Anda di halaman 1dari 14

PAPER PRAKTIKUM SEISMIK REFRAKSI

METODE DELAY TIME


Dzikru Aminulloh
115.150.013
Jurusan Teknik Geofisika, Universitas Pembangunan Nasional Veteran
Yogyakarta
Jalan SWK 104 Condongcatur Yogyakarta
bahtiarrizka@gmail.com
INTISARI
Seismik Refraksi adalah sebuah metode geofisika yang berfungsi untuk mengetahui kondisi
bawah permukaan bumi. Metode Seismik Refraksi dibagi menjadi 2 jenis metode yaitu
metode T-X dan metode Delay time . Pada penelitian kali ini digunakan Metode Delay time
jenis GRM ( Generalized Reciprochal Method ) dan Hagiwara, kedua metode menghasilkan
kondisi dibawah permukaan berupa kedalaman lapisan, Undulasi pada bidang perlapisan dan
jenis litologi di bawah permukaan bumi. Metode GRM dan Hagiwara memiliki kelebihan dan
kekurangan tersendiri dalam menggambarkan kondisi bawah permukaan. Penelitian Seismik
Refraksi dilakukan di Timur sungai Gajah Wong, desa pugeran, Kabupaten Sleman,
Yogyakarta pada tanggal 16 April 2017 ,dengan menggunakan seperangkat alat PASI
Seismograph.
Kata Kunci : Metode Delay Time, Generalized Reciprochal Method, Hagiwara, PASI
Seismograph
ABSTRACT

Seismic refraction method is one of geophysical method that can detect a subsurface
condition. This method can be devided into two types. The first one is T-X method
and the second one is Delay Tme Method. On this survey, we used Generilized
Reciprocal Method (GRM) and Hagiwara Method. Those method provide depth,
undulation and lithology of each layer. GRM and hagiwara method have their own
adventages and defiency between them. In this survey we used PASI as a
seismogram. This survey held on April 16th, 2017 and located in Sungai Gajah
Wong, Desa Pugeran, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Keyword : Delay Time Method, Generalized Reciprochal Method, Hagiwara, PASI
Seismograph.
kedalaman lapisan batuan, Undulasi batas
1. PENDAHULUAN perlapisan dan jenis litologi penyusun
Metode seismik refraksi adalah salah satu lapisan di bawah permukaan. Metode
metode geofisika yang bersifat sounding Delay time dibagi menjadi empat jenis
atau metode survey secara metode yaitu metode ABC, Plus
vertical,Sehingg metode seimik Refraksi Minus,GRM dan Hagiwara.Namun dalam
dapat menggambarkan kondisi dibawah penelitian ini hanya menggunakan dua
permukaan bumi . Dari kegiatan survey jenis metode saja yaitu netode GRM dan
seismik refraksi didapatkan kondisi Hagiwara.
kedalaman lapisan batuan bawah Metode GRM memiliki beberapa
permukaan,undulasi bidang batas kelebihan dibanding dengan metode yang
perlapisan dan jenis litologi penyusun lainya karena bisa mendeteksi adanya
dibawah permukaan bumi dengan hidden layer ,selain bisa mendeteksi
mengidentifikasi berdasarkan ciri cepatan adanya hidden layer melalui metode GRM
rambat gelombang seismik di setiap juga bisa melakukan analisa kecepatan
medium yang dilewatinya. dan analisa kedalaman. Namun metode
Dalam kegiatan survey Seismik GRM memiliki kelemahan yaitu tidak bisa
Refraksi di lapangan didapatkan data awal mendeteksi kedalaman lapisan batuan
berupa waktu tiba gelombang dan jarak dibawah source dan lapisan batuan
offset untuk digunakan sebagai dasar dibawah geophone sebelum gelombang
pengolahan data. Secara umum seismik terbiaskan.
pengolahan data seismik Refraksi dibagi Metode Hagiwara juga memiliki
menjadi dua jenis yaitu Metode T-X dan kelebihan dibnding dengan metode yang
metode Delay time. Metode Delay time lainya dimanan metode Hagiwara bisa
adalah metode yang memanfaatkan mendeteksi kedalaman lapisan batuan
adanya waktu tunda tiba gelombang dari dibawah source dan kedalaman lapisan
Sumber gelombang (Source) ke penerima batuan dibawah geophone baik sebelum
sinyal gelombang (Geophone). Dari waktu gelombang seismik dibiaskan maupun
tunda gelombang seismik dapat sesudah gelombang seismik dibiaskan.
mendeteksi adanya kondisi-kondisi Namun metode Hagiwara tidak bisa
dibawah permukaan bumi seperti
mendeteksi adanya hidden layer seperti Merupakan penggambaran
metode GRM. terakhir dari metode waktu tunda (plus
minus). Interpretasi akhir dapat diterapkan
2. DASAR TEORI pada medium yang memiliki kecepatan
2.1. Seismik Refraksi tidak homogen.
Metode seismik refraksi merupakan
metode yang memanfaatkan waktu
tempuh dari gelombang yang telah
terbiaskan untuk menuju pada suatu
penerima gelombang. Terdapat asumsi-
asumsi yang digunakan dalam metode
seismik refraksi ini yaitu menurut
Sismanto (1999) antara lain : Gambar 2.1. Model seismik bias dua

1. Bumi dianggap sebagai benda lapis

berlapis yang pada tiap lapisannya dapat Pada metode ini pertama kali
merambarkan gelombang seismik dengan dihitung fungsi kecepatan untuk tiap-tiap
kecepatan yang berbeda. geophone sesuai jarak (XY), misalnya XY
2. Kecepatan gelombang bertambah = 1,2 3,.dst (gambar 2.1). fungsi
seiring bertambahnya kedalaman. tersebut diberikan sebagai :
3. Panjang gelombang seismik harus
tidak lebih dari seperempat tebal tebal
lapisan. (2.1)
4. Perambatan gelombang seismik
Dengan Tv adalah waktu jalar dari
diasumsikan sebagai sinar dan mematuhi
A ke G yang terletak diantara E dan F.
hukum-hukum pembiasan cahaya.
Jika dapat diperoleh harga XY optimum
5. Pada bidang batas lapisan,
maka titik E dan F akan berimpit sehingga
gelombang merambat dengan kecepatan
didapatkan bentuk biasan dari dua arah
lapisan dibawahnya.
dengan titik bias yang sama.
Asumsi yang dikemukakan tersebut
Pemilihan XY optimum ini
digunaka untuk memberikan batasan
dilakukan dengan menggambar semua
pemahaman untuk pengolahan data dan
grafik analisis kecepatan, dan ditentukan
interpretasi selanjutnya
grafik yang tidak banyak berundulasi
2.2. Metode GRM
(regresi linearnya memiliki koefisien Metode ini dipakai dengan harapan
korelasi paling besar). nantinya dapat dipergunakan untuk
Setelah diperoleh besarnya XY memperlihatkan struktur pelapisan di
optimum dihitung kecepatan rerata (V avg) bawah permukaan di daerah penelitian.
yang dirumuskan sebagai berikut : Berbeda dengan pemrosesan data seismik
bias sederhana yang hanya mampu
menggambarkan lapisan datar (rata) baik
horizontal maupun miring. Metode
(2.2)
hagiwara mampu menggambarkan lapisan
dimana : yang tidak datar karena metode ini akan
mengetahui kedalaman lapisan di bawah
tiap geophone yang first break-nya

(2.3) merupakan gelombang bias. Untuk dapat


dilakukan pemrosesan dengan
Dengan V adalah kecepatan
menggunakan metode hagiwara,
semu dibawah titik G (diperoleh dari
dibutuhkan data seismik hasil pengukuran
slope lapisan pertama di bawah
yang berupa data first break dan metode
geophone). Vavg adalah kecepatan rerata,
pengukurannya dilakukan dengan
dan XY adalah jarak optimumnya.
penembakan arah maju dan arah balik
Berdasarkan hasil kecepatan rerata
Pada gambar V1 dan V2 masing-
persamaan dibawah dapat diperoleh
masing adalah kecepatan lapisan atas dan
kedalaman bidang pembias di bawah titik
kecepatan lapisan bawah, dan i adalah
G sebagai :
sudut kritis refraksi. Dengan hukum
Snellius adalah:
V1
(2.4) sin i
V2
2.3. Metode Hagiwara
Metode Hagiwara merupakan
metode waktu tunda yang berdasarkan
asumsi bahwa undulasi bawah permukaan
tidak terlalu besar, atau sudut kemiringan
mendekati nol atau (20o). Metode ini
dikembangkan untuk struktur dua lapis.
Gambar 2.2. Lintasan gelombang bias V1 ' A
hA
untuk struktur dua lapis cos i
V1 ' B
hB
A dan B adalah titik tembak, P cos i
adalah titik penerima (geophone). Untuk mencari kedalaman
Lintasan gelombang bias dari A ke P pembias dapat menggunakan persamaan
adalah A A" P" P dan lintasan sebagai berikut :

dari B ke P adalah B B" P" P . hP


V1
(TAP TBP TAB )
Dengan menggambar garis PR yang 2 cos i

tegak lurus dari P ke P, diperoleh


hubungan : Untuk mencari kedalaman
pembias dari gelombang
langsung
RP" RP" P' P"
(2.15)
digunakan persamaan sebagai berikut :
V1 V2 sin i V2
V1
Bila dinotasikan waktu hP (TAP T ' AP )
cos i
perambatan gelombang bias dari titik
V1
tembak A ke titik penerima P dengan TAP, hP (TBP T ' BP )
cos i
waktu perambatan dari B ke P dengan TBP,
dan waktu perambatan dari A ke B dengan
TAB, maka : 3. METODOLOGI PENELITIAN
Kegiatan pengambilan data seismik
AA" A" P" P" P hA cos i hP cos i A' P'
TAP refraksi dilakukan di timur sungai
V1 V2 V1 V1 V1 V2
Gajah wong ,desa Pugeran,(2.16)
Kabupaten
Sleman,Yogyakarta Pada hari Minggu

BB" B" P"' P"' P hB cos i hP cos i B' P' 16 April 2017 pukul 13.00 sampai
TBP
V1 V2 V1 V1 V1 V2 15.00.
4. DIAGRAM ALIR (2.17)

AA" A" B' B"' P hA cos i hB cos i A' B'


TAB
V1 V2 V1 V1 V1 V2
(2.18) (2.19 (2.29)
dapat dicari kedalaman pembias di
bawah source dengan persamaan :
Kemudian merangkai alat Pasi
dengan geophone dan setelah
Geophone terangkai tancapkan
Geophone ke tanah sesuai offset
yang telah ditentukan.
Melakukan pengukuran Forward
dari titik offset terdekat ke titik
offset terjauh.
Melakukan kontrol data
pengukuran forward.
Melakukan pengukuran Reverse
dari titik offset terjauh ke titik
offset terdekat.
Melakukan kontrol data
pengukuran Reverse.

Gambar 4.1. Diagram alir


pengambilan data
Terdapat berbagai tahapan-
tahapan dalam pengambilan data
dilapangan .Adapun tahapan-tahapanya
sebagai berikut :

Langkah pertama yang dilakukan


adalah menetukan lintasan
pengukuran dan membersihkan
segala ssuatu yang mengganggu
pengukuran.
Setelah lintasan sudah siap
kemudin siapkan seperangkat alat
Gambar 4.2.Diagram alir pengolahan
pasi. data
Membuat tempat source.
Berikut langkah-langkah pengolahan data kegiatan penelitian seismik
metode GRM dan Hagiwara. : refraksi dengan menggunakan
Menentukan titik kapan metode delay time.
gelombang seismik menjalar di
lapisan batuan pertama dan kapan 5. HASIL DAN PEMBAHASAN
gelombang seismik mulai
menjalar di lapisan batuan kedua
dengan menganalisa dari kurva T-
X.
Menghitung nilai kedalaman
lapisan baik dengan metode GRM
dan Hagiwara.
Membuat profil bawah permukaan Gambar 5.1. Kurva T-X
yang menggambarkan kedalaman
Gambar 5.1 adalah kurva TX
lapisan batuan dengan
dari pengukurn forward dan reverse.
undulasinya.
Kurva T-X yang tersusun dari komponen
Membuat Penampang kecepatan
waktu tiba gelombang dan offset dari
rambat gelombang seismik dengan
kegiatan survei seismik refraksi. Kurva T-
menggunakan software surfer.
X berfungsi untuk mengidentifikasi
Membuat peta kedalaman dengan
mulainya gelombang seismik bergerak di
menggunakan software Surfer.
lapisan batuan ke dua. Garis dengan warna
Membuat peta kecepatan dengan
biru mengambarkan pergerkan gelombang
menggunakan software surfer.
seismik yang menjalar di lapisan batuan
Membuat pemodelan 3 dimensi
pertama saat pengukuran forward
bawah permukaan.
sedangkan garis dengan warna merah
Melakukan analisa litologi menggambarkan kondisi saat gelombang
penyusun lapisan batuan seismik merambat di lapisan batuan ke
berdasarkan table kecepatan dua saat pengukuran forward. Kemudian
batuan. garis warna hijau menunjukkan kondisi
Melakukan pembahasan dan gelombang seismik mermbat pada lapisan
menarik kesimpulan mengenai hal batuan pertama saat pengukuran reverse
yang telah didapatkan dari dn garis warna ungu menggambarkan
kondisi gelombang seismik saat merambat dan zona Blind zone dibatasi oleh garis
di lapisan batuan ke dua saat pengukuran lengkung berwarna merah. batas bidang
reverse. perlapisan berundulasi dengan kedalaman
maksimal lapisan pertama terletak
dibawah offset 6 meter sedalam -4,66414
meter dibawah permukaan bumi.
Kemudian dibawah lapisan batuan
pertama terdeteksi adanya blind zone.
Blind zone sendiri adalah lapisan dengan
densitas lebih kecil dari lapisan batuan
yang diatasnya, Blind zone apabila tidak
Gambar 5.2. Profil bawah permukaan terdeteksi akan mengakibatkan kesalahan
metode GRM.
dalam perkiran kedalaman lapian lapuk
Gambar 5.2 adalah gambar dari sehingga pendeteksian keberadaan blind
profil bawah permukaan hasil pengolahan zone ini penting dalam kegiatan
dengan menggunakan metode GRM . perencanaan peletakan dinamit pada
dimana komponen x adalah offset survei seismik refleksi. Kedalaman
pengukuran dan komponen y merupakan maksimal lapisan blind zone dari hasil
komponen kedalaman hasil pengolahan pengolahan data sedalam -9,373320722
data . Profil bawah permukaan yang meter dibawah permukaan bumi dan
dihasilkan dengan menggunakan metode ketebalan maksimal blind zone terletak
GRM memiliki kelemahan yaitu tidak bisa dibawah offset 10 meter dengan ketebalan
menggambarkan kedalaman lapisan sebesar 4,709182024 meter.
batuan dibawah sumber gelombang dan
dibawah geophone sebelum gelombang
seismik dibiaskan sehingga menghasilkan
profil bawah permukaan dengan bentuk
perahu namun profil hasil metode
hagiwara memiliki kelebihan yaitu bisa
menggambarkan adanya blind zone. Dari
pengolahan metode GRM didapatkan pada Gambar 5.3. Profil bawah permukaan
gambar 5.2. lapisan batuan pertama metode Hagiwara.
dibatasi oleh garis lengkung berwarna biru
Gambar 5.3 adalah profil bawah lain apabila hasil profil kedalaman metode
permukaan hasil pengolahan dari metode lain hanya dapat mendeteksi sedikit profil
hagiwara . Profil kedalaman hasil dari bawah permukaan. Kemudian dengan
pengolahan metode hagiwara memiliki menggnakan metode hagiwara juga
kelebihan dimana dapat mendeteksi bermanfaat dalam efisiensi waktu survei
kedalaman lapisan batuan dibawah source, karena hasil kedalaman yang dihasilkan
kedalaman lapisan batuan dibawah telah maksimal.
geophone setelah gelombang seismik
terbiaskan dan kedalaman lapisan dibawah
geophone sebelum gelombang seismik
dibiaskan.

Profil bawah permukaan hasil


pengolahan metode hagiwara
menghasilkan profil batas bidang
perlapisan berundulasi dengan kedalaman
Gambar 5.4. Penampang kecepatan
yang berubah-ubah dari offset pertama ke metode GRM
offset lainya dimana lokasi kedalaman Gambar 5.4 adalah gambar dari
lapisan batuan terdalam terdapat dibawah penampang kecepatan gelombang seismik
offset 20 atau dibawah sumber gelombang yang merambat di lapisan batuan pertama
seismic saat pengukuran reverse, nilai dan kecepatan rambat gelombang seismik
kedalaman lapisan batuan dibawah offset yang merambat di batuan ke dua.
20 sedalam -6,76133 meter dibawah Penampang dibuat dengan menggunakan
permukaan. Dan lokasi dengan kedalaman Software Surfer 13 ,metode interpolasi
terdangkal terletak dibawah offset Tringulasi sehingga didapatkan data asli
pengukuran ke 1 atau dibawah sumber tanpa adanya eksterpolasi. Berdasarkan
gelombang seismik pengukuran forward hasil pengolahan data cepat rambat
dengan kedalaman lapisan batuan sedalam gelombang seismik dilapisan batuan
-1,59924 meter dibawah permukaan. pertama sebesar 78,45419755 m/s namun

Profil kedalaman hasil pengolahan karena asumsi bahwa semakin dalam

metode hagiwara dapat mendeteksi semua kodisi tubuh batuan maka semakin padat

zona dibawah geophone. Hal ini dapat pula material, sehingga menyebabkan

menutupi kekurangan dari hasil metode semakin dalam kondisi suatu tubuh batuan
maka akan semakin cepat pula gelombang
seismik dapat merambat. Dalam
penampang kecepatan ,zona dengan
kecepatan rambat gelombang seismik
terendah terdapat di zona paling atas dekat
permukaan bumi dengan kecepatan
gelombang seismik sebesar 20 m/s sampai
40 m/s dan zona dengan nilai kecepatan
rambat gelombang seismik tertinggi
Gambar 5.5. Penampang kecepatan
terletak dibagian bawah penampang yang metode Hagiwara
ditandai dengan kenampakan warna hijau
Gambar 5.4 adalah gambar dari
dengan cepat rambat gelombang seismik
penampang kecepatan gelombang seismik
sebesar 50 m/s sampai 80 m/s. Kedua zona
yang merambat di lapisan batuan pertama
tersebut sebenarnya terdiri dari komposisi
dan kecepatan rambat gelombang seismik
litologi yang sama yaitu jenis material
yang merambat di batuan ke dua.
lepas.
Penampang dibuat dengan menggunakan
Kemudian zona lapisan batuan
Software Surfer 13 ,metode interpolasi
kedua terletak dibagian paling bawah peta
Tringulasi sehingga didapatkan data asli
yang ditandai dengan kenampakan warna
tanpa adanya eksterpolasi. Dari hasil
merah dan cepat rambat gelombng seismik
pengolahan dengan menggunakan metode
di lapisan batuan kedua mulai dari 90 m/s
Hagiwara sebenarnya hanya didapatkan
hingga 160 m/s. Zona dengan range
satu buah nilai cepat rambat gelombang
kecepatan rambat gelombang seismic
seismik di lapisan batuan pertama dan
kmulai dari 90 m/s hingga 160 m/s
kedua namun karena adanya asumsi
tergolong dalam jenis material lepas.
bahwa semakin dalam zona tubuh batuan
maka semakin kompak batuan dan
semakin cepat pula perambatan
gelombang seismik, maka pada
penampang kecepatan terjadi proses
interpolasi yang menggambarkan
kecepatan rambat gelombang sesuai
dengan kondisi kedalaman .
pada penampang kecepatan, cepat adalah peta kecepatan rambat
rambat gelombang seimik di lapisan gelombang seismik dilapisan pertama
batuan pertama berkisar dari kecepatan 20 hasil pengolahan dengan metode GRM
m/s hingga 160 m/s yang ditandai dengan
dan hagiwara. zona lambat kecepatan
kenampakan warna ungu hingga hijau.
perambat gelombang seismik terletak
Karena cepat rambat gelombang seismik
dibagian utara peta yang ditandai
di lapisan batuan pertama berkisar antara
dengan kenampakan warna biru
20 m/s sampai 160 m/s ,maka lapisan
dimana nilai kecepatan perambatan
batuan pertama tersusun dari material
lepas. hasil pengolahan metode GRM berada
Kemudian Lapisan batuan kedua pada pada skala 60 m/s sampai 160 m/s
penampang kecepatan metode Hagiwara sedangkan pada hasil pengolahan
ditunjukkan dengan kenampakan warna metode Hagiwara nilai cepat rambat
kuning hingga merah yang terletak di zona gelombang berkisar antara 60 m/s
bagian bawah penampang. Cepat rambat sampai dengan 180 m/s.
gelombang seismik yang mrambat di
Kemudian zona dengan cepat
lapisan batuan kedua berkisar pada nilai
rambat gelombang seismik sedang
180 m/s hingga 380 m/s. Karena cepat
pada hasil pengolahan metode GRM
rambat gelomabang seismik berkisar
terletak relatif dibagian barat dan timur
antara 180 m/s sampai 380 m/s menurut
dari peta namun pada hasil pengolahan
Burger (1992) Lapisan batuan kedua
tersusun dari litologi soil. dengan metode Hagiwara zona cepat
rambat sedang gelombang seismik
terletak dibagian barat ,timur dan
selatan dari peta. Zona kecepatan
sedang ditandai dengan kenampakan
warna hijau. hasil dengan pengolahan
metode GRM meunjukkan cepat
rambat gelombang seismik berkisar
antara 180 m/s sampai 280 m/s dan

Gambar 5.6. Peta v1 Merode GRM dan dari hasil pengolahan dengan metode
Hagiwara Hagiwara zona kecepatan sedang
memiliki kecepatan dengan skala Gambar 5.7. peta kecepatan V2 metode
mulai dari 200 m/s sampai 320 m/s. GRM dan Hagiwara

dan zona kecepatan tinggi pada dari kedua peta hasil


peta GRM terletak dibagian tengah pengolahan dengan metode GRM dan
peta diantra zona kecepatan rendah Hagiwara ditampilkan 3 zona
,dan juga terletak dibagian selatan dari persebaran kecepatan v2. Zona
peta .Namun pada peta Hagiwara zona kecepatan rendah pada peta hasil
kecepatan tinggi terletak hanya pengolahan dengan menggunakan
dibagian tengah dari peta. Zona metode GRM dan Hagiwra terletak
kecepatan tinggi pada peta ditandai berselang seling dengan zona
dengan warna merah . hasil kecepatan tinggi. namun zona
pengolahan dengan metode GRM kecepatan rendah hasil pengolahan
menunjukkan cepat rambat gelombang dengan metode Hagiwara lebih
pada skala mulai dari 300 m/s sampai menyebar kearah utara. Zona
420 m/s. Pada peta kecepatan v1 kecepatan rendah hasil pengolahan
menjadi 3 zona ,namun sebenarnya metode GRM berada pada skala
zona tersebut tersusun dari jenis kecepatan mulai dari 180 m/s -340 m/s
litologi yang sama ,dimana menurut dan hasil pengolahan metode
burger (1992) zona /benda yang Hagiwara menunjukkan nilai v2 mulai
dilewati gelombang seismik dari 250 dari 140 m/s sampai dengan 340 m/s.
m/s sampai 600 m/s tergolong dalam zona kecepatan sedang pada
jenis litologi soil kedua peta terletak dibagian barat dan
timur peta ,namun peta hasil
pengolahn GRM zona kecepatan
sedang masih menerus kearah utara
dari peta. hasil pengolahan dengan
metode GRM maupum metode
Hagiwara sama-sama menunjukkan
skala pembacaan mulai dari 340 m/s
sampai dengan 500 m/s.
Dan zona kecepatan tertinggi di
kedua peta sama sama ditunjukkan
berselag seling dengan zona kecepatan
rendah dan menerus dibagian selatan
peta. Zona kecepatan tinggi dari kedua
peta sama-sama menunjukkan skala
kecepatan perambatan gelombang
mulai dari 540 m/s sampai 700 m/s.
kecepatan perambatan gelombang
seismik dilapisan batuan kedua terbagi
menjadi 3 zona ,namun sebenarnya
ketiga zona tersebut tersusun dari jenis
litologi yang sama yaitu menurut
Burger (1992) Benda yang dilewati
gelombang seismic mulai dari 200 m/s
sampai dengan 900 m/s ,merupakan
zona dengan jenis litologi Weathered
Layer.

6. KESIMPULAN