menggunakan jumlah KK sebagai populasinya. Kemudian untuk menentukan
jenis sampel pada wilayah studi adalah sebagai berikut:
a. Sebagai Populasi dari sampel adalah KK yang ada di Kecamatan
Batur.
b. Kemudian mencari data KK di masing-masing kelurahan dan
dilakukan pengundian sehingga masing-masing KK memperoleh
kesempatan yang sama.
c. Sampel diundi hingga mendapatkan proporsi yang sesuai dengan
tingkat kesejahteraan keluarga untuk masing-masing kelurahan.
2) Data Sekunder
Teknik pengumpulan data sekunder dilakukan melalui survey institusional
dan studi literatur. Survey institusional dilakukan dengan pencarian data ke
instansi-instansi terkait yaitu Bappeda, Badan Pertanahan Nasional, Dinas
Pertanian, BLH, dan Dinas Kehutanan dan Perkebunan. Sedangkan studi
literatur dilakukan melalui buku-buku, artikel-artikel melalui internet serta
dari berbagai jurnal terkait.
C. Populasi dan Sampel Penelitian
Menurut Sugiama (2008) populasi merupakan sekumpulan dari individu yang
memiliki karakteristik tertentu. Sedangkan sampel adalah bagian (subset) dari
sebuah populasi yang lebih besar (Marwansyah, 2009). Jika dalam suatu
populasi jumlah anggota individunya tetap, maka disebut populasi finit.
Sedangkan jika populasi jumlahnya berubah-ubah, maka disebut populasi
infinit (Sugiama, 2008: 115).
Pada suatu populasi ada dua teknik yang digunakan untuk mengungkap
perilaku individu, yaitu sensus dan sampling (Sugiama, 2008: 115). Sensus
disebut complete enumeration atau cencus study, yaitu menghitung atau
mengamati satu demi satu dari seluruh anggota populasi. Secara singkat,
sensus itu meneliti seluruh unit yang ada dalam populasi. Sedangkan
sampling (sampling enumeration) digunakan untuk mengungkap keterangan
atau karakteristik hanya dari sebagian anggota populasi saja.
74

Menurut Singarimbun (1995:171) besarnya sampel agar distribusinya normal


adalah sampel yang jumlahnya lebih besar dari 30, yang diambil secara
random. Untuk menentukan besarnya jumlah sampel yang akan diambil
dalam studi ini, digunakan rumus Slovin (Umar, 2002:146) sebagai berikut :

Dimana :

n = Jumlah sampel

N = Jumlah populasi

e = Toleransi derajat kelonggaran ketidaktelitian karena kesalahan


pengambilan sampel yang nilainya antara 2 % - 15 %.

Jumlah sampel di wilayah studi dapat diketahui berdasarkan perhitungan


slovin pada jumlah populasi KK (kepala keluarga) petani di seluruh desa di
Kecamatan Batur. Berdasarkan data statistik tahun 2011 jumlah kepala
keluarga di Kec. Batur yaitu sebesar 9.516 KK, sehingga jumlah sampel
berdasarkan rumus slovin dan dengan mempertimbangkan derajat toleransi
kesalahan (error) sebesar 10% maka hasilnya adalah 98,96 sampel atau
dibulatkan menjadi 100 sampel. Dari 100 sampel tersebut dibagi secara
proposional ke dalam 8 desa yang ada di Kec. Batur.

4.2.2 Tahap Pengolahan Data


Data yang telah terkumpul selanjutnya diklasifikasikan dan
diorganisasikan secara sistematis serta diolah secara logis menurut rancangan
penelitian yang telah ditetapkan. Pencatatan dan kompilasi data yang dilakukan
meliputi pula tahapan:
- Tahap Klasifikasi, pada tahapan ini dilakukan pengelompokkan data
berdasarkan kepentingan dan tujuan yang ingin dicapai atau berdasarkan
kesamaan dalam aspek tertentu
- Tahap Verifikasi, tahapan ini bertujuan untuk memeriksa kelengkapan data
berdasarkan pada daftar yang telah disusun
75

- Tahap Validasi, merupakan kegiatan penilaian terhadap data-data yang


sudah ada, apakah sudah cukup valid dan mempresentasikan kondisi objek
yang diamati.
- Tahap Penyajian, dilakukan dalam bentuk deskriptif, tabulasi dan gambar
pemetaan. Penyajian data secara deskriptif digunakan untuk data yang tidak
bisa disajikan dalam bentuk tabel dan gambar. Gambar untuk menyajikan
data-data yang bisa dituangkan dalam gambar termasuk peta sehingga lebih
informatif dan mudah dipahami.

4.2.3 Tahap Analisis


Metode analisis yang digunakan pada tahap studi ini adalah dengan
metode analisis sintesis kuantitatif dan analisis deskriptif kualitatif. Adapun
analisis yang menggunakan metode sintesis kuantitatif ini dilakukan dengan cara:
A. Analisis Fisik
Pengkelasan, skoring, dan pembobotan dengan skala dan kriteria seperti
yang telah ditetapkan dalam SK Dirjen RRL No. 041/Kpts/ V/ 1998 untuk
penentuan lahan kritis dan SK Menteri Pertanian No. 837/UM/II/1980 dan
No.683/KPTS/UM/VIII/1981 untuk analisis kesesuaian lahan.
Analisis lahan kritis
Kriteria penetapan lahan kritis untuk kawasan budidaya pertanian
berdasarkan klasifikasi tingkat kekritisan lahan dapat diperoleh
berdasarkan jumlah skor parameter kekritisan lahan seperti ditunjukkan
pada tabel berikut:

TABEL IV. 2
KLASIFIKASI TINGKAT KEKRITISAN LAHAN BERDASARKAN
TOTAL SKOR

Total Skor Lahan Kawasan Budidaya


No. Tingkat Kekritisan Lahan
Pertanian

1 Sangat Kritis 115-200


2 Kritis 201-275
3 Agak Kritis 276-350
4 Potensial Kritis 351-425
76

Total Skor Lahan Kawasan Budidaya


No. Tingkat Kekritisan Lahan
Pertanian

5 Tidak Kritis 426-500


SK Dirjen RRL No. 041/Kpts/V/1998

Parameter lahan kritis kawasan pertanian ada lima yaitu kelerengan,


tingkatan erosi, produktifitas, manajemen, dan batuan sehingga dalam
menentukan skoring setiap kriteria untuk masing-masing kawasan
mempunyai bobot yang berbeda-beda disesuaikan dengan fungsi
kawasannya. Dalam memberikan nilai skor dan nilai kualitatif himpunan
pada tiap parameter, sesuai dengan batasan diskrit pada kriteria lahan
kritis. Skor bobot dihasilkan dengan mengkalikan nilai skor pembentuk
kekritisan dengan bobot :
Skor bobot = skor x bobot
Adapun pelaksanaanya mengacu pada ketetapkan dalam SK Dirjen RRL
No. 041/Kpts/V/1998 yaitu sebagai berikut:
a. Data Spasial Kemiringan Lereng
Kemiringan lahan diklasifikasikan kedalam 5 kelas yaitu datar, landai,
agak curam, curam dan sangat curam. Data kemiringan lahan di gunakan
untuk menentukan tingkat kekritisan lahan untuk semua kawasan yaitu
kawasan budidaya pertanian dengan bobot 20. Penentuan nilai skor untuk
kemiringan lahan dapat dilihat pada Tabel dibawah ini.

TABEL IV. 3
KLASIFIKASI LERENG DAN SKORINGNYA UNTUK
PENENTUAN LAHAN KRITIS

Kemiringan Lereng Skor x Bobot (20)


Kelas Skor
(%)
1. Datar <8 % 5 100
2. Landai 8 15 % 4 80
3. Agak Curam 16 25 % 3 60
4. Curam 26 40 % 2 40
5. Sangat Curam >40 % 1 20
SK Dirjen RRL No. 041/Kpts/V/1998
77

b. Data Spasial Tingkat Erosi


Erosi diklasifikasikan kedalam 4 kelas yaitu ringan, sedang, berat dan
sangat berat. Data erosi merupakan parameter untuk menentukan tingkat
kekritisan lahan yang digunakan pada semua fungsi kawasan yaitu
kawasan budidaya pertanian dengan bobot 15 %. Penentuan nilai skor
untuk erosi lahan dapat dilihat pada Tabel dibawah ini :

TABEL IV. 4
KLASIFIKASI TINGKAT EROSI DAN SKORINGNYA UNTUK
PENENTUAN LAHAN KRITIS

Skor x Bobot
Kelas Besaran/Diskripsi Skor
(15)
1. Ringan Tanah dalam : <25% lapisan tanah atas hilang 5 75
dan/atau erosi alur pada jarak 20 50 m
Tanah dangkal : <25% lapisan tanah atas hilang
dan/atau erosi alur pada jarak >50 m
2. Sedang Tanah dalam : 25 75 % lapisan tanah atas 4 60
hilang dan/atau erosi alur pada jarak kurang dari
20 m
Tanah dangkal : 2550% lapisan tanah atas
hilang dan/atau rosi alur dengan jarak 20 - 50 m

3. Berat Tanah dalam : Lebih dari 75 % lapisan tanah 3 45


atas hilangdan/atau erosi parit dengan jarak 20 -
50 m
Tanah dangkal : 50 75 % lapisan tanah atas
hilang

4. Sangat. Tanah dalam : Semua lapisan tanah atas 2 30


Berat hilang >25 % lapisan tanah bawah dan/atau
erosi parit dengan kedalaman sedang pada jarak
kurang dari 20 m
Tanah dangkal : >75 % lapisan tanah atas
telah hilang, sebagian lapisan tanah bawah telah
tererosi
Sumber : SK Dirjen RRL No. 041/Kpts/V/1998
78

Untuk menyesuaikan data pengkelasan tingkat erosi dengan yang


sebelumnya maka kelas tingkat erosi dibagi menjadi 5 (lima) kelas yaitu
mulai dari kelas Sangat Ringan (SR), Ringan (R), Sedang (S), Berat (B)
dan Sangat Berat (SB).
c. Data Spasial Produktivitas
Produktifitas lahan diklasifikasikan kedalam 5 kelas yaitu sangat tinggi,
tinggi, sedang, rendah dan sangat rendah. Data produktifitas merupakan
parameneter untuk menentukan tingkat kekritisan lahan pada kawasan
budidaya pertanian dengan bobot 30%. Penentuan nilai skor untuk
menejemen lahan dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

TABEL IV. 5
KLASIFIKASI PRODUKTIVITAS DAN SKORINGNYA UNTUK
PENENTUAN LAHAN KRITIS

Kelas Besaran/Diskripsi Skor Skor x Bobot (30)


1. Sangat Tinggi >80% 5 150
2. Tinggi 61 80 % 4 120
3. Sedang 41 60 % 3 90
4. Rendah 21 40 % 2 60
5. Sangat Rendah <20 % 1 30
Sumber : SK Dirjen RRL No. 041/Kpts/V/1998

Kriteria produktivitas dengan menggunakan unit pemetaan land system


pada dasarnya dilakukan dengan melakukan pengolahan terhadap atribut
data spasial land system. Pada atribut data spasial land system, perlu
ditambahkan field baru yang berisi informasi tentang produktivitas lahan
pada setiap unit land system. Berdasarkan atribut tersebut dilakukan
pengelompokan land system yang mempunyai kesamaan dalam hal
produktivitas lahannya.
d. Data Spasial Kriteria Manajemen
Menejemen lahan diklasifikasikan kedalam 3 kelas yaitu baik, sedang dan
buruk. Data manajemen merupakan parameter untuk menentukan tingkat
kekritisan lahan yang digunakan pada semua fungsi kawasan yaitu
79

kawasan budidaya pertanian dengan bobot 30 %.Penentuan nilai skor


untuk menejemen lahan dapat dilihat pada Tabel dibawah ini:

TABEL IV. 6
KLASIFIKASI MANAJEMEN DAN SKORINGNYA UNTUK
PENENTUAN LAHAN KRITIS

Kelas Besaran/Diskripsi Skor Skor x Bobot (30)

1. Baik Lengkap *) 5 150

2. Sedang Tidak lengkap 3 90

3. Buruk Tidak ada 1 30


Sumber : SK Dirjen RRL No. 041/Kpts/V/1998

*) : - Tata batas kawasan ada


- Pengamanan pengawasan ada
- Penyuluhan dilaksanakan

Berdasarkan kelengkapan aspek pengelolaan yang meliputi keberadaan


tata batas kawasan, pengamanan dan pengawasan serta dilaksanakan atau
tidaknya penyuluhan. Sesuai dengan karakternya, data tersebut merupakan
data atribut. manajemen pada prinsipnya merupakan data atribut yang
berisi informasi mengenai aspek manajemen yaitu meliputi kelengkapan
dalam pengolalaah lahan yang ada seperti tata batasan serta pengamanan
kawasan.
e. Data Singkapan Batuan/Out Crop
Singkapan batuan diklasifikasikan kedalam 3 kelas yaitu sedikit, sedang
dan banyak. Data singkapan batuan hanya dipakai untuk menentukan
tingkat kekritisan lahan pada kawasan budidaya pertanian dengan bobot
5%. Penentuan nilai skor untuk singkapan batuan dapat dilihat pada Tabel
dibawah ini.
80

TABEL IV. 7
KLASIFIKASI DAN NILAI SKOR UNTUK SINGKAPAN BATUAN

Skor x
Kelas Besaran/Diskripsi Skor
Bobot (5)
1. Sedikit < 10 % permukaan lahan tertutup batuan 5 25
15
2. Sedang 10 30 % permukaan lahan tertutup batuan 3

3. Banyak >30 % permukaan lahan tertutup batuan 1 5


Sumber : SK Dirjen RRL No. 041/Kpts/V/1998

Kriteria singkapan batuan berdasarkan berapa persen singkapan yang


menutupi batuan di atas permukaan lahan tanah. Dan sesuai dengan besaran
persentase dari tiga kelas sikapan batuan dimana permukaan lahan yang
tertutupi batuan.

Analisis kesesuaian lahan


Penentuan kelayakan lahan dari aspek daya dukung lahan berdasarkan
pada SK Mentan No.837/KPTS/UM/11/1980 dan No.
683/KPTS/UM/1982. Di mana untuk nilai skor yang diberikan untuk
tiap-tiap fungsi kawasan disajikan dalam tabel berikut ini:

TABEL IV. 8
KRITERIA DAN TATA CARA PENETAPAN
KAWASAN LINDUNG DAN BUDIDAYA

No. Fungsi Kawasan Total Nilai Skor

1 Kawasan Lindung >175

2 Kawasan Penyangga 125 174

3 Kawasan Budidaya Tanaman Tahunan <125

4 Kawasan Budidaya Tanaman Semusim <125

5 Kawasan Pemukiman <125

Sumber : SK Mentan No.837/KPTS/UM/11/1980 dan No. 683/KPTS/UM/8/1981


81

Keterangan penetapan kriteria dan tata cara penatapan kawasan lindung


dan budidaya dengan total nilai skor dari tiga faktor yang dinilai
meliputi:
Kelerengan
jenis tanah menurut kepekaan
curah hujan rata-rata harian
Adapun variabel kelas lereng yang merupakan salah satu penentu
kesesuaian lahan, dapat dikategorikan dalam lima tingkatan kelas lereng.
Pembagian kelas lereng tersebut sebagai berikut :

TABEL IV. 9
KELAS KELERENGAN DAN NILAI SKOR

No. Kelas Lereng (%) Deskripsi Skor

1 I 0-2 Datar 20
2 II 2-15 Landai 40
3 III 15-25 miring 60
4 IV 25-40 Sangat miring 80
5 V >40 curam 100
Sumber: SK Menteri Kehutanan No. 837/UM/II/1980 dan No.683/KPTS/UM/VIII/1981.

Penilaian yang berikutnya adalah penilaian atau skoring terhadap jenis


tanah yang didasarkan pada kepekaan terhadap erosi. Adapun pembagian
jenis tanah tersebut dapat dijabarkan dalam tabel berikut ini :

TABEL IV. 10
KELAS TANAH MENURUT KEPEKAAN EROSI

No. Kelas Jenis Tanah Deskripsi Skor

Alluvial, Tanah Glay,


1 I Planosol, Hidromorf Tidak Peka 15
Kelabu, Laterif Air tanah
2 II Latosol Kurang Peka 30
Brown forest, Non
3 III Peka 45
CalticBrown, Mediterania
4 IV Andosol, Leteric, Peka 60
82

No. Kelas Jenis Tanah Deskripsi Skor

Grumosol, Podsol,
Podsoltic
Regosol, Litosol,
5 V Sangat Peka 75
Organosol, Renzina
Sumber: SK Menteri Kehutanan No. 837/UM/II/1980 dan No.683/KPTS/UM/VIII/1981.

Selanjutnya untuk penentuan kesesuaian laha didapatkan pula dari


intensitas hujan harian rata-rata atau curah hujan. Variabel ini juga dibagi
kedalam beberapa tingkatan intensitasnya. Pembagiannya dapat tertuang
didalam tabel berikut ini :

TABEL IV. 11
KELAS INTENSITAS HUJAN HARIAN RATA-RATA DAN SKOR

No. Kelas Interval (mm/hari) Deskripsi Skor

1 I 0-13,6 Sangat rendah 10


2 II 13,6-20,7 Rendah 20
3 III 20,7-27,7 sedang 30
4 IV 27,7-34,8 Tinggi 40
5 V > 34,8 Sangat tinggi 50
Sumber: SK Menteri Kehutanan No. 837/UM/II/1980 dan No.683/KPTS/UM/VIII/1981

Setelah melakuka skoring pada masing-masing variabel di atas,


kemudian dilakukan penjumlahan total skor. penjumlahan total skor dari
tiga variabel tersebut akan menghasilkan kesesuaian lahan untuk kondisi
yang ada.
Selanjutnya melakukan overlay terhadap peta-peta tematik dengan skala
1 : 50.000, terkait dengan analisis lahan kritis beberapa peta yang dibutuhkan
seperti peta kelas lereng, peta penutupan lahan, peta tingkat erosi, peta outcrop
(singkapan batuan), peta manajemen lahan, dan peta produktivitas lahan.
Sedangkan untuk analisis kesesuaian lahan pertanian melakukan overlay terhadap
peta kelerengan, jenis tanah, peta curah hujan, dan peta guna lahan pertanian
eksisting.
83

B. Analisis Sosial Ekonomi Masyarakat


Selanjutnya melakukan analisis dampak lahan kritis terhadap kondisi
sosial ekonomi masyarakat. Analisis ini dilakukan untuk mengetahui informasi
perihal ada atau tidak adanya hubungan antara lahan kritis dengan dampaknya
terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat, yaitu dengan memanfaatkan alat
analisis crosstab. Dimana variabel utama yang digunakan yaitu tingkat kekritisan
lahan (y) dan produktivitas lahan pertanian (x1), dan tingkat pendapatan keluarga
(x2).
Prosedur tabulasi silang diaplikasikan untuk menghitung kombinasi nilai-
nilai yang berbeda dari dua variabel atau lebih, dengan menghitung data statistik
beserta ujinya. Data-data dari setiap variabel tersebut dikelompokan dalam
beberapa kategori dan masing-masing kategori diberi skor untuk mempermudah
perhitungannya. Kemudian variabel-variabel yang akan diidentifikasi
hubungannya disusun dalam baris dan kolom. Selanjutnya dilakukan perhitungan
koefisien kontingensi (contingency coefficient) untuk melihat ada atau tidak
adanya hubungan yang sempurna diantara dua variabel.
Metode analisis tabulasi silang akan mentabulasikan beberapa variabel
yang berbeda ke dalam suatu matriks, hasil tabulasi silang disajikan dalam bentuk
suatu tabel dengan variabel-variabel yang tersusun sebagai kolom dan baris tabel
tersebut.
Crosstabs dilihat dari beberapa metode uji yang digunakan yaitu berupa
uji chi-squre test untuk mengetahui hubungan antara baris dan kolom
uji directional measures untuk mengetahui kesetaraan antar hubungan
variabel.
uji tatistic measures untuk mengetahui hubungan setara berdasarkan chi-
square.
uji contingency tatistict untuk mengetahui koefisien kontingensi korelasi antar
dua variabel.
uji lambda Berfungsi merefleksikan reduksi pada error bilamana value-value
dari suatu variabel digunakan untuk memprediksi value-value dari variabel
lain.
uji Phi dan Cramers V: untuk menghitung koefisien phi dan varian cramer.
84

uji Goodman dan Kruskal tau di gunakan untuk membandingkan probabilitas


error dari dua situasi.
Menurut Nasir (1999) uji hipotesis yang dilakukan dengan melihat
besaran contingency coefficient (Cc) pada rentang skala antara 0 sampai 1 atau 0 <
Cc > 1, dimana:
Cc = 0, berarti tidak ada hubungan antara baris dan kolom, dan
Cc = 1, berarti ada hubungan sempurna antara baris dan kolom.
Dalam hal ini semakin mendekati angka 1, maka hubungan yang terjadi
semakin kuat dan semakin mendekati angka 0, maka hubungan yang terjadi
semakin lemah.
Adapun variabel-variabel yang digunakan dalam analisis tabulasi silang
ini dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

TABEL IV. 12
HUBUNGAN ANTAR VARIABEL DALAM ANALISIS TABULASI
SILANG

No. Analisis Variabel Terikat Variabel Bebas


1. Hubungan antara lahan (dampak) - Klasifikasi lahan kritis
kritis terhadap tingkat - Tinggi (Tidak kritis, potensial
produktivitas pertanian. - Sedang kritis, Agak kritis, kritis,
- Rendah sangat kritis.
- Jumlah produksi
tanaman (kw).
- Luas panen (ha).
2. Hubungan antara lahan (dampak) - Klasifikasi lahan kritis.
kritis terhadap tingkat - Tinggi - Klasifikasi pendapatan
pendapatan petani. - Sedang petani.
- Rendah
85

Sumber : Penulis, 2013

GAMBAR 4. 1
KERANGKA ANALISIS
86

Contents
4.1 Pendekatan Penelitian ................................................................................................. 68
4.1.1 Pendekatan Spasial .............................................................................................. 68
4.1.2 Pendekatan Sistem Aktivitas ............................................................................... 69
4.2 Metode Penelitian........................................................................................................ 69
4.2.1 Tahap Pengumpulan Data ................................................................................... 69
4.2.2 Tahap Pengolahan Data ....................................................................................... 74
4.2.3 Tahap Analisis ..................................................................................................... 75

Tabel IV. 1 Kebutuhan Data ....................................................................................................... 70


Tabel IV. 2 Klasifikasi Tingkat Kekritisan Lahan Berdasarkan Total Skor ............................... 75
Tabel IV. 3 Klasifikasi Lereng Dan Skoringnya Untuk Penentuan Lahan Kritis ....................... 76
Tabel IV. 4 Klasifikasi Tingkat Erosi Dan Skoringnya Untuk Penentuan Lahan Kritis ............. 77
Tabel IV. 5 Klasifikasi Produktivitas Dan Skoringnya Untuk Penentuan Lahan Kritis ............. 78
Tabel IV. 6 Klasifikasi Manajemen Dan Skoringnya Untuk Penentuan Lahan Kritis ................ 79
Tabel IV. 7 Klasifikasi Dan Nilai Skor Untuk Singkapan Batuan .............................................. 80
Tabel IV. 8 Kriteria Dan Tata Cara Penetapan ........................................................................... 80
Tabel IV. 9 Kelas Kelerengan Dan Nilai Skor ........................................................................... 81
Tabel IV. 10 Kelas Tanah Menurut Kepekaan Erosi .................................................................. 81
Tabel IV. 11 Kelas Intensitas Hujan Harian Rata-Rata Dan Skor .............................................. 82

Gambar 4. 1 Kerangka Analisis .................................................................................................. 83