Anda di halaman 1dari 55

BAB I

STATUS PASIEN

IDENTITAS PASIEN : PEMERIKSA :

No. CM : 00000 Nama : Sera Fajarina Yoseva

Tanggal : 02 November 2016 NPM : 1102012271

Nama : Nn. D

Umur : 23 tahun PEMBIMBING

Alamat : Batam

Pekerjaan : Mahasiswi (dr. Laila Wahyuni, SpM)

ANAMNESA :

Keluhan Utama :

Penglihatan buram pada kedua mata sejak 2 bulan SMRS

Anamnesa Khusus :

Pasien perempuan berusia 23 tahun datang ke poliklinik mata RSU dr. Slamet Garut
dengan keluhan penglihatan buram jika melihat jauh. Pasien mengaku keluhan tersebut timbul
2 bulan SMRS yang semakin lama keluhan tersebut semakin mengganggu. Pasien juga
mengeluhkan sering sakit kepala apabila dipaksakan melihat suatu hal yang jauh dalam waktu
lama. Pasien harus mengecilkan pandangan dahulu untuk memperjelas penglihatan. Keluhan
juga disertai dengan pandangan berbayang. Saat ini pasien menggunakan kacamata, namun
pasien merasa kacamatanya sudah tidak cocok lagi.

1
Keluhan mata merah dan gatal disangkal. Penglihatan berkurang saat senja atau gelap
disangkal. Keluhan melihat pelangi disekitar cahaya lampu disangkal. Keluhan pandangan
seperti ditutupi kabut disangkal. Penglihatan buram saat melihat dekat disangkal.

Anamnesa Keluarga :

Ayah pasien menggunakan kacamata minus sewaktu kuliah dan memakai kacamata
baca saat ini karena factor usia. Adik pasien juga memakai kacamata minus.

Riwayat Penyakit Dahulu :

Pasien sudah menggunakan kacamata selama 11 tahun. Pasien sudah mengganti


kacamata kurang lebih 6 kali.

Riwayat Sosial Ekonomi :

Kesan cukup

Riwayat Gizi :

Kesan baik

2
PEMERIKSAAN :

1. Status Generalis
Keadaan umum: sakit ringan
Kesadaran : komposmentis
Tanda vital: TD : 120/80 mmHg Suhu: 36,2 0C
Nadi : 84 x/menit RR : 20 x/menit

2. Status Oftalmologis
Pemeriksaan Visus dan Refraksi
Visus OD OS
SC 0.05 0.05
CC 1.0 1.0
STN - -
KOREKSI S 3.50 C 0.50 1000 S -3.50 C -0.25 400
ADD - -
POSISI BOLA MATA Ortotropia Ortotropia
GERAKAN BOLA MATA Versi dan duksi baik ke Versi dan duksi baik ke
segala arah segala arah

Pemeriksaan Eksternal
OD OS

OD OS
Palpebra superior Tenang, lagoftalmus (+) Tenang, lagoftalmus (+)

3
Palpebra inferior Tenang Tenang
Silia Tumbuh teratur Tumbuh teratur
Ap. Lakrimalis Tidak Ada Kelainan Tidak Ada Kelainan
Konj. Tarsalis superior Tenang Tenang
Konj. Tarsalis inferior Tenang Tenang
Konj. Bulbi Tenang Tenang
Kornea Jernih Jernih
COA Sedang Sedang
Pupil Bulat, isokoria, ditengah Bulat, isokoria, ditengah
Diameter pupil 3 mm 3 mm
Reflex cahaya
Direct + +
Indirect + +
Iris Coklat, Kripta (+), Coklat, Kripta (+),
sinekia (-) sinekia (-)
Lensa Jernih Jernih

Pemeriksaan Slit Lamp & Biomicroscopy


OD OS

OD OS
Silia Tumbuh teratur Tumbuh teratur
Konjungtiva Tenang Tenang
Kornea Jernih Jernih
COA Sedang Sedang
Pupil Bulat, isokoria, ditengah Bulat, isokoria, ditengah
Iris Coklat, Kripta (+), Coklat, Kripta (+),
sinekia (-) sinekia (-)
Lensa Jernih Jernih
4
Pemeriksaan TIO
OD OS
Tonometri Schiotz 6/5,5 = 14,6 mmHg 5,5/5,5 = 15,9 mmHg
Palpasi Normal perpalpasi Normal perpalpasi

Pemeriksaan Autorefraktometri
OD OS
Refraktometri S -4.00 C -0.50 1600 S -4.00 C-0.25 1630

RESUME :

Perempuan berusia 23tahun datang ke poliklinik mata RSU dr. Slamet Garut dengan
keluhan pandangan buram bila melihat jauh sejak 2 bulan SMRS. Keluahan disertai pusing,
pandangan berbayang dan jika melihat jauh harus mengecilkan pandangan dahulu.

Visus OD OS
SC 0.05 0.05
CC 1.0 1.0
STN - -
KOREKSI S 3.50 C -0.50 1000 S -3.50 C -0.25 400
ADD - -

DIAGNOSIS KERJA :
Astigmatisma Miopi Kompositus ODS

RENCANA TERAPI :
Medikamentosa
- Aguetontonic 0,6 ml 3x1 tetes ODS
- Vitanorm tab 1x1

5
Non Medikamentosa
- Koreksi dengan menggunakan lensa spheris negatif S -3.50 ODS, lensa silindris
negative C - 0.50 1000 OD dan C -0.25 400 OS.
Edukasi
- Membaca dengan pencahayaan yang cukup
- Mengatur jarak membaca 30-40 cm
- Menggunakan kacamata setiap saat kecuali saat tidur dan mandi
- Memberi istirahat pada mata 15-20 menit setelah dipakai untuk beraktivitas.
misalnya, melakukan istirahat sejenak pada mata setelah dipakai untuk memainkan
laptop atau membaca
- Rutin memakan sayur-sayuran dan buah-buahan serta makanan bergizi lainnya
terutama yang mengandung vitamin A

PROGNOSIS :
Quo ad vitam : Ad bonam
Quo ad functionam : Ad bonam

6
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Kelainan Refraksi


Hasil pembiasan sinar pada mata ditentukan oleh media penglihatan yang terdiri atas
kornea, cairan mata, lensa, badan kaca, dan panjangnya bola mata. Pada orang normal susunan
pembiasan oleh media penglihatan dan panjangnya bola mata demikian seimbang sehingga
bayangan benda setelah melalui media penglihatan dibiaskan tepat di daerah makula lutea.
Mata yang normal disebut sebagai mata emetropia dan akan menempatkan bayangan benda
tepat di retinanya pada keadaan mata tidak melakukan akomodasi atau istirahat melihat jauh.
Dikenal beberapa titik di dalam bidang refraksi, seperti Pungtum Proksimum
merupakan titik terdekat dimana seseorang masih dapat melihat dengan jelas. Pungtum
Remotum adalah titik terjauh dimana seseorang masih dapat melihat dengan jelas, titik ini
merupakan titik dalam ruang yang berhubungan dengan retina atau foveolar bila mata istirahat.
Pada emetropia pungtum remotum terletak di depan mata sedang pada mata hipermetropia titik
semua di belakang mata.1
2.1.1. Emetropia
Emetropia berasal dari kata Yunani emetros yang berarti ukuran normal atau
dalam keseimbangan wajar sednag arti opsis adalah penglihatan. Mata dengan sifat
emetropia adalah mata tanpa adanya kelainan refraksi pembiasan sinar mata dan
berfungsi normal.
Pada mata ini daya bias mata adalah normal, dimana sinar jauh difokuskan
sempurna di daerah makula lutea tanpa bantuan akomodasi. Bila sinar sejajar tidak
difokuskan pada makula lutea disebut ametropia.
Mata emetropia akan mempunyai penglihatan normal atau 6/6 atau 100%. Bila
media penglihatan seperti kornea, lensa, dan badan kaca keruh maka sinar tidak dapat
diteruskan ke makula lutea. Pada keadaan media penglihatan keruh maka penglihatan
tidak akan 100% atau 6/6.
Keseimbangan dalam pembiasan sebagian besar ditentukan oleh dataran depan
dan kelengkungan kornea dan panjangnya bola mata. Kornea mempunyai daya
pembiasan sinar terkuat dibanding bagian mata lainnya. Lensa memegang peranan
membiaskan sinar terutama pada saat melakukan akomodasi atau bila melihat benda yang

7
dekat. Panjang bola mata seseorang dapat berbeda-beda. Bila terdapat kelainan
pembiasan sinar oleh kornea (mendatar, mencembung) atau adanya perubahan panjang
(lebih panjang, lebih pendek) bola mata maka sinar normal tidak dapat terfokus pada
makula. Keadaan ini disebut sebagai ametropia yang dapat berupa miopia, hipermetropia,
atau astigmat.
Kelainan lain pada pembiasan mata normal adalah gangguan perubahan
kecembungan lensa yang dapat berkurang akibat berkurangnya elastisitas lensa sehingga
terjadi gangguan akomodasi. Gangguan akomodasi dapat terlihat pada usia lanjut
sehingga terlihat keadaan yang disbeut prebiopia.1

2.2. Akomodasi
Pada keadaan normal cahaya tidak berhingga akan terfokus pada retina, demikian pula
bila benda jauh didekatkan, maka dengan adanya daya akomodasi benda dapat difokuskan
pada retina atau makula lutea. Dengan berakomodasi, maka benda pada jarak yang berbeda-
beda akan terfokus pada retina. Akomodasi adalah kemampuan lensa untuk mecembung yang
terjadi akibat kontraksi otot siliar. Akibat akomodasi, daya pembiasan lensa bertambah kuat.
Kekuatan akomodasi akan meningkat sesuai dengan kebutuhan, makin dekat benda makin
kuat mata harus berakomodasi (mencembung). Kekuatan akomodasi diatur oleh reflex
akomodasi. Reflex akomodasi akan bangkit bila mata melihat kabur dan pada waktu
konvergensi atau melihat dekat.
Dikenal beberapa teori akomodasi seperti:
- Teori akomodasi Hemholtz: Dimana zonula Zinn kendor akibat kontraksi otot siliar
sirkuler, mengakibatkan lensa elastis menjadi cembung dan diameter menjadi kecil.
- Teori akomodasi Thsernig: Dasarnya adalah bahwa nucleus lensa tidak dapat berubah
bentuk, sedang yang dapat berubah bentuk adalah bagian lensa superfisial atau korteks
lensa. Pada waktu akomodasi terjadi tegangan pada zonula Zinn sehingga nucleus lensa
terjepit dan bagian lensa superfisial di depan nucleus akan mencembung.
Mata akan berakomodasi bila bayangan benda difokuskan di belakang retina. Bila sinar
jauh tidak difokuskan pada retina seperti pada mata dengan kelainan refraksi hipermetropia
maka mata tersebut akan berakomodasi terus-menerus walaupun letak bendanya jauh, dan pada
keadaan ini diperlukan fungsi akomodasi yang baik.
Anak-anak dapat berakomodasi dengan kuat sekali sehingga memberikan kesukaran
pada pemeriksaan kelainan refraksi. Daya akomodasi kuat pada anak-anak dapat mencapai
8
+12.0-18.0 D. akibat daripada ini, maka pada anak-anak yang sedang dilakukan pemeriksaan
kelainan refraksinya untuk melihat jauh mungkin terjadi koreksi myopia yang lebih tinggi
akibat akomodasi sehingga mata tersebut memerlukan lensa negative yang berlebihan (koreksi
lebih). Untuk pemeriksaan kelainan refkraksi anak sebaiknya diberikan sikloplegik yang
melumpuhkan otot akomodasi sehingga pemeriksaan kelainan refraksi murni, dilakukan pada
mata beristirahat. Biasanya diberikan sikloplegik atau sulfas atropine tetes mata selama 3 hari.
Sulfas atropine bersifat parasimpatolitik, yang bekerja selain untuk melumpuhkan otot siliar
juga parasimpatolitik, yang bekerja selain untuk melumpuhkan otot siliar juga melumpuhkan
otot sfingter pupil.
Dengan bertambahnya usia, maka akan berkurang pula daya akomdasi akibat
berkurangnya elastisitas lensa sehingga lensa sukar mencembung. Keadaan berkurangnya daya
akomodasi pada usia lanjut disebut presbiopia.1
2.2.1. Presbiopia
Gangguan akomodasi pada usia lanjut dapat terjadi akibat:
- Kelemahan otot akomodasi
- Lensa mata tidak kenyal atau berkurang elastisitasnya akibat sklerosis lensa.
Akibat gangguan akomodasi ini maka pada pasien berusia lebih dari 40 tahun, akan
memberikan keluhan setelah membaca yaitu berupa mata lelah, berair dan sering terasa
pedas.
Pada pasien presbiopia kacamata atau adisi diperlukan untuk membaca dekat yang
berkekuatan tertentu, biasanya:
1. S+ 1.00 D untuk usia 40 tahun
2. S+ 1.50 D untuk usia 45 tahun
3. S+ 2.00 D untuk usia 50 tahun
4. S+ 2.50 D untuk usia 55 tahun
5. S+ 3.00 D untuk usia 60 tahun
Karena jarak baca biasanya 33cm, maka adisi S+ 3.00 dioptri adalah lensa positif
terkuat yang dapat diberikan pada seseorang. Pada keadaan ini mata tidak melakukan
akomodasi bila membaca pada jarak 33cm, karena benda yang dibaca terletak pada titik api
lensa + 3.00 dioptri sehingga sinar yang keluar akan sejajar.
Pemeriksaan adisi untuk membaca perlu disesuaikan dengan kebutuhan jarak kerja
pasien pada waktu membaca. Pemeriksaan sangat subjektif sehingga angka-angka di atas
tidak merupakan angaka yang tetap.1
9
2.3. Ametropia
Keseimbangan dalam pembiasan sebagian besar ditentukan oleha dataran depan dan
kelengkungan kornea dan panjangnya bola mata. Kornea mempunyai daya pembiasan sinar
terkuat dibanding bagian mata lainnya. Lensa memegang peranan membiaskan sinar terutama
pada saat melakukan akomodasi atau bila melihat benda yang dekat.
Panjang bola mata seseorang dapat berbeda-beda. Bila terdapat kelainan pembiasan
sinar oleh kornea (mendatar, mencembung) atau adanya perubahan panjang (lebih panjang,
lebih pendek) bola mata maka sinar normal tidak dapat terfokus pada makula. Keadaan ini
disebut sebagai ametropia yang dapat berupa miopia, hipermetropia, atau astigmat.
Dalam bahasa Yunani ametros berarti tidak sebanding atau tidak seimbang, sedang ops
berarti mata. Sehingga yang dimaksud dengan ametropia adalah keadaan pembiasan mata
dengan panjang bola mata yang tidak seimbang. Hal ini akan terjadi akibat kelainan kekuatan
pembiasan sinar media penglihatan atau kelainan bentuk bola mata.1
Ametropia dalam keadaan tanpa akomodasi atau dalam keadaan istirahat memberikan
bayangan sinar sejajar pada fokus yang tidak terletak pada retina. Pada keadaan ini bayangan
pada selaput jala tidak sempurna terbentuk. Dikenal berbagai bentuk ametropia, seperti:1
a. Ametropia aksial
Ametropia yang terjadi akibat sumbu optik bola mata lebih panjang atau lebih pendek
sehingga bayangan benda difokuskan di depan atau di belakang retina. Pada miopia
aksial fokus akan terletak di depan retina karena bola mata lebih panjang dan pada
hipermetropia aksial fokus bayangan terletak di belakang retina.
b. Ametropia refraktif
Ametropia akibat kelainan sistem pembiasan sinar di dalam mata. Bila daya bias kuat
maka bayangan benda terletak di depan retina (miopia) atau bila daya bias kurang maka
bayangan benda akan terletak di belakang retina (hipermetropia refraktif).
Kausa ametropia
Ametropia Lensa koreksi Kausa
Refraktif Aksial
Miopia Lensa (-) Bias kuat Bola mata panjang
Hipermetropia Lensa (+) Bias lemah Bola mata pendek
Astigmat regular Kacamata silinder Kurvatur 2 meridian tegak lurus
Astigmat iregular Lensa kontak Kurvatur kornea iregular

10
Ametropia dapat disebabkan kelengkungan kornea atau lensa yang tidak normal
(ametropia kurvatur) atau indeks bias abnormal di dalam mata (ametropia indeks).
Panjang bola mata normal.1
Ametropia dapat ditemukan dalam bentuk-bentuk kelainan:
- Miopia
- Hipermetropia
- astigmat

Gambar 2.1. Mata normal (emetropia)1

2.4. Miopia
2.4.1. Definisi

Rabun jauh atau disebut Miopia berasal dari bahasa Yunani yang artinya
pandangan dekat (nearsightedness) ialah keadaan pada mata akibat objek jatuh tepat di
depan retina sehingga jarak pandang terlampau jauh. Miopia merupakan mata dengan daya
lensa positif yang lebih kuat sehingga sinar yang sejajar atau datang dari tak terhingga
difokuskan di depan retina. Kelainan ini diperbaiki dengan lensa negatif sehingga bayangan
benda tergeser ke belakang dan diatur agar tepat jatuh di retina.2

11
Gambar 2.2. Miopia2

2.4.2. Epidemiologi

Miopia merupakan salah satu gangguan mata yang mempunyai prevalensi yang
tinggi. Kejadian miopia semakin lama semakin meningkat dan diestimasikan bahwa
separuh dari penduduk dunia menderita miopia pada tahun 2020.3

Di Indonesia sendiri sudah cukup banyak penderita miopia atau rabun jauh, hal ini
dikarenakan kebiasaan buruk yang sering kali dilakukan, ada pula karena faktor keturunan.
Diperkirakan penderita miopia atau rabun jauh antara 800 juta - 2,3 milyar orang. Di
negara-negara seperti Cina, India dan Malaysia 41 % penduduk negara tersebut dari orang
dewasa menderita miopia dengan minus 1 (-1.00).3

Para peneliti dari Australia mengatakan bahwa pancaran sinar matahari dapat
menstimulasi produksi dopamin kimia yang mencegah pupil mata memanjang sehingga
dapat mencegah terjadinya miopia (rabun jauh). Jika dilakukan suatu perbandingan antara
penduduk Australia dan Singapura, akan ditemui kesimpulan seperti : rata-rata anak-anak
dan remaja di Singapura hanya menghabiskan waktu di luar rumah untuk sekedar bermain

12
dan hanya menghabiskan waktu 30 menit per hari, akan tetapi 90% remaja dan anak-anak
di Singapura mengenakan kacamata permanen maupun sementara, berbeda dengan anak-
anak dan remaja di Australia. Para remaja dan anak anak di Australia lebih banyak
menghabiskan waktu bermain di luar rumah sekitar 2-3 jam per hari dan tentunya hal ini
yang mendorong remaja dan anak-anak di Australia, lebih sedikit yang menderita miopia
atau rabun jauh cenderung sekitar 20 % dari total penduduk Australia.4 Oleh karenanya
para bayi atau balita usia 0-3 bulan sering kali dijemur pada pagi hari agar sel-sel dan saaraf
tubuh seluruhnya berkembang baik dan memberi rangsang terhadap jaringan otot, otak dan
mata.

Dari hasil penelitian pada 157 mahasiswa kedokteran di Singapura tahun kedua
(usia 19-23 tahun) didapatkan 89,8% menderita miopi dan presentasi ini meningkat dari
hasil penelitian sebelumnya tahun 1990 saat didapatkan hasil 82%.5

Penelitian lain menyebutkan, dari 140 mahasiswa kedokteran senior di Fakultas


Kedokteran Universitas Trondheim, Norwegia, 133 (75 perempuan, 58 laki-laki) telah
diperiksa dan didapatkan prevalensi miopia 50,3% pada mata kanan (n = 67) tanpa
perbedaan yang signifikan antara siswa perempuan dan lakilaki. Sebanyak 43,3%
mahasiswa yang mengalami miopia memakai kacamata pada usia sekitar 20 tahun, hal ini
menunjukkan angka prevalensi yang relative tinggi pada onset dewasa miopia.

2.4.3. Etiologi
Miopia disebabkan karena terlalu kuat pembiasan sinar di dalam mata untuk
panjangnya bola mata akibat :

1. Kornea terlalu cembung.


2. Lensa mempunyai kecembungan yang kuat sehingga bayangan dibiaskan kuat.
3. Bola mata dan sumbu mata (jarak kornea - retina) terlalu panjang, dinamakan miopia
sumbu. Daya bias kornea, lensa atau akuos humor terlalu kuat, dinamakan miopia
pembiasan.1,3
4. Indeks bias mata lebih tinggi dari normal, misalnya pada diabetes mellitus. Kondisi
ini disebut miopia indeks.

13
5. Miopi karena perubahan posisi lensa. Misal pasca operasi glaucoma mengakibatkan
posisi lensa lebih ke anterior.4

Secara fisiologik sinar yang difokuskan pada retina terlalu kuat sehingga
membentuk bayangan menjadi kabur atau tidak tegas pada makula lutea. Titik fokus sinar
yang datang dari benda yang jauh terletak di depan retina. Titik jauh (pungtum remotum)
terletak lebih dekat atau sinar datang tidak sejajar.3

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Miopia

Selain itu, ada beberapa faktor resiko yang dapat mempengaruhi seseorang untuk
cenderung mengalami miopia, diantaranya adalah :

1. Genetik dan Lingkungan

Anak dengan orang tua yang miopia cenderung mengalami miopia (P= 0,001).
Hal ini cenderung mengikuti pola dose-dependent pattern. Prevalensi miopia pada anak
dengan kedua orang tua miopia adalah 32,9% namun jika anak dengan salah satu orang
tua miopia maka berkurang menjadi 18,2% dan kurang dari 6,3% pada anak dengan
orang tua tanpa myopia.5 Ada dua hipotesis yang berkembang untuk menunjukkan
hubungan antara miopia pada orang tua dan miopi pada anak. Yang pertama adalah
teori dari kondisi lingkungan yang diwariskan. Tendensi untuk miopia dalam suatu
keluarga lebih mungkin disebabkan lingkungan yang mendorong untuk melakukan
kegiatan yang berjarak dekat dengan intens dalam keluarga, daripada karena faktor
genetik. Orang tua dengan miopia biasanya akan menetapkan standar akademik yang
tinggi atau mewariskan kesukaan membaca pada anak-anak mereka daripada
mewariskan gen itu sendiri. Penelitian di Tanzania menunjukkan bahwa orang tua yang
memiliki status pendidikan tinggi, terutama ayahnya, lebih banyak mempunyai anak
yang menderita miopia.6 Berdasarkan penelitian terhadap 1005 anak sekolah dasar di
Singapura rentang umur 7-9 tahun, status sosio-ekonomi seperti tingkat penghasilan
keluarga yang besar, pendidikan orang tua yang tinggi, dan tipe rumah yang luas
ternyata berkaitan dengan terjadinya miopia yang tinggi pada anak.7 Hal ini sejalan
dengan penelitian yang menunjukkan prevalensi miopia yang lebih tinggi pada anak di
lingkungan urban dan sosio ekonomi tinggi di Malaysia.8

14
2. Faktor Perilaku

Selain itu, lamanya bekerja jarak dekat juga mempengaruhi kejadian miopia
pada seseorang. Aktivitas melihat dekat jangka panjang menyebabkan miopia melalui
efek fisik langsung akibat akomodasi terus menerus sehingga tonus otot siliaris menjadi
tinggi dan lensa menjadi cembung. Namun berdasarkan teori terbaru, aktivitas melihat
dekat yang lama menyebabkan miopia melalui terbentuknya bayangan buram di retina
(retina blur) yang terjadi selama focus dekat. Bayangan buram di retina ini memulai
proses biokimia pada retina untuk menstimulasi perubahan biokimia dan struktural
pada sklera dan koroid yang menyebabkan elongasi aksial.9 Peneliti di Singapura
mengamati bahwa anak yang menghabiskan waktunya untuk membaca, menonton tv,
bermain video game, dan menggunakan komputer lebih banyak mengalami miopia.10

a. Membaca buku

Anak-anak dengan miopia yang tinggi membaca lebih sering disbanding


dengan anak-anak dengan miopia rendah ataupun yang tidak miopia yaitu lebih
dari 2 buku dalam seminggu Pekerjaan jarak dekat seperti jarak membaca yang
terlalu dekat (< 30 cm) dan lama membaca (> 30 menit) juga dapat
meningkatkan terjadinya miopia pada anak.11 Kebiasaan membaca dalam waktu
lama dapat menyebabkan tonus otot siliaris menjadi tinggi sehingga lensa
menjadi cembung yang mengakibatkan bayangan objek jatuh di depan retina
dan menimbulkan miopia.12

b. Menggunakan komputer

Semakin lama orang melihat dekat, akan semakin besar


kemungkinannya menderita miopia. Miopia akan mulai timbul bila
mengoperasikan computer minimal 4 jam sehari, dan paling banyak diderita
oleh orang-orang yang bekerja dengan melihat dekat selama 8-10 jam sehari. 25
Dengan posisi duduk didepan komputer untuk jangka waktu beberapa jam,
dapat memperberat kerja otot mata untuk mengatur fokus dan menimbulkan
ketegangan mata. Disamping itu, penggunaan komputer berlebihan dapat
mempercepat angka kejadian myopia.12

15
Beban kerja pengguna komputer atas dasar lama waktu kerjanya dibagi
sebagai berikut :

a) Beban kerja berat, lama waktu kerja lebih dari 4 jam secara terus
menerus
b) Beban kerja sedang, lama waktu kerja 2 - 4 jam secara terus menerus
c) Beban kerja ringan, lama waktu kerja kurang dari 2 jam secara terus
menerus.13

Dr. Masayuki Tatemichi dari Fakultas Kedokteran Universitas TOHO,


melakukan penelitian pada beberapa pekerja di tempat yang berbeda di Jepang
dan membaginya dalam beberapa kelompok berdasarkan lama menggunakan
komputer dalam sehari.

a) Pengguna berat: pengguna komputer dengan lama waktu kerja 9 16


jam dalam sehari
b) Pengguna sedang: pengguna komputer dengan lama waktu kerja 4 8
jam dalam sehari
c) Pengguna ringan: pengguna komputer dengan lama waktu kerja 1 3
jam dalam sehari.14

c. Menonton televisi

Menonton televisi dengan intensitas tertentu juga berpengaruh terhadap


derajat miopia. Sinar biru yang dipancarkan televisi dapat menyebabkan
degenerasi retina dengan merusak sitokrok oksidase dan menghambat
pernapasan sel.15 Pada jarak yang terlalu dekat saat menonton televisi dapat pula
menimbulkan keluhan seperti kelelahan akibat kekakuan leher dan bahu,
pusing, penglihatan buram, mata merah dan perih, serta nyeri pada mata mata
dan wajah. Intensitas menonton televisi yang dihitung dalam jam atas dasar
lama waktu kerja sekali pemakaian, dengan ketentuan :

1) Intensitas rendah : menonton televisi selama < 1 jam secara terus


menerus.

16
2) Intensitas tinggi : menonton televisi selama > 1 jam secara terus
menerus.16

Total menonton televisi dalam sehari yang dihitung dalam jam, dengan
ketentuan :

1) Beban kerja rendah : menonton televisi selama < 2 jam.


2) Beban kerja sedang : menonton televisi selama 2 4 jam
3) Beban kerja tinggi : menonton televisi selama > 4 jam.17

Sedangkan jarak menonton tv dinilai dalam satuan meter sesuai dengan


ukuran diagonal tv. Perhitungannya adalah sebagai berikut : Jarak menonton
televisi = 6 x diagonal layar tv (dihitung dalam meter dimana 1= 0,0254
meter)16

1) Sesuai : jarak menonton tv sesuai dengan jarak ideal


2) Jauh : jarak menonton tv lebih dari jarak ideal
3) Dekat : jarak menonton tv kurang dari jarak ideal

2.4.4. Patofisiologi
Kata miopia sendiri sebenarnya baru dikenal pada sekitar abad ke 2, yang mana
terbentuk dari dua kata meyn yang berarti menutup, dan ops yang berarti mata. Ini memang
menyiratkan salah satu ciri ciri penderita miopia yang suka menyipitkan matanya ketika
melihat sesuatu yang baginya tampak kurang jelas, karena dengan cara ini akan terbentuk
debth of focus di dalam bola mata sehingga titik fokus yang tadinya berada di depan retina,
akan bergeser ke belakang mendekati retina. Sebenarnya, miopia juga dapat dikatakan
merupakan keadaan di mana panjang fokus media refrakta lebih pendek dari sumbu orbita
(mudahnya, panjang aksial bola mata jika diukur dari kornea hingga makula lutea di retina).
Berdasarkan pengertian ini, maka dikenal dua jenis miopia, yaitu:

1. Miopia aksial

Adalah miopia yang disebabkan oleh sumbu orbita yang lebih panjang
dibandingkan panjang fokus media refrakta. Dalam hal ini, panjang fokus media
refrakta adalah normal ( 22,6 mm) sedangkan panjang sumbu orbita > 22,6 mm.
17
2. Miopia refraktif

Adalah bertambahnya indeks bias media penglihatan seperti terjadi pada


katarak intumesen dimana lensa menjadi lebih cembung sehingga pembiasan lebih
kuat.

Pada penderita miopia, sinar yang datang menuju mata dibiaskan dengan tidak tepat
sehingga menghasilkan bayangan yang tidak tepat pula. Penderita yang memiliki bola mata
yang terlalu panjang atau kornea yang terlalu melengkung menyebabkan sinar yang masuk
ke mata dibiaskan tidak tepat pada retina (di depan retina) sehingga menyebabkan
penglihatan penderita menjadi kabur. Kadang-kadang keadaan miopia pada penderita dapat
menetap (stasioner) namun dapat pula memburuk seiring bertambahnya usia penderita.17

2.4.5. Klasifikasi
Pada miopia panjang bola mata anteroposterior dapat terlalu besar atau kekuatan
pembiasan media refraksi terlalu kuat.1
Dikenal beberapa bentuk myopia seperti :
a. Miopia refraktif, bertambahnya indeks bias media penglihatan seperti terjadi pada
katarak intumesen dimana lensa menjadi lebih cembung sehingga pembiasan lebih
kuat. Sama dengan miopia bias atau myopia indeks, miopia yang terjadi akibat
pembiasan media penglihatan kornea dan lensa yang terlalu kuat.
b. Miopia aksial, miopia akibat panjangnya sumbu bola mata, dengan kelengkungan
kornea dan lensa yang normal.

Menurut derajat beratnya miopia dibagi dalam :


a) Miopia ringan, dimana miopia kecil daripada 1-3 dioptri
b) Miopia sedang, dimana miopia lebih antara 3-6 dioptri
c) Miopia berat atau tinggi, dimana miopia lebih besar dari 6 dioptri.

Miopia berdasarkan umur


a. Congenital (sejak lahir dan menetap pada masa anak-anak)
b. Youth-onset myopia (<20 tahun)
c. Early adult-onset myopia (20-40 tahun)
d. Late adult-onset myopia (>40 tahun)
18
Menurut perjalanan miopia dikenal bentuk :
a) Miopia stasioner, miopia yang menetap setelah dewasa
b) Miopia progresif, miopia yang bertambah terus pada usia dewasa akibat
bertambahnya panjang bola mata
c) Miopia maligna, miopia yang berjalan progresif, yang dapat mengakibatkan ablasi
retina dan kebutaan atau sama dengan miopia pernisiosa = miopia maligna = miopia
degenerative

Gambar 2.3. Fundus miopia pada miopia tinggi13

Miopia degeneratif atau miopia maligna biasanya bila miopia lebih dari 6 dioptri
disertai kelainan pada fundus okuli dan pada panjangnya bola mata sampai terbentuk
stafiloma postikum yang terletak pada bagian temporal papil disertai dengan atofi
korioretina. Atrofi retina berjalan kemudian setelah terjadinya atrofi sklera dan kadang-
kadang terjadi ruptur membran Bruch yang dapat menimbulkan rangsangan untuk terjadinya
neovaskularisasi subretina. Pada miopia dapat terjadi bercak Fuch berupa biperplasi pigmen
epitel dan perdarahan, atrofi lapis sensoris retina luar, dan dewasa akan terjadi degenerasi
papil saraf optik.

2.4.6. Manifestasi klinik


Penderita miopia yang dikatakan sebagai rabun jauh akan mengatakan
penglihatannya kabur untuk melihat jauh dan hanya jelas pada jarak tertentu atau dekat.

19
Seseorang dengan miopia selalu ingin melihat dekat dengan mendekatkan benda yang
dilihat pada mata.
Pasien dengan miopia lebih dari -3.00 dioptri tidak akan melihat baik pada
pekerjaannya bila tidak menggunakan kacamata. Pasien dengan ukuran lebih dari -4.00
dioptri akan terganggu dalam pekerjaannya untuk melihat jauh.
Pasien dengan miopia akan memberikan keluhan sakit kepala, sering disertai
dengan juling dan celah kelopak yang sempit. Seseorang myopia mempunyai kebiasaan
mengerinyitkan matanya bila ia melihat jauh untuk mencegah aberasi sferis atau untuk
mendapatkan efek pinhole (lubang kecil) sehingga dapat melihat jelas.1,3
Apabila terdapat miopia pada satu mata jauh lebih tinggi dari mata yang lain, dapat
terjadi ambliopia pada mata yang miopianya lebih tinggi. Penglihatan yang baik harus
jernih dan bayangan terfokus pada kedua mata. Bila bayangan kabur pada satu mata, atau
bayangan tersebut tidak sama pada kedua mata, maka jaras penglihatan tidak dapat
berkembang dengan baik, bahkan dapat memburuk. Bila hal ini terjadi, otak akan
mematikan mata yang tidak fokus dan penderita akan bergantung pada satu mata untuk
melihat. Beratnya amblyopia berhubungan dengan lamanya mengalami kurangnya
rangsangan untuk perkembangan penglihatan makula. Mata ambliopia yang menggulir ke
temporal disebut strabismus divergen (eksotropia).1,3

Pasien miopia mempunyai pungtum remotum yang dekat sehingga mata selalu
dalam atau berkedudukan konvergensi yang akan menimbulkan keluhan astenopia
konvergensi. Bila kedudukan mata ini menetap, maka penderita akan terlihat juling ke
dalam atau esoptropia.18

Penderita miopia menyenangi membaca, apakah hal ini disebabkan kemudahan


untuk membaca dekat tidak diketahui dengan pasti.19

Gejala subyektif :

a. Kabur bila melihat jauh.


b. Membaca atau melihat benda kecil harus dari jarak dekat
c. Lekas lelah bila membaca (karena konvergensi yang tidak sesuai dengan
akomodasi), astenovergens.

20
Gejala obyektif :

1. Miopia simpleks
a) Pada segmen anterior ditemukan bilik mata yang dalam dan pupil yang relatif lebar.
Kadang-kadang ditemukan bola mata yang agak menonjol.
b) Pada segmen posterior biasanya terdapat gambaran yang normal atau dapat disertai
cresen miopia (myopia crescent) yang ringan di sekitar papil saraf optik.
2. Miopia patologik
a. Gambaran pada segmen anterior serupa dengan miopia simpleks
b. Gambaran yang ditemukan pada segmen posterior berupa kelainan-kelainan pada:
a) Badan kaca: dapat ditemukan kekeruhan berupa perdarahan atau degenerasi
yang terlihat sebagai floaters, atau benda-benda yang mengapung dalam badan
kaca. Kadang-kadang ditemukan ablasi badan kaca yang dianggap belum jelas
hubungannya dengan keadaan miopia.
b) Papil saraf optik: terlihat pigmentasi peripapil, kresen miopia, papil terlihat
lebih pucat yang meluas terutama ke bagian temporal. Kresen miopia dapat ke
seluruh lingkaran papil, sehingga seluruh papil dikelilingi oleh daerah koroid
yang atrofi dan pigmentasi yang tidak teratur.
c) Makula: berupa pigmentasi di daerah retina, kadang-kadang ditemukan
perdarahan subretina pada daerah makula.
d) Retina bagian perifer: berupa degenerasi sel retina bagian perifer.
e) Seluruh lapisan fundus yang tersebar luas berupa penipisan koroid dan retina.
Akibat penipisan retina ini maka bayangan koroid tampak lebih jelas dan
disebut sebagai fundus tigroid.20

2.4.7. Diagnosa
Untuk mendiagnosis myopia dapat dilakukan dengan beberapa pemeriksaan pada
mata, pemeriksaan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Refraksi Subyektif

Dalam hal ini dilakukan pemeriksaan dengan optotipe Snellen. Adapun syarat-
syarat pemeriksaan ini, antara lain :

21
a. Jarak pemeriksa dan penderita sejauh 6 m.
b. Pemeriksaan ini harus dilakukan dengan tenang, baik pemeriksa maupun
penderita.
c. Pada pemeriksaan terlebih dahulu ditentukan tajam penglihatan atau visus
VOD (visus oculi dextra) dan VOS (visus oculi sinistra).21

Ketajaman penglihatan yang kurang baik dapat dikoreksi dengan menggunakan


lensa sferis + (S+), sferis (S-), silindris +/- (C+/-). Pada kelainan refraksi miopia,
ketajaman penglihatan dapat dikoreksi dengan menggunakan sferis negatif terkecil
yang akan memberikan ketajaman penglihatan terbaik tanpa akomodasi.22

Gambar 2.4. Miopia tak terkoreksi dan miopia yang terkoreksi dengan lensa minus 22

2. Refraksi Obyektif
a. Pemeriksaan oftalmoskopi direk bertujuan untuk melihat kelainan dan keadaan
fundus okuli, dengan dasar cahaya yang dimasukkan ke dalam fundus akan
memberikan refleks fundus dan akan terlihat gambaran fundus. Pemeriksaan
oftalmoskopi pada kasus yang disertai dengan kelainan refraksi akan
memperlihatkan gambaran fundus yang tidak jelas, terkecuali jika lensa koreksi
pada lubang penglihatan oftalmoskopi diputar. Sehingga dengan terlebih dahulu
memperlihatkan keadaan refraksi pemeriksa, maka pada pemeriksaan
oftalmoskopi besar lensa koreksi yang digunakan dapat menentukan macam dan
besar kelainan refraksi pada penderita secara kasar.
b. Pemeriksaan streak retinoskopi yaitu menggunakan retinoskopi dengan lensa
kerja _+2.00D. Pemeriksa mengamati refleks fundus yang bergerak berlawanan
arah dengan gerakan retinoskop (against movement) kemudian dikoreksi
dengan lensa negative sampa tercapai netralisasi.2

22
3. Autorefraktometer

Yaitu menentukan myopia atau besarnya kelainan refraksi dengan


menggunakan komputer.

2.4.8. Tatalaksana
Penderita miopia dapat dikoreksi dengan menggunakan kacamata, lensa kontak atau
melalui operasi. Terapi terbaik pada miopia adalah dengan penggunaan kacamata atau lensa
kontak yang akan mengkompensasi panjangnya bola mata dan akan memfokuskan sinar
yang masuk jatuh tepat di retina.

1. Kaca mata
Kacamata merupakan salah satu alat yang dapat digunakan untuk memperbaiki
kelainan refraksi mata. Dalam hal ini fungsi dari kacamata adalah mengatur supaya
bayangan benda yang tidak dapat dilihat dengan jelas oleh mata menjadi jatuh tepat
di titik jauh mata (pada penderita miopia). Selain itu, penggunaan kacamata
memiliki salah satu kelebihan dimana dapat memperbaiki keadaan mata miopi
meskipun kedua mata penderita memiliki perbedaan ukuran minus (sebagai contoh
mata kanan -5,00 D, mata kiri -3,00 D), dalam hal ini pembuatan lensa negatif dapat
disesuaikan sehingga penderita dapat melihat lebih jelas.

Terdapat keuntungan dan kerugian memakai kacamata pada mata dengan


miopia.
1) Keuntungan
a. Memberikan perbaikan penglihatan dengan mengoreksi bayangan pada
miopia.
b. Memundurkan bayangan ke retina.
c. Mencegah munculnya pterigium yang biasanya diakibatkan oleh paparan
sinar matahari dan iritasi kronik dari lingkungan (udara, angin, debu) yang dapat
menimbulkan gangguan penglihatan.

23
2) Kerugian

a. Walaupun kacamata memberikan perbaikan penglihatan, berat kacamata akan


bertambah bila kekuatan lensa bertambah, selain juga menganggu penampilan.

b. Tepi gagang disertai tebalnya lensa akan mengurangi lapang pandang


penglihatan tepi.

c. Kacamata tidak selalu bersih.

d. Pemakaian kacamata dengan lensa positif/negatif yang berat, akan melihat


benda menjadi lebih besar/kecil.

e. Terasa ada yang mengganjal di dekat hidung dan telinga sehingga tidak
nyaman.

f. Mengganggu aktivitas. Bila berada dalam lingkungan yang panas, kaca sering
berembun atau terkena keringat.

2. Lensa kontak
Penggunaan lensa kontak merupakan pilihan kedua pada terapi miopia. Lensa
kontak merupakan lengkungan yang sangat tipis terbuat dari plastik yang dipakai
langsung di mata di depan kornea. Meski terkadang ada rasa tidak nyaman pada
awal pemakaian tetapi kebanyakan orang akan cepat membiasakan diri terhadap
pemakaian lensa kontak. Kelebihan dan kekurangan dalam memakai lensa kontak
adalah :

a. Kelebihan
1) Pada kelainan refraksi yang berat, penglihatan melalui lensa kontak
praktis tidak berubah (seperti penglihatan mata normal).
2) Dengan lensa kontak, luas lapang pandangan tidak berubah.
3) Pada anisometropia (perbedaan refraksi, mata kanan dan kiri yang
melebihi 2.5 3 D), besarnya gambaran penglihatan mata kanan kiri
dengan lensa kontak kurang lebih sama.

24
4) Dapat digunakan untuk tujuan kosmetik yaitu pada miopia tinggi yang
memerlukan kaca mata berlensa tebal.
b. Kekurangan
1) Mata lebih mudah kena infeksi, apabila pemakainya kurang
mengindahkan kebersihan atau bila lingkungan sekitarnya kurang bersih.
2) Lebih mudah terjadi erosi kornea, terutama bila lensa kontak dipakai
terlalu lama, atau dipakai tidak teratur.
3) Pemakaian lensa kontak, hendaknya didasarkan atas alasan alasan medik
saja. Lengkungan belakang lensa kontak (lengkung dasar, base curve)
hendaknya sesuai dengan lengkungan kornea. Oleh karena itu pemeriksaan
dengan keratometer untuk memeriksa lengkung kornea adalah penting.1

3. Bedah Refraksi
Adalah tidak mungkin untuk memendekkan bola mata pada miopia. Pada
keadaan tertentu miopia dapat diatasi dengan pembedahan pada kornea. Pada saat
ini telah terdapat berbagai cara pembedahan pada miopia seperti keratotomi radial,
keratektomi fotorefraktif, dan laser asisted in situ interlamelar keratomilieusis
(LASIK).
a. Keratotomi radial
Pada keratotomi radier dilakukan sayatan radier pada permukaan kornea
sehingga berbentuk jari-jari roda. Bagian sentral kornea tidak disayat. Bagian
kornea yang disayat akan menonjol sehingga bagian tengah kornea menjadi
rata. Ratanya kornea bagian tengah akan memberikan suatu pengurangan
kekuatan bias kornea sehingga dapat mengganti lensa kaca mata negatif.
Keratotomi radial bermanfaat untuk memperbaiki miopia -2.00 hingga - 6.00
Dioptri dan astigmat ringan. Efek samping yang terjadi pada RK adalah :
a) Penglihatan yang tidak stabil
b) Koreksi lebih atau kurang

25
Gambar 2.5. Keratomi radial23

b. Keratotekmi fotorefraktif
Merupakan cara yang mempergunakan sinar excimer untuk membentuk
permukaan kornea. Sinar pada excimer akan memecah molekul sel kornea.
Akibat lamanya sinar akan memberikan suatu pemecahan sejumlah molekul sel
permukaan kornea.

Keuntungan dan kerugian sinar excimer antara lain :

a) Keuntungan
Luka sayatan yang dihasilkan laser excimer sangat kecil yaitu
0,54 mm dan proses operasi hanya membutuhkan waktu sekitar 10
menit untuk kedua mata.
b) Kerugian
Mahalnya alat dan mempunyai efek samping sepert eritema
(kemerahan), hiperpigmentasi dan erosi (luka). Dalam kebanyakan
kasus hal ini dapat ditoleransi dengan baik dan tidak perlu
menghentikan perlakuan.

26
Gambar 2.6. Keratomi fotorefraktif23

c. Laser asisted in situ interlamelar keratomilieusis (LASIK)


LASIK merupakan metode terbaru di dalam operasi mata. LASIK
direkomendasikan untuk miopia dengan derajat sedang sampai berat. Pada
LASIK digunakan laser dan alat pemotong yang dinamakan mikrokeratome
untuk memotong flap secara sirkular pada kornea. Flap yang telah dibuat dibuka
sehingga terlihat lapisan dalam dari kornea. Kornea diperbaiki dengan sinar
laser untuk mengubah bentuk dan fokusnya, setelah itu flap ditutup kembali.

Syarat untuk dilakukan LASIK :

a) Umur telah lebih dari 18 tahun


b) Tidak mempunyai riwayat penyakit auto imun
c) Tidak sedang menyusui atau sedang hamil
d) Kacamata telah stabil ukurannya

27
Gambar 2.7. LASIK24

d. Miopia diperbaiki tanpa pembedahan


Ada beberapa cara yang diduga dapat mengatasi miopia tanpa tindakan
pembedahan yang masih perlu mendapatkan pembuktian. Dikenal cara
orthokeratology (ortho = pendek, kerato). Dengan meletakkan lensa kontak
keras dan gas permiable pada permukaan kornea dapat dirubah atau ditekan
permukaan kornea sehingga rata yang akan mengurangkan miopia mata.
Orthokeratology efektif untuk miopia ringan sampai 2 dioptri. Untuk mencegah
kambuh maka pemakaian dapat dicoba sendiri oleh pasien.24

2.4.9. Prognosis
Kacamata dan kontak lensa dapat mengkoreksi ( tetapi tidak selalu) penglihatan
pasien menjadi 6/6. Operasi mata dapat memperbaiki kelainan mata pada orang yang
memenuhi syarat. Faktor genetik yang mempengaruhi perkembangan dan derajat
keparahan miopi tidak dapat diubah, tetapi kita dapat mempengaruhi faktor lingkungan
sebagai sebab timbulnya miopi. Cara pencegahan yang dapat kita lakukan adalah dengan
membaca di tempat yang terang, menghindari membaca pada jarak dekat, beristirahat

28
sejenak ketikabekerja di depan komputer atau mikroskop, nutrisi yang baik dan terapi
penglihatan.

Tidak ada angka kejadian berdasarkan penelitian yang menjelaskan bahwa kontak
lensa atau latihan mata dapat menghentikan progresifitas dari miopi. Ketegangan mata
dapat dicegah dengan menggunakan cahaya yang cukup pada saat membaca dan bekerja,
dan menggunakan kacamata atau lensa yang disarankan. Pemeriksaan secara teratur sangat
penting untuk penderita degeneratif miopi karena mereka mempunyai faktor resiko untuk
terjadinya ablasi retina, degenerasi retina atau masalah lainnya.

2.4.10. Pencegahan
Sejauh ini, hal yang dilakukan adalah mencegah kelainan atau mencegah jangan
sampai menjadi parah. Biasanya dokter akan melakukan beberapa tindakan seperti
pengobatan laser, obat tetes tertentu untuk membantu penglihatan, operasi, penggunaan
lensa kontak dan penggunaan kacamata.

Pencegahan lainnya adalah dengan melakukan visual hygiene berikut ini:

a. Mencegah terjadinya kebiasaan buruk, meliputi: membiasakan duduk dengan posisi


tegak sejak kecil; memegang alat tulis dengan benar; lakukan istirahat tiap 30 menit
setelah melakukan kegiatan membaca atau melihat TV; batasi jam membaca; aturlah
jarak baca yang tepat (30 sentimeter) dan gunakanlah penerangan yang cukup; serta
tidak membaca dengan posisi tidur atau tengkurap.
b. Beberapa penelitian melaporkan bahwa usaha untuk berlatih melihat jauh atau melihat
jauh dan dekat secar bergantian dapat mencegah miopia.
c. Kenali jika ada kelainan pada mata dan perbaiki sejak awal, jangan menunggu sampai
ada gangguan pada mata.
d. Anak dengan tingkat miopia kanan dan kiri tinggi, segera lakukan konsultasi dengan
dokter spesialis mata anak agar tidak terjadi juling.
e. Walaupun sekarang ini sudah jarang terjadi defisiensi vitamin A, ibu hamil tetap perlu
memperhatikan nutrisi termasuk vitamin A.
f. Periksalah mata anak sedini mungkin jika dalam keluarga ada yang memakai kaca
mata. Oleh karena itu pahami perkembangan kemampuan melihat bayi.

29
g. Kenali keanehan, misalnya kemampuan melihat yang kurang, kemudian segeralah
melakukan pemeriksaan.
h. Sebaiknya dilakukan skrining pada anak-anak di sekolah.

2.4.11. Komplikasi
1) Ablasio retina
Resiko untuk terjadinya ablasio retina pada 0D (- 4,75)D sekitar 1/6662.
Sedangkan pada (- 5) D (-9,75) D resiko meningkat menjadi 1/1335. Lebih dari (-
10) D resiko ini menjadi 1/148. Dengan kata lain penambahan faktor resiko pada
miopia rendah tiga kali sedangkan miopia tinggi meningkat menjadi 300 kali.

2) Vitreal Liquefaction dan Detachment

Badan vitreus yang berada di antara lensa dan retina mengandung 98% air dan
2% serat kolagen yang seiring pertumbuhan usia akan mencair secara perlahan-lahan,
namun proses ini akan meningkat pada penderita miopia tinggi. Hal ini berhubungan
dengan hilangnya struktur normal kolagen. Pada tahap awal, penderita akan melihat
bayangan-bayangan kecil (floaters). Pada keadaan lanjut, dapat terjadi kolaps badan
vitreus sehingga kehilangan kontak dengan retina. Keadaan ini nantinya akan beresiko
untuk terlepasnya retina dan menyebabkan kerusakan retina. Vitreus detachment pada
miopia tinggi terjadi karena luasnya volume yang harus diisi akibat memanjangnya
bola mata.

3) Miopic makulopaty
Dapat terjadi penipisan koroid dan retina serta hilangnya pembuluh darah
kapiler pada mata yang berakibat atrofi sel-sel retina sehingga lapang pandang
berkurang. Dapat juga terjadi perdarahan retina dan koroid yang bisa menyebabkan
kurangnya lapangan pandang. Miopia vaskular koroid/degenerasi makular miopik
juga merupakan konsekuensi dari degenerasi makular normal, dan ini disebabkan oleh
pembuluh darah yang abnormal yang tumbuh di bawah sentral retina.

4) Glaukoma
Resiko terjadinya glaukoma pada mata normal adalah 1,2%, pada miopia
sedang 4,2%, dan pada miopia tinggi 4,4%. Glaukoma pada miopia terjadi
30
dikarenakan stres akomodasi dan konvergensi serta kelainan struktur jaringan ikat
penyambung pada trabekula.

5) Skotoma
Komplikasi timbul pada miopia derajat tinggi. Jika terjadi bercak atrofi retina
maka akan timbul skotoma (sering timbul jika daerah makula terkena dan daerah
penglihatan sentral menghilang). Vitreus yang telah mengalami degenerasi dan
mencair berkumpul di muscae volicantes sehingga menimbulkan bayangan lebar
diretina sangat menggangu pasien dan menimbulkan kegelisahan. Bayangan tersebut
cenderung berkembang secara perlahan dan selama itu pasien tidak pernah
menggunakan indera penglihatannya dengan nyaman sampai akhirnya tidak ada
fungsi penglihatan yang tersisa atau sampai terjadi lesi makula berat atau ablasio
retina.

2.5. Hipermetropia
2.5.1. Definisi

Hipermetropia adalah anomali refraksi yang mana tanpa akomodasi, sinar sejajar
akan terfokus di belakang retina. Sinar divergen dari objek dekat, akan difokuskan lebih
jauh di belakang retina.

Gambar 2.7. Hipermiopia dan hipermiopia terkoreksi24


31
2.5.2. Epidemiologi

Hipermetropia merupakan anomali perkembangan dan secara praktis semua mata


adalah hipermetropia pada saat lahir. 80% hingga 90% mata didapati hipermetropia pada
5 tahun pertama kehidupan. Pada usia 16 tahun, sekitar 48% mata didapati tetap
hipermetropia. Pada masa remaja, derajat hipermetropia akan berkurang karena panjang
axial mata bertambah sehingga periode pertumbuhan berhenti. Pada masa itu,
hipermetropia yang menetap akan menjadi relatif konstan sehingga munculnya presbiopia.

Pada studi yang dilakukan di Amerika, 1 dari 8 anak (12,8%) antara usia 5 hingga
17 tahun hiperopia, studi yang dilakukan di Polandia mendapati 1 dari 5 anak (21%) antara
usia 6 hingga 18 tahun hipermetropia, studi di Australi mendapati 4 dari 10 anak (38,4%)
antara usia 4 hingga 12 tahun hipermetropia, studi di Brazil mendapati 7 dari 10 anak
(71%) dalam satu kota hipermetropia.

2.5.3. Etiologi

1. Panjang axial (diameter bola mata) mata hipermetropia lebih kurang dari
panjang axial mata normal.
2. Berkurangnya konveksitas dari kornea atau kurvatura lensa
3. Berkurangnya indeks refraktif
4. Perubahan posisi lensa

2.5.4. Klasifikasi

Klasifikasi hipermetropia berdasarkan gejala klinis, derajat beratnya hipermetropia,


dan status akomodasi mata.

Berdasarkan gejala klinis, hipermetropia dibagi menjadi tiga yaitu:

1. Hipermetropia simpleks yang disebabkan oleh variasi biologi normal,


etiologinya bisa axial atau refraktif

32
2. Hipermetropia patologik disebabkan oleh anatomi okular yang abnormal karena
maldevelopment, penyakit okular, atau trauma
3. Hipermetropia fungsional disebabkan oleh paralisis dari proses akomodasi
Berdasarkan derajat beratnya, hipermetropia juga dibagi menjadi tiga yaitu:

1. Hipermetropia ringan, kesalahan refraksi +2.00 D atau kurang


2. Hipermetropia sedang, kesalahan refraksi antara +2.25 D hingga +5.00 D
3. Hipermetropia berat, kesalahan refraksi +5.25 D atau lebih tinggi
Berdasarkan status akomodasi mata, hipermetropia dibagi menjadi empat yaitu:

1. Hipermetropia Laten
a. Sebagian dari keseluruhan dari kelainan refraksi mata hipermetropia
yang dikoreksi secara lengkap oleh proses akomodasi mata
b.Hanya bisa dideteksi dengan menggunakan sikloplegia
c. Lebih muda seseorang yang hipermetropia, lebih laten hiperopia yang
dimilikinya
2. Hipermetropia Manifes
a. Hipermetropia yang dideteksi lewat pemeriksaan refraksi rutin tanpa
menggunakan sikloplegia
b.Bisa diukur derajatnya berdasarkan jumlah dioptri lensa positif yang
digunakan dalam pemeriksaan subjektif
3. Hipermetropia Fakultatif
a. Hipermetropia yang bisa diukur dan dikoreksi dengan menggunakan
lensa positif, tapi bisa juga dikoreksi oleh proses akomodasi pasien
tanpa menggunakan lensa
b.Semua hipermetropia laten adalah hipermetropia fakultatif
c. Akan tetapi, pasien dengan hipermetropia laten akan menolak
pemakaian lensa positif karena akan mengaburkan penglihatannya.
d.Pasien dengan hipermetropia fakultatif bisa melihat dengan jelas tanpa
lensa positif tapi juga bisa melihat dengan jelas dengan menggunakan
lensa positif
4. Hipermetropia Absolut
i. Tidak bisa dikoreksi dengan proses akomodasi

33
ii. Penglihatan subnormal
iii. Penglihatan jarak jauh juga bisa menjadi kabur terutama pada usia lanjut
Hipermetropia Total bisa dideteksi setelah proses akomodasi diparalisis dengan
agen sikloplegia.

Hipermetropia

Hipermetropia Laten

Hipermetropia Manifes

Gambar 2.8. Klasifikasi hipermetropia berdasarkan status akomodasi mata24

2.5.5. Manifestasi klinik

1. Penglihatan dekat kabur, penglihatan jauh pada usia lanjut juga bisa kabur
2. Asthenopia akomodatif (sakit kepala, lakrimasi, fotofobia, kelelahan mata)
3. Strabismus pada anak-anak yang mengalami hipermetropia berat
4. Gejala biasanya berhubungan dengan penggunaan mata untuk penglihatan dekat
(cth : membaca, menulis, melukis), dan biasanya hilang jika kerjaan itu
dihindari.
5. Mata dan kelopak mata bisa menjadi merah dan bengkak secara kronis
6. Mata terasa berat bila ingin mulai membaca, dan biasanya tertidur beberapa saat
setelah mulai membaca walaupun tidak lelah.
7. Bisa terjadi ambliopia
34
2.5.6. Diagnosis

1. Anamnesa gejala-gejala dan tanda-tanda hipermetropia


2. Pemeriksaan Oftalmologi
a. Visus tergantung usia dan proses akomodasi dengan menggunakan
Snellen Chart
b.Refraksi retinoskopi merupakan alat yang paling banyak digunakan
untuk pengukuran objektif hipermetropia. Prosedurnya termasuk statik
retinoskopi, refraksi subjektif, dan autorefraksi
c. Motilitas okular, penglihatan binokular, dan akomodasi termasuk
pemeriksaan duksi dan versi, tes tutup dan tes tutup-buka, tes
Hirschberg, amplitud dan fasilitas akomodasi, dan steoreopsis
d.Penilaian kesehatan okular dan skrining kesehatan umum untuk
mendiagnosa penyakit-penyakit yang bisa menyebabkan hipermetropia.
Pemeriksaan ini termasuk reflek cahaya pupil, tes konfrontasi,
penglihatan warna, tekanan intraokular, dan pemeriksaan menyeluruh
tentang kesehatan segmen anterior dan posterior dari mata dan
adnexanya. Biasanya pemeriksaan dengan ophthalmoskopi indirect
diperlukan untuk mengevaluasi segmen media dan posterior.

2.5.7. Penatalaksanaan

1. Sejak usia 5 atau 6 tahun, koreksi tidak dilakukan terutama tidak munculnya
gejala-gejala dan penglihatan normal pada setiap mata.
2. Dari usia 6 atau 7 tahun hingga remaja dan berlanjut hingga waktu presbiopia,
hipermetropia dikoreksi dengan lensa positif yang terkuat. Bisa memakai kaca
mata atau lensa kontak.

35
Gambar 2.9. Koreksi pada mata hipermetropi25

3. Pembedahan refraktif juga bisa dilakukan untuk membaiki hipermetropia


dengan membentuk semula kurvatura kornea. Metode pembedahan refraktif
termasuk
a. Laser-assisted in-situ keratomileusis (LASIK)
b.Laser-assisted subepithelial keratectomy (LASEK)
c. Photorefractive keratectomy (PRK)
d.Conductive keratoplasty (CK)
2.5.8. Komplikasi

1. Strabismus
2. Mengurangi kualitas hidup
3. Kelelahan mata dan sakit kepala

2.6. ASTIGMATISME
2.6.1. Definisi

Astigmatisma adalah keadaan dimana mata menghasilkan suatu bayangan dengan


titik atau garis fokus multipel. Hal ini terjadi karena variasi kurvatura pada meridian dan
atau indeks bias dan atau kesejajaran komponen optik mata pada meridian utama. 1,25

2.6.2. Epidemiologi

Prevalensi global kelainan refraksi diperkirakan sekitar 800 juta sampai 2,3 milyar.
Di Indonesia prevalensi kelainan refraksi menempati urutan pertama pada penyakit mata.
36
Kasus kelainan refraksi dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan. Ditemukan
jumlah penderita kelainan refraksi di Indonesia hampir 25% populasi penduduk atau sekitar
55 juta jiwa.3,4

Insidensi myopia dalam suatu populasi sangat bervariasi dalam hal umur, negara,
jenis kelamin, ras, etnis, pekerjaan, lingkungan, dan factor lainnya. Prevalensi miopia
bervariasi berdasar negara dan kelompok etnis, hingga mencapai 70-90% di beberapa
negara. Sedangkan menurut Maths Abrahamsson dan Johan Sjostrand tahun 2003, angka
kejadian astigmat bervariasi antara 30%-70%.

2.6.3. Etiologi

Penyebab umum astigmatisme adalah kelainan bentuk kornea. Lensa kristalina juga
dapat berperan. Dalam terminologi lensa kontak, astigmatisme lentikular disebut
astigmatisme residual karena tidak dapat dikoreksi dengan lensa kontak sferis yang keras,
yang dapat mengoreksi astigmatisme kornea.

Adanya kelainan kornea dimana permukaan luar kornea tidak teratur. Media
refrakta yang memiliki kesalahan pembiasan paling besar adalah kornea, yaitu mencapai
80 90% dari astigmatismus, sedangkan media lainnya adalah lensa kristalin. Kesalahan
pembiasan pada kornea ini terjadi karena perubahan lengkung kornea dengan tanpa
pemendekan atau pemanjangan diameter anterior posterior bola mata. Perubahan lengkung
permukaan kornea terjadi karena kelainan congenital, kecelekaan, luka atau parut dikornea,
peradangan kornea serta akibat pembedahan kornea.

Adanya kelainan pada lensa dimana terjadi kekeruhan pada lensa. Semakin
bertambah umur seseorang, maka kekuatan akomodasi lensa kristalin juga semakin
berkurang dan lama kelamaan lensa kristalin akan mengalami kekeruhan yang dapat
menyebabkan astigmatismus.25

2.6.4. Klasifikasi

Berdasarkan posisi garis fokus dalam retina Astigmatisme dibagi sebagai berikut:
a. Astigmat regular merupakan astigmat yang memperlihatkan kekuatan
pembiasan bertambah atau berkurang perlahan-lahan secara teratur dari suatu
37
meridian ke meridian berikutnya. Bayangan yang terjadi pada astigmat regular
dengan bentuk garis, lonjong atau lingkaran
1. Astigmat lazim (astigmatisme with the rule) berarti kelengkungan
kornea pada bidang vertikal bertambah atau lebih kuat atau jari-jarinya
lebih pendek dibanding jari-jari kelengkungan kornea di bidang
horizontal. Pada keadaaan ini diperlukan lensa silinder negatif dengan
sumbu 180 derajat. Sering ditemukan pada usia muda karena pada saat
baru lahir memiliki kornea spheris kemudian berkembang menjadi
astigmat lazim.1
2. Astigmat tidak lazim (astigmatisme against the rule) merupakan
keadaan kelainan refraksi akibat kelengkungan kornea pada meridian
horizontal lebih kuat dibandingkan kelengkungan meridian vertikal.
Pada usia pertengahan kornea menjadi lebih spheris kembali sehingga
astigmat. Koreksi dengan lensa silinder negatif dilakukan pada sumbu
tegak lurus (60-120 derajat) atau dengan silinder positif sumbu
horizontal (30-150 derajat).1
3. Astigmat oblik merupakan astigmatisme regular yang meridian-
meridian utamanya tidak terletak dalam 20 derajat horizontal dan
vertical, misalnya silinder negatif dengan axis diantara 30 dan 60
derajat. Astigmat oblik memiliki prevalensi yang lebih rendah
dibandingkan astigmat lazim dan tidak lazim, serta menetap atau stabil
dengan bertambahnya usia.26

38
Gambar 2.10 Gambaran kelainan refraksi, astigmat lazim, astigmat tidak lazim dan astigmat
oblik pada huruf, kartu kipas dan gambaran jalanan. 1

b. Astigmat iregular merupakan astigmat yang terjadi tidak mempunyai 2 meridian


saling tegak lurus. Astigmat iregular dapat terjadi akibat kelengkungan kornea
paad meridian yang sama berbeda sehingga bayangan menjadi ireguler.
Astigmatisma iregular dapat terjadi akibat infeksi kornea, trauma dan distrofi
atau akibat kelainan pembiasan pada meridian lensa yang berbeda.1

39
Berdasarkan letak titik vertical dan horizontal pada retina, astigmatisme dibagi
sebagai berikut:
1. Astigmatisme Miopia Simpleks
Astigmatisme jenis ini, titik A berada di depan retina, sedangkan titik B berada
tepat pada retina (dimana titik A adalah titik fokus dari daya bias terkuat sedangkan
titik B adalah titik fokus dari daya bias terlemah). Pola ukuran lensa koreksi
astigmatisme jenis ini adalah Sph 0,00 Cyl -Y atau Sph -X Cyl +Y di mana X dan Y
memiliki angka yang sama.

Gambar 2.11. Astigmatisme Miopia Simpleks26

2. Astigmatisme Hiperopia Simpleks


Astigmatisme jenis ini, titik A berada tepat pada retina, sedangkan titik B berada
di belakang retina.

Gambar 2.12 Astigmatisme Hiperopia Simpleks26

40
3. Astigmatisme Miopia Kompositus
Astigmatisme jenis ini, titik A berada di depan retina, sedangkan titik B berada
di antara titik A dan retina. Pola ukuran lensa koreksi astigmatisme jenis ini adalah Sph
-X Cyl -Y.

Gambar 2.13. Astigmatisme Miopia Kompositus26

4. Astigmatisme Hiperopia Kompositus


Astigmatisme jenis ini, titik B berada di belakang retina, sedangkan titik A
berada di antara titik B dan retina. Pola ukuran lensa koreksi astigmatisme jenis ini
adalah Sph +X Cyl +Y.

Gambar 2.14 Astigmatisme Hiperopia Kompositus26

5. Astigmatisme Mixtus
Astigmatisme jenis ini, titik A berada di depan retina, sedangkan titik B berada
di belakang retina. Pola ukuran lensa koreksi astigmatisme jenis ini adalah Sph +X Cyl

41
-Y, atau Sph -X Cyl +Y, di mana ukuran tersebut tidak dapat ditransposisi hingga nilai
X menjadi nol, atau notasi X dan Y menjadi sama - sama + atau -.

Gambar 2.15 Astigmatisme Mixtus26

Berdasarkan tingkat kekuatan Dioptri :

1. Astigmatismus Rendah

Astigmatismus yang ukuran powernya < 0,50 Dioptri. Biasanya astigmatis-mus


rendah tidak perlu menggunakan koreksi kacamata. Akan tetapi jika timbul keluhan
pada penderita maka koreksi kacamata sangat perlu diberikan.

2. Astigmatismus Sedang

Astigmatismus yang ukuran powernya berada pada 0,75 Dioptri s/d 2,75
Dioptri. Pada astigmatismus ini pasien sangat mutlak diberikan kacamata koreksi.

3. Astigmatismus Tinggi

Astigmatismus yang ukuran powernya > 3,00 Dioptri. Astigmatismus ini sangat
mutlak diberikan kacamata koreksi.

2.6.5. Manifestasi klinik

Pada umunya, seseorang yang menderita astigmatismus tinggi menyebabkan


gejala-gejala sebagai berikut:

42
Memiringkan kepala atau disebut dengan titling his head, pada umunya
keluhan ini sering terjadi pada penderita astigmatismus oblique yang tinggi.
Memutarkan kepala agar dapat melihat benda dengan jelas.
Menyipitkan mata seperti halnya penderita myopia, hal ini dilakukan untuk
mendapatkan efek pinhole atau stenopaic slite. Penderita astigmatismus juga
menyipitkan mata pada saat bekerja dekat seperti membaca.
Pada saat membaca, penderita astigmatismus ini memegang bacaan
mendekati mata, seperti pada penderita myopia. Hal ini dilakukan untuk
memperbesar bayangan, meskipun bayangan di retina tampak buram.

Sedang pada penderita astigmatismus rendah, biasa ditandai dengan gejala-


gejala sebagai berikut:
Sakit kepala pada bagian frontal.
Ada pengaburan sementara / sesaat pada penglihatan dekat, biasanya
penderita akan mengurangi pengaburan itu dengan menutup atau mengucek-
ucek mata. 26,27,28

2.6.6. Diagnosis

a. Anamnesis
Keluhan pasien terkait astigmat dapat bermacam-macam, misalnya pasien
merasa hanya mampu membaca dalam waktu singkat, merasa cetakan huruf yang dibaca
kabur atau ganda, sakit kepala. 26,27

b. Pemeriksaan Oftalmologi
1) Pemeriksaan Tajam Penglihatan
Dilakukan di kamar yang tidak terlalu terang dengan Kartu Snellen, dengan
cara:
Pasien duduk dengan jarak 6 meter dari kartu snellen dengan satu mata
ditutup menggunakan telapak tangan
Pasien diminta membaca huruf yang tertulis di kartu, mulai dari baris
paling atas ke bawah, dan ditentukan baris terakhir yang masih dapat
dibaca seluruhnya dengan benar.
43
Bila pasien tidak dapat membaca baris paling atas (terbesar), maka
dilakukan uji hitung jari dari jarak 6 meter.
Jika pasien tidak dapat menghitung jari pada jarak 6 meter, maka jarak
dapat dikurangi satu meter, sampai maksimal jarak penguji dengan pasien
satu meter.
Jika pasien tidak dapat melihat, dilakukan uji lambaian tangan dari jarak
satu meter.
Jika pasien tetap tidak bisa melihat lambaian tangan, dilakukan uji dengan
arah sinar.
Jika penglihatan sama sekali tidak mengenal adanya sinar, maka dikatakan
penglihatannya adalah nol (0) atau no light preception.

Penilaian:
Tajam penglihatan normal adalah 6/6. Berarti pasien dapat membaca
seluruh huruf dalam kartu snellen dengan benar.
Bila baris yang dapat dibaca seluruhnya bertanda 30, maka dikatakan
tajam penglihatan 6/30. Berarti ia hanya dapat melihat pada jarak 6 m yang
oleh orang normal huruf tersebut dapat dilihat pada jarak 30 meter.
Bila dalam uji hitung jari, pasien hanya dapat melihat atau menentukan
jumlah jari yang diperlihatkan pada jarak 3 meter, maka dinyatakan tajam
penglihatan 3/60. Jari terpisah dapat dilihat orang normal pada jarak 60
meter.
Orang normal dapat melihat gerakan atau lambaian tangan pada jarak 300
meter. Bila mata hanya dapat melihat lambaian tangan pada jarak 1 meter,
berarti tajam penglihatan adalah 1/300.
Bila mata hanya mengenal adanya sinar saja, tidak dapat melihat lambaian
tangan, maka dikatakan sebagai 1/~. Orang normal dapat melihat adanya
sinar pada jarak tidak berhingga.
Bila setelah pemeriksaan tersebut diatas tetap tidak tercapai tajam
penglihatan maksimal mungkin pasien mempunyai kelainan refraksi
astigmat. Pada keadaan ini lakukan uji pengaburan (fogging technique).27

44
2) Uji lubang kecil (pin hole)
Uji lubang kecil (pin hole) ini dilakukan untuk mengetahui apakah
berkurangnya tajam penglihatan diakibatkan oleh kelainan refraksi atau kelainan pada
media penglihatan, atau kelainan retina lainnya. Bila ketajaman penglihatan bertambah
setelah dilakukan pin hole berarti pada pasien tersebut terdapat kelainan refraksi yang
belum dikoreksi baik. Bila ketajaman penglihatan berkurang berarti pada pasien
terdapat kekeruhan media penglihatan atau pun retina yang menggangu penglihatan.1

3) Uji pengaburan
Setelah pasien dikoreksi untuk myopia yang ada, maka tajam penglihatannya
dikaburkan dengan lensa positif, sehingga tajam penglihatan berkurang 2 baris pada
kartu Snellen, misalnya dengan menambah lensa spheris positif 3. Pasien diminta
melihat kisi-kisi juring astigmat, dan ditanyakan garis mana yang paling jelas terlihat.
Bila garis juring pada 90 yang jelas, maka tegak lurus padanya ditentukan sumbu
lensa silinder, atau lensa silinder ditempatkan dengan sumbu 180. Perlahan-lahan
kekuatan lensa silinder negatif ini dinaikkan sampai garis juring kisi-kisi astigmat
vertikal sama tegasnya atau kaburnya dengan juring horizontal atau semua juring
sama jelasnya bila dilihat dengan lensa silinder ditentukan yang ditambahkan.
Kemudian pasien diminta melihat kartu Snellen dan perlahan-lahan ditaruh lensa
negatif sampai pasien melihat jelas.1,29

Gambar 2.16. Kipas Astigmat29

45
Autorefraktometer
Yaitu menentukan myopia atau besarnya kelainan refraksi dengan
menggunakan komputer. Penderita duduk di depan autorefractor, cahaya dihasilkan
oleh alat dan respon mata terhadap cahaya diukur. Alat ini mengukur berapa besar
kelainan refraksi yang harus dikoreksi dan pengukurannya hanya memerlukan waktu
beberapa detik.30

Keratometri
Merupakan pemeriksaan mata yang bertujuan untuk mengukur radius
kelengkungan kornea. Keratometer dipakai klinis secara luas dan sangat berharga
namun mempunyai keterbatasan. 30

Keratoskop
Keratoskop atau Placido disk digunakan untuk pemeriksaan astigmatisme.
Pemeriksa memerhatikan gambar ring pada kornea pasien. Pada astigmatisme
regular, ring tersebut berbentuk oval. Pada astigmatisme irregular, gambar tersebut
tidak terbentuk sempurna.30

Javal ophtalmometer
Digunakan untuk mengukur kelengkungan sentral dari kornea, dimana akan
menentukan kekuatan refraktif dari kornea.30

2.6.7. Penatalaksanaan Astigmatisme


1. Koreksi astigmat dengan kacamata
Astigmatismus dapat dikoreksi kelainannya dengan bantuan lensa silinder.
Karena dengan koreksi lensa cylinder penderita astigmatismus akan dapat membiaskan
sinar sejajar tepat diretina, sehingga penglihatan akan bertambah jelas. 1,27

2. Koreksi dengan Orthokeratology


Orthokeratology adalah cara pencocokan dari beberapa seri lensa kontak, lebih
dari satu minggu atau bulan, untuk membuat kornea menjadi datar dan menurunkan
myopia. Kekakuan lensa kontak yang digunakan sesuai dengan standar. Pada
astigmatisme irregular dimana terjadi pemantulan dan pembiasan sinar yang tidak

46
teratur pada dataran permukaan depan kornea maka dapat dikoreksi dengan memakai
lensa kontak. Dengan memakai lensa kontak maka permukaan depan kornea tertutup
rata dan terisi oleh film air mata. 1,27

3. Koreksi astigmat dengan terapi bedah


1. Radial keratotomy (RK)
2. Photo-refractive keratotomy (PRK)
3. Toric intraocular implant
4. Peripheral Corneal Relaxing Incisions (PCRIs)
5. Conductive keratoplasty
6. LASIK (Laser Insitu Keratomileusis)

Gambar 2.17. LASIK.27

LASIK adalah suatu tindakan koreksi kelainan refraksi mata yang


menggunakan teknologi laser dingin (cold/non thermal laser) dengan cara merubah
atau mengkoreksi kelengkungan kornea. Setelah dilakukan tindakan LASIK, penderita
kelainan refraksi dapat terbebas dari kacamata atau lensa kontak, sehingga secara
permanen menyembuhkan rabun jauh (miopia), rabun dekat (hipermetropia), serta mata
silinder (astigmatisme). 30,31

47
Untuk dapat menjalani prosedur LASIK perlu diperhatikan beberapa hal, yaitu:

a. Ingin terbebas dari kacamata dan lensa kontak


b. Kelainan refraksi:
Miopia sampai -1.00 sampai dengan - 13.00 dioptri.

Hipermetropia + 1.00 sampai dengan + 4.00 dioptri.

Astigmatisme 1.00 sampai dengan 5.00 dioptri

c. Usia minimal 18 tahun


d. Tidak sedang hamil atau menyusui
e. Tidak mempunyai riwayat penyakit autoimun
f. Mempunyai ukuran kacamata/ lensa kontak yang stabil selama paling
tidak 6 (enam) bulan
g. Tidak ada kelainan mata, yaitu infeksi, kelainan retina saraf mata, katarak,
glaukoma dan ambliopia
h. Telah melepas lensa kontak (Soft contact lens) selama 14 hari atau 2 (dua)
minggu dan 30 (tiga puluh) hari untuk lensa kontak (hard contact lens).

Adapun kontraindikasi dari tindakan LASIK antara lain:


a. Usia < 18 tahun / usia dibawah 18 tahun dikarenakan refraksi belum stabil.
b. Sedang hamil atau menyusui.
c. Kelainan kornea atau kornea terlalu tipis.
d. Riwayat penyakit glaukoma.
e. Penderita diabetes mellitus.
f. Mata kering
g. Penyakit: autoimun, kolagen
h. Pasien Monokular
i. Kelainan retina atau katarak 31

Sebelum menjalani prosedur LASIK, ada baiknya pasien melakukan konsultasi


atau pemeriksaan dengan dokter spesialis mata untuk dapat mengetahui dengan pasti
mengenai prosedur / tindakan LASIK baik dari manfaat, ataupun kemungkinan
komplikasi yang dapat terjadi. Setelah melakukan konsultasi / pemeriksaan oleh dokter
48
spesialis mata, kemudian mata anda akan diperiksa secara seksama dan teliti dengan
menggunakan peralatan yang berteknologi tinggi (computerized) dan mutakhir
sehingga dapat diketahui apakah seseorang layak untuk menjalankan tindakan
LASIK.31

Persiapan calon pasien LASIK:

a. Pemeriksaan refraksi, slit lamp, tekanan bola mata dan finduskopi


b. Pemeriksan topografi kornea / keratometri / pakhimetri Orbscan
c. Analisa aberometer Zy Wave, mengukur aberasi kornea sehingga bisa
dilakukan Custumize LASIK
d. Menilai kelayakan tindakan untuk menghindari komplikasi

Sebagian besar pasien yang telah melakukan prosedur atau tindakan


LASIK menunjukan hasil yang sangat memuaskan, akan tetapi sebagaimana seperti
pada semua prosedur atau tindakan medis lainnya, kemungkinan adanya resiko akibat
dari prosedur atau tindakan LASIK dapat terjadi oleh sebagian kecil dari beberapa
pasien antara lain:

a. Kelebihan / Kekurangan Koreksi (Over / under correction). Diketahui setelah


pasca tindakan LASIK akibat dari kurang atau berlebihan tindakan koreksi, hal ini
dapat diperbaiki dengan melakukan LASIK ulang / Re-LASIK (enhancement)
setelah kondisi mata stabil dalam kurun waktu lebih kurang 3 bulan setelah
tindakan.
b. Akibat dari menekan bola mata yang terlalu kuat sehingga flap kornea bisa
bergeser (Free flap, button hole, decentration flap). Flap ini akan melekat cukup
kuat kira-kira seminggu setelah tindakan.
c. Biasanya akan terjadi gejala mata kering. Hal ini akan terjadi selama seminggu
setelah tindakan dan akan hilang dengan sendirinya. Pada sebagian kasus mungkin
diperlukan semacam lubrikan tetes mata.
d. Silau saat melihat pada malam hari. Hal ini umum bagi pasien dengan pupil mata
yang besar dan pasien dengan miopia yang tinggi. Gangguan ini akan berkurang
seiring dengan berjalannya waktu. Komplikasi sangat jarang terjadi, dan keluhan
sering membaik setelah 1-3 bulan. 31
49
Kelebihan Bedah Refraksi LASIK antara lain:
a. Anestesi topikal (tetes mata)
b. Pemulihan yang cepat (Magic Surgery)
c. Tanpa rasa nyeri (Painless)
d. Tanpa jahitan (Sutureless & Bloodless)
e. Tingkat ketepatan yang tinggi (Accuracy)
f. Komplikasi yang rendah
g. Prosedur dapat diulang (Enhancement). 31

50
BAB III

PEMBAHASAN

Pembahasan di dalam kasus ini antara lain:

1. Mengapa pada pasien ini didiagnosa sebagai pasien dengan Astigmatisma Miopi
Kompositus ODS?
2. Bagaimana penatalaksanaan pada pasien ini?
3. Bagaimana prognosis pada pasien ini?

1. Mengapa pada pasien ini didiagnosa sebagai pasien Astigmatisma Miopi


Kompositus ODS?
Anamnesis :
Perempuan berusia 23tahun datang ke poliklinik mata RSU dr. Slamet Garut dengan
keluhan pandangan buram bila melihat jauh sejak 2 bulan SMRS. Keluahan disertai pusing,
pandangan berbayang dan jika melihat jauh harus mengecilkan pandangan dahulu.

Pemeriksaan Oftalmologi
Visus OD OS
SC 0.05 0.05
CC 1.0 1.0
STN - -
KOREKSI S -3.50 C -0.50 1000 S -3.50 C -0.25 400
ADD - -

2. Bagaimanakah penatalaksanaan pada pasien ini?

- Untuk penatalaksanaan pada pasien dengan diagnosis Astigmatisma Miopi


Kompositus ODS. Koreksi dengan menggunakan lensa spheris negatif S -3.50
ODS, lensa silindris negative C - 0.50 1000 OD dan C -0.25 400 OS.
- Kemudian agar mata tidak cepat lelah dan menjaga fungsi mata,diberi obat tetes
yang mengandung vitamin A yaitu Aguetontonic 0,6 ml 3x1 tetes ODS dan obat
minumnya yaitu Vitanorm tab 1x1.
51
3. Bagaimanakah prognosis pada pasien ini?
Quo ad vitam : ad bonam
Quo ad Vitam adalah ad bonam karena pada pasien tidak ditemukannya penyakit mata
lain maupun penyakit sistemik yang menyertai keluhan pasien dan pasien masih dapat
melakukan aktivitasnya seperti biasa.
Quo ad functionam : ad bonam
Quo ad functionam adalah ad bonam karena setelah dilakukan koreksi maksimal dengan
kacamata pasien mengalami perbaikan tajam penglihatan.

52
Daftar Pustaka

1. Ilyas S dan Yulianti SR. 2015 Ilmu Penyakit Mata Edisi Ke-5. Jakarta: Balai Penerbit
FKUI.
2. Mansjoer, A. 2002. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi Ke-3 Jilid 1. Media Aesculapius.
Jakarta: FK UI
3. Ilyas, Sidarta. 2006. Kelainan Refraksi Dan Kacamata. Edisi Kedua. Jakarta:
Balai penerbit FKUI
4. Olver and Cassidy. 2005. Ophthalmology at a Glance. USA: Blackwell Science
5. Mutti, O, Mitchell L, Moeschberger ML. 2002. Parental myopia, nearwork, school
achievement and childrens refractive error. Investigate Ophtalmology and Visual
Science 43:12. Available from: www.ncbi.nlm.nih.gov./pubmed/12454029
6. Wedner SH, Ross DA, Todd J. 2008. Myopia in secondary school students in Mwanza
City, Tanzania: the need for a national screening programme. British Journal of
Ophtalmology 86:1200-1206. Available
from:bmj.com/cgi/content/abstract/86/11/1200
7. Saw SM, Chua WH, Hong CY. 2002. Nearwork in early-onset myopia. Invest
Ophthalmol Vis Sci.; 43:332339. Available from:
www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/11818374
8. Hahsim. 2008. Prevalence of refractive error in malay primary school children in
suburban area of Kota Bharu, Kelantan, Malaysia. Annals of Academy of Medicine
37(11):940-946. Available from: http://proquest.umi.com/
9. Fredrick, DR. 2002. Myopia clinical review. BMJ 2002: 324: 1195-1199.
10. Guggenheim, JA. 2007. Correlation in refractive errors between siblings in the
Singapore cohort study of risk factor for myopia. British Journal of Ophtalmology
91(6):781-784. Available from: http://proquest.umi.com/
11. Jenny M. Ip, Seang-Mei Saw, Kathryn A. Rose, Ian G. Morgan, Annette Kifley, Jie Jin
Wang, and Paul Mitchell. 2008. Role of near work in myopia: findings in a sample of
Australian school children. Invest. Ophthalmol. Vis. Sci. July 2008 vol. 49 no. 7 2903-
2910 Available from: http://www.iovs.org/content/49/7/2903.full

53
12. Ramadhan, Muhammad. 2011. Hubungan Antara Lamanya Aktivitas Melihat Dekat
dan Miopia Pada Mahasiswa Tingkat IV FK UPN Veteran Jakarta. Fakultas
Kedokteran Universitas Pembangunan Nasional Jakarta
13. Hanum, IF. 2008. Efektivitas penggunaan screen pada monitor computer untuk
mengurangi kelelahan mata pada pekerja call centre di PT. Indosat NSR tahun 2008.
Universitas Sumatera Utara. Medan. Available from:
repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/7048/1/08E00330.pdf
14. Masayuki Tatemichi, Tadashi Nakano, Katsutoshi Tanaka, Takeshi Hayashi, Takeshi
Nawa, Toshiaki Miyamoto, Hisanori Hiro, Minoru Sugita. 2003. Possible association
between heavy computer users and glaucomatous visual field abnormalities: a cross
sectional study in Japanese workers. Available from:
jech.bmj.com/content/58/12/1021.full.pdf
15. Astuti, Pratiwi R. 2008. Korelasi antara menonton televisi dan fungsi retina pada anak.
Available from:
http://www.ui.ac.id/download/kliping/250708/menonton_tv_turunkan_funfun
_retina_mata.pdf
16. S. Seema, V. BM, K. AK, K. Minakshi, G. Manish: Effect of television watching on
vision of school children in Rural Haryana. 2011. Available from:
http://www.ispub.com/journal/the-internet-journal-of-preventivemedicine/ volume-1-
number-1/effect-of-television-watching-on-vision-ofschool-children-in-rural-
haryana.html
17. publikasi.umy.ac.id/index.php/pend-dokter/article/view/.../3997
18. World Health Organization. Global initiative for the elimination of avoidable blindness:
Action Plan 2006-2011. Available from:
http://www.who.int/blindness/Vision2020%20-report.html
19. McCredie Jane, 2008. Outdoor time could cut risk of childhood myopia. Australian
doctor page:3. Available from: http://proquest.umi.com
20. Tan, T. 2004. The future is near: focus on myopia. Singapore Med J 2004 Vol 45(10) :
451. Available from: www.sma.org.sg/smj/4510/4510e1.pdf
21. Midelfart A, Aamo B, Sjohauq KA, Dysthe BE. 2009. Myopia among medical students
in Norway. Acta Opthalmologica; 70:317-322. Available from:
http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/j.1755-3768.1992.tb08571.x/

54
22. Ilyas, Sidarta. 2004. Dasar Teknik Pemeriksaan Dalam Ilmu Penyakit Mata. Jakarta:
Balai Penerbit FK UI
23. Anonymous. 2006. Pedoman Diagnosis dan Terapi Lab/SMF Ilmu Penyakit Mata RSU
Dr. Soutomo. Surabaya: RSU Dr.Soetomo
24. Ilyas, Sidarta. 2005. Penuntun Ilmu Penyakit Mata. Jakarta: Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia
25. Eva PR dan Wihitcher JP. 2009. Vaughan & Asbury: Oftalmologi Umum Ed. 17.
Jakarta: EGC
26. Read SA, Vincent SJ, dan Collins MJ. 2014. The Visual and Functional Impacts of
Astigmastism and Its Clinical Management. OPO (Opthalmic & Physiological Optics).

27. Oliver J dan Cassidy L. 2014. Ophtalmology at a Glance 2nd. New York: Blackwell
Science.
28. James B, Chew C and Bron A. 2011. Lecture Notes on Ophtalmology 11st. New York:
Blackwell Publishing.
29. K. Khurana. 2007. Comprehensive Ophtalmology Fourth Edition: Optics and
Refraction. New Age International (P) limited Publishers.
30. Deborah, Pavan-Langston. 2008. Manual of Ocular Diagnosis and Therapy, 6th Ed:
Refractive Surgery. Philadelphia: Lippincott Williams and Wilkins.
31. Kanski JJ dan Bowling B. 2011. Clinical ophthalmology: A Systemic Appoarch 7th Ed.
London: Elsevier Saunders.

55