Anda di halaman 1dari 48

Made Rini Damayanti S

PSIK FK UNUD
2017
Obat: suatu substansi yang diberikan untuk kepentingan
diagnosa, penyembuhan, pengobatan, atau mengurangi
suatu gejala atau pencegahan suatu penyakit.
Suatu obat dapat memiliki empat jenis nama:
1. Generic name diberikan sebelum satu obat menjadi
official
2. Official name nama yang ditemukan dimana suatu
obat diindekskan dalam suatu publikasi resmi
3. Chemical name nama yang digunakan/diketahui
oleh seorang ahli obat
4. Trademark/ brand name nama yang diberikan oleh
pabrik.
Tipe obat Keterangan

Palliative Mengurangi gejala suatu penyakit. Misal morhine


sulfate, aspirin untuk nyeri
Curative Menyembuhkan suatu penyakit. Misal penicillin untuk
infeksi
Supportive Menunjang fungsi tubuh hingga diberikan jenis
terapi lain atau sampai respon tubuh dapat
mengambil alih. Misal norepinephrine bitartrate
untuk hipotensi
Substitutive Menggantikan cairan atau substansi tubuh. Misal.
Insuline untuk DM
Chemotherapeutic Menghancurkan sel-sel malignan. Misal busulfan
untuk leukemia

Restorative Mengembalikan tubuh ke kondisi sehat. Misal


vitamin, suplemen mineral
Therapeutic effect: efek yang diinginkan, efek utama yang diinginkan
dengan meresepkan obat yang bersangkutan.

Side effect: efek sekunder yang tidak diinginkan. Side effect yang
lebih parah disebut adverse effects.

Drug toxicity: efek yang berbahaya/ merusak dari suatu obat pada
suatu organisme atau jaringan yang diakibatkan oleh overdosis,
tertelannya obat yang seharusnya untuk pemakaian luar, dan
penumpukkan obat di dalam darah akibat gangguan metabolisme
atau ekskresi.

Drug allergy: suatu reaksi autoimun terhadap suatu jenis obat.

Drug tolerance: terjadi ketika seseoarang memiliki respon fisiologis


yang rendah terhadap suatu obat dan membutuhkan dosis yang
lebih tinggi untuk mecapai efek terapeutik yang diinginkan.
Cumulative effect: peningkatan respon terhadap pemberian obat
tertentu yang diberikan dengan dosis berulang dan terjadi ketika
kecepatan pemberian obat melebihi kecepatan metabolisme atau
ekskresi.

Idiosyncratic effect: efek yang tidak diharapkan dan bersifat sangat


individualistik-underresponse atau overresponse atau menimbulkan
efek yang berbeda dari kondisi normal atau menyebabkan gejala
yang tidak bisa diprediksi/tidak dapat dijelaskan pada pasien
tertentu.

Drug interaction: terjadi ketika pemberian obat yang diberikan


sebelum, berbarengan atau setelah obat lainnya, mengganggu efek
yang diinginkan dari salah satu atau kedua jenis obatsynergistic
dan inhibiting effects.

Iatrogenic disease: penyakit yang terjadi yang disebabkan oleh


suatu terapi.
Faktor perkembanganwanita hamil, bayi, lansia
Jenis kelaminpria vs. wanita
Budayaherbal remedy
Etnis, genetikslow vs. rapid metabolism
Diet
Lingkunganperilaku, mood, suhu
Faktor psikologissugesti, harapan
Penyakitsirkulasi, disfungsi hati dan ginjal
Waktu pemberian obat
Oral
Sublingual
Buccal
Rectal
Vaginal
Topical
Parenteral: subcutaneous, intramuscular, intradermal, intravenous
Jenis medication orders:
1. A stat order segera dan hanya 1x
2. The single order one time order 1x dalam waktu
tertentu
3. The standing order dapat/tidak memiliki waktu untuk
dihentikan (diberikan sampai waktu dituliskan)
4. A prn order as needed order memberi hak pada
perawat untuk memberikan/meresepkan obat
Unsur penting dalam medication orders:
1. Nama lengkap klien
2. Tanggal dan waktu order ditulis
3. Nama obat yang harus diberikan
4. Dosis obat
5. Frekuensi pemberian obat
6. Rute pemberian obat
7. Tanda tangan lengkap orang yang memberikan obat
1. Perawat harus selalu mengkaji status kesehatan dan
riwayat pengobatan klien sebelum memberikan
pengobatan
2. Dalam/tidaknya pengkajian ditentukan oleh:
penyakit atau kondisi klien
jenis obat yang akan diberikan
rute pemberian obat
obat-obatan yang saat ini dikonsumsi klien
riwayat alergi obat
kebiasaan makan
tingkat sosioekonomi klien
Perawat bertanggung jawab untuk segala tindakan pengobatan
yang dilakukannya
Perawat harus paham tentang obat yang akan diberikannya
Gunakan hanya obat yang disimpan dalam wadah berlabel jelas
Jangan gunakan obat dalam bentuk cairan yang sudah mengalami
perubahan warna
Hitung dosis obat secara akurat
Berikan obat yang disiapkan secara personal
Identifikasi klien dengan benar sebelum pemberian obat
Jangan meninggalkan obat-obatan di samping tempat tidur klien
Jika klien muntah setelah diberikan obat oral, laporkan
Waspada bila memberikan jenis obat-obatan tertentu
Bila pemberian obat tertentu dikurangi atau dihentikan, catat
beserta alasannya
Bila terjadi kesalahan dalam pemberian obat, laporkan.
1. Identifikasi klien
2. Informasikan klien
3. Berikan obat
4. Berikan bantuan bila diindikasikan
5. Catat pemberian obat
6. Evaluasi respon klien terhadap obat yang
diberikan
1. Benar obat: obat yang diberikan merupakan obat
yang diresepkan
2. Benar dosis: dosisnya tepat, double check
3. Benar waktu: benar frekuensi dan waktu
4. Benar rute: sesuai order, pastikan rute yang dipilih
aman
5. Benar klien: sesuai order, identifikasi ID
6. Benar dokumentasi: setelah obat dberikan.
Tujuan: memberikan obat yang memiliki efek sistemik atau lokal
pada saluran gastrointestinal.

Persiapan alat:
1. Kartu/buku rencana pengobatan
2. Baki berisi obat-obatan
3. Mangkuk obat sekali pakai
4. Martil dan lumpang penggerus (jika diperlukan)
5. Gelas dan air minum
6. Sedotan
7. Sendok
8. Spuit (jika diperlukan)
9. Tissue
1. Cek catatan keperawatan dan catatan medis klien
(Mengetahui TTV, therapy, resep obat yang
diberikan, indikasi, kontraindikasi, riwayat alergi,
dan hal lain yang diperlukan)
2. Cuci tangan
3. Siapkan alat yang diperlukan. Siapkan obat
dengan prinsip benar.
1. Beri salam dan perkenalkan diri
2. Identifikasi pasien: tanyakan nama, tanggal lahir, alamat
(minimal 2 item). Cocokkan dengan gelang identitas
3. Tanyakan kondisi dan keluhan klien
4. Jelaskan tujuan, prosedur, lama tindakan, dan hal yang
perlu dilakukan klien
5. Berikan kesempatan klien/keluarga bertanya sebelum
kegiatan dilakukan
1. Kaji kemampuan klien untuk minum obat per oral
(kemampuan menelan, mual/muntah, kebiasaan minum
obat)
2. Kaji denyut nadi dan tekanan darah sebelum pemberian
obat yang membutuhkan pengkajian
3. Cuci tangan
4. Periksa kembali order pengobatan (nama klien, nama
dan dosis obat, waktu dan cara pemberian). Cek tanggal
kadaluarsa obat
5. Siapkan obat-obatan yang akan diberikan. Siapkan jumlah obat
sesuai dengan dosis tanpa mengkontaminasi obat (gunakan teknik
aseptik untuk menjaga kebersihan obat)
Tablet atau kapsul
Tuangkan obat sesuai kebutuhan ke mangkuk sekali pakai tanpa
menyentuh obat. Jika klien mengalami kesulitan menelan, gerus
obat dengan martil dan lumpang, kemudian campurkan dengan
air atau makanan
Obat dalam bentuk cair
Kocok obat agar tercampur rata
Buka penutup botol dan letakkan menghadap ke atas
Pegang botol obat sehingga sisi labelnya berada pada telapak
tangan kemudian tuangkan obat sesuai takaran
Sebelum menutup botol, usap bagian bibir botol dengan tissue
Jika jumlah yang diberikan hanya sedikit (kurang dari 5 ml),
gunakan spuit steril tanpa jarum untuk mengambilnya dari botol
6. Bantu klien untuk minum obat
Berikan klien air yang cukup untuk menelan obat. Jika sulit
menelan, anjurkan klien untuk meletakkan obat di lidah bagian
belakang kemudian anjurkan untuk minum air. Jika rasa obat tidak
enak, berikan obat dengan dicampur jus buah atau air gula
Untuk pemberian obat secara sublingual:
Anjurkan klien untuk meletakkan obat di bawah lidah, obat tidak
boleh ditelan, dan biarkan berada di bawah lidah sampai habis
diarbsorbsi seluruhnya
Untuk pemberian obat secara bukal:
Anjurkan klien untuk meletakkan obat di antara gusi dan selaput
mukosa pipi, obat tidak boleh ditelan, dan biarkan sampai obat
habis diarbsorbsi seluruhnya
7. Tetap bersama klien sampai obat ditelan habis
8. Rapikan klien dan atur dalam posisi yang nyaman
1. Berikan umpan balik positif
2. Kontrak pertemuan selanjutnya
3. Akhiri kegiatan dengan cara yang baik
4. Bereskan peralatan
5. Cuci tangan.
1. Catat hasil kegiatan di dalam catatan keperawatan :
tanggal, jam, obat yang diberikan , respon klien selama
dilakukannya prosedur, tanda tangan dan nama terang.
Keuntungan Kerugian

Paling nyaman Tidak tepat untuk klien mual/muntah


Dapat memiliki rasa ata aroma yang tidak
Biasanya lebih murah menyenangkan
Aman, tidak perlu Tidak tepat untuk klien denga gangguan
merusak barrier kulit motilitas GIT
Pemberian obat Tidak tepat untuk klien yang tidak daat
menelan atau tidak sadar
umumnya tidak
Tidak dapat diberikan sebelum
menimbulkan stress pemeriksaan diagnostik atau operasi
bagi klien tertentu
Dapat menimpulkan perubahan pada
warna gigi, berbahaya bagi enamel gigi
Obat dapat mengiritasi mukosa gastrik
Dapat meebaka aspirasi pada klien
dengan penyakit parah
Keuntungan Kelemahan
Sama dengan oral Bila tertelan, obat dapat
DITAMBAH: diinaktivasi oleh cairan
Obat dapat diberikan untuk lambung
memberikan efek lokal Obat harus tetap berada di
Lebih poten dari obat per bawah lidah sampai larut
oral karena memasuki aliran dan diabsorbsi
darah secara langsung dan Obat diabsorbsi secara
bypass liver cepat ke dalam aliran darah
Pemberian obat secara topikal pada kulit adalah memberikan obat
secara lokal pada kulit

Tujuan: Memperoleh reaksi lokal dari reaksi tersebut

Persiapan alat:
1. Obat topikal sesuai dengan yang diinstruksikan (krim, lotion,
aerosol, bubuk, spray)
2. Buku obat
3. Kasa kecil steril (sesuai kebutuhan)
4. Sarung tangan sekali pakai atau steril (jika perlu)
5. Lidi kapas atau sudip lidah
6. Baskom dengan air hangat
7. Kasa balutan, penutup plastik, dan plester (sesuai kebutuhan)
1. Cek catatan keperawatan dan catatan medis klien (untuk
memastikan nama obat, daya kerja, rute, dan dosis
pemberian obat). Identifikasi faktor dan kondisi yang
dapat menyebabkan kontraindikasi
2. Cuci tangan
3. Siapkan alat dan bahan. Siapkan obat dengan prinsip
benar.
1. Beri salam dan perkenalkan diri
2. Identifikasi pasien: tanyakan nama, tanggal lahir, alamat
(minimal 2 item). Cocokkan dengan gelang identitas
3. Tanyakan kondisi dan keluhan klien
4. Jelaskan tujuan, prosedur, lama tindakan, dan hal yang
perlu dilakukan klien
5. Berikan kesempatan klien/keluarga bertanya sebelum
kegiatan dilakukan.
1. Atur peralatan di samping tempat tidur klien
2. Jaga privasi klien
3. Cuci tangan
4. Atur posisi klien yang tepat dan nyaman, pastikan hanya
membuka area yang akan diberi obat
5. Inspeksi kondisi kulit klien. Cuci area yang sakit, lepaskan
semua debris dan kerak pada kulit (gunakan sabun
basah ringan)
6. Keringkan atau biarkan mengering
7. Jika kulit terlalu kering dan mengeras, gunakan agens
topikal saat kulit masih basah
8. Gunakan sarung tangan jika diperlukan
9. Oleskan agen topikal:
a. Krim salep dan lotion yang mengandung minyak
Letakkan satu sampai dengan dua sendok teh obat di
telapak tangan kemudian lunakkan dengan gosokkan
obat secara lembut di antara kedua telapak tangan
Usapkan merata di atas permukaan kulit, lakukan
gerakan memanjang searah pertumbuhan rambut
Jelaskan pada klien bahwa kulit dapat terasa
berminyak setelah pemberian obat
b. Lotion yang mengandung suspense
Kocok wadah dengan kuat
Oleskan sejumlah kecil lotion pada kasa balutan atau
bantalan kecil dan oleskan pada kulit serta tekan
secara merata searah pertumbuhan rambut
Jelaskan pada klien bahwa area akan terasa dingin
dan kering
c. Bubuk
Pastikan bahwa permukaan kulit kering secara menyeluruh
Regangkan dengan baik lipatan bagian kulit, seperti di antara
ibu jari atau bagian bawah lengan
Bubuhkan secara tipis pada area yang bersangkutan
d. Spray/aerosol
Kocok wadah dengan keras
Baca label untuk jarak yang dianjurkan untuk memegang spray
menjauh area (biasanya 15-30 cm)
Jika leher atau bagian atas dada harus disemprot, minta klien
untuk memalingkan wajah dari arah spray
Semprotkan obat dengan merata pada bagian yang sakit
Tutup area kulit dengan balutan bila ada instruksi
Bantu klien pada posisi yang nyaman, kenakan kembali pakaian
dan tutup dengan linen tempat tidur sesuai keinginan.
1. Evaluasi perasaan klien, simpulkan hasil kegiatan,
berikan umpan balik positif
2. Kontrak pertemuan selanjutnya
3. Bereskan alat-alat
4. Cuci tangan.
1. Catat hasil kegiatan di dalam catatan keperawatan.
Keuntungan Kelemahan

Memberikan efek lokal Dapat menodai pakaian


Tidak banyak efek Obat dapat menembus
samping barrier kulit melalui
abrasi/lesi dan
menyebabkan efek
sistemik
Memberikan sejumlah obat melalui rectum bentuk supositoria

Tujuan:
1. Memperoleh efek pengobatan secara lokal maupun sistemik
2. Melunakkan feses sehingga mudah dikeluarkan

Persiapan alat:
1. Obat supositoria rectal
2. Buku obat
3. Jelly pelumas untuk supositoria
4. Sarung tangan sekali pakai
5. Tissue
1. Cek catatan keperawatan dan catatan medis klien
(Mengetahui TTV, therapy, resep obat yang diberikan,
indikasi, kontraindikasi, riwayat alergi, dan hal lain yang
diperlukan)
2. Cuci tangan
3. Siapkan alat dan bahan. Siapkan obat dengan prinsip
benar.
1. Beri salam dan perkenalkan diri
2. Identifikasi pasien: tanyakan nama, tanggal lahir, alamat
(minimal 2 item). Cocokkan dengan gelang identitas
3. Tanyakan kondisi dan keluhan klien
4. Jelaskan tujuan, prosedur, lama tindakan, dan hal yang
perlu dilakukan klien
5. Berikan kesempatan klien/keluarga bertanya sebelum
kegiatan dilakukan.
1. Cek kembali order pengobatan mengenai jenis
pengobatan, waktu, jumlah, dan dosis obat
2. Jaga privasi klien
3. Atur peralatan di samping tempat tidur klien
4. Cuci tangan dan pakai sarung tangan
5. Siapkan klien:
Atur posisi klien dalam posisi sims
Jaga agar klien tetap terbungkus pakaian dengan
hanya pajankan area anus saja
6. Periksa kondisi di daerah luar anus dan palpasi dinding
rectum sesuai kebutuhan.
7. Apabila sarung tangan kotor, ganti dengan yang baru
8. Buka supositoria dari kemasannya dan beri pelumas pada
ujung bulatnya dengan jely. Beri pelumas sarung tangan
pada jari telunjuk dari tangan dominan
9. Minta klien untuk menarik napas melalui mulut untuk
merilekskan sfingter ani
10.Regangkan bokong klien dengan tangan non dominan.
Dengan jari telunjuk yang tersarungi, masukkan supositoria ke
dalam anus, melalui sfingter ani dan mengenai dinding rectal
10 cm pada orang dewasa dan 5 cm pada bayi dan anak-
anak
11.Tarik jari dan bersihkan area anal klien
12.Instruksikan klien untuk tetap berada pada posisi terlentang
atau miring selama 5 menit
13.Jika supositoria mengandung laksatif atau pelunak feses,
letakkan tombol pemanggil dalam jangkauan klien.
1. Kembalikan klien ke posisi yang nyaman
2. Evaluasi perasaan klien, simpulkan hasil kegiatan,
berikan umpan balik positif
3. Kontrak pertemuan selanjutnya
4. Bereskan alat-alat
5. Cuci tangan.
1. Catat hasil kegiatan di dalam catatan keperawatan.
Keuntungan Kelemahan

Dapat digunakan ketika Dosis yang diabsorsi sulit


obat memiliki rasa dan dipastikan
aroma yang tidak
menyenangkan
Obat dlepaskan dengan
pelan dengan kecepatan
stabil