Anda di halaman 1dari 34

BERITA ACARA PRESENTASI KASUS

Pada hari ini tanggal..............................................telah dipresentasikan kasus oleh:


Nama Peserta : ...................................................................................................................................................................................
Dengan judul/topik :....
Nama Pendamping :
Nama Wahana :....

No No
. Nama Peserta Presentasi . Tanda Tangan
1 1

2 2

3 3

4 4

5 5

6 6

7 7

8 8

9 9

10 10

11 11

12 12
Berita acara ini ditulis dan disampaikan sesuai dengan yang sesungguhnya.
Pendamping

( )

Catatan: Halaman portofolio ini sebaiknya disalin sinar (fotokopi) karena anda akan membuat sejumlah laporan yang
sekaligus merupakan catatan untuk bekal dan berpraktik nantinya.
Borang Portofolio
Nama Presentan : dr. Ryandri Yovanda
Nama Wahana: RS Dr.H.Moch.Ansari Saleh, Banjarmasin, Kalimantan Selatan
Topik: Kasus Medik
Tanggal (kasus): 6 Mei 2015

Nama Pasien: Tn. A


No. RM :
Tanggal Presentasi: 6 Oktober 2015

Nama Pendamping: dr. Pardawan, Sp.M

Tempat Presentasi: Ruang Komite Medik


Obyektif Presentasi:
Keilmuan Keterampilan Penyegaran Tinjauan Pustaka

Diagnostik Manajemen Masalah Istimewa

Neonatus

Bayi

Anak

Remaja

Dewasa
Lansia

Bumil

Deskripsi: Seorang pasien laki-laki usia 22 tahun dating dengan keluhan bengkak, nyeri dan merah di sekitar
mata kanan

Tujuan: Mengetahui diagnosis herpes zoster opthalmikus dan terapinya

Bahan bahasan:

Tinjauan Pustaka

Riset

Kasus

Audit

Cara membahas:

Diskusi

Presentasi dan diskusi

Email

Pos

Data pasien:

Nama: Tn. A

Nomor Registrasi: -

Nama Klinik: Mata

i Saleh
Telp:
Terdaftar sejak: 9 Desember 2014
Data utama untuk bahan diskusi :
1. Diagnosis/Gambaran Klinis: Sejak 2 hari yang lalu pasien mengaku mata kanannya terasa gatal di sertai rasa panas dan nyeri.

2. Riwayat Pengobatan : pasien belum pernah berobat sebelumnya

3. Riwayat Penyakit Dahulu : belum pernah mengalami keluhan seperti ini

4. Riwayat Keluarga : tidak ada riwayat penyakit yang sama dalam keluarga

5. Riwayat Pekerjaan : -

6. Riwayat kebiasaan dan psikososial: pasien tinggal bersama kedua orang tuanya dan 2 kakak kandungnya. pasien
senang berkumpul bersama keluarga dan teman-teman sekolah danlingkungan sekitarnya.

7. Riwayat imunisasi: menurut ibu imunisasi pasien lengkap


8. Keluhan utama
Sejak 2 hari yang lalu pasien mengaku mata kanannya terasa gatal di sertai rasa panas dan nyeri. Rasa nyeri di rasakan sampai
kepala sebelah kanan. Mata kanan pasien bengkak dan merah. 3 hari yang lalu pasien mengaku sakit kepala dan demam, turun
dengan pemberian obat paracetamol. Pasien juga mengeluhkan adanya bintik kecil merah berisi air di bagian wajah kanan . Pasien
juga tidak ada riwayat trauma pada matanya.
9. PEMERIKSAAN FISIK

Keadaan Umum : Baik

Kesadaran : Komposmentis

Status Generalis : Dalam Batas Normal

Tanda Vital Nadi : 79 x/menit


RR : 21 x/menit
OD OS

5/5 Visus 5/5

Sentral Kedudukan Sentral

Ke segala arah Pergerakan Ke segala arah

| Bentuk normal, Odem (+) Palpebra superior Bentuk normal, Odem (-)

Status Lokalis : Bentuk normal, Odem (+) Palpebra inferior Bentuk normal, Odem (-)

Hiperemi (+), Odem (+) Konjungtiva Palpebra Hiperemi (-), Odem (-)

Hiperemi (+), Odem (-) Konjungtiva Forniks Hiperemi (-), Odem (-)

Hiperemi (+), Odem (-) Konjungtiva Bulbi Hiperemi (-), Odem (-)

Jernih Kornea Jernih

hiperemis Sklera Putih

Dalam COA Dalam

Iris shadow (-) Iris Iris shadow (-)

Sentral, regular, 3 mm, Pupil Sentral, regular, 3 mm,


reflek cahaya (+) reflek cahaya (+)

Jernih Lensa Jernih

(+) Sekret (-)


10. DIAGNOSA KERJA
Herpes zoster oftalmikus

11. DIAGNOSIS BANDING


- Herpes simplek
- Dermatitis kontak alergika

12. PENATALAKSANAAN
- Cendo Hervis 6x 1 tetes
- Cendo bralifex 4x1 tetes
- Cendo LFX 4x1 tetes
- Cendo Hyalub 3x1 tetes

13. PROGNOSIS
Dubia ad bonam
Daftar Pustaka :
1. Shaikh S. Evaluation and management of herpes zoster. Diakses dari: www.AAFP.org. Last update: November 1, 2002.

2. Fakhrina A. Herpes Zoster Oftalmikus pada OD dengan Gejala Blefaritis dan Konjungtivitis. Diakses dari:
http://www.fkumyecase.net/wiki/index.php? page= Herpes Zoster Oftalmikus pada OD dengan Gejala Blefaritis dan Konjungtivitis.
3. Moon EJ. Herpes zoster. Diakses dari www.emedicine.com.

4. Hanafi. Konjungtivitis varicela-zoster. Diakses dari: http://oddiehanafi. blogspot.com/2011/07/konjungtivitis.html.

5. Voughan D, Tailor A. Penyakit virus: ophtalmologi umum. Edisi 14. Widya Medika. 1995: 112, 336.

6. Djuanda Adhi. Penyakit virus: ilmu penyakit kulit dan kelamin. FKUI.1999: 107-109

7. Moon CH. Herpes zoster oftalmikus.Diakses dari: www.emedicine.com.

8. Gurwood AS. Herpes zoster ophtalmicus. Diakses dari: www.optometry.co.uk.

9. Moses S. Herpes zoster ophtalmicus. Diakses dari: www.fpnotebook.com.

10. American Academy of Ophtalmology. External cornea and disease. Section 8. 2005-2006.

11. Wahyuni N. Herpes Zoster. Diakses dari: http://ningrumwahyuni. wordpress.com/herpes-zoster/.

12. Wiafe B. Herpes zoster ophtalmicus in HIV/ AIDS. J. Comm Eye Health. 2003; 16(47): 35-36.

13. Ophtalmic Shingles. Diakses dari: www.ophtalmicshinles.htm. Last update: January 2, 2008.

14. Staf Pengajar FKUI. Mikrobiologi Kedokteran. Edisi Revisi. Bina Rupa Aksara. 1993: 303-318.

15. Tanjung H. Medan: Bagian Ilmu Penyakit Mata Fakultas Kedokteran Universitas Sumatra Utara.

16. Ningrum. Dendritic Ulcer. Diakses dari:http://ningrumwahyuni.wordpress. com/dendritic-ulcer/.

17. Wikipedia. Corneal Ulcer. Diakses dari: http://en.wikipedia.org/wiki/Corneal -ulcer.

Hasil Pembelajaran :
1. Penegakkan diagnosis HZO

2. Faktor risiko pasien dengan HZO

3. Komplikasi pasien dengan HZO

4. Tatalaksana pasien dengan HZO


Tinjauan Pustaka

A. Definisi
Herpes zoster merupakan infeksi umum yang disebabkan oleh Human Herpes Virus 3 (Varisela Zoster Virus), virus yang sama
menyebabkan varisela (chicken pox). Virus ini termasuk dalam famili Herpes viridae, seperti Herpes Simplex, Epstein Barr Virus, dan
Cytomegalovirus.1
Herpes Zoster Oftalmikus (HZO) merupakan hasil reaktivasi dari Varisela Zoster Virus (VZV) pada Nervus Trigeminal (N.V). Semua
cabang dari nervus tersebut bisa terpengaruh, dan cabang frontal divisi pertama N.V merupakan yang paling umum terlibat. Cabang ini menginervasi
hampir semua struktur okular dan periokular.3 Herpes zoster oftalmikus terjadi akibat infeksi pada cabang pertama nervus trigeminus yang
menimbulkan kelainan pada mata sedangkan infeksi pada cabang kedua dan ketiga menimbulkan kelainan kulit sesuai dengan daerah yang
dipersarafi.4
Blefarokonjungtivitis pada HZO ditandai dengan hiperemis dan konjungtivitis infiltratif disertai dengan erupsi vesikuler yang khas
C. Epidemiologi
HZO khas mempengaruhi 10-20 % populasi. HZO biasanya berpengaruh pada usia tua dengan meningkatnya pertambahan usia. Dari data insiden
terjadinya HZO pada populasi Caucasian adalah 131 : 100.000. Populasi American-Afrika mempunyai insiden 50 % dari Caucasian. Alasan untuk perbedaan ini tidak
sepenuhnya dipahami. Kebanyakan kasus HZO disebabkan reaktivasi dari virus laten. 8
Lebih dari 90 % dewasa di Amerika terbukti mempunyai serologi yang terinfeksi VZV. Dari hasil tahunan, insiden dari herpes zoster bervariasi, dari 1,5 3, 4
kasus per 1000 orang. Faktor resiko dari perkembangan oleh herpes zoster adalah menyusutnya sel mediated dari sistem imun yang berhubungan dengan
perkembangan usia. Insiden HZO pada usia 75 tahun ke atas melebihi 10 kasus per 1.000 orang per tahun, dan risiko seumur hidup diperkirakan 10-20 %. 7
Faktor risiko lain untuk herpes zoster diperoleh dari hambatan respon sel mediated imun, seperti pada pasien dengan obat imunosupresif dan HIV, dan yang
lebih spesifik dengan AIDS. Pada kenyataannya, risiko relatif dari herper zoster sedikitnya 15x lebih besar dengan HIV dibandingkan tanpa HIV. 7
HZO terdapat 10-25 % dari semua kasus herpes zoster. Resiko komplikasi oftalmik pada pasien herpes zoster tidak terlihat berhubungan dengan umur, jenis
kelamin, atau keganasan dari ruam kulit.7

D. Faktor Predisposisi
E. Patogenesis

Seperti herpes virus lainnya, VZV menyebabkan infeksi primer (varisela/ cacar air) dan sebagian lagi bersifat laten, dan ada kalanya diikuti
dengan penyakit yang rekuren di kemudian hari (zoster/ shingles). Infeksi primer VZV menular ketika kontak langsung dengan lesi kulit VZV atau
sekresi pernapasan melalui droplet udara. Infeksi VZV biasanya merupakan infeksi yang self-limited pada anak-anak, dan jarang terjadi dalam
waktu yang lama, sedangkan pada orang dewasa atau imunosupresif bisa berakibat fatal. Pada anak-anak, infeksi VZV ini ditandai dengan adanya
demam, malaise, dermatitis vesikuler selama 7-10 hari, kecuali pada infeksi primer yang mengenai mata (berupa vesikel kelopak mata dan
konjungtivitis vesikuler). VZV laten mengenai ganglion saraf dan rata-rata 20 % terinfeksi dan bereaktivasi di kemudian hari.10
Selama terjadinya infeksi varisela, VZV meninggalkan lesi di kulit dan permukaan mukosa ke ujung serabut saraf sensorik. Kemudian virus ini
dibawa melalui serabut saraf sensorik tersebut menuju ke ganglion saraf sensorik. Dalam ganglion ini, virus memasuki masa laten dan disini tidak
infeksius dan tidak mengadakan multiplikasi lagi, namun tidak berarti ia kehilangan daya infeksiusnya. Bila daya tahan tubuh penderita mengalami
penurunan, akan terjadi reaktivasi virus. Virus mengalami multiplikasi dan menyebar di dalam ganglion, biasanya disertai neuralgia yang hebat.
Kadang-kadang virus ini juga menyerang ganglion anterior bagian motorik kranialis sehingga memberikan gejala-gejala gangguan motorik.1

Gambar 1. Lesi herpes zoster oftalmikus.

HZO timbul akibat infeksi N.V1. Kondisi ini akibat reaktivasi VZV yang diperoleh selama masa anak-anak. Varisela zoster adalah virus DNA yang
termasuk dalam famili Herpes viridae. Selama infeksi, virus varisela berreplikasi secara efisien dalam sel ganglion. Bagaimanapun, jumlah VZV yang
laten per sel terlalu sedikit untuk menentukan tipe sel apa yang terkena. Imunitas spesifik sel mediated VZV bertindak untuk membatasi penyebaran
Kerusakan jaringan yang terlihat pada wajah disebabkan oleh infeksi yang menghasilkan inflamasi kronik dan iskemik pembuluh darah pada cabang N.
V. Hal ini terjadi sebagai respon langsung terhadap invasi virus pada berbagai jaringan. Walaupun sulit dimengerti, penyebaran dermatom pada N. V dan
daerah torak paling banyak terkena.8
Gejala-gejala mata yang dapat dilihat yaitu:
c. Kelopak mata
HZO sering mengenai kelopak mata. Hal ini ditandai dengan adanya pembengkakan kelopak mata, dan akhirnya timbul radang kelopak, yang
Rose Bengal merupakan turunan yodium dari fluorescein yang memiliki sifat pewarnaan penting. Tidak seperti fluorescein, rose Bengal
mengikat kuat dan selektif untuk komponen seluler. Noda yang terbentuk berwarna merah. Warna merah muncul karena rose Bengal bereaksi
dengan sel yang mati atau mengalami degenerasi sel epitel dan tidak sel bereaksi dengan sel normal. Epitel kornea sitopatik yang membengkak pada
batas ulkus kornea diwarnai rose Bengal karena hilangnya glikoprotein membran sel dan berikutnya kurangnya musin yang mengikat sel. Dasar
ulkus diwarnai oleh fluorescein karena hilangnya integritas seluler dan ketiadaaan hubungan rapat interseluler. Epitel yang bengkak pada batas
ulkus akan diwarnai dengan rose bengal, dan seringkali, bentuk dendritik dapat dilihat pada pinggir ulkus.14,15
Dahulu, rose Bengal dianggap hanya mewarnai sel-sel yang mati dan mucus. Belum lama ini telah ditunjukkan bahwa rose Bengal juga dapat
mewarnai sel-sel epitel yang tidak dilindungi secara adekuat oleh lapisan musin. Pewarnaan rose Bengal dan digunakan untuk membantu dalam
diagnosis abrasi kornea, keratitis, sicca keratoconjunctivitis, lagophthalmos, dll.14,15

Gambar 4. Pemeriksaan pada pasien dengan herpes zoster oftalmikus. Keratitis epithelial mungkin berupa sebuah dendritik yang mirip dengan
keratitis herpes simpleks keratitis (a) dan gambaran dengan pewarna fluorescein (b).1
h. Retina
Retinitis pada HZO digambarkan sebagai retinitis nekrotik dengan perdarahan dan eksudat, oklusi pembuluh darah posterior, dan neuritis
optik. Lesi ini dimulai dari bagian retina perifer.12
H. Pemeriksaan Laboratorium
Diagnosis laboratorium terdiri dari beberapa pemeriksaan, yaitu:16
a. Pemeriksaaan langsung secara mikroskopik
I. Penatalaksanaan

Sebagian besar kasus herpes zoster dapat didiagnosis dari anamnesis dan pemeriksaan fisik. Cara terbaru dalam mendiagnosis herpes
zoster adalah dengan tes DFA (Direct Immunofluorence with Fluorescein-tagged Antibody) dan PCR (jika ada), terbukti lebih efektif dan
spesifik dalam membedakan infeksi akibat VZV dengan HSV. Tes bisa dilanjutkan dengan kultur virus.3
Pasien dengan herpes zoster oftalmikus dapat diterapi dengan Acyclovir (5 x 800 mg sehari) selama 7-10 hari. Penelitian
menunjukkan pemakaian Acyclovir, terutama dalam 3 hari setelah gejala muncul, dapat mengurangi nyeri pada herpes zoster oftalmikus.
Onset Acyclovir dalam 72 jam pertama menunjukkan mampu mempercepat penyembuhan lesi kulit, menekan jumlah virus, dan mengurangi
kemungkinan terjadinya dendritis, stromal keratitis, serta uveitis anterior.1,7,13
Terapi lain dengan menggunakan Valacyclovir yang memiliki bioavaibilitas yang lebih tinggi, menunjukkan efektivitas yang sama
terhadap herpes zoster oftalmikus pada dosis 3 x 1000 mg sehari. Pemakaian Valacyclovir dalam 7 hari menunjukkan mampu mencegah
komplikasi herpes zoster oftalmikus, seperti konjungtivitis, keratitis, dan nyeri. Pada pasien imunocompromise dapat digunakan Valacyclovir
intravena. Untuk mengurangi nyeri akut pada pasien herpes zoster oftalmikus dapat digunakan analgetik oral. 1,7,13
Untuk mengobati berbagai komplikasi yang ditimbulkan oleh herpes zoster oftalmikus disesuaikan dengan gejala yang ditimbulkan.
Pada blefarokonjungtivitis, untuk blefaritis dan konjungtivitisnya, diterapi secara paliatif, yaitu dengan kompres dingin dan topikal
lubrikasi, serta pada indikasi infeksi sekunder oleh bakteri (biasanya S. aureus). Pada keratitis, jika hanya mengenai epitel bisa didebridemant,
jika mengenai stromal dapat digunakan topikal steroid. Ulkus kornea yang disebabkan oleh herpes virus mungkin berespon dengan asiklovir
salep topikal sedikitnya lima kali sehari. Di samping itu, diberikan terapi suportif seperti obat nyeri, termasuk siklopegik topikal seperti
atropin atau homatropine untuk melebarkan pupil dan menghentikan spasme otot siliar. Pada neurotropik keratitis diterapi dengan lubrikasi
topikal, serta dapat digunakan antibiotik jika terdapat infeksi sekunder bakteri.1,3,12,13,17
Penatalaksanaan herpes zoster oftalmikus dapat diklasifikasikan sebagai berikut:18
1. Terapi sistemik
a. Antivirus oral
2. Terapi local untuk lesi kulit
a. Salep kulit antibiotik kortikosteroid atau lotion.
Ini harus digunakan tiga kali sehari sampai lesi kulit sembuh.
b. Penggunaan lotion calamine lebih baik dihindari, karena dapat menimbulkan terbentuknya krusta.
HUTCHINSON SIGN
Salah satu indikator prognostik HZO adalah tanda hutch inson, yakni
terdapatnya lesi HZ pada puncak, sisi atau pangkal dari hidung. Tanda Hutchinson
terlihat pada gambar di bawah. Daerah ini adalah area yang diinervasi oleh
saraf etmoidalis anterior cabang dari saraf nasosiliaris. Karena nervus nasosiliari juga
menginervasi kornea, lesi kulit seperti itu juga dapat menyebabkan
keterlibatan okular yang berat.