Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN MINI PROJECT

PENGELOLAAN AIR MINUM DAN MAKANAN RUMAH


TANGGA DI KELURAHAN HUANGOBOTU KECAMATAN
DUNGINGI KOTA GORONTALO TAHUN 2016

Disusun oleh :
dr. Nabita Aulia

Pendamping :
dr. Merry Buahaty

PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA


DINAS KESEHATAN KOTA GORONTALO
PUSKESMAS DUNGINGI
2016

1
BAB I
PENDAHULUAN`
1.1 Latar Belakang

Menurut World Health Organization (WHO,2006); sanitasi merupakan upaya


pengendalian semua faktor lingkungan fisik manusia yang akan menimbulkan hal-hal
yang merugikan bagi perkembangan fisik, Kesehatan, dan daya tahan hidup manusia;
Berdasarkan data WHO bahwa kematian yang disebabkan karena waterborne disease
mencapai 3.400.000 jiwa per tahun, dan untuk diare merupakan penyebab kematian
terbesar yaitu 1.400.000 jiwa per tahun.

Tantangan yang dihadapi Indonesia terkait dengan masalah air minum, higiene
dan sanitasi masih sangat besar. Hasil studi Indonesia Sanitation Sector Development
Program (ISSDP) tahun 2006, menunjukkan 47% masyarakat masih berperilaku
buang air besar ke sungai, sawah, kolam, kebun dan tempat terbuka. Berdasarkan
studi Basic Human Services (BHS) di Indonesia tahun 2006, perilaku masyarakat
dalam mencuci tangan adalah (i) setelah buang air besar 12%, (ii) setelah
membersihkan tinja bayi dan balita 9%, (iii) sebelum makan 14%, (iv) sebelum
memberi makan bayi 7%, dan (v) sebelum menyiapkan makanan 6%. Sementara studi
BHS lainnya terhadap perilaku pengelolaan air minum rumah tangga menunjukkan
99,2% merebus air untuk mendapatkan air minum, tetapi 47,5% dari air tersebut
masih mengandung Eschericia coli. Kondisi tersebut berkontribusi terhadap tingginya
angka kejadian diare di Indonesia. Kondisi seperti ini dapat dikendalikan melalui
intervensi terpadu melalui pendekatan sanitasi total. Hal ini dibuktikan melalui hasil
studi WHO tahun 2007, yaitu kejadian diare menurun 32% dengan meningkatkan
akses masyarakat terhadap sanitasi dasar, 45% dengan perilaku mencuci tangan pakai
sabun, dan 39% perilaku pengelolaan air minum yang aman di rumah tangga.
Sedangkan dengan mengintegrasikan ketiga perilaku intervensi tersebut, kejadian
diare menurun sebesar 94%. (Depkes RI, 2008).

Masyarakat (STBM) adalah untuk mewujudkan perilaku masyarakat yang


higienis dan saniter secara mandiri dalam rangka meningkatkan derajat Kesehatan
masyarakat yang setinggi-tingginya. Diharapkan pada tahun 2025, Indonesia bisa
mencapai sanitasi total untuk seluruh masyarakat, sebagaimana tercantum dalam

2
Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) Indonesia.

Pendekatan STBM diadopsi dari hasil uji coba Community Led Total
Sanitation (CLTS) yang telah sukses dilakukan di beberapa lokasi proyek air minum
dan sanitasi di Indonesia, khususnya dalam mendorong kesadaran masyarakat untuk
mengubah perilaku buang air besar sembarangan (BABS) menjadi buang air besar di
jamban yang higienis dan layak. Perubahan perilaku BABS merupakan pintu masuk
perubahan perilaku santasi secara menyeluruh. Atas dasar pengalaman keberhasilan

CLTS, pemerintah menyempurnakan pendekatan CLTS dengan aspek sanitasi


lain yang saling berkaitan yang ditetapkan sebagai 5 pilar STBM, yaitu (1) Stop
Buang Air Besar Sembarangan (Stop BABS), (2) Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS),
(3) Pengelolaan Air Minum dan Makanan Rumah Tangga (PAMM-RT), (4)
Pengelolaan Sampah Rumah Tangga (PS-RT), dan (5) Pengololaan Limbah Cair
Rumah Tangga (PLC-RT); (Modul fasilitator STBM, 2014).

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian diatas dapat diketahui bahwa rumusan masalah dalam


penelitian ini yaitu bagaimana hasil Pencapaian Pelaksanaan Sanitasi Total Berbasis
Masyarakat (STBM) khususnya tentang pengelolaan air minum dan makanan rumah
tangga di Kelurahan Huangobotu kota gorontalo.

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan umum

Untuk mengetahui gambaran tentang STBM pilar ketiga yaitu Pengelolaan Air
Minum dan Makanan Rumah Tangga (PAMM RT) di Kelurahan Huangobotu

1.3.2 Tujuan khusus

a. Diketahui karakteristik responden (pendidikan, pekejaan, dan penghasilan) di


kelurahan huangobotu
b. Diketahui pengetahuan responden tentang Pengelolaan Air Minum dan
Makanan Rumah Tangga di kelurahan huangobotu
c. Diketahuinya penerapan pelaksanaan STBM pilar ketiga yaitu Pengelolaan
Air Minum dan Makanan Rumah Tangga (PAMM RT) di kelurahan
huangobotu

3
d. Untuk mengetahui jenis sarana air bersih yang digunakan untuk mencuci
bahan makanan di kelurahan huangobotu
e. Untuk mengetahui pengelolaan makanan yang baik dan benar di kelurahan
huangobotu

1.4 Manfaat Penelitian

Bagi Peneliti

Peneliti mendapatkan wawasan dan pengetahuan lebih mengenai Program


Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) dan mendapatkan pengalaman pribadi
dalam mengaplikasikan ilmu yang didapat semasa perkuliahan khususnya dalam hal
metodologi penelitian.

Bagi Warga di Kelurahan Huangobotu

Menambah wawasan dan pengetahuan warga di kelurahan huangobotu tentang


program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) sehingga diharapkan warga
dapat meningkatkan derajat kesehatannya dalam kehidupan sehari-hari.

1.5 Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini terbatas pada:

Data yang digunakan adalah data primer yang diperoleh dengan menggunakan
instrumen berupa kuesioner dan diperkuat dengan menggunakan wawancara
mendalam.

4
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 PENYEDIAAN AIR BERSIH

2.1.1 Pengertian air bersih

Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor


1405/menkes/sk/xi/2002 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja
Perkantoran dan industri terdapat pengertian mengenai Air Bersih yaitu air yang
dipergunakan untuk keperluan sehari-hari dan kualitasnya memenuhi persyaratan
kesehatan air bersih sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan
dapat diminum apabila dimasak.Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia Nomor 16 Tahun 2005 Tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air
Minum, didapat beberapa pengertian mengenai :

1. Air baku untuk air minum rumah tangga, yang selanjutnya disebut air baku
adalah air yang dapat berasal dari sumber air permukaan, cekungan air tanah
dan/atau air hujan yang memenuhi baku mutu tertentu sebagai air baku untuk
air minum.
2. Air minum adalah air minum rumah tangga yang melalui proses pengolahan
atau tanpa proses pengolahan yang memenuhi syarat kesehatan dan dapat
langsung diminum.
3. Air limbah adalah air buangan yang berasal dari rumah tangga termasuk tinja
manusia dari lingkungan permukiman.
4. Penyediaan air minum adalah kegiatan menyediakan air minum untuk
memenuhi kebutuhan masyarakat agar mendapatkan kehidupan yang sehat,
bersih, dan produktif.
5. Sistem Penyediaan Air Minum yang selanjutnya disebut SPAM merupakan
satu kesatuan sistem fisik (teknik) dan non fisik dari prasarana dan sarana air
minum.
6. Pengembangan SPAM adalah kegiatan yang bertujuan membangun,
memperluas dan/atau meningkatkan sistemfisik (teknik) dan non fisik
(kelembagaan, manajemen,keuangan, peran masyarakat, dan hukum) dalam
kesatuan yang utuh untuk melaksanakan penyediaan air minum kepada
masyarakat menuju keadaan yang lebih baik.
7. Penyelenggaraan pengembangan SPAM adalah kegiatan merencanakan,
melaksanakan konstruksi, mengelola, memelihara, merehabilitasi, memantau,
dan/atau mengevaluasi sistem fisik (teknik) dan non fisik penyediaan air
minum.
8. Penyelenggara pengembangan SPAM yang selanjutnya disebut Penyelenggara
adalah badan usaha milik negara/badan usaha milik daerah, koperasi, badan
usaha swasta, dan/atau kelompok masyarakat yang melakukan
penyelenggaraan pengembangan sistem penyediaan air minum.

5
2.1.2 Sumber Air Bersih

Berdasarkan petunjuk Program Pembangunan Prasarana Kota Terpadu perihal


Pedoman Perencanaan dan Desain Teknis Sektor Air Bersih, disebutkan bahwa
sumber air baku yang perlu diolah terlebih dahulu adalah:

1. Mata air, Yaitu sumber air yang berada di atas permukaan tanah. Debitnya
sulit untuk diduga, kecuali jika dilakukan penelitian dalam jangka beberapa
lama.
2. Sumur dangkal (shallow wells), Yaitu sumber air hasil penggalian ataupun
pengeboran yang kedalamannya kurang dari 40 meter.
3. Sumur dalam (deep wells), Yaitu sumber air hasil penggalian ataupun
pengeboran yang kedalamannya lebih dari 40 meter.
4. Sungai, Yaitu saluran pengaliran air yang terbentuk mulai dari hulu di daerah
pegunungan/tinggi sampai bermuara di laut/danau. Secara umum air baku
yang didapat dari sungai harus diolah terlebih dahulu, karena kemungkinan
untuk tercemar polutan sangat besar.
5. Danau dan Penampung Air (lake and reservoir), Yaitu unit penampung air
dalam jumlah tertentu yang airnya berasal dari aliran sungai maupun
tampungan dari air hujan.

Sumber-sumber air yang ada dapat dimanfaatkan untuk keperluan air minum
adalah (Budi D. Sinulingga, Pembangunan Kota Tinjauan Regional dan Lokal, 1999):

1. Air hujan. Biasanya sebelum jatuh ke permukaan bumi akan mengalami


pencemaran sehingga tidak memenuhi syarat apabila langsung diminum.
2. Air permukaan tanah (surface water). Yaitu rawa, sungai, danau yang tidak
dapat diminum sebelum melalui pengolahan karena mudah tercemar.
3. Air dalam tanah (ground water). Yang terdiri dari air sumur dangkal dan air
sumur dalam. Air sumur dangkal dianggap belum memenuhi syarat untuk
diminum karena mudah tercemar. Sumber air tanah ini dapat dengan mudah
dijumpai seperti yang terdapat pada sumur gali penduduk, sebagai hasil
budidaya manusia. Keterdapatan sumber air tanah ini sangat dipengaruhi oleh
beberapa faktor, seperti topografi, batuan, dan curah hujan yang jatuh di
permukaan tanah. Kedudukan muka air tanah mengikuti bentuk topografi,
muka air tanah akan dalam di daerah yang bertopografi tinggi dan dangkal di
daerah yang bertopografi rendah.

Di lain pihak sumur dalam yang sudah mengalami perjalanan panjang adalah air
yang jauh lebih murni, dan pada umumnya dapat langsung diminum, namun
memerlukan pemeriksaan laboratorium untuk memastikan kualitasnya. Keburukan
dari pemakaian sumur dalam ini adalah apabila diambil terlalu banyak akan
menimbulkan intrusi air asin dan air laut yang membuat sumber air jadi asin, biasanya
daerah-daerah sekitar pantai.

6
Mata air (spring water), Sumber air untuk penyediaan air minum berdasarkan
kualitasnya dapat dibedakan atas:
1. Sumber yang bebas dari pengotoran (pollution).
2. Sumber yang mengalami pemurniaan alamiah (natural purification).
3. Sumber yang mendapatkan proteksi dengan pengolahan buatan (artificial
treatment).

2.1.3 Standar Kualitas Air Baku

Air bersifat universal dalam pengertian bahwa air mampu melarutkan zat-zat
yang alamiah dan buatan manusia. Untuk menggarap air alam, meningkatkan
mutunya sesuai tujuan, pertama kali harus diketahui dahulu kotoran dan kontaminan
yang terlarut di dalamnya. Pada umumnya kadar kotoran tersebut tidak begitu besar.

Dengan berlakunya baku mutu air untuk badan air, air limbah dan air bersih,
maka dapat dilakukan penilaian kualitas air untuk berbagai kebutuhan. Di Indonesia
ketentuan mengenai standar kualitas air bersih mengacu pada Peraturan Menteri
Kesehatan berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 416 tahun 1990 tentang Syarat-
Syarat dan Pengawasan Kualitas Air Bersih. Berdasarkan SK Menteri Kesehatan 1990
Kriteria penentuan standar baku mutu air dibagi dalam tiga bagian yaitu:

1. Persyaratan kualitas air untuk air minum.


2. Persyaratan kualitas air untuk air bersih.
3. Persyaratan kualitas air untuk limbah cair bagi kegiatan yang telah beroperasi.

Mengingat betapa pentingnya air bersih untuk kebutuhan manusia, maka kualitas
air tersebut harus memenuhi persyaratan, yaitu:

1. Syarat fisik, antara lain:


Air harus bersih dan tidak keruh.
Tidak berwarna
Tidak berasa
Tidak berbau
Suhu antara 10o-25 o C (sejuk)
Syarat kimiawi, antara lain:
i. Tidak mengandung bahan kimiawi yang mengandung racun.
ii. Tidak mengandung zat-zat kimiawi yang berlebihan.
iii. Cukup yodium.
iv. pH air antara 6,5 9,2.
v. Syarat bakteriologi, antara lain:
Tidak mengandung kuman-kuman penyakit seperti disentri, tipus, kolera, dan bakteri
patogen penyebab penyakit.

Pada umumnya kualitas air baku akan menentukan besar kecilnya investasi
instalasi penjernihan air dan biaya operasi serta pemeliharaannya. Sehingga semakin
jelek kualitas air semakin berat beban masyarakat untuk membayar harga jual air

7
bersih. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.
173/Men.Kes/Per/VII/1977, penyediaan air harus memenuhi kuantitas dan kualitas,
yaitu:

1. Aman dan higienis.


2. Baik dan layak minum.
3. Tersedia dalam jumlah yang cukup.
4. Harganya relatif murah atau terjangkau oleh sebagian besar masyarakat.

Mengenai parameter kualitas air baku, Depkes RI telah menerbitkan standar


kualitas air bersih tahun 1977 (Ryadi Slamet, 1984:122). Dalam peraturan tersebut
standar air bersih dapat dibedakan menjadi tiga kategori (Menkes No. 173/per/VII
tanggal 3 Agustus 1977):

1. Kelas A: Air yang dipergunakan sebagai air baku untuk keperluan air minum.
2. Kelas B: Air yang dipergunakan untuk mandi umum, pertanian dan air yang
terlebih dahulu dimasak.
3. Kelas C: Air yang dipergunakan untuk perikanan darat.

2.1.4 Sistem Penyediaan Air Bersih

Sistem penyediaan air bersih meliputi besarnya komponen pokok antara lain: unit
sumber air baku, unit pengolahan, unit produksi, unit transmisi, unit distribusi dan
unit konsumsi.

1. Unit sumber air baku merupakan awal dari sistem penyediaan air bersih yang
mana pada unit ini sebagai penyediaan air baku yang bisa diambil dari air
tanah, air permukaan, air hujan yang jumlahnya sesuai dengan yang
diperlukan.
2. Unit pengolahan air memegang peranan penting dalam upaya memenuhi
kualitas air bersih atau minum, dengan pengolahan fisika, kimia, dan
bakteriologi, kualitas air baku yang semula belum memenuhi syarat kesehatan
akan berubah menjadi air bersih atau minum yang aman bagi manusia.
3. Unit produksi adalah salah satu dari sistem penyediaan air bersih yang
menentukan jumlah produksi air bersih atau minum yang layak didistribusikan
ke beberapa tandon atau reservoir dengan sistem pengaliran gravitasi atau
pompanisasi. Unit produksi merupakan unit bangunan yang mengolah jenis-
jenis sumber air menjadi air bersih. Teknologi pengolahan disesuaikan dengan
sumber air yang ada.
4. Unit transmisi berfungsi sebagai pengantar air yang diproduksi menuju ke
beberapa tandon atau reservoir melalui jaringan pipa.
5. Unit distribusi adalah merupakan jaringan pipa yang mengantarkan air bersih
atau minum dari tandon atau reservoir menuju ke rumah-rumah konsumen
dengan tekanan air yang cukup sesuai dengan yang diperlukan konsumen.
6. Unit konsumsi adalah merupakan instalasi pipa konsumen yang telah
disediakan alat pengukur jumlah air yang dikonsumsi pada setiap bulannya.

8
2.1.5 Tahapan Perencanaan Air Bersih

Dalam pemenuhan kebutuhan prasarana air bersih, maka dilakukan tahapan-


tahapan perencanaan berdasarkan 5 (lima) komponen utama yang terdiri dari:

1. Perhitungan Kebutuhan Air


Kebutuhan air dihitung berdasarkan kebutuhan untuk rumah tangga (domestik), non
domestik dan juga termasuk perhitungan atas kebocoran air. Analisis kebutuhan air
ini disesuaikan dengan hasil perhitungan proyeksi penduduk, prosentase penduduk
yang dilayani dan besarnya pemakaian air.

2. Identifikasi Sumber Air Baku


Identifikasi air baku terutama dimaksudkan untuk mendapatkan informasi mengenai:

Jarak dan beda tinggi sumber air terhadap daerah pelayanan


Debit andalan sumber air
Kualitas air baku dan jenis alokasi sumber air baku pada saat ini

3. Pemeriksaan dan Penilaian Kualitas Air


Sistem pengolahan air yang dibangun harus dapat memproduksi air yang memenuhi
standar kualitas air bersih yang ditetapkan oleh Departemen Kesehatan RI.

4. Pemilihan Alternatif Sistem


Sistem penyediaan air bersih yang dirancang merupakan sistem terpilih yang
diperoleh berdasarkan hasil pemilihan terhadap beberapa alternatif pilihan sistem.
Penentuan pilihan didasarkan pada penilaian berdasarkan aspek:

Teknis
Ekonomis
Lingkungan
5. Perhitungan Kebocoran/Kehilangan Air
Kehilangan air yang disebabkan kebocoran teknis dan non teknis diperkirakan sebesar
20% dari kebutuhan total.

6. Perencanaan Sistem Penyediaan Air Bersih


Sistem Penyediaan Air Bersih terdiri dari:
Sistem Produksi meliputi Intake dan Instalasi Pengolahan Air
Sistem Distribusi meliputi Reservoir dan Pipa Induk
Sistem Pemanfaatan melalui Sambungan Rumah dan Hydrant Umum
Faktor-faktor yang mempengaruhi sistem distribusi adalah:
Pola tata guna lahan
Kepadatan penduduk
Kondisi topografi kota
Rancangan induk kota.

9
Pengelolaan air minum dan makanan rumah tangga (PAMM-RT) merupakan
suatu proses pengolahan, penyimpanan, dan pemanfaatan air minum dan pengelolaan
makanan yang aman di rumah tangga. Tahapan kegiatan dalam PAMM-RT, yaitu:

a) Pengolahan air baku. Apabila air baku keruh perlu dilakukan pengolahan awal:
Pengendapan dengan gravitasi alami
Penyaringan dengan kain
Pengendapan dengan bahan kimia/tawas
b) Pengolahan air minum. Pengolahan air minum di rumah tangga dilakukan untuk
mendapatkan air dengan kualitas air minum. Air untuk minum harus diolah
terlebih dahulu untuk menghilangkan kuman dan penyakit melalui :
Filtrasi (penyaringan), contoh : biosand filter, keramik filter, dan sebagainya.
Klorinasi, contoh : klorin cair, klorin tablet, dan sebagainya.
Koagulasi dan flokulasi (penggumpalan), contoh : bubuk koagulan
Desinfeksi, contoh : merebus, sodis (Solar Water Disinfection)
c) Wadah Penampungan air minum. Setelah pengolahan air, tahapan selanjutnya
menyimpan air minum dengan aman untuk keperluan sehari-hari, dengan cara:
Wadah bertutup, berleher sempit, dan lebih baik dilengkapi dengan kran.
Air minum sebaiknya disimpan di wadah pengolahannya.
Air yang sudah diolah sebaiknya disimpan dalam tempat yang bersih dan
selalu tertutup.
Minum air dengan menggunakan gelas yang bersih dan kering atau tidak
minum air langsung mengenai mulut/wadah kran.
Letakkan wadah penyimpanan air minum di tempat yang bersih dan sulit
terjangkau oleh binatang.
Wadah air minum dicuci setelah 3 hari atau saat air habis, gunakan air yang
sudah diolah sebagai air bilasan terakhir.
d) Hal penting dalam PAMM-RT
Cucilah tangan sebelum menangani air minum dan mengolah makanan siap
santap.
Mengolah air minum secukupnya sesuai dengan kebutuhan rumah tangga.
Gunakan air yang sudah diolah untuk mencuci sayur dan buah siap santap
serta untuk mengolah makan siap santap.
Tidak mencelupkan tangan ke dalam air yang sudah diolah menjadi air
minum.
Secara periodik meminta petugas kesehatan untuk melakukan pemeriksaan air
guna pengujian laboratorium.

Pada penelitian yang dilakukan oleh Gotaas, dkk dalam Soeparman (2002),
sumber kontaminasi yang berupa tinja manusia yang ditempatkan dalam lubang yang
menembus permukaan air tanah. Sampel positif organisme coliform didapatkan pada
jarak 4 sampai 6 m dari sumber kontaminasi. Daerah kontaminasi melebar ke luar
sampai kira-kira 2 m pada titik yang berjarak sekitar 5 m dari jamban dan menyempit

10
pada kira-kira 11 m. Kontaminasi tidak bergerak melawan arah aliran air tanah.
Setelah beberapa bulan, tanah sekitar jamban akan mengalami penyumbatan
(clogging), dan sampel yang positif dapat diperoleh hanya pada jarak 2-3 m dari
lubang. Dengan kata lain, daerah kontaminasi tanah telah menyempit. Pola
pencemaran secara kimiawi sama bentuknya dengan pencemaran bakteriologis, hanya
jarak jangkaunya lebih jauh..

Dari sudut pandang sanitasi, yang penting diperhatikan adalah jarak


perpindahan maksimum dari bahan pencemar dan kenyataan bahwa arah perpindahan
selalu searah dengan arah aliran air tanah. Dalam penempatan sumur, harus diingat
bahwa air yang berada dalam lingkaran pengaruh sumur mengalir menuju sumur
tersebut. Tidak boleh ada bagian daerah kontaminasi kimiawi ataupun bakteriologis
yang berada dalam jarak jangkau lingkaran pengaruh sumur (Soeparman, 2002:50).
Tindakan pencegahan pencemaran sumur gali oleh bakteri coliform, yang harus
diperhatikan adalah jarak sumur dengan cubluk (kakus), lubang galian sampah,
lubang galian untuk air limbah (cesspool; seepage pit) dan sumber-sumber pengotoran
lainnya. Jarak ini tergantung pada keadaan tanah dan kemiringan tanah. Pada
umumnya dapat dikatakan jarak yang aman tidak kurang dari 10 meter dan
diusahakan agar letaknya tidak berada di bawah tempat-tempat sumber pengotoran
seperti yang disebutkan di atas (Entjang, 2000:78). Sedangkan menurut Chandra
(2007:46), Sumur harus berjarak minimal 15 meter dan terletak lebih tinggi dari
sumber pencemaran seperti kakus, kandang ternak, tempat sampah dan sebagainya.

Sedangkan menurut Standar Nasional Indonesia (SNI) 03-2916-1992 tentang


Spesifikasi Sumur Gali untuk Sumber Air Bersih, bahwa jarak horizontal sumur ke
arah hulu dari aliran air tanah atau sumber pengotoran (bidang resapan/tangki septic
tank) lebih dari 11 meter, sedangkan jarak sumur untuk komunal terhadap perumahan
adalah lebih dari 50 meter.

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia (Kepmenkes RI) Nomor


907/Menkes/SK/VII/2002 tentang syarat- syarat dan pengawasan kualitas air minum
adalah sebagai berikut:

1. Syarat mikrobiologis.E. coli merupakan parameter dalam

penilaian persyaratan kualitas air minum. Kadar maksimum dalam air minum yang
diizinkankan yaitu 0. Air minum harus bebas dari kuman-kuman penyakit,
termasuk didalamnya bakteri, protozoa, virus, cacing dan jamur.

11
2. Syarat kimiaTidak diperbolehkan mengandung zat

kimia (misalnya pestisida, desinfektans dan hasil sampingannya) dalam kadar yang
melebihi kadar maksimum yang telah ditetapkan, karena dapat meng- ganggu
kesehatan. Air harus bebas dari unsur kimia beracun, baik itu anorganik maupun
organik.

3. SyaratradioaktifTidak terdapat unsur-unsur radioaktif

meter dan letaknya diusahakan tidak berada dibawah tempat-tempat sumber


pengotoran seperti kakus, empang, lubang galian untuk air kotor dan sebagainya.

Sumur gali dengan kedalaman 15 meter layak digunakan sebagai sumber air minum
oleh karena kualitas air tanah dalam umum- nya lebih sempurna dan bebas bakteri.
Kehidupan bakteri golongan patogen mau- pun tidak patogen didasari pada keadaan
lingkungan sekitarnya; tergantung ada ti- daknya oksigen (O2). Dengan adanya oksi-
gen, mikroorganisme dapat melakukan pro- ses aerobik sehingga dapat
mengembangkan kehidupannya dengan memanfaatkan ling- kungan sekitarnya.

E. coli merupakan salah satu jenis spesies utama bakteri gram negatif. Bakteri ini
ditemukan oleh Theodor Escherich pada tahun 1885 dari kotoran bayi. E. coli yang
hidup dan merupakan spesies dominan da- lam tinja dapat menyebabkan diare,
muntah- berak (muntaber) dan masalah pencernaan lainnya. Bakteri ini banyak
digunakan da- lam teknologi rekayasa genetika; biasa di- gunakan sebagai vektor
untuk menyisipkan gen-gen tertentu yang diinginkan untuk dikembangkan. E. coli
dipilih karena per- tumbuhannya sangat cepat dan mudah da- lam penanganannya.
Bakteri ini hidup da- lam jumlah besar di dalam usus manusia dan hewan, yaitu
membantu sistem pencer- naan manusia dan melindunginya dari bak- teri patogen.
Akan tetapi ada strain baru E. coli yang berbahaya karena bersifat patogen. E. Coli
mempunyai dimensi berbentuk batang pendek gemuk dengan panjang 1-3 m dan
lebar 0,4-0,7 m, gram negatif bergerak aktif dan tidak berspora.

E. coli dapat tumbuh pada suhu 10C- 40C dengan suhu optimal 37C. Pertum-
buhan optimal terjadi pada pH 7,07,5 (kisaran pH: 4,0 9.0). Bakteri ini sangat peka
terhadap panas dan dapat diinaktifkan pada suhu pasteurisasi makanan atau selama
pemasakan. E. coli dapat tahan berbulan- bulan dalam tanah dan di dalam air, tetapi
dapat dimatikan dengan pemanasan pada 60C selama 20 menit atau jika diberi klorin
berkadar 0,5 sampai 1 part per million (ppm).

2.2 PENGELOLAAN MAKANAN

Makanan adalah Kebutuhan pokok manusia yang dibutuhkan setiap saat dan
memerlukan pengelolaan yang baik dan benar agar bermanfaat bagi tubuh atau
sumber energi satu-satunya bagi manusia. Fungsi pokok makanan bagi kehidupan
manusia yakni:

1. Sumber energy guna melakukan aktivitas sehari-hari.


2. Berperan di dalam mekanisme pertahanan tubuh terhadap berbagai penyakit.
3. Mengatur metabolismedan mengatur berbagai keseimbangan air mineral dan cairan
tubuh yang lain.

12
4. Memelihara proses tubuh dalam pertumbuhan/perkembangan serta mengganti
jaringan tubuh yang rusak

Makanan yang dikonsumsi hendaknya memenuhi kriteria bahwa


makanan tersebut layak untuk dimakan dan tidak menimbulkan penyakit, diantaranya:

1. Berada dalam derajat kematangan yang dikehendaki


2. Bebas dari perubahan fisik, kimia yang tidak di hendaki sebagai akibat dari
pengaruh enzim, aktifitas mikroba, serangga, parasit, dan kerusakan-kerusakan
karena tekanan, pemasakan, pengeringanBebas dari pencemarandi setiap tahap
produksi dan penanganan selanjutnya
3. Bebas dari mikroorganismedan parasit yang menimbulkan penyakit yang
dihantarkan oleh makanan (food borne illness).
(Depkes RI, 1999).

Makanan harus dikelola dengan baik dan benar agar tidak menyebabkan gangguan
kesehatan dan bermanfaat bagi tubuh. Cara pengelolaan makanan yang baik yaitu
dengan menerapkan prinsip higiene dan sanitasi makanan. Pengelolaan makanan di
rumah tangga, walaupun dalam jumlah kecil atau skala rumah tangga juga harus
menerapkan prinsip higiene sanitasi makanan. Prinsip higiene sanitasi makanan :
a. Pemilihan bahan makanan. Pemilihan bahan makanan harus memperhatikan
mutu dan kualitas serta memenuhi persyaratan yaitu untuk bahan makanan
tidak dikemas harus dalam keadaan segar, tidak busuk, tidak rusak/berjamur,
tidak mengandung bahan kimia berbahaya dan beracun serta berasal dari
sumber yang resmi atau jelas. Untuk bahan makanan dalam kemasan atau
hasil pabrikan, mempunyai label dan merek, komposisi jelas, terdaftar dan
tidak kadaluwarsa.
b. Penyimpanan bahan makanan. Menyimpan bahan makanan baik bahan
makanan tidak dikemas maupun dalam kemasan harus memperhatikan tempat
penyimpanan, cara penyimpanan, waktu/lama penyimpanan dan suhu
penyimpanan. Selama berada dalam penyimpanan harus terhindar dari
kemungkinan terjadinya kontaminasi oleh bakteri, serangga, tikus dan hewan
lainnya serta bahan kimia berbahaya dan beracun. Bahan makanan yang
disimpan lebih dulu atau masa kadaluwarsanya lebih awal dimanfaatkan
terlebih dahulu.
c. Pengolahan makanan. Empat aspek higiene sanitasi makanan sangat
mempengaruhi proses pengolahan makanan, oleh karena itu harus memenuhi
persyaratan, yaitu :
-Tempat pengolahan makanan atau dapur harus memenuhi persyaratan teknis
higiene sanitasi untuk mencegah risiko pencemaran terhadap makanan serta
dapat mencegah masuknya serangga, binatang pengerat, vektor dan hewan
lainnya.
- Peralatan yang digunakan harus tara pangan (food grade) yaitu aman dan
tidak berbahaya bagi kesehatan (lapisan permukaan peralatan tidak larut
dalam suasana asam/basa dan tidak mengeluarkan bahan berbahaya dan
beracun) serta peralatan harus utuh, tidak cacat, tidak retak, tidak gompel dan
mudah dibersihkan.

13
- Bahan makanan memenuhi persyaratan dan diolah sesuai urutan prioritas
Perlakukan makanan hasil olahan sesuai persyaratan higiene dan sanitasi
makanan, bebas cemaran fisik, kimia dan bakteriologis.
- Penjamah makanan/pengolah makanan berbadan sehat, tidak menderita
penyakit menular dan berperilaku hidup bersih dan sehat.
d. Penyimpanan makanan matang. Penyimpanan makanan yang telah matang
harus memperhatikan suhu, pewadahan, tempat penyimpanan dan lama
penyimpanan. Penyimpanan pada suhu yang tepat baik suhu dingin, sangat
dingin, beku maupun suhu hangat serta lama penyimpanan sangat
mempengaruhi kondisi dan cita rasa makanan matang.
e. Pengangkutan makanan. Dalam pengangkutan baik bahan makanan maupun
makanan matang harus memperhatikan beberapa hal yaitu alat angkut yang
digunakan, teknik/cara pengangkutan, lama pengangkutan, dan petugas
pengangkut. Hal ini untuk menghindari risiko terjadinya pencemaran baik
fisik, kimia maupun bakteriologis.
f. Penyajian makanan. Beberapa hal yang harus diperhatikan pada penyajian
makanan yaitu tempat penyajian, waktu penyajian, cara penyajian dan prinsip
penyajian. Lamanya waktu tunggu makanan mulai dari selesai proses
pengolahan dan menjadi makanan matang sampai dengan disajikan dan
dikonsumsi tidak boleh lebih dari 4 (empat) jam dan harus segera dihangatkan
kembali terutama makanan yang mengandung protein tinggi, kecuali makanan
yang disajikan tetap dalam keadaan suhu hangat. Hal ini untuk menghindari
tumbuh dan berkembang biaknya bakteri pada makanan yang dapat
menyebabkan gangguan pada kesehatan.

14
BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini bersifat deskriptif yaitu Untuk mengetahui gambaran


tentang STBM pilar ketiga yaitu Pengelolaan Air Minum dan Makanan Rumah
Tangga (PAMM RT) di Kelurahan Huangobotu

3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian

3.2.1. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan diwilayah cakupan puskesmas dungingi khususnya di


Kelurahan Huangobotu.

3.2.2. Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan pada bulan Desember 2016 sampai dengan selesai.

3.3. Populasi dan Sampel

3.3.1. Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat dikelurahan Huangobotu.

3.3.2. Sampel

Besar sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak populasi, yaitu sebanyak 120
orang.

3.4. Metode Pengumpulan Data

Data primer diperoleh dengan cara observasi langsung ke lokasi penelitian dan
mengadakan wawancara kepada masyarakat.

3.5. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dalam penelitian ini data primer yang diperoleh langsung dari
responden berdasarkan kuesioner yang ada.kepada calon responden dan menjelaskan
tujuan dan prosedur penelitian. Peneliti membagikan kuesioner pada responden dan
menunggu sampai responden selesai mengisi kuesioner (kira-kira kurang dari 10
menit). Lalu peneliti mengecek kelengkapan kuesioner yang diberikan apakah sudah
diisi dengan lengkap oleh responden. Bila semua data yang dibutuhkan peneliti telah
dikumpulkan, selanjutnya peneliti akan menganalisa data.

15
3.6. Pengolahan dan Analisa Data
Setelah semua data terkumpul maka dilakukan analisa data melalui beberapa tahapan,
antara lain tahap pertama editing yaitu mengecek nama dan kelengkapan identitas
maupun data responden serta memastikan bahwa semua jawaban telah diisi sesuai
petunjuk, tahap kedua mengadakan tabulasi dan analisa, tahap ketiga adalah
melakukan cleaning yaitu mengecek kembali data yang telah di entry untuk
mengetahui ada kesalahan atau tidak. Data akan disajikan dalam bentuk tabel.

16
BAB IV
HASIL PENELITIAN

1. Kriteria air bersih

Dari 120 subjek penelitian didapatkan seluruh responden mengetahui


bahwa air bersih itu tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak berasa

Kriteria Air Bersih


tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa berwarna, berbau, berasa

2%

98%

2. Penyimpanan air minum

Dari 120 subjek penelitian didapatkan sebagian besar responden


menggunakan botol gallon untuk menyimpan air minum. Yang menggunakan
teko/ceret sebanyak 44 Responden dan yang menggunakan panci terbuka 8
responden.

Penyimpanan Air Minum


Panci Terbuka Teko/Ceret Botol Galon

7%

36%
57%

3. Jenis sarana air bersih untuk diminum


Dari 120 subjek penelitian didapatkan 71 Responden menggunakan air
mineral instan, 32 responden memilih menggunakan PAM dan 16 responden
menggunakan sumur gali.

17
Jenis sarana air bersih
PAM Sumur gali Air mineral instan Tidak menjawab

1%

27%

59% 13%

4. Cara mengolah Air minum


Dari 120 subjek penelitian didapatkan jumlah terbesar adalah
responden yang cara mengolah air minum dengan direbus berjumlah 104
Responden. Sedangkan yang ditambah kaporit berjumlah 1 responden. dan
yang menggunakan filter keramik sebanyak 1 responden.

Cara mengolah air minum


ditambah kaporit Tidak menjawab
1% 11%

menggunakan
filter
36%

Direbus
87%

5. Jarak septic tank dan sumur

Dari 120 subjek penelitian didapatkan setengah dari Responden memilih


jarak septic tank dan sumur < 10 M, untuk jarak >10 M, ada 45 Responden,
sedangkan 12 responden memilih jarak >30 M.

18
Jarak jamban ke sumber air
3%
>10 M < 10 M > 30 M Tidak menjawab

10%

37%

50%

6. Pemilihan bahan makanan

Dari 120 subjek penelitian didapatkan Sebagian besar Responden


memilih jenis makanan dalam keadaan segar (119 Responden) sedangkan
makanan kemasan dipilih oleh 9 Responden.

Pemilihan bahan makanan


Makanan dalam keadaan segar Makanan kemasan

7% 1%

92%

7. Penyimpanan makanan
Dari 120 subjek penelitian didapatkan jumlah Responden yang
menyimpan makanan di lemari berjumlah 96 Responden. 24 Responden
membiarkan makanan diatas meja.

19
Penyimpanan Makanan

Di atas meja
20%

Di Lemari
80%

8. Penggunaan Peralatan Masak


Dari 120 subjek penelitian didapatkan 107 Responden mencuci
peralatan masak sebelum dan setelah digunakan, 10 responden hanya dibilas
dengan air mengalir saja dan 3 responden tidak dicuci.

Penggunaan peralatan masak


Dicuci Tidak dicuci Hanya dibilas

3%
8%

89%

9. Penyajian makanan
Dari 120 subjek penelitian didapatkan lebih banyak Responden yang
menutup makanan dengan tutup saji (110 Responden). Sedangkan tidak
ditutup sebanyak 4 Responden dan setengah ditutup setengah dibuka sebanyak
4 Responden.

20
Penyajian makanan
Tutup saji Tidak ditutup Setengah ditutup, setengah dibuka Tidak dijawab

3% 3% 2%

92%

10. Penyajian makanan


Dari 120 subjek penelitian didapatkan sebagian besar Responden
mencuci bahan makanan dengan air mengalir (112 Responden). responden
yang mencuci dengan air genangan (7 Responden) dan 1 responden tidak
mencuci bahan makanan sebelum dimasak.

Penyajian makanan
tidak dicuci
1%
Mencuci dengan
air genangan
6%

Mencuci dengan
air mengalir
93%

21
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap 120 responden yang

berada di Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Dungingi khususnya di Kelurahan

Huangobotu, dapat disimpulkan:

a. Pengetahuan Responden tentang pengelolaan air minum dan makanan

rumah tangga di kelurahan huangobotu sudah cukup baik namun harus

tetap ditingkatkan.

b. Penerapan menjaga kebersihan air minum dan makanan dalam


kehidupan sehari-hari sudah cukup baik
c. Sebagian besar jenis sarana air bersih untuk dikonsumsi menggunakan
Air mineral instan.
d. Pengelolaan makanan Rumah Tangga di kelurahan huangobotu cukup

baik mulai dari pemilihan bahan makanan, penyimpanan makanan dan

penyajian makanan.

e. Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang jarak sumur dan septic


tank.

5.2 Saran

5.2.1 Bagi Responden

Hendaknya Lebih diperhatikan dalam merencanakan pembangunan


jarak septic tank dan sumur agar tidak terjadi kontaminasi sumur dengan air
dari septic tank oleh bakteri patogen yang dapat mengganggu kesehatan.

5.2.2 Bagi Puskesmas Kecamatan Dungingi

Puskesmas diharapkan menigkatkan pelayanan PROMKES dan

memberikan penyuluhan tentang sanitasi total berbasis masyarakat

22
(Pengelolaan Air Minum dan Makanan Rumah Tangga) dan tentang jarak

antara septic tank dengan sumur.

5.2.3 Bagi Peneliti

Bagi peneliti agar dapat memenuhi jumlah sampel berdasarkan perhitungan

besar sampel minimal dan melakukan penelitian dengan menggunakan sampel

yang lebih besar serta memberikan pertanyaan yang lebih mendalam.

Membantu kerja puskesmas dalam menanggapi topik ini dalam melakukan

penyuluhan tentang sanitasi total berbasis masyarakat (Pengelolaan Air

Minum dan Makanan Rumah Tangga) dan tentang jarak antara septic tank

dengan sumur.

23
Daftar Pustaka

1. Chandra, B. 2007. Pengantar Kesehatan Lingkungan. Jakarta: Penerbit Buku


Kedokteran EGC

2. Entjang, I. 2000. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Bandung: Penerbit PT. Citra


Aditya Bakti

3. Soeparman dan Suparmin. 2002. Pembuangan Tinja & Limbah Cair (Suatu
Pengantar). Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC

4. Arief S. Hubungan jarak septic tank terhadap jumlah kandungan bakteri


Escherichia coli dalam air sumur gali di Desa Bukateja Kecamatan Balapulang
Kabupaten Tegal (online). 2000 [cited 2009 Jan 27]. Available from:
http/gdlli@litbang.depkes.selpro.net
5. ulie A. Relative nephroprotection during Escherichia coli 0157: H7 infections:
Association with intravenous volume expansion. Washington: Edward
Mallinckrodt Department of Pediatric and Department of Molecular Micro-
biology Washington University School of Medicine; 2005.
6. 14. Waluyo L. Mikrobiologi Lingkungan. Jakarta: UMM Press, 2005.
7. istem Kesehatan Nasional. Jakarta: Departemen Kesehatan RI; 2004.
8. Totok S. Teknologi penyehatan air bersih. Jakarta: Rineka Cipta, 1987.

24