Anda di halaman 1dari 5

Vol. 2, No.

1, April 2014 Peran Glutathion pada Kegagalan Terapi Klorokuin

Peran Glutathion pada Kegagalan Terapi Klorokuin


Ika Puspa Sari

Departemen Parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

Abstrak
Malaria adalah penyakit tropik mematikan dan mengancam 200-300 juta jiwa di dunia. WHO
menyatakan, terdapat lebih dari 2 juta kematian akibat malaria setiap tahunnya. Walaupun insiden
malaria cenderung menetap sejak akhir tahun 1990, resistensi obat antimalaria akibat penggunaan
berlebihan menjadi masalah global. Penelitian terakhir menyatakan bahwa mekanisme resistensi
antimalaria dipengaruhi peningkatan glutation intra-eritrosit di eritrosit yang terinfeksi. Peran
glutathion pada Plasmodium terhadap resistensi klorokuin penting diketahui, terutama untuk
dijadikan sebagai prospek target obat dalam eradikasi malaria. Pengetahuan akan karakteristik
dan peran glutathion diharapkan dapat menjelaskan informasi penting mengenai fungsi dan
hubungan antara glutathion dengan parasit malaria.
Kata kunci: malaria, Plasmodium, resistensi, glutathion

The Role of Glutathion in Chloroquine Resistance

Abstract
Malaria is one of the fatal tropical diseases which threatens 200-300 million incidence
worldwide. WHO stated that more than 2 million deaths have been reported annually. In spite of
the fact that malaria incidence and rate tend to be stable in the late 20th century, antimalaria drug
resistance due to drug overuse is still a major problem globally. Last researchs suggested that
mechanism of antimalarial resistency is influenced by the increase of intra-eritocytic glutathion
in the infected eritrocyte. Understanding the role of glutathion in Plasmodium parasite towards
chloroquin resistency is important, since it has a potency as a drug target in malaria eradication.
Knowledge of glutathion characteristic and its role will reveal some important information on its
function and relationship between glutathion and Plasmodium.
Keywords: malaria, Plasmodium, resistance, glutathion.

55
Ika Puspa Sari eJKI

Pendahuluan Plasmodium diatur oleh sintesis GSH, reduksi


Malaria merupakan penyakit parasit yang GSH dan efflux glutathion. Klorokuin mencegah
memiliki morbiditas dan mortalitas tinggi di polimerisasi ferriprotoporfirin IX (FP IX) yang
negara tropis. Spesies yang menyebabkan angka dikeluarkan sebagai hasil digesti hemoglobin oleh
kematian terbesar dan resisten terhadap beberapa parasit dan akhirnya memicu kematian sel.1,2
antimalaria adalah Plasmodium falciparum.
P.falciparum merupakan penyebab malaria Glutathion
tropika yang bertanggung jawab terhadap 500 GSH tripeptida adalah thiol utama dengan berat
juta kasus klinis dan 2 juta kematian setiap tahun, molekul rendah yang terdapat pada semua eukariotik
terutama pada anak-anak. Di Kolumbia, resistensi dan memiliki banyak fungsi di dalam sel. Bekerja
obat antimalaria terhadap P.falciparum telah sebagai buffer redox dan memiliki rasio antara
dilaporkan sejak tahun 1960 terhadap obat golongan 10:1 sampai 100:1 dengan GSH disulfida (GSSG).
4-aminoquinolon, yaitu klorokuin dan amodiakuin.1 Menurunnya hidroperoksida oleh GSH peroksidase
Klorokuin adalah obat pilihan selama 50 tahun yang menyebabkan pembentukan GSSG secara
terakhir karena efektif dan terjangkau untuk pasien efisien dikurangi oleh glutathion reduktase (GR)
yang tinggal di daerah endemis malaria. 2 untuk mempertahankan lingkungan intrasel yang
Penyebaran resistensi parasit terhadap kondusif. Dibuangnya metabolik toksik oleh
klorokuin (CQ) dan obat lainnya menimbulkan produk tersebut dan detoksifikasi xenobiotik oleh
masalah kesehatan serius sehingga perlu diketahui glutathion-S-transferase merupakan reaksi utama
mekanisme resistensinya. yang memerlukan GSH selular. Konjugasi GSH
Dalam parasit malaria, glutathion tripeptida terjadi sebagai proses katabolisme atau diekskresi
terlibat dalam mempertahankan lingkungan dari sel oleh pompa GS-X. Untuk mempertahankan
redoks intraselular dan melindungi sel terhadap kadar GSH yang cukup, tripeptida disintesis melalui
stres oksidatif serta mampu mendegradasi dua tahapan jalur biosintetik asam amino glutamat,
ferriprotoporfirin IX (FP IX) yang berpengaruh sistein dan glisin. Enzim yang berperan dalam
pada perkembangan resistensi klorokuin. sintesis GSH adalah g-glutamylsistein sintetase
Kadar glutathion (GSH) pada eritrosit terinfeksi (g-GCS) dan GSH sintetase.2-4

Gambar 1. Kontrol Kadar GSH Intraselular pada P. falciparum3

56
Vol. 2, No. 1, April 2014 Peran Glutathion pada Kegagalan Terapi Klorokuin

Kontrol Kadar GSH Intraselular menjelaskan struktur insersinya, tetapi diasumsikan


pada P. falciparum bahwa GR memiliki loop fleksibel yang sebagian
Tujuan kontrol kadar GSH adalah untuk besar terdapat di permukaan protein. GR sedikit
mempertahankan rasio GSH terreduksi dan GSSG. berdampak pada struktur keseluruhan protein. 3,4
GSSG terbentuk saat terjadi degradasi non- Secara umum, struktur GR Plasmodium dan
enzimatik FP IX atau saat reduksi glutaredoksin manusia hampir sama, yang membedakan adalah
(Grx) diubah oleh GR menjadi GSH. Kelebihan dalam kavitas interface dimer yang memudahkan
ekses GSSG dikeluarkan dari parasit oleh sistem desain inhibitor yang secara spesifik berikatan di
effluks GSSG. Untuk mengisi pool GSH, tripeptida protein parasit. Komposisi heterokromatik trisiklik
disintesis secara de novo oleh g-GCS dan seperti derivat isoalloxazin dan methylene blue
glutathion sintetase (GS). Selain itu, P. falciparum yang menghambat aktivitas enzimatik dengan
memiliki glutathion S-transferase tunggal (GST) nilai Ki di bawah normal berdampak pada situs
yang bertindak sebagai enzim detoksifikasi di protein tersebut. Methylene blue merupakan
yang mengikat komposisi elektrofilik berbahaya komposisi sintetik pertama yang digunakan pada
(X) menjadi kompleks GS-X yang kemudian terapi antimalaria klinis dan memiliki aktivitas
dikeluarkan dari parasit melalui pompa GS-X. GST antimalaria.3,4
juga berperan sebagai alkil hidroperoksida (ROOH)
peroksidase. GSSG yang meningkat dari reaksi Sintesis Glutathion
reduksi GST dapat masuk ke dalam siklus redoks Plasmodium memiliki jalur sintesis GSH
GSH melalui GR dan di-recycle kembali menjadi fungsional sendiri. Terdapat gen untuk g-GCS dan
GSH (Gambar 1).3,4 GS, yang merupakan enzim yang mengkatalisis
Metabolisme GSH pada eritrosit terinfeksi P. ligasi glutamat dan sistein diikuti penambahan
falciparum berfokus pada beberapa penelitian yang glisin. Gen g-GCS dari strain P. falciparum yang
menyatakan peranan tripeptida sangat banyak dan berbeda mengandung jumlah regio N-terminal yang
tidak terbatas pada fungsi redoks dan antioksidan. berulang yang bervariasi, hal ini tidak ditemukan
GSH diperkirakan terlibat pada resistensi obat pada gen g-GCS P. barghei. Variasi yang terjadi
sebagai kofaktor untuk reaksi enzimatik dan ini tidak berhubungan dengan resistensi obat atau
membantu memediasi resistensi sebagai sumber distribusi geografis parasit dan peranannya juga
detoksifikasi reduktif FP IX yang merupakan zat masih belum diketahui. 2-4
toksik hasil digesti hemoglobin.2,3 Eritrosit yang terinfeksi Plasmodium dibunuh
oleh inhibitor g-GCS spesifik D,L-butionin-S,R-
Glutathion Reduktase sulfoximin (BSO) karena keluarnya GSH dari
Glutathion reduktase adalah enzim yang sel terinfeksi Plasmodium. Eritrosit terinfeksi
bertanggungjawab untuk mempertahankan GSH Plasmodium dengan cepat melepaskan GSH
dalam keadaan tereduksi. GR adalah anggota melalui pompa eflux GSSG. Ketika sintesis de
kelompok enzim yang dikenal sebagai flavo novo dihambat, separuh GSHe selular keluar
disulfida oksireduktase, termasuk theoreduksin dalam 2 jam. Hal tersebut menerangkan bahwa sel
reduktase, merkuri ion reduktase dan tripanothion terinfeksi parasit tergantung sekali pada sintesis
reduktase.3 tripeptida fungsional. Akibatnya, inhibisi sintesis
GR Plasmodium memiliki potensi sebagai GSH bersifat letal bagi parasit karena pool GSH
target terapi terhadap malaria dan diharapkan berkurang secara dramatis dan rasio GSH/GSSG
pengetahuan terhadap struktur tiga dimensi GR tidak dapat dipertahankan. 3
pada manusia dan Plasmodium dapat menambah Selain sintesis de novo GSH yang aktif dan
pengetahuan untuk mendesain inhibitor yang sistem redoks GSH fungsional, eritrosit yang
rasional sehingga dapat menjadi target spesifik terinfeksi Plasmodium mengandung kurang lebih
protein parasit. Struktur primer Plasmodium setengah konsentrasi GSH pada eritrosit yang
mengandung insersi yang spesifik parasit dalam tidak terinfeksi. Hal itu mungkin disebabkan oleh
domain FAD (residu 123-134), domain sentral tingkat efflux GSSG yang tinggi pada eritrosit
(residu 314-347) dan domain interface (residu 496- yang terinfeksi membuat effluks GSSG dari
499). Dua insersi pertama secara eksperimental Plasmodium merupakan sumber GSH bagi eritrosit
didelesi dan mempengaruhi stabilitas dan kapasitas yang terinfeksi dan membantu mempertahankan
pengikatan kofaktor FAD dari protein. Ternyata, lingkungan yang tidak baik bagi sel hospes serta
analisis struktur GR Plasmodium tidak dapat menyokong perkembangan parasit. GSSG keluar

57
Ika Puspa Sari eJKI

dari sel terinfeksi Plasmodium saat terjadinya efflux mencegah degradasi FP IX yang dimediasi GSH
GSH. Hal tersebut menunjukkan bahwa walaupun dan obat yang dapat mengubah konsentrasi GSH
terdapat GR parasit dan sel hospes, GSSG tidak intraselular seperti D.L-butionin-(S,R) sulphoximin
dapat dikurangi untuk mencegah efflux dari sel (BSO) yang mengubah kerentanan Plasmodium
terinfeksi Plasmodium. Jadi, peningkatan stres terhadap klorokuin. Karena P. falciparum dapat
oksidatif yang dihasilkan infeksi Plasmodium mensintesis GSH dan memiliki GR, konsentrasi
menyebabkan oksidasi GSH yang dibutuhkan GSH intraselular parasit diregulasi melalui jalur
untuk meningkatkan efflux GSSG sehingga dapat metabolik ini. 2,3,5
dipertahankan rasio GSH/GSSG yang cukup pada Toksisitas klorokuin terutama akibat
status thiol redoks sel yang terinfeksi. 3,4 pengikatan FP IX dalam vakuola makanan parasit
dan mencegah polimerasisasi hem. Degradasi FP
Sistem Detoksifikasi dan Pengaruh GSH IX yang tergantung GSH memiliki peranan penting
terhadap Resistensi Klorokuin dalam pencegahan kerusakan membran yang
Terpisah dari peranan GSH sebagai fatal dalam sel parasit. Sebanyak 3.5 mM BSO
antioksidan dan buffer redoks, GSH juga terlibat menurunkan konsentrasi klorokuin yang dibutuhkan
dalam berbagai reaksi detoksifikasi yang penting untuk membunuh P. falciparum secara in vitro dan
pada P. falciparum. Selain biomeneralisasi hem terdapat korelasi antara resistensi klorokuin dan
bebas menjadi hemozoin pada digesti hemoglobin peningkatan kadar GSH pada parasit malaria.
oleh parasit, sebagian FP IX toksik tetap bebas. FP Penelitian lain pada mencit yang diinfeksikan
IX bebas bersifat toksik karena memiliki sifat seperti chloroquine-resistant P.berghei menunjukkan
detergen yang mengganggu integritas dan mampu bahwa pemberian BSO dan klorokuin dapat
melakukan reaksi redoks yang menghasilkan ROS menurunkan parasitemia. Dengan demikian,
ketika berikatan dengan zat besi. Oleh karena itu, terdapat perbedaan signifikan pada kadar GSH di
perlu detoksifikasi dan sekuestrasi untuk mencegah eritrosit yang terinfeksi strain parasit yang resisten
toksisitas membran dan kematian parasit.3,4 dan sensitif terhadap klorokuin.2,3
FP IX bebas didegradasi secara non-enzimatik Analisis terhadap kadar GSH dalam
oleh GSH dan mekanismenya dapat dihambat kompartemen parasit Pf3D7 (P.falciparum strain
oleh klorokuin. Deplesi GSH dapat berakibat 3D7, sensitif terhadap klorokuin) dan PfDd2
berkurangnya efisiensi detoksifikasi FP IX dan (P.falciparum strain Dd2, resisten terhadap
kematian parasit. Resistensi P. falciparum terhadap klorokuin), dua kali lebih tinggi pada parasit yang
klorokuin merupakan akibat utama terjadinya proses resisten terhadap klorokuin. Efek yang berbeda dari
tersebut, karena obat tersebut sangat efisien, tidak BSO pada pertahanan PfDd2 dan Pf3D7 mungkin
memiliki efek samping yang berat dan terjangkau.1-3 berperan juga dalam perbedaan konsentrasi GSH
Terdapat beberapa mekanisme yang berbeda pada parasit yang resisten klorokuin dan sensitif
yang mendasari perkembangan resistensi parasit klorokuin (Gambar 2). Kadar GSH pada kedua
terhadap klorokuin. Protein transmembran P. strain parasit memiliki efek yang berbeda pada saat
falciparum chloroquine-resistant transporter konsentrasi obat yang sama diberikan. Pemberian
(PfCRT) yang terdapat di vakuol digestif parasit BSO menurunkan GSH lebih besar pada eritrosit
malaria terlibat dalam perkembangan resistensi terinfeksi parasit malaria resisten klorokuin. Hal itu
terhadap klorokuin dan mutasi protein dapat terjadi karena eritrosit terinfeksi resisten klorokuin
dihubungkan dengan resistensi. P. falciparum tersebut mampu beradaptasi terhadap effluks
multidrug-resistance transporter (PfMDR1) GSSG lebih efisien. Kedua strain tersebut juga
merupakan protein transmembran vakuolar dalam memiliki pertahanan yang baik dalam keadaan stres
keluarga transporter ATP-binding-cassette memiliki eksogen, seperti saat diinkubasi dengan BCNU
dampak pada resistensi terhadap klorokuin. Kedua (N,N1-bis(2-chloroethyl)-N-nitrosurea), kadar
protein tersebut menimbulkan akumulasi obat di mRNA g-GCS dan aktivitas kedua strain tersebut
dalam vakuola makanan parasit yang merupakan mengalami up-regulasi. Hal tersebut menunjukkan
tempat aksi klorokuin. 2,3 P. falciparum yang resisten atau sensitif terhadap
Protein tripeptida dapat mendegradasi FP IX klorokuin mampu beradaptasi terhadap gen
bebas dan klorokuin menghambat proses degradasi transkripsi yang mengkode enzim jalur sintesis
tersebut. Kadar GSH strain P. berghei yang resisten GSH dengan menyesuaikan kebutuhannya.2
dan sensitif terhadap klorokuin berhubungan Eritrosit yang terinfeksi P. falciparum resisten
dengan hipotesis yang menyatakan klorokuin klorokuin dapat mempertahankan kadar GSH

58
Vol. 2, No. 1, April 2014 Peran Glutathion pada Kegagalan Terapi Klorokuin

intraselular dan lingkungan redoks thiol intrasel klorokuin kurang rentan terhadap H2O2 dari pada
yang lebih efisien pada kondisi stres. Selain itu, eritrosit yang terinfeksi P. falciparum sensitif
eritrosit yang terinfeksi P. falciparum resisten klorokuin. 2

Gambar 2. Skema Metabolisme Pf3D7 dan PfDd2

Kesimpulan Daftar Pustaka


Proses metabolisme GSH pada P. falciparum 1. Zuluaga L, Pabon A, Lopez, C, Ochoa A, Blair S.
resisten klorokuin dengan P. falciparum sensitif Amodiaquin failure associated with erythrocytic
klorokuin berbeda. Plasmodium sensitif klorokuin glutathione in P. falciparum malaria. Malaria Journal.
memiliki aktifitas GR tinggi, sehingga dapat 2007;6:47.
mempertahankan lingkungan kondusif bagi 2. Meierjohann S, Walter RD, Muller S. Regulation of
perkembangan parasit dan tidak tergantung intracellular glutathione levels in erythrocytes infected
pada pengaturan sistem effluks GSSG. Dengan with chloroquine sensitive and chloroquine-resistant P.
demikian sintesis GSH tidak terlalu penting untuk falciparum. Biochem J. 2002;368:761-8.
menjaga kadar GSH intraselular. Sebaliknya, pada 3. Muller S. Redox and antioxidant systems of the malaria
Plasmodium resisten klorokuin, ternyata dapat parasite P.falciparum. Mol Microbiol. 2004;53:1291-305.
mengatur lingkungan intraselulernya dengan 4. Bozdech Z, Ginsburg H. Antioxidant defense in
meningkatkan sintesis GSH sebagai kompensasi P.falciparum data mining of the transcriptome. Malaria
berkurangnya GSSG oleh aktivitas GR. Plasmodium journal. 2004;3:23.
resisten klorokuin dapat mempertahankan 5. Luersen K, Walter RD, Muller S. P.falciparum-infected
konsentrasi GSH intraselular lebih baik sehingga red blood cells depend on a functional glutathione
menyebabkan parasit ini tidak rentan terhadap de novo synthesis attributable to an enhanced loss of
inhibisi degradasi FP IX yang tergantung GSH oleh glutathione. Biochem J. 2000;346: 545-52.
klorokuin dan menyebabkan resistensi.

59