Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Imunisasi merupakan salah satu cara pencegahan penyakit menular
khususnya Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) yang
diberikan kepada tidak hanya anak sejak masih bayi hingga remaja tetapi juga
kepada dewasa. Imunisasi merupakan salah satu investasi kesehatan yang
paling cost-effecttive (murah), karena terbukti dapat mencegah dan
mengurangi kejadian sakit, cacat, dan kematian akibat PD3I yang diperkirakan
2 hingga 3 juta kematian tiap tahunnya (Pusdatin, 2016).
Imunisasi banyak diakui merupakan salah satu intervensi kesehatan
yang paling efektif. Pada masa sebelum vaksin ditemukan, lebih dari satu juta
orang Amerika terinfeksi penyakit yang dapat dicegah oleh vaksin tiap
tahunnya. Setelah penyebarluasan implementasi vaksin, jumlah penyakit yang
dapat dicegah oleh vaksin telah menurun sebesar 93% untuk pertusis, lebih
dari 98% untuk difteria, tetanus, campak, gondongan, dan rubella, serta 100%
untuk cacar air dan polio (Hackley dkk, 2014).

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apakah pengertian Imunisasi?
2. Apakah ruang lingkup imunisasi dasar?
3. Siapakah sasaran imunisasi dasar?
4. Berapakah jenis jenis imunisasi dasar?
5. Kapankah jadwal pemberian imunisasi dasar?
C. TUJUAN
1. Untuk mengetahui pengertian Imunisasi.
2. Untuk mengetahui ruang lingkup imunisasi dasar.
3. Untuk mengetahui sasaran imunisasi dasar.
4. Untuk mengetahui jenis jenis imunisasi dasar.
5. Untuk mengetahui jadwal pemberian imunisasi dasar.
BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN IMUNISASI

1
Imunisasi berasal dari kata imun, kebal atau resisten. Anak
diimunisasi, berarti diberikan kekebalan terhadap suatu penyakit tertentu.
Anak kebal atau resisten terhadap suatu penyakit tetapi belum tentu kebal
terhadap penyakit yang lain .Imunisasi adalah suatu upaya untuk
menimbulkan/meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu
penyakit, sehingga apabila suatu saat terpajan dengan penyakit tersebut tidak
akan sakit atau hanya mengalami sakit ringan (Hadianti dkk, 2014).
Imunisasi merupakan salah satu cara pencegahan penyakit menular
khususnya Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) yang
dierikan kepada tidak hanya anak sejak masih bayi hingga remaja tetapi juga
kepada dewasa (Pusdatin, 2016).
Imunisasi wajib merupakan imunisasi yang diwajibkan oleh
pemerintah untuk seseorang sesuai dengan kebutuhannya dalam rangka
melindungi yang bersangkutan dan masyarakat sekitarnya dari penyakit
menular tertentu. Imunisasi wajib terdiri atas imunisasi rutin, imunisasi
tambahan, dan imunisasi khusus. Imunisasi rutin merupakan kegiatan
imunisasi yang dilaksanakan secara terus-menerus sesuai jadwal. Imunisasi
rutin terdiri atas imunisasi dasar dan imunisasi lanjutan (Hadianti dkk, 2014).
Imunisasi adalah suatu cara untuk menimbulkan/meningkatkan
kekebalan seseorang secara aktif terhadaf suatu penyakit, sehingga bila kelak
ia terpapar dengan penyakit tersebut tidak akan menderita penyakit tersebut.
Imunisasi dasar pemberian imunisasi awal untuk mencapai kadar kekebalan di
atas ambang perlindungan (MenKes RI, 2005).

B. RUANG LINGKUP IMUNISASI DASAR


Menurut BPJS Kesehatan (2014), imunisasi dasar diberikan kepada
balita peserta BPJS dengan penyediaan vaksin oleh Pemerintah melalui Dinas
Kesehatan setempat.
1. Imunisasi Dasar Lengkap 0 11 bulan
a. BCG 1 kali
b. DPT-HIB 3 kali
c. Polio 4 kali
d. Campak 1 kali

2
2. Imunisasi HB-0 bayi baru lahir agar satu paket dengan persalinan, retriksi
bukan untuk kasus Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR).

C. SASARAN IMUNISASI
Sebagai seorang bidan, tahukah Anda siapa saja yang merupakan
sasaran dalam imunisasi? Menurut Hadianti dkk, 2014 yang menjadi sasaran
dalam pelayanan imunisasi rutin adalah sebagai berikut:
Tabel 1. Sasaran Imunisasi pada Bayi

Sumber: Dirjen PP dan PL Depkes RI, 2013

Tabel 2. Sasaran Imunisasi pada Anak Balita

Sumber: Dirjen PP dan PL Depkes RI, 2013


Tabel 3. Sasara Imunisasi pada Anak SD

Sumber: Dirjen PP dan PL Depkes RI, 2013

Tabel 4. Sasaran Imunisasi Wanita Usia Subur (WUS)

3
Sumber: Dirjen PP dan PL Depkes RI, 2013

D. JENIS JENIS IMUNISASI DASAR


1. Vaksin BCG
Vaksin BCG merupakan vaksin beku kering yang mengandung
Mycrobacterium bovis hidup yang dilemahkan (Bacillus Calmette
Guerin), strain paris (Hadianti dkk, 2014).
Gambar 1. Vaksin BCG dan Pelarut

Sumber: www.biofarma.co.id
Vaksin untuk tuberkulosis (TB) dikenal dengan BCG (bacille
Calmette-Gurin). Vaksin BCG mengandung bentuk lemah bakteri
(kuman) yang menyebabkan TB. Karena bakteri ini dilemahkan,
bakteri ini tidak menyebabkan TB dalam diri orang yang sehat,
sebaliknya berguna untuk membentuk perlindungan (imunitas)
terhadap TB. BCG bekerja paling efektif pada bayi dan anak-anak
kecil. Selain itu, sangat efektif dalam mencegah bentuk TB yang parah,
termasuk meningitis TB dengan perlindungan yang 70% lebih kuat.
Hanya membutuhkan satu vaksin - dosis berlebih tidak dianjurkan
(Queensland Health, 2017).
Indikasi pemberian kekebalan aktif terhadap tuberculosis. Cara
pemberian dan dosis (Hadianti dkk, 2014).
a. Dosis pemberian: 0,05 ml, sebanyak 1 kali.
b. Disuntikkan secara intrakutan di daerah lengan kanan atas (insertio
musculus deltoideus) , dengan menggunakan ADS 0,05 ml.
Sebagian besar anak-anak di Australia tidak membutuhkan
vaksinasi BCG karena tingkat TB di Australia sangatlah rendah. Di
Queensland, vaksinasi BCG dianjurkan untuk kelompok-kelompok
berikut (Queensland Health, 2017):

4
a. Bayi Penduduk Pribumi dan Kepulauan Selat Tores yang baru lahir
b. Anak-anak berumur di bawah 5 tahun yang akan tinggal dalam
masyarakat Penduduk Pribumi dan Kepulauan Selat Tores selama 3
bulan atau lebih.
c. Anak-anak berumur di bawah 5 tahun yang akan pergi ke negara-
negara dengan risiko TB yang tinggi selama 3 bulan atau lebih. Jika
jangka waktu singgah yang direncanakan kurang dari 3 bulan, tetapi
risiko terpapar TB kemungkinan tinggi, Anda harus membahas tentang
perlunya vaksinasi TB dengan layanan TB setempat. Idealnya,
vaksinasi BCG harus dilakukan setidaknya 3 bulan sebelum
pemberangkatan.

BCG tidak boleh diberikan kepada siapa pun yang (Queensland Health,
2017):
a. Pernah mengidap penyakit TB (atau sedang dalam pengobatan TB).
b. Ibu sedang hamil atau kemungkinan hamil.
c. Sedang menjalani pengobatan kanker atau kondisi parah lainnya yang
melemahkan sistem kekebalan tubuh.
d. Positif HIV.
e. Pernah memiliki tes kulit tuberkulin positif.
Vaksinasi BCG harus ditunda hingga lain waktu jika (Queensland Helath,
2017):
a. Anak yang baru lahir tidak sehat atau berat badannya kurang dari 2,5
kg.
b. Anak yang baru lahir dilahirkan oleh seorang ibu yang positif HIV dan
hasil HIV anak belum diketahui
c. Orang (anak-anak atau orang dewasa) yang mendapatkan vaksin hidup
dalam 4 minggu terakhir
d. Orang yang sedang sakit demam atau penyakit yang parah.
Pertanyaan pravaksinasi, jika Anda menjawab Ya pada semua
pertanyaan berikut atau memiliki kekhawatiran apa pun, harap bicarakan
dengan perawat sebelum memberikan persetujuan untuk melakukan
vaksinasi bagi diri Anda atau anak Anda. Sudahkah/apakah orang yang
mendapatkan vaksin:

5
a. Pernah terinfeksi tuberkulosis atau sedang dalam masa pengobatan
karena tuberkulosis?
b. Pernah melakukan kontak dengan seseorang yang didiagnosis
mengidap tuberkulosis?
c. Pernah memiliki tes kulit tuberkulin (Mantoux) positif?
d. Pernah mendapatkan vaksinasi BCG sebelumnya?
e. Telah didiagnosis mengidap HIV, sedang menunggu tes HIV, atau
termasuk dalam salah satu kelompok yang memiliki risiko tinggi tetapi
belum pernah dites?
f. Pernah didiagnosis mengidap kanker, termasuk semua jenis limfoma
atau leukemia?
g. Mendapatkan obat steroid suntik atau telan maupun obat-obatan atau
pengobatan imunosupresif
misalnya, prednisone, obat inhibitor TNF, radium, atau kemoterapi
antikanker?
h. Menderita kondisi kulit yang parah misalnya, eksim atau dermatitis
atau bekas luka keloid (parah)?
i. Sedang menderita penyakit yang disebabkan oleh virus atau demam?
j. Sedang mengonsumsi antibiotik?
k. Sedang, atau kemungkinan hamil?
l. Mendapatkan vaksin hidup lain selama empat (4) minggu terakhir
misalnya, vaksin campak, gondok dan rubella, demam kuning, cacar
air, atau Ensefalitis Jepang?
2. Vaksin DPT-HB-HIB
Vaksin DTP-HB-Hib digunakan untuk pencegahan terhadap
difteri, tetanus, pertusis (batuk rejan), hepatitis B, dan infeksi
Haemophilus influenzae tipe b secara simultan.
Gambar 2. Vaksin DPT-HB-HIB

Sumber: www.biofarma.co.id

6
DPT merupakan vaksin yang mengandung tiga elemen, yaitu
Toksoid Corynebacterium Diptheriae, Bordetela Pertusis, dan Toksoid
Clostridium Tetani. Toksoid difteri adalah preparat difteri yang
diinaktifkan dengan formalidehid dan diabsorbsi pada garam alumunium
untuk menaikkan antigenesisnya.
DPT-HB-HiB berupa suspensi homogen yang mengandung toksoid
tetanus dan difteri murni, bakteri pertusis (batuk rejan) inaktif,antigen
permukaan hepatitis B (HBsAg) murni yang tidak infeksius, dan
komponen Hib sebagai vaksin bakteri sub unit berupa kapsul polisakarida
Haemophilus influenzae tipe b tidak infeksius yang dikonjugasikan kepada
protein toksoid tetanus. HBsAg diproduksi melalui teknologi DNA
rekombinan pada sel ragi. Vaksin dijerap pada aluminium fosfat.
Thimerosal digunakan sebagai pengawet. Polisakarida berasal dari bakteri
Hib yang ditumbuhkan pada media tertentu, dan kemudian dimurnikan
melalui serangkaian tahap ultrafiltrasi. Potensi vaksin per dosis tidak
kurang dari 4 IU untuk pertusis, 30 IU untuk difteri, 60 IU untuk tetanus
(ditentukan pada mencit) atau 40 IU (ditentukan pada guinea pig), 10 mcg
_HBsAg dan 10 mcg Hib.
Vaksin harus disuntikkan secara intramuskular. Penyuntikan
sebaiknya dilakukan pada anterolateral paha atas. Penyuntikan pada bagian
bokong anak dapat menyebabkan luka saraf siatik dan tidak dianjurkan.
Suntikan tidak boleh diberikan ke dalam kulit karena dapat meningkatkan
reaksi lokal. Satu dosis anak adalah 0,5 mL (Hadianti dkk, 2014).
Efek samping: reaksi lokal sementara, seperti bengkak, nyeri, dan
kemerahan pada lokasi suntikan, disertai demam dapat timbul dalam
sejumlah besar kasus. Kadang-kadang reaksi berat, seperti demam tinggi,
irritabilitas (rewel), dan menangis dengan nada tinggi dapat terjadi dalam
24 jam setelah pemberian (Hadianti dkk, 2014).
Penanganan efek samping: orangtua dianjurkan untuk memberikan
minum lebih banyak (ASI atau sari buah). Jika demam, kenakan pakaian
yang tipis. Bekas suntikan yang nyeri dapat dikompres air dingin. Jika

7
demam berikan paracetamol 15 mg/kgBB setiap 34 jam (maksimal) 6
kali dalam 24 jam). Bayi boleh mandi atau cukup diseka dengan air
hangat. Jika reaksi memberat dan menetap bawa bayi ke dokter (Hadianti
dkk, 2014).

3. Vaksin Hepatitis B
Hepatitis B adalah penyakit berat yang mempengaruhi hati.
Hepatitis B disebabkan oleh virus hepatitis B. Hepatitis B dapat
menyebabkan penyakit ringan yang berlangsung selama beberapa
minggu, atau bisa juga mengakibatkan penyakit yang berat yang
berlangsung seumur hidup. Infeksi virus hepatitis B bisa hadir dalam
tingkat yang akut atau berlangsung menahun (U.S. Department of
Health and Human Services, 2016).
Infeksi virus hepatitis B menahun merupakan penyakit jangka
panjang yang terjadi saat virus hepatitis B berdiam di tubuh seseorang.
Kebanyakan orang yang memiliki hepatitis B menahun tidak
mengalami gejala tertentu, tapi hal tersebut adalah penyakit yang berat
dan bisa mengakibatkan :
a. kerusakan hati (sirosis)
b. kanker hati
c. kematian
Orang yang terinfeksi secara menahun dapat menularkan virus
hepatitis B ke orang lain, bahkan jika mereka tidak merasa atau tidak
terlihat sakit. Lebih dari 1,4 juta orang di Amerika diduga terkena
infeksi hepatitis B menahun. Sekitar 90% bayi yang terkena hepatitis B
terinfeksi secara menahun dan sekitar 1 dari 4 di antaranya meninggal
dunia. Hepatitis B menyebar saat darah, air mani, atau cairan tubuh
lainnya dari orang yang terinfeksi masuk ke tubuh orang yang tidak
terinfeksi. Seseorang dapat terinfeksi virus melalui (U.S. Department
of Health and Human Services, 2016).:
a. Kelahiran (orok yang ibunya terinfeksi dapat menjadi terinfeksi saat
dilahirkan atau setelah kelahiran).
b. Benda-benda yang dipakai bersama seperti pisau cukur atau sikat gigi
yang dipakai bersama orang yang terinfeksi.

8
c. Kontak dengan darah atau luka terbuka milik orang yang terinfeksi.
d. Hubungan seks dengan pasangan yang terinfeksi .
e. Penggunaan bersama-sama jarum suntik, suntikan, atau peralatan
injeksi obat-obatan lainnya.
f. Terkena darah dari jarum suntik atau instrumen tajam lainnya
Setiap tahunnya sekitar 2000 orang di Amerika Serikat
meninggal akibat penyakit hati yang berhubungan dengan hepatitis B.
Vaksin virus recombinan yang telah diinaktivasikan dan
bersifat non-infecious, berasal dari HBsAg. Vaksin hepatitis B terbuat
dari bagian dari virus hepatitis B. Vaksin hepatitis B tidak akan
mengakibatkan infeksi hepatitis B. Vaksin biasanya diberikan
sebanyak 3 hingga 4 kali suntik dalam jangka waktu 6 bulan (U.S.
Department of Health and Human Services, 2016).
Gambar 3. Vaksin Hepatitis B

Sumber: www.biofarma.co.id
Bayi harus mendapat dosis vaksin hepatitis B nya yang
pertama saat kelahirannya dan biasanya seri vaksin lengkap sudah
selesai diberikan saat berusia 6 bulan. Semua anak-anak dan remaja
yang berusia kurang dari 19 tahun yang belum pernah divaksin harus
divaksin juga (U.S. Department of Health and Human Services, 2016).
Vaksin hepatitis B juga disarankan untuk diberikan pada orang
dewasa yang beresiko terkena infeksi hepatitis B, mereka adalah (U.S.
Department of Health and Human Services, 2016):
a. Orang-orang yang pasangannya memiliki hepatitis B
b. Orang yang aktif secara seksual yang terlibat hubungan dengan lebih
dari satu pasangan dalam jangka panjang
c. Orang-orang yang sedang diperiksa atau sedang mendapat pengobatan
atas penyakit menular seksual
d. Lelaki yang melakukan kontak seksual dengan lelaki lain

9
e. Orang-orang yang berbagi jarum suntik, suntikan, atau peralatan
injeksi obat-obatan lainnya
f. Orang-orang yang melakukan kontak suami-istri dengan seseorang
yang terkena virus hepatitis B
g. Para petugas kesehatan dan keselamatan publik yang beresiko terkena
darah atau cairan tubuh
h. Para penghuni dan petugas prasarana orang-orang yang cacat
perkembangan mental
i. Orang-orang yang berada di Lembaga Pemsayarakatan
j. Para korban kekerasan atau pelecehan seksual
k. Para wisatawan yang berkunjung ke daerah dengan tingkat hepatitis B
yang tinggi
l. Orang-orang dengan penyakit hati menahun, penyakit ginjal, infeksi
HIV, atau terkena diabetes
m. Siapapun yang ingin terlindung dari hepatitis B
n. Tidak diketahui risiko terkena hepatitis B dengan vaksin lain pada saat
bersamaan
Kontraindikasi (U.S. Department of Health and Human Services, 2016):
a. Apabila orang yang mendapat vaksin memiliki alergi yang parah,
mengancam jiwa.
b. Jika Anda pernah mengalami reaksi alergi yang mengancam jiwa
setelah mendapat dosis vaksin hepatitis B, atau alergi parah terhadap
bahan, manapun dalam vaksin ini, Anda mungkin akan disarankan
untuk tidak divaksin
c. Jika orang yang divaksin sedang tidak enak badan. Jika Anda
menderita penyakit ringan, seperti pilek, Anda mungkin bisa mendapat
vaksin hari ini juga. Jika Anda sedang agak sakit atau sakit parah,
Anda mungkin harus menunggu sampai Anda sembuh. Dokter Anda
akan memberikan saran pada Anda.
Cara pemberian dan dosis: dosis 0,5 ml atau 1 (buah) HB PID
secara intramuskuler, sebaiknya pada anterolateral paha. Pemberian
sebanyak 3 dosis. Dosis pertama usia 07 hari, dosis berikutnya
interval minimum 4 minggu (1 bulan) (Hadianti, 2014).
Penanganan efek samping:

10
a. Orangtua dianjurkan untuk memberikan minum lebih banyak
(ASI).
b. Jika demam, kenakan pakaian yang tipis.
c. Bekas suntikan yang nyeri dapat dikompres air dingin.
d. Jika demam berikan paracetamol 15 mg/kgBB setiap 34 jam
(maksimal 6 kali dalam 24 jam).
e. Bayi boleh mandi atau cukup diseka dengan air hangat.
4. Vaksin Polio
Polio adalah penyakit lumpuh layu yang disebabkan oleh virus
Polio liar yang dapat menimbulkan kecacatan atau kematian.
Pencegahan dapat dilakukan dengan Imunisasi untuk orang-orang
yang kontak dengan penderita polio dan carrier (MenKes RI. 2017).
Masyarakat Australia harus diimunisasikan terhadap polio
meskipun tidak ada kasus di sini selama bertahun-tahun. Masih ada
kasus penyakit ini di luar negeri, dan ada risiko terjadi lagi di negara
ini jika anak-anak dan orang dewasa tidak diimunisasikan. Polio dapat
mengakibatkan gejala yang ringan atau penyakit yang amat parah, dan
merupakan virus yang menyerang system pencernaan dan sistem saraf.
Penyakit ini menyebabkan deman, muntah dan kekejangan otot dan
dapat menyerang saraf, dan mengakibatkan kelumpuhan tetap.
Penyakit ini dapat melumpuhkan otot untuk bernapas dan menelan,
dan mengakibatkan kematian. Antara dua sampai lima persen dari
penderita polio meninggal karena penyakit ini dan kira-kira separuh
dari semua pasien yang hidup menderita kelumpuhan tetap. Polio dapat
dijangkiti jika tinja dari orang yang terinfeksi mencemari makanan, air
atau tangan (Victoria Departement of Human Service, 2005).
Vaksin Polio Trivalent yang terdiri dari suspensi virus
poliomyelitis tipe 1, 2, dan 3 (strain Sabin) yang sudah dilemahkan
(Hadianti dkk, 2014).
Gambar 4. Vaksin Polio Oral dan inactive (Injeksi)

11
Sumber: www.biofarma.co.id
Imunisasi Polio diberikan kepada orang yang belum mendapat
Imunisasi dasar lengkap pada bayi atau tidak bisa menunjukkan
catatan Imunisasi/buku KIA, yang akan melakukan perjalanan ke
negara endemis atau terjangkit polio. Imunisasi diberikan minimal
14 (empat belas) hari sebelum keberangkatan, dan dicatatkan dalam
sertifikat vaksin (International Certificate of Vaccination). Bagi yang
datang dari negara endemis atau terjangkit polio atau transit lebih dari
4 minggu di negara endemis polio harus bisa menunjukkan sertifikat
vaksin (International Certificate of Vaccination) yang masih berlaku
sebagai bukti bahwa mereka telah mendapat Imunisasi polio (MenKes.
2017).
Cara pemberian dan dosis (Hadianti dkk, 2014):
a. Disuntikkan secara intra muscular atau subkutan dalam, dengan dosis
pemberian 0,5 ml.
b. Dari usia 2 bulan, 3 suntikan berturut-turut 0,5 ml harus diberikan
pada interval satu atau dua bulan.
c. IPV dapat diberikan setelah usia bayi 6,10, dan 14, sesuai dengan
rekomendasi dari WHO.
d. Bagi orangdewasa yang belum diimunisasi diberikan 2 suntikan
berturut-turut dengan interval satu atau dua bulan.
e. Secara oral (melalui mulut), 1 dosis (dua tetes) sebanyak 4 kali (dosis)
pemberian, dengan interval setiap dosis minimal 4 minggu.
Efek Sampingan yang Umum dari Vaksin Polio yang Dilemahkan
(Victoria Departement of Human Service, 2005) :
a. Sakit otot
b. Sedikit demam
c. Sakit, merah dan bengkak di tempat suntikan

12
d. Bincul kecil sementara di tempat suntikan
Penanganan efek samping (Hardainti dkk, 2014).
a. Orangtua dianjurkan untuk memberikan minum lebih banyak (ASI).
b. Jika demam, kenakan pakaian yang tipis.
c. Bekas suntikan yang nyeri dapat dikompres air dingin.
d. Jika demam berikan paracetamol 15 mg/kgBB setiap 34 jam
(maksimal 6 kali dalam 24 jam).
e. Bayi boleh mandi atau cukup diseka dengan air hangat.
5. Vaksin Campak
Penyakit Campak dikenal juga sebagai Morbili atau Measles.
Campak merupakan penyakit yang sangat mudah menular yang
disebabkan oleh virus dan ditularkan melalui batuk dan bersin. Gejala
penyakit. Campak adalah demam tinggi, bercak kemerahan pada kulit
(rash) disertai dengan batuk dan/atau pilek dan/atau mata merah
(conjunctivitis). Penyakit ini akan sangat berbahaya bila disertai
dengan
komplikasi pneumonia, diare, meningitis, bahkan dapat menyebabkan
kematian. Manusia diperkirakan satu-satunya inang (reservoir), walaupun
monyet dapat terinfeksi tetapi tidak berperan dalam penularan (KemenKes,
2017).
Campak adalah penyakit virus akut yang disebabkan oleh RNA
virus genus Morbillivirus, famili Paramyxoviridae. Virus ini dari
famili yang sama dengan virus gondongan (mumps), virus
parain-uenza, virus human metapneumovirus, dan RSV (Respiratory
Syncytial Virus). Virus campak berukuran 100-250 nm dan
mengandung inti untai RNA tunggal yang diselubungi dengan lapisan
pelindung lipid. Virus campak memiliki 6 struktur protein utama.
Protein H (Hemagglutinin) berperan penting dalam perlekatan virus ke
sel penderita. Protein F (Fusion) meningkatkan penyebaran virus dari
sel ke sel. Protein M (Matrix) di permukaan dalam lapisan pelindung
virus berperan penting dalam penyatuan virus. Di bagian dalam virus
terdapat protein L (Large), NP (Nucleoprotein), dan P (Polymerase
phosphoprotein). Protein L dan P berperan dalam aktivitas polimerase
RNA virus, sedangkan protein NP berperan sebagai struktur protein

13
nucleocapsid. Karena virus campak dikelilingi lapisan pelindung lipid,
maka mudah diinaktivasi oleh cairan yang melarutkan lipid seperti eter
dan kloroform. Selain itu, virus juga dapat diinaktivasi dengan suhu
panas (>370C), suhu dingin (<200C), sinar ultraviolet, serta kadar (pH)
ekstrim (pH <5 dan >10). Virus ini jangka hidupnya pendek (short
survival time), yaitu kurang dari 2 jam (Halim, 2016).
Penyebaran infeksi terjadi jika terhirup droplet di udara yang
berasal dari penderita. Virus campak masuk melalui saluran
pernapasan dan melekat di sel-sel epitel saluran napas. Setelah
melekat, virus bereplikasi dan diikuti dengan penyebaran ke kelenjar
limfe regional. Setelah penyebaran ini, terjadi viremia primer disusul
multiplikasi virus di sistem retikuloendotelial di limpa, hati, dan
kelenjar limfe. Multiplikasi virus juga terjadi di tempat awal
melekatnya virus. Pada hari ke-5 sampai ke-7 infeksi, terjadi viremia
sekunder di seluruh tubuh terutama di kulit dan saluran pernapasan.
Pada hari ke-11 sampai hari ke-14, virus ada di darah, saluran
pernapasan, dan organ-organ tubuh lainnya, 2-3 hari kemudian virus
mulai berkurang. Selama infeksi, virus bereplikasi di sel-sel endotelial,
sel-sel epitel, monosit, dan makrofag (Halim, 2016)
Setiap orang yang belum pernah divaksinasi Campak atau
sudah divaksinasi tapi belum mendapatkan kekebalan, berisiko tinggi
tertular Campak dan komplikasinya, termasuk kematian, setiap tahun
melalui kegiatan surveilans dilaporkan lebih dari 11.000 kasus suspek
campak, dan hasil konfirmasi laboratorium menunjukkan 1239% di
antaranya adalah campak pasti (lab confirmed). Dari tahun 2010
sampai 2015, diperkirakan terdapat 23.164 kasus campak dan 30.463
kasus rubella (KemenKes, 2017).
Penyakit Campak dan Rubella tidak dapat diobati. Pengobatan
yang diberikan kepada penderita hanya bersifat supportif. Tetapi kedua
penyakit ini bisa dicegah dengan imunisasi. Selama ini Indonesia
memberikan imunisasi Campak sebagai salah satu program imunisasi
nasional (KemenKes, 2017).

14
Vaksin campak adalah vaksin virus hidup yang
dilemahkan.Cara pemberian vaksin campak 0,5 ml disuntikkan secara
subkutan pada lengan kiri atas atau anterolateral paha, pada usia 911
bulan (Hadianti dkk, 2014).
Gambar 5. Vaksin Campak

Sumber: www.biofarma.co.id
Kontra indikasi: Individu yang mengidap penyakit immune
deficiency atau individu yang diduga menderita gangguan respon imun
karena leukemia, limfoma. Efek samping: Hingga 15% pasien dapat
mengalami demam ringan dan kemerahan selama 3 hari yang dapat terjadi
812 hari setelah vaksinasi (Hadianti dkk, 2014).
Menurut Hadianti dkk (2017) menyatakan penanganan efek
samping pemberian vaksin campak adalah:
a. Orangtua dianjurkan untuk memberikan minum lebih banyak (ASI
atau sari buah).
b. Jika demam kenakan pakaian yang tipis.
c. Bekas suntikan yang nyeri dapat dikompres air dingin.
d. Jika demam berikan paracetamol 15 mg/kgBB setiap 34 jam
(maksimal 6 kali dalam 24 jam).
e. Bayi boleh mandi atau cukup diseka dengan air hangat.
f. Jika reaksi tersebut berat dan menetap bawa bayi ke dokter.

E. JADWAL PEMBERIAN IMUNISASI


Gambar 6. Tabel Jadwal Imunisasi Dasar

15
Sumber: PerMenKes RI No 12 Tahun 2017
Gambar 7. Skema Jadwal Imunisasi Dasar

Sumber: Buku Ajar Imunisasi


BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Imunisasi wajib merupakan imunisasi yang diwajibkan oleh
pemerintah untuk seseorang sesuai dengan kebutuhannya dalam rangka
melindungi yang bersangkutan dan masyarakat sekitarnya dari penyakit
menular tertentu. Imunisasi wajib terdiri atas imunisasi rutin, imunisasi
tambahan, dan imunisasi khusus. Imunisasi rutin merupakan kegiatan

16
imunisasi yang dilaksanakan secara terus-menerus sesuai jadwal. Imunisasi
rutin terdiri atas imunisasi dasar dan imunisasi lanjutan (Hadianti dkk, 2014).

B. SARAN
Penulis sangat bersyukur atas terselesaikannya makalah Imunisasi
Dasar, akan tetapi makalah ini masiih memiliki berbagai kekurangan yang
penulis belum dapat perbaiki, harapan penulis jika ada kesalahan dalam
penulisan dan isi mohon diperbaiki.

17
DAFTAR PUSTAKA

BPJS Kesehatan. 2014. Panduan Pelayanan Imunisasi. BPJS Kesehatan: Jakarta.


Hackley dkk, 2014. Buku Ajar Bidan Pelayanan Kesehatan Primer. EGC: Jakarta.
Hadianti, dkk. 2014. Buku Ajar Imunisasi. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Tenaga
Kesehatan: Jakarta.
Halim. 2016. Campak ada Anak. 3(43) Hal: 186189.
MENKES RI. 2005. Tentang Pedoman Penyelenggaraan Imunisasi. MENKES
RI: Jakarta.
MENKES RI. 2017. Tentang Penyelenggaraan Imunisasi. MENKES RI: Jakarta.
PUSDATIN. 2016. Situasi Imunisasi di Indonesia. PUSDATIN: Jakarta.
Queensland Health. 2017. BCG Vaccination Fact sheet. Queensland Health:
Jakarta
U.S. Departement of Health and Human Service. 2016. Pernyataan Informasi
Vaksin. U.S Departement of Health and Human Service.

18