Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pancasila adalah dasar negara atau dikenal sebagai ideologi bangsa, merupakan
pedoman pokok dalam mengatur kehidupan masyarakat berbangsa dan bernegara dalam segi
politik, ekonomi dan sosial. Konstitusi di Negara Indonesia yang berlandaskan Pancasila
sejak Negara Indonesia berdiri hingga sekarang telah banyak mengalami permasalahan. Tapi
hingga kini tetap dapat berdiri dengan kokoh.

Pancasila sebagai dasar negara, dianggap sesuai dengan situasi kondisi manusia atau
masyarakat yang memiliki latar belakang kehidupan yang beraneka ragam. Manusia sebagai
makhluk ciptaanNya, terutama masyarakat Indonesia wajib bertaqwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa serta menjalankan semua perintahNya, seperti pada sila pertama. Tapi dari masa ke
masa semakin banyak manusia-manusia yang tidak memiliki jiwa Pancasila. Mereka
membaca Pancasila hanya sebatas di bibir saja, tapi tidak mengamalkan atau
mengaplikasikan dalam kehidupannya sehingga disana sini marak dengan perkelahian
pelajar, penggunaan obat-obatan terlarang/ narkoba bahkan penyakit yang paling parah yang
tidak dapat disembuhkan dikalangan pejabat yaitu korupsi. Semua ini adalah tanda-tanda dari
kemerosotan akhlak bangsa yang sulit untuk diobati karena sila pertama untuk manusia-
manusia seperti itu hanyalah tulisan belaka.

Setiap manusia memiliki jiwa, raga, dan akal yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha
Esa, tapi seringkali akal itu dikalahkan oleh nafsu sehingga terciptalah kebobrokan dalam
mental dan moral. Sebenarnya manusia diberikan dua pilihan, baik atau buruk. Karena
pribadi-pribadi semacam ini tidak menjiwai Pancasila sehingga akal menjadi nomor yang
kesekian. Sedangkan nafsulah yang menjadi nomor satu.

Persatuan Indonesia dalam sila ketiga adalah sesuatu yang bulat, tidak dapat dipisah-
pisah. Oleh karena itu dalam pergaulan suatu harus saling menunjukkan rasa persatuan
walaupun berbeda-beda agama, suku, adat dan latar belakang. Namun yang ada sekarang
justru bukannya bersatu tapi perbedaan pandangan sedikit saja bisa memicu pertentangan
atau perkelahian bahkan yang lebih mengenaskan lagi bisa terjadi pembunuhan.
1.2 Rumusan Masalah

a. Bagaimana potret Indosnesia sekarang?


b. Apa saja penyebab terjadinya dekadensi moral bangsa ini?
c. Dimanakah kedudukan pancasila?.
d. Apa saja yang dapat dilakukan dalam perbaikan moral anak bangsa?

1.3 Tujuan

a. Untuk menambah pengetahuan tentang Pancasila.


b. Untuk mengetahui faktor-faktor penyebab terjadinya dekadensi moral.
c. Untuk mengetahui tentang masalah dan solusi dalam dekadansi moral berdasarkan
Pancasila.
d. Untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Pancasila.

1.4 Manfaat
a. Mahasiswa dapat menambah pengetahuan tentang Pancasila.
b. Mahasiswa dapat mengetahui tetang faktor-faktor penyebab terjadinya dekadensi
moral.
c. Mahasiswa dapat mengetahui masalah dan solusi dalam dekadansi moral berdasarkan
Pancasila.
BAB II
PEMBAHASAN

2.2 Pengertian Pancasila


Dekadensi berasal dari kata dekaden (keadaan merosot dan mundur). Dengan demikian,
dekadensi merupakan kemunduran dan kemorosatan yang terus menerus (sengaja atapun
tidak sengaja) terjadi serta sulit untuk diangkat atau diarahkan menjadi seperti keadaan
semula atau sebelumnnya.

Potret Indonesia Masa Kini


Akhir-akhir ini banyak ditemukan kasus terkait dengan masalah moral bangsa
Indonesia. Entah kasus tersebut yang menyangkut anak usia dini, remaja sampai pada
para pembesar di Indonesia. Banyak kalangan terjerat masalah moral. Korupsi,
prostitusi, judi dan tindakan kriminal kerap terjadi.Media massa pun hampir tak
pernah absen dalam memberitakannya, tanpa ada tindak lanjut yang serius dalam
perubahan. Yang ada justru saling membantah, menutup- menutupi dan hukum yang
diperjual belikan. Tak ada lagi kebenaran dan kebaikan, yang berjaya adalah uang.
Bahkan Prof. Dr. M.T. Zen, Guru Besar Emeritus Teknik Geofisika ITB pernah
berkomentar tentang bangsa ini Tak ada bangsa yang sekarang sangat sibuk merusak
dirinya sendiri selain bangsa Indonesia.[1]
Kasus yang menimpa para politisi bangsa ini semakin memperjelas betapa
bobroknya moral para pemimpin bangsa ini. Pada Desember 2006 lalu, Yahya Zaini
terlibat kasus video mesum dengan penyanyi Maria Eva. Kemudian tahun 2008 muncul
kasus Max Moein yang dituduh melakukan pelecehan seksual terhadap sekretaris
pribadinya, Desy Firdiyanti. Selang beberapa tahun kemudian Arifinto tertangkap
basah sedang membuka situs porno saat sidang paripurna berlangsung. Baru-baru ini,
Indonesia kembali digemparkan oleh kasus video mesum yang pemainnya mirip
anggota DPR Komisi IX.
Selain itu, kemarin-kemarin kita pernah digemparkan dengan video mesum
yang dilakoni Aril, Luna Maya dan Cut Tari. Hal ini masih sekitar mereka-mereka
yang punya nama di negeri ini dan ditemukan. Lain dari itu, jauh lebih banyak lagi.
Dan fenomena kekerasan yang berbau SARA juga ikut meramaikan media massa.
Semua menjadi ancaman bagi keutuhan Indonesia dan kelestarian budaya juga
lainnya. Semuanya tidak bisa dibiarkan begitu saja, kecuali kita akan menjadi
penghianat dan berdosa kepada para pejuang bangsa ini.
Ketika melihat berbagai fenomena di atas, sempat terbersit dalam benak
bagaimana nasib kalangan bawah jika para pemimpinnya saja tidak becus dan tidak
memberikan contoh yang tepat. Beberapa hal di atas masih sebatas menyangkut
pornografi juga pornoaksi, lain lagi korupsi yang menjerat para politisi, prostitusi dan
tindak kriminal yang terus bertambah dan lainnya.
Indonesia yang sebelumnya dikenal sebagai Negara agamis dan warga
negaranya yang religius dengan mayoritas beragama Islam, bahkan terbesar sedunia
menjadi tercoreng oleh perilaku warga negaranya yang amoral. Di manakah letak
kesalahan? Apakah konsep-konsep agama atau para pemeluknya yang jauh dari
ketaatan? Hal ini menjadi auto-kritik bagi bangsa ini yang dikenal religius.
Pada tahun 2011, dekadensi moral yang menggerogoti karakter bangsa
Indonesia, khususnya karakter religius dan ideologi Negara ditanggapi DIKNAS
dengan diharuskannya penyisipan 18 nilai-nilai dalam proses pengembangan
pendidikan budaya dan karakter bangsa. 18 nilai-nilai tersebut adalah nilai religius,
jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, penuh rasa ingin
tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, mengahargai prestasi, komunikatif, cinta
damai, gemar membaca, peduli lingkungan dan social juga tanggung jawab.[2]

B. Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya Dekadensi Moral


Banyak hal yang berperan besar dalam kemerosotan moral bangsa ini.
Modernitas selain membawa efek positif, juga banyak negatifnya ketika disalah
gunakan. Khususnya bagi mereka yang salah paham tentang modernitas dengan
memasukkan westernisasi sebagai bagian darinya. Akibatnya, budaya kebarat-baratan
pun banyak dijumpai dan mengikis kebudayaan khas negeri ini.
Media massa, baik berupa surat kabar atau elektronik memiliki peran besar
dalam pertukaran budaya dengan pengaruh yang sangat kuat. Karena manusia secara
kodrati memang menyukai hal-hal yang baru. Sehingga apa saja yang masuk ke dalam
benaknya mudah saja mempengaruhinya tanpa dikritisi. Di sini mereka sudah
kehilangan jati dirinya dan lebih cenderung meng-imitasi idolanya.
Kemudahan akses internet dengan berbagai jejaring sosial yang tersedia juga
berada dalam garda depan yang menjadi penyebab kemerosotan moral. Tak jarang
ditemukan para pelajar yang menyia-nyiakan waktunya di depan komputer dengan
membuka situs-situs yang tidak bermanfat. Game online, facebookan, tweeteran dan
lain-lain menjadi kebiasaan anak bangsa. Dan tak jarang ditemukan mereka yang
hilang rasa optimisnya dengan melakukan plagiat dari tulisan-tulisan di internet dalam
pengerjaan tugas.
Melihat berbagai fenomena di atas, di sini pendidikan usia dini sebagai dasar
pendidikan anak bangsa perlu dipertanyakan. Apa sebenarnya yang telah ditanamkan
kepada mereka sejak kecil? Atau jangan-jangan sebenarnya beberapa hal di atas
memang ditanam sejak kecil? Karena tak jarang kita temukan mereka-mereka yang
memanjakan anaknya dan melakukan belas kasih yang salah dan menjerumuskan.
Berbagai fenomena ini tak lepas dari pengaruh globalisasi dan modernisasi yang
disalah artikan dengan westernisasi yang tidak diimbangi dengan pembentengan diri.
Sehingga mereka bukannya mengambil manfaat, tetapi justru merusak diri sendiri
secara perlahan-lahan. Tak ada lagi pegangan kecuali ikut arus ke arah perubahan
yang destruktif. Jati diri digadaikan dengan dalih gengsi-gengsi yang dilancarkan
dalam penjajahan yang kasat mata.
Sebenarnya kalau ditelusuri lagi, maraknya pelbagai problematika sosial
yang berkaitan dengan masalah moralitas ini, disebabkan oleh keringnya nilai-nilai
keagamaan pada setiap individu. Agama hanya dijadikan sebagai simbol tanpa makna.
Orang hanya sekedar bangga kalau dirinya disebut beragama, meskipun ia tidak
pernah menjalankan ajaran-ajaran agama. Status beragama seringkali hanya
dijadikan pelengkap dalam kartu tanda penduduk, tanpa pernah dipikirkan
tanggungjawab serta konsekuensi yang harus ditanggungnya. Sehingga pantas, jika
berbagai persoalan seputar moralitas ini kemudian terjadi di tengah-tengah
masyarakat kita, karena ajaran-ajaran agama telah diabaikan dan diselewengkan. Dan
ini sangat terkait dengan pendidikan dan pembekalan diri anak bangsa yang prosesnya
begitu panjang.

C. Pancasila sebagai Landasan Moral


Indonesia adalah negara yang berasaskan pancasila. Di sini seluruh kebijakan
atau apapun yang dilaksanakan oleh negara tidak boleh betentangan dengan pancasila,
baik dalam hal politik, ekonomi, sosial kemasyarakatan dan lainnya. Demokrasi
pancasila, ekonomi kekeluargaan atau koperasi dalam kesejahteraan harus benar-
benar dilaksanakan. Sedangkan monarki liberalisme dan monopoli dalam ekonomi
harus dihindari.
Pancaasila sebagai ideologi Negara dan landasan moral Negara, pola
pelaksanaannya dipancarkan dalam empat poko pikiran yaitu, sebagai fundamen
moral Negara yang dipancarkan dari sila pertama dan kedua, dan sebagai fundamen
politik Negara yang dipancarkan dari sila ketiga, keempat dan kelima. Selanjutnya
pokok pikiran tersebut dijelmakan dalam pasal-pasal Undang-Undang Dasar 1945
sebagai strategi pelaksanaanya.[3]
Pancasila sebagai landasan moral mengandung nilai-nilai universal yang
mengikat seluruh warga negara Indonesia. Nilai-nilai pancasila harus direalisasikan
dalam bentuk perbuatan. Tanpa adanya realisasi, pancasila bukanlah apa-apa dan
hanya tinggal nama sebagai ideologi dan landasan moral. Manusia-manusia pancasilais
sebagai bentuk kongkret dari pancasila lah yang dapat membangun Negara dan
menciptakan kesejahteraan bersama.
Pancasila merupakan cerminan kehidupan manusia yang harmonis. Oleh
karena itu isi ajaran pancasila harus dibudayakan. Dalam membudayakannya,
pertama harus dilakukan penghayatan tentang inti dari ajaran pancasila yang
murni dan terlepas dari pengaruh pandangan golongan apapun.[4]
Istilah Ketuhanan dalam sila pertama berarati keyakinan dan pengakuan
yang diekspresikan dalam bentuk perbuatan. Di sini ada tiga konsep dasar berupa
keyakinan, pengakuan dan konkretisasi iman dengan perbuatan. Sebuah keyakinan
tanpa diikuti pengakuan dan realisasi dalam bentuk perbuatan merupakan sebuah
pengingkaran. Dan jika hanya ada pengakuan tanpa diikuti keyakinan dan perbuatan,
maka hal ini hanyalah sebuah kemunafikan. Penggabungan ketiga konsep di atas
melahirkan istilahIman yang merupakan inti dari sila pertama Ketuhanan yang Maha
Esa.
Di sini bangsa Indonesia sudah memiliki potensi yang dapat dikembangkan
dalam pembangunan karakter dan merekonstruksi moral bangsa yaitu pancasila.
Tinggal bagaimana nantinya anak-anak Indonesia mengaktualisasikan potensi tersebut
dalam ranah sosial kemasyarakatan. Bagaimana nantinya pancasila menjadi ruh warga
negara dalam segala tindakannya, bukan sekedar catatan nilai atau ideologi dan
landasan moral yang digembar-gemborkan tanpa arti, tanpa realisasi.

D. Upaya Pembentukan Moral Bangsa


Karakter yang baik merupakan hasil internalisasi nilai-nilai agama dan moral
yang ditandai dengan sikap dan perilaku positif. Hal ini sangat terkait dengan hati,
bukan dengan otak sebagai pusat intelektual. Jadi, di sini yang harus dibangun adalah
hatinya dan itu terkait dengan kesadaran dan keyakinan. Hal inilah yang
membuat pembangunan karakter atau pembentukan moral bukanlah hal yang simpel
dan membutuhkan proses yang panjang. Tidak seperti mengingat atau mengetahui
sesuatu yang dapat dicatat dan dihafalkan.
Di atas sudah disebutkan kalau Indonesia memiliki potensi yaitu pancasila
dalam pembangunan karakter bangsa. Di sini dibutuhkan penghayatan agar pancasila
bisa menjadi ruh dalam tiap tindakan. Penghayatan yang akan melahirkan kesadaran
dalam mengaplikasikannya tanpa paksaan. Sehingga pancasila menjadi benteng yang
kokoh dan siap mengkritisi semua apa yang terjadi, menyikapi semua hal-hal baru agar
tidak mudak terjerumus di dalamnya.
Dalam proses pembangunan moral ini, ada beberapa agen sosialisasi yang
sangat berperan di dalamnya, yaitu: Pertama, keluarga. Merupakan peletak pertama
dalam penanaman moral anggota keluarganya. Mereka adalah orang pertama yang
akan dicerminkan anak-anaknya dalam ranah sosial. Kuat tidaknya penanaman moral
mereka akan berpengaruh pada perkembangan selanjutnya. Karena apa yang mereka
tanamkan merupakan benteng awal dan lebih mudah menjadi darah daging
anggotanya. Kedua,lingkungan sosial. Memiliki peran yang sangat besar setelah
keluarga. Mereka meliputi teman bermain, masyarakat sekitar dan semua yang
berinteraksi dengannya. Baik tidaknya lingkungan seseorang akan mempengaruhi
seseorang. Kecuali dasa-dasar yang ditanamkan keluarganya sudah begitu kuat,
sehingga bisa menjadi ikan yang tidak ikut asin di tengah-tengah asinnya air
laut. Ketiga, lembaga pendidikan. Khususnya pendidikan usia dini, memiliki peran
yang besar dalam pembentukan karakter seseorang.Keempat, media massa. Menjadi
bagian yang sangat berperan dalam penyebaran informasi dan pertukaran budaya
yang banyak mempengaruhi masyarakat, khususnya modern. Secara tidak langsung
sebenarnya media menjadi pendidik para penggunanya dengan mempengeruhinya
lewat berbagai hal yang persuasif.
Keempat agen sosialisasi di atas harus saling mendukung dalam pembentukan
moral atau pembangunan karakter anak bangsa. Khususnya keluarga dan mereka
yang berinteraksi dalam pendidikan dan penanaman moral pada usia dini. Karena
pada usia dinilah hal tersebut lebih mudah dilakukan dan menjadi dasar dalam
perkembangan selanjutnya. Sebagaiman pohon yang masih muda akan mudah
diarahkan ke mana saja. Jika keempat agen tersebut tidak saling mendukung, maka
akibatnya akan terjadi dilema pada anak didik. Mereka akan kebingungan dalam
menentukan nasibnya sendiri, siapa yang akan diikuti dan yang benar dalam hal yang
dijalani. Misalkan saja keluarganya mengajarkan bahwa pacaran itu tidak baik dan
sebisa mungkin dihindari pada usia dini, sementara di telivisi banyak
memeprtontonkan film-film cinta, pacaran dan pergaualan remaja yang vulgar.
Melihat keadaan di Indonesia, pemerintah perlu memperketat pemantauan
pada media massa. Hal-hal yang tidak mendidik atau bahkan mengarah pada hal-hal
yang negatif perlu dihapus dari daftar pengeksposan. Budaya-budaya luar yang vulgar,
kriminalitas, film-film yang tidak berbobot, gosip dan hal-hal lain yang tidak mendidik
dan membawa efek negatif tersebut seharusnya tidak dibiarkan begitu saja dikonsumsi
warga khususnya anak usia dini.
Dari kalangan keluarga, mereka harus memantau pergaulan anak-anaknya dan
mengajarkan hal-hal mulia sesuai ajaran agama. Bukan justru seperti para orang tua
biasanya yang menanamkan hal-hal yang tidak baik pada usia dini walau secara tidak
langsung. Misalnya menakut-nakutin, mengajari berbohong dengan mengatakan ada
hantu ketika anaknya tidak mau tidur dan lainnya. Para orang tua bertanggung jawab
dalam menciptakan lingkungan keluarga yang baik dan mendidik, tidak memanjakan
anak, tidak memaksakan kehendak dan lainnya.
Otoritas pendidikan harus menerapkan aspek-aspek pendidikan yang
ditetapkan oleh lembaga pendidikan PBB, UNESCO, yaitu belajar untuk tahu (learn to
know), belajar untuk berbuat (learn to do), belajar untuk menjadi diri sendiri (learn to
be her/himself), belajar untuk hidup bersama (learn to live together). Ketika semua
aspek itu dapat dijalankan maka bangsa ini akan memiliki generasi yang dapat
dibanggakan, bagi bangsa maupun bagi seluruh dunia. Pendidikan bukan hanya
transfer ilmu tanpa aktualisasi ilmu, akan tetapi pembentukan karakter diri dan
bangsa dengan ilmu yang didapat, hingga akhirnya mereka para generasi muda dapat
mengembalikan jati diri bangsa dengan ilmu yang mereka punya.[5]
Di sini Indonesia perlu memperbaiki system pendidikannya. Seharusnya dalam
kriteria kelulusan misalnya tidak hanya memperhatikan nilai ujian nasional. Tetapi
juga nilai-nilai keseharian terkait dengan perilaku anak didik. Dan apa yang
ditekankan dalam pendidikan bukan hanya pengembangan intelektual belaka, tetapi
pengembangan spiritual dan emosional juga perlu diperhatikan. Sehingga tidak hanya
kemapanan intelektual yang dicapai, tetapi anak didik akan lebih bisa bersikap dan
menyikapi apa yang dihadapinya Kemantapan emosional dan spiritual ini akan
melahirkan penghayatan dan perilaku positif anak didik.
Selain berbagai hal di atas, pergerakan moral oleh orang-orang tertentu
khususnya akademisi juga akan sangat membantu dalam pembentukan karakter dan
moral juga penyadaran anak bangsa. Di sini dibutuhkan orang yang menjadi pelopor
dalam terwujudnya pergerakan tersebut.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Akhir-akhir ini banyak ditemukan kasus terkait dengan masalah moral bangsa
Indonesia. Entah kasus tersebut yang menyangkut anak usia dini, remaja sampai pada
para pembesar di Indonesia. Korupsi, prostitusi, judi dan tindakan kriminal kerap
terjadi. Media massa pun hampir tak pernah absen dalam memberitakannya, tanpa
ada tindak lanjut yang serius dalam perubahan. Yang ada justru saling
membantah, menutup- menutupi dan hukum yang diperjual belikan. Bahkan Prof. Dr.
M.T. Zen, Guru Besar Emeritus Teknik Geofisika ITB pernah berkomentar tentang
bangsa ini Tak ada bangsa yang sekarang sangat sibuk merusak dirinya sendiri selain
bangsa Indonesia.
Banyak hal yang berperan besar dalam kemerosotan moral bangsa
ini.Namun kalau ditelusuri lagi, maraknya pelbagai problematika sosial yang berkaitan
dengan masalah moralitas ini, disebabkan oleh keringnya nilai-nilai keagamaan pada
setiap individu. Agama hanya dijadikan sebagai simbol tanpa makna. Orang hanya
sekedar bangga kalau dirinya disebut beragama, meskipun ia tidak pernah
menjalankan ajaran-ajaran agama. Status beragama seringkali hanya dijadikan
pelengkap dalam kartu tanda penduduk, tanpa pernah dipikirkan tanggungjawab serta
konsekuensi yang harus ditanggungnya.
Pancasila sebagai landasan moral mengandung nilai-nilai universal yang
mengikat seluruh warga negara Indonesia. Nilai-nilai pancasila harus direalisasikan
dalam bentuk perbuatan. Tanpa adanya realisasi, pancasila bukanlah apa-apa dan
hanya tinggal nama sebagai ideologi dan landasan moral. Manusia-manusia pancasilais
sebagai bentuk kongkret dari pancasila lah yang dapat membangun Negara dan
menciptakan kesejahteraan bersama.
Istilah Ketuhanan dalam sila pertama berarati keyakinan dan pengakuan yang
diekspresikan dalam bentuk perbuatan. Di sini ada tiga konsep dasar berupa
keyakinan, pengakuan dan konkretisasi iman dengan perbuatan. Sebuah keyakinan
tanpa diikuti pengakuan dan realisasi dalam bentuk perbuatan merupakan sebuah
pengingkaran. Dan jika hanya ada pengakuan tanpa diikuti keyakinan dan perbuatan,
maka hal ini hanyalah sebuah kemunafikan. Penggabungan ketiga konsep di atas
melahirkan istilahIman yang merupakan inti dari sila pertama Ketuhanan yang Maha
Esa.
Karakter yang baik merupakan hasil internalisasi nilai-nilai agama dan moral
yang ditandai dengan sikap dan perilaku positif. Hal ini sangat terkait dengan hati,
bukan dengan otak sebagai pusat intelektual. Jadi, di sini yang harus dibangun adalah
hatinya dan itu terkait dengan kesadaran dan keyakinan. Hal inilah yang
membuat pembangunan karakter atau pembentukan moral bukanlah hal yang simpel
dan membutuhkan proses yang panjang. Tidak seperti mengingat atau mengetahui
sesuatu yang dapat dicatat dan dihafalkan.
Otoritas pendidikan harus menerapkan aspek-aspek pendidikan yang
ditetapkan oleh lembaga pendidikan PBB, UNESCO, yaitu belajar untuk tahu (learn to
know), belajar untuk berbuat (learn to do), belajar untuk menjadi diri sendiri (learn to
be her/himself), belajar untuk hidup bersama (learn to live together). Ketika semua
aspek itu dapat dijalankan maka bangsa ini akan memiliki generasi yang dapat
dibanggakan, bagi bangsa maupun bagi seluruh dunia.

B. Saran
Bagi kalangan akademisi sebagai harapan bangsa sebaiknya benar-benar
mempersiapkan diri sebelum terjun dalam kehidupan sosial kemasyarakatan dan
politik pemerintahan. Benar-benar memantapkan diri dan tidak mudah terbawa arus
dan opini yang tersebar di lingkungannya, kritis pada diri sendiri dan pemerintah juga
sekalian yang ditemuinya dalam kebaikan bersama.
Selain hal di atas, para akademisi sebaiknya benar-benar mengawal
pemerintah sebagai wakil rakyat. Mewakili mereka yang tidak begitu tahu tentang
Negara. Mereka sebagai moral force dan agen of change dengan berbagai citra baik
yang disandangnya janganlah malah tersanjung dan melupakan dirinya dan
lingkungan yang mengharapkannya.
DAFTAR PUSTAKA

Harahap, Syahrin. 2005. Penegakan Moral Akademik di Dalam dan di


Luar Kampus. PT. Raja Grafindo. Jakarta: Persada
3.4 Pancasila Sebagai Solusi Problem Bangsa, Seperti Korupsi, Kerusakan
Lingkungan, Dekadensi moral Dll

Situasi negara Indonesia saat ini begitu memprihatinkan. Begitu banyak masalah menimpa
bangsa ini dalam bentuk krisis yang multidimensional. Krisis ekonomi, politik, budaya, sosial,
hankam, pendidikan dan lain-lain, yang sebenarnya berhulu pada krisis moral. Tragisnya,
sumber krisis justru berasal dari badanbadan yang ada di negara ini, baik eksekutif, legislatif
maupun yudikatif, yangnotabene badan-badan inilah yang seharusnya mengemban amanat
rakyat. Setiap hari kita disuguhi beritaberita mal-amanah yang dilakukan oleh orang-orang
yang dipercaya rakyat untuk menjalankan mesin pembangunan ini.

Sebagaimana telah dikatakan bahwa moralitas memegang kunci sangat penting dalam
mengatasi krisis. Kalau krisis moral sebagai hulu dari semua masalah, maka melalui
moralitas pula krisis dapat diatasi. Indikator kemajuan bangsa tidak cukup diukur hanya dari
kepandaian warganegaranya, tidak juga dari kekayaan alam yang dimiliki, namun hal yang
lebih mendasar adalah sejauh mana bangsa tersebut memegang teguh moralitas. Moralitas
memberi dasar, warna sekaligus penentu arah tindakan suatu bangsa. Moralitas dapat
dibedakan menjadi tiga, yaitu moralitas individu, moralitas sosial dan moralitas mondial.

Moralitas individu lebih merupakan kesadaran tentang prinsip baik yang bersifat ke dalam,
tertanam dalam diri manusia yang akan mempengaruhi cara berpikir dan bertindak. Seorang
yang memiliki moralitas individu yang baik akan muncul dalam sikap dan perilaku seperti
sopan, rendah hati, tidak suka menyakiti orang lain, toleran, suka menolong, bekerja keras,
rajin belajar, rajin ibadah dan lain-lain. Moralitas ini muncul dari dalam, bukan karena
dipaksa dari luar. Bahkan, dalam situasi amoral yang terjadi di luar dirinya, seseorang yang
memiliki moralitas individu kuat akan tidak terpengaruh. Moralitas individu ini terakumulasi
menjadi moralitas sosial, sehingga akan tampak perbedaan antara masyarakat yang
bermoral tinggi dan rendah. Adapun moralitas mondial adalah moralitas yang bersifat
universal yang berlaku di manapun dan kapanpun, moralitas yang terkait dengan keadilan,
kemanusiaan, kemerdekaan, dan sebagainya.

Moralitas sosial juga tercermin dari moralitas individu dalam melihat kenyataan sosial. Bisa
jadi seorang yang moral individunya baik tapi moral sosialnya kurang, hal ini terutama
terlihat pada bagaimana mereka berinteraksi dengan masyarakat yang majemuk. Sikap
toleran, suka membantu seringkali hanya ditujukan kepada orang lain yang menjadi bagian
kelompoknya, namun tidak toleran kepada orang di luar kelompoknya. Sehingga bisa
dikatakan bahwa moral sosial tidak cukup sebagai kumpulan dari moralitas individu, namun
sesungguhnya lebih pada bagaimana individu melihat orang lain sebagai manusia yang
memiliki harkat dan martabat kemanusiaan yang sama.

Moralitas individu dan sosial memiliki hubungan sangat erat bahkan saling tarik-menarik dan
mempengaruhi. Moralitas individu dapat dipengaruhi moralitas social, demikian pula
sebaliknya. Seseorang yang moralitas individunya baik ketika hidup di lingkungan
masyarakat yang bermoral buruk dapat terpengaruh menjadi amoral. Kenyataan seperti ini
seringkali terjadi pada lingkungan pekerjaan. Ketika lingkungan pekerjaan berisi orang orang
yang bermoral buruk, maka orang yang bermoral baik akan dikucilkan atau diperlakukan
tidak adil. Seorang yang moralitas individunya lemah akan terpengaruh untuk menyesuaikan
diri dan mengikuti. Namun sebaliknya, seseorang yang memiliki moralitas individu baik akan
tidak terpengaruh bahkan dapat mempengaruhi lingkungan yang bermoral buruk tersebut.

Di dalam Pancasila terdapat nilai-nilai dan makna-makna yang dapat di implementasikan


dalam kehidupan sehari-hari.

Sila Pertama : Ketuhanan Yang Maha Esa. Secara garis besar mengandung makna bahwa
Negara melindungi setiap pemeluk agama (yang tentu saja agama diakui di Indonesia)
untuk menjalankan ibadahnya sesuai dengan ajaran agamanya. Tanpa ada paksaan dari
siapa pun untuk memeluk agama, bukan mendirikan suatu agama. Tidak memaksakan
suatu agama atau kepercayaannya kepada orang lain. Menjamin berkembang dan tumbuh
suburnya kehidupan beragama. Dan bertoleransi dalam beragama, yakni saling
menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaan
masing-masing.

Sila Kedua : Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Mengandung makna bahwa setiap
warga Negara mendapatkan perlakuan yang sama di mata hukum, karena Indonesia
berdasarkan atas Negara hukum. mengakui persamaan derajat, persamaan hak dan
persamaan kewajiban antara sesama manusia. Menempatkan manusia sesuai dengan
hakikatnya sebagai makhluk Tuhan. Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Bertingkah laku
sesuai dengan adab dan norma yang berlaku di masyarakat.

Sila Ketiga : Persatuan Indonesia. Mengandung makna bahwa seluruh penduduk yang
mendiami seluruh pulau yang ada di Indonesia ini merupakan saudara, tanpa pernah
membedakan suku, agama ras bahkan adat istiadat atau kebudayaan. Penduduk Indonesia
adalah satu yakni satu bangsa Indonesia. cinta terhadap bangsa dan tanah air. Menjaga
persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Rela berkorban demi bangsa dan negara.
Menumbuhkan rasa senasib dan sepenanggungan.

Sila Keempat : Kerakyatan Yang dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam


Permusyawaratan/Perwakilan. Mengandung maksud bahwa setiap pengambilan keputusan
hendaknya dilakukan dengan jalan musyawarah untuk mufakat, bukan hanya mementingkan
segelintir golongan saja yang pada akhirnya hanya akan menimbulkan anarkisme. tidak
memaksakan kehendak kepada orang lain. Melakukan musyawarah, artinya mengusahakan
putusan bersama secara bulat, baru sesudah itu diadakan tindakan bersama.
Mengutamakan kepentingan negara dan masyarakat.

Sila Kelima : Keadilan Sosial Bagi Seluruh rakyat Indonesia. Mengandung maksud
bahwa setiap penduduk Indonesia berhak mendapatkan penghidupan yang layak sesuai
dengan amanat UUD 1945 dalam setiap lini kehidupan. mengandung arti bersikap adil
terhadap sesama, menghormati dan menghargai hak-hak orang lain. Kemakmuran yang
merata bagi seluruh rakyat. Seluruh kekayaan alam dan isinya dipergunakan bagi
kepentingan bersama menurut potensi masing-masing. Segala usaha diarahkan kepada
potensi rakyat, memupuk perwatakan dan peningkatan kualitas rakyat, sehingga
kesejahteraan tercapai secara merata. Penghidupan disini tidak hanya hak untuk hidup,
akan tetapi juga kesetaraan dalam hal mengenyam pendidikan.
Apabila nilai-nilai yang terkandung dalam butir-butir Pancasila di implikasikan di dalam
kehidupan sehari-hari maka tidak akan ada lagi kita temukan di Negara kita namanya
ketidak adilan, terorisme, koruptor serta kemiskinan. Karena di dalam Pancasila sudah
tercemin semuanya norma-norma yang menjadi dasar dan ideologi bangsa dan Negara.
Sehingga tercapailah cita-cita sang perumus Pancasila yaitu menjadikan Pancasila menjadi
jalan keluar dalam menuntaskan permasalahan bangsa dan Negara.

Anda mungkin juga menyukai