Anda di halaman 1dari 3

A.

Sidik Jari dan DNA Profiling


Istilah sidik jari digunakan untuk mendeskripsikan reproduksi tampilan friksi lekukan
pada ujung jari ketika menyentuh suatu permukaan benda. Tampilan friksi lekukan ini
bersifat permanen karena struktur dasar dari kulit bersifat unik sebab adanya peristiwa
fisiologis yang kompleks yang merupakan kombinasi antara genetik dan lingkungan yang
terjadi saat pembentukan janin. Friksi lekukan pada kulit berada pada permukaan palmar
dan plantar dari tangan dan kaki. Cetakan friksi lekukan yang berasal dari jari dan telapak
tangan begitu juga dengan jari kaki dan telapak kaki dapat digunakan sebagai alat
identifikasi perseorangan.
Friksi lekukan pada kulit yang ditemukan pada tangan dan kaki berbeda dengan yang
ditemukan pada permukaan kulit halus yang menyelimuti sebagian besar tubuh manusia.
Pada bagian kulit yang bergelombang tersebut terdapat peningkatan jumlah lekukan dan
alur yang tersembunyi, yang membantu seseorang untuk menangkap benda dan menarik
sesuatu. Friksi kulit terdiri atas dua lapisan yaitu lapisan luar yang disebut dengan
epidermis dan lapisan dalam yang disebut dengan dermis. Epidermis memiliki lima lapisan
sel yang berbeda, dimana dermis adalah lapisan besar yang terdiri dari sebagian besar
jaringan ikat dan pembuluh darah. Lekukan pada epidermis didukung dengan baris ganda
dari dua papilae pegs pada bagian dermis, yang memiliki peran utama pada pemulihan
sidik jari saat terkena cedera.
Pemeriksaan mendetail dari friksi lekukan pada kulit juga memperlihatkan alur lekukan
yang biasanya tidak berlanjut pada seluruh permukaan jari. Beberapa lekukan yang disebut
dengan ending ridges akan terlihat dan tiba-tiba berakhir, dan lekukan lainnya yang disebut
dengan dividing ridges atau bifurcation terlihat memisahkan dua lekukan yang berbeda.
Terkadang, ada beberapa lekukan yang panjangnya sama dengan lebarnya, disebut dengan
dots. Adanya lekukan ini dikatakan sebagai penentu karakteristik dan hubungan tata letak
antara satu dengan lainnya pada cetakan friksi lekukan adalah dasar perbandingan dan
identifikasi sidik jari. Bagian lain yang terdapat pada sidik jari yang disebut dengan
formation merupakan sebuah deviasi alur lekukan yang melibatkan kombinasi satu atau
lebih karakteristik lekukan. Pemeriksaan lanjutan friksi lekukan pada kulit juga
mengungkapkan adanya kontur lekukan yang tidak teratur dan pori-pori keringat. Elemen
struktural dan dimensional dari lekukan dan pori, dapat digunakan dengan kombinasi
karakteristik lekukan untuk membandingkan dan mengidentifikasi sidik jari.
Susunan friksi lekukan pada ujung jari membentuk pola yang disebut dengan loops,
arches, dan whorls. Untuk kepentingan klasifikasi, tiga pola dasar ini dapat dibagi lagi
menjadi 8 subgrup berdasarkan perbedaan yang diamari dari pola dengan tipe yang sama.
Kira-kira 65% pola sidik jari berbentuk loops, 30% berbentuk whoorls, dan 5% berbentuk
arces. Pada bentuk loops friksi lekukan dimulai dari bagian dalam pola, membentuk
lekukan, dan berakhir atau cenderung berakhir pada sisi yang sama dengan sisi saat pola
dimulai. Pola arch memiliki lekukan yang dimulai dari salah satu sisi pola dan membuat
lengkungan dibagian tengah dan berakhir pada sisi berlawanan dengan dimulainya
lekukan. Pada pola whorls friksi lekukan memiliki pola sirkular atau spiral. Sangat penting
bagi pemeriksa untuk memperhatikan alliran lekukan sebuah cetakan untuk tujuan
orientasi dan penentuan area fokus yang dapat membantu proses identifikasi ketika
konfigurasi pola tidak dapat digunakan.
Sidik jari digolongkan menjadi tiga kategori, yaitu latent, known, dan plastic
impression. Sidik jari latent adalah reproduksi dua dimensi dari friksi lekukan dari jari
tangan pada objek karena adanya keringat, minyak, atau kontaminan lain yang melapisi
bagian permukaan lekukan ketika jari tangan menyentuh benda. Tipe cetakan ini dilihat
dengan menggunakan teknologi forensik seperti sumber cahaya alternatif, teknik kimia,
atau bubuk sidik jari (fingerprint powder). Pada beberapa kasus, cetakan latent dapat
dilihat tanpa menggunakan teknik pemrosesan sidik jari dan disebut sebagai cetakan
patent. Cetakan latent biasanya terbentuk secara kebetulan dan memiliki derajat kualitas
yang bervariasi. Cetakan known merupakan reproduksi sidik jari yang dilakukan dengan
sengaja pada kartu sidik jari atau permukaan khusus. Eksemplar yang dikenal dapat
direkam dengan menggunakan beberapa teknik standar seperti black printers ink,
inkless/chemical methods, dan LiveScan yang merupakan suatu sistem berbasis komputer
yang dapat membuat gambaran sidik jari dalam bentuk digital dengan menscan jari.
Cetakan plastic print merupakan cetakan yang tertinggal pada bahan yang lunak seperti
lilin yang dapat mempertahankan gambaran pola friksi lekukan sidik jari.
DNA profiling didasari fakta bahwa molekul DNA terdapat pada semua manusia dan
berbeda antara satu orang dengan yang lainnya. Tes identifikasi DNA menggunakan teknik
biologi molekular yang dikembangkan sejak 25 tahun lalu untuk membandingkan sampel
yang diambil dari tersangka yang ditemukan dari darah, semen, akar rambut, atau sel dari
saliva atau kulit yang ditemukan pada tempat kejadian perkara (TKP).
Tes identifikasi DNA yang sekarang ada menganalisis bagian DNA manusia yang
disebut dengan restriction fragment length polymorphisms (RFLPS). Pada teknik ini,
genomic DNA diisolasi dari nukleus sel dan dipotong menjadi fragmen dengan restriction
enzyme yang memotong DNA pada lokasi yang spesifik, dan hanya mengenali kombinasi
tertentu dari kode ATCG pada molekul DNA. Ukuran fragmen berbeda-beda setiap orang
karena adanya polimorfisme. Fragmen kemudian dipisahkan dengan menggunakan gel
electrophoresis menjadi pita dengan berbagai ukuran. DNA yang diekstraksi dari gel
kemudian diblotting pada membran nilon dengan menggunakan southern blotting
technique dimana serangkaian probe radioaktif digunakan untuk memvisualisasikan
fragmen dari regio tertentu dimana variasi individual sering terjadi.
Probe yang digunakan adalah segmen DNA yang dikombinasikan dengan radioactive
phosphorus-32 yang mengikat fragmen DNA yang diuji, dan mentransfer sifat
radioaktifnya secara selektif pada fragmen tersebut. Membran kemudian ditempatkan pada
film dan diekspos radiasi pada fragmen DNA yang akan dilihat. Saat film terbentuk dan
diinvestigasi oleh investigator dan biasanya discan pada komputer untuk pengukuran dan
perbandingan yang akurat. Interpretasi yang ambigu dapat terjadi akibat pergeseran pita,
degradasi, pita yang hilang, pita ganda atau kombinasi yang terjadi karena kesalahan
teknis. Dilema yang dihadapi analis adalah bagaimana cara membedakan antara perbedaan
yang diakibatkan oleh kesalahan teknis atau perbedaan yang benar-benar berasal dari
genetik.
Tipe kedua dari DNA profiling adalah polymerase chain reaction (PCR) dimana
merupakan proses penggandaan secara molekuler untuk menciptakan sekuen gen. Tes
PCR melihat pada 6 sifat berbeda yang diturunkan, yang dikontrol oleh gen spesifik
dengan dua alel (maternal allele dan paternal allele). Jika alel sama maka individu adalah
homozigot untuk sifat tersebut. Apabila alel berbeda, maka individu bersifat heterozigot
untuk sifat tersebut. Untuk 6 gen yang berbeda, hanya terdapat 21 kombinasi yang
mungkin dari alel tersebut yaitu 6 homozigot dan 15 heterozigot. PCR mencari kecocokan
dari 21 kombinasi ini, beberapa diantaranya sangat langka. Hasilnya direkam sebagai titik
berwarna pada nilon. Teknik PCR berfokus pada amplifikasi regio DNA spesifik.
Perbedaan diantara individual pada lokasi tertentu dibedakan melalui penggunaan probe
khusus yang memicu perubaan warna atau melalui gel electrophoresis diikuti dengan stain
perak. Metode PCR lebih tidak spesifik daripada RFLP namun metode PCR hanya
membutuhkan sedikit sampel DNA dan dapat difunakan pada spesimen yang terdegradasi.
Aplikasi teknologi DNA pada kasus odontologi forensik dapat dilakukan dengan isolasi
dan karakterisasi DNA dari pulpa gigi. Hal ini didasari karena bagian lain dari tubuh
mungkin terdekomposisi.