Anda di halaman 1dari 5

Permasalahan Dan Strategi Percepatan Pencapaian Target SDGs

Di Goals-16 Tentang Perdamaian Hukum Yang Berkeadilan


Di Provinsi Jawa Tengah.

Oleh : Sri Nur Hari Susanto

Perdamaian hukum dalam konteks ini adalah keberlakukan hukum yang tidak bisa
dilakukan dengan cara tawar menawar oleh seseorang, kelompok atau golongan tertentu,
tetapi mesti diberlakukan secara sama. Perdamaian harus menjadi wujud hukum yang
berkeadilan. Tiada perdamaian tanpa keadilan, sebab perdamaian adalah buah saling
menerima. Perdamaian atau harmoni dalam kehidupan tidak pernah terjadi dengan
sendirinya, melainkan harus diusahakan secara sadar, sengaja dan serius.
Hubungan antara hukum dan keadilan sudah sejak lama menjadi pembahasan mulai
dari kajian yang bersifat filosofis hingga praktis. Tema ini pula yang melahirkan berbagai
aliran pemikiran hukum yang berbeda-beda. Sesungguhnya tidak ada satu aliran pun yang
menolak bahwa hukum tak terpisahkan dengan keadilan. Perbedaannya hanya kapan dan apa
ukuran keadilan. Pandangan positivistik tidak menolak bahwa hukum sebagai salah satu
instrumen sosial. Dengan sendirinya diakui bahwa hukum adalah alat atau media untuk
mencapai dan mewujudkan sesuatu. Yang hendak dicapai adalah keadilan sebagai dasar
untuk mewujudkan ketertiban sosial berdasarkan nilai-nilai tertentu yang hidup dalam
masyarakat itu sendiri.
Keadilan menjadi dasar ketertiban sosial karena di dalam keadilan terdapat
perlindungan terhadap kepentingan individu dan masyarakat sekaligus. Namun, kaum
positivis berpandangan bahwa persoalan hukum dan keadilan sudah selesai ketika hukum
dalam arti peraturan perundang-undangan atau putusan hakim telah selesai dibuat. Keadilan
bukan bagian dari persoalan hukum, melainkan persoalan pembuatan hukum.
Keadilan memang merupakan konsepsi yang abstrak. Namun demikian di dalam
konsep keadilan terkandung makna perlindungan hak, persamaan derajat dan kedudukan di
hadapan hukum, serta asas proporsionalitas antara kepentingan individu dan kepentingan
sosial. Sifat abstrak dari keadilan adalah karena keadilan tidak selalu dapat dilahirkan dari
rasionalitas, tetapi juga ditentukan oleh atmosfir sosial yang dipengaruhi oleh tata nilai dan
norma lain dalam masyarakat. Oleh karena itu keadilan juga memiliki sifat dinamis yang
kadang-kadang tidak dapat diwadahi dalam hukum positif.
Kepastian hukum sebagai salah satu tujuan hukum dapat dikatakan sebagai bagian dari
upaya mewujudkan keadilan. Bentuk nyata dari kepastian hukum adalah pelaksanaan atau
penegakan hukum terhadap suatu tindakan tanpa memandang siapa yang melakukan. Dengan
adanya kepastian hukum setiap orang dapat memperkirakakan apa yang akan dialami jika
melakukan tindakan hukum tertentu. Kepastian diperlukan untuk mewujudkan prinsip
persamaan dihadapan hukum tanpa diskriminasi.
Namun demikian antara keadilan dan kepastian hukum dapat saja terjadi gesekan.
Kepastian hukum yang menghendaki persamaan di hadapan hukum tentu lebih cenderung
menghendaki hukum yang statis. Apa yang dikatakan oleh aturan hukum harus dilaksanakan
untuk semua kasus yang terjadi. Tidak demikian halnya dengan keadilan yang memiliki sifat
dinamis sehingga penerapan hukum harus selalu melihat konteks peristiwa dan masyarakat di
mana peristiwa itu terjadi.

Naskah disampaikan pada FGD Pembangunan Pilar Hukum Dan Tata Kelola Untuk Pencapaian Target SDGs
Di Goals -16 Tentang Perdamaian, Hukum Berkeadilan & Kelembagaan Yang Tangguh Di Provinsi Jawa
Tengah , Bappeda Provinsi Jawa Tengah , 13 Juli 2017.

Pengajar Hukum Administrasi Negara FH Undip

1
Di sisi lain, hukum juga dapat digunakan untuk memperoleh atau mencapai manfaat
tertentu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Di samping untuk menegakkan keadilan,
hukum dapat digunakan sebagai instrumen yang mengarahkan perilaku warga negara dan
pelaksanaan penyelenggaraan negara untuk mencapai kondisi tertentu sebagai tujuan
bersama. Hukum difungsikan as a tool of social engineering. Dalam konteks hukum nasional,
hukum tentu harus bermanfaat bagi pencapaian tujuan nasional, yaitu melindungi segenap
bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan
kehidupan bangsa, dan mewujudkan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian
abadi, dan keadilan sosial.
Seorang juris, termasuk aparat hukum, harus percaya bahwa hukum yang ada telah
dibuat dengan niatan baik untuk menegakkan keadilan. Hukum adalah bentuk obyektif dari
keadilan yang semula bersifat subyektif. Karena itu, hukum positif sudah pasti adil. Dengan
menegakkan hukum positif berarti menegakkan keadilan yang obyektif. Keadilan di luar
hukum positif dan putusan pengadilan adalah keadilan subyektif yang bertentangan dengan
karakter keilmuan hukum.
Di mana ada masyarakat di situ ada hukum (ubi societas ibi ius). Pernyataan ini tidak
hanya bermakna bahwa keberadaan hukum bersamaan dengan keberadaan masyarakat, tetapi
juga menunjukkan bahwa hukum ada sebagai instrumen untuk membentuk kehidupan
bermasyarakat. Karena itu, orientasi dari hukum adalah masyarakat itu sendiri. Keadilan yang
hendak dicapai dan diwujudkan adalah keadilan masyarakat. Karena hukum adalah instrumen
sosial, hukum tidak dibuat untuk hukum itu sendiri. Ini mengandung konsekuensi bahwa
penegakan hukum tidak semata-mata ditujukan agar aturan hukum terlaksana.
Pernyataan ini juga berarti bahwa hukum tidak dibuat untuk para yuris dan aparat
penegak hukum, melainkan untuk manusia dan masyarakat. Karena itu, yang semestinya
menjadi ukuran keadilan dalam penegakan hukum juga bukan aturan hukum tertulis dan
pendapat ahli hukum, melainkan kesesuaiannya dengan nilai kemanusiaan dan pendapat
umum masyarakat.
Pandangan bahwa keadilan yang obyektif ada di dalam aturan hukum tertulis
mengandung tiga kelemahan mendasar, yaitu :
Pertama, pembentukan aturan hukum tertulis tidak selalu berada pada ruang dan waktu
ideal yang memungkinkan keadilan menjadi pertimbangan utama dalam perumusan norma.
Apalagi jika hukum dipahami sebagai produk politik, artinya produk dari kontestasi berbagai
kepentingan masyarakat di mana kelompok yang memiliki kekuatan lebih memiliki potensi
yang lebih besar untuk mempengaruhi hukum demi melindungi kepentingannya.
Kedua, aturan hukum tertulis memiliki keterbatasan dalam menjangkau berbagai
variasi kasus. Keterbatasan ini lahir karena keterbatasan pembentuk hukum dalam
memperkirakan peristiwa-peristiwa yang akan diatur dengan hukum yang dibuat.
Keterbatasan juga melekat pada aturan hukum tertulis karena keharusan rumusannya yang
umum dan abstrak. Substansi keadilan yang dipercaya bersifat obyektif dalam aturan hukum
tertulis belum tentu relevan dengan perkembangan peristiwa yang sebelumnya tidak
terpikirkan oleh pembentuk hukum.
Ketiga, keadilan bukanlah sesuatu yang bersifat statis. Pemikiran, apalagi rasa
keadilan, juga mengalami perkembangan dan bahkan pergeseran seiring perkembangan nilai
dan perikehidupan masyarakat. Ini sesungguhnya juga diakui oleh kaum positivis dengan
menyatakan bahwa keadilan bersifat subyektif. Subyektivitas dalam hal ini tidak berarti
berbeda-beda antara satu manusia dan manusia yang lain, melainkan berkembang sesuai
zamannya. Keadilan obyektif masyarakat tetap ada sama halnya dengan adanya nilai bersama
(common value) yang dapat ditangkap oleh nurani dan akal pikiran manusia. Dalam
penegakan hukum, ketiga kelemahan tersebut mengakibatkan hukum berjarak dengan
masyarakatnya.

2
Obyektivitas keadilan hukum bisa jadi berseberangan dengan obyektivitas keadilan
masyarakat. Karena itu, dalam penegakannya hukum harus dinilai dengan keadilan
masyarakat. Ini tidak berarti keberadaan aturan hukum tertulis tidak diperlukan lagi. Hukum
tertulis tetap diperlukan sebagai pedoman perilaku masyarakat dan pedoman para penegak
hukum.

Syarat Mewujudkan Perdamaian Hukum :

a. Membangun kembali Rule of Law (Supremasi Hukum), sekarang ini banyak masyarakat
yang melaksanakan hukum dengan tangan mereka sendiri. Hal ini disebabkan oleh karena
masyarakat tidak percaya terhadap kemampuan pemerintah untukmenegakkan hukum.
Dengan demikian diperlukan keseriusan pemerintah (dalam hal ini aparat penegak hukum)
dalam mewujudkan supremasi hukum tanpa melihat status seseorang, apakah ia seorang
pejabat, ulama maupun rakyat kecil yang melanggar hukum.
b. Distribusi ekonomi yang merata dan penciptaan iklim politik yang sehat. Dalam bidang
ekonomi, realitas kesenjanagan yang mencolok antara yang kaya dan miskin atau
penguasa dan rakyat, telah menyuburkan kebencian dan dendam sosial yang sewaktu-
waktu merebak menjadi amuk massa yang sulit dihindarkan. Oleh karena itu,
pembangunan ekonomi tidak boleh terpusat pada kelompok atau golongan tertentu, tetapi
harus menyebar dan merata berdasarkan prinsip ekonomi yang berkeadilan, sehingga tidak
memunculkan kesenjangan sosial ekonomi yang makin menajam dan hanya akan
mengganggu keseimbangan hidup rakyat. Dalam bidang politik, sakralisasi kekuasaan
hingga kini masih sangat kuat, seperti terlihat pada pandangan sebagaian rakyat kecil
terhadap pemimpinnya sebagai personifikasi orang suci yang dipandang tidak pernah
salah1. Oleh karena itu perlu adanya upaya desakralisasi kekuasaan, maka kepemimpinan
politik akan berjalan melalui proses seleksi yang terbuka, wajar, alamiah, dan tidak
direkayasa. Kepemimpinan politik berjalan sesuai proses interaksi dan komunikasi sosial
yang jujur, beradab, dan lugas. Proses rasionalisasi kekuasaan diperlukan agar kekuasaan
dapat diperebutkan dan dikelola secara terbuka dan rasional. Rakyat sebagai pemegang
kekuasaan tertinggi dapat mengontrolnya secara terbuka dan rasional.
c. Membangun masyarakat yang demokratis dengan budaya yang demokratis 2 .
Otoriterianisme yang identik dengan sikap represifnya telah merusak hubungan
masyarakat dengan penguasa selama ini. Bahkan hal tersebut telah mendorong tumbuh
suburnya budaya kekerasan dalam masyarakat. Membangun masyarakat yang demokratis
adalah membangun masyarakat tanpa diskkriminasi, karena diskriminasi telah menjadi
lahan yang sangat subur untuk menciptakan eskalasi konflik dalam masyarakat.
d. Kesalehan sosial, diharapkan para tokoh agama, elit pemerintah dan elit politik harus
menjadi teladan bagi masyarakat luas dengan berperan aktif dalam meletakkan landasan
moral, etis, dan spiritual, serta pengalaman peningkatan agama baik dalam kehidupan
pribadi maupun sosial.

1
Musa Asyarie, Menggagas Revolusi Kebudayaan Tanpa Kekerasan, (Yogyakarta : LESFI, 2002), hlm.36.
2
Frans Magnis Suseno, Faktor-Faktor Yang mendasari Terjadinya Konflik Antarkelompok Etnis dan agama di
Indonesia, dalam Konflik Komunal di Indonesia Saat Ini, (Jakarta : INIS dan Pusat Bahasa dan Budaya, 2003),
hlm. 126.

3
e. Komunikasi antar budaya (intercultural communication3 ), yang meliputi interaksi antar
orang berdasarkan latar belakang budaya yang berbeda-beda (misal antar suku bangsa,
etnik, ras, dan kelas sosial). Komunikasi dalam bentuk ini menjadi prasyarat untuk
menekan munculnya konflik etnis dan ras yang berbeda4. Sebab dalam masyarakat yang
majemuk, konflik dalam bentuk-bentuk seperti ini bukan tidak mungkin tidak terjadi, oleh
karena itu dibutuhkan komunikasi antar budaya (intercultural communication).
Di dalam berbagai dokumen dan tulisan yang berkaitan dengan tata kelola
(pemerintahan) disebutkan bahwa ciri penting tata kelola (pemerintahan) meliputi hal-hal
sebagai berikut :
a. Memperhatikan kepentingan kaum paling miskin dan lemah (khususnya, berkaitan dengan
keputusan untuk mengalokasikan sumber daya pembangunan).
b. Prioritas politik, sosial dan ekonomi dibangun diatas dasar konsensus.
c. Mengikutsertakan semua kepentingan di dalam merencanakan dan merumuskan suatu
kebijakan.
d. Transparansi dan pertanggungan jawab menjadi bagian inheren di dalam seluruh sikap dan
perilaku kekuasaannya;
e. Birokrasi pemerintahan dilakukan dengan efektif, efisien dan adil;
f. Supremasi hukum diletakan dan dilakukan secara konsisten.
Gagasan Tata Kelola yang didefinisikan sebagai tata hubungan kekuasaan dalam
pengelolaan dan distribusi sumber daya. Di dalam Tata Kelola itu ada keberpihakan pada
kepentingan publik dan kepentingan kalangan yang dimarjinalkan. Ada 2 (dua) prinsip utama
di dalam suatu Tata Kelola, yaitu: prinsip perspektif dan prinsip mekanisme formal.
Prinsip perspektif meliputi: orientasi pada kepentingan masyarakat, keberpihakan pada
masyarakat yang lemah, keharmonisan, kepemimpinan dan martabat manusia. Sementara di
dalam prinsip mekanisme formal meliputi : partisipasi, keadilan, persamaan hak, transparansi,
supremasi hukum dan akuntabilitas. Dua hal penting di dalam prinsip mekanisme formal,
yaitu: indikator aturan main dan pemberdayaan. Di dalam mewujudkan Tata Kelola kedua
indikator itu harus dilakukan secara bersamaan. Perubahan aturan main agar berpihak dan
mengakomodasi kepentingan publik dan kelompok marjinal harus disertai dengan
pemberdayaan dari daulat rakyat dan kalangan marjinal.
Ada 10 (sepuluh) prinsip dalam menegakkan tata kelola pemerintahan yang demokratis
dan berkelanjutan yaitu sebagai berikut :

1. Partisipasi, mendorong setiap warga untuk menggunakan hak dalam menyampaikan


pendapat dalam proses pengambilan keputusan yang menyangkut kepentingan masyarakat,
baik, secara langsung maupun tidak langsung;

2. Penegakan Hukum, mewujudkan adanya penegakan hukum yang adil bagi semua pihak
tanpa pengecualian, menjunjung tinggi HAM dan memperhatikan nilai-nilai yang hidup di
dalam masyarakat;

3. Transparansi, menciptakan kepercayaan timbal balik antara pemerintah dengan masyarakat


melalui penyediaan informasi dan menjamin kemudahan didalam memperoleh informasi
yang akurat dan memadai;

3
Lary Samovar & Richard E. Porter, Intercultural Communication : A Reader, (Belmont CA : Wadsworth
Publishing Company, 2007), hlm. 25.
4
Alo Liliweri, Makna Budaya Dalam Komunikasi Antar Budaya, (Yogyakarta : Lkis, 2003), hlm. 12.

4
4. Kesetaraan, memberi peluang yang sama bagi setiap anggota masyarakat untuk
meningkatkan kesehahteraannya;

5. Daya Tanggap, meningkatkan kepekaan para penyelenggara pemerintahan terhadap


aspirasi masyarakat tanpa terkecuali;

6. Wawasan Kedepan, membangun pemerintah berdasarkan visi dan strategi yang jelas
dalam mengikutsertakan warga didalam seluruh proses pembangunan sehingga warga
merasa memiliki dan ikut bertanggungjawab terhadap kemajuan daerahnya;

7. Akuntabilitas Meningkatkan akuntabilitas para pengambil keputusan dalam segala bidang


yang menyangkut kepentingan masyarakat luas;

8. Pengawasan, meningkatkan upaya pengawasan terhadap penyelenggaraan pemerintahan


dan pembangunan dengan mengusahakan keterlibatan swasta dan masyarakat luas;

9. Efisiensi dan Efektivitas, menjamin tersedianya pelayanan kepada masyarakat dan


menggunakan sumber daya yang tersedia secara optimal dan bertanggung jawab;

10. Profesionalisme, meningkatkan kemampuan dan moral penyelenggara pemerintahan agar


mampu memberi pelayanan yang mudah, cepat, tepat dengan biaya yang terjangkau.

Dalam konteks Hukum Administrasi Negara (HAN), maka dalam relevansinya dengan
perdamaian hukum yang berkeadilan, secara spesifik menurut Paul de Haan 5 , hukum
administrasi memiliki tiga fungsi utama, yaitu: (1) fungsi normatif (normatieve functie); (2)
fungsi instrumental (instrumentele functie) yang terdiri dari fungsi instrumental aktif (dalam
bentuk kewenangan) dan fungsi instrumental pasif (dalam bentuk kebijaksanaan/beleid); dan
(3) fungsi jaminan (waarborgfunctie), yang meliputi 3 (tiga) jenis jaminan, yaitu: jaminan
pemerintahan (bestuurlijk waarborgen) yang menyangkut doelmatige dan democratie (a.l.
openbaarheid/ keterbukaan), inspraak dan berbagai mekanisme pengawasan (control).
Ketiga fungsi ini saling berkaitan satu sama lain. Fungsi normatif yang menyangkut
penormaan kekuasaan memerintah jelas berkaitan erat dengan fungsi instrumental yang
menetapkan instrumen yang digunakan oleh pemerintah untuk menggunakan kekuasaan
memerintah dan pada akhirnya norma pemerintahan dan instrumen pemerintahan yang
digunakan harus menjamin perlindungan hukum bagi rakyat.

DAFTAR PUSTAKA

Alo Liliweri, 2003, Makna Budaya Dalam Komunikasi Antar Budaya, Lkis ,Yogyakarta.
de Haan, Paul, 1986, Bestuursrecht in de Sociale Rechtsstaat, deel 2, 3e druk, Kluwer, Deventer.
Frans Magnis Suseno, 2003, Faktor-Faktor Yang mendasari Terjadinya Konflik Antarkelompok Etnis
dan agama di Indonesia, dalam Konflik Komunal di Indonesia Saat Ini, INIS
dan Pusat Bahasa dan Budaya, Jakarta.
Musa Asyarie, 2002, Menggagas Revolusi Kebudayaan Tanpa Kekerasan, LESFI, Yogyakarta.
Samovar, Lary & Porter, Richard E., 2007, Intercultural Communication : A Reader, Wadsworth
Publishing Company, Belmont CA.

5
Paul de Haan, Bestuursrecht in de Sociale Rechtsstaat, deel 2, 3e druk, (Kluwer-Deventer, 1986), hlm 30