Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

Dermatitis seboroik merupakan penyakit papulo skuamosa yang kronik. Kelainan ini dapat
mengenai bayi dan dewasa, dan berhubungan dengan peningkatan produksi sebum pada skalp dan
area yang memiliki banyak kelenjar sebasea di wajah dan badan. Penyakit ini sering kali dihubungkan
dengan peningkatan produksi sebum dari kulit kepala dan daerah muka serta batang tubuh yang kaya
akan folikel sebasea. Dermatitis seboroik sering ditemukan dan biasanya mudah dikenali. Kulit yang
terkena biasanya berwarna merah muda (eritema), membengkak, ditutupi dengan sisik berwarna
kuning kecoklatan dan berkerak. 1

Penyakit ini dapat mengenai semua golongan umur, tetapi lebih dominan pada orang dewasa.
Pada orang dewasa penyakit ini cenderung berulang, tetapi biasanya dengan mudah dikendalikan.
Kelainan ini pada kulit kepala umumnya dikenal sebagai ketombe pada orang dewasa dan cradle cap
pada bayi. 1

Prevalensi dermatitis seboroik adalah sekitar 1-3% pada populasi umum di Amerika Serikat,
dan 3-5% pada orang dewasa muda, tetapi insidensi pada penderita HIV dan AIDS dapat mencapai
85%. Pria lebih sering terkena daripada wanita pada semua kelompok umur.2

Dermatitis Seboroik bisa saja berhubungan dengan atau ditekankan oleh beberapa penyakit
dalam. Penyakit Parkinson biasanya bersamaan oleh Dermatitis Seboroik. Diabetes mellitus, terutama
pada orang obesitas; sariawan; gangguan malabsorpsi, epilepsy, obat-obatan neuroleptik, seperti
haloperidol, memproduksi dermatitis seboroik seperti erupsi.2

Etiologi dermatitis seboroik ini masih belum jelas, meskipun demikian berbagai macam
faktor seperti hormonal, infeksi jamur, kekurangan nutrisi, faktor neurogenik diduga berhubungan
dengan kondisi ini. Faktor lain yang berperan adalah terjadinya dermatitis seboroik berkaitan dengan
spesies Malassezia yang diotemukan di kulit sebagai flora normal.3

Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Pada berbagai
gejala dari gambaran klinis yang ditemukan pada dermatitis seboroik juga dapat dijumpai pada
dermatitis atopik atau psoriasis, sehingga diagnosis sangat sulit untuk ditegakkan oleh karena baik
gambaran klinis maupun gambaran histologi dapat serupa. Oleh sebab itu, perlu ketelitian untuk
membedakan dermatitis seboroik dengan penyakit lain sebagai diferensial diagnosis. Psoriasis
misalnya juga dapat ditemukan pada kulit kepala, kadang disamakan dengan dermatitis seboroik, yang
membedakan ialah adanya plak yang mengalami penebalan pada liken simpleks.

1
BAB II

LAPORAN KASUS

2.1 Identitas Pasien

Nama : Tn. S

Jenis Kelamin : Laki Laki

Usia : 64 tahun

Pekerjaan : Pensiunan

Alamat : Jl. Rd. Wijaya RT 28 Thehok

Status Pernikahan : Menikah

Suku Bangsa : Indonesia

2.2 Anamnesis :

Keluhan Utama : pasien datang dengan keluhan tampak kemerahan pada seluruh
badan terutama di punggung dan di tangan

Keluhan Tambahan : Gatal (+) terutama saat berkeringat, nyeri (-)

Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien mengeluh tampak kemerahan pada seluruh badan terutama di daerah punggung dan
bersisik, kemerahan juga dikeluhkn pasien di tangan kanan dan kiri sejak lebih kurang 1 bulan
yang lalu dan semakin memberat dalam 10 hari sebelum berobat ke rumah sakit. Gatal (+)
diakui pasien hampir dirasakan setiap saat namun pasien mengaku merasakan sangat gatal
terutama saat berkeringat, keluhan nyeri(-). Awalnya berupa bruntus-bruntus kecil berwarna
merah pada badan dan semakin lama semakin meluas hingga ke tangan pasien. Tidak ada
keluhan lain yang menyertai panas badan, batuk, pilek, keluhan ini baru pertama kali
dirasakan pasien.

Pasien sudah mendapatkan pengobatan dari puskesmas berupa salep (pasien tidak mengetahui
nama obatnya) namun tidak ada perubahan. Lalu pasien berobat RS Abdul Manap tanggal 13
September 2016 dan mendapatkan pengobatan.

2
Riwayat Penyakit Dahulu

Riwayat menderita penyakit ini sebelumnya disangkal.


Riwayat alergi disangkal.
Riwayat konsumsi obat sebelumnya disangkal.

Riwayat Penyakit Keluarga

Riwayat keluarga memiliki penyakit yang sama di sangkal.

Pemeriksaan Fisik

Status Generalisata
1. Keadaan Umum : Baik
2. Kesadaran : Compos mentis
3. Tanda-tanda vital
Nadi : 130/80 x/menit
Pernafasan : 20 x/menit
Suhu : 36,3 C
4. Tinggi badan : 162 cm333
5. Berat badan : 68 kg

Pemeriksaan Organ

1. Kepala Bentuk : Normocephal


Ekspresi : Biasa
Simetris : Simetris
2. Mata Exopthalmus : (-)
Conjungtiva : anemis (-/-)
Skelera : ikterik (-/-)
Pupil : isokor
3. Hidung : tidak ada kelainan
4. Telinga : tidak ada kelainan
5. Mulut Bibir : lembab
6. Leher KGB : tidak ada pembengkakan, JVP 5-2 cmH2O
7. Thoraks
Paru : vesikuler (+) normal ka/ki, ronkhi (-/-), wheezing (-/-)
Jantung : BJ I-II reguler, murmur (-), gallop (-)

3
8. Abdomen : Supel, nyeri tekan (-), BU (+) normal
9. Ekstremitas atas : akral hangat, edema (-),sianosis (-)
10. Ekstremitas bawah : akral hangat, edema (-),sianosis (-)

2.3 Status Dermatologis :

Regio : Truncus, punggung, dan antebrachialis

Efloresensi : tampak papul, multiple, batas tidak tegas, eritem, tepi tidak aktif, distribusi generalisata,
permukaan kasar, daerah sekitar tidak ada kelainan.

2.4 Pemeriksaan Penunjang


Pada pasien ini tidak dilakukan pemeriksaan penunjang.

2.5 Diagnosis Banding


Dermatitis atopi
Impertigo
Dermatitis kontak

4
2.6 Diagnosis Kerja
Dermatitis seboroik
Diagnosis tambahan : -

2.7 Penatalaksanaan

Umum :

1. Ajari pasien tentang pengendalian dari pada pengobatan dermatitis seboroik

2. Ajarin tentang menggunakan kortikosteroid topikal seperlunya untuk mengendalikan eritema,


skuama, atau rasa gatal.

Terapi topikal : ketokonazol cream dan ketomed


Terapi sistemik :
Cetirizine tablet 2x1 tablet

2.8 Prognosa
Quo ad vitam : Bonam
Quo ad functionam : Bonam

5
BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

3.1 DEFINISI

Istilah dermatitis seboroik (D.S.) dipakai untuk segolongan kelainan kulit yang didasari oleh
faktor konstitusi dan bertempat predileksi di tempat-tempat seboroik. Merupakan bentuk
dermatitis kronik yang sulit untuk dijabarkan dengan tepat, tetapi mempunyai morfologi yang
khas (merah, berbatas tegas, lesi ditutupi dengan sisik yang kelihatan berminyak) dan tersebar di
tempat-tempat yang khas seperti area yang banyak terdapat kelenjar sebasea, seperti kulit kepala
dan wajah. Dibeberapa kasus area lipatan juga terserang. Penyakit ini beragam dari ringan sampai
berat, termasuk bentuk yang mirip psoriasis atau pola pityriasis dan eritroderma.1-3
Dermatitis seboroik merupakan penyakit papuloskuamosa yang kronik. Kelainan ini dapat
mengenai bayi dan dewasa,dan berhubungan dengan peningkatan produksi sebum pada skalp dan
area yang memiliki banyak kelenjar sebasea di wajah dan badan. Penyebabnya multifaktorial.
Tempat predileksi biasanya dimulai pada kulit kepala, dan kemudian menjalar ke muka, kuduk,
leher dan badan.4

3.2 EPIDEMIOLOGI

Dermatitis seboroik memiliki dua puncak usia, yang pertama pada bayi dalam 3 bulan
pertama kehidupan dan yang kedua sekitar dekade keempat sampai dekade ketujuh kehidupan.
Tidak ada data tersedia pada insiden yang tepat dari dermatitis seboroik pada bayi, tetapi
gangguan tersebut biasa terjadi. Penyakit pada orang dewasa diyakini lebih sering terjadi
daripada psoriasis. Prevalensi dermatitis seboroik adalah sekitar 1-3% pada populasi umum di
Amerika Serikat, dan 3-5% pada orang dewasa muda, tetapi insidensi pada penderita HIV dan
AIDS dapat mencapai 85%. Pria lebih sering terkena daripada wanita pada semua kelompok
umur.1,4

3.3 ETIOLOGI

Penyebab dermatitis seboroik belum diketahui pasti. Dermatitis seboroik dikaitkan dengan
peningkatan produksi sebum pada kulit kepala dan folikel sebasea terutama pada daerah wajah
dan badan. Flora normal Pityrosporum ovale kemungkinan merupakan penyebab. Banyak
percobaan telah dilakukan untuk menghubungkan penyakit ini dengan mikroorganisme tersebut
yang juga merupakan flora normal kulit manusia. Pertumbuhan Pityrosporum ovale yang
berlebihan dapat mengakibatkan reaksi inflamasi, baik akibat produk metaboliknya yang masuk
ke dalam epidermis maupun karena jamur itu sendiri melalui aktivasi sel limfosit T dan sel

6
Langerhans. Akan tetapi, faktor genetik dan lingkungan diperkirakan juga dapat mempengaruhi
onset dan derajat penyakit.1,4,5
Faktor yang mempengaruhi timbulnya penyakit antara lain : umur (orang dewasa), jenis
kelamin lebih sering pada laki-laki, makanan (konsumsi lemak dan minum alkohol), obat-obatan,
iklim (musim dingin), kondisi fisik dan psikis (status imun, stres emosional), dan lingkungan
yang menyebabkan kulit menjadi lembab.6

3.4 PATOGENESIS

Dermatitis seboroik terkait dengan level normal Malassezia dengan respon imun abnormal.

Pada pasien, ditemukan adanya penurunan Sel T helper, phytohemagglutinin, dan stimulasi

konkanavalin serta titer antibodi dibandingkan dengan subjek kontrol. Kontribusi spesies Malassezia

pada timbulnya dermatitis seboroik mungkin disebabkan oleh aktivitas lipase (pelepasan asam lemak

bebas inflamatori) dan kemampuannya untuk mengaktivasi jalur komplemen alternatif (Selden, 2013).

Etiologi dermatitis seboroik memang sangat kompleks, tetapi banyak peneliti yang

menyebutkan adanya keterkaitan kuat dengan hifa lipofilik Pityrosporum ovale. Densitas hifa

menentukan tingkat berat aau ringannya penyakit, dan penurunan jumlah hifa biasnaya terjadi sebagai

respon terhadap terapi. Sehingga adanya hifa tersebut mungkin merupakan faktor patogenik pada

individu yang memiliki faktor predisposisi. Pasien dengan dermatitis seboroik menunjukkan adanya

peningkatan regulasi interferon , ekspresi interleukin 6, iterleukin 1-, dan interleuikin 4. Selain itu,

juga ditemukan peningkatan ekspresi ligand sitotoksik aktif dan perekrutan NK sel (James, 2002).

Dalam penelitian lain oleh Antonella, disebutkan bahwa patofisiologi dermatitis seboroik

dalam gambar berikut ini :

7
Gambar Patofisiologi Dermatitis Seboroik (Sumber : Antonella, 2012)

Beberapa faktor yang diduga berperan yaitu:1,4

1. Seborrhea
Seborrhea berasosiasi dengan kulit yang tampak berminyak, walaupun produksi sebum tidak
selalu dapat dideteksi. Walaupun seborrhea merupakan predisposisi dermatitis seboroik,
namun dermatitis seboroik bukanlah penyakit kelenjar sebasea.
Tingginya insiden dermatitis seboroik pada bayi berhubungan paralel dengan ukuran dan
aktivitas kelenjar sebasea. Bayi baru lahir mempunyai ukuran kelenjar sebasea besar-besar
dengan produksi sebum yang banyak seperti orang dewasa. Pada anak produksi sebum
dengan dermatitis seboroik berhubungan erat, namun pada dewasa tidak, karena puncak
aktivitas kelenjar sebasea pada awal pubertas.
Predileksi dermatitis seboroik adalah wajah, telinga, skalp, badan (sternal dan interskapula)
karena daerah tersebut kaya akan folikel sebasea. Pada daerah tersebut ada 2 penyakit yang
menonjol yaitu dermatitis seboroik dan akne. Pada dermatitis seboroik, kelenjar sebasea
biasanya besar-besar. Pada suatu penelitian ditemukan bahwa lipid permukaan kulit tidak
meningkat, namun komposisi lipid dikarakterisir oleh peningkatan proporsi kolesterol,
trigliserid, dan parafin, namun menurun pada squalene, asam lemak bebas dan wax ester.

8
Dermatitis seboroik berhubungan erat dengan keaktifan glandula sebasea. Glandula tersebut
aktif pada bayi yang baru lahir, kemudian menjadi tidak aktif selama 9-12 tahun akibat
stimulasi hormon androgen dari ibu berhenti. Dermatitis seboroik pada bayi terjadi pada
umur bulan-bulan pertama, kemudian jarang pada usia sebelum akil balik, kemudian
insidens mencapai puncaknya pada umur 18-40 tahun, kadang-kadang pada umur tua. Lebih
sering terjadi pada pria daripada wanita oleh karena pengaruh dari hormon androgen.
2. Efek mikrobial
Unna dan Sabouraud merupakan orang pertama yang mendeskripsikan dermatitis seboroik
menyokong bahwa etiologi dermatitis seboroik termasuk bakteria, yeast, atau keduanya.
Pada bayi, C. Albicans sering ditemui pada lesi dan feses. P.Acnes rendah pada pasien
dermatitis seboroik sehingga hal ini dapat menjelaskan mengapa asam lemak bebas rendah
pada permukaan kulit Malasezzia furfur jumlahnya banyak. P. Ovale yang berlebihan ini
mengakibatkan reaksi inflamasi, baik akibat produk metabolitnya yang masuk ke dalam
epidermis, maupun karena sel jamur itu sendri, melalui aktivasi sel limfosit T dan sel
Langerhns. Beberapa ahli menganggap organisme ini berperan penting pada dermatitis
seboroik. Meski tidak terbukti mikroorganisme ini berhubungan langsung dengan dermatitis
seboroik. Dengan ditemukannya jamur ini dalam jumlah banyak dalam lesi maka pemberian
preparat antijamur dapat memberikan hasil pengobatan yang memuaskan.
3. Obat
Beberapa obat yang dilaporkan dapat menimbulkan lesi sperti dermatitis seboroik adalah
arsen, metildopa, simetidin, dan neuroleptik.
4. Abnormalitas neurotransmiter
Dermatitis seboroik sering berasosiasi dengan berbagai abnormalitas neurologik, seperti
postrncephalitic parkinsonism, epilepsi, taruma supraorbital, paralisis fasial, trauma
unilateral ganglion terminal, poliomielitis dan lain-lain. Stres emosis dapat memperberat
penyakit.
5. Faktor fisik
Diduga aliran darah kulit dan temperatur kulit bertanggung jawab terjadinya dermatitis
seboroik. Variasi musim dan kelembapan berhubungan dengan perjalanan penyakit.
Rendahnya temperatur pada musim gugur dan dingin dan rendahnya kelembaban dapat
memperburuk dermatitis seboroik. Pasien dengan psoriasis yang mendapat terapi psoralen
dan sinar ultraviolet A. Lesi deicegah dengan menggunakan penutup wajah selama
pengobatan.
6. Kelainan nutrisi
Defisiensi zinc pada akrodermatitis enteropatika berhubungan dengan dermatitis yang
menyerupai dermatitis seboroik di wajah.
Pada bayi, defisiensi biotin diduga berperan pada dermatitis seboroik.

9
7. Faktor genetik
8. Dermatitis imun dan dermatitis seboroik
Meningkatnya insiden dan beratnya dermatitis seboroik pada pasien seropositif HIV,
menimbulkan adanya spekulasi meningkarnya M. Furfur. Namun penelitian lain tidak
ditemukan adanya M. Fur-fur.

3.5 MANIFESTASI KLINIS

Kelainan kulit terdiri atas eritema dan skuama yang berminyak dan agak kekuningan,

batasnya agak kurang tegas. Dermatitis seboroik yang ringan hanya mengenai kulit kepala berupa

skuama-skuama yang halus, mulai sebagai bercak kecil yang kemudian mengenai seluruh kulit

kepala dengan skuama-skuama yang halus dan kasar. Kelainan tersebut pitiriasis sika (ketombe,

dandruf). Bentuk yang berminyak disebut pitiriasis steatoides (pityriasis oleosa) yang dapat

disertai eritema dan krusta-krusta yang tebal. Rambut pada tempat tersebut mempunyai

kecenderungan rontok, mulai di bagian vertex dan frontal.1,6

Bentuk yang berat ditandai dengan adanya bercak-bercak yang berskuama dan berminyak

disertai eksudasi dan krusta tebal. Sering meluas ke dahi, glabela, telinga postaurikular dan leher.

Pada daerah dahi tersebut, batasannya sering cembung. Pada bentuk yang lebih berat lagi,

seluruh kepala tertutup oleh krusta-krusta yang kotor, dan berbau tidak sedap. Pada bayi,

skuama-skuama yang kekuningan dan kumpulan debris-debris epitel yang lekat pada kulit kepala

disebut cradle cap. 1,5

Pada daerah supraorbital, skuama-skuama halus dapat terlihat di alis mata, kulit di bawahnya

eritematosa dan gatal, disertai bercak-bercak skuama kekuningan, dapat terjadi pula blefaritis,

yakni pinggir kelopak mata merah disertai skuama-skuama halus. Pada tepi bibir bisa kemerahan

dan berbintik-bintik (marginal blefaritis). Daerah konjungtiva pada saat bersamaan juga dapat

terkena. Lipatannya dapat berwarna kekuningan, dengan kerak, dengan batas yang tidak jelas.

Pruritus juga bias terlihat. Jika area glabela juga terkena, disana juga mungkin terdapat kerak

pada kerutan mata yang berwarna kemerahan. Pada lipatan bibir mungkin terdapat perubahan

warna berupa kerak yang kekuningan atau kemerahan, kadang-kadang dengan lubang-lubang.

Pada pria, radang folikel rambut pada kumis juga bisa terjadi.5

10
Selain tempat-tempat tersebut dermatitis seboroik juga dapat mengenai liang telinga luar,

lipatan nasolabial, daerah sterna, areola mamae, lipatan di bawah mamae pada wanita,

interskapular, umbilicus, lipat paha, dan daerah anogenital. Pada daerah pipi, hidung, dan dahi,

kelainan dapat berupa papul-papul.1

Pada telinga, dermatitis seboroik sering disalah artikan dengan radang daun telinga yang

disebabkan oleh jamur (otomikosis). Disana terdapat kulit terkelupas pada lubang telinga,

disekitar meatus auditivus, dan depan daun telinga. Pada daerah ini kulit biasanya berubah

menjadi kemerahan, dengan lubang-lubang dan bengkak. Eksudasi serosa, pembengkakan pada

telinga dan daerah sekitarnya.5

Dermatitis seboroik biasa pada lipat paha dan bokong, dimana terlihat seperti kurap,

psoariasis, atau jamuran. Garisnya terlihat seperti kulit terkelupas pada keduanya dan simetris.

Pada lokasi ini lobang-lobang dapat ditemukan dan mungkin juga terdapat garis psoariformis

dengan kulit kering pada beberapa kasus. 5

(1) (2) (3)


Gambar 1. Dermatitis seboroik pada wajah yang lebih tersebar di daerah nasolabial.
Gambar 2. Dermatitis seboroik pada ketiak, daerah lipatan adalah tempat yang biasa terinfeksi.
Gambar 3. Dermatitis seboroik pada bayi. Terdapat lesi bentuk psoriasis pada badan dan daerah
inguinal.
3.6 HISTOPATOLOGIS

Gambaran histologi bermacam-macam sesuai dengan stadium penyakitnya. Pada dermatitis


seboroik akut dan subakut, tersebar superfisial infiltrat perivascular dari limfosit dan histiosit, dari
spongiosis yang ringan sampai yang berat, hiperplasia bentuk psoriasis ringan, Penyumbatan folikel

11
oleh karena orthokeratosis dan parakeratosis dan kerak-kerak yang mengandung neutrofil. Pada
dermatitis seboroik yang kronis terdapat dilatasi pembuluh darah kapiler dan vena pada plexus
superficial.6

3.7 DIAGNOSA BANDING

Diagnosis banding dermatitis seboroik dibedakan berdasarkan lokasi kelainan kulit yang
terlihat, yaitu pada kepala, wajah, telinga, dada dan punggung, dan area intertriginosa.1
Kulit kepala dan wajah
Ketombe
Hubungan antara ketombe dan dermatitis seboroik telah lama menjadi kontroversi. Ada
beberapa peneliti menganggap dermatitis seboroik lebih parah dibandingkan ketombe di kulit
kepala, namun yang lain menganggap bahwa ketombe harus digunakan untuk menggambarkan
setiap pengelupasan kulit kepala. Kulit kepala yang normal memiliki sedikit pengelupasan saja
dan terlihat sehat dengan kulit yang halus.7

Gambar 3. Perbedaan kulit kepala normal, kulit kepala yang berketombe, dan kulit kepala
penderita dermatitis seboroik.
Psoriasis
Kulit kepala merupakan salah satu bagian tubuh yang paling sering terkena psoriasis. Plak
yang terbentuk biasanya tipis hampir sama dengan yang terbentuk di kulit, kecuali sifat plak
yang tidak mudah terlepas karena tertahan oleh rambut. Plak biasanya terbentuk hingga ke
daerah dahi. Walaupun biasanya seluruh kulit kepala dapat ditutupi oleh plak yang tebal, namun
kerontokan rambut jarang terjadi kecuali terjadi pityriasis amaintacea.7,8

12
A B
Gambar 2. Perbedaan psoriasis dan dermatitis seboroik. A. Pada psoriasis jarang terlihat sisik,
sedangkan pada B. Dermatitis seboroik terlihat sisik tebal yang terbentuk di kulit kepala.3

Gambar 3. A.Psoriasis kulit kepala. Plak biasanya terbentuk di kulit kepala dan sepanjang
margin rambut. Kadang plak terjadi pada wajah. B. Penampakan dermatitis seboroik pada orang
dewasa yang menyerang hampir seluruh permukaan kulit kepala hingga wajah. 3,8
Tinea Kapitis
Pada anak prapubertas DS dapat didiagnosis dengan tinea kapitis. Trichophyton tonsurans
memberikan skuama namun tidak ada alopesia. Pemeriksaan KOH 10% dapat ditemukan elemen
jamur baik dari hasil kerokan kulit maupun dari rambut.4
Ptiriasis Rosea
Pada ptisriasis rosea tampak lesi eritem berbentuk ovale dengan skuama halus diatasnya, tepi lesi
terdapat papul kecil dengan aksis panjang dari lesi ovalsejajar dengan garis kulit. Pada ptiriasis
rosea terdapat medallion/herrald patch.4
Lupus eritematosus dan rosasea
DS diwajah mirip sekali dengan lupus eritematosus dan rosasea. Pada lupus jarang mengenai
lipatan nasolabial dan distribusinya sering pada daerah yang terpajan sinar matahari.4

13
Sementara, diagnosis banding untuk dermatitis seboroik pada orang dewasa adalah pityriasis

kapitis, psoriasis vulgaris, dermatitis kontak, rosasea, kandidiasis intertrigo, eritrasma, tinea kruris,

dermatitis kontak alergi, dan erupsi obat (Pohan, 2005). Berdasarkan predileksi spesifiknya, dapat

dilihat dalam tabel berikut :

Sumber : Wolff, 2008

3.8 PENEGAKAN DIAGNOSA

Dermatitis seboroik biasa didiagnosis berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisis.Biopsi


mungkin dibutuhkan pada pasien dengan eritroderma eksfoliatif, dan kultur jamur mungkin
dibutuhkan untuk menyingkirkan diagnosis tinea kapitis. Walaupun, hasil dari kultur jamur tidak
selalu berguna dalam diagnosis dermatitis seboroik karena penyebabnya adalah flora normal kulit.1

3.9 PENATALAKSANAAN

1. Pengobatan sistemik1,4

a. Kortikosteroid

Kortikosteroid digunakan pada bentuk yang berat, dosis prednisone 20-30 mg sehari. Jika

telah ada perbaikan, dosis diturunkan perlahan-lahan.

b. Antijamur

Bila pada sediaan langsung terdapat malassezia furfur yang banyak dapat diberikan

ketokonazol, dosisnya 200 mg per hari.

14
c. Isotretinoin

Obat ini berguna meskipun tidak secara resmi disetujui untuk pengobatan dermatitis seboroik.

Dosis rendah 0,05-0,1 mg/kg berat badan setiap hari selama beberapa bulan.

2. Pengobatan topikal1,4

a. Antijamur

Pengobatan antifungal seperti imidazole dapat memberikan hasil yang baik. Biasanya

digunakan ketokonazole 2 % dalam sampo dan krim. Dalam pengujian yang berbeda

menunjukkan 75-95 % terdapat perbaikan.

b. Kortikosteroid,

Misalnya krim hidrokortison 1% untuk dermatitis seboroik pada bayi dan pada daerah wajah.

Pada kasus dengan inflamasi yang berat dapat dipakai kortikosteroid yang lebih kuat,

misalnya betametason valerat, asalkan jangan dipakai terlalu lama karena efek sampingnya.

c. Metronidazole

Metronidazole topikal dapat berguna sebagai pengobatan alternatif untuk dermatitis seboroik.

Metronidazol telah berhasil digunakan pada pasien dengan rosasea.

d. Obat-obat lain

- Ter, misalnya likuor karbonas detergens 2-5% atau krim pragmatar.

- resorsin 1-3%.

- asam salisil 3%.

- sulfur presipitatum 4-20%, dapat digabung dengan asam salisilat 3-6%

- Fototerapi dengan narrow band UVB (TL-01) dapat diberikan pada dermatitis seboroik yang

parah dengan hasil yang efektif dan cukup aman. Setelah pemberian terapi 3 kali seminggu

selama 8 minggu, sebagian besar penderita mengalami perbaikan.

15
Rekomendasi terapi Dermatitis Seboroik dari Fitzpatrics Dermatology adalah sebagai berikut :

PADA BAYI (INFANTIL DS) DEWASA

Pembersihan krusta dengan Asam Salisilat Antijamur

3% dalam olive oil atau larutan water Metronidazol

soluble; kompres dengan olive oil hangat; Litium

pemberian kortikosteroid potensi rendah Analog vitamin D

topikal (e.g hidrokortison) selama beberapa Isotreonin

hari; penggunaan sampo bayi; agen Fototerapi

antijamur; perawatan kulit adekuat dengan

krim kulit khusus untuk bayi.

3.10 PROGNOSIS

Prognosis umumnya baik. Biasanya, penyakit ini berlangsung selama bertahun-tahun untuk
beberapa dekade dengan periode peningkatan pada musim panas dan periode eksaserbasi di musim
dingin. Lesi menyebar luas dapat terjadi sebagai akibat dari pengobatan topikal yang tidak benar atau
paparan sinar matahari. Varian ekstrim dari penyakit ini adalah eritroderma eksfoliatif (seborrheic
eritroderma). Sedangkan dermatitis seboroik pada bayi biasanya berkepanjangan dari minggu ke
bulan. Eksaserbasi dan jarang, dermatitis generalisata exfoliating mungkin terjadi. Bayi dengan
dermatitis seboroik memiliki resiko lebih besar untuk terkena pnenyakit yang sama pada saat dewasa.4

16
BAB IV

ANALISA KASUS

Seorang laki-laki berusia 64 tahun datang ke RS Abdul Manap mengeluhkan tampak


kemerahan padaa badan terutama di punggung dan kemerahan di kedua tangan sejak lebih kurang 1
bulan sebelum berobat ke rumah sakit dan semakin memberat dalam 10 hari sebelum berobat ke
Rumah Sakit Abdul Manap. Pasien mengaku awalnya berupa bruntus-bruntus kecil berwarna merah
pada badan dan semakin meluas hingga ke tangan, keluhan disertai rasa gatal (+) yang dirasakan
setiap saat namun tersa sangat gatal terutama saat berkeringat, keluhan lain demam(-), dan nyeri (-).
Pasien sudah berobat kepuskesmas dan mendapat pengobatan namun tidak ada perubahan, lalu pasien
berobat ke Rumah Sakit Abdul Manap pada tanggal 13 September 2016 dan mendapatkan
pengobatan.

Berdasarkan pemeriksaan fisik status generalisata semua masih dalam batas normal sedangkan
pada pemeriksaan dermatologis ditemukan pada regio truncus, punggung, dan antebrachialis dengan
efloresensinya tampak tampak papul, multiple, batas tidak tegas, eritem, tepi tidak aktif, distribusi
generalisata, permukaan kasar, daerah sekitar tidak ada kelainan.

Berdasarkan teori yang dipaparkan gejala yang ditemukan pada pasien ini merupakan gejala
dari dermatitis seboroik. Anamnesis yang dilakukan masih harus dtambahkan seperti apakah ada
riwayat keluarga yang mengalami keluhan yang sama karena biasanya penyakit ini diturunkan. Untuk
menegakkan diagnosis dermatitis seboroik dapat hanya dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik.
Namun jika lesi menyerupai lesi lain seperti infeksi jamur maka segera lakukan pemeriksaan KOH
atau pemeriksaan histopatologi serta pemeriksaan penunjang lain yang membantu menegakkan
diagnosis.

Pada pasien ini diberikan tatalaksana berupa:

Dermatitis seboroik

Terapi topikal : ketokonazole cream dan ketomed


Terapi sistemik :
Cetirizine tablet 2x1 tablet

Pada kasus dengan inflamasi yang berat dapat dipakai kortikosteroid yang lebih kuat, misalnya

betametason valerat, asalkan jangan dipakai terlalu lama karena efek sampingnya. Pengobatan

sistemik berupa kortikosteroid digunakan pada bentuk yang berat, dosis prednisone 20-30 mg sehari.

Jika telah ada perbaikan, dosis diturunkan perlahan-lahan. Bila pada sediaan langsung terdapat

17
malassezia furfur yang banyak dapat diberikan ketokonazol, dosisnya 200 mg per hari. Isotretinoin

berguna meskipun tidak secara resmi disetujui untuk pengobatan dermatitis seboroik. Dosis rendah

0,05-0,1 mg/kg berat badan setiap hari selama beberapa bulan.

Rekomendasi terapi menurut WHO adalah penggunaan sampo keratolitik untuk mengurangi

inflamasi dan krusta. Terdapat berbagai jenis sediaan suspensi berbahan dasar deterjen atau sampo

yang mengandung bahan aktif seperti asam salisilat, coal tar, pyrithione zinc, dan selenium sulfide.

Cara penggunaan yang benar untuk mencpai hasil maksimal adalah dengan mengusapkan sampo di

seluruh bagian kulit kepala kemudian dibiarkan 2-3 menit sebelum dibilas. Preparat yang

mengandung kombinasi sulfur dan asam salisilat dapat digunakan di area-area lain yang terkena

termasuk kulit kepala. Pemberian kortikosteroid topikal, gentian violet, dan golongan azole seperti

kerokonazol dilaporkan efektif untuk mengurangi keluhan. Tetapi penggunaan ketokonazol

kontraindikasi untuk anak berusia di bawah 2 tahun (World Health Organization, 1997).

18
BAB V

KESIMPULAN

Dermatitis seboroik merupakan penyakit papuloskuamosa yang kronik. Kelainan ini dapat
mengenai bayi dan dewasa, dan berhubungan dengan peningkatan produksi sebum pada skalp dan
area yang memiliki banyak kelenjar sebasea di wajah dan badan. Penyebabnya multifaktorial. Tempat
predileksi biasanya dimulai pada kulit kepala, dan kemudian menjalar ke muka, kuduk, leher dan
badan.

Prevalensi dermatitis seboroik adalah sekitar 1-3% pada populasi umum di Amerika Serikat,
dan 3-5% pada orang dewasa muda, tetapi insidensi pada penderita HIV dan AIDS dapat mencapai
85%. Pria lebih sering terkena daripada wanita pada semua kelompok umur.

Penyebab dermatitis seboroik belum diketahui pasti. Dermatitis seboroik dikaitkan dengan
peningkatan produksi sebum pada kulit kepala dan folikel sebasea terutama pada daerah wajah dan
badan. Flora normal Pityrosporum ovale kemungkinan merupakan penyebab.

Pasien dermatitis seboroik harus diedukasi tentang sifat penyakit yang kronik dan
kemungkinan terjadinya relaps. Pasien juga harus diberikan pengertian bahwa pangobatan yang
diberikan mungkin tidak akan memberikan hasil yang sempurna pada kulit pasien. Untuk mencegah
penyakit kambuh kembali pasien dapt disarankan untuk menggunakan sampo yang mengandung
ketokonazol 2 % atau selenium sulfat 2,5 % sekali seminggu.

19
DAFTAR PUSTAKA

1. Djuanda A. Dermatosis Eritroskuamosa. In: Djuanda A, Hamzah M, Aisah S, editors. Ilmu

Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi kelima ed. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas

Indonesia 2008. p. 200-3.

2. Samuel T Selden, William D James. Dermatitis Seboroik. Diunduh dari

http://emedicine.medscape.com/. Diakses tanggal 15 agustus 2016.

3. Schwartz, Robert, et all, Seborrheic Dermatitis: An Overview, diunduh dari

http://www.aafp.org/afp., American Family Physician, July 1, 2006. Diakses tanggal 15

agustus 2016.

4. Kartowigno S. Dermatosis Eritroskuamosa. In : Kartowigno S. 10 Besar Kelompok Penyakit

Kulit. Edisi pertama. Palembang : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya 2011. p . 84 -

93.

5. James WD, Berger TG, Elston DM. Andrews' Diseases of the skin Clinical Dermatology.

Tenth ed. Philadelphia: Saunders Elsevier; 2011.

6. Plewig G, Jansen T. Seborrheic Dermatitis. In: Wolff K, Goldsmith LA, Katz SI, Gilchrest

BA, Paller AS, Leffell DJ, editors. Fitzpatrick's Dermatology in General Medicine Seventh

ed. United States of America Mc Grow Hill 2008. p. 219-25.

7. James R. Schwartz YMD, Thomas L. Dawson Jr. TRI Book. Dandruff and Seborrheic
Dermatitis: A Head Scratcher 2011.

8. Psoriasis. In: Tony Burns SB, Neil Cox, Christopher Griffiths editor. Rook's Textbook of
Dermatology. Australia: Wiley-Blackwell; 2012. p. 870-85.

20