Anda di halaman 1dari 8

Penggunaan Bahasa Indonesia yang Baik dan

Benar dalam Peraturan perundang-undangan


dan Tata Cara Menyusun Peraturan
Perundang-undangan
I. PEMBUKA

Di dalam Peraturan perundang-undangan, bahasa yang dipakai adalah bahasa Indonesia.


Bahasa Peraturan Perundang-undangan adalah bahasa Indonesia yang tunduk pada kaidah
bahasa Indonesia, baik yang menyangkut pembentukan kata, penyusunan kalimat, maupun
pengejaannya. Di dalam satu kalimat terdapat struktur kalimat yang di dalamnya terdapat
subyek. Subyek disini adalah Pihak yang akan dituju oleh undang-undang. Kita membuat
undang-undang ini untuk mengatur pihak-pihak tertentu. Maka, subyek harus ditentukan
terlebih dahulu. Ada beberapa subyek terkait dengan struktur kaidah, yang berkaitan dengan
apakah subyek yang dituju adalah:
1. Umum, artinya berlaku bagi siapa saja, tanpa ada perbedaan. Misalnya jika kita ingin
mengatur sebuah negara maka berlaku untuk semua warga negara yang ada di wilayah itu,
tanpa terkecuali. Begitu pun jika kita membuat Peraturan Daerah, maka peraturan itu harus
ditujukan dan dipatuhi oleh semua orang di daerah itu.
2. Individual, artinya berlaku untuk pihak tertentu saja, lebih konkrit. Misalnya jika ada Surat
yang dibuat oleh Wali Kota untuk dilaksanakan bagi Sekretaris daerah, maka pihak yang
dituju oleh surat tersebut adalah hanya kepada Sekretaris Daerah.
Maka bahasa Indonesia yang digunakan adalah bahasa Indonesia yang sesuai dengan Struktur
kaidah di dalam norma hukum. Namun, kita sepakat bahwa bahasa Perundang-undangan
sesungguhnya mempunyai corak atau gaya yang khas yang bercirikan kejernihan, pengertian,
kelugasan, kebakuan dan keserasian. Kejernihan atau kejelasan sebenarnya masih bisa di
tafsirkan, sebagai contoh Pihak yang dapat melakukan Peninjauan Kembali adalah keluarga
korban atau keluarga terpidana. Artinya, yang dapat mengajukan hanya pihak yang
dicantumkan di dalam pasal tersebut, maka Jaksa tidak dapat mengajukan Peninjauan
Kembali. Namun, kita dapat menafsirkan sepanjang tidak ada larangan bahwa Jaksa tidak
boleh mengajukan Peninjauan Kembali, maka Jaksa boleh mengajukan Peninjauan Kembalin.
Namun, hal ini tidak tepat karena masih bisa ditafsirkan lain.
Mengapa bahasa Indonesia yang seperti ini menjadi pegangan kita? Karena kita akan
membuat peraturan yang harus bisa tegas, lugas dan jelas kepada pihak yang akan kita atur.
Maka tanda baca, struktur bahasa harus benar-benar diperhatikan. Selain itu, dalam memilih
suatu kata juga perlu diperhatikan. Sebagai contoh, kata Bisa dengan kata dapat manakah
yang sering dipakai di dalam peraturan perundang-undangan? Kata Dapat karena kata
Bisa memiliki arti atau makna ganda dan pemakaian kata yang bermakna ganda harus
dihindari.
Dalam membuat Perancangan Peraturan Perundang-undangan (apapun bentuknya) yang
harus diperhatikan dengan seksama adalah PENULISAN RANCANGAN PERATURAN
PERUNDANG-UNDANGAN.
Berkaitan dengan penulisan tersebut terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan:
a. Kalimat yang ditulisSTRUKTUR KALIMAT PADA KAIDAH
b. Kalimat dibuat harus berisi satu macam normabila terdapat beberapa norma harus dipecah
menjadi beberapa pasal/ayat peraturan. Hal ini dikarenakan jika terdapat dua norma atau
lebih maka akan menimbulkan ketidakjelasan.
c. Kalimat berisi suatu sifat dan jenis kaidah yang jelas.
d. Pilihan kata yang tepat termasuk penggunaan kata sambungtidak menimbulkan ambigu.
Misalnya dalam penggunakan kata dan, dan/atau, atau. Jika menggunakankata dan
artinya merujuk pada kedua keduanya. Jika menggunakan kata dan/atau maka bisa merujuk
kedua pihak atau salah satu pihak. Jika menggunakan kata atau maka kita harus memilih
salah satu pihak.
BAHASA DALAM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN adalah Bunyi peraturan
tiada lain adalah bahasa yang diterapkan untuk kewajiban, perintah, larangan,suruhan,
arahan, pedoman, dan pilihan-pilihan untuk keteraturan dan ketertiban bermasyarakat,
berbangsa, dan bernegara. Inilah yang membedakan norma hukum dengan norma lainnya
dimana norma hukum terdapat perintah, larangan, suruhan, arahan, atau dispensasi yang
merupakan kaidah perilaku, kaidah sanksi, kaidah kualifikasi, kaidah perahilan dan kadiah
penutup.
Bahasa peraturan perundang-undangan meliputi dua hal, yakni:
a. Format peraturan itu sendiri, terkait dengan jenis peraturannya. Misalnya, Undang-undang
dengan peraturan pemerintah merupakan suatu hal yang berbeda. Hal yang membedakan
adalah Hierarki, semakin ke bawah maka peraturan akan semakin teknis dan semakin konkrit
materi yang diaturnya dan semakin individual.
Selain itu, di dalam undang-undang, masalah yang diatur hanya merupakan masalah pokok
sedangkan Peraturan Pemerintah materi yang diatur adalah salah satu dari masalah yang
diatur di dalam undang-undang. Sebagai contoh, Undang-Undang mengenai Perlindungan
anak yang didalamnya mengatur tentang Hak Anak. Kemudian muncul Peraturan Pemerintah
mengenai Pemberian Air Susu Ibu eksklusif. Tentunya keduanya mengandung korelasi
dimana Peraturan Pemerintah tersebut sebagai perwujudan dari undang-undang tersebut.
b. Susunan kata-kata dalam bahasa Indonesia yang mengandung norma, yakni yang berkaitan
dengan perilaku, perintah, larangan dan sebagainya.
Bahasa yang ada dalam peraturan tersebut harus mudah dilaksanakan atau dapat ditegakkan.
Misalnya, undang-undang tentang Perbankan, maka mengatur tentang usaha perbankan.
Maka undang-undang tersebut harus dapat dilaksanakan di dalam bidang usaha perbankan
tersebut.
II. ISI DAN SIFAT NORMA HUKUM
Pada umumnya norma hukum berisi
1. KAIDAH PERILAKU: kaidah atau ketentuan yang mengatur tentang perilaku manusia,
bukan suatu lembaga mengingat manusia adalah sebagai subyek. Contoh undang-undang
mengenai batubara dan mineral, maka yang diatur adalah perilaku manusia dalam mengelola
batubara dan mineral.
Berbagai macam cara untuk mengatur perilaku manusia adalah:
1. Memberi perintah menggunakan kata harus, wajib dan tidak boleh dilanggar.
Contohnya, Setiap Pelaku Usaha atau badan usaha wajib memiliki Surat Izin Usaha. Artinya,
memberikan perintah bahwa jika ingin mendirikan badan usaha harus memiliki surat izin
usaha. Namun di dalam perintah tidak boleh disatukan dengan pemberian Dispensasi karena
akan menimbulkan ketidakpastian, membingungkan. Jika ingin membuat pengecualian dari
perintah tersebut atau Dispensasi, maka biasanya dalam bentuk Izin.
2. Memberi larangan kaidah atau norma hukum yang berisi dilarang atau tidak boleh
melakukan sesuatu. Contohnya, para pejabat dilarang untuk menerima hadiah dalam bentuk
apapun.
3. Kebolehanterdiri dari DISPENSASI dan IZIN merupakan kaidah yang tidak
melarang dan tidak memberi perintah. Dispensasi merupakan pengecualian perintah (tidak
berkewajiban, dibebaskan dari, dikecualikan dari), sedangkan Izin merupakan pengecualian
larangan (boleh, berhak untuk, dapat, berwenang untuk, mempunyai hak untuk). Perintah
tidak boleh disatukan dengan dispensasi begitupula dengan Izin tidak boleh disatukan dengan
larangan. Hal ini untuk menghindari ketidakpastian.
Pertanyaan: untuk dispensasi, jika kita ingin membuatnya di ayat yang berbeda, apakah
diperbolehkan?
Jawab: tidak boleh. Jadi, jika kita ingin membuat pasal tentang perintah, maka ayat
selanjutnya adalah kaidah kualifikasi yang memberikan suatu keadaan tertentu, misalnya
bagaimana cara memperoleh surat izin. Maka dijabarkan di ayat selanjutnya. Ayat-ayat yang
ada di dalam masing-masing pasal tidak boleh saling melemahkan. Sebagai contoh, ada di
Undang-undang Perkawinan pasal 2 ayat (1) dan (2). Di dalam ayat (1) disebutkan
Perkawinan yang sah adalah perkawinan yang dilangsungkan menurut agama dan
kepercayaannya masing-masing. Selanjutnya, ayat (2) yang seharusnya memperkuat ayat (1)
mengatakan Perkawinan yang sah menurut agama harus dicatatkan melalui lembaga
negara. Ayat (1) memberikan perintah. Ayat (2) juga memberikan perintah sekaligus syarat
dan ayat ini mengandung ketidak jelasan. Maka jika pernikahan dilangsungkan di luar
negeri, sah atau tidak? Menurut pasal (2) ayat (1) jika dilangsungkan secara agama
pernikahan itu sah. Namun, jika tidak dilangsungkan secara agama? Jika di suatu negara hal
tersebut adalah sah maka negara kita harus mengaui sah pernikahan itu dan dicatatkan
sebagai perkawinan yang sah. Maka muncul pertanyaan besar, syarat sahnya perkawinan di
Indonesia itu seperti apa? Berdasarkan agama dan kepercayaan masing-masing ataukah
berdasarkan hal lain? Maka seharusnya ayat (1) dan (2) disatukan saja menjadi satu nafas
agar tidak menimbulkan suatu persoalan.
III. HUBUNGAN LOGIKAL DARI KAIDAH PERILAKU

a. Memiliki hubungan kontrarissuatu perilaku perintah tidak mungkin dinyatakan


sekaligus dilarang. Dispensasi tidak mungkin sekaligus ada Izinnya. Maka ini berarti
tidak boleh ada lebih dari satu norma.
b. Memiliki hubungan sub-alternasiuntuk kaidah perilaku yang bersifat implikatif,
misalnya:

Perintah dengan Izin, misalnya setiap pelaku usaha wajib memperoleh surat izin usaha.
Lalu ayat berikutnya, pelaku usaha yang wajib memperoleh surat izin usaha, dapat
melakukan usaha. Kalimat kedua ini merupakan kaidah Izin, dan artinya, jika pelaku usaha
sudah memperoleh surat izin tersebut maka ia dapat melakukan usahanya. Maka masing-
masing ayat ini saling menompang, tidak saling bertentangan, misalnya Perintah dengan
dispensasi, misalnya setiap pelaku usaha wajib memperoleh surat izin usaha. Lalu ayat
berikutnya pelaku usaha dapat dikecualikan dalam mengajukan surat izin berusaha. Apakah
peraturan ini bisa berjalan? Tidak.
Larangan dengan Dispensasi misalnya, syarat dalam melangsungkan perkawinan adalah
wanita berusia 16 tahun dan pria berusia 19 tahun. Jika umurnya kurang dari itu maka ada
pasal mengenai dispensasi perkawinan, kecuali jika mereka memperoleh izin perkawinan
dari orang tua dan melaporkan ke permohonan Pengadilan agama.
c. sebuah perintah dan dispensasi, larangan dan izin tidak dapat dilakukan bersama-
sama. Karena hal ini dapat menimbulkan hubungan yang kontraris.

2. KAIDAH SANKSI
Adalah kaidah yang berisi akibat hukum dari pelanggaran kaidah yang ada.
Kaidah sanksi terdiri dari:
a. Sanksi pidana
b. Sanksi perdata
c. Sanksi administrasi
Di dalam suatu perundang-undangan kita boleh memberikan ketiga macam sanksi ini.
Catatan:
Sanksi administrasi dan perdata dirumuskan dalam satu norma (bagian/pasal/bab) dan
diletakkan dalam pasal terakhir dari bagian sanksi. Sebaiknya sanksi pidana tidak disatukan
dalam satu bab dengan sanksi perdata dan administrasi. Hal ini karena sanksi Pidana
merupakan suatu upaya terakhir atau ultimum remidium.

Pertanyaan: Apakah ada undang-undang yang tidak memiliki sanksi?


Jawab:
Produk perundang-undangan:
- Regeling, yaitu peraturan perundang-undangan yang berlaku umum;
- Beshchiking, yaitu ketetapan
- Beleidsregel, yaitu kebijaksanaan.
Di dalam Beschiking dan Belerda Regel tidak terdapat suatu sanksi di dalamnya. Norma
hukum selalu terdapat sanksi karena sanksi tidak dapat dipisahkan dari sanksi, karena sanksi
sebagai upaya paksa dan hukum sebagai social control dan social enginering.
Pertanyaan: Beleidsregel bersifat ke dalam atau keluar?
Jawab: bersifat ke dalam, hanya untuk instansi-instansi di bawahnya. Dan tidak mengikat
keluar.
Pertanyaan: Mengapa dibentuk Permen? Mengapa tidak langsung dibentuk PP?
Jawab: dilihat dulu sebenarnya. Misalnya, Peraturan Bank Indonesia, mengikat untuk bank-
bank yang ada di bawahnya. Maka ini bersifat ke dalam, untuk internal badan itu sendiri.
Namun, efeknya bisa keluarn
Pertanyaan: Mengenai Beshicking, dibuat harus dengan kewenangan instansi badan tersebut.
Namun terkadang, ada orang yang menggugat beshicking karena di nilai bertentangan dengan
Asas-asas Pemerintahan Umum yang baik dan merugikan kepentingan orang lain. Misalnya,
dinas tata kota. Dia berwenang untuk meberikan IMB. Namun bangunan ini merugikan
kepentingan orang lain. Maka bagaimana dengan hal tersebut?
Jawab: Kewenangan yang dimiliki oleh Pejabat dalam mengeluarkan suatu beshicking harus
memperhatikan berbagai macam aspek, maka ketika aspek itu tidak diperhatikan maka ia
dianggap tidak tepat dalam melaksanakan wewenangnya. Maka kewenangan disini
maksudnya, dengan kewenangannya dia boleh atau tidak membuat peraturan yang
mengabaikan aspek-aspek tertentu. Itu yang dinilai oleh hakim Pengadilan Tata Usaha
Negara.
Pertanyaan: Bagaimana cara menyusun ketiga sanksi ini di dalam rumusan undang-undang?
Jawab: pada dasarnya jika membuat peraturan perundang-undangan, dikaitkan dengan
perbuatan yang tertentu terlebih dahulu. Jadi, sanksi administratif biasanya diberikan pada
subyek yang ingin diatur, jika ia melakukan suatu hal maka diberikan peringatan. Hal
terpenting adalah tidak boleh di susun di dalam satu bab atau satu pasal.
Pertanyaan: Di dalam sanksi perdata ada Ganti rugi, biaya dan denda. Apakah ketiga-tiganya
bisa di jatuhkan?
Jawab: tidak. Pilih salah satu saja karena jika sanksi perdata tidak dipenuhi masih ada sanksi
pidana sebagai ultimum remidium.
3. KAIDAH KUALIFIKASI
Adalah suatu jenis kaidah yang menetapkan syarat tertentu yang harus dipenuhi oleh seorang
untuk dapat melakukan perbuatan hukum tertentu atau sebaliknya dibebaskan dari kewajiban
untuk melakukan suatu perbuatan hukum tertentu. Misalnya, Alasan-alasan yang dapat
digunakan dalam mengajukan pendaftaran kepemilikan tanah adalah:.....
Tidak mungkin di dalam suatu peraturan tidak ada kaidah kualifikasi karena tidak ada cara
melaksanakan karena kaidah kualifikasi ini bersifat teknis. Menetapkan apa saja yang harus
dipenuhi untuk memenuhi suatu aturan atau perilaku.
4. KAIDAH PERALIHAN
Adalah kaidah hukum yang dibuat sebagai sarana untuk mepertemukan aturan hukum
tertentu sebagai akibat hukum hadirnya peraturan perundang-undangan dengan keadaan
sebelum berlakunya peraturan tersebut. Misalnya, kapan peraturan tersebut berlaku, peraturan
mana yang dipakai, yang terdahulu atau yang baru? Penetapan waktu berlakunya suatu
perundang-undangan ditetapkan oleh si pembuat peraturan perundang-undangan dengan
melihat kondisi atau keadaan tertentu. Ada masa tenggang waktu diantara peralihan dari
perundang-undangan yang lama menuju perundang-undangan yang baru.
Pertanyaan: Jika di dalam suatu perundang-undangan tidak ada ketentuan peralihan,
kemudian di delegasikan di dalam peraturan yang berikutnya, boleh atau tidak?
Jawab: Idealnya tidak boleh. Karena nanti akan mengakibatkan delegasi blanko. Dan delegasi
blanko ini akan menimbulkan ketidak pastian. Siapa yang akan melaksanakan ini? Kapan
peraturan peralihan dilaksanakan? Idelanya, di dalam suatu perundang-undangan ada
ketentuan peralihan. Jika dialihkan kepada peraturan yang berikutnya maka suatu peraturan
tidak bisa dilaksanakan sampai ada peraturan yang mengatur tentang peraturan peralihannya.
Pertanyaan: di dalam peraturan perundang-undangan harus ada bagian menimbang dan
sebagainya. Kalau di Peraturan Pemerintah, cukup menerapkan satu poin
menimbang.menurut ibu, bagaimana dengan adanya aturan itu, mengingat bagian-bagian itu
terdapat petimbangan filosofis, sosiologis, yuridis?
Jawab: ya, itu jika dalam peraturan perundang-undangan, tetapi semakin ke bawah
tingkatannya maka dasar meimbangnya akan semakin konkrit; mengapa PP itu di keluarkan?
Karena ada perintah dari undang-undang. Selesai. Aspek sosiologisnya, filosofisnya, ada di
dalam undang-undang. Tetapi, kalau undang-undang HARUS mencantumkan aspek
sosiologis, filosofis, yuridis. Harus lengkap.
5. KAIDAH PENUTUP
Adalah kaidah yang memberikan penetapan kapan peraturan disahkan, diundangkan, pejabat
yang mengundangkan, lembaran negara dan seterusnya.
IV. BEBERAPA HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN DALAM PERANCANGAN
PERATURAN

1. Pendelegasian kewenangan:
a. Suatu peraturan dapat berisi ketentuan yang mendelegasikan kewenangan
mengatur kepada peraturan lain yang lebih rendah. Misal dari UUD ke UU.
Contoh, mengapa ada undang-undang tentang Mahkamah Konstitusi? Karena
di dalam Undang-undang dasar ada pendelegasian mengenai ketentuan
Mahkamah Konstitusi diatur dalam undang-undang.
b. Pendelegasian kewenangan mengatur, harus menyebut dengan tegas jenis dan
ruang lingkupnya.
c. Peraturan yang sudah didelegasikan tidak boleh didelegasikan lagi.
d. Hanya mendelegasikan masalah pokok
e. Sebisa mungkin hindari delegasi blanko, yaitu delegasi yang sengaja dibiarkan
untuk diatur lebih lanjut oleh peraturan lainnyamenimbulkan
ketidakpastian.ini berbeda dengan blanko mandat (mandat pelimpahan
kewenangan kepada pejabat yang lebih rendah dalam satu instansi)

2. Perumusan Peraturan:

a. Peraturan harus merupakan norma dan bersifat normatif bukan fakta. Perbedaan
normatif dengan fakta adalah kalau fakta hanya memberikan alasan, jabaran. Contoh:
setiap anggota harus bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa. Ini normatif atau fakta?
Normatif karena memberikan perintah. Kalau dalam normatif ada struktur kaidah,
yaitu subyek, obyek, operator, dan kondisi kaidah.
b. Peraturan tidak boleh menetapkan fakta murni. Kecuali, di bagian menimbang, boleh
menggunakan fakta; di bagian maksud dan tujuan boleh menggunakan fakta. Namun,
dalam perumusan undang-undang yang ideal, minimal ada subyek kaidah, obyek
kaidah dan operator kaidah.
c. Norma dalam bentuk pernyataan faktual biasanya corak ketentuan yang merupakan
ketentuan prosedural.misal: pembangunan berlandaskan pada asas kesejahteraan
umum, keadilan, pemerataan, keserasian, dan keseimbangan dalam perikehidupan.ini
adalah pasal yang berisi tentang asas umum tentang pembangunan. Biasanya, yang
berisi asas itu bersifat faktual.
d. Norma berceritabiasa ditemukan dalam peraturan kebijaksanaan atau beleidsregel
e. Norma hukum bukan norma agama dan etika
f. Hindari duplikasi atau rangkap atau pengulangan
g. Pengecualian harus dinyatakan dalam kalimat tersendirimenghindari dobel kaidah
dalam satu norma.

V. RAGAM BAHASA
Bahasa perundang-undangan:

1. Kalimat lugas, tegas, jelas, dan mudah ditangkap pengertiannya, tidak berbelit-belit
dan objektifsetiap anggota harus bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
2. Hindari penggunaan kalimat yang menimbulkan salah tafsiran atau menimbulkan
pengertian yang berbedamisal: dengan tidak mengurangi ketentuan yang
tercantum dalam Pasal....

ASAS PEMBENTUKAN PERATURAN YANG BAIK (TERKAIT DENGAN BAHASA


PERATURAN)

1. kejelasan tujuan;
2. kelembagaan atau organ pembentuk yang tepat;
3. kesesuaian antara jenis dan materi muatan;
4. dapat dilaksanakan;
5. kedayagunaan dan kehasilgunaan;
6. kejelasan rumusan; dan
7. keterbukaan.

Variabel (saling terkait) dalam pembuatan peraturan:

1. BAHASA;
2. NORMA;
3. MATERI MUATAN.

ketiga variabel tersebut merupakan satu kesatuan yang akan menunjukkan jenis dan
macamperaturan perundangundangan yang diinginkan oleh perancang peraturan perundang-
undangan. Perancang harus berani mengatakan bahwa bahasa peraturan perundang-undangan
yang akan dituangkan dalamperaturan perundang-undangan harus mengandung norma.
Norma yang dibuat oleh perancang tersebut juga harus bisa menunjukkan bahwa norma yang
dibuat sesuai dengan materi muatan peraturan perundangundangan yang disusunnya.
Skema:
Operator Norma (norma yang sesungguhnya)
Wajib;
Harus;
Dapat; + KATA KERJA Akibat Hukum
Bebas; dikenakan
Dilarang; SANKSI

VI. MATERI MUATAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN (JENIS PERA-


TURAN)

Sangat terkait dengan jenis peraturan perundang-undangan


Jenis satu jenjang ke atas atau ke bawah tipis dan tumpang tindih
Jenjang semakin ke atas, semakin abstrak, begitu sebaliknya
Jenjang semakin ke bawah, mudah dilaksanakan, begitu sebaliknya.
Contoh:
- Setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya
(Pasal 28A UUDNRI Tahun 1945). Ini jenis kaidah perilaku perintah karena ini suatu
keharusan. Ia memiliki hak untuk hidup.
- Setiap orang berhak untuk hidup, mempertahankan hidup, dan meningkatkan taraf
kehidupannya (Pasal 9 UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM).
Ada penambahan kata meningkatkan taraf di Pasal 9 UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang
HAM , ini dikarenakan adanya pendelegasian dari undang-undang dasar1945 yang
memberikan keharusan, perintah untuk memberikan hak hidup dan di delegasikan dalam
bentuk undang-undang. Mengapa tidak Pasal 28A UUDNRI Tahun 1945 saja? Karena butuh
pengaturan lebih konkritnya, yaitu diaturlah di dalam undang-undang tentang HAM.
Apakah boleh dibatasi hak untuk hidup? Tidak boleh. Namun ada pidana mati yang
membatasi hak hidup seseorang. Apakah ini boleh? boleh dikecualikan namun harus
dicantumkan di dalam peraturan perundang-undangan lain. Contohnya pidana mati untuk
teroris, ada di undang-undang teroris.

Catatan:
Makna kata/istilah yang Harus segera dibakukan maknanya untuk istilah:
-tugas;
-fungsi;
-wewenang;
-berhak;
-tanggung jawab;
Konsistensi penggunaan istilah untuk pengandaian:
-dalam hal;
-jika;
-apabila;
-pada saat.