Anda di halaman 1dari 17

PROPOSAL PROGRAM KREATIFITAS MAHASISWA

Studi Kelayakan Potensi Ekowisata Goa Batu Gelap Desa Sukamaju


Kecamatan Tenggarong Seberang, Kutai Kartanegara
BIDANG KEGIATAN:
PKM PENELITIAN

DIUSUL OLEH :
Ketua :
DENY TANDIARA TANDIDATU (1511108701602800879)
Anggota :
1. SAMSU ALAM (1511108701602000858)
2. SYAHNAN ILHAM ( 1511108701602000870)
3. ANDY TABET (1511108701602000856
Dosen Pendamping:
Syamsidar Sutan M.P., ST.,MT
Ansahar, ST., MSi

UNIVERSITAS KUTAI KARTANEGARA


2016
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Keindahan alam secara nyata memberi kemakmuran bagi negeri. Namun
tanpa kita sadari perkembangan zaman dan kemajuan teknologi membuat
segelintir orang saling bersaing untuk mengekplorasi sumber daya alam. Secara
berangsur-angsur perubahan itu terlihat secara nyata dan jelas seiring kemajuan
zaman dan teknologi canggih.
Ekowisata adalah suatu bentuk perjalanan wisata ke area alami yang
dilakukan dengan tujuan mengkonservasi lingkungan dan melestarikan kehidupan
dan kesejahteraan penduduk setempat. Indonesia telah dikenal memiliki kekayaan
alam, flora dan fauna yang sangat tinggi. Dalam dunia wisata, yang menjadi daya
tarik suatu tempat atau obyek bagi kalangan masyarakat adalah keunikan dari
obyek tersebut. Hal itu dapat dilihat dari segi ilmu geologi.
Salah satu yang menjadi objek wisata menarik untuk ditelusuri lebih dalam
yakni obyek wisata Goa Batu Gelap yang berada di daerah Desa Sukamaju
Kecamatan Tenggarong Seberang Kabupaten Kutai Kartanegara yang beberapa
tahun sebelumnya telah diangkat menjadi salah satu tempat wisata, akan tetapi
tempat tersebut kurang begitu dikenal di mata masyarakat. Jika dipikir secara
rasional tempat ini memilki potensi yang cukup besar dimana terdapat
(struktur/bentuk) stalagtit dan stalagmit ornament yang memperindah nilai unik
Goa Batu Gelap, sehingga perlu di maksimalkan untuk menjadi dampak positif
bagi perkembangan kondisi ekonomi masyarakat sekitar atau bahkan daerah,
tanpa harus merusak obyek alam itu sendiri.

Lokasi Goa Batu Gelap

Kota Tenggarong

Gambar 1.1 Lokasi Penelitian studi kelayakan untuk pengembangan


Ekowisata Goa Batu Gelap.
Wilayah Tenggarong Seberang terdapat beberapa perusahaan tambang
batubara yang seiring jalan kegiatan operasional akan berhenti dilanjutkan
kegiatan yaitu, paska penambangan merupakan suatu hal yang harus dipersiapkan
sejak dini dengan kerja sama berbagai pihak.

Gambar 1.2 Merupakan ruang goa dimana terdapat ornament stalagtit dan stalagmit
Pengembangan ekowisata kawasan menjadi suatu hal yang layak dilakukan
karena potensi wilayah yang khas, selain Goa Batu Gelap ada beberapa lokasi
seperti; Kampung Bali dan reservoir air/ kolam bekas penambangan di desa Kerta
Buana, hamparan persawahan dan perkebunan di desa Bukit Pariaman dan desa
Bhuana Jawa, dan area lain. Ini tidak ditemui di kawasan lain secara terpadu,
karena masing masing spot lokasi mempunyai karakteristik masing-masing yang
jika di padu padankan maka akan menjadi suatu kawasan konservasi hijau dan
ekowisata yang mempunyai nilai sejarah dan budaya yang unik. Sehingga melalui
kawasan batugamping Goa Batu Gelap

1.2 Tujuan Penelitian


Tujuan dari penelitian ini dapat diuraikan sebagai berikut:
a. Melakukan studi kelayakan pengembangan potensi Goa Batu Gelap
b. Melakukan pengembangan kesadaran daerah yang kurang terekspose tetapi
mempunyai nilai warisan budaya lebih untuk diperhatikan berdasarkan analisa
studi kelayakan.
c. Menjadikan sarana wisata kebumian yang mengacu pada ilmu geologi,
pertambangan, sejarah, ataupun bidang ilmu lainnya, yang dapat memberikan
manfaat bagi tiap kalangan khususnya bagi pelajar/mahasiswa.

1.3 Rumusan Masalah


Rumusan masalah dari penelitian ini dapat di jelaskan sebagai berikut:
a. Melakukan pemetaan geologi sebagai potensi informasi dasar dan menentukan
karakteristik baik itu secara geologi, geomorfologi dan struktur geologi dari
batu gamping yang membentuk Goa Batu Gelap daerah penelitian.
b. Melakukan penelusuran dimensi baik itu luasan, besaran dan pola dari Goa
Batu Gelap daerah penelitian.
c. Mencari karakteristik dari masing-masing luasan, besaran dan dimensi pola
ruang dari Goa Batu Gelap sebagai potensi daya tarik objek daerah penelitian.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Geologi Regional


Secara fisiografi, Cekungan Kutai berbatasan di sebelah utara dengan
Tinggian Mangkalihat, Zona Sesar Bengalon, dan Sangkulirang. Di sebelah
selatan berbatasan dengan Zona Sesar Adang yang bertindak sebagai zona sumbu
cekungan sejak akhir Paleogen hingga sekarang (Moss dan Chamber, 1999). Di
sebelah barat berbatasan dengan Central Kalimantan Range yang dikenal sebagai
Kompleks Orogenesa Kuching, berupa metasedimen kapur yang telah terangkat
dan telah terdeformasi. Di bagian timur berbatasan dengan Selat Makassar.
Kerangka tektonik di Kalimantan bagian timur dipengaruhi oleh
perkembangan tektonik regional yang melibatkan interaksi antara Lempeng
Pasifik, Lempeng India-Australia dan Lempeng Eurasia, serta dipengaruhi oleh
tektonik regional di asia bagian tenggara (Biantoro et al., 1992).
Bentukan struktur Cekungan Kutai didominasi oleh perlipatan dan
pensesaran. Secara umum, sumbu perlipatan dan pensesarannya berarah timurlaut-
baratdaya dan subparalel terhadap garis pantai timur pulau Kalimantan. Di daerah
ini juga terdapat tiga jenis sesar, yaitu sesar naik, sesar turun dan sesar mendatar.
Kerak samudera yang berasal dari tenggara Kalimantan mendesak massa kerak
benua Schwaner ke arah baratlaut. Massa kerak Schwaner yang sangat kuat
mengakibatkan kerak samudera patah sehingga ada yang turun ke bawah dan naik
ke atas. Karena di dorong terus dari arah Papua, terjadilah obduksi yang akhirnya
membentuk batuan ofiolit pada pegunungan Meratus. Ketika kerak samudera
mengalami tekanan dari arah tenggara sudah sampai pada titik jenuh maka kerak
tersebut patah dan karena adanya arus konveksi dari bawah kerak maka terjadilah
bukaan (rifting) yang kemudian terisi sedimen sehingga menyebabkan
terbentuknya cekungan-cekungan yang berarah relatif utaraselatan seperti
Cekungan Kutai.

2.2 Potensi Ekowisata Daerah Penelitian


Berdasarkan kerangka tektonik Kalimantan Timur, bahwa menjelaskan
bentukkan struktur perlipatan dan akumulasi dari endapan gamping sehingga
terekspose kepermukaan dan membentuk struktur goa. Genesa batu gamping
terdiri dari batu gamping non-klastik dan klastik. Batu gamping non-
klastik,merupakan koloni dari binatang laut antara lain dari coelentera, moluska
dan protozoa, foraminifera dan sebagainya, jenis batu gamping ini sering disebut
sebagai batu gamping koral karena, karena pengusunnya utamanya adalah koral
yang merupakan anggota dari coelenterata. Batu gamping ini merupakan
pertumbuhan/perkembangan kolono koral, oleh sebab itu dilapangan tidak
menunjukan pelapisan yang lebih baik dan belum banyak menyalami pengotoran
mineral lain. Batu gamping klastik, merupakan hasil rombakan jenis batu gamping
non klastik melalui preose erosi oleh air, trasportasi, sortasi, sedimentasi.

Menurut Sunarto (1989) memaparkan bahwa berlangsungnya pelarutan


batu gamping sangat dipengaruhi oleh faktor tunggal yang penting, yaitu
konsentrasi karbondioksida baik sebagai CO2 bebas maupun sebagai ion HCO3.
sedangkan katalisator yang paling penting dalam proses pelarutan tersebut adalah
air hujan dan CO2 sehingga CO2 akan larut dalam air membentuk asam karbonat
(CaHCO3) yang akan membentuk kalsium bikarbonat yang merupakan larutan
berair dengan persamaan (Faniran dan Jeje, 1983) : H2O + CO2 H2CO3 Air
Karbondioksida asam karbonat H2CO3 + CaCO3 Ca(HCO3)2 Batugamping
kalsium bikarbonat. Menurut W. M. Davis (1930) goa pertama kali dibentuk
didalam zone freatik dibawah permukaan tanah. Menurut Lehman (1932) bahwa
goa mulai terbentuk setelah ada ruangan pemula. Beberapa teori yang lainnya
menyatakan bahwa terjadinya goa dimulai pada saat terjadinya pelebaran rekahan
oleh proses pelarutan (solusional). Proses pembentukan goa tersebut
membutuhkan waktu yang sangat lama (jutaan bahkan ratusan juta tahun),
sehingga speleogenesis hanya dapat diterangkan secara teoritis. Secara umum, ada
3 teori yang umum digunakan yaitu Vadose Theory, Deep Phreatic Theory dan
Watertable Theory. Vadose Theory Menyatakan bahwa goa terbentuk akibat
aliran air yang melewati rekahan-rekahan pada batuan gamping yang berada
diatas permukaan air tanah.Teori Vadose ini banyak didukung oleh Dwerry house
(1907), Greene (1908), Matson (1909), dan Malott (1937) yang mempertahankan
bahwa sebagian besar perkembangan gua berada di atas watertable dimana aliran
air tanah paling besar. Jadi, aliran air tanah yang mengalir dengan cepat, yang
mana gabungan korosi secara mekanis dengan pelarutan karbonat, yang
bertanggung jawab terjadap perkembangan gua. Martel (1921) percaya bahwa
begitu pentingnya aliran dalam gua dan saluran (conduit) begitu besar sehingga
tidak berhubungan terhadap hal terbentuknya gua batu gamping sehingga tidak
relevan menghubungkan batugamping yang ber-gua dengan dengan adanya water
table, dengan pengertian bahwa permukaan tunggal dibawah keseluruhan
batuannya telah jenuh air. Deep Phreatic Theory Menyebutkan goa terbentuk
dibawah permukaan air tanah dimana pada rekahanrekahan terbentuk goa akibat
proses pelarutan. Teori Deep Phreaticini banyak dianut oleh Cjivic (1893), Grund
(1903), Davis (1930) dan Bretz (1942) yang memperlihatkan bahwa permulaan
gua dan kebanyakan pembesaran perguaan terjadi di kedalaman yang acak berada
di bawah water table, sering kali pada zona phreatic yang dalam. Gua-gua
diperlebar sebagai akibat dari korosi oleh air phreatic yang mengalir pelan.
Perkembangan perguaan giliran kedua dapat terjadi jika water table diperrendah
oleh denudasi (penggundulan) permukaan, sehingga pengeringan gua dari air
tanah dan membuatnya menjadi vadose dan udara masuk kedalam gua. Selama
proses kedua ini aliran permukaan dapat masuk ke sistem perguaan dan sedikit
merubah lorong gua oleh korosi Watertable theory Menyatakan goa terbentuk
dekat dan diatas permukaan airtanah sesuai dengan turunnya permukaan airtanah.
Teori Water Table dianut oleh Swinnerton (1932), R Rhoades dan Sinacori
(1941), dan Davies (1960) mendukung gagasan bahwa air yang mengalir deras
pada water tabel adalah yang bertanggungjawab terhadap pelarutan di banyak gua.
Eleveasi dari water table berfluktuasi dengan variasi volume aliran air
tanah, dan dapat menjadi perkembangna gua yang kuat didalam sebuah zone yang
rapat diatas dan dibawah posisi ratarata. Betapapun, posisi rata-rata watertable
harus relatif tetap konstan untuk periode yang lama. Untuk menjelaskan sistem
gua yang multi tingkat, sebuah water table yang seimbang sering dihubungkan
dengan periode base levelling dari landscape diikuti dengan periode peremajaan
dengan kecepatan down-cutting ke base level berikutnya Beberapa faktor yang
mempengaruhi terbentuknya goa adalah fisiografi regional, sistem percelahan-
rekahan, struktur dari batuan karbonat, tektonisme setempat, sifat petrologi dan
kimiawi batuan karbonat, volume air yang melalui, jenis dan jumlah sedimentasi,
runtuhan, iklim masa kini dan masa lalu, vegetasi diatas lorong, bentuk semula
dari goa tersebut dan tindakan manusia. Lingkungan goa yang akan dibicarakan
disini adalah lingkungan goa karst. Karst merupakan istilah yang diambil dari
bahasa Slovenia (dahulu Yugoslavia) tepatnya didaerah Dinaric yang diambil dari
istilah kar (batuan) dan hrast (oak) dan dipakai pertama kali oleh pembuat peta
asal Austria tahun 1774 sebagai suatu nama untuk daerah berbatuan kering tandus
dan berhutan oak didaerah goa yang berada didekat perbatasan Yugoslavia dan
Italia Utara (Moore & Sullivan,1978). Secara garis besar, lingkungan goa dapat
dibagi menjadi dua yaitu eksokarst dan endokarst.Endokarst merupakan
bentangan atau bentukan yang ada didalam/ dibawah permukaan seperti ornamen-
ornamen goa dan eksokarst lebih ditekankan pada kenampakan diluar atau di
permukaan. Bentukan eksokarst dapat digunakan sebagai identifikasi lingkungan
goa, bentukan tersebut antara lain doline, uvala, singking creek, singking hole,
conicalhills, polje, danau karst, natural bridge. Secara garis besar, karakteristik
lingkungan goa mempunyai suhu yang relatif stabil dan menyesuaikan dengan
suhu batuan goa, kelembaban relatifnya tinggi hampir mendekati 100% dan
perbedaan tekanan udara disebabkan perubahan suhu, suhu naik tekanan akan
turun dan sebaliknya. Lingkungan goa mempunyai zonasi tersendiri yaitu : 1.
Zone terang : bagian goa yang masih bisa menerima cahaya matahari secara
langsung. Fluktuasi suhu dan kelembaban masih tinggi. 2. Zone Peralihan : bagian
gua yang menerima cahaya matahari tetapi tidak secara langsung seperti dari
pantulan dinding goa. Fluktuasi suhu dan kelembaban masih terjadi tetapi relatif
tidak tinggi. 3. Zone gelap total : bagian goa yang sama sekali tidak ada cahaya
(gelap abadi). Fluktuasi suhu dan kelembaban sangat kecil, relatif konstan.
Karakteristik lingkungan goa selain karakteristik fisik, lingkungan gua juga
merupakan tempat hidup berbagai organisme baik tumbuhan ataupun binatang,
organisme tersebut menggunakan goa untuk berbagai kebutuhan, ada yang
menggunakan sebagai tempat hidup, diamana mereka dapat memenuhi siklus
kehidupannya seperti makan, reproduksi atau berkembang biak, dan ada pula yang
menjadikan goa sebagai tempat untuk istirahat sementara. Hewan-hewan yang
hidup di lingkungan goa dapat dibedakan menjadi 3 golongan yaitu : Trogloxene
: hewan yang secara kebetulan berada dalam goa karena sebenarnya hewan
tersebut asing terhadap lingkungan goa seperti musang, ular, nyamuk.
Troglophile : hewan yang menyukai kegelapan, tetapi masih mencari makanan di
luar lingkungan goa seperti kelelawar dan walet. Hewan jenis ini hanya
memanfaatkan goa sebagai tempat tinggal dan berlindung Troglobite (troglobion)
: hewan ini keseluruhan siklus hidupnya terjadi didalam goa, sehingga memiliki
sifat-sifat yang jauh berbeda dengan hewan-hewan yang ada di permukaan.
Tandanya antara lain berpigmen sedikit, kulit tipis dan penglihatan tidak berfungsi
dan menggantungkan sepenuhnya pada antena/ sungut. Amblyphygi Tumbuhan
biasanya banyak dijumpai di bagian mulut goa atau zone terang, karena tumbuhan
memerlukan sinar matahari untuk dapat melangsungkan hidupnya.

Ornamen/dekorasi goa (speleothem) Kesepakatan dalam klasifikasi


speleothem memiliki dua hirarki; form (bentuk) dan style (corak). Form adalah
speleothem dengan bentuk dasar yang dapat membedakan berdasar pada perilaku
pertumbuhan mineral atau mekanisme dasar deposisinya. Style adalah klasifikasi
lanjutan dari form yang menjelaskan bentuk berbeda yang merupakan hasil dari
perbedaan tingak aliran, tingkat deposisi, dan faktor lainnya. Daftar form
speleothem menurut kesepakatan adalah: Form dripstone dan flowstone
Stalactite, stalagmite, draperies, flowstone sheet. Form Erratic Shield, helictites,
form botryoidal, anthodite, moonmilk. Form sub-aqueous Kolam rimstone,
concretion dari berbagai macam, deposit kolam, deretan kristal. Klasifikasi diatas
dibatasi pada kelompok mineral tertentu, terutama karbonat. Namun, secara garis
besar ada pengklasifikasian yang lebih sederhana yaitu : Batu Alir (Flowstone)
Yaitu ornamen gua yang terbentuk karena aliran air. Terdiri dari 1. Canopy :
ornamen yang tumbuh pada dinding goa, berbentuk menyerupai setengah tudung
payung, atau jamur terbentuk karena aliran air yang mengalir diatas batu yang
menempel pada dinding goa. 2. Gordyn : ornamen yang menempel pada dinding
goa, memanjang dari atas ke bawah dan berbentuk korden jendela. 3. Draperis :
merupakan ornamen pada dinding goa yang menyerupai susunan gigi atau gergaji
dibagian bawahnya. Merupakan gordyn yang bagian bawahnya terbentuk
bentukan gergaji 4. Gourdam : ornamen ini berbentuk mirip petak-petak sawah.
Ada dua jenis mikro (berukuran kecil) dan makrogourdam (berukuran besar).
Terbentuk akibat pengendapan kalsit pada saat aliran air terhambat atau
diperlambat pada bibir gour tersebut. Batu Tetes (Dripstone) Yaitu ornamen goa
yang terbentuk karena tetesan air. 1. Batu tetes menggantung : Stalaktit : formasi
batuan yang menggantung (tumbuh ke bawah) karena pengaruh gravitasi. Straw
: merupakan jenis stalagtit dengan diameter sesuai dengan tetesan air dan dibagian
tengah berlubang (seperti sedotan minuman). 2. Batu tetes tegak : Stalakmit :
ornamen yang tumbuh dari lantai goa yang dikarenakan tetesan dari stalaktit yang
terus menumpuk pada satu titik.
BAB 3
METODE PENELITIAN

PENELITIAN

PENGAMATAN LAPANGAN

Teknik Pengumpulan Data


Pemetaan

(TEORITIS) (NON TEORITIS)

Observasi - Peta
Geologi
Interview - Peta
Lokasi
Dokumentasi/
Pengukuran Dimensi Goa
Study pustaka/literatur buku

Study Kelayakan
Aspek Geologi (Sejarah
Geologi Tektonik,
Lingkungan Pengendapan,
Analisa Fosil )
Aspek Wisata (Stalaktit dan
Stalakmit, Saluran air-
tanah)

Ya Tidak

Ekowisata
Rekomendasi atas nama Unikarta untuk
Memenuhi Kedua Aspek
Perlindungan Cagar Budaya dan Sains
Geologi Dan Aspek
Wisata
Pengambilan Data

Pada tahapan ini peneliti melakukan pengamatan dan pengambilan data di


lapangan. Adapun data-data yang akan diambil mencakup 2 aspek, yaitu secara
teorits dan non teoritis.

1. Secara Teoritis
a. Observasi

b. Interview

c. Dokumentasi
d. Pengukuran Dimensi Goa
e. Studi Literatur
2. Secara Nonteoritis
a. Peta Geologi
b. Peta Lokasi

3.1 Mennggunakan sampel dan Teknik pengambilan sampel


1. Menentukan jumlah sampel
Disadari bersama bahwa suatu sampel yang baik harus memenuhi syarat baik
ukuran atau besarnya memadai untuk meyakinkan kestabilan ciri ciri
populasi dari bahan galian terhadap sampel dari singkapan tersebut.
2. Teknik pengambilan sampel
Purposive Sampling ( pengambilan sampel berdasarkan tujuan )
Pada cara ini, siapa yang akan diambil sebagai anggota sampel diserahkan kepada
pertimbangan pengumpulan data yang berdasarkan atas pertimbangannya
sesuai dengan maksud dan tujuan penelitian. Hal yang perlu dipertimbangkan
dengan menggunakan cara ini adalah :
a. Pengambilan sampel disesuaikan dengan tuuan penelitian
b. Jumlah atau ukuran sampel tidak dipersoalkan
c. Unit sampel yang dihubungi disesuaikan dengan kriteria kriteria tertentu
yang ditetapkan berdasarkan tujuan penelitian.

3.2 Teknik pengumpulan data


1. Observasi (pengamatan langsung dilapangan )
2. Interview ( wawancara pada masyarakat sekitar )
3. Studi Dokumentsi (media photo )
4. Study pustaka ( Literatur Buku )
BAB 4
BIAYA DAN JADWAL PENELITIAN

4.1. ANGGARAN BIAYA

NO JENIS PENGELUARAN RINCIAN BIAYA


1 Gaji dan upah (25%) Rp. 3.125.000,00
2 Bahan habis pakai dan peralatan Rp. 4.375.000,00
(35%)
3 Perjalanan (25%) Rp. 3.125.000,00
4 Lain-lain: administrasi, publikasi, Rp. 1.875.000,00
seminar, laporan, lainnya
sebutkan (15%)
Jumlah Rp. 12.500.000,00

4.2. JADWAL KEGIATAN

Jenis 2016
Kegiatan
No. Bulan 1 Bulan 2 Bulan 3 Bulan 4 Bulan 5 Bulan 6

1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

1. Tahap
pendahulan

2. Tahap
pengumpula
n data

3. Tahap
analisis dan
interpretasi

4. Tahap
penyelesaian
dan
penyajian
data
BAB 5
DAFTAR PUSTAKA

1. Anonim, 2013, First Step to the World Heritage, Seminar Internasional


Sangkulirang Natural & Cultural Heritage 23 27 September 2013,
Balikpapan.
2. Allen, G.P and Chambers, J.LC., 1998, Deltaic Sediment in the Modern and
Miocene Mahakam Delta, IPA, Jakarta.
3. Bachtiar, A., Wiyono, J., Liyanto, Syaiful M., Purnama, Y.S, Rozalli, M.,
Krisyunianto, A., Purnama, A.S., 2010, The Dynamics of Mahakam Delta
Indonesia, Based on Spatial and Temporal Variations of Grab Samples,
Cores, and Salinity, Search and Discovery Article#50363, AAPG ICE,
Calgary.
4. Biantoro, E., Muritno, B.P., Mamuaya, J.M.B., 1992, Inversion Faults As The
Major Structural Control In The Northern Part Of The Kutai Basin, East
Kalimantan, Proceedings of 21st Annual Convention of Indonesian
Petroleum Association.
5. Cibaj, I., 2009, A Fluvial Series in the Middle Miocene of Kutei Basin: A
Major Shift from Proto-Mahakam Shallow Marine to the Continental
Environment, AAPG Hedberg Conference, Jakarta.
6. Darman, H. and Sidi, F. H., 2000, An Outline of the Geology of Indonesia,
Indonesian Association of Geologist, Jakarta.
7. Land, D. H., dan Jones., 1987, Coal Geology and Exploration of Part of the
Tertiary Kutei Basin in East Kalimantan, Indonesia, di dalam Coal and Coal-
bearing Strata: Recent Advances, Geological Society Special Publication No.
32, hal. 235 255.
8. Moss, S.J dan Chambers, J.L.C., 1999. Depositional Modelling and Facies
Architecture of Rift and Inversion Episodes in The Kutai Basin, Kalimantan,
Indonesia, Jurnal of Asians Earth Science vol 17.
9. Rachmat, H. and Hendratno, A., 2012, Peluang Pengembangan Geopark di
Indonesia Sebagai Aset Pariwisata Kreatif, the 41st IAGI Annual Convention
and Exhibition, Yogyakarta.
10. Sukardi, B., Djaman, Supriatna, S., Santosa, S., 1995, Peta Geologi Lembar
Muaralasan, Kalimantan, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi,
Bandung.
11. Supriatna, S., Sukardi dan Rustandi, E., 1995, Peta Geologi Lembar
Samarinda, Kalimantan, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi,
Bandung.
12. Wells, P.L., G.D. Paoli, and I. Suryadi (2010), Landscape High Conservation
Values in East Kalimantan: Mapping & Recommended Management, with
special focus on Berau and East Kutai Regencies, The Nature Conservancy,
Jakarta.
BAB 6
LAMPIRAN-LAMPIRAN

Lampiran 3. Format Pelengkap Administrasi Proposal

Lampiran 3.1 Format Jadwal Kegiatan

Bulan
No Jenis Kegiatan
1 2 3 4 5
Lampiran 3.2 Biodata Ketua
A. Identitas Diri
1 Nama lengkap (dengan gelar )
2 Jenis kelamin
3 Program studi
4 NIM/NIDN
5 Tempat dan Tanggal Lahir
6 E-mail
7 Nomor Telepon/HP
B. Riwayat Pendidikan
SD SMP SMA
Nama Institusi
Jurusan
Tahun Masuk-Lulus
C. Pemakalah Seminar Ilmiah ( Oral PresentatioI)
Nama Pertemuan Ilmiah/ Waktu dan
No Judul Artikel Ilmiah
Seminar Tempat
1
2
3
D. Penghargaan dalam 10 tahun Terakhir (dari pemerintah, asosiasi, atau
institusi lainnya )
Institusi Pemberi
No Jenis Penghargaan Tahun
Penghargaan
1
2
3

Semua data yang saya isikan dan tercantum dalam biodata ini adalah benar dan
dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. Apabila di kemudian hari ternyata
dikumpai ketidaksesuaian dengan kenyataan, saya sanggup menerima sanksi.
Demikian biodata ini saya buat dengan sebenarnya untuk memenuhi salah satu
syarat dalam pengajuan Hibah ..

Tenggarong, xx-11-2016
Pengusul/Pendamping,

Tanda Tangan

(Nama Lengkap)
Lampiran 3.3 Justifikasi Anggaran Biaya

1. Peralatan penunjang
Material Justifikasi Kuantitas Harga Jumlah (Rp)
Pemakaian Satuan
Peralatan penunjang 2

Peralatan penunjang 3

Peralatan penunjang n

SUB TOTAL (Rp)

2. Bahan Habis Pakai


Material Justifikasi Kuantitas Harga Jumlah (Rp)
Pemakaian Satuan
Material 2
Material 3
Material n
SUB TOTAL (Rp)
3. Perjalanan

Material Justifikasi Kuantitas Harga Jumlah (Rp)


Perjalanan Satuan
Perjalanan ke
tempat/kota-n
Perjalanan ke
tempat/kota-n
Perjalanan ke
tempat/kota-n
SUB TOTAL (Rp)
4. Lain-lain
Material Justifikasi Kuantitas Harga Jumlah (Rp)
Perjalanan Satuan
Sebutkan
Sebutkan
Sebutkan
SUB TOTAL (Rp)
Total (Keseluruhan)
Lampiran 3.4 Susunan Organisasi Tim Kegiatan dan Pembagian Tugas

No Alokasi
Bidang Uraian
Nama / NIM Program Studi Waktu
Ilmu Tugas
(jam/minggu)
Lampiran 3.5 Surat Pernyataan Ketua Pelaksana

KOP PERGURUAN TINGGI

SURAT PERNYATAAN KETUA PELAKSANA

Yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : ...............................................

NIM : ...............................................

Program Studi : ..............................................

Fakultas : ...............................................

Dengan ini menyatakan bahwa proposal (isi sesuai dengan bidang PKM) saya
dengan judul ..............................................................................................................
....................................................................................................................................
Yang di usulkan untuk anggaran bersifat orisinil dan belum pernah di
biayai oleh lembaga atau sumber dana lain.
Bilamana di kemudian hari ditemukan ketidaksesuaian dengan pernyataan ini,
maka saya bersedia dituntut dan diproses sesuai dengan ketentuan yang berlaku
dan mengembalikan seluruh biaya penelitian yang sudah diterima ke kas negara.
Demikian pernyataan ini dibuat dengan sesungguhnya dan dengan sebenar-
benarnya.

Tenggarong, xx-11-2016
Mengetahui, Yang menyatakan,
Wakil/Pembantu Dekan atau
Ketua Jurusan/Departemen/Program Studi/
Pembimbing Unit Kegiatan Mahasiswa
Materai Rp. 6.000.
Tanda tangan
Cap dan Tanda tangan

( ) ( )
NIP. NIM.