Anda di halaman 1dari 6

TUGAS

MANAJEMEN KEHUTANAN

REVIEW JURNAL PENGELOLAAN HUTAN RAKYAT

DISUSUN OLEH :

NAMA : NURUL FADILAH ATIK

NIM : M111 15 304

KELAS : B

LABORATORIUM KEBIJAKAN DAN KEWIRAUSAHAAN KEHUTANAN

FAKULTAS KEHUTANAN

UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR

2017
PENGELOLAAN HUTAN RAKYAT BERKELANJUTAN
DI KABUPATEN CIAMIS
Sustainable Social Forest Management in The Ciamis Regency

Hutan rakyat merupakan hutan yang tumbuh di atas lahan yang dibebani hak
milik (hutan hak) yang dikelola oleh rakyat. Pada dasarnya hutan rakyat di Jawa
Barat khususnya di daerah Ciamis, terdapat pada daerah daratan yang kering dimana
tanahnya merupakan lahan yang kemungkinan sangat peka terhadap erosi. Terlebih
lagi jika kondisi tanah yang ada sangat tidak subur atau dengan kata lain adanya
kekurangan unsur hara dalam tanah, maka kejadian erosi tanah akan sangat mungkin
untuk selalu terjadi. Akan tetapi, kejadian erosi pada hutan rakyat yang ada di tanah
kering tersebut masih dapat diminimalisir dengan selalu menjaga kondisi hara tanah
agar tetap seimbang dan tanah selalu subur.
Pada dasarnya, pengelolaan hutan rakyat sudah lama dilakukan oleh masyarakat
yang ada di daerah Ciamis, hanya saja kendala yang terjadi sekarang adalah mengenai
luasan hutan rakyat dan pengetahuan budidaya hutan yang dimiliki oleh petani/
masyarakat. Pertama, bahwasannya hutan rakyat di daerah Ciamis khususnya, dan
umumnya hutan rakyat yang ada di seluruh wilayah pulau Jawa mempunyai luasan
yang sangat kecil, dimana rata-rata luasan yang dimiliki oleh satu orang petani/
masyarakat adalah masih dibawah 1.0 Ha (< 1.0 Ha). Kedua, pemanfaatan
sumberdaya yang dihasilkan dari hutan rakyat. Adanya berbagai macam tujuan yang
ingin dicapai masyarakat atas hutan rakyat yang dimilikinya menyebabkan sebagian
besar hutan rakyat tidak dapat dikelola dengan lestari dan optimal. Terlebih lagi
dalam hal pengetahuan masyarakat yang masih terlalu minim, menyebabkan
masyarakat tidak banyak peduli akan kelestarian tanah dan hasil hutan yang ada.
Yang terpenting dipikiran masyarakat selama ini adalah mengenai bagaimana hutan
tersebut dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan hidup sehari-hari terutama kebutuhan
pangan dan sayur-sayuran, tanpa memikirkan cara yang baik untuk mengelola hutan
dan tanah agar tetap lestari dan memberikan hasil yang berkelanjutan di masa depan.
Oleh karena itu, kedua hal tersebut di atas merupakan salah satu aspek yang menjadi
kunci utama dalam perbaikan pengelolaan hutan rakyat di pulau Jawa khususnya di
daerah Ciamis.
Salah satu cara yang dapat dilakukan dalam pengelolaan hutan rakyat dan
pemanfaatan lahan secara optimal adalah dengan usaha hutan rakyat berbasis
Agroforestry, dimana di dalam lahan tersebut dimanfaatkan sebagian besar oleh
pohon-pohon berkayu (pohon-pohon kehutanan) dan tanaman pertanian (sayur-
sayuran, buah-buahan, dan komoditas pertanian lainnya) sebagai tanaman sela yang
mengisi antar pohon kehutanan. Agroforestry merupakan suatu teknik yang
memanfaatkan lahan secara hemat dan tepat guna dimana semua lokasi lahan
dimanfaatkan sebaik mungkin tanpa ada yang tersisa sedikitpun. Seperti yang sudah
diketahui bersama, bahwa pada pohon-pohon kehutanan terdapat aturan yang biasa
disebut dengan jarak tanam pohon. Pada jarak tanam ini, suatu tegakan diatur jarak
tanamnya antara pohon yang satu dengan yang lain guna menghasilkan tegakan yang
normal, seimbang, dan lebih produktif. Pada hutan alam maupun hutan tanaman,
biasanya diberikan jarak antar pohon ideal adalah sekitar 3 meter x 3 meter, sehingga
hanya sebagian kecil saja lahan yang bisa dimanfaatkan. Hal tersebut memang baik
dan sesuai aturan, karena dilakukan agar pohon tidak tertekan atau terhambat
petumbuhannya dari pohon-pohon lain di sekitarnya. Akan tetapi, pemanfaatan lahan
tidak dapat dilakukan secara optimal. Berbeda halnya pada sistem agroforestry ini,
semua lahan dimanfaatkan dengan sebaik mungkin, atau dengan kata lain tidak ada
sedikitpun lahan yang tidak dipergunakan. Teknik yang digunakan pada agroforestry
ini adalah pada selang antar jarak tanam pohon kehutanan yang ada dimanfaatkan
dengan menanam tanaman pertanian, seperti sayur-sayuran dan buah-buahan. Dengan
demikian, beberapa keinginan masyarakat yang saling bertentangan yang selama ini
terpikirkan di dalam memanfaatkan hasil hutan dapat tercapai dengan agroforestry
yaitu di samping petani/ masyarakat dapat memanfaatkan sayur-sayuran dan buah-
buahan yang ada di lahan hutan rakyat tersebut, petani juga dapat senantiasa menjaga
keberlanjutan fungsi lahan/tanah secara lestari dalam hal unsur hara dan
keberlanjutan hasil hutan (pohon berkayu) secara lestari dan optimal.
Pengelolaan hutan rakyat lestari adalah suatu sistem pengelolaan yang
memperhatikan kelayakan ekologi/ lingkungan, kelayakan pendapatan (ekonomi),
dan kelayakan sosial yang dapat menjamin dalam pemenuhan kebutuhan secara
optimal dan berkelanjutan. Kelayakan ekologi adalah memperhatikan kelangsungan
fungsi ekologis dan lingkungan, dalam hal ini bahwa hutan merupakan tempat
tumbuhnya flora dan fauna yang beraneka ragam yang harus dikelola dan dijaga agar
tetap lestari, serta tanah yang ada harus dijaga agar tidak menyebabkan terjadinya
erosi. Kelayakan ekonomis adalah bahwa hutan rakyat harus dapat menghasilkan nilai
ekonomi (pendapatan) dan manfaat (perolehan) yang tinggi bagi masyarakat secara
berkelanjutan baik hasil untuk masa kini maupun masa depan. Sedangkan kalayakan
sosial adalah mengenai posisi dan fungsi hutan rakyat sebagai penyedia lapangan
kerja bagi masyarakat sekitar, sehingga semakin banyak hutan rakyat yang ada,
pekerjaan yang diberikan untuk masyarakat sekitar hutan akan bertambah pula.
Hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Eming Sudiana, dkk. (2009)
mendapatkan sembilan basis pola tanam hutan rakyat di daerah Ciamis yaitu pola
tanam berbasis tanaman sengon, mahoni, jati, karet, tanaman serbaguna, tanaman
semusim, coklat, kapulaga, dan kopi. Perbedaan tersebut dilakukan atas dasar
kebutuhan dan kepemilikan bibit tanaman yang ada di masyarakat. Pada penelitian
ini, dilakukan pengamatan mengenai tumbuhan bawah penutup tanah. Tumbuhan
bawah yang paling rapat terdapat pada pola tanam berbasis jati, kemudian diikuti oleh
pola tanam MPTS, dan kapulaga. Sedangkan yang paling jarang terdapat pada pola
tanam berbasis coklat, karet, dan sengon. Adanya tumbuhan bawah yang jarang pada
pola tanam berbasis coklat, karet, dan sengon disebabkan karena petani lebih memilih
model pengelolaan perkebunan, sehingga petani berpikir bahwa tumbuhan bawah
tersebut akan merusak dan mengganggu kebun mereka sehingga dilakukan
pembabatan tumbuhan bawah. Berdasarkan nilai erosi yang diperbolehkan (ETol),
hanya didapatkan pada tiga pola tanam yang optimal, yaitu pola tanam berbasis
tanaman jati, mahoni, dan tanaman serbaguna (MPTS). Nilai erosi yang didapat rata-
rata 17 - 25 ton/ha/tahun atau dikatakan masih dalam tingkatan erosi yang
diperbolehkan.
Selanjutnya adalah pengamatan mengenai biodiversitas (keanekaragaman)
tumbuhan. Dari hasil yang didapat, memiliki korelasi yang cukup berarti dengan
produktivitas tanaman tahunan dan limpasan permukaan. Biodiversitas tumbuhan
mampu menjelaskan ragam produktivitas tanaman tahunan sebesar 53,10%,
sedangkan terhadap ragam limpasan permukaan sebesar 82,70%. Untuk
meningkatkan produktivitas tanaman khususnya pada tanaman mahoni, pisang, aren,
dukuh, dan petai dengan nilai masing-masing sebesar 11,79 m3/tahun, 1.323,89
kg/tahun, 1.123,15 kg/tahun, 259,98 kg/tahun, dan 252,48 kg/tahun harus dihadapkan
dengan resiko terjadinya peningkatan erosi dan limpasan permukaan masing-masing
sebesar 461,52 ton/ha/tahun dan 15.696,98 m3/ha/bulan. Disamping itu, resiko yang
terjadi adalah penurunan produktivitas pada tanaman jati sebesar 3,34 m3/tahun,
coklat 244,78 kg/tahun, kapulaga 931,60 kg/tahun, dan kopi 700,29 kg/tahun. Resiko
lain yang dapat terjadi adalah penurunan pendapatan petani. Dari data yang diperoleh,
meskipun tampak terjadi kenaikan penyerapan tenaga kerja pertanian sebesar 36,64
HOK/tahun dan kenaikan cadangan karbon sebesar 626,01 Mg/ha, pendapatan petani
semakin menurun dari sebelumnya.
Solusi optimal yang diusulkan dalam penelitian ini adalah dengan cara
penyusunan skenario melalui perbaikan kerapatan tanaman dengan memprioritaskan
pada kegiatan meminimalkan erosi dan limpasan permukaan dengan tetap
memperhatikan kendala keterbatasan modal dan luas lahan yang dimiliki oleh petani/
masyarakat. Petani dengan luasan lahan yang sempit cenderung mengelola hutan ke
arah pola tanam hutan rakyat monokultur, sedangkan pada lahan yang luas cenderung
dikelola dengan model hutan rakyat campuran, seperti: pola tanam berbasis tanaman
semusim dan tanaman serbaguna (MPTS) maupun perkebunan campuran
(Agroforestry), seperti: pola tanam karet, coklat, kapulaga, dan kopi.
Produktivitas hutan rakyat di kabupaten Ciamis yang masih berada pada kisaran
mendekati target produktivitas hutan sekunder, upaya tersebut tentunya mengarah
pada pencapaian tujuan utama pengelolaan hutan rakyat, yaitu: menekan seminimal
mungkin erosi dan limpasan permukaan, kemudian dilakukan tindakan selanjutnya
untuk meningkatkan tujuan ekonomi dan sosial. Sebab dengan langkah tersebut,
kesuburan tanah dan ketersediaan air dapat dipertahankan. Tanah subur dengan air
yang cukup tersedia pada lahan hutan rakyat akan terbangun ekosistem hutan rakyat
yang sehat dengan unsur hara yang banyak terdapat di dalamnya dan sekaligus dapat
meningkatkan produktivitas hasil hutan rakyat baik pohon-pohon kehutanan maupun
sayur-sayuran yang menjadi kebutuhan petani/ masyarakat, serta peningkatan
pendapatan petani pengelola hutan rakyat yang semakin bertambah terutama pada
penambahan lapangan pekerjaan yang diberikan dari adanya hutan rakyat di
sekitarnya.