Anda di halaman 1dari 16

SATUAN ACARA PENYULUHAN

Topik : Pemeriksaan Iva Test


Sasaran : Ny. I
Hari / Tgl : 3 Agustus 2017
Tempat / Lokasi : BPM Puji Handayani, SST
Pelaksana : Rita Febriani

A. Tujuan Instruksional Umum (TIU) :


Setelah mendapatkan penyuluhan, peserta dapat mengetahui tentang
pemeriksaan IVA Test

B. Tujan Instruksional Khusus (TIK) :


Setelah peserta mengikuti penyuluhan Tentang pemeriksaan IVA, peserta dapat
menjelaskan tentang :
1. Pengertian / Batasan dari IVA Test
2. Tujuan IVA Test
3. Syarat IVA Test
4. Jadwal IVA Test
5. Keuntungan IVA Test
6. Penatalaksanaan Skrining IVA Test

C. Materi
Terlampir

D. Metode
Ceramah dan diskusi

E. Media
Leaflet dan Lembar Balik
F. Kegiatan Belajar Mengajar

No. Kegiatan Materi Kegiatan Penyaji Kegiatan Peserta


1. Pembukaan Ucapkan salam Mengucapkan salam Menjawab salam
(2 menit) Perkenalkan diri Memperkenalkan diri Memperhatikan dan
Tujuan (umum dan Menjelaskan tujuan mendengarkan
khusus) umum dan khusus
Kontrak waktu Menjelaskan kontrak Menyepakati kontrak
waktu selama 15 menit waktu
2 Pelaksanaan Pengertian/Batasan Menjelaskan dan Mendengarkan dan
penyuluhan dari IVA Test menyajikan IVA Test memperhatikan
(10 menit) Tujuan IVA Test Menjelaskan Tujuan
IVA Test
Syarat IVA Test Menjelaskan syarat
IVA Test
Jadwal IVA Test Menjelaskan Jadwal
IVA Test.
Keuntungan IVA Test Menjelaskan
keuntungan IVA Test
Penatalaksanaan IVA Menjelaskan Tempat
Test Pelayanan IVA Test
3. Penutup Evaluasi kepada Bertanya kepada Menjawab pertanyaan
(3 menit) peserta peserta dari penyaji
Tanya jawab Menjawab pertanyaan Mengajukan
peserta pertanyaan
Kesempatan Pembimbing Mendengarkan dan
pembimbing menambahkan memperhatikan
penjelasan
G. Evaluasi
a. Peserta penyuluhan mampu memahami dan menjelaskan tentang Pengertian
/ Batasan dari IVA Test
b. Peserta penyuluhan dapat memahami dan menjelaskan tentang Tujuan IVA
Test
c. Peserta penyuluhan mampu memahami dan menjelaskan tentang syarat
IVA Test
d. Peserta penyuluhan mampu memahami dan menjelaskan tentang jadwal IVA
Test
e. Peserta penyuluhan mampu memahami dan menjelaskan tentang
keuntungan IVA Test
f. Peserta penyuluhan mampu memahami dan menjelaskan tentang
penatalaksanaan IVA Test
MATERI IVA TEST

1. Pengertian Kanker Serviks


Kanker serviks adalah kanker yang muncul pada leher rahim wanita.
Leher rahim sendiri berfungsi sebagai pintu masuk menuju rahim dari vagina,
letaknya antara rahim (uterus) dan liang senggama atau vagina Semua wanita
dari berbagai usia berisiko menderita kanker serviks. Tapi, penyakit ini
cenderung mepengaruhi wanita yang aktif secara seksual.
Pada tahap awal, kanker serviks biasanya tidak memiliki gejala. Gejala
kanker serviks yang paling umum adalah pendarahan pada vagina yang terjadi
setelah berhubungan seks, di luar masa menstruasi,atau setelah menopause

2. Faktor Resiko Kanker Serviks


a. Infeksi HPV (Human Pappiloma Virus)
Human pappiloma virus adalah kelompok yang terdiri dari 150 lebih jenis
virus dan ditularkan melalui hubungan seksual baik secara vaginal maupun
oral. Infeksi HPV adalah penyebab utama kanker pada organ genitalia
wanita seperi serviks, vagina, endometrium dan ovari
b. Merokok
Merokok dapat meningkatkan resiko kanker serviks, karena rokok
mengandung zat kimia yang dapat merusak DNA pada sel jaringan serviks
dan melemahkan sistem kekebalan tubuh dalam menangkal infeksi virus
HPV. Perokok aktif maupun pasif memiliki resiko dua kali lebih besar
mengidap kanker serviks.
c. Bergonta ganti pasangan
Melakukan hubungan seksual dengan lebih dari satu pasangan dapat
meningkatkan resiko kanker serviks, karena virus HPV yang menyebabkan
infeksi pada leher rahim ditularkan melalui hubungan seksual
d. Kurangnya konsumsi buah dan sayur
Kurangnya konsumsi buah dan sayur dapat meningkatkan resiko kanker
serviks. Sayur dan buah mengandung antioksidan yang merupakan
penangkal infeksi dan radikal bebas, serta berfungsi menguatkan sistem
kekebalan tubuh.
e. Kontrasepsi oral (pil kb)
Wanita yang rajin mengkonsumsi kontrasepsi oral atau pil KB dalam jangka
waktu yang lama atau lebih dari lima tahun beresiko dua kali lebih besar
mengidap kanker serviks.
f. Hamil Usia Muda
Faktor kehamilan juga berpengaruh terhapap tingginya resiko kanker
serviks. Wanita yang hamil dibawah usia 17 tahun memiliki resiko dua kali
lebih besar dibandingkan wanita yang hamil diatas usia 25 tahun.
g. Riwayat keluarga
Jika seorang wanita mempunyai ibu atau saudara perempuan yang
mengidap kanker serviks, maka ia meiliki resiko 2 3 kali lebih besar untuk
mengidap kanker serviks. Hal ini disebabkan karena faktor
ketidakmampuan tubuh dalam menangkal infeksi virus HPV dapat
diturunkan pada generasi selanjutnya.
3. Gejala Kanker Serviks
a. Perdarahan
Gejala utama dari kanker serviks adalah munculnya pendarahan vagina baik
pendarahan setelah berhubungan seksual, saat buang air besar, menstrruasi
yang berkepanjangan atau tidak normal, serta pendarahan yang terjadi
setelah masa menopouse. Jika anda mengalami pendarahan seperti yang
disebutkan diatas, maka sebaiknya anda segera lakukan pemeriksaan medis
untuk mengetahui penyebabnya.
b. Keluar cairan vagina yang tidak normal Tubuh biasanya menghasilkan
cairan untuk melumasi bagian dalam vagina, akan tetapi jika ditemukan
darah pada cairan vagina atau keputihan yang berlebih ada baiknya segera
lakukan pengecekan.
c. Kaki bengkak
Pada pasien kanker serviks biasanya ditemukan pembengkakan pada kaki.
Pembengkakan ini merupakan tanda bahwa kanker telah memasuki stadium
lanjut.
d. Nyeri punggung
Penderita kanker serviks akan merasakan nyeri yang amat menggangu pada
bagian punggung. Gejala ini biasanya terjadi pada stadium lanjut kanker
serviks dan menandakan bahwa jaringan kanker telah meluas ke bagian luar
leher rahim.
e. Nyeri perut
Tidak hanya mengalami nyeri punggung, penderita kanker serviks juga akan
merasakan sakit dan nyeri di bagian perut. Hal ini dikarenakan sistem
kekebalan tubuh menghasilkan zat prostaglandin saat menangkal infeksi
dan zat ini dapat menimbulkan rasa sakit pada perut.
f. Pusing dan kelelahan
Pada stadium lanjut, penderita akan sering mengalami pusing dan kelelahan.
Kondisi ini akan menjadi semakin buruk hingga menyebabkan kehilangan
kesadaran jika tidak segera ditangani.
g. Turunnya berat badan secara drastis
Penderita kanker stadium akhir akan mengalami cachexia, yakni hilangnya
berat badan serta massa otot. Kondisi ini juga disertai dengan hilangnya
nafsu makan dan tubuh akan merasa lemas. Cachexia terjadi dikarenakan
metabolisme tubuh yang terganggu oleh jaringan kanker dan juga bisa
terjadi karena efek dari kemoterapi.

4. Pengertian IVA Test


IVA (inspeksi visual dengan asam asetat) merupakan cara sederhana
untuk mendeteksi kanker leher rahim sedini mungkin (Sukaca E. Bertiani,
2009). IVA merupakan pemeriksaan leher rahim (serviks) dengan cara melihat
langsung (dengan mata telanjang) leher rahim setelah memulas leher rahim
dengan larutan asam asetat 3-6% (Wijaya Delia, 2010).Laporan hasil
konsultasi WHO menyebutkan bahwa IVA dapat mendeteksi lesi tingkat pra
kanker (high-Grade Precanceraus Lesions) dengan sensitivitas sekitar 66-96%
dan spesifitas 64-98%. Sedangkan nilai prediksi positif (positive predective
value) dan nilai prediksi negatif (negative predective value) masing-masing
antara 10-20% dan 92-97% (Wijaya Delia, 2010).
Pemeriksaan IVA merupakan pemeriksaan skrining alternatife dari pap
smear karena biasanya murah, praktis, sangat mudah untuk dilaksanakan dan
peralatan sederhana serta dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan selain dokter
ginekologi. Pada pemeriksaan ini, pemeriksaan dilakukan dengan cara melihat
serviks yang telah diberi asam asetat 3-6% secara inspekulo. Setelah serviks
diulas dengan asam asetat, akan terjadi perubahan warna pada serviks yang
dapat diamati secara langsung dan dapat dibaca sebagai normal atau abnormal.
Dibutuhkan waktu satu sampai dua menit untuk dapat melihat perubahan-
perubahan pada jaringan epitel. Serviks yang diberi larutan asam asetat 6%
akan merespon lebih cepat daripada larutan 3%. Efek akan menghilang sekitar
50-60 detik sehingga dengan pemberian asam asetat akan didapat hasil
gambaran serviks yang normal (merah homogen) dan bercak putih (displasia)
(Novel S Sinta,2010)
5. Tujuan IVA Test
Untuk mengurangi morbiditas atau mortalitas dari penyakit dengan
pengobatan dini terhadap kasus-kasus yang ditemukan. Untuk mengetahui
kelainan yang terjadi pada leher rahim.

6. Syarat Pemeriksaan IVA Test


a. Sudah menikah
b. Pernah melakukan hubungan seksual
c. Tidak sedang datang bulan/haid
d. Tidak sedang hamil

7. Jadwal IVA Test


a. Skrining pada setiap wanita minimal 1X pada usia 35-40 tahun
b. Kalau fasilitas memungkinkan lakukan tiap 10 tahun pada usia 35-55 tahun
c. Kalau fasilitas tersedia lebih lakukan tiap 5 tahun pada usia 35-55 tahun
(Nugroho Taufan, dr. 2010:66)
d. Ideal dan optimal pemeriksaan dilakukan setiap 3 tahun pada wanita usia
25-60 tahun.
e. Skrining yang dilakukan sekali dalam 10 tahun atau sekali seumur hidup
memiliki dampak yang cukup signifikan.
f. Di Indonesia, anjuran untuk melakukan IVA bila : hasil positif (+) adalah 1
tahun dan, bila hasil negatif (-) adalah 5 tahun. (WHO, 2010)

8. Keuntungan IVA Test


Keuntungan pemeriksaan IVA adalah sebagai berikut:
a. Praktis, mudah dilaksanakan
b. Dilaksanakan oleh bidan, dokter umum, dokter spesialis obgyn, dan
dilakukan di klinik, laboratorium yang memadai, dan rumah sakit.
c. Alat-alat yang dibutuhkan sederhana
d. Hasil dapat langsung diketahui
9. Penatalaksanaan Skrining IVA Test
a. Persiapan
Untuk melaksanakan pemeriksaan dengan metode IVA, dibutuhkan
persiapan sebagai berikut:
1) Persiapan Ibu :
a) Informed consent
b) Ibu dijelaskan tindakan yang akan dilakukan
c) Ibu diminta mengosongkan kandung kemih
2) Persiapan alat :
a) Handscoen 1 (satu) pasang
b) Spekulum cocor bebek/ Spekulum sim
c) Lidi berkapas
d) Asam asetat 3-6 % (Asam cuka)
e) Ember plastik berisi larutan klorin 0,5%
f) Tempat sampah
g) Bengkok
3) Persiapan Penolong :
a) Melakukan cuci tangan di bawah air mengalir
b) Memakai handscoen
4) Persiapan Lingkungan :
a) Jendela ditutup

b. Cara Kerja
1) Pasien diminta menandatangani informed consent
2) Pasien dijelaskan mengenai prosedur yang akan dijalankan
3) Cuci tangan dibawah air mengalir
4) Pasien dibaringkan dengan posisi litotomi (Posisi terlentang dengan
mengangkat kedua kaki dan ditarik ke atas perut)
5) Memperhatikan vulva apakah ada tanda-tanda infeksi dan kelainan.
6) Memasukan speculum kedalam vagina pasien secara perlahan-lahan,
lalu dibuka untuk melihat serviks uteri.
7) Serviks uteri dilihat apakah ada tanda-tanda infeksi dan kelainan
lainnya.
8) Dengan menggunakan lidi berkapas, larutan asam asetat 3-6%
dioleskan ke leher rahim.
9) Hasil dilihat:
Bila luka atau lesi pada leher rahim berubah menjadi keputihan, maka
hasilnya positif (+). Hasil positif menunjukkan bahwa klien positif
kanker.
Bila warna tidak berubah menjadi putih, maka hasilnya negatif (-).
Hasil negatif menunjukkan bahwa klien tidak menderita kanker.
10) Speculum dikeluarkan dari vagina secara perlahan-lahan.
11) Ibu diberitahu bahwa pemeriksaan telah selesai dilakukan.
12) Ibu dirapikan, alat-alat dibuka dan direndam dalam ember plastik berisi
larutan klorin 0,5% selama 10 menit.
13) Handscoen dilepas dalam air klorin
14) Cuci tangan dibawah air mengalir
15) Menyelesaikan dokumentasi
c. Hasil Pemeriksaan IVA Test
Menurut (Sukaca E. Bertiani, 2009) hasil pemeriksaan IVA dapat
dikelompokkan sebagai berikut:
1) IVA negatif (-) artinya menunjukkan leher rahim normal.
2) IVA positif (+) artinya ditemukan bercak putih Bila luka atau lesi pada
leher rahim berubah menjadi keputihan, maka hasilnya positif (+). Hasil
positif menunjukkan bahwa klien positif kanker.
3) Jika masih tahap lesi atau lecet, pengobatan cukup mudah, bisa
langsung diobati dengan metode krioterapi atau gas dingin yang
menyemprotkan gas karbondioksida atau nitrogen ke leher rahim.
MATERI PAP SMEAR

a. Pengertian Pap Smear


Pap Test (Pap Smear) adalah pemeriksaan sitologik epitel porsio dan
endoservik uteri untuk penentuan adanya perubahan praganas maupun ganas di
porsio atau servik uteri (Tim PKTP,RSUD Dr. Soetomo/ FK UNAIR, 2000).
Sedangkan menurut Hariyono Winarto dalam seminarnya pada tanggal 05-
10-2008 tentang Pap Smear Sebagai Upaya Menghindari Kanker Leher Rahim
Bagi Wanita Usia Reproduksi, pengertian Pap Test (Pap Smear) adalah suatu
pemeriksaan dengan cara mengusap leher rahim (scrapping) untuk mendapatkan
sel-sel leher rahim kemudian diperiksa sel-selnya, agar dapat ditahui terjadinya
perubahan atau tidak.
Dari pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa Pap Smear adalah
pemeriksaan usapan pada leher rahim untuk mengetahui adanya perubahan sel-
sel yang abnormal yang diperiksa dibawah mikroskop.

b. Tujuan Pap Smear


a. Menemukan sel abnormal atau sel yang dapat berkembang menjadi kanker
termasuk infeksi HPV . (Ramli, dkk: 2000).
b. Untuk mendeteksi adanya pra-kanker, ini sangat penting ditemukan
sebelum seseorang menderita kanker. (Hariyono.W, 2008).
c. Mendeteksi kelainan kelainan yang terjadi pada sel-sel leher Rahim
d. Mendeteksi adanya kelainan praganas atau keganasan servik uteri (Tim
PKTP, RSUD Dr. Soetomo / FK UNAIR, 2000).

c. Sasaran Pap Smear


a. Ahli-ahli di Marie Stopes International menganjurkan agar kita melakukan
Pap Smear setiap tahun baik wanita yang sudah menikah atau wanita yang
sudah pernah melakukan hubungan seksual.
b. American Cancer Society petulisannya : Cancer Related Health Check Up
menganjurkan sebagai berikut :
1) Pap test setahun sekali bagi wanita antara umur 40-60 tahun dan juga
bagi wanita di bawah 20 tahun yang seksual aktif.
2) Sesudah 2x pap test (-) dengan interval 3 tahun dengan catatan bahwa
wanita resiko tinggi harus lebih sering menjalankan pap test (Tim
PKTP, RSUD Dr. Soetomo / FK UNAIR,2000)
c. The British Medical Association Family Health Encyclopedia
menganjurkan bahwa seseorang wanita harus melakukan Pap Smear dalam
6 bulan setelah pertama kali melakukan Pap Smear dalam 6 bulan setelah
pertama kali melakukan hubungan seksual, dengan Pap Smear kedua 6-12
bulan setelah Pap Smear pertama dan hasil diberikan adalah normal pada
selang waktu 3 tahunan selama masa hidupnya.

d. Syarat Pengambilan Pap Smear


Beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dalam pemeriksaan Pap Smear
adalah sebagai berikut :
a. Waktu pengambilan minimal 2 minggu setelah menstruasi dimulai dan
sebelum menstruasi berikutnya.
b. Berikan informasi sejujurnya kepada petugas kesehatan tentang riwayat
kesehatan dan penyakit yang pernah diderita
c. Hubungan intim tidak boleh dilakukan dalam 3x24 jam sebelum
pengambilan bahan pemeriksaan
d. Pembilasan vagina dengan macam-macam cairan kimia tidak boleh
dikerjakan dalam 24 jam sebelumnya.
e. Hindari pemakaian obat-obatan yang dimasukkan ke dalam vagina 48 jam
sebelum pemeriksaan.
f. Bila anda sedang minum obat tertentu, informasikan kepada petugas
kesehatan, karena ada beberapa jenis obat yang dapat mempengaruhi hasil
analisis sel. (Republika. C, 2007).
e. Klasifikasi Pap Smear
Klasifikasi menurut Ramli, dkk: 2000, negative: tidak ditemukan sel
ganas. Sedangkan klasifikasi menurut Papanicolau adalah sebagai berikut :
a. Kelas I : Hanya ditemukan sel-sel normal.
b. Kelas II : Ditemukan beberapa sel atipik, akan tetapi tidak ada bukti
keganasan.
c. Kelas III : Gambaran sitologi mengesankan ,tetapi tidak konklusif
keganasan.
d. Kelas IV : Gambaran sitologi yang mencurigakan keganasan.
e. Kelas V : Gambaran sitologi yang menunjukkan keganasan. (Tim PKTP
RSUD Dr. Soetomo/FK UNAIR, 2000).

f. Faktor resiko
1. Umur
Perubahan sel-sel abnormal pada mulut rahim paling sering ditemukan pada
usia 35-55 tahun dan memiliki risiko 2-3 kali lipat untuk menderita kanker
mulut rahim (serviks). Semakin tua umur seseorang akan mengalami proses
kemunduran, sebenarnya proses kemunduran itu tidak terjadi pada suatu alat
saja tetapi pada seluruh organ tubuh. Semua bagian tubuh mengalami
kemunduran, sehingga pada usia lanjut lebih lama kemungkinan jatuh sakit,
misalnya terkena sakit/mudah mengalami infeksi (Andrijono, 2008).
2. Paritas
Paritas adalah seorang wanita yang sudah pernah melahirkan bayi yang
dapat hidup atau viable. Paritas dengan jumlah anak lebih dari 2 orang atau
jarak persalinan terlampau dekat mempunyai risiko yang lebih besar
terhadap timbulnya perubahan sel-sel abnormal pada mulut rahim. Jika
jumlah anak yang dilahirkan pervaginam banyak dapat menyebabkan
terjadinya perubahan sel abnormal dari epitel pada mulut rahim yang dapat
berkembang menjadi keganasan (IBG Manuaba, 1999).

3. Sosial ekonomi
Golongan social ekonomi yang rendah sering kali terjadi keganasan pada sel
sel mulut rahim, hal ini dikarenakan ketidakmampuan melakukan Pap
Smear secara rutin (Andrijono, 2008).
4. Usia wanita saat menikah
Usia menikah <21 tahun mempunyai risiko lebih besar mengalami
perubahan sel-sel mulut rahim. Hal ini karena pada saat usia muda sel-sel
rahim masih belum matang. Maka sel sel tersebut tidak rentan terhadap
zat zat kimia yang dibawa oleh sperma dan segala macam perubahannya.
Jika belum matang, bisa saja ketika ada rangsangan sel yang tumbuh tidak
seimbang dengan sel yang mati, sehingga kelebihan sel ini bisa berubah sifat
menjadi sel kanker (Karen Evennett, 2003).
5. Berganti-ganti pasangan
Pasangan seksual yang berganti ganti juga memperbesar risiko
kemungkinan terjadinya kanker leher rahim. Bisa saja salah satu pasangan
seksual membawa virus HPV yang mengubah sel-sel di permukaan mukosa
hingga membelah menjadi lebih banyak yang akan mengarah ke keganasan
leher rahim (Nugroho. K, 2007)
6. Hygiene alat Genetalia
Terlalu sering mengunakan antiseptik untuk mencuci vagina juga ditengarai
dapat memicu kanker serviks. Oleh sebab itu, hindari terlalu sering mencuci
vagina dengan antiseptic karena cuci vagina dapat menyebabkan iritasi di
serviks. Iritasi ini akan merangsang terjadinya perubahan sel yang akhirnya
berubah menjadi kanker. ( Rieke. P, 2006 ).
DAFTAR PUSTAKA

Manuaba, Ida Bagus Gede., Ida Ayu Chandranita Manuaba., Ida Bagus
Gede Fajar Manuaba. 2010. Buku Ajar Penuntun Kuliah Ginekologi. Jakarta : Trans
Info Media.
Manuaba, Ida Ayu Sri KusumaDewiSuryasaputra., Ida Ayu Chandranita
Manuaba., Ida Bagus Gede Fajar Manuaba., Ida BagusGedeManuaba. 2009.
BukuAjarGinekologiUntukMahasiswaKebidanan. Jakarta: EGC.
Melianti Mira. 2011. Skining Kanker Serviks dengan Metode Inspeksi
Visual deang Asam Asetat (IVA) test. (http://stikesdhb.ac.id/kebidanan/91-
skrining-kanker-serviks.html. Diakses 2 November 2014 jam 20.27 wib)
Novel S.Sinta dkk. 2010. Kanker Serviks dan Infeksi Human
Pappilomavirus (HPV). Jakarta : Javamedia Network
Sukaca E. Bertiani. 2009. Cara Cerdas Menghadapi KANKER SERVIK
(Leher Rahim). Yogyakarta: Genius Printika
Wijaya Delia. 2010. Pembunuh Ganas Itu Bernama Kanker Servik.
Yogyakarta : Sinar Kejora