Anda di halaman 1dari 9
EVALUASI KEGIATAN POSYANDU DI KABUPATEN BOJONEGORO, JOMBANG, SIKKA DAN CIANJUR Siswanto' dan Nirmala Ma'ruf! ABSTRACT Since economic crisis in 1997 there has baen a slowdown of community based health services, especialy ‘posyandu The study aims fo evaluate ‘posyanc' activities with the approach of input, process and output. This isan evaluative study, withthe design ofa cross-sectional survey. Sample of regencies was selected purposively, ie. Jombang, Bojonegoro, Sika and Cianjur Regencies. Each regency was taken 2 health centers, and then 5 vlages were selected randomly. Each vilage was faken 3 posyandu’ randomly as well. Data were collected by structured questionnaire, in-depth interview and Focus Group Discussion, analyzed in a descriptive way. The study has shown thatthe largest proportion of posyandu's chief was active household wives, with the education level of elementary junior and senior high school. The assessment found the lack of posyandu's appliances (weighting scale, scale pants, healthy cards, SKDN graphs, medicines, and posters), the inadequacy of health contor's and intorssctoral porsonnel’s commitment (supervision of ‘pesyandu’ assigned to vilage midwives), the decline of fve-program posyandu's actives (those routines were underfve weighting, educational food ‘supplementation, and immunization), tho “cline of pasyandu's supporting activities (BKB’, TOGA’, 'UKGMD’, heath fund, etc), as well as, the low achievemen. of posyandu's targets (seen trom SKON indicators and MCH coverage). The study recommends that central and focal government continue fo conduct posyandu's revitalization programs, by strengthening input and process aspects for achieving a better population coverage and performance. Key words: posyandu, evaluative study, input, process, output PENDAHULUAN Posyandu adalah salah satu bentuk kegiatan Berkaitan dengan kinerja posyandu, hasil analisis, Profil Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) yang merupakan kegiatan keterpaduan KB- Kesehatan, dikelola dari, oleh, dan untuk masyarakat (Depkes RI, 1988). Kegiatan posyandu setidaknya terdiri dari lima kegiatan yaitu Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), Keluarga Berencana (KB), peningkatan gizi, imunisasi, dan penanggulangan diare. Secara kuantitas, perkembangan jumiah posyandu cukup menggembirakan, karena di setiap desa ditemukan 3-4 posyandu. Pada saat posyandu dicanangkan tahun 1986, jumlah posyandu tercatat sebanyak 25.000 posyandu, sedangkan pada tahun 2004 telah meningkat menjadi 245.154 posyandu. Namun dari segi kualitas, menyangkut kelengkapan sarana dan ketrampilan kader masin belum memadai (Depkes RI, 2008) (UKBM) pada tahun 2003 menunjukkan bahwa 37.7% posyandu tergolong strata pratama, 36.6% posyandu tergolong strata madya, 21,6% posyandu tergolong strata pumama, dan 4,82% posyandu tergolong strata mandiri, Sejak terjadi krisis ekonomi tahun 1997 telah terjadi penurunan kinerja pelayanan Kesehatan primer, termasuk posyandu (Liberman dan Marzoeki, 1999). Hasil penelitian kinerja posyandu tahun 1999 oleh tiga perguruan tinggi (Universitas Andalas, Universitas Hasanudin, dan Sekolah Tinggi limu Gizi) menghasilkan temuan bahwa i) hanya 40% posyandu yang aktif, i) kurangnya sarana dan prasarana ili) kurangnya kader terlatin, dan iv) rendahnya cakupan kunjungan balita dan ibu hamil (Depkes RI, 2005) i Siswanto ddan Pengembangan Sistem dan Kebijakan Kesehatan, J. Indrapura No. 17, Surabaya 60176 Pusat Penelitan dan Pengembangan Sistem dan Kebjakan Kesehatan ‘Jt Indrapura No. 17, Surabaya 60176 E-maik Siswantos@yahoo.com 300 Evaluasi Kegiatan Posyandu (Siswanto dan Nirmala Ma'ruf) Untuk menyelesaikan masalah menurunnya kinerja posyandu, Pemerintah melalui Departemen Dalam Negeri telah mengeluarkan Surat Edaran Mendagri No. 411.3/1116/SJ tanggal 13 Juni 2001 tentang Pedoman Umum Revitalisasi Posyandu Dalam Surat Edaran tersebut disebutkan lima tujuan revitalisasi posyandu, yaitu i) meningkatkan kualitas kemampuan dan ketrampilan kader posyandu, ji) meningkatkan pengelolaan dan pelayanan posyandu ii) meningkatkan pemenuhan kelengkapan sarana, alat, dan obatdi posyandu, iv) meningkatkan kemitraan dan pemberdayaan masyarakat untuk kesinambungan kegiatan posyandu, dan v) meningkatkan fungsi pendampingan dan kualitas pembinaan posyandu (Depdagri dan Otoda RI, 2001), Penelitian ini bertujuan melakukan evaluasi kegiatan posyandu (secara deskriptif) guna memberikan masukan kepada pengambil kebijakan dan pelaksana di lapangan. Aspek yang dievaluasi meliputi aspek input (masukan), proses, dan output (luaran) dari kegiatan posyandu (Supriyanto, 1988; Hadi dan Mutrofin, 2008). Informasi yang diperoleh dinarapkan dapat menjadi bahan masukan kebijakan ‘maupun perencanaan program revitalisasi posyandu baik oleh Depkes Pusat maupun pemerintah daerah, METODE Peneiian ditaksanakan di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Jawa Timur dan Jawa Barat. Untuk Provinsi Jawa Timur di ambil 2 (dua) Kabupaten yaitu Kabupaten Bojonegoro dan Jombang. Untuk Provinsi NTT diambil Kabupaten Sikka, sedangkan untuk Provinsi Jawa Barat diambil Kabupaten Cianjur Pemilihan lokasi Provinsi ditentukan berdasarkan provinsi yang telah melaksanakan program revitalisasi posyandu setelah konsultasi dengan Direktur Kesehatan Komunitas, Ditjen Bina Kesmas. Penelitian ini merupakan penelitian survei, bersifat potong lintang. Sebagai populasi dalam studi ini adalah semua posyandu di 3 (tiga) Provinsi, yakni Provinsi Jawa Timur, NTT dan Jawa Barat. Untuk Provinsi Jawa Timur dipilin sampel 2 (dua) kabupaten secara purposif, yaitu Kabupaten Jombang dan Bojonegoro, Provinsi NTT dipilin Kabupaten Sikka sesuai permintaan Dinkes Provinsi NTT. Untuk Provinsi Jawa Barat diambil Kabupaten Cianjur. Masing-masing Kabupaten diambil sampel 2 (dua) puskesmas, dimana 1 (satu) puskesmas dekat dengan ibukota kabupaten (urban) dan 1 (satu) puskesmas berada di pedesaan (rura). Selanjutnya, pada setiap puskesmas diambil 5 (lima) desa dengan diundi Dari 5 (lima) desa yang terpilih, masing-masing desa diambil 3 (tiga) posyandu secara diundi pula. Dengan demikian dalam 1 (satu) kabupaten akan terambil sampel sebanyak 30 posyandu, kecuali untuk Kabupaten Cianjur hanya 28 posyandu (2 posyandu drop-out). Jadi total posyandu yang diambil sebagai sampel adalah sebanyak 118 posyandu. Selanjutnya untuk masing-masing posyandu diambil seorang kader ketua posyandu sebagai responden. Unit analisis dalam peneiitian ini adalah posyandu. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni sampai dengan Agustus tahun 2006. Pengumpulan data gilakukan dengan kuesioner yang diisi sendiri oleh kader ketua posyandu, in-depth interview dan Diskusi Kelompok Terarah (DKT). Analisis dilakukan secara deskriptif. HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik responden Dari 118 responden kader ketua posyandu yang ditelt distribusi umumya adalah mayoritas usia 3140 tahun (48,3%), disusul usia 41-60 tahun (22%), usia 21-30 tahun (19,5%), usia 1 tahun keatas (6,5%), dan sisanya usia dibawah 20 tahun (1,7%). Dilihat dari jenis kelaminnya, dari 118 kader kader ketua posyandu yang menjadi responden hanya seorang yang berjenis kelamin laki-laki. Dari aspek tingkat pendidikannya, sebagian besar berpendidikan SLTP (47,5%), disusul SLTA (25,4%), SD (22,9%), dan sebagian kecil D2/sarjana (4.2%). Ditinjau dari jenis pekerjaannya, kader ketua posyandu mayoritas ibu rumah tangga (64,4%), swasta (15,3%), tani (15,3%), dan sebagian kecil aparat desa dan pegawai negeri. Gambaran selengkapnya dapat dilihat pada tabel 1 Distribusi karakteristik responden tersebut mengindikasikan bahwa kader ketua posyandu didominasi ibu-ibu usia produktif (aktif), terbukti 89.8% kader ketua posyandu berusia antara 21-50 tahun. Tingkat pendidikan kader ketua posyandu kebanyakan adalah SD, SLTP dan SLTA (95,8%). Bila dillhat dari pekerjaannya, kebanyakan kader ketua posyandu adalah ibu rumah tangga (64.4%), sisanya adalah swasta, tani, aparat desa dan pegawai negeri 301 Buletin Penelitian Sistem Kesehatan — Vol. 19 No. 4 Oktober 2007; 300-308 ‘Temuan ini mengindikasikan bahwa untuk merekrut kader Kesehatan yang baru sebaiknya dicarikan iibu rumah tanga yang aktif, punya waktu (bukan Pegawai), dan dapat baca tulis (tingkat pendidikan SD, SLTP atau SLTA). Irawati dkk (2005) juga merekomendasikan sebaiknya kader posyandu tidak mempunyai pekerjaan tetap dan setidak-tidaknya tidak drop-out selama setahun. Tabel 1. Karakterisktik responden di Kabupaten Bojonegoro, Jombang, Sikka dan Cianjur, Tahun 2006 Kaktoristk 7 @ ‘Umur (tahun) 3/420 2 an 21-30 23 (19,5) 31-40 87 (48,3) 41-50 26 (22,0) >50 10 @5) lenis ketamin Lakiaki 1 0) Perempuan uz (99,2) Tingkat pendiciken sD 27 (22,9) sure 58 75) SLTA 30 (25.4) oars 5 42) Pekerjaan ‘Aparat Desa 4 es) Ibu RT 76 (644) PNS 2 a6) Swasta 18 (153) Tani 8 (153) Total 118 (1000) Tingkat keaktivan posyandu Untuk melihat tingkat Keaktivan posyandu dapat dilihat dari jumiah kader aktif per posyandu dan rerataumlah penimbangan per tahunnya. Dari empat kabupaten yang diteliti tampak bahwa Kabupaten Sikka mempunyai rerata kader aktif yang mendekati § orang kader per posyandu dan rerata jumlah penimbangan mendekati 12 kali per tahun. Tiga kabupaten lainnya, Bojonegoro, Jombang dan Cianjur, rerata penimbangan per tahunnya kurang dari 12 kali artinya tidak setiap bulan monitoring berat badan balita ‘dapat dilaksanakan. Data selengkapnya dapat dilihat 302 pada tabel 2. Irawati dkk (2005) mengidentifikesi faktor yang berperan terhadap keaktivan posyandu berturut-turut adalah faktor pembina, faktor kader, faktor posyandu, dan faktor pengguna Kelengkapan sarana posyandu Sebagaimana telah dikemukakan bahwa salah satu tujuan revitalisasi posyandu adalah meningkatkan pemenuhan kelengkapan sarana, alat dan obat di posyandu. Dari aspek kelengkapan sarana posyandu, tampak bahwa masih ada sebagian posyandu yang tidak mempunyai dacin dalam kondisi baik (5,9% posyandu dacinnya dalam Kondisi rusak) dan juga tidak punya celana timbang (24,6% posyandu tidak mempunyai celana timbang). Sebagian posyandu juga tidak mempunyai persediaan Kartu Menuju ‘Sehat (KMS)/buku KIA (18,6%) dan lebih tragis lagi hanya 43,2% posyandu yang mempunyai grafik balok ‘SKON. Untuk poster-poster penyuluhan lima program posyandu, hanya sekitar 10%-50% posyandu yang mempunyai poster penanggulangan diare, poster kesehatan lingkungan, poster Kesehatan buril, poster penyuluhan gizi seimbang, poster penanggulangan Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA), dan poster imunisasi. Kondisi tingkat kelengkapan sarana posyandu ini dapat dilhat selengkapnya pada Tabel 3. Hasil klarifikasi mengenai kelengkapan sarana posyaiidu dengan Diskusi Kelompok Terarah (DKT) mengindikasikan bahwa sebagian dacin posyandu kadang dipakai untuk menimbang hasil pertanian Untuk menanggulangi ketiadaan celana timbang, pare kader menggunakan sarung atau jarit, sebagaimana terungkap oleh peserta DKT seperti peryataan berikut “Ya pak. Kadang-kadang ada anggota masyarakal yang memanfeatkan dacin untuk menimbang hasil pertanian. Sebenarnya kite sudah tahu kalau dacin tersebut khusus untuk timbang balita’. DKT di Kabupaten Bojonegoro “Untuk posyandu yang nagak punya celana timbang, biasanya kita memakai sarung atau jarit sebagai pengganti celana timbang. Sarungnya bisa pinjam ‘milk ibu kader atau pinjam Pak Wo (maksudnya Pak Kamituwo)’. DKT di Kabupaten Bojonegoro Evaluasi Kegiatan Posyandu (Siswanto dan Nirmala Maruf) ‘Tabel 2. Rerata jumiah kader aktf per posyandu dan jumiah penimbangan per tahun di Kabupaten Bojonegoro, Jombang, Sikka dan Cianjur, Tahun 2006 Rerata jumlah kader aktif__ Rerata jumlah penimbangan (eerste (Mean + 18D) per tahun Kabupaten Bojonegoro (n=30) 40214 118 Kabupaten Jombang (n=30) 45215 119 Kabupaten Sikka (n=30) 46210 12 Kabupaten Cianjur (n=28) 38214 116 Tabel 3. Tingkat kelengkapan sarana posyandu di Kabupaten Bojonegoro, Jombang, Sika dan Cianjur, Tahun 2006 Kabuy Sarana posyandu Bojonegoro _ Jombang Sika Cianjur 4 Kab. (n=30) (n=30) (n=30) (n=28) (n=118) Timbangan Dacin (kondisi 96.7% 96,7% 100.0% 82,1% 94.1% baik) Colana Timbang 73.3% 70,0% 93,3% 64.3% 754% Persediaan KMS / Buku KIA 78.7% 96.7% 78,7% 75.0% 81,4% Persediaan tablet besi 56.7% 66,7% 78.6% 65.3% Persediaan capsul Vit A 93.3% 83,3% 75.0% 78,0% Persediaan oralit 96.7% 66,7% 92.0% 79.7% Buku register posyandu 86,7% 90,0% 92.0% 92.4% Grafik Balok SKDN. 50,056 46.7% 39.3% 43.2% Poster Penanggulangan diare 30.0% 26.7% 40.0% 50.0% 36.4% Kesehatan lingkungan 16,7% 10.0% 26.7% 42.9% 23,7% Kesehatan bumil 20.0% 33.3% 50,0% 46.4% 37.3% Gizi 30.0% 26.7% 43;3% 42.9% 35.6% Panggulangan ISPA 0.0% 13,3% 23,3% 14.3% 12.7% Imunisasi 53.3% 60,0% 43,3% 67.9% 55,9% Petugas kesehatan yang hadir di posyandu Untuk melihat seberapa besar komitmen petugas kesehatan terhadap kegiatan posyandu, maka dapat dilihat dari petugas kesehatan apa saja yang hadir pada setiap kegiatan posyandu. Dari tabel 4 tampak bahwa pembinaan kegiatan posyandu sebagian besar disupervisi oleh bidan desa. Khusus untuk Kabupaten Sikka dan Kabupaten Cianjur lebih terdapat keberagaman petugas kesehatan yang ‘membina posyandu. Hal ini disebabkan karena untuk dua kabupaten tersebut program puskesmas keliling (pusling) masin berjalan, sehingga ada beberapa posyandu yang dikunjungi oleh tim puskesmas keliling yang terdiri dari beberapa petugas puskesmas. Pendelegasian supervisi posyandu kepada bidan desa ini terungkap dari hasil wawancara mendalam dengan kepala puskesmas, “Semenjak Otonomi Daerah, pembinaan posyandu ‘kta serahkan kepada bidan desa. Tenaga puskesmas lebih diarahkan untuk meningkatkan mutu pelayanan i puskesmas. Kita punya program pelayanan prima, ‘Sesuai dengan tuntutan era otoda, kita gunakan PAD (maksudnya Pendapatan Asli Daerah) sebagai alat advokasi kepada Pemda’. Hasil wawancara mendalam dengan kepala puskesmas di Kabupaten Jombang “Sekarang nggak pernah ada pusling, sejak tahun 1995 pusling sudah nggak ada lagi. Karena masing- masing desa sudah ada bidan desa’. Buletin Penelitian Sistem Kesehatan — Vol. 10 No. 4 Oktober 2007: 300-308 ‘Tabel 4. Jenis petugas puskesmas yang hadir pada kegiatan posyandu di Kabupaten Bojonegoro, Jombang, ‘Sika dan Cianjur, Tahun 2006. eae Total Jonis petugas Bojonegoro Jombang ‘Sika Cianjur oa (0=30) (n=30) (n=30) (n=28) Biden Desa 96.7% 90.0% 86.7% 964% 2.4% Petugas Pustu 10.0% 6.7% 46.7% 14.3% 195% Dokter Puskesmas 0.0% 3.3% 67% 25,0% 85% Bidan Puskesmas 67% 20,0% 16.7% 25.0% 189% Petugas Imunisasi 67% 20.0% 200% 17.9% 186% Petugas Gizi 67% 3.3% 26.7% 179% 136% Petugas Kesling 67% 0.0% 13.3% 10.7% 78% Tabel 5. Jenis petugas lintas sektor yang hadir pada kegiatan posyandu di Kabupaten Bojonegoro, Jombang, Sikke dan Cianjur, Tahun 2006 ‘Kabupaten Jonta Pats a i a a (n=30) (n=30) (n=30) (n=28) a sx “ak ax ae ara Pengus PRK Desa ae mae arya Hasil DKT, salah satu bidan di Kabupaten Bojonegoro. “Di sini kita masih punya program pusling. Tenaga puskesmas kita bagi kedalam empat tim pusling yang membina posyandu, sesuai dengan tanggung jawab wilayah desa binaan. Anggaran kegiatan pusiing diambilkan dari program Askeskin” Hasil wawancara mendalam dengan kepala puskesmas di Kabupaten Sikka Personil Lintas Sektor yang hadir di posyandu Kegiatan posyandu pada awainya adalah kegiatan yang bersifat dari, ofeh dan untuk masyarakat, yang pembinaannya bersifat lintas sektoral, khususnya Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) dan Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB). Untuk melihat komitmen PKK dan PLKB dalam membina posyandu, maka dapat dilihat prosentase kehadiran PKK dan PLKB pada kegiatan posyandu, seperti pada tabel 5. Dari tabel tersebut tampak bahwa dari 4 kabupaten yang ditelit, Kabupaten Jombang dan Kabupaten Cianjur PLKB-nya masih cukup aktif untuk membina Posyandu, sementara untuk Kabupaten Bojonegoro dan Kabupaten Sikka PLKB- nya sudah tidak begitu aktif membina posyandu. Untuk pengurus PKK Desa, tingkat kehadirannya 304 ‘antara 26,7%-57, 1%; dengan kata lain pengurus PKK tidak solalu hadir pada setiap kegiatan posyandu Jenis kegiatan posyandu Jenis kegiatan posyandu yang meliputi KIA, KB, Gizi, Imunisasi dan Penanggulangan Diare untuk empat Kabupaten yang ditaliti adalah tampak pada tabel 6. Dari tabel tersebut tampak bahwa jenis kegiatan posyandu yang selalu dilaksanakan adalah penimbangan balita (100%), kemuudian disusul dengan kegiatan PMT penyuluhan (97,5%) dan imunisasi bayi (91,5%). Untuk kegiatan KB, KIA, dan penanggulangan diare jauh di bawah 100%. Hal ini terjadi karena pada beberapa posyandu, bidan desa ‘menganjurkan untuk periksa ibu hamil,ibu nifas, dan pelayanan KB di polindes, sebagaimana terungkap dari hasil wawancara mendalam dengan salah satu kader kesehatan. “Karena di posyandu sarana pemeriksaan dan obat-obatan tidak lengkap, bu bidan menganjurkan pemeniksaan ibu hamil dan pelayanan KB datang i polindes”. Hasil wawancara mendalam dengan salah satu kader posyandu. Evaluasi Kegiatan Posyandu (Siswanto dan Nirmala Ma‘ruf) Tabel 6. Jenis kegiatan posyandu di Kabupaten Bojonegoro, Jombang, Sika dan Cianjur, Tahun 2006 abupaion as JenisKegiatan Boleros —Jombang Ra Canara (oe30) mat) st) Regiaian RR Fenbangan 88 bum! 87% 639% seam Thaw sa Pemeraon bum! sah 787k Saga Pemberan Fe burt s™% 00% =a oe Pemenksan bu ifs 2% Soke = Bhawan Kegatan Git Bata enmbangan 8 blta 1000% 100% 000% —to00% ——_to00% Deieksitunbunkembarg bata ‘sam = ‘soox asm “Suomen PT penythan 87% 1000% © tooom aera Kegitan KB KB kendo 27% = ABT «100% aw aa rept “00% = Sareea aha Xe auntk “00% = ea3% =k = TeOK aha Keita russ ruven bum 700% 700% ~—=«s00K aa = raH imunaal bey 1000% 100% Tom =a oten Pomberan lt untuk dare wr "7oa% aH tO soot Tabel 7. Kegiatan pendukung posyandu di Kabupaten Bojonegoro, Jombang, Sikka dan Cianjur, Tahun 206 Joni Kesitan Baenaga cane (n=30) (n=28) Bia Koa Baia om ora B00 exia Zon ame aah oxo ‘ove am Ban roca soon Toe soon Tabatn 32% aoe tae Sana Seat 0 aie aT Jenis kegiatan pendukung posyandu Di samping lima kegiatan posyandu, yakni KIA, KB, Gizi, Imunisasi dan Penanggulangan Diare, ada juga kegiatan lain sebagai pendukung kegiatan Posyandu, yaitu Bina Keluarga Balita, Kelompok Peminat Kesehatan Ibu dan Anak (KP-KIA), Usaha Kesehatan Gigi Masyarakat Desa (UKGMD), Taman Obat Keluarga (TOGA), Tabungan Ibu Bersalin (Tabulin), dan Dana Sehat Dari tabel 7 tampak bahwa beberapa kegiatan pendukung posyandu masih berjalan tetapi tidak optimal, seperti Bina Keluarga Balita (50%), TOGA (60%), dan Dana Sehat (47,5%). Untuk kegiatan lainnya seperti UKGMD, KP-KIA dan Tabulin, prosentasenya berkisar antara 10-30%. Proses kegiatan posyandu Untuk melihat bagaimana kegiatan posyandu dilaksanakan, yang menyangkut tempat kegiatan, Penylapan tempat, undangan, dan bentuk-bentuk PMT yang diselenggarakan, dapat dilihat pada tabel 8. Tempat kegiatan posyandu antar kabupaten cukup bervariasi, kebanyakan tempat kegiatan posyandu menggunakan rumah warga, rumah kepala dusun/ desa dan balai RW, namun khusus Kabupaten Sikka dan Kabupaten Cianjur masing-masing sekitar 76,7% dan 25% posyandu menggunakan “bangunan khusus’ yang dibangun secara swadaya oleh masyarakat. Penyiapan tempat posyandu kebanyakan dikerjakan oleh kader kesehatan (76,3%), sebagai pelaksana kegiatan posyandu, sementara sisanya oleh kepala 305 Buletin Penelitian Sistem Kesehatan — Vol. 10 No. 4 Oktober 2007: 300-308 Tabel 8. Tempat kegiatan, penyiapan, undangan, dan jenis PMT yang diberikan di posyandu di Kabupaten Bojonegoro, Jombang, Sikka dan Cianjur, Tahun 2006 Kabupaten Mbacricrsuit Sapa aaa eee mae a eee eee. eee peace ST tee ah ee ay ee ehae sae Se aN ee oa a sO ae ema netig sea ore ate an ae caaiieris te a See ee ventana Kova boa soos 3h oom. ams ra en haus ae ee. ae ae oor mek to come MOOR eee cal rca cinoen cians sone et aay aan. isi eur Sx” aoe) cae eae poll Pe ee om oe i ago = aire. et he alae aur oe. ee ae ee a coe ee Soom moa a eye Bain roar pNP ccs mine. one onayhtii Soon i a ee ee se —> lege Ne =~ vette aa Begone aa ik ae ee ee itp fc ee ee ee desa dan kepala dusun. Untuk menghadirkan ibu balita, hanya sebagian kecil yang menggunakan surat undangan (24.6%), sebagian besartidakmenggunakan undangan, yakni berdasarkan kesepakatan tanggal atau dengan menggunakan ‘kenthongan’. Bentuk PMT yang paling sering diberikan adalah kacang hijau (95,6%) dan telur (59,3%). Biaya untuk PMT terbanyak berasal dari bantuan PKK (40.7%) dan bantuan desa (33.1%). Khusus untuk Kabupaten Sikka biaya PMT terbanyak berasal dari iuran ibu balita (63,3%) ‘Cakupan kegiatan posyandu Cakupan SKDN Indikator yang dipakai dalam program perbaikan gizi adalah SKDN. S adalah semua balita yang ada 308 di wilayah kerja posyandu, K adalah semua balita di wilayah kerja posyandu yang mempunyai KMS atau Buku KIA; D adalah semua balita di wilayah kerja posyandu yang ditimbang, sedangkan N adalah jumiah balita di wilayah kerja posyandu yang naik timbangannya menurut pita warna KMS. Gambaran indikator SKDN tersebut terdapat pada Tabel 9. Dalam indikator SKDN tersebut tampak bahwa untuk keempat kabupaten rerata K/S adalah sebesar 87%, DIS 80% dan N/D 65%. Bila dilinat masing-masing kabupaten, maka Kabupaten Cianjur D/S-nya baru mencapai60%, sementara untuk keempat kabupaten NID berkisar antara 60-70%. Hal ini menunjukkan bahwa antara 30-40% dar balita yang ditimbang tidak naik berat badannya, Evaluasi Kegiatan Posyandu (Siswanto dan Nirmala Ma‘ruf) Tabel 9. Indikator SKON di di Kabupaten Bojonegoro, Jombang, Sika dan Cianjur, Tahun 2006 Kabupaten. IndatorSKON Sarason —Jantang Ska Gar — 70 feat) oes) et) Sa ain pons S$ s8- Ves’ ana Spe’ — 6 Surah baltayangpanye KMS 16884881 t2r3 zat ans atau Buku KIA (K) Simian altayangatmang(0) «1588157 tz 12086 Soa alta yang nak 88 ota m8 a7 te ‘menurut pita KMS (N) xs wh taka os a rr NB om eee Tabel 10. Cakupan Kegiatan KIA Pada Posyandu di Kabupaten Bojonegoro, Jombang, Sikka dan Cianjur, Tahun 2006 Kabupaten JenisKepatan Bojpnegow —ombang Ska ——Canur— al, oa) awa)” (ned) Ge) Ties wasn Bar tae aaa Sma bur yang aa a Hi tt Proper uni yang ned newt Shion sear as x is seat Nese ns yr ce 8 a Fy nie Proporlnfsyong ad ee ee Soh saaren bu mens se Tees 28 Snah bs erp yang a 0 esta Prepon eral ng ha aim eee tems Cakupan kegiatan Kesehatan Ibu dan Anak Di samping indikator SKDN, dalam penelitian ini juga dilihat cakupan kegiatan KIA. Gambaran cakupan kegiatan KIA disajikan pada tabel 10 Untuk kegiatan KIA terlihat bahwa cakupannya berkisar antara 56% (pemeriksaan bumil) sampai dengan 90% (pemeriksaan buteki). Untuk kegiatan pemeriksaan bumil (ANC) cakupannya hanya 56%. Hal ini disebabkan karena bidan desa banyak yang ‘menganjurkan agar bumil periksa dipolindes. Cakupan ibu menyusui sebesar 80%; hal ini disebabkan karena ibu menyusui hadir bersama dengan bayinya ke Posyandu untuk keperiuan penimbangan. Masalah rendahnya cakupan kegiatan posyandu baik indikator SKDN maupun cakupan KIA harus didekati secara lintas sektor mulai dari pemerintah pusat sampai dengan desalkelurahan (Tasiim, 2005). Artinya harus ada koritmen dari setiap level pemerintahan untuk mendukung kegiatan posyandu. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Proporsiterbesar kader ketua posyandu adalah ibu rumah tangga usia produkt (aktif) yang mempunyai tingkat pendidikan SD, SLTP dan SLTA. Dari aspek kelengkapan sarana, tampak bahwa ada sebagian posyandu kondisi dacinnya rusak dan tidak mempunyai celana timbang, tidak mempunyai persediaan KMS! buku KIA dan grafik balok SKDN, termasuk poster enyuluhan lima program posyandu. Kecuali Kabupaten Sikka, tiga kabupaten lainnya, yakni Bojonegoro, Jombang dan Cianjur, rerata Penimbangan per tahun kurang dari 12 kali dan rerata jumiah kader aktifmya kurang dari5 orang. Pembinaan kegiatan posyandu sebagian besar disupervisi oleh bidan desa. Jenis kegiatan posyandu yang selalu ada adalah penimbangan balita, kemudian kegiatan PMT penyuluhan dan imunisasi bayi (di atas 90%), Untuk kegiatan KB, KIA, dan penanggulangan diare 307 Buletin Penelitian Sistem Kesehatan — Vol. 10 No. 4 Oktober 2007: 300-308 tidak berjalan 100%, karena kebanyakan bidan desa menganjurkan periksa di polindes. Kegiatan pendukung posyandu yang masih berjalan tetapi tidak optimal adalah Bina Keluarga Balita, TOGA dan Dana Sehat. Untuk kegiatan seperti UKGMD. KP-KIA, UPPK dan Tabulin, prosentasenya berkisar antara 10-30% ‘Tempat kegiatan posyandu antar kabupaten cukup bervariasi, kebanyakan tempat kegiatan posyandu menggunakan rumah warga, rumah kepala dusun/ desa dan balai RW, namun khusus Kabupaten Sika menggunakan “bangunan khusus" yang dibangun secara swadaya olen masyarakat. Penyiapan tempat posyandu kebanyakan dikerjakan oleh kader kesehatan. Indikator SKDN sebagai parameter cakupan kegiatan gizi tidak menggembirakan (kurang dari target) Saran Studi ini menyarankan agar baik Pemerintah Pusat maupun daerah meneruskan upaya revitalisasi posyandu dengan menekankan pada aspek masukan (kelengkapan sarana posyandu, kader yang kompeten, dan komitmen SDM pembina posyandu), aspek proses (kembali pada lima program KB-Kesehatan), dan aspek luaran (pencapaian sasaran dan target 308 kegiatan). Agar masyarakat lebih bergairah bisa ‘saja dilakukan inovasi kegiatan posyandu, misalnya dengan pengayaan kegiatan posyandu. DAFTAR PUSTAKA Indonesia. Departemen Dalam Negeri. Depdagri, 2001 ‘Surat Edaran Mentori Dalam Nogori No. 411.3/1116/ SJ tanggal 13 Juni 2001 tentang Pedoman Umum Revitalisasi Posyandy, Jakarta, ‘Indonesia. Departemen Kesehatan , 1988. Buku Pegangan ‘Kader Upaya Perbaikan Gizi Keluarga, Jakarta Indonesia. Departemen Kesehatan RI, 2005. Pedoman Pengelolaan Posyandu, Jakarta Hadi, S dan Mutrofin, 2005. Pengantar Metodologi Riset Evaluasi, Yoayakarta: Kurnia Kalam Semesta. lrawatiA dkk, 2005. Penelitian Kajian Revitalisasi Posyandu pada Masyarakat Nelayan dan Petani di Provinsi Jawa Barat, Bogor: Puslitbang Gizi dan Makanan, Liberman S.S dan Marzoeki, 1999. Health Strategy in a Post-Crisis, Decentralizing Indonesia, World Bank Paper, World Bank ‘Supriyanto S., 1988. Evaluasi Bidang Kesehatan, Surabaya: Brata Jaya Ofiset. ‘Taslim N.A., 2005. Kontroversi Seputar Giei Buruk: Apakah Ketidakberhasilan Departemen Kesehatan?, Akses internet htiov/vaww gigi net