Anda di halaman 1dari 12

ASAS-ASAS UMUM PEMERINTAHAN YANG BAIK

Pendahuluan

Konsep Negara kesejahteraan menjadi landasan kedudukan dan fungsi pemerintah


(bestuursfunctie) dalam negara-negara modern. John Locke (1632-1704) dalam karya
ilmiahnya Two Treatises on Civil Government (1690) antara lain menyatakan perlunya
adanya pembagian kekuasaan atas kekuasaan pembentuk undang-undang (legislatif),
kekuasaan pelaksana undang-undang, dan kekuasaan federatif.[1] Berkaitan dengan unsur-
unsur negara hukum dengan mengutip Scheltema, Sidharta (004) menyebutkan :

1. Pengakuan, penghormatan dan perlindungan Hak Asasi Manusia yang berakar dalam
penghormatan atas martabat manusia (human dignity).
2. Asas kepastian hukum, negara hukum bertujuan untuk menjamin bahwa kepastian hukum
terwujud dalam masyarkat. Hukum bertujuan untuk mewujudkan kepastian dalam hubungan
antar manusia, yakni menjamin prediktabilitas, dan juga bertujuan untuk mencegah bahwa
hak yang terkuat yang berlaku.
3. Asas Similia similibus (Asas Persamaan), aturan hukum berlaku sama setiap orang, karena
harus dirumuskan secara umum dan abstrak.
4. Asas demokrasi, asas ini menuntut bahwa tiap orang harus mempunyai kesempatan yang
sama untuk mempengaruhi tindakan pemerintah. Asas ini diwujudkan lewat sistem
representasi (perwakilan rakyat) yang mempunyai peranan dalam pembentukan undang-
undang dalam kontrol terhadap pemerintah.
5. Pemerintah mengembang tugas untuk memajukan kepentingan warga negara, semua kegiatan
pemerintahan harus terarah kesejahteraan umum.[2]
Pergeseran konsep nachwachtersstaat (negara peronda) ke konsep welfare state
membawa pergeseran pada peranan dan aktivitas pemerintahan. Pada konsepsi
nachwachtersstaat berlaku perinsip staatsonthouding, yaitu pembatasan negara dan
pemerintahan dari kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Pemerintah bersifat pasif,
hanya sebagai penjaga ketertiban dan keamanan masyarakat. Sementara pada konsepsi
welfare state , pemerintah diberi kewajiban untuk mewujudkan bestuurszorg ( kesejahteraan
umum), yang untuk itu kepada pemerintah diberikan kewenangan untuk campur tangan
(staatsbemoeienis) dalam segala lapangan kehidupan masyarakat. Artinya pemerintah
dituntut untuk bertindak aktif di tengah dinamika kehidupan masyarakat.
Pada dasarnya setiap bentuk campur tangan pemerintah ini harus didasarkan pada
peraturan perundang-undangan yang berlaku sebagai perwujudan dari asas legalitas, yang
menjadi sendi utama negara hukum. Karena adanya kelemahan dan kekurangan dalam
perundang-undangan maka kepada pemerintah diberi kebebasan Freis Ermessen, yaitu
kemerdekaan pemerintah untuk dapat bertindak atas inisiatif sendiri dalam menyelesaikan
persoalan-persoalan sosial.[3]

Menurut Sjachrab Basah, pemerintah dalam menjalankan aktivitasnya terutama dalam


mewujudkan tujuan-tujuan negara (atau mengupayakan bertuurszorg) melalui pembangunan,
tidak berarti pemerintah dapat bertindak semena-mena, melainkan sikap tindak itu haruslah
dipertanggungjawabkan. Artinya meskipun intervensi pemerintah dalam kehidupan warga
negara merupakan kemestian dalam konsepsi welfare state, akan tetapi pertanggung jawaban
setiap tindakan pemerintah juga merupakan kemestian dalam negara hukum yang menjunjung
tinggi nilai-nilai kebenaran dan keadilan.[4] Salah satu tolak ukur untuk menilai apakah
tindakan pemerintah itu sejalan dengan negara hukum atau tidak adalah dengan
menggunakan asas-asas umum pemerintahan yang baik.

Pembahasan

Pemahaman tentang AAUPB tidak dapat dilepaskan dari konteks kesejarahan,


disamping dari segi kebahasan, karena asas ini muncul dari proses sejarah. AAUPB dapat
dipahami sebagai asas-asas umum yang dijadikan sebagai dasar dan tata cara dalam
penyelenggaraan pemerintahan yang baik, yang dengan cara demikian penyelenggaraan
pemerintahan itu menjadi baik, sopan, adil, dan terhormat,bebas dari kezaliman, pelanggaran
peraturan, tindakan penyalahgunaan wewenang dan tindakan sewenang-wenang.

Dalam perkembangannya, AAUPB memiliki arti penting dan fungsi sebagai berikut:

a. bagi Administrasi Negara, bermanfaat sebagai pedoman dalam melakukan penafsiran dan
penerapan terhadap ketentuan-ketentuan perundang-undangan yang bersifat sumir, samar,
atau tidak jelas.
b. Bagi warga masyarakat, sebagai pencari keadilan, AAUPL dapat dipergunakan sebagai dasar
gugatan sebagaimana disebutkan dalam pasal 53 UU No.5 Tahun 1986 tentang PTUN.
c. Bagi hakim TUN, dapat dipergunakan sebagai alat menguji dan membatalkan keputusan
yang dikeluarkan Badan atau Pejabat TUN.
d. Kecuali itu, AAUPB tersebut juga berguna bagi badan legislative dalam merancang suatu
undang-undang.[5]
Menurut Philipus M.Handjon, AAUPB harus dipandang sebagai norma-norma hukum
tidak tertulis, yang senantiasa harus ditaati oleh pemerintah, sebenarnya menyamakan
AAUPB dengan norma hukum tidak tertulis dapat menimbulkan salah paham, sebab dalam
konteks ilmu hukum telah dikenal bahwa antara asas dengan norma itu terdapat
perbedaan. Asas atau prinsip merupakan dasar pemikiran yang umum dan abstrak, ide atau
konsep, dan tidak mempunyai sanksi, sedangkan norma adalah aturan yang konkrit, pejabaran
dari ide, dan mempunyai sanksi.[6]

AAUPB merupakan konsep terbuka (open begrip). Sebagai konsep terbuka, ia akan
berkembang dan disesuaikan dengan ruang dan waktu di mana konsep ini berada.
Berdasarkan penelitian, Jazim Hamidi menemukan pengertian AAUPB sebagai berikut.

a. AAUPB merupakan nilai-nilai etik yang hidup dan berkembang dalam lingkungan Hukum
Administrasi Negara.
b. AAUPB berfungsi sebagai pegangan bagi pejabat administrasi negara dalam menjalankan
fungsinya, merupakan alat uji bagi hakim administrasi dalam menilai tindakan administrasi
negara (yang berwujud penetapan/beschikking), sebagai dasar pengajuan gugatan bagi pihak
penggugat.
c. Sebagian besar dari AAUPB masih merupakan asas-asas yang tidak tertulis, masih abstrak,
dan dapat digali dalam praktik kehidupa di masyarakat.
d. Sebagian asas yang lain sudah menjadi kaidah hukum tertulis dan terpencar dalam berbagai
peraturan hukum positif. Meskipun sebagian dari asas itu berubah menjadi kaidah hukum
tertulis, namun sifatnya tetap sebagai asas hukum.
Dalam hukum positif asas-asas umum pemerintahan yang baik terdapat dalam UU
No.32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan UU No.9 Tahun 2004 tentang
Perubahan UU No.5 1986 tentang PTUN. Dalam pasal 20 ayat (1) UU No.32 Tahun 2004
disebutkan bahwa penyelenggaraan pemerintahan berpedoman pada Asas Umum
Penyelenggaraan Negara yang terdiri atas : a) asas kepastian hukum; b) asas tertib
penyelenggaraan negara; c) asas kepentingan umum; d) asas keterbukaan; e) asas
proposionalitas; f) asas profesionalitas; g) asas akuntabilitas; h) asas efisien; dan i) asas
efektivitas.

Berkenaan dengan keputusan (beschikking), AAUPB terbagi dalam dua bagian, yaitu
asas yang bersifat formal atau prosedural dan asas yang bersifat materil atau substansial. Asas
yang bersifat formal berkenaan dengan prosedur yang harus dipenuhi dalam setiap
pembuatan keputusan, atau asas-asas yang berkaitan dengan cara-cara pengambilan
keputusan seperti asas kecermatan, yang menuntut pemerintah untuk mengambil keputusan
dengan persiapan yang cermat, dan asas permainan yang layak (fair play-beginsel).

Asas-asas yang bersifat material tampak pada isi dari keputusan pemerintah.
Termasuk kelompok asas yang bersifat material atau sustansial ini adalah asas kepastian
hukum, asas persamaan, asas larangan sewenang-wenang (willekeur), larangan
penyalahgunaan kewenangan (detournement de pouvoir).

Macam-macam AAUPB tersebut dengan mengacu kepada Kuntjoro Purbopranoto


yang menampilkan AAUPB sebagai berikut :

1. Asas kepastian hukum (princple of legal security);


2. Asas keseimbangan (princple of proportionality);
3. Asas kesamaan dalam mengambil keputusan (princple of equality);
4. Asas bertindak cermat (princple of carefulness);
5. Asas motivasi untuk setiap keputusan (princple of motivation);
6. Asas tidak mencampuradukkan kewenangan (princple of non misuse of comperence);
7. Asas permainan yang layak (princple of fair play);
8. Asas keadilan dan kewajaran (princple of reasonable or prohibition of arbitrariness);
9. Asas kepercayaan dan menanggapi pengharapan yang wajar (princple of meeting raised
expectation);
10. Asas meniadakan akibat suatu keputusan yang batal (princple of undoing the concequences
of an annuled decision);
11. Asas perlindungan atas pandangan atau cara hidup pribadi (princple of protecting the
personal may of life);
12. Asas kebijaksanaan (sapientia);
13. Asas penyelenggaraan kepentingan umum (princple of public service).
Berikut ini akan ditampilkan rincian dari masing-masing asas-asas umum
pemerintahan yang baik tersebut.

1. Asas Kepastian Hukum


Asas kepastian hukum memiliki dua aspek, yang satu lebih bersifat hukum materil,
yang lain bersifat formal. Aspek hukum materil terkait erat dengan asas kepercayaan. Demi
kepastian hukum, setiap keputusan yang telah dikeluarkan oleh pemerintah tidak untuk
dicabut kembali, sampai dibuktikan sebaliknya dalam proses peradilan. Adapun aspek yang
bersifat formal dari asas kepastian hukum membawa serta bahwa keputusan yang
memberatkan dan ketentuan yang terkait pada keputusan-keputusan yang menguntungkan,
harus disusun dengan kata-kata yang jelas.

Asas ini berkaitan dengan prinsip dalam Hukum Administrasi Negara, yaitu asas het
vermoeden van rechtmatigheid atau presumtio justea causa, yang berarti setiap keputusan
badan atau pejabat tata usaha negara yang dikeluarkan dianggap benar menurut hukum,
selama belum dibuktikan sebaliknya atau dinyatakan sebagai keputusan yang bertentangan
dengan hukum oleh hakim administrasi.

2. Asas keseimbangan
Asas ini menghendaki adanya keseimbangan antara hukuman jabatan dan kelalaian
atau kealpaan seorang pegawai. Di Indonesia asas keseimbangan ini terdapat contoh dalam
hukum positif yang berisi kriteria pelanggaran dan penerapan sanksinya, yaitu sebagaimana
terdapat dalam pasal 6 PP No.30 tahun 1980.[7]

3. Asas Kesamaan dalam Mengambil Keputusan


Asas ini menghendaki agar badan pemerintahan mengambil tindakan yang sama
(dalam arti tidak bertentangan) atas kasus-kasus yang faktanya sama. Menurut Philipus M.
Hadjon, asas ini memaksa pemerintah untuk melaksanakan kebijakan. Bila pemerintah
dihadapkan pada tugas baru yang dalam rangka itu harus mengambil banyak sekali keputusan
tata usaha negara, maka pemerintah memerlukan aturan-aturan atau pedoman-pedoman.

Karena tidak ada kasus yang mutlak sama dengan kasus lain kendatipun tampak
serupa, maka ketika pemerintah menghadapi berbagai kasus yang tampaknya sama itu, ia
harus bertindak cermat untuk mempertimbangkan titik-titik persamaan. Asas ini terkesan
kabur bila dikaitkan dengan pendapat Van Vollenhoven, yang menyatakan bahwa sifat
tindakan pemerintah itu kasuistis, artinya suatu peristiwa tertentu tidak berlaku tindakan yang
sama terhadap peristiwa lainnya.

4. Asas Bertindak Cermat atau Asas Kecermatan


Asas ini menghendaki agar pemerintah atau administrasi bertindak cermat dalam
melakukan berbagai aktivitas penyelenggaraan tugas-tugas pemerintahan, sehingga tidak
menimbulkan kerugian bagi warga negara. Asas kecermatan mensyaratkan agar badan
pemerintahan sebelum mengambil keputusan, meniliti semua fakta yang relevan dan
memasukkan pula semua kepentingan yang relevan dalam pertimbangannya. Ada beberapa
putusan PTUN yang berkaitan dengan asas kecermatan.
1) putusan PTUN Medan No.70/G/1992/PTUN-Medan mengenai gugatan para penggugat
terhadap surat pembebasan tugas oleh Kepala Kantor Urusan Agama. Dalam fundamentum
petendinya disebutkan: bahwa tergugat tidak meneliti dengan seksama tentang rekayasa
pengaduan jemaah Masjid B dan tidak meniliti tentang hasil pengaduan tersebut.
2) Putusan PTUN Medan No.65/G/1992/PTUN-Medan mengenai gugatan seorang
purnawirawan ABRI berhadapan dengan Kepala Kantor Badan Pertanahan Kabupaten.
Penggugat mendalilkan bahwa tanpa sepengetahuan penggugat, tergugat telah mengeluarkan
sertifikat atas nama AWN, padahal tanah itu milik penggugat.
3) Putusan PTUN Palembang No.16/PTUN/G/PLG/1991 mengenai gugatan seorang pegawai
Universitas Bengkulu terhadap Rektor yang telah memutasikan dirinya dari jabatan tanpa
dibuktikan kesalahannya dulu. Tindakan Rektor dipersalahkan karena dalam keputusannnya
melanggar asas kecermatan formal.

5. Asas Motivasi untuk Setiap Keputusan


Asas ini menghendaki agar setiap keputusan badan-badan pemerintahan harus
mempunyai motivasi atau alasan yang cukup sebagai dasar dalam menerbitkan keputusan dan
sedapat mungkin alasan atau motivasi itu tercantum dalam keputusan. Menurut SF.Marbun,
setiap keputusan badan atau pejabat tata usaha negara yang dikeluarkan harus didasari alasan
dan alasannya harus jelas,terang, benar, objektif, dan adil.

Motivasi perlu dimasukkan agar setiap orang dapat dengan mudah mengetahui alasan
atau pertimbangan dikeluarkannya keputusan tersebut, sehingga mereka yang tidak puas
dapat mengajukan keberatan atau banding. Asas pemberian alasan dapat dibedakan dalam
tiga subvarian berikut ini.[8]

a. syarat bahwa suatu keputusan harus diberi alasan


Pemerintah harus dapat memberikan alasan mengapa ia mengambil keputusan tertentu. Yang
berkepentingan berhak mengetahui alasan-alasannya. Agar perlindungan Hukum
Administrasi dapat berfungsi dengan baik, hak memperoleh alasan-alasan dari suatu
keputusan sangatlah penting. Sebab yang berkepentingan tidak dapat menyusun argumentasi
yang baik dalam permohonan banding atau surat keberatan, bila ia tidak mengetahui dasar-
dasar apa yang dipakai untuk keputusan yang merugikannya.
b. Keputusan harus memiliki dasar fakta yang teguh
Fakta yang menjadi titik tolak dari keputusan harus benar. Bila ternyata bahwa fakta-fakta
pokok berbeda dari apa yang dikemukan atau diterima oleh badan pemerintah, maka dasar
fakta yang teguh dari alasan-alasan tidak ada.
c. Pemberian alasan harus cukup dapat mendukung
Pemberian alasan harus masuk akal juga secara keseluruhan harus sesuai dan memiliki
kekuatan yang meyakinkan. Karena pada umumnya hampir semua cacat dalam pemberian
alasan.

6. Asas Tidak Mencampuradukkan Kewenangan


Kewenangan pemerintah secara umum mencakup tiga hal; kewenangan dari segi
material (bevoegheid ratione materiale), kewenangan dari segi waktu (bevoegheid ratione
loci), dan kewenangan dari segi waktu (bevoegheid ratione temporis). Seorang pejabat
pemerintah memiliki wewenang yang sudah ditentukan dalam peraturan perundang-undangan
baik dari segi materil, wilayah, maupun waktu.

Badan/pejabat TUN pembuatnya tidak memiliki wetgevende bevoegdheid, tetapi


secara tidak langsung mengikat warga masyarakat. Empat elemen utama dari beleidsregel
(van Kreveld) :[9]

1) Memuat aturan umum


2) Berisi penggunaan kewenangan bebas pemerintahan mengenai rakyat.
3) Tidak didasarkan secara tegas dari perundang-undangan,tetapi secara implisit mengandung
kewenangan pemerintahan.
4) Terikat pada AAUPB
Di dalam UU No.5 Tahun 1986 terdapat dua jenis penyimpangan pengguna
wewenang, yaitu penyalahgunaan wewenang (detournament de pouvoir) ddan sewenang-
wenang (willekeur), yang disebutkan dalam pasal 53 ayat (2) huruf b dan c yang berbunyi :

b) Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara pada waktu mengeluarkan keputusan sebagaimana
dimaksud ayat (1) telah menggunakan wewenangnya untuk tujuan lain dari maksud
diberikannya wewenang tersebut;
c) Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara pada waktu mengeluarkan atau tidak mengeluarkan
keputusan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) setelah mempertimbangkan semua
kepentingan yang tersangkut dengan keputusan itu seharus- nya tidak sampai pada
pengambilan atau tidak pengambilan keputusan tersebut.
7. Asas Permainan yang Layak (fair play)
Asas ini menghendaki agar warga negara diberi kesempatan yang seluas-luasnya
untuk mencari kebenaran dan keadilan serta diberi kesempatan untuk membela diri dengan
memberikan argumentasi sebelum dijatuhkannya putusan administrasi. Asas ini penting
dalam peradilan administrasi negara karena terdapat perbedaan kedudukan antara pihak
penggugat dan tergugat.

Seiring dengan perkembangan dan tuntutan negara hukum demokratis, keberadaan


asas keterbukaan tidak dapat diabaikan. Asas keterbukaan ini mempunyai fungsi-fungsi
penting, yaitu : pertama, fungsi partisipasi; keterbukaan sebagai alat bagi warga untuk ikut
serta dalam proses pemerintah secara mandiri; kedua, fungsi pertanggung jawaban umum dan
pengawasan terbuka; ketiga, fungsi kepastian hukum; keempat, fungsi hak dasar.[10]
Meskipun asas ini demikian penting, namun belum mendapat kajian serius dalam berbagai
literatur Hukum Administrasi Negara, yang banyak tercantum adalah asas permainan yang
layak.

8. Asas Keadilan dan Kewajaran


Asas ini menghendaki agar setiap tindakan badan atau pejabat administrasi negara
selalu memperhatikan aspek keadilan dan kewajaran. Asas keadilan menuntut tindakan secara
proposional, sesuai, seimbang, dan selaras dengan hak setiap orang. Karena itu setiap pejabat
pemerintah dalam melakukan tindakannya harus selalu memperhatikan aspek keadilan ini.

9. Asas Kepercayaan dan Menanggapi Pengharapan yang Wajar


Asas ini menghendaki agar setiap tindakan yang dilakukan oleh pemerintah harus
menimbulkan harapan-harapan bagi warga negara. Oleh karena itu, aparat pemerintah harus
memperhatikan asas ini sehingga jika suatu harapan sudah terlanjur diberikan kepada warga
negara tidak boleh ditarik kembali meskipun tidak menguntungkan bagi pemerintah.

Seorang pegawai negeri yang memakai mobil pribadinya untuk keperluan dinas,
misalnya, dapat (wajar) untuk berharap mendapatkan kompensasi biaya pembelian bensin
dan lain-lain. Pada tanggal 13 januari 1959 Central Raad van Beroep di Nederland
memutuskan perkara yang posisi kasusnya sebagi berikut: seorang pegawai negeri yang
memakai mobil pribadinya untuk keperluan dinas meminta uang pengganti untuk pemakaian
mobilnya itu, ia memperoleh uang pengganti yang dimintanya, akan tetapi kemudian aturan-
aturan kepegawaiannya tidak memuat ketentuan yang memperbolehkan pemberian uang
pengganti kepada pegawai negeri atas biaya yang dikeluarkannya sehingga keputusan
pemberian uang pengganti tersebut ditarik kembali. Centrale Raad van Beroep menyatakan
keputusan (penarikan kembali) dari instansi itu batal sebab penarikan kembali keputusan itu
bertentangan dengan harapan yang ditimbulkan secara wajar.[11]

10. Asas Meniadakan Akibat suatu Keputusan yang Batal


Asas ini menghendaki agar jika terjadi pembatalan atas satu keputusan maka akibat
dari keputusan yang dibatalkan itu harus dihilangkan sehigga yang bersangkutan (terkena)
harus diberikan ganti rugi atau rehabilitasi. Misalnya satu instansi membuat keputusan
memberhentikan seorang pegawainya. Ternyata keputusan memberhentikan pegawai itu
kemudaian dibatalkan oleh lembaga peradilan administrasi (bidang kepegawaian). Maka
semua akibat dari keputusan yang kemudian dibatalkan itu harus dihilangkan sehingga
instansi yang membuat keputusan pemberhentian itu bukan saja harus menerima pegawai
tersebut untuk bekerja lagi, tetapi juga harus mengganti kerugian akibat keputusan yang
pernah dibuatnya.[12]

11. Asas Perlindungan Atas Pandangan atau Cara Hidup Pribadi


Asas ini menghendaki agar pemerintah melindungi hak atas kehidupan pribadi setiap
pegawai negeri dan juga tentunya hak kehidupan pribadi setiap warga negara, sebagai
konsekuensi negara hukum demokratis yang menjunjung tinggi dan melindungi hak asasi
setiap warga negara. Contoh mengenai penerapan asas ini terjadi di Belanda. Seorang
pegawai yang telah berkeluarga mengadakan hubungan kelamin dengan seorang sekretaris
wanita. Atas kejadian ini badan pemerintah mengambil tindakan disiplin, tetapi kemudian
dibatalkan oleh Central for Appel dengan alasan bahwa seorang pegawai mempunyai hak
untuk hidup sesuai dengan pandangan hidupnya.

Bagi bangsa Indonesia tentunya penerpan asas ini harus pula dikaitkan dengan sistem
keyakinan, kesusilaan, dan norma-norma yang dijunjung tinggi oleh masyarakat, atau
sebagaimana disebutkan Kuntjoro Purbopranoto, asas tersebut harus disesuaikan dengan
pokok-pokok Pancasila dan UUD1945.

12. Asas Kebijaksanaan


Asas ini menghendaki agar pemerintah dalam melaksanakan tugas dan pekerjaannya
diberi kebebasan dan keleluasaan untuk menerapkan kebijaksanaan tanpa harus terpaku pada
peraturan perundang-undangan formal. Karena peraturan perundang-undangan formal atau
hukum tertulis itu selalu membawa cacat bawaan yang berupa tidak fleksibel dan tidak dapat
menampung semua persoalan serta cepat ketinggalan zaman, sementara perkembangan
masyarakat itu bergerak dengan cepat dan dinamis.[13]
Di Indonesia asas kebijaksanaan ini sejalan dengan hikmah kebijaksanaan, yang
menurut Notohamidjojo seperti dikutip Kuntjoro Purbopranoto, berimplikasikan tiga unsur,
yaitu pertama, pengetahuan yang tandas dan analisis situasi yang dihadapi; kedua, rancangan
penyelesaian atas dasar staatsidee ataupun rechtsidee yang disetujui bersama, yaitu
Pancasila; ketiga, mewujudkan rancangan penyelesaian untuk mengatasi situasi dengan
tindakan perbuatan dan penjelasan yang tepat, yang dituntut oleh situasi yang dihadapi.

13. Asas Penyelenggaraan Kepentingan Umum


Asas ini menghendaki agar pemerintah dalam melaksanakan tugasnya selalu
mengutamakan kepentingan umum, yakni kepentingan yang mencakup semua aspek
kehidupan orang banyak. Asas ini merupakan konsekuensi dianutnya konsepsi negara hukum
modern (welfare state), yang menempatkan pemerintah selaku pihak yang bertanggung jawab
untuk mewujudkan bestuurszorg (kesejahteraan umum) warga negaranya.Penyelenggaraan
kepentingan umum dapat berwujud hal-hal sebagai berikut :

a) Memelihara kepentingan umum yang khususnya mengenai kepentingan negara. Contohnya


tugas pertanahan dan keamanan.
b) Memelihara kepentingan umum dalam arti kepentingan bersama dari warga negara yang
tidak dapat dipelihara oleh warga negara sendiri. Contohnya persedian sandang pangan,
perumahan, kesejahteraan, dan lain-lain.
c) Memelihara kepentingan bersama yang tidak seluruhnya dapat dilakukan oleh para warga
negara sendiri. Contohnya pendidikan dan pengajaran, kesehatan, dan lain-lain.
d) Memelihara kepentingan dari warga negara perseorangan yang tidak seluruhnya dapat
diselenggarakan oleh warga negara sendiri, dalam bentuk bantuan negara. Adakalanya negara
memelihara seluruh kepentingan perseorangan tersebut. Contohnya pemeliharaan fakit
miskin, anak yatim, anak cacat, dan lain-lain.
e) Memelihara ketertiban, keamanan, dan kemakmuran setempat. Contohnya peraturan lalu
lintas, pembangunan, perumahan, dan lain-lain.

Penutup

Diatas telah disebutkan bahwa AAUPB merupakan konsep terbuka dan lahir dari
proses sejarah, karena itu dalam perkembangannya akan muncul perbedaan-perbedaan,
termasuk perbedaan dengan asas yang lahir dan ada di negara asalnya, Belanda. AAUPB
merupakan konsep terbuka (open begrip). Sebagai konsep terbuka, ia akan berkembang dan
disesuaikan dengan ruang dan waktu di mana konsep ini berada.
Menurut Philipus M.Handjon, AAUPB harus dipandang sebagai norma-norma hukum
tidak tertulis, yang senantiasa harus ditaati oleh pemerintah, sebenarnya menyamakan
AAUPB dengan norma hukum tidak tertulis dapat menimbulkan salah paham, sebab dalam
konteks ilmu hukum telah dikenal bahwa antara asas dengan norma itu terdapat
perbedaan. Asas atau prinsip merupakan dasar pemikiran yang umum dan abstrak, ide atau
konsep, dan tidak mempunyai sanksi, sedangkan norma adalah aturan yang konkrit, pejabaran
dari ide, dan mempunyai sanksi.

Dalam AAUPB teradapat 13 asas, seperti yang dijelaskan diatas. Bahwa dalam
pembuatan dan penerbitan keputusan harus memperhatikan syarat materil dan formal agar
keputusan tersebut memiliki validitas yuridis. Keberadaan dan fungsi AAPB dalam kaitannya
dengan dimensi normatif Hukum Administrasi itu tidak hanya berkaitan dengan pembuatan
dan penerbitan keputusan, tetapi berkenaan dengan semua tindakan pemerintahan.

Dalam suatu negara hukum, sungguh tidak memadai jika tindakan pemerintahan itu
semata-mata mendasarkan pada peraturan perundang-undangan atau hukum tertulis
(ongeschreven recht) yang ada dalam format wetmatigheid van bestuur. Penyelenggaraan
pemerintahan yang bersih, transparan, dan berwibawa menjadi sangat mungkin dengan ditaati
dan dipatuhinya asas-asas umum pemerintahan yang baik.

Daftar Pustaka

1. Tjandra, W. Riawan, 2008, Hukum Administrasi Negara, Universitas Atma Jaya


Yogyakarta, Yogyakarta.
2. Ridwan, 2009, Tiga Dimensi Hukum Administrasi Dan Peradilan Administrasi, FH UII
Press, Yogyakarta.
3. Ridwan HR, 2011, Hukum Administrasi Negara, Rajawali Press, Jakarta.
4. Ridwan HR, 2003, Hukum Administrasi Negara, UII Press, Yogyakarta.

[1] W. Riawan Tjandra, Hukum Administrasi Negara, hlm 1.


[2] Ibid , hlm 18.
[3] Ridwan HR, Hukum Administrasi Negara, hlm 179.
[4] Ibid, hlm 230.
[5] Ridwan, tiga dimensi hukum administrasi dan peradilan administrasi, hlm 56.
[6] Ridwan HR, Hukum Administrasi Negara, hlm 237.
[7] Ibid, hlm 247.
[8] Ibid , hlm 251
[9] W.Riawan Tjandra, Instrumen-instrumen Pemerintahan, hlm 38
[10] Ibid, hlm 256
[11] SF.Marbun, pokok-pokok Hukum Administrasi Negara, hlm 64
[12] ibid
[13] Ridwan HR, Hukum Administrasi Negara, hlm 262