Anda di halaman 1dari 21

CASE REPORT

FROZEN SHOULDER SYNDROME

Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Pendidikan Program Profesi Dokter


Bagian Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi

Pembimbing:
dr. Komang Kusumawati, Sp. KFR

Oleh :

Nia Sahra Labetubun J510145033

Yanuar Murna J510145050

PENDIDIKAN PROFESI
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2015
CASE REPORT
FROZEN SHOULDER SYNDROME

Oleh :
Nia Sahra Labetubun J 510145033
Yanuar Murna J 510145050

Telah disetujui dan disahkan oleh bagian Program Pendidikan Profesi Fakultas
Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta .... April 2015

Pembimbing
dr. Komang Kusumawati, Sp.KFR ( )

Penguji
dr. Komang Kusumawati, Sp.KFR ( )

Disahkan Sek. Program Profesi :


dr. Dona Dewi Nirlawati ( )

KEPANITERAAN KLINIK
BAGIAN ILMUKEDOKTERAN FISIK & REHABILITASI
R.S. ORTHOPEDI PROF. DR. SOEHARSO SURAKARTA
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2015

1
BAB I
LAPORAN KASUS

A. IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. N
JenisKelamin : Wanita
Usia : 47 tahun
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Alamat : Kadipiro Banjarsari Surakarta
Agama : Islam
Pendidikan : SMP
Tanggal Pemeriksaan : 31 Maret 2015
No RM : 272xxx

B. ANAMNESIS
Anamnesis didapatkan secara autoanamnesis di Poliklinik Rehabilitasi
Medik.
1. KeluhanUtama :
Nyeri bahu kiri.
2. RiwayatPenyakitSekarang :
Pasien mengeluh nyeri pada bahu kiri di bagian pergelangan bahu dan
lengan atas sejak dua bulan yang lalu. Awalnya pasien hanya merasa capek
dan pegal-pegal, lama kelamaan mulai terasa nyeri bila digerakkan. Nyeri
terasa seperti tertusuk-tusuk dan sering dirasakan sepanjang hari. Biasanya
kalau penderita beristirahat, nyeri meredah sampai hilang. Saat ini walau
beristirahat, nyeri tetap dirasakan. Rasa nyeri bertambah ketika pasien
menggerakan bahu kiri nya. Sampai saat ini dirasakan nyeri tidak berkurang.
Karena nyeri ini pasien sulit beraktifitas seperti mencuci, mengangkat
barang dan lain-lain.

2
Pasien pernah jatuh terpleset 1 tahun yang lalu dengan posisi tangan
tertelungkup. Setelah itu pasien hanya merasa sedikit nyeri pada lengan
bawah dan tidak dilakukan pengobatan atau tindakan apapun.

3. RiwayatPenyakitDahulu:
a. Riwayat alergi : Disangkal
b. Riwayathipertensi : Diakui
c. Riwayatkencingmanis : Disangkal
d. Riwayat trauma tulang : Disangkal
e. Riwayat TB : Disangkal
f. Riwayatkelemahananggotagerak : Disangkal
g. Riwayatpenyakitjantung : Disangkal
h. Riwayat stroke : Disangkal
4. Riwayat Penyakit Keluarga :
a. Keluhan serupa : Disangkal
b. Riwayat Alergi : Disangkal
c. Riwayathipertensi : Diakui
d. Riwayatkencingmanis : Disangkal
e. Riwayat TB : Disangkal
f. Riwayatpenyakitjantung : Disangkal
g. Riwayat stroke : Disangkal
5. RiwayatKebiasaan :
Pasien sehari-hari beraktifitas sebagai ibu rumah tangga yaitu
memasak, mencuci, menyetrika, dan lain-lain. Pasien menyatakan bahwa
jarang berolahraga.
6. Riwayat Sosial Ekonomi
Pasien sebagai ibu rumah tangga dan suami seorang Pegawai Negeri
Sipil. Di rumah pasien dan suaminya tinggal bersama 3 orang putra.
Kebutuhan sehari-hari dapat terpenuhi dengan baik.

C. PEMERIKSAAN FISIK
1. Status Generalis :
a. Keadaanumum : Baik

3
b. Kesadaran : Compos mentis
c. Status Gizi : Kesan baik
d. Vital sign
1) TekananDarah : 110/70mmHg
2) Respiratory Rate : 20x/menit
3) Nadi : 84x/menit
4) Suhu : 36,80 C
e. Kepala : Normocephal, Rambutwarnahitam
f. Mata : Konjungtivaanemis (+/+), Skleraikterik
(-/-), Edema palpebra (+/+)
g. Hidung : Nafascupinghidung (-),Deviasihidung (-),
Mukosahiperemis (-), Hipertrofikonka (-),
Sekret (-), Nyeritekan (-)
h. Mulut : Mukosahiperemis (-), Stomatitis (-), Lidah
kotor/berselaput (-), Bibirsianosis (+),
papillidahatrofi (-)
i. Telinga : Hiperemis (-/-), Sekret (-/-), Nyeritekan
(-/-)
j. Leher : Bentuk normal, Retraksi supra sterna (-),
Deviasitrakea (-),Peningkatan JVP (-),
Pembesarankelenjargetahbening (-)
k. Thorax
Jantung
1) Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak dan tidak kuat
angkat
2) Palpasi : Ictus cordis teraba di 2 cm medial LMSC
SIC V sinistra
3) Perkusi : Dalam batas normal
4) Auskultasi : Bunyi jantung I/II normal, bising (-), gallop
(-)
Paru

4
1) Inspeksi : Simetris
2) Palpasi : Fremitus kanan dan kiri simetris
3) Perkusi : Sonor di seluruh lapang paru
4) Auskultasi : SDV (+/+), Ronki (-/-), wheezing (-/-)
l. Abdomen
1) Inspeksi : Sikatrik (-), Distended (-)
2) Auskultasi : Bising usung (+) normal
3) Perkusi :Timpani diseluruh lapang perut
4) Palpasi :Nyeri tekan (-), Hepar/lien tidak teraba
m. Ekstremitas : Kulit warna sawo matang,edema(-),
sianosis (-), akral hangat (+)
2. Status Lokalis :
a. Look/Inspeksi
Deformitas (-), atrophy (-), edema (-), simetris bahu kanan kiri (+)
b. Feel/Palpasi
Tidak teraba hangat
Massa (-), nyeri tekan (-)
Tonus otot normal
Sensibiltas normal
c. Movement
Dapat bergerak aktifdengan gerak terbatas
Gerakan menimbulkan nyeri, VAS : 7
MMT (Sinistra : TVDN, Dextra : 5)
ROM/ LGS
ROM AKTIF ROM PASIF
SENDI
SINISTRA DEXTRA SINISTRA DEXTRA
BAHU
Fleksi 0-1000 0-1800 0-1000 0-1800
Ekstensi 0-450 0-600 0-450 0-600
Abduksi 0-1000 0-1800 0-1000 0-1800
Adduksi 0-450 0-750 0-450 0-750
Eksorotasi 0-450 0-900 0-450 0-900
Endorotasi 0-450 0-900 0-450 0-900

5
Pemeriksaan khusus :
Apley Scratch Test (+)
Yergason Test (+)
Mosley Test (+)
D. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Tidak dilakukan
E. DIAGNOSIS
Frozen Shoulder Syndrome Sinistra Grade III
F. PROBLEM REHABILITASI MEDIK
Nyeri
G. TERAPI
1. Medikamentosa
- Penggunaan analgetik oral(Na Diklofenak 2x1 P.C)
2. Non-Medikamentosa (RehabilitasiMedik)
Program Fisioterapi(1x seminggu) :
- TENS
- USD
- GE
H. PROGNOSIS
a.Quo ad vitam : ad bonam
b. Quo ad sanationam :ad bonam
c. Quo ad fungsionam : ad bonam

6
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Frozen Shoulder ialah penyakit kronis, yang kebanyakan terjadi pada
umur diantara40-70 tahun dengan limitasi gerakan sendi bahu.3-5% terjadi
pada populasi umum dan hampir 20% pada penderita diabtes. Hal ini lebih
sering terjadi pada wanita dibandingkan pria.Frozen shoulder
ataukapsulitisadhesivamempunyaibeberapasebutansepertiperiathritishumeros
kapularis, penyakitduplay, perikapsulitis, bursitis obliterative.Terdiri dari
frozen shoulder primer(idiopatik) dan frozen shoulder sekunder (Maund et al,
2012).
Frozen shoulder adalah kekakuan sendi glenohumeral yang
diakibatkan oleh elemen jaringan non-kontraktil atau gabungan antara
jaringan non-kontraktil dan kontraktil yang mengalami fibroplasia. Baik
gerakan pasif maupun aktif terbatas dan nyeri(Hand et al, 2007; Uhthoff &
Boileau, 2007).
B. Anatomi Fungsional
Gerakan bahu secara normal merupakan hasil gerak yang kompleks
dari 7 sendi yang terpisah : glenohumeral, skapulohumeral, skapulokosta,
suprahumeral, skapulotorasik, sternoklavikular, akromioklavikular (Thomas,
2000).
Sendi bahu merupakan salah satu sendi yang paling mobil dan serba
guna karena lingkup gerak sendi yang sangat luas, sehingga berperan penting
dalam aktifitas kehidupan sehari-hari. Gerakan pada sendi bahu : flexi (180),
ekstensi (60), abduksi (180), adduksi (75), endorotasi (90), eksorotasi
(90) (Scanlon, 2007).
Glenohumeral, sternoklavikular, dan akromioklavikular merupakan
sendi artrodial. Walaupun sendi ini masing-masing dapat bergerak sendiri,
semuanya bergerak secara simultan dan sinkron, sehingga tercipta gerakan
yang halus dan mulus. Sendi sternoklavikular menghubungkan gelang bahu

7
dan dinding dada, yang dibentuk oleh iga I, klavikula, dan manubrium sterni.
Sendi akromioklavikular dan sternoklavikular memungkinkan klavikula
mengadakan rotasi sesuai dengan sumbu panjangnya, ataupun melakukan
gerakan elevasi pada saat mengangkat bahu. Dapat pula melakukan gerakan
fleksi dan ekstensi gelang bahu (Thomas, 2000).

Sendi glenohumural dibentuk oleh humerus dan skapula dengan fosa


glenoid yang menjadi lebih dalam dengan adanya labrum glenoid. Permukaan
kapsul sendi cukup luas dan untuk mempertahankan kaput sendi tetap pada
tempatnya diperkuat oleh ligamen glenohumeri dan ligamen korakohumeral
(Ben, 2001).
Muskulotendineus rotator cuff terdiri atas gabungan tendon dari otot
supraspinatus, infraspinatus, teres minor yang berinsersi pada tuberkulum
mayus humeri, dan subskapularis yang berinsersi pada tuberkulum minus
humeri. Subskapularis berfungsi sebagai internal rotator, supraspinatus
sebagai elevator, sedangkan infraspinatus dan teres minor berfungsi sebagai
eksternal rotator (Thomas, 2000).

8
Sendi bahu mempunyai gerakan yang paling luas diantara sendi-sendi
lain. Gerakan abduksi bisa sampai 180. Dua pertiga bagian gerak ini
dilakukan oleh sendi glenohumeral dan sepertiga lainnya dilakukan oleh
skapulotorasik. Karena itu untuk mencapai gerak lengan yang penuh sampai
diatas kepala diperlukan sendi yang tidak ada gangguan. Terlihat pada
gambar 2 (Netter, 2010).

Gerakan lain yang penting adalah gerakan rotasi internal dan rotasi
eksternal. Gerakan rotasi internal meruapakan gerakan gelang bahu dimana
tangan dapat mencapai bagian punggung/belakang kepala (gambar 3). Kedua
gerakan ini sangat penting untuk dapat melakukan aktivitas memakai baju
atau bersisir (Scanlon, 2007).

9
C. Etiologi
Penyebab pasti masih belum jelas. Namun ada beberapa faktor
pencetus timbulnya capsulitis adhesive meliputi; penyakit-penyakit imun,
autonomic neuropati, immobilisasi bahu, trauma, kelainan/gangguan
psikologis, trisomi dari chromosoms 7 dan atau chromosoms 8. Pada suatu
penelitian 90% penderitanya menunjukan HLA B-27 positif, yang berarti
bahwa perlekatan tersebut merupakan manifestasi reaksi inflamasi autoimun.
Penderita yang menggunakan obat-obat luminal, yodium, dan isoniazid dalam
jangka panjang banyak mengidap frozen shoulder. Dapat juga ditimbulkan
karena pasien telah menderita penyakit dupuytrens, penyakit parkinson,
osteoporosis/osteopenia, penyakit kardiorespirasi. Stroke, hyperlipidemia,
post bedah jantung dan post bedah syaraf (Hand et al., 2007; Hsu et al., 2011;
Zuckerman & Rokito, 2011).
Diabetes adalah penyakit yang berhubungan dengan frozen shoulder.
Sesorang yang menderita diabetes memiliki risiko 10-20% mengalami frozen
shoulder syndrome. Pasien dengan frozen shoulder syndrome juga memiliki
risiko tinggi untuk mengalami kondisi prediabetik dengan abnormalitas
glukosa puasa atau gangguan toleransi glukosa (Harpal et al. 2015).

Frozen Shoulder Primer & Sekunder


Frozen Shoulder Primer (idiopatik): Penyebab yang mendasari atau
kondisi yangberhubungan dengan frozen shoulder ini tidak dapat
diidentifikasi Terjadi secaraspontan dengan penyebab yang tidak jelas. Pada
idiopatik frozen shoulderkemungkinan berhubungan dengan gangguan
immunologik, biokemikal, atau ketidakseimbangan hormonal (Uhthoff dan
Boileau, 2007; Hsu et al, 2011).
Frozen Shoulder Sekunder: Causa yang mendasari atau kondisi yang
berhubungan dengan frozen shoulder ini dapat diidentifikasi. Penyebabnya
jelas pada saat gejala muncul (Zuckerman & Rokito, 2011; Robinson et al,
2012).

10
D. Patofisiologi
Patofisiologi masih belum jelas, tetapi beberapa penulis menyatakan
bahwa dasar terjadinya kelainan adalah imobilisasi yang lama. Setiap nyeri
yang timbul pada bahu dapat merupakan awal kekakuan sendi bahu. Hal ini
sering timbul bila sendi tidak digunakan terutama pada pasien yang apatis dan
pasif atau dengan nilai ambang nyeri yang rendah, dimana tidak tahan dengan
nyeri yang ringan sehingga akan membidai lengannya pada posisi tergantung
(Jing et al, 2007).
Lengan yang immobile akan menyebabkan stasis vena dan kongesti
sekunder dan bersama-sama dengan vasospastik juga anoksia dapat
menimbulkan rekasi timbunan protein, edema, eksudasi, dan akhirnya reaksi
fibrous. Fibrosis akan menyebabkan adhesi antara lapisan bursa subdeltoid,
adhesi ekstra artikuler dan intraartikuler, kontraktur tendon subskapularis dan
biseps, perlekatan kapsul sendi (disebut kapsulitis adhesiva)(Harpal et al,
2015).

Fase Adhesive Capsulitis (Hannafin et al, 2000)


Fase nyeri (Painful): Berlangsung antara 0-3 bulan. Pasien mengalami
nyerispontan yang seringkali parah dan mengganggu tidur. Pasien takut
menggerakkanbahunya sehingga dapat menyebabkan kekakuan. Pada akhir
fase ini, volume kapsulglenohumeral secara signifikan berkurang.
Fase kaku (Freezing): Berlangsung antara 3-9 bulan. Fase ini ditandai
denganhyperplasia sinovial disertai proliferasi fibroblastik pada kapsul sendi
glenohumeralis. Rasa sakit yang sifatnya kronik seringkali diikuti dengan
kehilangan kemampuan gerakan bahu yang progresif. Nyeri saat istirahat dan
pada malam hari masih terdapat, dan gangguan tidur yang signifikan.
Terdapat pembatasan signifikan terhadap gerakan fleksi ke depan, abduksi,
endorotasi, dan exorotasi.
Fase beku (frozen): Berlangsung antara 9-15 bulan. Di fase ini
patofisiologisinovial mulai mereda/membaik tetapi adhesi terjadi dalam
kapsul diikuti penurunanvolume intra-articular dan kapsul sendi. Pasien
mengalami keterbatasan lingkupgerak sendi dalam pola kapsuler yaitu rotasi

11
eksternal paling terbatas, diikuti denganabduksi dan rotasi internal. Terdapat
nyeri yang minimal (kecuali pada akhir pergerakan bahu) namun terdapat
kekakuan bahu yang nyata
Fase mencair (Thawing Phase): Fase ini berlangsung antara 15-24
bulan. Fase akhir ini digambarkan mencair ditandai dengan kembalinya ROM
secaraberangsur-angsur.

E. Gambaran klinis
Penderita datang dengan keluhan nyeri dan ngilu pada sendi serta
gerakan sendi bahu yang terbatas ke segala arah, terutama gerakan abduksi
dan elevasi, sehingga mengganggu lingkup gerak sendi bahu. Rasa nyeri akan
meningkat intensitasnya dari hari ke hari. Kondisiinibiasanya unilateral,
bilamengenaiduabahudapatterjadibersamaanatauberurutan.Penyembuhan
terjadi lebih kurang selama 6-12 bulan, dimana lingkup gerak sendi bahu
akan meningkat dan akhir bulan ke-18 hanya sedikit terjadi keterbatasan
gerak sendi bahu (Jelena et al, 2005; Sharma& Jacobs, 2011).
Keadaan tersebut terbagi dalam 4 stadium yaitu (Ben, 2001) :
1. Stadium I : rasa nyeri umumnya terdapat pada sekitar sendi
glenohumeral, serta makin bertambah nyeri bila digerakkan tetapi belum
menimbulkan keterbatasan gerak sendi bahu. Pemeriksaan gerak secara
pasif menimbulkan rasa nyeri pada akhir gerakan.
2. Stadium II : Rasa nyeri bertambah, timbul pada malam hari sehingga
mengganggu tidur. Hampir setiap gerakan sendi bahu menimbulkan rasa
nyeri dan gerakan tiba-tiba menimbulkan rasa nyeri yang hebat. Nyeri
terjadi pada daerah insersi otot deltoid dan menjalar ke lengan dan siku.
Karena rasa nyeri dan adanya keterbatasan gerak sendi bahu maka akan
menimbulkan gangguan pada saat menyisir rambut.
3. Stadium III : rasa nyeri timbul secara spontan pada saat istirahat,
walaupun demikian nyeri tetap akan timbul bila melakukan gerakan tiba-
tiba seperti meregangkan sendi. Pada stadium ini keterbatasan gerak
sendi bahu bertambah nyata, hal ini disebabkan oleh adhesi dan
kontraktur dari penebalan mangkok sendi bahu. Otot-otot sekitar sendi

12
seperti supraspinatus dab infraspinatus akan menjadi atrofi. Lamanya
stadium I-III bervariasi antara beberapa minggu sampai lebih kurang 2
bulan. Pada stadium III dan IV keterbatasan gerak sendi merupakan
masalah yang dihadapi.
4. Stadium IV : mulai terjadi penyembuhan dari keterbatasan sendi bahu
secara bertahap dan pemulihan gerakan sendi bahu mulai lebih kurang
bulan ke IV atau ke V dari saat mulai timbulnya keluhan dan berakhir
sekitar 6-12 bulan. Walaupun demikian 20% dari penderita masih
didapati adanya keterbatasan gerak meskipun sedikit sekali. Gambaran
radiologi umumnya tidak menunjukan adanya kelainan.
F. Diagnosis
1. Anamnesis
Pada Penderita frozen shoulder didapatkan keluhan nyeri di bagian
depan dan samping bahu, sehingga penderita tidak dapat menyisir rambut
atau tidak bisa memakai brest holder (BH) pada wanita maupun keluhan
keterbatasan gerak lainnya(Harpal et al, 2015).
2. Pemeriksaan Fisik
Look : pada inspeksi, lengan ditahan di samping pada posisi
adduksi dan endorotasi. Atrofi ringan dari deltoid dan supraspinatus
mungkin nampak.Feel : pada palpasi, mungkin terdapat difusi yang
lembek dari glenohumeral joint yang meluas ke area trapezius
interscapula.Move : pada frozen shoulder terdapat kehilangan
kemampuan untuk melakukan exorotasi. Frozen shoulder merupakan
gangguan pada kapsul sendi, maka gerakan aktif maupun pasif terbatas
dan nyeri. Nyeri dapat menjalar ke leher, lengan atas, dan punggung,
perlu dilihat faktor pencetus timbulnya nyeri. Gerakan pasif dan aktif
terbatas, pertama-tama pada gerakan elevasi dan rotasi interna lengan,
tetapi kemudian untuk semua gerakan sendi bahu (Jing et al, 2007).
Terdapat beberapa tes khusus seperti Apley Scratch Test yang
merupakan tes tercepat untuk mengevaluasi lingkup gerak aktif sendi.
Pasien diminta menggaruk angulus medialis skapula dengan tangan sisi

13
kontra lateral melewati belakang kepala (gambar 4). Pada frozen
shoulder pasien tidak dapat melakukan gerakan ini. Bila sendi dapat
bergerak penuh pada bidang geraknya secara pasif, tetapi terbatas pada
gerak aktif, maka kemungkinan kelemahan otot bahu sebagai penyebab
keterbatasan. Nyeri akan bertambah pada penekanan dari tendon yang
membentuk muskulotendineus rotator cuff. Bila gangguan
berkelanjutan akan terlihat bahu yang terkena reliefnya mendatar, bahkan
kempis, karena atrofi otot deltoid, supraspinatus, dan otot rotator cuff
lainnya (Thomas, 2000).

Yergason Test merupakan test yang dapat dilakukan untuk


mengetahui keberadaan tendon otot biceps apakah tetap pada sulkus
intertuberkularis atau tidak. Pemeriksaan dapat dilakukan dalam posisi
pasien duduk atau berdiri dengan posisi siku difleksikan 90 dan posisi
lengan pronasi. Setelah itu pasien diminta untuk melakukan supinasi
lengannya kemudian pemeriksa menahan gerakannya, apabila hasilnya
positif timbul nyeri danhal itu menunjukan otot biceps tidak stabil pada
sulkus intertuberkularis (Robert et al, 2008).

14
Mosley Test atau Drop Arm Test juga dapat dilakukan untuk
mengetahui ada tidaknya kerusakan pada otot rotator cuff. Pasien diminta
untuk melakukan abduksi lengan pada sudut 90 dan kemudian
menahannya. Apabila pasien tidak sanggup menahannya dan lengan
terjatuh maka menunjukan hasil pemeriksaan positif yaitu ada kerusakan
pada otot rotator cuff (Maarten et al, 2011).

3. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan radiologi harus dilakukan termasuk foto
anteroposterior pada posisi endorotasi, exorotasi, axillar, dan outlet untuk
mengidentifikasi penyebab lain dari kekakuan sendi seperti arthritis
glenohumeral, tendonitis kalsifikasi, atau penyakit rotator cuff.
Gambaran radiologi biasanya normal pada pasien frozen shoulder,
walaupun mungkin terdapat osteopenia. MRI berguna untuk melihat

15
sebagian atau seluruh robekan rotator cuff pada pasien yang
mengeluhkan adanya nyeri dan kekakuan bahu namun hal ini tidak rutin
dilakukan dalam mendiagnosa frozen shoulder. Selain itu dapat juga
dilakukan pemeriksaan untuk melihat synovitis pada bahu seperti
pemeriksaan arthroscopy, arthrography, CT-Scan, bone scan, dan
laboratorium yang dapat menunjukan adanya tanda-tanda inflamasi
walaupun itu tidak mutlak (Durall, 2011).
G. Tata Laksana
1. Medikamentosa
Untuk mengurangi rasa nyeri diberikan analgesik dan obat anti
inflamasi non steroid. Pemakaian relaksan otot bertujuan untuk
mengurangi kekakuan dan nyeri dengan menghilangkan spasme otot.
Beberapa menganjurkan pemberian suntik kortikosteroid ditambah
anastesi lokal pada rotator cuff dan intraartikuler untuk menghilangkan
nyeri secara cepat. Harus diperhatikan kemungkinan ruptur dari tendon
pada penyuntikan tersebut, maka penyuntikan tidak boleh lebih dari 2
kali dalam 1 tahun (Jing et al, 2007;Harpal et al, 2015).
2. Non Medikamentosa
a. Fisioterapi: Terapi dingin, terapi panas, elektrostimulasi, laser, dan
latihan
b. Okupasi terapi (penilaian terhadap aktifitas kehidupan sehari-hari)
c. Orthotics-Prosthetics (sling dan bidai).
H. Prognosis
Prognosis umumnya baik. Beberapa penelitian menjelaskan bahwa
frozen shoulder merupakan penyakit yang sifatnya Self Limiting Disease,
karena dapat sembuh pada tahun 1 sampai tahun ke-3 dan paling cepat 6
bulan setelah timbulnya gejala. Antara 20-50% pasien masih mendapatkan
gejala sisa sampai 10 tahun (Sharma & Jacobs, 2011; Jing et al, 2007).

16
BAB III
PEMBAHASAN

Seorang perempuan berusia 47 tahun menderita nyeri bahu kiri yang


dirasakan sejak 2 bulan terakhir. Awalnya hanya berasa capek dan pegal-pegal
kemudian bertambah nyeri ketika bahu kiri digerakkan. Sebelumnya ketika
beristirahat nyeri terasa berkurang, tetapi saat ini pada saat istirahatpun terasa
nyeri. Pasien sulit melakukan kegiatan mencuci atau mengangkat barang. 1 tahun
yang lalu pasien mengalami jatuh dengan posisi tangan kiri tertelungkup tetapi
tidak dilakukan pengobatan atau tindakan apapun karena hanya terasa sedikit
nyeri.
Frozen shoulder sering terjadi pada perempuan dengan rentang usia 40-
70 tahun. Hal ini sesuai dengan kondisi pasien.Riwayat trauma yaitu jatuh satu
tahun yang lalu dapat merupakan salah satu penyebab terjadinya frozen shoulder
syndrome. Pada pasien ini terdapat nyeri ketika melakukan aktifitas dengan
menggerakan bahunya, yang merupakan keluhan khas dari penderita frozen
shoulder syndrome.Keluhan pasien saat ini adalah nyeri menjadi lebih sering,
bahkan saat pasien sedang beristirahat pun terasa nyeri. Hal ini menunjukan
bahwa pasien berada pada stadium III. Sesuai dengan onsetnya yaitu 2 bulan.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan keterbatasan gerak bahu karena
adanya nyeri. Gerak aktif maupun pasif didapatkan lingkup gerak yang sama,
tidak ada peningkatan. Apabila pada gerak pasif didapatkan peningkatan lingkup
gerak dibandingkan gerak aktif, maka dapat dicurigai adanya pharese N.Axillaris.
Pemeriksaan khusus lainnya pada frozen shoulder yang menunjukan hasil postif
adalah Apley Scratch Test, Yergason Test, dan Mosley Test atau Drop Arm Test.
Permasalahan pada bidang rehabilitasi medik adalah menurunkan nyeri
pada pasien tersebut. Berdasarkan masalah tersebut pasien diberi terapi
medikamentosa yaitu oral analgetik (Na Diklofenak) dan terapi non
medikamentosa yaitu fisioterapi seperti TENS (Transcutaneous Electrical Nerve
Stimulation) untuk mengurangi nyeri dan mengurangi spasme otot, terapi panas
dalam seperti USD (Ultrasound Diathermy) untuk mengurangi nyeri, sebagai anti

17
inflamasi, dan meningkatkan vasodilatasi lokal.Terapi dingin tidak diberikan pada
pasien ini karena tidak didapatkan tanda-tanda inflamasi akut. Selain itu, pada
pasien ini juga diberikan terapi General Exercise.
Prognosis pada pasien ini adalah baik karena pada umumnya frozen
shoulder syndrome dapat sembuh sendiri (Self Limiting Disease) sekitar 6 bulan
dari munculnya gejala. Proses penyembuhannya juga dapat dipercepat dengan
keteraturan pasien dalam melatih gerak sendi bahu sehingga tidak sampai
menyebabkan atrofi otot bahkan stiffness.

18
DAFTAR PUSTAKA

Ben W.K. Shoulder Pain in Clinical Sports Medicine Book, 2nd ed. 2001: 1-4

Durall C. 2011. Adhesiva Capsulitis. In : Brotzman, S.B., Manske, R.C., editors.


Clinical Orthopedic Rehabilitation :an evidence-based. second edition.
Philadelphia : Elsevier.

Hannafin, J.A., Chiaia, T.A. 2000. Adhesive capsulitis: a treatment approach. Clin
Orthop Related Res; 372: 95-109.

Hand, G.C., Athanasou, N.A., Matthews, T. 2007. The pathology of frozen


shoulder. J Bone Joint Surg Br; 89: 928-932.

Harpal Singh Uppal, Jonathan Peter Evans, Christopher Smith. Frozen shoulder:
A systematic review of therapeutic options. World J Orthop 2015 March 18; 6(2):
263-268

Hsu, J.E., Anakwenze, O.A., Warrander, W.J., Abboud, J.A. 2011. Current review
of adhesive capsulitis. The Journal Shoulder Elbow Surg; 20: 502-514.

Jelena Jurgel, Lauri Rannama, Helena Gapeyeva, Jaan Ereline, Ivo Kolts, Mati
Paasuke. 2005. Shoulder function in patients with frozen shoulder before and
after4-week rehabilitation. Medicina (Kaunas) 2005; 41(1).

Jing-lan Yang, Chein-wei Chang, Shiau-yee Chen, Shwu-Fen Wang, Jiu-jenq Lin.
2007. Mobilization Techniques in Subjects With Frozen Shoulder Syndrome:
Randomized Multiple-Treatment Trial. Physical Therapy Volume 87 Number 10.

Maarten H.M, Robert J.D, Todd S.E, Adam W. Clinical Test in Shoulder
Examination: How to Perform Them. Br J Sports Med 2010;44:370-375.
doi:10.1136/bjsm.2010.071928.

Maund E., Craig, D., Suekarran, S., Neilson, A.R., Wright, K., Brealey, S.,Dennis,
L., Goodchild, L., Hanschood, N., Rangan, G., Richardson, G., Robertson, J.,
McDaid, C. 2012. Management of frozen shoulder a systematic review and
cost effectiveness analysis. Health Technology Assessment; 16(11): 1-264.

Netter, F.H. 2010. Atlas of Human Anatomy. Fifth Edition. UK : Sounders.

Robert W.P, Scott R.S, Gary L, Carry T, Steven R.M. Yergasons Test:
Discrepancies in Description and Implications for Diagnosing Biceps
Subluxation. Athletic Training Education Journal; 2008;3 (4): 143-147.

Robinson, C.M., Seah, K.T.M., Chee, Y.H., Hindle, P., Murray, I.R. 2012. Frozen

19
shoulder.The Journal of Bone and Joint surgery; 94-B (1): 1-9.

Scanlon,V.C., Sanders, T. 2007. Essential of Anatomy and Physiology.Fifth


Edition. Philadelphia : F.A. Davis Company.

Sharma S, Jacobs L . 2011. Management of frozen shoulder conservative vs


surgical?. Ann R Coll Surg Engl 2011; 93: 343346.

Thomas W.W, Thomas M.B. The Painfull Shoulder : Part I. Clinical Evaluation.
American Academy of Family Physicians, May 15. 2000.

Thomas W.W, Thomas M.B. The Painfull Shoulder : Part II. Acute and chronic
Disorders. American Academy of Family Physicians, June 1. 2000.

Uhthoff, H.K., Boileau, P. 2007 . Primary frozen shoulder; global capsular


stiffness versus localized contracture. Clin Orthop Rela Res; 456: 79-84.

Zuckerman, J.D., Rokito, A. 2011. Frozen shoulder: a consensus definition. J


Shoulder Elbow Surg; 20 : 322-325.

20