Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN KASUS

ADENOMIOSIS

Pembimbing :
dr. Diah Sartika Sari, Sp.OG

Di susun oleh :
Putry Nurul Fitriya 2012730077

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KEBIDANAN DAN KANDUNGAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
PERIODE 25 MEI 2016 2 OKTOBER 2016
RS ISLAM JAKARTA PONDOK KOPI
2016
BAB I

LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS
Nama : Ny. A
Usia : 49 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Pendidikan Terakhir : SMA
Agama : Islam
Suku : Jawa
Alamat : Cakung, Jakarta Timur
MRS : 7 Agustus 2016

II. ANAMNESIS

Keluhan Utama : Nyeri hebat saat haid 1 tahun SMRS

Keluhan Tambahan :

Pusing, mual, muntah berisi makanan

Riwayat Penyakit Sekarang :

Pasien mengaku nyeri yang hebat diperut bagian bawah setiap haid, nyeri dirasakan
setiap haid semenjak pasien remaja, dan nyeri bertambah hebat kurang lebih 1 tahun
terakhir ini. Pasien mengaku haid tidak teratur dengan perdarahan yang banyak dan
bergumpal-gumpal. Pada saat haid, pasien mengaku mengganti pembalut > 6 kali dalam
sehari. Pasien juga mengeluh pusing, mual dan muntah yang berisi makanan. Gangguan
buang air kecil disangkal.

Riwayat Penyakit Dahulu : -

Riwayat Penyakit Keluarga :


Menurut pasien di keluarga pasien tidak ada yang memiliki keluhan seperti pasien.
Riwayat penyakit jantung dan asma disangkal. Ibu menderita hipertensi, dan ayah
menderita diabetes mellitus.
Riwayat Alergi :
Pasien mengatakan tidak mempunyai alergi terhadap obat-obatan dan makanan.

Riwayat Kontrasepsi :

Pasien tidak memakai alat dan pil kontrasepsi

Riwayat ginekologi :
- Pasien menikah, pernikahan yang pertama, sudah menikah selama 25 tahun.
- Haid pertama Usia 14 tahun, Teratur, saat haid nyeri, Lama Haid 1 minggu. Siklus
haid 30 hari, HPHT 30 Juli 2016
- Riwayat persalinan:
1. Lahir di rumah sakit tahun 1992 dengan cara seksio sesarea jenis kelamin laki
laki berat lahir 4800 gr dan anak sehat
2. Lahir di rumah sakit tahun 1995 dengan cara seksio sesarea jenis kelamin laki
laki berat lahir 4300 gr dan anak sehat.
Riwayat ANC : -
Riwayat Pengobatan : -
Riwayat Alergi Obat : -

III. STATUS GENERALIS

Keadaan umum : Baik


Kesadaran : Compos mentis
GCS : 15

Tanda - Tanda Vital


- Tekanan darah : 150/90 mmHg
- Frekuensi nadi : 95 x/menit
- Frekuensi napas : 20 x/menit
- Suhu : 36,6oC

Pemeriksaan Fisik Umum


- Mata : Konjungtiva anemis (+/+), ikterus (-/-)
- Jantung : Bunyi jantung I dan II reguler, gallop (-), murmur (-)
- Paru : Vesikuler (+/+), rhonki (-/-), wheezing (-/-)
- Ekstremitas : edema - - akral teraba hangat + +
- - + +
IV. STATUS GINEKOLOGI

Abdomen : Inspeksi : tampak sedikit membuncit

Palpasi : Supel, nyeri tekan (-), TFU tidak teraba, tidak teraba masa

Perkusi : Pekak di daerah massa, shifting dullnes (-).

Auskultasi : Bissing usus (+)

Genitalia : Inspekulo : Vulva/uretra tenang, dinding vagina dalam batas normal, portio
utuh, OUE tertutup, darah (+).

VT : Portio licin, uterus sebesar telur ayam, adnexa kanankiri dalam


batas normal, darah (+).

V. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan Darah Lengkap :


Hb : 8,2 g/dL n : 12-15 g/dL
Ht : 38,4 % n : 37- 47 %
Lekosit : 7700/uL n : 5000-10000/uL
LED : 24 mm n : 0-15 mm
Trombosit : 224000/ uL n : 150000-400000/ uL
GDS : 84 mg/dl n : 60-110 mg/dl

Ultrasonografi (USG) Abdomen :

Tampak gambaran massa ireguler, ruangan masa kistik yang sebagian besar meliputi
dinding uterus.
VI. DIAGNOSIS
Adenomiosis
VII. PROGNOSIS
Quo ad vitam : dubia ad bonam
Quo ad fungsional : dubia ad bonam
Quo ad sanationam : dubia ad bonam
VIII. PENATALAKSANAAN
a. Rencana Diagnosis
Laparatomi
PA
b. Rencana Terapi
Infus RL 20 tpm
Transfusi s/d Hb 10g/dl
Inj Ceftriaxon
Inj ketorolac
Pantoprazol
Nifedipin
c. Rencana Monitoring
Observasi keadaan umum dan vital sign
Observasi perdarahan

Pemeriksaan Hb pasca transfusi 2 labu (8 Agustus 2016)


Hb : 11,4 g/dl
Tanda - Tanda Vital (8 Agustus 2016)
- Tekanan darah : 130/80 mmHg
- Frekuensi nadi : 85 x/menit
- Frekuensi napas : 20 x/menit
- Suhu : 36,5oC

IX. TINDAKAN LAPARATOMI

Penemuan Intra Laparatomi:

Didapatkan massa sebesar telur ayam dengan diameter 9 cm.

Instruksi Post Laparatomi :

Terapi Ketoprofen 3x2 per rectal

Cek Hb, jika Hb 8 g/dl lakukan transfusi


X. POST LAPARATOMI

KU : lemah RR : 24 x/menit
TD : 135/86 mmHg Suhu : 36,8oC
Nadi : 92 x/menit

XI. 1 HARI POST LAPARATOMI

KU : baik
TD : 130/70 mmHg
Nadi : 88 x/menit
RR : 20 x/menit
Suhu : 36,5oC
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

ADENOMIOSIS

A. Pengertian Adenomiosis

Adenomiosis adalah penetrasi dan bertumbuhnya jaringan endometrium (jaringan


yang melapisi dinding dalam rahim) ke dalam miometrium (lapisan otot rahim),
sering disebut pula dengan endometriosis internal. Jadi penyakit ini sejenis dengan
endometriosis. Adenomiosis dapat dijumpai secara bersamaan dengan endometriosis
eksternal. Dan jaringan endometrium yang salah tempat ini, seperti endometrium yang
normal, akan mengikuti siklus menstruasi, sehingga cenderung mengalami
pendarahan pada saat menstruasi. Darah yang terkumpul di dalam jaringan otot rahim
ini akan menyebabkan pembengkakan; rahim menjadi lebih besar. Adenomiosis ini
dapat tersebar atau terfokus di satu tempat.

Adenomiosis adalah penyakit jinak uterus yang dicirikan dengan adanya kelenjar
dan stroma endometrium ektopik dalam miometrium. Hal ini terjadi akibat rusaknya
batas antara stratum basalis endometrium dengan miometrium sehingga kelenjar
endometrium dapat menembus miometrium. Selanjutnya, terbentuklah kelenjar
intramiometrium ektopik yang dapat menyebabkan hipertrofi & hiperplasia
miometrium (difus atau lokal). Pemicu terjadinya peristiwa ini sampai sekarang masih
belum jelas.

Umumnya adenomiosis salah didiagnosa sebagai fibroid rahim. Sebenarnya


terdapat perbedaan mendasar diantara fibroid (suatu tumor yang jelas) dan
adenomyoma. Fibroid berasal dari satu sel yang abnormal, yang dibawah pengaruh
hormon estrogen akan berkembangbiak. Pertumbuhan tumor mungkin dapat
menggeser dan menekan jaringan sekitarnya, tetapi dia tidak pernah menyusup ke
jaringan otot rahim, oleh karena tidak menyusup ke jaringan otot rahim maka
dimungkinkan untuk mengangkat seluruh tumor ini tanpa mengganggu jaringan rahim
yang normal selama proses pembedahan yang disebut myomektomi (pembedahan
untuk mengangkat fibroid). Sebaliknya adenomioma bukanlah suatu tumor dengan
batas yang jelas, tetapi lebih kea rah pembengkakan lokal dari dinding rahim sebagai
akibat penetrasi jaringan endometrium. Oleh karena itu tidak mungkin untuk
mengangkat jaringan yang terkena adenomiosis tanpa mengangkat jaringan otot rahim
yang dipenetrasi tadi.

Ada beberapa pendapat tentang batasan diagnosis adenomiosis. Secara


tradisional, diagnosis histologis adenomiosis ditegakkan ketika ditemukannya kelenjar
& stroma endometrium > 4 mm di bawah endomyometrial junction. Sedangkan
menurut Zaloudek & Norris, disebut adenomiosis jika jarak antara batas bawah
endometrium dengan daerah miometrium yang terkena + 2,5 mm. Adenomiosis sub-
basalis diartikan sebagai invasi minimal kelenjar endometrium < 2 mm di bawah
stratum basalis endometrium.

Menurut Hendrickson & Kempson, disebut adenomiosis jika lebih dari sepertiga
total ketebalan dinding uterus yang terkena. Sedangkan Ferenczy tetap
mempertahankan pendapatnya bahwa diagnosis adenomiosis jika jarak antara
endomyometrial junction dengan fokal adenomiosis terdekat > 25% total ketebalan
miometrium.

Siegler & Camilien mengelompokkan adenomiosis berdasarkan kedalaman


penetrasi ke dalam miometrium, yaitu:
Derajat 1, mengenai 1/3 miometrium (Adenomiosis superfisial)
Derajat 2, mengenai 2/3 miometrium
Derajat 3, mengenai seluruh miometrium (Deep Adenomiosis)

Selanjutnya adenomiosis juga dibagi berdasarkan jumlah pulau-pulau


endometrium pada pemeriksaan histologi menjadi ringan (1-3), sedang (4-9) & berat
(>10).
Gambar 1. Adenomiosis

Gambar 2. Gambaran adenomiosis

B. Gambaran Makroskopik dan Histologis


Adenomiosis menyebabkan pembesaran miometrium yang globuler & kistik
dengan beberapa kista yang berisi dengan extravasasi atau hemolisis dari sel-sel darah
merah & siderofag. Gambaran mikroskopis adenomiosis dikelilingi secara melingkar
oleh sel-sel otot polos yang hipertrofi (collar) sehingga adenomiosis fokal terlihat > 2
mm lebih dalam dari miometrium atau lebih dari 1 lapangan pandang dengan
pembesaran 10X dari endomyometrial junction.
Adenomiosis (difus) berbeda dengan adenomioma. Adenomioma biasanya
melingkar, agregasi noduler otot polos, jaringan endometrium dan biasanya dengan
stroma endometrium. Lokasi adenomioma bisa di dalam miometrium atau tumbuh
sebagai polip, 2% polip endometrium merupakan adenomioma.

C. Patogenesis

Adenomiosis berkembang dari pertumbuhan ke bawah dan invaginasi dari


stratum basalis endometrium ke dalam miometrium sehingga bisa dilihat adanya
hubungan langsung antara stratum basalis endometrium dengan adenomiosis di dalam
miometrium. Di daerah ekstra-uteri misalnya pada plica rectovagina, adenomiosis
dapat berkembang de novo secara embriologis dari sisa ductus Muller.

Mekanisme terjadinya invasi endometrium ke dalam miometrium pada manusia


masih dipelajari lebih lanjut. Perubahan proliferasi seperti aktivitas mitosis
menyebabkan peningkatan secara signifikan dari sintesis DNA & ciliogenesis di
lapisan fungsional endometrium daripada di lapisan basalis. Lapisan fungsional
sebagai tempat implantasi blastocyst, sedangkan lapisan basalis sebagai sumber
produksi untuk regenerasi endometrium akibat degenerasi dari lapisan fungsional saat
menstruasi. Pada saat proses regenerasi, sel-sel epitel dari kelenjar basalis
berhubungan langsung dengan sel-sel stroma endometrium yang membentuk sistem
mikrofilamentosa/trabekula intraselular dan gambaran sitoplasma pseudopodia.
Beberapa perubahan morfologi pada epitel kelenjar endometrium adenomiosis tidak
dapat digambarkan. Namun dalam studi invitro menunjukkan sel-sel endometrium
memiliki potensial invasif dimana potensial invasif ini bisa memfasilitasi perluasan
lapisan basalis endometrium ke dalam miometrium.
Dalam studi yang menggunakan hibridisasi & imunohistokimia insitu
menunjukkan kelenjar-kelenjar endometrium pada adenomiosis lebih
mengekspresikan reseptor mRNA hCG/LH secara selektif. Pada endometrium yang
normal, kelenjar-kelenjar ini tidak dapat mengekspresikan reseptor hCG/LH. Hal ini
mungkin meskipun belum terbukti bahwa peningkatan ekspresi reseptor epitel
endometrium berkaitan dengan kemampuan untuk menembus miometrium dan
membentuk fokal adenomiosis. Menjadi menarik dimana peningkatan ekspresi
reseptor hCG/LH ditemukan pada karsinoma endometrium dibandingkan kelenjar
endometrium yang normal seperti halnya yang ditemukan pada trofoblas invasif
dibandingkan yang non-invasif pada koriockrsinoma.

Studi tentang reseptor steroid menggunakan Cytosol, menunjukkan hasil yang


tidak konsisten. Beberapa menunjukkan tidak ada ekspresi reseptor progesteron pada
40% kasus adenomiosis, sedangkan yang lain menunjukkan ekspresi reseptor
progesteron yang lebih tinggi dibandingkan estrogen. Dengan menggunakan tehnik
pelacak imunohistokimia, ditemukan konsentrasi yang tinggi baik reseptor estrogen
dan progesteron pada lapisan basalis endometrium maupun adenomiosis.

Reseptor estrogen merupakan syarat untuk pertumbuhan endometrium yang


menggunakan mediator estrogen. Meskipun masih belum jelas evidensnya,
hiperestrogenemia memiliki peranan dalam proses invaginasi semenjak ditemukan
banyaknya hiperplasia endometrium pada wanita dengan adenomiosis. Konsentrasi
estrogen yang tinggi diperlukan dalam perkembangan adenomiosis sebagaimana
halnya endometriosis. Hal ini didukung bahwa penekanan terhadap lingkungan
estrogen dengan pemberian Danazol menyebabkan involusi dari endometrium ektopik
yang dikaitkan dengan gejala menoragia & dismenorea.

Pada penyakit uterus yang estrogen-dependent seperti karsinoma endometrium,


endometriosis, adenomiosis & leiomioma, tidak hanya terdapat reseptor estrogen,
namun juga aromatase, enzim yang mengkatalisasi konversi androgen menjadi
estrogen. Prekursor utama androgen, Andronostenedione, dikonversi oleh aromatase
menjadi Estrone. Sumber estrogen yang lain yaitu Estrogen-3-Sulfat yang dikonversi
oleh enzim Estrogen sulfatase menjadi Estrone, yang hanya terdapat dalam jaringan
adenomiosis. Nantinya Estrone akan dikonversi lagi menjadi 17-estradiol yang
meningkatkan tingkat aktivitas estrogen. Bersama dengan estrogen dalam sirkulasi,
akan menstimulasi pertumbuhan jaringan yang menggunakan mediator estrogen.
Gambar 3. Patogenesis Adenomiosis

Gambar skematis mekanisme pertumbuhan adenomiosis yang estrogen-


dependent. Di dalam jaringan terdapat reseptor estrogen, aromatase & sulfatase.
Produksi estrogen lokal meningkatkan konsentrasi estrogen yang bersama-sama
dengan estrogen dalam sirkulasi, merangsang pertumbuhan jaringan yang termediasi
oleh reseptor estrogen.
m-RNA sitokrom P450 aromatase (P450arom) merupakan komponen utama
aromatase yang terdapat pada jaringan adenomiosis. Protein P450arom terlokalisir
secara imunologis dalam sel-sel kelenjar jaringan adenomiosis.

D. Perkembangan Endometriosis dan Adenomiosis


Hiperperistaltik uterus mempunyai peranan penting dalam perkembangan
endometriosis & adenomiosis. Hiperperistaltik dapat dipicu oleh peningkatan kadar
estradiol perifer di dalam darah. Namun, estradiol yang memicu hiperperistaltik ini
dapat juga berasal dari endometrium itu sendiri. Adanya ekspresi P450 aromatase
selama fase luteal, dimana lapisan basalis endometrium merupakan kelenjar endokrin
yang memproduksi estrogen dari prekursor androgen. Pada wanita dengan
adenomiosis dan endometriosis, konsentrasi estrogen dalam darah saat haid lebih
tinggi dibandingkan wanita normal.

Konsep tentang hiperestrogenisme archimetrium non-ovarium merupakan salah


satu kejadian awal dalam tahap perkembangan endometriosis yang dipengaruhi juga
oleh faktor-faktor lingkungan seperti perusak endokrin dan konsumsi makanan, tetapi
hal ini masih perlu didiskusikan lebih lanjut. Pada penelitian dengan hewan coba,
dioxin meningkatkan aktivitas peristaltik tuba dan diaktifkan melalui reseptor
estrogen. Faktor keturunan juga diteliti pada koloni monyet Rhesus yang
menunjukkan ada kaitannya dengan endometriosis.

Pada gambar berikut menerangkan konsep perkembangan endometriosis dan


adenomiosis. Archimiometrium distimulasi oleh peningkatan lokal dari estradiol dan
oksitosin endometrium beserta reseptornya. Kejadian yang menyebabkan
hiperestrogenisme archimetrium sampai saat ini belum diketahui. Diduga karena
peranan P450 aromatase yang karena aktivasi P450 aromatase menyebabkan
peningkatan produksi lokal dari estrogen. Hiperestrogenisme archimetrium
menghasilkan hiperperistaltik uterus dan peningkatan tekanan uterus.

Gambar 4. Skema patofisiologi endometriosis dan adenomiosis

Hiperperistaltik menyebabkan trauma mekanik sehingga terjadi peningkatan


deskuamasi fragmen endometrium basalis dan juga terjadi peningkatan kapasitas
transport uterus retrograde sehingga terjadi diseminasi fragmen-fragmen tersebut
melalui tuba. Fragmen-fragmen dapat berimplantasi dimanapun di dalam cavum
peritoneum. Setelah proses implantasi, terjadi proliferasi dan pertumbuhan infiltrative
yang tergantung dari potensial proliferative dari fragmen basalis masing-masing.
Gambaran endometriosis pelvis yang pleimorfik merupakan rantai yang panjang sejak
gangguan awal pada tingkat archimetrium sampai berkembangnya lesi endometriosis.
Dalam perkembangan adenomiosis, rantai kejadian ini lebih pendek. Adanya
hiperperistaltik dan peningkatan tekanan uterus menyebabkan dehisiensi miometrium
yang dapat terinfiltasi oleh endometrium basalis. Terbentuklah adenomiosis fokal atau
difus. Adenomiosis fokal biasanya berada di dinding anterior dan atau posterior,
namun terutama di dinding posterior dan tidak pernah berada di dinding lateral atau
corpus uteri.

E. Gejala Klinis

Beberapa wanita dengan adenomiosis tidak memiliki keluhan apapun, di sisi lain
ada pula pasien yang memiliki gejala yang berat. Gejala-gejala adenomiosis adalah
triad gejala yakni pembesaran rahim, nyeri pelvis dan menstruasi yang banyak dan
abnormal. Nyeri, yang dirasakan terutama selama menstruasi disebut dysmenorrhea
dapat berupa kram yang hebat atau seperti disayat pisau. Nyeri dapat juga dirasakan
pada saat tidak sedang menstruasi. Pembesaran rahim dapat merata dengan tonjolan-
tonjolan rahim yang besar atau dapat pula seperti tumor yang terlokalisir.
Pendarahan pada saat menstruasi dapat banyak sekali dan berhari-hari, mungkin
disertai dengan bekuan-bekuan darah. Pendarahan yang hebat ini dapat menyebabkan
anemia (berkurangnya kadar hemoglobin dalam sel darah merah). Selain itu diluar
saat menstruasi bisa ada pendarahan abnormal (pendarahan sedikit-sedikit, bercak-
bercak). Adenomiosis paling banyak ditemukan pada wanita usia 35 50 tahun.

Efek dari adenomiosis pada kesuburan dan kehamilan tidak jelas. Adenomiosis
mungkin menyebabkan berkurangnya kesuburan. Informasi yang ada menyebutkan
bahwa adenomiosis bisa ada pada 17% wanita hamil yang berusia di atas 35 tahun.
Adenomiosis jarang dihubungkan dengan komplikasi obstetrik ataupun pembedahan.
Pada kebanyakan kasus wanita hamil dengan adenomiosis, adenomiosisnya
ditemukan secara kebetulan pada saat operasi caesar atau pada saat operasi
pengangkatan rahim. Jadi hubungan adenomiosis dengan infertilitas masih
memerlukan penelitian yang lebih lanjut.
Tabel 1. Presentasi klinis adenomiosis
Gejala Klinis Adenomiosis
1. Asimtomatis

Ditemukan tidak sengaja (pemeriksaan abdomen atau pelvis; USG transvaginal atau MRI;
bersama dengan patologi yg lain)

2. Perdarahan uterus abnormal

Dikeluhkan perdarahan banyak, berhubungan dengan beratnya proses adenomiosis (pada 23-
82% wanita dengan penyakit ringan berat) . Perdarahan ireguler relatif jarang, hanya terjadi
pada 10% wanita dengan adenomiosis

3. Dismenorea pada >50% wanita dengan adenomiosis

4. Gejala penekanan pada vesica urinaria & usus dari uterus bulky (jarang)

5. Komplikasi infertilitas, keguguran, hamil (jarang)

Bird dkk melaporkan dari kasus adenomiosis 51,2% pasien mengeluhkan


perdarahan banyak, 10,9% perdarahan ireguler, 28,3% dismenorea, 2,2% perdarahan
postmenopause dan 23,9% asimtomatis. Benson & Snedon juga melaporkan temuan
yang serupa.

Perdarahan banyak berhubungan dengan kedalaman penetrasi dari kelenjar


adenomiosis ke dalam miometrium dan densitas pada gambaran histologis dari
kelenjar adenomiosis di dalam miometirum. Kedalaman adenomiosis dan
hubungannya dengan perdarahan banyak menentukan pilihan strategi
penatalaksanaannya. McCausland & McCausland menunjukkan bahwa dari biopsi
reseksi endometrium, kedalaman penetrasi adenomiosis ke dalam miometrium
berhubungan dengan jumlah perdarahan banyak yang dilaporkan. Sehingga pada
adenomiosis superfisial dilakukan reseksi atau ablasi endometrium. Sedangkan pada
kasus adenomiosis yang lebih dalam atau dengan perdarahan banyak yang berlanjut,
perlu dilakukan penatalaksanaan bedah konvensional yaitu histerektomi.

F. Diagnosis
Adanya riwayat abnormal uterine bleeding & dismenorea pada wanita multipara
dengan pembesaran uterus yang difus seperti hamil dengan usia kehamilan 12 minggu
dapat dicurigai sebagai adenomiosis. Dalam kenyataannya, diagnosis klinis
adenomiosis seringkali tidak ditegakkan (75%) atau overdiagnosis (35%). Sehingga
adanya kecurigaan klinis akan adenomiosis dapat dilanjutkan dengan pemeriksaan
pencitraan berupa USG transvaginal dan MRI.

Diagnosis adenomiosis secara klinis sulit dan seringkali tidak akurat. Hal ini
disebabkan gejala adenomiosis yang tidak khas, dimana gejala tersebut juga
ditemukan pada fibroid uterus, abnormal uterine bleeding (AUB) maupun
endometriosis. Dulu, diagnosis adenomiosis hanya dapat ditegakkan secara histologis
setelah dilakukan histerektomi. Dengan kemajuan dalam tehnik pencitraan, diagnosis
prehisterektomi bisa ditegakkan dengan tingkat akurasi yang tinggi.

Pencitraan mempunyai 3 peran utama dalam mengelola pasien yang dicurigai


adenomiosis secara klinis. Pertama, untuk menegakkan diagnosis dan diagnosis
diferensial adenomiosis dari keadaan lain yang mirip seperti leiomioma. Kedua,
beratnya penyakit dapat disesuaikan dengan gejala klinisnya. Ketiga, pencitraan dapat
digunakan untuk monitoring penyakit pada pasien dengan pengobatan konservatif.
Beberapa pencitraan yang digunakan pada pasien yang dicurigai adenomiosis yaitu
Histerosalpingografi (HSG), USG transabdominal, USG transvaginal dan MRI.

Gambaran karakteristik utama pada HSG berupa daerah yang sakit dengan
kontras intravasasi, meluas dari cavum uteri ke dalam miometrium. HSG memiliki
sensitivitas yang rendah.

Kriteria diagnostik dengan USG transabdominal yaitu uterus yang membesar


berbentuk globuler, uterus normal tanpa adanya fibroid, daerah kistik di miometrium
dan echogenik yang menurun di miometrium. Bazot dkk pada 2001 melaporkan
bahwa USG transabdominal memiliki spesifisitas 95%, sensitivitas 32,5% dan akurasi
74,1% untuk mendiagnosis adenomiosis. USG transabdominal memiliki kapasitas
diagnostic yang terbatas untuk adenomiosis terutama pada wanita yang terdapat
fibroid.

Biasanya USG transabdominal dikombinasikan dengan USG transvaginal yang


menghasilkan kemampuan diagnostik yang lebih baik. Kriteria diagnostik dengan
USG transvaginal untuk adenomiosis yaitu tekstur miometrium yang
heterogen/distorsi, echotekstur miometrium yang abnormal dengan batas yang tidak
tegas, stria linier miometrium dan kista miometrium. Bazot dkk melaporkan
sensitivitas 65%, spesifisitas 97,5% dan tingkat akurasi 86,6% dengan USG
transvaginal dalam mendiagnosis adenomiosis dimana kriteria yang paling sensitif &
spesifik untuk adenomiosis adalah adanya kista miometrium.

Gambar 5. Gambaran USG Adenomiosis

MRI merupakan modalitas pencitraan yang paling akurat untuk evaluasi berbagai
keadaan uterus. Hal ini karena kemampuannya dalam diferensiasi jaringan lunak.
MRI dapat melihat anatomi internal uterus yang normal dan monitoring berbagai
perubahan fisiologis. Menurut Bazot dkk, kriteria MRI yang paling spesifik untuk
adenomiosis yaitu adanya daerah miometrium dengan intensitas yang tinggi dan
penebalan junctional zone >12 mm.
Gambar 6. Gambaran MRI Adenomiosis

Beberapa studi telah membandingkan akurasi pemeriksaan MRI dengan USG


transvaginal dalam mendiagnosisi adenomiosis. Dalam studi-studi terdahulu
menunjukkan tingkat akurasi yang lebih tinggi pada MRI dibandingkan USG
transvaginal. Namun dalam studi-studi terakhir dikatakan tidak ada perbedaan tingkat
akurasinya.

G. Pengobatan Adenomiosis
Adenomiosis biasanya hilang setelah menopause, sehingga pengobatan mungkin
tergantung pada kasus. Pilihan pengobatan untuk adenomiosis dapat meliputi:

1. Obat anti inflamasi


Jika mendekati menopause, dapat diberikan obat anti inflamasi, seperti
ibuprofen, untuk mengontrol nyeri. Dengan memulai obat anti-inflamasi 2-3
hari sebelum periode menstruasi dimulai dan terus mengonsumsi selama
periode menstruasi, dapat mengurangi aliran darah menstruasi selain
menghilangkan rasa sakit.

2. Obat hormon
Mengontrol siklus menstruasi dapat dengan kontrasepsi oral kombinasi
estrogen-progestin atau melalui hormon yang mengandung patch atau cincin
vagina dapat mengurangi perdarahan berat dan rasa sakit yang terkait dengan
adenomiosis.
Seringkali pembesaran rahim yang tidak begitu besar biasanya tidak
menimbulkan gejala dan karenanya tidak diperlukan obat-obatan. Untuk
kasus-kasus pendarahan hebat disertai nyeri yang amat sangat dapat dipakai
obat GnRH agonis yang mana obat ini menyebabkan suatu keadaan seperti
menopause dengan penghentian fungsi indung telur secara lengkap dan juga
menghentikan menstruasi, yang menyebabkan jaringan yang abnormal bisa
menyusut. Keadaan seperti menopause ini sangat menguntungkan bagi pasien-
pasien yang mengalami anemia karena memungkinkan pasien untuk
memulihkan anemianya, terutama dibantu dengan obat-obatan penambah
darah. Tapi obat GnRH agonis ini tidak mudah ditoleransi karena
menyebabkan gejala-gejala menopause seperti hot flash. Efek samping lainnya
adalah pengeroposan tulang, peningkatan kolesterol LDL dan penurunan
kolesterol HDL. Oleh karena itu pemakaian obat ini biasanya dibatasi selama
6 bulan saja. GnRH agonis juga digunakan untuk mengobati infertilitas yang
dihubungkan dengan adenomiosis. Tapi obat ini bisa memulihkan kesuburan
hanya pada kasus-kasus yang ringan, tidak pada kasus-kasus yang berat.
Hormon progesteron ataupun pil KB tidak begitu efektif (keberhasilan terapi
rata-rata hanya sekitar 26%).

3. Histerektomi
Histerektomi (operasi pengangkatan rahim) saat ini dipertimbangkan
sebagai satu-satunya terapi yang efektif untuk adenomiosis yang menimbulkan
gejala. Pada wanita yang berumur lanjut, dengan keluhan menoragia dan
dismenorea yang bertambah berat, histerektomi merupakan pengobatan yang
tepat. Ahli bedah yang berpengalaman dapat hanya mengangkat sebagian dari
rahim (hanya daerah rahim yang mengandung adenomiosis saja). Meskipun
hanya sebagian rahim yang diangkat tetapi dengan begitu maka tidak
dibolehkan lagi adanya kehamilan.

Histerektomi terbagi dalam beberapa jenis yaitu:


Histerektomi parsial (subtotal). Pada histerektomi jenis ini, uterus
diangkat tetapi mulut rahim (serviks) tetap ditinggal. Oleh karena itu,
penderita masih dapat terkena kanker mulut rahim, sehingga masih
perlu pemeriksaan Pap Smear secara rutin.
Histerektomi total, yaitu mengangkat uterus termasuk mulut rahim.
Histerektomi dan salfingo-ooforektomi bilateral, yaitu pengangkatan
uterus, mulut rahim, kedua tuba fallopi, dan kedua ovarium.
Pengangkatan ovarium menyebabkan keadaan seperti menopause.
Histerektomi radikal, dimana histerektomi diikuti dengan
pengangkatan bagian atas vagina serta jaringan dan kelenjar limfe di
sekitar kandungan. Operasi ini sering dilakukan pada karsinoma
serviks stadium dini.

Gambar 7. Macam-macam Histerektomi

H. Prognosis
Para peneliti menyatakan adenomiosis tidak memiliki faktor risiko untuk
berkembang menjadi ganas. Namun, bagaimanapun juga, karena jaringan
endometrium terdapat dalam miometrium maka kemungkinan kecil dapat
terjadi adenocarcinoma endometrial jika terjadi invasi miometrial yang dalam.
Karena adenomiosis bergantung pada hormon estrogen, maka keadaan
menopause merupakan terapi alami dari penyakit ini.
BAB III
DAFTAR PUSTAKA

Balogun M. Imaging diagnosis of Adenomiosis. Reviews in Gynaecological and Perinatal


Practice 2006; 6: 63-69.

Bergeron C, Amant F, Ferenczy A. Pathology and physiopathology of Adenomiosis. Best


Practice & Research Clinical Obstetrics and Gynaecology 2006; 20: 511-521.

Ferenczy A. Pathophysiology of Adenomiosis. Human Reproduction Update 1998; 4: 312-


322.

Ismiil N, Rasty G, Ghorab Z, et al. Adenomyosis involved by endometrial adenocarcinoma is


a significant risk factor for deep myometrial invasion. Ann Diagn Pathol. 2007;11 (4):
2527.

Katz VL. Comprehensive gynecology (5th ed.). Philadelphia PA: Mosby Elsevier. 2007.

Kitawaki J. Adenomiosis: the pathophysiology of an oestrogen-dependent disease. Best


Practice & Research Clinical Obstetrics and Gynaecology 2006; 20: 493-502.

Leyendecker G, Kunz G, et al. Adenomiosis and reproduction. Best Practice & Research
Clinical Obstetrics and Gynaecology 2006; 20: 523-546.

Peric H, Fraser IS. The symptomatology of Adenomiosis. Best Practice & Research Clinical
Obstetrics and Gynaecology 2006; 20: 547-555.

Vercellini P, Vigano P, et al. Adenomiosis: epidemiological factors. Best Practice &


Research Clinical Obstetrics and Gynaecology 2006; 20: 465-477.

Wiknjosastro H. Ilmu Kandungan. Edisi 2. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono


Prawirohardjo. 2009.