Anda di halaman 1dari 40

LAPORAN

PRAKTIKUM PEMISAHAN DIFUSIONAL


DIFUSIVITAS INTEGRAL
(D-3)

DISUSUN OLEH
APRIN PRATAMA LUBIS 121150072
FAKHURRAHMAN BENNY S. 121150092
DIYAH AYU SARI 121150100

LABORATORIUM DASAR TEKNIK KIMIA


PROGRAM STUDI S1 TEKNIK KIMIA
JURUSAN TEKNIK KIMIA
FAKULTAS TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL
VETERAN YOGYAKARTA
2017
LAPORAN
PRAKTIKUM PEMISAHAN DIFUSIONAL
DIFUSIVITAS INTEGRAL
(D-3)

DISUSUN OLEH
APRIN PRATAMA LUBIS 121150072
FAKHURRAHMAN BENNY S. 121150092
DIYAH AYU SARI 121150100

LABORATORIUM DASAR TEKNIK KIMIA


PROGRAM STUDI S1 TEKNIK KIMIA
JURUSAN TEKNIK KIMIA
FAKULTAS TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL
VETERAN YOGYAKARTA
2017

ii
LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN PRAKTIKUM PEMISAHAN DIFUSIONAL
DIFUSIVITAS INTEGRAL
(D-3)

DISUSUN OLEH
APRIN PRATAMA LUBIS 121150072
FAKHURRAHMAN BENNY S. 121150092
DIYAH AYU SARI 121150100

Yogyakarta, Mei 2017


Disetujui Oleh
Asisten Pembimbing

Ir. Endang S., M.T.

iii
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis sampaikan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat, hidayat, dan inayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan
Praktikum Pemisahan Difusional dengan judul Difusuvitas Integral dengan
lancar tanpa suatu halangan apapun. Laporan ini disusun untuk memenuhi syarat
Praktikum Pemisahan Difusional.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Ir. Danang Jaya, M.T. selaku kepala laboratorium.
2. Ir. Endang S., M.T. selaku asisten pembimbing.
3. Semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan laporan.
4. Rekan-rekan sesama praktikan atas kerja samanya.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan laporan ini banyak sekali
kekurangan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang
membangun sebagai evaluasi untuk kegiatan mendatang.
Akhir kata, semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi masyarakat umum.

Yogyakarta, Mei 2017

Penulis

iv
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL............................................................................................... ii
LEMBAR PENGESAHAN ................................................................................... iii
KATA PENGANTAR ........................................................................................... iv
DAFTAR ISI ............................................................................................................v
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................. vi
DAFTAR TABEL ................................................................................................. vii
DAFTAR LAMBANG ........................................................................................ viii
INTISARI............................................................................................................... ix
BAB I PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang ..........................................................................................1
I.2 Tujuan Percobaan ......................................................................................1
I.3 Tinjauan Pustaka .......................................................................................1
I.4 Hipotesis ....................................................................................................6
BAB II PELAKSANAAN PERCOBAAN
II.1 Alat dan Bahan .........................................................................................7
II.2 Rangkaian Alat .........................................................................................8
II.3 Cara Kerja ................................................................................................8
II.4 Bagan Alir ................................................................................................9
II.5 Analisis Perhitungan ..............................................................................10
BAB III PEMBAHASAN
III.1 Hasil Percobaan ....................................................................................13
III.2 Pembahasan ..........................................................................................15
BAB IV PENUTUP
IV.1 Kesimpulan ...........................................................................................17
IV.2 Kritik dan Saran ....................................................................................17
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................18
LAMPIRAN

v
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Transfer massa........................................................................................3


Gambar 2. Rangkaian alat difusivitas integral .........................................................8
Gambar 3. Hubungan antara Log (t/L2) dengan 2 Log (100-E) X1 ........................30
Gambar 4. Hubungan antara Log (t/L2) dengan 2 Log (100-E) X2 ........................31

vi
DAFTAR TABEL

Tabel 1. Hasil Perhitungan Volume Pipa Kapiler ..................................................13


Tabel 2. Hasil Perhitungan Volume Asam Standar dan Normalitas NaOH ..........13
Tabel 3. Standarisasi Asam Oksalat X1 sebelum difusi .........................................14
Tabel 4. Standarisasi Asam Oksalat X2 sebelum difusi .........................................14
Tabel 5. Hasil Perhitungan Volume NaOH sebelum dan setelah difusi X1 ...........14
Tabel 6. Hasil Perhitungan Volume NaOH sebelum dan setelah difusi X2 ...........15
Tabel 7. Data hasil pengamatan berat aquades dengan volume pipa .....................19
Tabel 8. Data hasil pengamatan Volume NaOH dengan Normalitas NaOH .........20
Tabel 9. Data hasil pengamatan volume NaOH dengan Normalitas H2C2O4 ........21
Tabel 10. Data hasil pengamatan volume NaOH dengan Normalitas H2C2O4 ......22
Tabel 11. Data hasil pengamatan volume NaOH dengan normalitas X1 ...............23
Tabel 12. Data hasil pengamatan volume NaOH dengan normalitas X2 ...............23
Tabel 13. Data hasil pengamatan volume NaOH dengan normalitas asam oksalat
(X1) setelah difusi sebelum pengenceran ...............................................................24
Tabel 14. Data hasil pengamatan volume NaOH dengan normalitas asam oksalat
(X2) setelah difusi sebelum pengenceran ...............................................................25
Tabel 15. Persentase asam oksalat (X1) .................................................................26
Tabel 16.Persentase asam oksalat (X2) ..................................................................26

Tabel 17. Hubungan 2 log(100 ) dan log (2 ) pada asam oksalat X1 ............27

Tabel 18. Hubungan 2 log(100 ) dan log (2 )pada asam oksalat X2 ............28

Tabel 19. Persen kesalahan asam oksalat X1 .........................................................30


Tabel 20. Persen kesalahan asam oksalat X2 .........................................................31

vii
DAFTAR LAMBANG

C = Konsentrasi (mol/L)
DAB = Difusivitas massa komponen A melalui B (cm2/detik)
dCA/dx = Gradien konsentrasi A dalam arah X (g/cm2)
E = Persen Asam Oklasat dalam pipa kapiler (%)
JAX = Fluks molar A dalam arah X (g/cm2. detik)
L = Panjang pipa kapiler (cm)
N = Normalitas (N)

viii
INTISARI

Salah satu bentuk transfer massa adalah difusi, dengan mekanisme


kecepatannya dipengaruhi oleh gaya dorong (driving force) yang disebabkan oleh
gradien suhu, konsentrasi, tekanan dan kecepatan aliran.
Harga koefisien difusivitas campuran biner asam oksalat air dengan
variabel konsentrasi dan waktu. Asalm oksalat dengan konsentrasi tertentu
dimasukka ke dalam pipa kapiler, kemudian pipa kapiler dimasukkan ke dalam bak
air dan dialiri air. Pada selang waktu 5 menit pipa kapiler tersebut diambil dan
konsentrasi asam oksalat yang tersisa dianalisa dengan cara titrasi menggunakan
NaOH yang telah distandarisasi untuk mengetahui konsentrasi asam oksalat
setelah difusi.
Dari percobaan yang dilakukan pada asam oksalat X1 diperoleh harga
koefisien difusivitas 0,0276 cm2/menit dengan persamaan garis y = - 0,1416 x +
3,541 dengan persen kesalahan rata-rata sebesar 1,299 %. Sedangkan, pada asam
oksalat X2 diperoleh harga koefisien difusivitas 0,0375 cm2/menit dengan
persamaan garis y = - 0,0210 x + 3,6737 dengan persen kesalahan rata-rata
0,077%. Dari percobaan ini didapat kesimpulan bahwa semakin lama waktu difusi
maka semakin kecil konsentrasi asam oksalatnya, karena semakin banyak asam
oksalat yang terdifusi kedalam air.

ix
BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Transfer massa banyak dijumpai dalam kehidupan sehari hari, di dalam ilmu
pengetahuan dan teknik. Contohnya yaitu, asap dari cerobong asap mengepul ke
udara sekeliling dengan jalan difusi. Sama halnya dengan gula yang dimasukkan ke
dalam air teh akan melarut dan menyebar di dalam air teh dengan jalan difusi.
(Hardjono, 1989)
Dengan mengetahui difusivitas (koefisien difusi) suatu zat, maka akan dapat
mengetahui kemampuan penyebaran massa zat tersebut ke dalam fase yang lain
atau dalam suatu fase. Semakin besar harga difusivitas suatu zat maka dapat
dikatakan zat tersebut mempunyai kemampuan transfer massa yang besar pula.
Dalam industri kimia, koefisien difusi berperan dalam perhitungan waktu proses,
yang selanjutnya digunakan dalam perancangan kapasitas alat.(Hardjono, 1989)

I.2 Tujuan Percobaan


Menentukan koefisien difusivitas integral (DAB) yang merupakan
perbandingan luas dengan waktu dalam satuan cm2/menit dari larutan asam oksalat
yang berbeda.

I.3 Tinjauan Pustaka


Difusi adalah salah satu bentuk transfer massa yang disebabkan oleh adanya
gaya dorong (driving force) yang timbul karena gerakan-gerakan molekul atau
elemen fluida. Difusivitas cairan tergantung pada sifat sifat komponen,
temperatur serta konsentrasi dari cairan tersebut tetapi, dalam pelaksanaan
percobaan ini faktor temperatur diabaikan karena perbedaan temperatur yang kecil
akan menyebabkan perbedaan densitas yang kecil, sehingga menyebabkan massa
tidak berubah. (Hardjono, 1989)

1
Transfer massa berlangsung secara difusi antara dua fase atau lebih,
kebanyakan dalam operasi pemisahan konstituen dari campuran terdapat dua fase
yang saling bersinggungan yang dinamakan sebagai kontak fase.
Dinamika sistem sangat berpengaruh terhadap kecepatan transfer massa.
Sehingga dalam transfer massa dapat digolongkan menjadi dua, yaitu:
a. Difusi molekuler yaitu transfer massa yang disebabkan oleh gerakan
molekul secara acak dalam fluida yang diam atau bergerak secara
laminer. Difusi molekuler juga merupakan difusi yang berhubungan
dengan gerakan molekul-molekul melalui sesuatu zat yang disebabkan
oleh tenaga panasnya. Kecepatan rata-rata molekul tergantung pada
suhunya. Molekul bergerak melalui lintasan zig-zag, sehingga kecepatan
difusinya, yaitu jarak bersih yang ditempuh dalam satu arah, hanya
merupakan bagian kecil dari panjang lintasan yang sesungguhnya.
Sehingga difusi molekuler berjalan dengan sangat lambat.
b. Difusi olakan yaitu transfer massa yang terjadi apabila ada suatu fluida
yang mengalir melalui sebuah permukaan dengan aliran turbulen, atau
transfer massa yang dibantu oleh dinamika aliran.
Jika ditinjau, sebuah gas yang mengalir secara turbulen melalui sebuah
permukaan dalam keadaan tetap, dan pada saat yang sama dalam aliran tersebut
terjadi difusi equimolar arus berlawanan. Komponen A mendifusi dari permukaan
dinding ke badan utama gas, sedangkan komponen B mendifusi dari badan utama
gas ke permukaan dinding. (Hardjono, 1989)
Dalam mengamati aliran laminer dalam percobaan, prinsip prinsip yang
harus kita ketahui adalah partikel partikel fluida mengalir secara teratur dan
sejajar dengan sumbu tabung, hal ini dapat dilihat dari besarnya bilangan Reynold
( Re ) pada aliran fluida tersebut. Sedangkan sifat aliran turbulen partikel partikel
tidak lagi mengalir secara teratur ( Re > 2000 ). (Brown, 1950)
Difusivitas adalah suatu faktor perbandingan yaitu, difusivitas massa atau
komponen yang mendifusi melalui komponen pendifusi. Zat yang terlarut akan
mendifusi dari larutan yang konsentrasinya tinggi ke daerah yang konsentrasinya
rendah. Kecenderungan zat untuk mendifusi dinyatakan dengan koefisien difusi.

2
Koefisien difusi merupakan sifat spesifik sistem yang tergantung pada suhu,
tekanan dan komposisi sistem. DAB adalah koefisien difusi untuk komponen A yang
mendifusi melalui B. Dari hubungan dasar difusi molekuler yaitu fluks molar relatif
terhadap kecepatan rata-rata molar JA. Yang pertama kali ditemukan oleh Fick
untuk sistem isotermal dan isobarik.
Yang dimaksud dengan fluks sendiri adalah banyaknya suatu komponen, baik
dalam satuan massa atau mol, yang melintasi satu satuan luas permukaan dalam
satu satuan waktu. Fluks dapat ditetapkan berdasarkan suatu koordinat yang tetap
di dalam suatu ruangan, suatu koordinat yang bergerak dengan kecepatan rata-rata
massa, atau suatu koordinat yang bergerak dengan kecepatan rata-rata molar.
Koefisien difusi dapat dijumpai pada persamaan hukum Fick :
dC A ......... (1)
JAx= -DAB
dx
dimana :
JAx : Fluks molar A dalam arah X ( g/cm2.detik )
DAB : Difusivitas massa A melalui B ( cm2/detik )
dCA
: Gradien konsentrasi ( mol/cm4)
dx
Tanda negatif menunjukkan bahwa difusi terjadi dengan arah yang sejalan
dengan penurunan konsentrasi.

JAxx JAxx+x

x x+
x=0 x x=L

Gambar 1. Transfer massa

Neraca Massa :
Massa Masuk Massa Keluar Massa Yang Bereaksi = Massa Akumulasi.
dC dC dC
DAB A A DAB A A 0 A x A
dx x dx x x dx
.......................(2)

3
Persamaan ( 2 ) dibagi dengan A dx, maka :
d dCA dCA
DAB
dx dx dx .........................................................................(3)

d 2C A dCA
DAB
dx2 dx .........................................................................(4)
d 2C A 1 dCA
2

dx DAB dx .........................................................................(5)

Bila dalam percobaan digunakan asam oksalat. Konsentrasi asam oksalat


mula mula dalam pipa kapiler adalah CAo pada :
x =x
t =0
CA = CAo
Konsentrasi asam oksalat dalam pipa kapiler pada waktu t = ~ :
x =x
t =~
CA =0
Pada ujung pipa kapiler yang tertutup tidak ada transfer massa :
x =0
t =t
dCA
=0
dx
Konsentrasi asam oksalat pada ujung kapiler pada setiap saat :
x =L
t =t
CA = CA
Penyelesaian persamaan differensial dari persamaan ( 3 ) adalah :

4 (1) n ( 2n L ) (2n 1) 2 2 DAB t


CA
n 1 (2n 1)
cos
( 2 L) exp 2

4 L ...............(6)

4
dimana :
CA = Konsentrasi asam oksalat (mol/L)
DAB = Difusivitas asam oksalat (g/cm2.detik)
t = Waktu difusi (menit)
L = Panjang pipa (cm)

Menghitung asam oksalat setelah difusi :


N = CA . V
dN = CA . dV + V . dCA ; CA = tetap
dN = CA . A . dx
N = CA . A . dx
Jumlah asam oksalat mula mula dalam pipa kapiler adalah :
No = CAo . A . L ....................................................................................(7)

Persentase asam oksalat setelah difusi dalam pipa kapiler adalah :


N
E= 100% ...............................................................................(8)
N0
L
A C A dx
E= 0
100% .......................................................................(9)
C Ao A L
L
CA
E= C
0 Ao L
dx 100% ....................................................................(10)

Persamaan ( 4 ) disubstitusikan ke persamaan ( 5 ), sehingga diperoleh :


800 1 (2n 1) 2 2 DAB t
E= 2 exp
n 2 (2n 1) 2 4 L 2
..........................(11)

Untuk DAB yang tetap dan DAB . t/L2 kecil, maka persamaan ( 6 ) dapat
didekati dengan :

5
D t
E = 100 200 AB
2 ..............................................................(12)
L

D t
100 E = 200 AB
2
L
.............................................................(13)
1 t
log ( 100 E ) = log ( 200 D AB. . ) + 2 Log L2
........................(14)
t
2 log ( 100 E ) = 2 log ( 200 D AB. . ) + Log L2
......................(15)
t
Sehingga persamaan dapat dibuat grafik hubungan antara Log terhadap
L2
Log ( 100-E ) dan juga persamaan diatas dapat diselesaikan dengan metode Least
Square, dengan persamaan pendekatan secara garis lurus sebagai berikut :
y=a+bx .......................................................(16)
dimana :
y = 2 log ( 100 E )

a = 2 log ( 200 D . )
AB

t
x = Log
L2
b = tan = gradien = 1
dengan :
E = Perbandingan asam oksalat yang tertinggal
t = Waktu (menit)
L = Panjang pipa kapiler (cm)
DAB = Koefisien difusi (g/cm2.detik)

I.4 Hipotesis
Nilai DAB dipengaruhi oleh waktu dan konsentrasi, semakin besar konsentrasi
asam oksalat semakin besar pula DAB nya, semakin lama waktu difusi maka akan
semakin banyak asam oksalat yang terdifusi oleh air.

6
BAB II
PELAKSANAAN PERCOBAAN

II.1 Alat dan Bahan


II.1.1 Alat
a. Alat suntik
b. Buret
c. Erlenmeyer
d. Corong
e. Stopwatch
f. Penggaris
g. Termometer
h. Timbangan
i. Pipa kapiler

II.1.2 Bahan
a. Air
b. Larutas Asam Oksalat (H2C2O4)
c. Aquadest
d. Larutan NaOH
e. Larutas Asam Standar
f. Indikator PP

7
II.2 Rangkaian Alat

Gambar 2. Rangkaian alat difusivitas integral

Keterangan Gambar:
1. Bak penampung air
2. Kran pengatur aliran
3. Pipa kapiler
4. Bak difusi
5. Outlet

II.3 Cara Kerja


Untuk mengetahui volume pipa kapiler pertama-tama pipa kosong ditimbang,
kemudian pipa kosong tersebut diisi oleh aquadest kemudian ditimbang. Panjang
pipa diukur menggunakan mistar, lalu suhu aquades diukur untuk mencari densitas
pada suhu tersebut.
Kemudian dilanjutkan dengan standarisasi NaOH dengan cara asam standar
diambil 10 ml, dimasukkan kedalam erlenmeyer dan ditambah dengan PP 2 tetes
lalu dititrasi dengan NaOH. Kemudian volume NaOH yang digunakan untuk titrasi
dicatat, lakukan percobaan sebanyak 3 kali. Standarisasi asam oksalat (X1) pertama
larutan asam oksalat (X1) diambil sebanyak 10 ml kemudian ditambahkan indikator
PP dan dititrasi dengan NaOH. Kemudian volume NaOH yang digunakan untuk
titrasi dicatat dan volume NaOH yang digunakan tersebut digunakan sebagai
volume NaOH sebelum difusi. Hal yang sama dilakukan untuk asam oksalat (X2).

8
Selanjutnya percobaan difusi, mula-mula pipa kapiler diisi dengan asam
oksalat dan diusahakan agar tidak ada gelembung udara di pipa, lalu pipa kapiler
disusun dalam bak air dengan diurutkan posisinya dari posisi rendah ke tinggi, lalu
air dialirkan dan alirannya diatur agar laminer. Pada saat air sampai puncak pipa
kapiler waktu dicatat sebagai t=0. Kemudian pipa kapiler diambil setiap selang
waktu 5 menit secara berurutan. Selanjutnya asam oksalat yang terdapat pada pipa
kapiler diambil dengan jarum suntik dan dimasukkan kedalam erlenmeyer
kemudian ditambah aquades hingga volume airnya 10 ml. Kemudian tambahkan
indikator PP dan dititrasi dengan NaOH. Percobaan diulang untuk asam oksalat
(X2).

II.4 Bagan Alir


a. Menentukan volume pipa kapiler
Menimbang berat pipa kapiler kosong

Menimbang berat pipa yang diisi dengan aquades, sehingga diperoleh berat
aquades

Mengukur panjang pipa

Mengukur suhu aquades

Mencari densitas aquades berdasarkan suhu yang telah diukur

Menghitung volume pipa

Setelah menghitung volume pipa, dilanjutkan dengan mengukur tinggi


masing-masing pipa kapiler

9
b. Standarisasi larutan NaOH
Mengambil asam standard 10 ml larutan

Memasukkan asam standard ke dalam erlenmeyer dan menambahkannya


dengan indikator PP

Menitrasi larutan standard dengan larutan NaOH

Mencatat volume NaOH yang digunakan untuk titrasi

Melakukan percobaan sebanyak tiga kali

c. Standardisasi asam oksalat


Memasukkan sebanyak 10 ml larutan asam oksalat (X1) ke dalam
erlenmeyer dan menambahkannya dengan indikator PP

Menitrasi asam oksalat (X1) dengan larutan NaOH

Mencatat volume NaOH yang digunakan untuk titrasi

Melakukan percobaan yang sama untuk larutan asam oksalat (X2)

II.5 Analisis Perhitungan


m
1. Volume pipa V

Dimana : V = Volume pipa (ml)
m = Berat aquadest (gr)
= Densitas aquadest (gr/ml)

10
2. Menentukan Normalitas NaOH
V1 x N1 = V2 x N2
Dimana : V1 = Volume asam standart (ml)
N1 = Normalitas asam standart (N)
V2 = Volume NaOH (ml)
N2 = Normalitas NaOH (N)

3. Menentukan Normalitas asam oksalat sebelum dan setelah difusi


V1 x N1 = V2 x N2
Dimana : V1 = Volume asam standart (ml)
N1 = Normalitas asam standart (N)
V2 = Volume NaOH (ml)
N2 = Normalitas NaOH (N)

4. Menentukan prosentase asam oksalat


Untuk menentukan prosentase asam oksalat sisa (sebelum dan setelah
difusi) dapat dilihat dari perbedaan normalitas asam oksalat sebelum dan
setelah difusi.
N
E= 100 0 0
No
Dimana : E = % sisa asam oksalat
N = Normalitas asam oksalat setelah difusi
No= Normalitas asam oksalat sebelum difusi

5. Menentukan Difusivitas
Dapat ditentukan dari rumus:
.D AB .t
E 100 200
L2
Yang dijabarkan menjadi:
t
2 Log (100 E ) Log 2 Log (200 D AB )
L2

11
Persamaan diatas dapat diselesaikan dengan metode Least Square:
y = a + bx
dimana : y = 2 log (100-E)
t
x = log ( )
L2

b = intercept = 2 log ( 200 D AB )


dengan : E = Perbandingan asam oksalat yang tertinggal
t = waktu
L = panjang pipa kapiler
DAB = koefisien difusivitas

6. Menentukan persen kesalahan


Ydata Yhitung
0
0 Kesalahan 100 0
0
Ydata

12
BAB III
PEMBAHASAN

III.1 Hasil Percobaan


1. Menentukan Volume Pipa Kapiler
Suhu Aquadest = 29
Densitas Aquadest = 0,995945 gram/ml
Tabel 1. Hasil Perhitungan Volume Pipa Kapiler
Panjang Berat Pipa Berat Pipa Berat Volume
No
Pipa (cm) Kosong (gr) Isi (gr) Aquadest (gr) Pipa (ml)
1 10,2 9,2456 12,7498 3,5042 3,5184
2 10,1 9,2366 12,6739 3,4373 3,4512
3 10 9,1140 12,5345 3,4205 3,4344
4 9,9 9,0857 12,4942 3,4085 3,4223
5 9,8 8,9613 12,3450 3,3837 3,3974

2. Standarisasi Larutan NaOH


Normalitas Asam Standar = 0,1 N
Volume NaOH rata-rata = 9,5 ml
Normalitas NaOH rata -rata = 0,105 N
Tabel 2. Hasil Perhitungan Volume Asam Standar dan Normalitas NaOH
Volume Asam Standar Volume NaOH Normalitas NaOH
No
(ml) (ml) (N)
1 10 9,3 0,107
2 10 9,2 0,108
3 10 10 0,1

13
Tabel 3. Standarisasi Asam Oksalat X1 sebelum difusi
Volume NaOH Volume Asam Oksalat Normalitas Asam
No
(ml) (ml) Oksalat (N)
1 4,70 10 0,0493
2 4,60 10 0,0483
3 4,65 10 0,0488

Volume NaOH rata-rata = 4,65 ml


Normalitas Asam Oksalat rata-rata = 0,0488 N
Tabel 4. Standarisasi Asam Oksalat X2 sebelum difusi
Volume NaOH Volume Asam Oksalat Normalitas Asam
No
(ml) (ml) Oksalat (N)
1 3,8 10 0,0399
2 3,9 10 0,0409
3 3,7 10 0,0388

Volume NaOH rata-rata = 3,8 ml


Normalitas Asam Oksalat rata-rata = 0,0398 N
Tabel 5. Hasil Perhitungan Volume NaOH sebelum dan setelah difusi asam oksalat
(X1)
Volume NaOH Normalitas Asam Oksalat
Volume
(ml)
Waktu Asam
Sebelum Setelah Difusi
(menit) Sebelum Sesudah Oksalatat
Difusi Sebelum Setelah
Difusi Difusi (ml)
Pengenceran pengeceran
5 4,65 1,3 10 0,0488 0,0387 0,01365
10 4,65 1,4 10 0,0488 0,0425 0,0147
15 4,65 1,6 10 0,0488 0,0489 0,0168
20 4,65 1,2 10 0,0488 0,0368 0,0126
25 4,65 1,9 10 0,0488 0,0587 0,01995

14
Tabel 6. Hasil Perhitungan Volume NaOH sebelum dan setelah difusi asam oksalat
(X2)
Volume NaOH Normalitas Asam Oksalat
Volume
(ml)
Waktu Asam
Sebelum Setelah Difusi
(menit) Sebelum Sesudah Oksalatat
Difusi Sebelum Setelah
Difusi Difusi (ml)
Pengenceran pengeceran
5 3,8 1,1 10 0,0398 0,03268 0,0115
10 3,8 1,2 10 0,0398 0,03650 0,0126
15 3,8 1,2 10 0,0398 0,03668 0,0126
20 3,8 1,2 10 0,0398 0,03681 0,0126
25 3,8 1,2 10 0,0398 0,03708 0,0126

III.2 Pembahasan
Percobaan ini dilakukan untuk menentukan koefisien difusivitas cairan (DAB).
Difusivitas memiliki dimensi yaitu panjang pangkat dua dibagi dengan waktu. Nilai
dari koefisien dari difusivitas tergantung dari tekanan temperatur (suhu) dan
komposisi sistem.
Pada percobaan ini dilakukan proses titrasi menggunakan indikator PP.
Percobaan titrasi digunakan untuk menentukan normalitas asam oksalat sebelum
difusi.
Penggunaan aquadest hingga volume larutan asam oksalat yang akan dititrasi
sebanyak 10 ml dimaksudkan untuk mempermudah proses titrasi karena sedikitnya
asam oksalat yang terdapat pada pipa kapiler karena volume pipa kapiler yang kecil.
Untuk mengetahuo normalitas asam oksalat setelah difusi harus dilakukan titrasi
karena normalitas yang akan dihitung adalah normalitas asam oksalat sebanyak
volume pipa kapiler.
Dari hasil percobaan normalitas asam oksalat X1 sebelum dan sesudah difusi
mengalami naik turun, karena kurang cermatnya dalam melihat volume buret.
Sedangkan, hasil percobaan pada saat asam oksalat X2 sebelum dan sesudah difusi

15
didapatkan normalitas asam oksalat tetap. Hal ini disebabkan karena kurang
cermatnya dalam melihat volume buret, dan saat memasang pipa kapiler kurang
sama ketinggiannya sehingga proses difusi berlangsung pada waktu yang tidak
bersamaan.

16
BAB IV
PENUTUP

IV.1 Kesimpulan
1. Koefisien difusivitas integral (DAB) yang didapatkan dengan larutan asam
oksalat X1 = 0,0276 cm2/menit
2. Koefisien difusivitas integral (DAB) yang didapatkan dengan larutan asam
oksalat X2 = 0,0375 cm2/menit

IV.2 Kritik dan Saran


Pada praktikum selanjutnya diharapkan praktikan yang akan praktikum untuk
lebih teliti dalam membaca skala volume pada buret dan mengukur tinggi pipa
kapiler, serta teliti dalam mengambil volume asam oksalat setelah difusi.
Praktikan menyarankan agar praktikan yang akan melakukan percobaan ini
memperhatikan kebersihan alat-alat praktikum sehingga tidak ada larutan yang
akan tercemar karena tidak sterilnya alat-alat praktikum, seperti pengambilan
larutan sampel X1 dan X2, penggunaan jarum suntik untuk mengambil larutan
sampel X1 dan X2.

17
DAFTAR PUSTAKA

Brown, G.G. 1950. Unit Operation. New York : John Willey and Sons, Inc.

Hardjono. 1989. Diktat Kuliah Operasi Teknik Kimia II. Hal 1 4. Yogyakarta :

Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia UGM

Perry, R.A, 1973. Chemical Engineering Hand Book. 6th ed. New York : Mc. Graw

Hill Book Company.

18
LAMPIRAN

Analisis Perhitungan
1. Menentukan volume pipa kapiler
Suhu aquades = 29C
Densitas aquades = 0,995945 g/ml
Berat aquadest = Berat pipa isi berat pipa kosong
= (12,7498 9,2456) gram
= 3,5042 gram

Volume pipa kapiler =
3,5042
Volume pipa kapiler = 0,995945 /

= 3,5184 ml
Dengan cara yang sama diperoleh :
Tabel 7. Data hasil pengamatan berat aquades dengan volume pipa
Panjang Berat Pipa Berat Pipa Berat Volume
No
Pipa (cm) Kosong (gr) Isi (gr) Aquadest (gr) Pipa (ml)
1 10,2 9,2456 12,7498 3,5042 3,5184
2 10,1 9,2366 12,6739 3,4373 3,4512
3 10 9,1140 12,5345 3,4205 3,4344
4 9,9 9,0857 12,4942 3,4085 3,4223
5 9,8 8,9613 12,3450 3,3837 3,3974

2. Menentukan Normalitas NaOH


Normalitas asam standart = 0.1 N
Volume asam standart = 10 ml
V1 x N1 = V2 x N2
1 1
2 =
2
Dimana :
V1 = Volume asam standar (ml)

19
N1 = Normalitas asam standar (N)
V2 = Volume NaOH (ml)
N2 = Normalitas NaOH (N)
Pada sampel 1, jika volume NaOH = 9,3 ml

10 0,1
2 = = 0,107 N
9,3

Dengan cara yang sama diperoleh :


Tabel 8. Data hasil pengamatan Volume NaOH dengan Normalitas NaOH
Volume Asam Standar Volume NaOH Normalitas NaOH
No
(ml) (ml) (N)
1 10 9,3 0,107
2 10 9,2 0,108
3 10 10 0,1

Volume NaOH rata-rata = 9,5 ml


Normalitas NaOH rata-rata = 0,105 N

3. Standarisasi asam oksalat sebelum difusi (X1) dan (X2)

Standarisasi asam oksalat sebelum difusi (X1)


Normalitas NaOH rata-rata= 0,105 N
Volume asam oksalat = 10 ml

V1 x N1 = V2 x N2
Dimana :
V1 = Volume NaOH sebelum difusi
N1 = Normalitas NaOH
V2 = Volume asam oksalat
N2 = Normalitas asam oksalat

20
Jika pada sampel 1 ,volume NaOH (V1 ) = 4,7 ml
volume asam oksalat (V2 ) = 10 ml
Maka Normalitas asam oksalat pada sampel 1 adalah
4,7 0,105
2 = = 0,0493 N
10

Dengan cara yang sama diperoleh :


Tabel 9. Data hasil pengamatan volume NaOH dengan Normalitas H2C2O4
Volume NaOH Volume Asam Oksalat Normalitas Asam
No
(ml) (ml) Oksalat (N)
1 4,70 10 0,0493
2 4,60 10 0,0483
3 4,65 10 0,0488

Standarisasi asam oksalat sebelum difusi (X2)


Normalitas NaOH rata-rata= 0,105 N
Volume asam oksalat = 10 ml

V1 x N1 = V2 x N2
Dimana :
V1 = Volume NaOH sebelum difusi
N1 = Normalitas NaOH
V2 = Volume asam oksalat
N2 = Normalitas asam oksalat
Jika pada sampel 1 ,volume NaOH (V1 ) = 3,8 ml
volume asam oksalat (V2 ) = 10 ml

Maka Normalitas asam oksalat pada sampel 1 adalah


3,8 0,105
2 = = 0,0399 N
10

21
Dengan cara yang sama diperoleh :
Tabel 10. Data hasil pengamatan volume NaOH dengan Normalitas H2C2O4
Volume NaOH Volume Asam Oksalat Normalitas Asam
No
(ml) (ml) Oksalat (N)
1 3,8 10 0,0399
2 3,9 10 0,0409
3 3,7 10 0,0388

4. Menentukan normalitas asam oksalat sesudah difusi, dan sesudah


pengenceran
Normalitas NaOH rata-rata = 0,105 N
Volume asam oksalat = 10 ml

V1 x N1 = V2 x N2
Dimana :
V1 = Volume NaOH setelah difusi
N1 = Normalitas NaOH
V2 = Volume asam oksalat
N2 = Normalitas asam oksalat
Jika pada sampel 1 ,volume NaOH (V1 ) = 1,3 ml
volume asam oksalat (V2 ) = 10 ml
Maka Normalitas asam oksalat pada sampel 1 adalah
1,3 ml x 0,105 N
2 = = 0,01365 N
10

22
Dengan cara yang sama diperoleh :
Tabel 11. Data hasil pengamatan volume NaOH dengan normalitas asam oksalat
(X1)
Normalitas Asam
Volume NaOH
Volume Asam Oksalat sesudah difusi
No sesudah difusi
Oksalat (ml) (setelah pengenceran)
(ml)
(N)
1 1,3 10 0,01365
2 1,4 10 0,0147
3 1,6 10 0,0168
4 1,2 10 0,0120
5 1,9 10 0,01995

Tabel 12. Data hasil pengamatan volume NaOH dengan normalitas asam oksalat
(X2)
Normalitas Asam
Volume NaOH
Volume Asam Oksalat sesudah difusi
No sesudah difusi
Oksalat (ml) (setelah pengenceran)
(ml)
(N)
1 1,1 10 0,0115
2 1,2 10 0,0126
3 1,2 10 0,0126
4 1,2 10 0,0126
5 1,2 10 0,0126

5. Menentukan normalitas asam oksalat sesudah difusi, sebelum pengenceran


Normalitas asam oksalat (X1) = 0,01365 N
Normalitas asam oksalat (X2) = 0,0115 N
V1 x N1 = V2 x N2
Dimana :
V1 = Volume NaOH setelah difusi

23
N1 = Normalitas asam oksalat (X1 dan X2)
V2 = Volume pipa kapiler
N2 = Normalitas asam oksalat sesudah difusi sebelum pengencera
Jika pada sampel 1 , volume pipa kapiler (V2 ) = 3,5184 ml
Maka :
Normalitas asam oksalat X1 pada sampel 1 adalah
10 0,01365
2 = = 0,038796 N
3,464147

Dengan cara yang sama diperoleh :


Tabel 13. Data hasil pengamatan volume NaOH dengan normalitas asam oksalat
(X1) setelah difusi sebelum pengenceran
Normalitas asam
Volume Volume
oksalat sesudah
Asam Pipa
No difusi (sebelum
Oksalat Kapiler
pengenceran)
(ml) (ml)
(N)
1 10 3,5184 0,038796
2 10 3,4512 0,042594
3 10 3,4344 0,048917
4 10 3,4323 0,036817
5 10 3,3974 0,058721

Normalitas asam oksalat X2 pada sampel 1 adalah


10 0,0115
2 = = 0,03268 N
3,5184

24
Dengan cara yang sama diperoleh :
Tabel 14. Data hasil pengamatan volume NaOH dengan normalitas asam oksalat
(X2) setelah difusi sebelum pengenceran
Normalitas asam
Volume Volume
oksalat sesudah
Asam Pipa
No difusi (sebelum
Oksalat Kapiler
pengenceran)
(ml) (ml)
(N)
1 10 3,5184 0,03268
2 10 3,4512 0,03650
3 10 3,4344 0,03668
4 10 3,4223 0,03681
5 10 3,3974 0,03708

6. Menentukan persentase asam oksalat sisa (E)


N
E =N0 x 100%

Dimana :
E = % Sisa asam oksalat
N = Normalitas asam oksalat setelah difusi
No = Normalitas asam oksalat sebelum difusi
Untuk Asam Oksalat X1
Jika: N = 0,01365 N
No = 0,0488 N
0,01365
= x 100% = 27,97% %
0,0488

25
Dengan cara yang sama :
Tabel 15. Persentase asam oksalat (X1)
No N No E%
1 0,01365 0,0488 27,97
2 0,0147 0,0488 30,12
3 0,0168 0,0488 34,42
4 0,0120 0,0488 24,59
5 0,01995 0,0488 40,88

Untuk Asam Oksalat X2


Jika: N = 0,0115 N
No = 0,0398 N
0,0115
= 0,0398 x 100% = 28,89 %

Tabel 16.Persentase asam oksalat (X2)


No N No E%
1 0,0115 0,0398 28,89
2 0,0120 0,0398 30,15
3 0,0120 0,0398 30,15
4 0,0120 0,0398 30,15
5 0,0120 0,0398 30,15

7. Menentukan koefisien difusivitas

. .
= 100 200
2

. .
100 = 200
2
1
log(100 ) = log(200 . ) + log 2
2

2 log(100 ) = 2 log(200 . ) + log
2

26
Persamaan diatas diselesaikan dengan metode Least Square
y = ax + b
Dimana :
Y = 2 log(100 )

x = log (2 )

b = 2 log(200( . )
a. Asam oksalat X1
Y = 2 log( 100 27,97) = 3,7150
5
X = log (10,22 )= -1,318

Dengan cara yang sama diperoleh data :



Tabel 17. Hubungan 2 log(100 ) dan log (2 ) pada asam oksalat (X1)

E% Waktu L
No X Y X2 X.Y
(X1) (menit) (cm)

1 27,97 5 10,2 -1,318 3,115 1,737 -4,897


2 30,12 10 10,1 -1,008 3,688 1,017 -3,720
3 34,42 15 10 -0,823 3,633 0,678 -2,993
4 24,59 20 9,9 -0,690 3,754 0,476 -2,591
5 40,88 25 9,8 -0,584 3,543 0,341 -2,071
-4,425 18,335 4,252 -16,274

y = ax + bn
xy = ax2 + bx
18,335 = -4,425 a + 5 b
-16,274 = 4,252 a + -4,425 b

-81,132 = 19,580 a + -22,125 b


-81,37 = 21,26 a + -22,125 b -
0,238 = -1,68 a

27
-0,1416 = a
3,541 = b

Sehingga diperoleh persamaan garis lurus untuk asam oksalat X1


y = -0,1416 x + 3,541

2 (200( . ) =

2(200( . ) = 3,541

log(200( . ) = 1,7705

(200( . ) = 58,952

( . ) = 0,294
2
= 0,0276

b. Asam oksalat X2
Y = 2 log( 100 28,89) = 3,703
5
x = log (10,22 ) = -1,318

Dengan cara yang sama diperoleh data :



Tabel 18. Hubungan 2 log(100 ) dan log (2 )pada asam oksalat X2

Waktu L
No E% X Y X2 X.Y
(menit) (cm)
1 28,89 5 10,2 -1,318 3,703 1,737 -4,882
2 30,15 10 10,1 -1,008 3,6888 1,017 -3,720
3 30,15 15 10 -0,823 3,6888 0,678 -3,038
4 30,15 20 9,9 -0,640 3,6888 0,476 -2,545
5 30,15 25 9,8 -0,584 3,6888 0,341 -2,155
-4.425 18,457 4,252 -16,34

28
y = ax + nb
xy = ax2 + bx

18,457 = -4,425 a + 5 b
-16,343 = 4,252 a + -4,425 b

-81,672 = 19,580 a + -22,125 b


-81,715 = 21,26 a + -22,125 b -
-0,0210 = a
3,6737 = b

Sehingga diperoleh persamaan garis lurus untuk asam oksalat X2


Y = -0,0210 x + 3,6737

2 (200( . ) = 3,6737

log(200( . ) = 1,83685

(200( . ) = 68,683

( . ) = 0,3434
2
= 0,0375

8. Menentukan Persen Kesalahan


Y data Y hitung
% Kesalahan = | | x100%
Y data
a.Asam Oksalat X1
Y hitung = Y = -0,1416 x + 3,541
Y hitung = -0,1416 (-1,318) + 3,541
Y hitung = 3,727
3,715 3,727
% Kesalahan = | | x100%
3,715

29
= 0,34 %
Dengan cara yang sama akan diperoleh data:
Tabel 19. Persen kesalahan asam oksalat X1
No X Y data Y hitung % kesalahan
1 -1,318 3,715 3,727 0,34
2 -1,008 3,688 3,683 0,131
3 -0,823 3,633 3,657 0,666
4 -0,692 3,754 3,638 3,092
5 -0,584 3,543 3,623 2,266

Persen kesalahan rata-rata = 1,299 %


3,8

3,75
2 Log (100-E)

3,7

3,65 Y Data
Y Hitung
3,6
Linear (Y Data)
3,55 y = -0,1376x + 3,5448
R = 0,2359
3,5
-1,5 -1 -0,5 0
Log (t/L2)

Gambar 3. Hubungan antara Log (t/L2) dengan 2 Log (100-E) X1

b. Asam Oksalat X2
Y = -0,0210 x + 5,720613
Y hitung = -0,0210 (-1,318) + 3,6737
Y hitung = 3,701
3,703 3,701
% Kesalahan = | | x100%
3,703
= 0,066 %
Dengan cara yang sama akan diperoleh data:

30
Tabel 20. Persen kesalahan asam oksalat X2
No X Y data Y hitung % kesalahan
1 -1,318 3,703 3,701 0,066
2 -1,008 3,6888 3,695 0,178
3 -0,823 3,6888 3,691 0,072
4 -0,640 3,6888 3,688 0,004
5 -0,584 3,6888 3,686 0,064

Persen kesalahan rata-rata = 0,077 %

3,704
3,702
3,7
3,698
2 Log (100-E)

3,696
3,694 Y Data
3,692 Y Hitung
3,69 Linear (Y Data)
3,688
3,686 y = -0,0177x + 3,6762
R = 0,6893
3,684
-1,5 -1 -0,5 0
Log (t/L2)

Gambar 4. Hubungan antara Log (t/L2) dengan 2 Log (100-E) X2

31