Anda di halaman 1dari 9

e-Journal Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha

Program Studi Pendidikan Dasar (Volume 4 Tahun 2014)

PENINGKATAN MINAT BELAJAR DAN KEMAMPUAN DASAR


KOGNITIF MELALUI PENGGUNAAN MEDIA PUZZLE PADA
ANAK KELOMPOK B TK DHARMA KUMARA PEDUNGAN
DENPASAR TAHUN AJARAN 2012/2013

Ni Putu Sriastuti, I Wayan Lasmawan, Anak Agung Istri Ngurah Marhaeni


Program Studi Pendidikan Dasar Program Pascasarjana
Universitas Pendidikan Ganesha
e-mail: (putu.sriastuti@pasca.undiksha.ac.id)

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis dan mendeskripsikan peningkatan


minat belajar dan kemampuan kognitif, setelah mengikuti kegiatan pembelajaran menggunakan
media puzzle. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan
dalam 2 siklus. Subjek penelitian anak -anak kelompok B TK Dharma Kumara Pedungan
yang berjumlah 20 orang. Metode penelitian menggunakan metode observasi, data
dianalisis secara deskripsi. Pada observasi awal pra PTK hasil ketuntasan minat belajar anak
100% anak tidak ada yang tuntas, akhir siklus I meningkat mencapai ketuntasan 5%, dan akhir
siklus II meningkat mencapai 100% tuntas. Begitu juga dengan kemampuan kognitif anak awal
tindakan tidak ada anak mencapai ketuntasan minimal dengan nilai 65, akhir siklus I mencapai
15% tuntas, dan akhir siklus II meningkat mencapai 100% anak tuntas didalam mengikuti kegiatan
pembelajaran melalui penggunaan media puzzle.

ABSTRACT

This research aims to analyze and describe the improvement in childrens learning
interest and cognitive ability after following learning activity using puzzle. This was an action-
based research done in 2 cycles. The subject was 20 children of group B TK Dharma Kumara
Pedungan. Research method used was observation. Data were analyzed
descriptively.On preliminary observations pre ptk exhaustiveness interests of children's
learning outcomes nothing is finished, the end of the first cycle increased achieve mastery 5%,
and the end of the second cycle increased to 100% complete.that way also with beginning of
childhood cognitive ability measures, no children achieve mastery with a minimum value of 65,
the end of the first cycle reaches 15% completion, and the end of the second cycle increased to
100% of children complete in following the learning activity using puzzle.
e-Journal Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha
Program Studi Pendidikan Dasar (Volume 4 Tahun 2014)

PENDAHULUAN

Pendidikan Anak Usia Dini juga pelajarinya dengan dirinya sendiri


merupakan suatu upaya pembinaan yang sebagai individu. Proses ini berarti me-
ditujukan kepada anak dari baru lahir nunjukkan pada anak bagai mana
sampai dengan enam tahun, yang dilaku- pengetahuan atau kecakapan tertentu
kan melalui pemberian rangsangan pen- mempengaruhi dirinya, dan memuas-
didikan untuk membantu pertumbuhan dan kan kebutuhan-kebutuhannya. Bila
perkembangan jasmani dan rohani agar anak menyadari bahwa belajar me-
anak memiliki kesiapan dalam me-masuki rupakan suatu alat untuk mencapai
pendidikan lebih lanjut. Dalam perkem hasil/beberapa tujuan yang dianggap
bangannya, masyarakat telah menunjuk- nya penting, dan bila anak melihat
kan kepedulian terhadap masalah pen- bahwa hasil dari pengalaman belajar
didikan, pengasuhan, dan perlindungan nya akan membawa kemajuan pada
anak usia dini untuk usia 0 sampai dengan dirinya, kemungkinan besar ia akan
6 tahun dengan berbagai jenis layanan berminat untuk terbawa kebiasaan
sesuai dengan kondisi dan kemampuan yang positif untuk mempelajari (Rita
yang ada, baik dalam jalur pendidikan Eka. 2007).
formal maupun nonformal. Penyelenggara Menurut Swandewi (dalam
an PAUD jalur pendidikan formal ber- Yulaewati, 2010:3) Minat merupakan
bentuk Taman Kanak-Kanak/Raudhatul perhatian seseorang terhadap sesuatu hal
Atfal dan bentuk lain yang sederajat, yang yang merupakan aktivitas tertentu Minat
menggunakan program untuk anak usia 4 belajar adalah kecendrungan dan fokus
6 tahun (Permendiknas, 58 Tahun seseorang terhadap aktivitas belajar. Minat
2009). adalah kesadaran yang timbul bahwa
Dengan demikian, pada hakikatnya objek tertentu sangat disenangi dan me-
Pendidikan Anak Usia Dini berada pada lahirkan perhatian yang tinggi bagi individu
masa proses perubahan berupa par- terhadap objek tersebut (Depdiknas, 2006:
tumbuhan, perkembangan, pematangan 29). Di samping itu, minat juga merupakan
dan penyempurnaan, baik pada aspek kemampuan untuk memberikan stimulus
pisik maupun psikis atau jasmani maupun yang mendorong seseorang untuk mem-
rohaninya yang berlangsung secara ber- perhatikan aktivitas yang dilakukan ber-
tahap dan berkelanjutan. (Permendiknas, dasarkan pengalaman yang sebenarnya
58 Tahun 2009). (Depdiknas, 2006: 29).
Peningkatankemampuan kognitif Berdasarkan kedua pengertian ter-
anak diakibatan adanya minat anak sebut, minat merupakan kemampuan se-
untuk mengikuti kegitan pembelajaran seorang anak untuk memberikan perhatian
untuk belajar. Bila anak berminat ter- terhadap kegiatan pembelajaran yang
hadap jenis kegiatan pembelajaran ter- dilakukan dengan rasa senang dan penuh
tentu, anak akan terdorong untuk kesadaran dari dalam dirinya sendiri, se-
mengikutinya atau berkecimpung di hingga kegiatan pembelajaran yang dila-
dalamnya. Minat yang kuat terhadap kukan dapat dicapai dengan optimal.
bidang akademik akan mendorong Keberhasilan kegiatan pembelajar-
anak untuk berprestasi maksimal. Me- an di dalam kelas sangat ditentukan oleh
ngembangkan minat terhadap sesuatu strategi, metode dan media pembelajaran,
pada dasarnya adalah membantu anak bagaimanapun lengkap dan jelasnya kom-
melihat bagaimana hubungan antara ponen lain, tanpa diterapkan dengan stra-
materi yang diharapkan untuk di- tegi yang tepat, dan media yang men-
e-Journal Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha
Program Studi Pendidikan Dasar (Volume 4 Tahun 2014)

dukung maka komponen-komponen ter- dalam menggunakan media pem-belajaran


sebut tidak akan memiliki makna dalam sehingga kegiatan pembelajaran tidak
proses pencapaian tujuan. Karena media menarik dan anak kurang berminat se-
pembelajaran merupakan alat bantu yang hingga berdampak pada kurangnya
identik dengan peralatan/sarana untuk kemampuan kognitif anak.
menyajikan pesan, namun yang terpenting Tujuan penelitian ini adalah untuk
bukanlah peralatannya, tetapi pesan men getahui peningkatan minat belajar dan
belajar yang dibawa oleh media tersebut kemampuan kognitif anak setelah diberi
atau guru yang memanfaatkannya. Media kan tindakan melalui penggunaan media
pembelajaran merupakan salah satu kom- puzzle.
ponen yang tidak berdiri sendiri, tetapi
saling berhubungan dengan komponen
lainnya dalam rangka menciptakan situasi METODE PENELITIAN
belajar yang diharapkan. Tanpa media Penelitian ini merupakan penelitian
maka proses pembelajaran tidak akan tindakan kelasPenelitian ini merupakan
berjalan dengan efektif, karena kurangnya penelitian tindakan kelas yang dilak-
aktivitas anak didalam mengikuti kegiatan sanakan dalam 2 siklus. subjek peneliti-
pembelajaran, sehingga sering mem- an anak-anak kelompok B TK Dharma
bosankan, sehingga anak tidak berminat Kumara Pedungan yang berjumlah 20
untuk mengikuti kegiatan pembelajaran. orang. Metode penelitian menggunakan
Penggunaan media puzzle adalah metode observasi. Prosedurnya yaitu
cara melatih ketrampilan berpikir anak memakai model Kemmis yang terdiri dari
untuk mengembangkan pengetahuan dan empat langkah, yaitu: perencanaan, pelak
keterampilan tangannya didalam membong sanaan, observasi dan refleksi seperti
kar dan memasang kembali kepingan- gambar ini.
kepingan puzzle. Penggunaan media
puzzle dengan gambar yang berwarna
merupakan sebuah kegiatan pembelajaran
Penetapan Pokok Permasalahan
yang menarik bagi anak, karena anak pada
dasarnya menyukai bentuk gambar dan Perencanaan Tindakan
warna yang menarik. Dengan media
puzzle anak akan mencoba memecahkan
masalah yaitu membongkar, menyusun Pelaksanaan Tindakan
kembali kepingan-kepingan gambar puzzle
tersebut menjadi bentuk utuh. Penggunaan
media puzzle selain menyenangkan juga Refleksi Observasi
menarik minat anak untuk belajar mening
katkan kemampuan kognitifnya Gambar. Kegiatan Utama Penggunaan Media
( Depdiknas, 2010). Puzzle
Berdasarkan study pendahuluan di
TK Dharma Kumara Pedungan Denpasar
Tahun pelajaran 2012/2013 didapatkan Penetapan pokok permasalahan
hasil observasi dari 20 orang anak yang yaitu rendahnya minat belajar dan ke-
memiliki minat belajar dengan baik 2 orang mampuan kognitif anak, yang ingin
(10%) 6 orang cukup (30%) dan 12 orang ditingkatkan dengan memberikan tindakan
(60%) kurang. Sedangkan kemampuan melalui kegiatan pembelajaran meng-
kognitif anak yang memiliki kemampuan gunakan media puzzle. Perencanaan
kognitif baik 3 orang (15%), cuku 8 orang adalah persiapan menjelang pelaksanaan
(40%) dan 9 orang (45%) kurang. Ini tindakan dalam setiap siklus, diantaranya
disebabkan kurangnya inovasi guru di- yaitu: persiapan media puzzle bentuk
e-Journal Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha
Program Studi Pendidikan Dasar (Volume 4 Tahun 2014)

gambar binatang, bentuk-bentuk geometri, 1) Mengadakanevaluasi/tanya jawab


dan puzzle angka. Pembuatan Instrumen terhadap kegiatan melalui penggu
penilaian disesuaikan dengan data yang naan media puzzle yang telah
ingin diperoleh. berlangsung.
Pelaksanaan tindakan yang dilaksa 2) Mengadakan refleksi.
nakan sesuai kegiatan pembelajaran di TK 3) Memberi pujian kepada anak yang
adalah: mampu menjawa dan menyusun
(a) Kegiatan awal: puzzle dengan tuntas tanpa bantu
1) Berdoa dan memberi salam. an.
2) Berbagi pengalaman baik dari guru 4) Memberi motivasi kepada anak
maupun dari anak. yang belum tuntas didalam
3) Mengajak anak-anak melakukan menyusun puzzle.
aktivitas fisik secara terkoordinasi 5) Menyimpulkan kegiatan pem-
dalam rangka kelenturan dan belajaran yang telah dilakukan.
4) keseimbangan dan kelincaan
seperti senam, berbaris dihalaman Observasi merupakan kegiatan
sambil bernyanyi bersama, melom- pengambilan data untuk memotret sebe-
pat-lompat dsbnya. rapa jauh efekifitas tindakan yang diberikan
5) Menginformasikan kompetensi melalui kegiatan pembelajaran mengguna-
yang akan ingin dicapai dalam kan media puzzle telah mencapai sasaran.
kegiatan pembelajaran. Dalam penelitian tindakan yamg dilaksana-
6) Menginformasikan rencana kegiat- kan ini, observasi berlangsung dalam dua
an pembelajaran yang akan dil- siklus meng gunakan lembar observasi.
aksanakan. Refleksi merupakan kegiatan meng-
(b) Kegiatan Inti ungkapan terhadap kenyataan yang ada
1) Guru menginformasikan, kegi atan berdasarkan observasi, sebagai dasar
pembelajaran dengan untuk melakukan tindakan berikutnya,
menggunakan media puzzle yang dilakukan sesuai dengan banyaknya siklus,
akan diterapkan. Hasilnya menjadi pendukung bagi temuan-
2) Memberikan tindakan dengan temuan alternatif peningkatan minat belajar
menggunakan media puzzle. dan kemampuan kognitif anak, yang hasil
3) Meminta anak untuk mem-perhati- reflek sinya ini merupakan data kualitatif
kan bentuk dan warna puzzle, lalu yang menjangkau perasaan dari prilaku
membongkar dan menyusun tindakan.
kembali kepingan puzzle menjadi Data yang diperlukan adalah data
bentuk yang utuh tanpa bimbingan. tentang minat belajar dan kemampuan
4) Memberikan anak kesempatan kognitif anak. Dengan demikian instrument
untuk bertanya mengenai kegiatan yang dikembangkan adalah instrument
menggunakan media puzzle bagi untuk mengukur minat belajar dan
anak yang belum mengerti. kemampuan kognitif anak.
(c) Kegiatan Akhir
e-Journal Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha
Program Studi Pendidikan Dasar (Volume 4 Tahun 2014)

Tabel. Instrumen Minat Belajar


JENIS
NO ASPEK INDIKATOR
INSTRUMEN
1. Ketertarikan 1.1 Adanya kemauan untuk menyusun puzzle Observasi
1.2 Menunjukan kegairahan dalam mengikuti
kegiatan pembelajaran dengan media Observasi
puzzle.
2. Perhatian 2.1. Menunjukan konsentrasi dalam menyusun
Observasi
T dalam puzzle
a pembelajaran 2.2 Menunjukan ketelitian dalam menyusun Observasi
puzzle
b 2.3 Memiliki rasa ingin tahu yang besar
Observasi
e tentang puzzle
3.l Aktivitas 3.1 Menunjukan keaktipan dalam mengikuti
Observasi
. kegiatan pembelajaran menyusun puzzle.
3.2 Menunjukan aktivitas dalam menyusun
Unjuk Kerja
puzzle
3.3 Berusaha menyelesaikan tugas dalam
Unjuk Kerja
menyusun puzzle.
3.4 Kesungguhan dalam menyelesaikan tugas
Unjuk Kerja
menyusun puzzle.
Jumlah 9

Instrumen Kemampuan Dasar Kognitif

NO ASPEK PERNYATAAN JENIS


INSTRUMEN
1 Pemahaman 1.1 Mengenal bentuk, warna, ukuran pada Penugasan
Tentang kepingan puzzle dan jenis
gambar 1.2 Mengenal konsep bilangan 1-10 Penugasan
puzzle
2 Ketepatan 2.1 Menyebutkan bentuk, warna dan ukuran. Penugasan
Didalam 2.2 Menyebut bilangan 1-10 Penugasan
menyusun
puzzle 2.3 Mengelompokan bentuk, warna dan ukuran Penugasan
pada kepingan puzzle.
3 Ketuntasan 3.1 Mengurutkan bentuk, warna, ukuran Penugasan
didalam dalam kepingan puzzle.
menyusun 3.2 Menyusun bentuk kepingan puzzle dari Penugasan
puzzle besar-kekecil
3.3 Membongkar dan memasang kembali Penugasan
kepingan puzzle menjadi bentuk utuh (6-10
keping)
Jumlah 8
e-Journal Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha
Program Studi Pendidikan Dasar (Volume 4 Tahun 2014)

Bila dinyatakan dalam skor 100 dan minimal standarnya 0. Cara mengubah
maka skor maksimal standar yang diper- skor mentah ke skor standar adalah :
oleh anak dari hasil tindakan adalah 100

Skor diperoleh
Skor standar = X 100 Sudjana, 2004
Skor maksimal ideal

Metode yang dipergunakan adalah HASIL PENELITIAN


metode observasi dan metode pemberian Dari hasil analisi diperoleh minat
tugas untuk pengumpulkan data untuk belajar anak pada awal tindakan yaitu pra
mencatat, merekam, memotret fenomena PTK, tidak ada anak dengan katagori
tersebut terhadap seluruh anak yang nanti- sangat baik, 2 orang anak (10%) dengan
nya dapat menimbulkan suatu nilai dan katagori baik, 6 orang (30%) cukup, dan
dapat diban dingkan dengan nilai lain 12 orang (60%) kurang. Akhir siklus I
maupun suatu standar (Depdiknas, 2006). mengalami peningkatan 6 orang (30%)
Pengelolaan data dilakukan dengan dengan kalsifikasi baik, 14 orang (70%)
teknik deskripsi analisis. Oleh karena itu cukup. Sedangkan pada akhir siklus II
rata-rata skor idial dari semua subjek mengalami peningkatan yaitu 13 orang
penelitian dibandingkan dengan rata-rata anak (65%) dengan katagori sangat baik,
kenyataan, dan dikelompokan kecendrung 7 orang (35%) baik, dan tidak ada anak
annya menjadi lima katagori lima katagori dengan katagori cukup, kurang dan
dengan norma kerangka teoretik kurva sangat kurang. Hasil analisis nilai rata-
normal idial sebagai berikut : rata minat belajar anak dari sebelum
tindakan yaitu 36.29 dengan katagori
kurang, akhir siklus I yaitu 52.26 cukup,
1. Mi + 1,5 SDi Sangat Baik dan akhir siklus II yaitu 78.02 dengan
2. Mi + 0,5 SDi --< Mi + 1,5 SDi Baik katagori sangat baik.Selanjutnya hasil
3. Mi 0,5 SDi --< Mi + 0,5 SDi Cukup analisis ketuntasanpra PTK tidak ada
4. Mi 1,5 SDi --< Mi 0,5 SDi Kurang anak mencapai tuntas, akhir siklus I 1
5. < Mi 1,5 SDi Sangat Kurang orang (5%) anak yang tuntas, meningkat
Keterangan: secara drastis diakhir siklus II mencapai
Mi = (skor maksimum + skor maksimum) 100% anak tuntas.
SDi = 1/6 (skor maksimum skorminimum). Begitu juga hasil pengamatan
(Dantes, 1983: 25) kemampuan kognitif anak pada refleksi
awal dari 20 orang jumlah anak, 3 orang
Untuk menentukan keberhasilan anak (15%) dengan katagori baik, cukup
tindakan yang dilakukan dapat dilihat dari 8 orang (40%) dan kurang 9 orang (45%).
perubahan skor rata-rata untuk masing- Akhir siklus I mengalami peningkatan
masing siklus. menjadi 5 orang (25%) dengan katagori
Apabila terjadi perubahan makin baik, cukup 15 orang (75%) dan tidak ada
tinggi skor rata-rata siklus ke I kesiklus anak dengan katagori kurang dan sangat
berikutnya, berarti tindakan yang dilaku- kurang. Sedangkan akhir siklus II
kan efektif dalam meningkatkan minat meningkat menjadi, 16 orang anak (80%)
belajar dan kemampuan dasar kognitif dengan katagori sangat baik, 4 orang
anak kelompok B TK Dharma Kumara (20%) anak dengan katagori baik, tidak
Pedungan Denpasar Tahun Ajaran ada anak dengan katagori cukup, kurang,
2012/2013. dan sangat kurang.
e-Journal Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha
Program Studi Pendidikan Dasar (Volume 4 Tahun 2014)

Hasil analisis nilai rata-rata kemam dengan memanfaatkan media puzzle


puan kognitif anak dari sebelum dilak didalam kegiatan pembelajaran anak
sanakan tindakan atau pra PTK yaitu akan mendapatkan masukan pengetahu-
40.55 dengan katagori kurang, mening an untuk diingat, membantu memahami
kat diakhir siklus I menjadi 50.83 dengan konsep-konsep secara alamiah tanpa
katagori cukup, dan akhir siklus II 81.24 dipaksakan. Mengkonkretkan konsep-
dengan katagori sangat baik. Begitu juga konsep yang abstrak. Memungkinkan
hasil analisis ketuntasan sebelum adanya keseragaman pengamatan atau
diadakan tindakan pra PTK tidak ada persepsi belajar pada masing-masing
anak yang mencapai tuntas, akhir siklus I anak sehingga mampu membangkitkan
mencapai ketuntasan 15% (3 orang anak) minat belajar anak. Menyajikan pesan
mencapai tuntas, meningkat diakhir siklus atau informasi belajar secara serempak
II menjadi 100% anak tuntas mendapat- bagi seluruh anak mampu mengatasi
kan nilai minimal 65 sesuai indikator keterbatasan waktu dan ruang
keberhasilan yang diharapkan. Ini me- (Montolalu, 2007).
nandakan bahwa pemberian tindakan Keberhasilan penelitian ini juga
melalui penggunaan media puzzle telah didukung oleh penelitian dari Slamet
berhasil meningkatkan kemampuan (2007:29) Minat adalah perhatian
kognitif anak, semua anak tuntas didalam seseorang terhadap sesuatu hal yang
mengikuti kegiatan pembelajaran melalui merupakan aktivitas tertentu yang
penggunaan media puzzle. timbul dan sangat menyenangi. Di
Dari hasil tersebut kemudian di samping itu, minat juga merupakan
deskripsikan secara kualitatif. Hasil pene- kemampuan untuk memberikan sti-
litian ini menemukan bahwa terjadi mulus yang mendorong seseorang
peningkatan minat belajar dan kemampu- untuk memperhatikan aktivitas yang
an kognitif anak setelah diimplementasi- dilakukan berdasarkan pengalaman
kan kegiatan pembelajaran melalui peng- yang sebenarnya.
gunaan media puzzle. Kegiatan pem- Jadi Kemampuan dasar kognitif
belajaran melalui penggunaan media merupakan kemampuan anak didalam
puzzle, yang mampu mengaktifkan anak berpikir, mengolah perolehan belajarnya,
untuk selalu aktif di dalam pembelajaran dapat menemukan bermacam-macam
dan mampu meningkatkan semua aspek- alternatif pemecahan masalah, mem-
aspek perkembangan anak, terutama bantu anak untuk mengembangkan
aspek pemahaman gambar, anak mampu kemampuan logika matematikanya dan
memahami bentuk, warna, jenis gambar pengetahuan akan ruang dan waktu,
puzzle. Oleh karena itu, penggunaan serta mempunyai kemampuan untuk
media puzzle ini sangat cocok digunakan memilah-milah, mengelompokkan serta
dalam kegiatan pembelajaran di Taman mempersiapkan pengembangan kemam-
Kanak-kanak. puan berpikir teliti (Permendiknas nomor
58, 2009).
PEMBAHASAN
Hasil penelitian menunjukkan PENUTUP
bahwa melalui penggunaan media puzzle Jadi yang dapat diambil dari
dapat meningkatkan minat belajar dan penelitian ini yaitu melalui penggunaan
kemampuan kognitif anak kelompok B TK media puzzle selain meningkatkan minat
Dharma Kumara Pedungan Denpasar belajar dan kemampuan kognitif anak juga
Tahun Ajaran 2012/2013. Hal ini disebab- dapat meningkatkan: 1) Ketrampilan
kan melalui penggunaan media puzzle kognitif anak yang berkaitan dengan
sebagai media pembelajaran tidak dapat minat belajar, agar memiliki kemampuan
dipisahkan dari kebutuhan anak, karena untuk belajar memecahkan masalah. 2)
e-Journal Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha
Program Studi Pendidikan Dasar (Volume 4 Tahun 2014)

Dengan bermain puzzle anak akan men- pengetahuan akan ruang dan waktu,
coba memecahkan masalah yaitu me- serta mempunyai kemampuan untuk
nyusun gambar. 3) Dapat meningkat kan memilah-milah, mengelompokkan serta
keterampilan motorik halus. 4) Dapat mempersiapkan pengembangan kemam-
mengasah kemampuan berpikir anak puan berpikir teliti (Permendiknas nomor
dalam menyimpulkan letak gambar 58, 2009).
sesuai logika. 5) Dapat melatih koordinasi Berdasarkan uraian diatas dapat
mata dan tangan. 6) Melatih nalar, dapat disimpulkan bahwa kegiatan
kesabaran, dan pengetahuannya. pembelajaran melalui penggunaan media
Minat merupakan kemampuan puzzle dapat meningkatkan minat belajar
seseorang untuk memberikan perhati- dan kemampuan kognitif anak, karena
an terhadap suatu hal yang disertai saat mengikuti pembelajaran melalui
dengan rasa senang dan dilakukan penggunaan media puzzle, anak akan
penuh kesadaran. Anak yang mencoba memecahkan masalah yaitu
menaruh minat pada suatu mata menyusun gambar, pada tahap awal
pelajaran, perhatiannya akan tinggi mengenal bentuk gambar puzzle, mereka
dan minatnya berfungsi sebagai mungkin mencoba untuk menyusun
pendorong kuat untuk terlibat secara gambar puzzle dengan cara mencoba
aktif dalam kegiatan belajar mengajar memasang-masangkan bagian-bagian
pada pelajaran tersebut. Jadi kon- puzzle tanpa petunjuk. Dengan sedikit
sepsi minat belajar adalah pilihan arahan dan contoh, maka anak sudah
kesenangan dalam melakukan kegiat- dapat meningkatkan minat belajar dan
an dan dapat membangkitkan gairah kemampuan kognitifnya dengan cara
seseorang untuk memenuhi kesedia- mencoba menyesuai kan bentuk,
annya yang dapat diukur melalui menyesuaikan warna, atau logika. seperti
suka-cita, ketertarikan, perhatian dan contoh usaha anak yaitu; menyesuaikan
keterlibatan (Woolfolk dalam bentuk misalnya bentuk cembung harus
Anastasi, 2009). dipasangkan dengan bentuk cekung.
Menurut Faizah (2008) guru TK
yang kreatif, dapat meningkatkan
kemampuan dasar kognitif anak melalui DAFTAR PUSTAKA
kegiatan pembelajaran seperti kemampu- Dantes Nyoman,1983. Pariabel Penelitian
an didalam belajar memecahkan dan Perumusan Hipotesis. FKIP,
masalah, berfikir bagaimana cara mem- Unud Singaraja.
peroleh, menggunakan dan memaknai Depdiknas, 2006. Pembelajaran Aktif,
informasi, mencari sumber-sumber dan Kreatif, Efektif dan Menyenang
materi ajar. Belajar berfikir logis. Belajar kan (PAKEM) di TK dan SD.
berpikir simbolik, menggunakan objek Depdiknas: Jakarta
adalah sebuah cara yang unik untuk Depdiknas, 2006. Petunjuk Tehnik
mengajak anak berpikir simbolik. Merupa- Penyelenggaraan Pendidikan
kan cara untuk menghadirkan dunia Anak Usia dini (PAUD )
nyata yang abstrak bagi kehidupan anak -------------, 2006. Petunjuk Teknis
(Faizah, 2008 : 130 ). Penyelenggaraan Pendidikan
Jadi Kemampuan dasar kognitif Anak Usia Dini (PAUD) . Jakarta
merupakan kemampuan anak didalam : Badan Litbang Depdiknas.
berpikir, mengolah perolehan belajarnya, -------------, 2006. Panduan Pengelolaan
dapat menemukan bermacam-macam Taman Kanak-Kanak. Jakarta :
alternatif pemecahan masalah, mem- Badan Litbang Depdiknas.
bantu anak untuk mengembangkan
kemampuan logika matematikanya dan
e-Journal Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha
Program Studi Pendidikan Dasar (Volume 4 Tahun 2014)

-------------, 2006. Petunjuk Teknis


Penyelenggaraan Pendidikan
Anak Usia Dini (PAUD).
Montolalu, 2007. Bermain dan Permainan
Anak jakarta; Universitas
Terbuka. Depdiknas.
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional
Republik Indonesia Nomor 58
Tahun 2009. Tentang Standar
Pendidikan Anak Usia Dini,
Jakarta.
Rita Eka. 2007. Pengembangan Kebiasa-
an Positif. Yogyakarta: Pusat
Penelitian Anak Usia Dini. Jurnal
Cakrawala Kependidikan. Vol.9.
No. 1 Maret 2011:1-8
Sudjana, 2004. Metode Statistika.
Bandung : Tarsito.
Suryabrata, 2006. Metode Penelitian.
Jakarta: PT. Raja Grafindo
Persada.
Swandewi Anom, 2010. Pengaruh
Pendekatan Kontekstual
Berbasis Penilaian Portofolio
Dan Minat Belajar Terhadap
Hasil Belajar Anak Kelompok B
TK Ekadasi DenpasarTesis
Program Pascasarjana:
Universitas Pendidikan Ganesha,
Singaraja.