Anda di halaman 1dari 11

makalah fisiologi laktasi

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pada kehamilan seorang ibu bukan hanya menyiapkan persalinan tetapi juga harus
mempersiapkan untuk proses laktasi. Pemberian ASI kepada bayi baru lahir merupakan suatu
hal penting karena mempunyai manfaat besar bagi ibu dan bayi. proses laktasi merupakan hal
yang fisiologis yang di alami oleh setiap ibu. Dalam prosesnya, laktasi mempunyai beberapa
tahap dan perlu di pahami. Maka dari itu kami mengambil judul FISIOLOGI LAKTASI .

B. Rumusan masalah

Bagaimana proses fisiologi laktasi ?

C. Tujuan

Untuk mengetahui dan memahami proses fisiologi laktasi.


D. Kegunaan Makalah
Makalah ini memberikan informasi tentang bagaimana proses fisiologi laktasi.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Produksi air susu ibu (prolaktin)


Pembentukan payudara dimulai sejak embrio berusia 18-19 minggu, dan berakhir ketika
mulai menstruasi. Hormon yang berperan adalah hormon esterogen dan progesteron yang
membantu maturasi alveoli. Sedangkan hormon prolaktin berfungsi untuk produksi ASI.
Dalam fisiologi laktasi prolaktin suatu hormon yang disekresi oleh glandula pituitari
anterior, penting untuk produksi air susu ibu, tetapi walupun kadar hormon ini di dalam
sirkulasi maternal meningkat selama kehamilan, kerja hormone ini dihambat oleh hormone
plasenta. Dengan lepas atau keluarnya plasenta pada akhir proses persalinan, maka kadar
estrogen dan progesteron berangsur-angsur turun sampai tingkat dapat dilepaskannya dan
diaktifkannya prolaktin.

Terjadi peningkatan suplai darah yang beredar lewat payudara dan dapat diekstrasi bahan
penting untuk pembentukan air susu. Globulin,lemak dan molekul-molekul protein dari dasar
sel-sel sekretoris akan membengkakkan acini dan mendorongnya menuju ke tubuli laktifer.

Peningkataan kadar prolaktin akan menghambat ovulasi dan dengan demikian juga
mempunyai fungsi kontrasepsi,tetapi ibu perlu memberikan air susu 2 sampai 3 kali setiap
jam agar pengaruhnya benar-benar efektif. Kadar prolaktin paling tinggi adalah pada malam
hari dan penghentian pertama pemberian air susu dilakukan pada malam hari, yang biasanya
memang demikian, maka metode-metode kontrasepsiyang lebih reliabel harus dipakai apabila
ingin mengindari kehamilan.

Gambar 1. Proses produksi ASI/ refleks prolaktin


Selama kehamilan hormon prolaktin dari plasenta meningkat tetapi ASI belum keluar
karena pengaruh hormon estrogen yang masih tinggi. Kadar estrogen dan progesteron akan
menurun pada saat hari kedua atau ketiga pasca persalinan, sehingga terjadi sekresi ASI. Pada
terdapat dua reflek yang berperan, yaitu refleks prolaktin dan refleks aliran yang timbul
akibat perangsangan puting susu dikarenakan isapan bayi.
1. Refleks prolaktin
2. Refleks aliran (let down reflek)
Refleks Prolaktin
Akhir kehamilan hormon prolaktin memegang peranan untuk membuat kolostrum, tetapi
jumlah kolostrum terbatas dikarenakan aktivitas prolaktin dihambat oleh estrogen dan
progesteron yang masih tinggi. Pasca persalinan, yaitu saat lepasnya plasenta dan
berkurangnya fungsi korpus luteum maka estrogen dan progesteron juga berkurang. Hisapan
bayi akan merangsang puting susu dan kalang payudara, karena ujung-ujung saraf sensoris
yang berfungsi sebagai reseptor mekanik.
Rangsangan ini dilanjutkan ke hipotalamus melalui medulla spinalis hipotalamus dan akan
menekan pengeluaran faktor penghambat sekresi prolaktin dan sebaliknya merangsang
pengeluaran faktor pemacu sekresi prolaktin.

Faktor pemacu sekresi prolaktin akan merangsang hipofise anterior sehingga keluar prolaktin.
Hormon ini merangsang sel-sel alveoli yang berfungsi untuk membuat air susu.
Kadar prolaktin pada ibu menyusui akan menjadi normal 3 bulan setelah melahirkan sampai
penyapihan anak dan pada saat tersebut tidak akan ada peningkatan prolaktin walau ada
isapan bayi, namun pengeluaran air susu tetap berlangsung.
Pada ibu nifas yang tidak menyusui, kadar prolaktin akan menjadi normal pada minggu ke 2
3. Sedangkan pada ibu menyusui prolaktin akan meningkat dalam keadaan seperti: stress
atau pengaruh psikis, anastesi, operasi dan rangsangan puting susu
Refleks Aliran (Let Down Reflek)
Bersamaan dengan pembentukan prolaktin oleh hipofise anterior, rangsangan yang
berasal dari isapan bayi dilanjutkan ke hipofise posterior (neurohipofise) yang kemudian
dikeluarkan oksitosin. Melalui aliran darah, hormon ini menuju uterus sehingga menimbulkan
kontraksi. Kontraksi dari sel akan memeras air susu yang telah terbuat, keluar dari alveoli dan
masuk ke sistem duktus dan selanjutnya mengalir melalui duktus lactiferus masuk ke mulut
bayi.
Faktor-faktor yang meningkatkan let down adalah: melihat bayi, mendengarkan suara bayi,
mencium bayi, memikirkan untuk menyusui bayi.
Faktor-faktor yang menghambat reflek let down adalah stress, seperti: keadaan bingung/
pikiran kacau, takut dan cemas.
Refleks yang penting dalam mekanisme hisapan bayi
1. Refleks menangkap (rooting refleks)
2. Refleks menghisap
3. Refleks menelan
Refleks Menangkap (Rooting Refleks)
Timbul saat bayi baru lahir tersentuh pipinya, dan bayi akan menoleh ke arah sentuhan. Bibir
bayi dirangsang dengan papilla mamae, maka bayi akan membuka mulut dan berusaha
menangkap puting susu.
Refleks Menghisap (Sucking Refleks)
Refleks ini timbul apabila langit-langit mulut bayi tersentuh oleh puting. Agar puting
mencapai palatum, maka sebagian besar areola masuk ke dalam mulut bayi. Dengan
demikian sinus laktiferus yang berada di bawah areola, tertekan antara gusi, lidah dan
palatum sehingga ASI keluar.
Refleks Menelan (Swallowing Refleks)
Refleks ini timbul apabila mulut bayi terisi oleh ASI, maka ia akan menelannya.
Pada akhir kehamilan, terjadi sekresi cairan jernih kekuningan yang disebut kolustrum
yang mengandung imunoglobulin, produksi kolustrum terus meningkat pasca persalinan dan
digantikan dengan produksi ASI. Kadar estrogen menurun dengan cepat 48 jam pasca
persalinan sehingga memungkinkan berlangsungnya aktivitas hPr terhadap sel alveolus untuk
inisiasi dan mempertahankan proses laktasi.
Proses laktasi semakin meningkat dengan isapan pada payudara secara dini dan sering oleh
karena secara reflektoar, isapan tersebut akan semakin meningkatkan kadar hPr Emosi negatif
[kecemasan ibu bila ASI tak dapat keluar] menyebabkan penurunan sekresi prolaktin melalui
proses pelepasan prolactine-inhibiting factor (dopamin) dari hipotalamus.
Pada hari ke 2 dan ke 3 pasca persalinan, hPr merangsang alveolus untuk menghasilkan
ASI. Pada awalnya, ASI menyebabkan distensi alveolus dan ductus kecil sehingga payudara
menjadi tegang.
Gambar 2.Reflek Prolaktin

B. Pengeluaran air susu (oksitosin)

Dua faktor yang terlibat dalam mengalirkan air susu dari sel-sel sekretorik ke papilla
mammae

Gambar 3. Sel mioepitelial sekitar villi yang sebagian berisi ASI


Keluarnya ASI terjadi akibat kontraksi sel mioepitelial dari alveolus dan ductuli (gambar
atas) yang berlangsung akibat adanya reflek ejeksi ASI ( let-down reflex ).
Gambar 4. Reflek ejeksi ASI
Reflek ejeksi ASI diawali hisapan oleh bayi hipotalamus hipofisis mengeluarkan
oksitosin kedalam sirkulasi darah ibu ( gambar atas).Oksitosin menyebabkan terjadinya
kontraksi sel mioepitelial dan ASI disalurkan kedalam alveoli dan ductuli ductus yang
lebih besar penampungan subareolar.
Oksitosin mencegah keluarnya dopamin dari hipotalamus sehingga produksi ASI dapat
berlanjut. Emosi negatif dan faktor fisik dapat mengurangi reflek ejeksi ASI, tugas perawatan
pasca persalinan antara lain meliputi usaha untuk meningkatkan keyakinan seorang ibu
bahwa dia mampu untuk memberikan ASI kepada bayinya.
1. Tekanan dari belakang
Tekanan globuli yang baru terbentuk di dalam sel akan mendorong globuli tersebut ke dalam
tubuli laktifer dan pengisapan oleh bayi akan memacu sekresi air susu lebih banyak.

2. Refleks neurohormonal
Apabila bayi disusui, maka gerakan menghisap yang berirama akan menghasilkan
rangsangan saraf yang terdapat di dalam glandula pituitaria posterior.akibat langsung refleks
ini adalah dikeluarkannya oksitosin dari pituitari posterior : hal ini akan menyebabkan sel-sel
miopitel (sel keranjang atau sel laba-laba) di sekitar alveoli akan berkontraksi dan mendorong
air susu masuk kedalam pembuluh lactifer dan dengan demikian lebih banyak air susu yang
mengalir ke dalam ampulla. Refleks ini dapat dihambat oleh adanya rasa sakit,misalnya
jahitan perineum. Dengan demikian penting untuk menempatkan ibu falam posisi yang
nyaman, santai dan bebas dari rasa sakit terutama pada jam-jam menyusukan anak.
Gambar 5. Proses pengaliran ASI/ refleks oksitosin

Sekresi oksitosin yang sama juga akan menyebabkan otot uteus berkontraksi dan membantu
involusi uterus selama puerperium (masa nifas).

C. Pemeliharaan laktasi

Penyediaan berlangsung terus sesuai kebutuhan. Apabila bayi tidak disusukan,maka tidak
akan dimulai penyediaan air susu. Apabila seorang ibu bayi kembar menyusukan kedua
bayinya bersama, maka penyediaan air susu akan tetap cukup untuk kedua bayi tersebut.
Maka sering bayi disusukan, penyediaan air susu ibu juga makin baik.
Dua faktor penting untuk pemeliharaan laktasi tersebut adalah :
1. Rangsangan
Bayi yang minum air susu ibu perlu sering menyusui, terutama pada hari-hari neonatal
awal. Penting bahwa bayi difiksasi pada payudara dengan posisi yang benar apabila
diinginkan untuk meningkatkan rangsangan yang tepat. Rangsangan gusi bayi sebaiknya
berada pada kulit areola,sehingga tekanan diberikan kepada ampula yang ada dibawahnya
sebagai tempat tersimpannya air susu. Dengan demikian bayi minum dari payudara,dan
bukan dari papilla mammae. Apabila ibu mengeluh rasa sakit, maka bayi tidak terfiksasi
secara baik.
Sebagai respons terhadap pengisapan, prolaktin dikeluarkan dari glandula pituitasi
anterior dan demikian memacu pembentukan air susu yang lebih banyak. Apabila karena
suatu alasan tertentu bayi tidak dapat menyusu sejak awal,maka ibu dapat memeras air susu
dari payudaranya dengan tangan atau menggunakan pompa payudara. Tetapi pengisapan oleh
bayi akan memberikan rangsangan yang jauh lebih besar dibandingkan denagn kedua cara
tersebut.
Fiksasi
Fiksasi bayi (yaitu aposisi yang benar antara lidah dengan gusi bayi terhadap papilla dan
areola mammae ibu) merupakan seni yang perlu dipelajari oleh peserta didik sebelum mereka
mencoba melatih ibu-ibu muda. Ibu, bayi dan bidan yang mengajari perlu menemukan posisi
yang nyaman untuk mencapai maksud ini, dan mungkin perlu mencoba posisi yang berbeda-
beda.

2. Pengosongan payudara secara sempurna


Bayi sebaiknya mengosongkan satu payudara sebelum diberikan payudara yang lain.
Apabila bayi tidak mengosongkan payudara yang kedua, maka pada pemberian air susu yang
berikutnya payudara kedua ini yang diberikan pertama kali. Atau bayi mungkin sudah
kenyang dengan satu payudara, maka payudara yang kedua digunakan pada pemberian air
susu berikutnya. Apabila diinginkan bayi benar-benar puas (kenyang), maka bayi perlu
diberikan baik air susu pertama (fore-milk) maupun air susu kedua (hind-milk) pada saat
sekali minum. Hal ini hanya dapat dicapai dengan pengosongan sempurna pada satu
payudara.
Penting bahwa bayi minum air susu apabila ia menginginkannya dan selama ia ingin
minum, maka penyediaannya jangan sampai tidak cukup atau berlebihan. Apabila air susu
yang diproduksi tidak dikeluarkan maka laktasi akan tertekan (mengalami hambatan) karena
terjadi pembengkakan alveoli dan sel keranjang tidak dapat berkontraksi. Air susu ibu tidak
dapat dipaksa masuk kedalam ductus lactifer. Tidak terlalu ditekankan disini bahwa
memberikan air susu ibu saat dibutuhkan dan melakukan stripping payudara setiap
menyusukan anak juga penting untuk memelihara laktasi. Rutinitas dan pola minum air susu
ibu akan terbentuk dan minumnya akan lebih jarang apabila laktasi telah berfungsi penuh.

D. Komposisi ASI dan Stadium Laktasi


1) kolostrum (susu jolong) pelindung yang kolosal
a. kolostrum adalah cairan emas, cairan pelindung yang kaya zat anti infeksi dan berpotensi
tinggi.
b. komposisi kolostrum rata-rata mengandung protein 8,5%, lemak 2,5%, karbohidrat 3,5%,
corpusculum colostrums, garam mineral 0,4%, air 85,1%, leukosit sisa-sisa epitel yang mati
vitamin A,B,C,D,E dan K dalam jumlah yang sedikit, nilai kalori sama dengan 80kJ/30ml.
c. fungsi kolostrum memberikan gizi dan proteksi, yang berperan dalam proteksi untuk menata
yang terdiri dari :
1) Imunoglobulin melapisi dinding usus yang berfungsi untuk mencegah penyerapan protein
yang mungkin menyebabkan alergi.
2) Laktoferin merupakan protein yang mempunyai afinitas yang tinggi terhadap zat besi. Kadar
laktoferin yang tertinggi pada kolostrum dan air susu ibu adalah pada 7 hari pertama
pascapartum (setelah melahirkan). Kandungan zat besi yang rendah pada kolostrum dan air
susu ibu akan mencegah perkembangan pathogen (setelah meahirkan). Kandungan zat besi
yang rendah pada kolostrum dan air susu ibu akan mencegah perkembangan pathogen.
Laktoferin terdapat di dalam air susu sapi, tetapi laktoferin ini akan rusak pada proses
pasteurisasi. Laktoferin tidak terdapat dalam makanan buatan (formula). Efek imunologis
laktoferin akan hilang apabila makanan bayi ditambah zat besi.
3) Lisosom berfungsi sebagai anti bakteri dan juga menghambat pertumbuhan berbagai virus.
Kadar lisosom pada kolostrum dan air susu jauh lebih besar kadarnya disbanding air susu
sapi.
4) Factor anti trifsin berfungsi menghambat kerja trifsin sehingga akan menyebabkan
immunoglobulin pelindung tidak akan dipecah oleh tripsin.
5) Laktobasilus ada di dalam usus bayi dan menghasilkan berbagai asam yang mencegah
pertumbuhan kuman pathogen. Untuk pertumbuhannya, laktobasilus membutuhkan gula yang
mengandung nitrogen yaitu factor bifidus. Factor bifidus ini terdapat didalam kolostrum dan
air susu ibu.
6) Factor bifidus tidak terdapat didalam susu sapi.
Pada hari pertama dan kedua setelh melahirkan, tidak jarang kita mendengar seorang ibu baru
mengatakan, ASI saya belum keluar. Sebenarnya, meski asi yang keluar pada hari tersebut
sedikit menurut ukuran kita, tetapi volume kolostrum dalam payudara. Mendekati kapasitas
lambung bayi 1-2 hari.
Cairan emas yang encer sering kali berwarna kuning atau dapat pula jernih ini lebih
menyerupai darah dari pada susu, sebab mengandung sel hidup yang nenyerupai sel darah
putih yang dapat membunuh kuman penyakit.
Merupakan pencahar yang ideal untuk membersihkan zat yang tidak terpakai dari usus bayi
yang baru lahir dan mempersiapkan saluran pencernaan makanan bayi bagi makanan yang
akan dating.
Lebih banyak mengandung protein dibandingkan dengan asi yang matang. Mengandung zat
anti infeksi 10-17 kali lebih banyak disbanding dengan ASI yang matang. Kadar karbohidrat
dan lemak rendah dibanding dengan susu matang.
Volume kolostrum antara 150-300 mil/24 jam.
Kolostrum harus diberikan pada bayi.
2). ASI transisi / peralihan
ASI peralihan adalah ASi yang keluar setelah kolostrum sampai sebelum menjadi ASI yang
matang.
Kadar protein makin merendah, sedangkan kadar karbohidrat dan lemak makin meninggi.
Volume akan makin meningkat.
3). ASI matang (mature)
Merupakan ASi yang dikeluarkan pada sekitar hari ke 14 dan seterusnya, komposisi relatif
konstan.
Pada ibu yang sehat dengan produksi ASI cukup, ASI merupakan makanan satu-satunya
yang paling baik dan cukup untuk bayi sampai umur 6 bulan.
4). Perbedaan komposisi ASI dari menit ke menit
ASI yang keluar pada lima menit pertama dinamakan foremilk. Foremilk mempunyai
komposisi yang berbeda dengan ASI yang keluar kemudian (hindmilk). Foremilk lebih encer.
Hindmilk mengandung lemak 4-5 kali dibanding foremilk. Diduga hindmilk inilah yang
mengenyangkan bayi.
5). Lemak ASI makanan terbaik otak bayi
Lemak ASi adalah komponen ASI yang dapat berubah-ubah kadarnya. Kadar lemak
bevariasi disesuaikan dengan kebutuhan kalori untuk bayi yang sedang tumbuh. Perubahan
kadar lemak ini terjadi secara otomatis, dapat menyesuaikan diri dengan jumlah kalori yng
dibutuhkan untuk pertumbuhan bayi dari hari ke hari. Bahkan pada hari yang sama kadar
lemak ASI pada waktu yang berbeda tidak sama.
Pada masa pertumbuhan cepat atau loncatan pertumbuhan diperlukan kalori yang lebih
banyak. Oleh karena itu, bayi akan lebih sering menyusu sepanjang hari selama beberapa
minggu. Dengan jarak menyusu yang lebih pendek seperti itu maka kadar lemak akan
meningkat memenuhi kebutuhan energi yang meningkat pada masa pertumbuhan cepat atau
loncatan pertumbuhan bayi dimaksud.

BAB III
PENUTUP

A. SIMPULAN

Fisiologi laktasi dipengaruhi oleh hormone dimulai dari proses produksi ASI yang
dipengaruhi oleh hormone Prolaktin. Pada proses pengeluaran ASI dipengaruhi oleh hormone
Oksitosin. Dalam pemeliharaannya ini dipengaruhi oleh rangsangan maupun pengosongan
ASI. Proses laktasi sangat penting karena komposisi ASI mempunyai nutrisi dan antibody
yang baik bagi bayi seperti kolostrum. Bagi ibu rangsangan yang ditimbulkan dari isapan
bayi dapat membantu proses involusi uterus serta salah satu alat kontrasepsi alami.