Anda di halaman 1dari 30

LAPORAN PENDAHULUAN

KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS

DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SUNGAI ULIN

Tanggal 21 s.d 26 Agustus 2017

Oleh :
Arief Hidayat,S. Kep
NIM. 1630913310004

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

2017
LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN PENDAHULUAN

KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS

DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SUNGAI ULIN

Tanggal 21 s.d 26 Agustus 2017

Oleh :
Arief Hidayat,S. Kep
NIM. 1630913310004

Banjarbaru, Agustus 2017

Mengetahui,

Pembimbing Akademik Pembimbing Lahan

Kurnia Wati, S. Kep., Ns., M. Kep. Hj. Laraswati, S.Kep, Ns


NIP. 19791205 200604 2 002 NIP. 19720425 200604 2 001
1. KONSEP KEPERAWATAN KOMUNITAS
A. Pengertian
Keperawatan Kesehatan Komunitas adalah pelayanan keperawatan profesional
yang ditujukan kepada masyarakat dengan penekanan pada kelompok resiko tinggi,
dalam upaya pencapaian derajat kesehatan yang optimal melalui pencegahan penyakit
dan peningkatan kesehatan, dengan menjamin keterjangkauan pelayanan kesehatan
yang dibutuhkan, dan melibatkan klien sebagai mitra dalam perencanaan pelaksanaan
dan evaluasi pelayanan keperawatan. (Pradley, 1985; Logan dan Dawkin, 1987).
B. Asumsi Dan Kepercayaan Terhadap Perawatan Kesehatan Komunitas Menurut
ANA (American Nurses Association)
1) Asumsi
Sistem pemeliharaan yang kompleks.
a. Komponen sistem pemeliharaan kesehatan primer, sekunder dan tersier.
b.Perawatan subsistem pemeliharaan kesehatan dan produk pendidikan dasar praktek
penelitian.
c. Pemeliharaan kesehatan primer lebih menonjol dari sekunder dan tersier.
d.Perawatan kesehatan menyangkut setting pemeliharaan kesehatan primer.
2) Kepercayaan
a. Pemeliharaan kesehatan harus memadai dan diterima semua orang.
b.Orang yang menerima asuhan harus dilibatkan.
c. Perawat sebagai pemberi dan klien sebagai konsumen pelayanan kesehatan.
d.Lingkungan berdampak terhadap kesehatan populasi dan individu.
e. Pencegahan penyakit bagian esensial dari peningkatan kesehatan.
f. Kesehatan sebagai proses menyangkut kehidupan dalam jangka waktu yang lama.
g.Klien hanya anggota tetap dari tim pemeliharaan kesehatan.
h.Individu dalam sistem kesehatan masyarakat bertanggung jawab secara mandiri dan
aktif berpartisipasi dalam pemeliharaan kesehatan.
C. Falsafah Keperawatan Komunitas
Berdasarkan pada asumsi dasar dan keyakinan yang mendasar tersebut, maka
dapat dikembangkan falsafah keperawatan komunitas sebagai landasan praktik
keperawatan komunitas. Dalam falsafah keperawatan komunitas, keperawatan
komunitas merupakan pelayanan yang memberikan perhatian terhadap pengaruh
lingkungan (bio-psiko-sosio-kultural-spiritual) terhadap kesehatan komunitas dan
membrikan prioritas pada strategi pencegahan penyakit dan peningkatan kesehatan.
Falsafah yang melandasi keperawatan komunitas mengacu kepada paradigma
keperawatan yang terdiri dari 4 hal penting, yaitu: manusia, kesehatan, lingkungan dan
keperawatan sehingga dapat dirumuskan sebagai berikut:
1) Pelayanan keperawatan kesehatan masyarakat adalah pekerjaan yang luhur dan
manusiawi yang ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat.
2) Perawatan kesehatan masyarakat adalah suatu upaya berdasarkan kemanusiaan
untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan bagi terwujudnya manusia
yang sehat khususnya dan masyarakat yang sehat pada umumnya.
3) Pelayanan perawatan kesehatan masyarakat harus terjangkau dan dapat diterima
oleh semua orang dan merupakan bagian integral dari upaya kesehatan.
4) Upaya preventif dan promotif merupakan upaya pokok tanpa mengabaikan upaya
kuratif dan rehabilitatif.
5) Pelayanan keperawatan kesehatan masyarakat yang diberikan berlangsung secara
berkesinambungan.
6) Perawatan kesehatan masyarakat sebagai provider dan klien sebagai consumer
pelayanan keperawatan dan kesehatan, menjamin suatu hubungan yang saling
mendukung dan mempengaruhi perubahan dalam kebijaksanaan dan pelayanan
kesehatan ke arah peningkatan status kesehatan masyarakat.
7) Pengembangan tenaga keperawatan kesehatan masyarakat direncanakan secara
berkesinambungan dan terus-menerus.
8) Individu dalam suatu masyarakat ikut bertanggung jawab atas kesehatannya, ia
harus ikut dalam upaya mendorong, mendidik dan berpartisipasi aktif dalam
pelayanan kesehatan mereka sendiri.
Komunitas Dengan Keluarga Sebagai
Unit Pelayanan Dasar.

MANUSIA

KEPERAWATAN KESEHATAN
(SEHAT - SAKIT)
(LEVEL 3
PENCEGAHAN)

LINGKUNGAN

(Physic, Biologic, Psychologist,


Social, Cultural, Dan Spiritual.

Gambar 2.1 : Paradigma / Falsafah Keperawatan Komunitas

Berdasarkan gambar di atas, dapat dijabarkan masing-masing unsur sbg berikut :


1. Manusia.
Komunitas sebagai klien berarti sekumpulan individu / klien yang berada pada lokasi
atau batas geografi tertentu yang memiliki niliai-nilai, keyakinan dan minat yang relatif
sama serta adanya interaksi satu sama lain untuk mencapai Tujuan. Komunitas
merupakan sumber dan lingkungan bagi keluarga, komunitas, Komunitas sebagai klien
yang dimaksud termasuk kelompok resiko tinggi antara lain: daerah terpencil, daerah
rawan, daerah kumuh.
2. Kesehatan.
Sehat adalah suatu kondisi terbebasnya dari gangguan pemenuhan kebutuhan dasar
klien / komunitas. Sehat merupakan keseimbangan yang dinamis sebagai dampak dari
keberhasilan mengatasi stressor.
3. Lingkungan.
Semua factor internal dan eksternal atau pengaruh disekitar klien yang bersifat biologis,
psikologis, social, cultural dan spiritual.
4. Keperawatan.
5. Intervensi / tindakan yang bertujuan untuk menekan stressor, melalui pencegahan
primer, sekunder dan tersier. Berdasarkan falsafah di atas maka dikembangkan : tujuan,
sasaran dan strategi intervensi keperawatan komunitas.
D. Tujuan Keperawatan Kesehatan Komunitas
1) Tujuan Umum
Meningkatkan kemampuan masyarakat untuk hidup sehat sehingga tercapai derajat
kesehatan yang optimal agar dapat menjalankan fungsi kehidupan sesuai dengan
kapasitas yang mereka miliki.
2) Tujuan Khusus
Untuk meningkatkan berbagai kemampuan individu, keluarga, kelompok khusus dan
masyarakat dalam hal:
a. Mengidentifikasi masalah kesehatan dan keperawatan yang dihadapi.
b.Menetapkan masalah kesehatan/keperawatan dan prioritas masalah.
c. Merumuskan berbagai alternatif pemecahan masalah kesehatan/ keperawatan.
d.Menanggulangi masalah kesehatan/keperawatan yang mereka hadapi.
e. Penilaian hasil kegiatan dalam memecahkan masalah kesehatan/ keperawatan.
f. Mendorong dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pelayanan
kesehatan/keperawatan.
g.Meningkatkan kemampuan dalam memelihara kesehatan secara mandiri (self care).
h.Menanamkan perilaku sehat melalui upaya pendidikan kesehatan.
i. Menunjang fungsi puskesmas dalam menurunkan angka kematian bayi, ibu dan balita
serta diterimanya norma keluarga kecil bahagia dan sejahtera.
j. Tertanganinya kelompok-kelompok resiko tinggi yang rawan terhadap masalah
kesehatan.
E. Sasaran
Sasaran perawatan kesehatan komunitas adalah individu, keluarga, kelompok dan
masyarakat, baik yang sehat maupun yang sakit yang mempunyai masalah
kesehatan/perawatan.
1) Individu
Individu adalah bagian dati anggota keluarga. Apabila individu tersebut mempunyai
masalah kesehatan/keperawatan karena ketidakmampuan merawat diri sendiri oleh
suatu hal dan sebab, maka akan dapat mempengaruhi anggota keluarga lainnya baik
secara fisik, mental maupun sosial.
2) Keluarga
Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat, terdiri atas kepala keluarga,
anggota keluarga lainnya yang berkumpul dan tinggal dalam suatu rumah tangga
karena pertalian darah dan ikatan perkawinan atau adopsi, satu dengan lainnya
saling tergantung dan berinteraksi. Bila salah satu atau beberapa anggota keluarga
mempunyai masalah kesehatan/keperawatan, maka akan berpengaruh terhadap
anggota keluarga lainnya dan keluarga-keluarga yang aada di sekitarnya.
3) Kelompok Khusus
Kelompok hkusus adalah kumpulan individu yang mempunyai kesamaan jenis
kelamin, umur, permasalahan, kegiatan yang terorganisasi yang sangat rawan
terhadap masalah kesehatan. Termasuk diantaranya adalah:
- Kelompok khusus dengan kebutuhan khusus sebagai akibat perkembangan dan
pertumbuhannya, seperti;
a. Ibu hamil
b. Bayi baru lahir
c. Balita
d. Anak usia sekolah
e. Usia lanjut
- Kelompok dengan kesehatan khusus yang memerlukan pengawasan dan
bimbingan serta asuhan keperawatan, diantaranya adalah:
a. Penderita penyakit menular, seperti TBC, lepra, AIDS, penyakit kelamin
lainnya.
b. Penderita dengan penynakit tak menular, seperti: penyakit diabetes mellitus,
jantung koroner, cacat fisik, gangguan mental dan lain sebagainya.
- Kelompok yang mempunyai resiko terserang penyakit, diantaranya:
a. Wanita tuna susila
- Kelompok penyalahgunaan obat dan narkoba
- Kelompok-kelompok pekerja tertentu, dan lain-lain.
- Lembaga sosial, perawatan dan rehabilitasi, diantaranya adalah:
o Panti wredha
o Panti asuhan
o Pusat-pusat rehabilitasi (cacat fisik, mental dan sosial)
o Penitipan balita
4) Masyarakat
Masyarakat adalah sekelompok manusia yang hidup dan bekerjasama cukup
lama sehingga mereka dapat mengatur diri mereka dan menganggap diri mereka
sebagai satu kesatuan sosial dengan batas-batas yang telah ditetapkan dengan
jelas. Masyarakat merupakan kelompok individu yang saling berinteraksi,
saling tergantung dan bekerjasama untuk mencapai tujuan. Dalan berinteraksi
sesama anggota masyarakat akan muncul banyak permasalahan, baik
permasalahan sosial, kebudayaan, perekonomian, politik maupun kesehatan
khususnya.
F. Strategi
Strategi intervensi keperawatan komunitas meliputi :
1) Proses kelompok.
2) Pendidikan kesehatan.
3) Kerja sama (partnership).
G. Ruang Lingkup Perawatan Komunitas
Ruang lingkup praktik keperawatan komunitas meliputi: upaya-upaya peningkatan
kesehatan (promotif), pencegahan (preventif), pemeliharaan kesehatan dan pengobatan
(kuratif), pemulihan kesehatan (rehabilitatif) dan mengembalikan serta memfungsikan
kembali baik individu, keluarga, kelompok dan masyarakat ke lingkungan sosial dan
masyarakatnya (resosialisasi). Dalam memberikan asuhan keperawatan komunitas,
kegiatan yang ditekankan adalah upaya preventif dan promotif dengan tidak
mengabaikan upaya kuratif, rehabilitatif dan resosialitatif.
1. Upaya Promotif
Upaya promotif dilakukan untuk meningkatkan kesehatan individu, keluarga,
kelompok dan masyarakat dengan jalan memberikan:
a. Penyuluhan kesehatan masyaraka
b. Peningkatan gizi
c. Pemeliharaan kesehatan perseorangan
d. Pemeliharaan kesehatan lingkungan
e. Olahraga secara teratur
f. Rekreasi
g. Pendidikan seks.
2. Upaya Preventif
Upaya preventif ditujukan untuk mencegah terjadinya penyakit dan gangguan
terhadap kesehatan individu, keluarga, kelompok dan masyarakat melalui kegiatan:
a. Imunisasi massal terhadap bayi, balita serta ibu hamil
b. Pemeriksaan kesehatan secara berkala melalui posyandu, puskesmas maupun
kunjungan rumah
c. Pemberian vitamin A dan yodium melalui posyandu, puskesmas ataupun di
rumah.
d. Pemeriksaan dan pemeliharaan kehamilan, nifas dan menyusui.
3. Upaya Kuratif
Upaya kuratif ditujukan untuk merawat dan mengobati anggota-anggota keluarga,
kelompok dan masyarakat yang menderita penyakit atau masalah kesehatan,
melalui kegiatan:
a. Perawatan orang sakit di rumah (home nursing)
b. Perawatan orang sakit sebagai tindak lanjut perawatan dari puskesmas dan
rumah sakit
c. Perawatan ibu hamil dengan kondisi patologis di rumah, ibu bersalin dan nifas
d. Perawatan payudara
e. Perawatan tali pusat bayi baru lahir.
4. Upaya Rehabilitatif
Upaya rehabilitatif merupakan upaya pemulihan kesehatan bagi penderita-penderita
yang dirawat di rumah, maupun terhadap kelompok-kelompok tertentu yang
menderita penyakit yang sama, misalnya kusta, TBC, cacat fisik dan lainnya.,
dilakukan melalui kegiatan:
a. Latihan fisik, baik yang mengalami gangguan fisik seperti penderita kusta,
patah tulang maupun kelainan bawaan
b. Latihan-latihan fisik tertentu bagi penderita-penderita penyakit tertentu,
misalnya TBC, latihan nafas dan batuk, penderita stroke: fisioterapi manual
yang mungkin dilakukan oleh perawat.
5. Upaya Resosialitatif
Upaya resosialitatif adalah upaya mengembalikan individu, keluarga dan kelompok
khusus ke dalam pergaulan masyarakat, diantaranya adalah kelompok-kelompok
yang diasingkan oleh masyarakat karena menderita suatu penyakit, misalnya kusta,
AIDS, atau kelompok-kelompok masyarakat khusus seperti Wanita Tuna Susila
(WTS), tuna wisma dan lain-lain. Di samping itu, upaya resosialisasi meyakinkan
masyarakat untuk dapat menerima kembali kelompok yang mempunyai masalah
kesehatan tersebut dan menjelaskan secara benar masalah kesehatan yang mereka
derita. Hal ini tentunya membutuhkan penjelasan dengan pengertian atau batasan-
batasan yang jelas dan dapat dimengerti.
H. Peran Perawat Komunitas (Provider of Nursing Care)
Banyak peranan yang dapat dilakukan oleh perawat kesehatan masyarakat diantaranya
adalah:
1. Penyedia pelayanan (Care provider)
Memberikan asuhan keperawatan melalui mengkaji masalah keperawatan yang
ada, merencanakan tindakan keperawatan, melaksanakan tindakan keperawatan dan
mengevaluasi pelayanan yang telah diberikan kepada individu, keluarga, kelompok dan
masyarakat.
2. Pendidik dan konsultan (Educator and Counselor)
Memberikan pendidikan kesehatan kepada individu, keluarga, kelompok dan
masyarakat baik di rumah, puskesmas, dan di masyarakat secara terorganisir dalam
rangka menanamkan perilaku sehat, sehingga terjadi perubahan perilaku seperti yang
diharapkan dalam mencapai derajat kesehatan yang optimal.
Konseling adalah proses membantu klien untuk menyadari dan mengatasi tatanan
psikologis atau masalah sosial untuk membangun hubungan interpersonal yang baik
dan untuk meningkatkan perkembangan seseorang. Di dalamnya diberikan dukungan
emosional dan intelektual.
3. Role Model
Perawat kesehatan masyarakat harus dapat memberikan contoh yang baik dalam
bidang kesehatan kepada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat tentang
bagaimana tata cara hidup sehat yang dapat ditiru dan dicontoh oleh masyarakat.
4. Advokasi (Advocate)
Pembelaan dapat diberikan kepada individu, kelompok atau tingkat komunitas.
Pada tingkat keluarga, perawat dapat menjalankan fungsinya melalui pelayanan sosial
yang ada dalam masyarakat. Seorang pembela klien adalah pembela dari hak-hak klien.
Pembelaan termasuk di dalamnya peningkatan apa yang terbaik untuk klien,
memastikan kebutuhan klien terpenuhi dan melindungi hak-hak klien (Mubarak, 2005).
5. Manajer kasus (Case Manager)
Perawat kesehatan masyarakat diharapkan dapat mengelola berbagai kegiatan
pelayanan kesehatan puskesmas dan masyarakat sesuai dengan beban tugas dan
tanggung jawab yang dibebankan kepadanya.
6. Kolaborator
Peran perawat sebagai kolaborator dapat dilaksanakan dengan cara bekerjasama
dengan tim kesehatan lain, baik dengan dokter, ahli gizi, ahli radiologi, dan lain-lain
dalam kaitannya membantu mempercepat proses penyembuhan klien. Tindakan
kolaborasi atau kerjasama merupakan proses pengambilan keputusan dengan orang lain
pada tahap proses keperawatan. Tindakan ini berperan sangat penting untuk
merencanakan tindakan yang akan dilaksanakan (Mubarak, 2005).
7. Perencana tindak lanjut (Discharge Planner)
Perencanaan pulang dapat diberikan kepada klien yang telah menjalani perawatan
di suatu instansi kesehatan atau rumah sakit. Perencanaan ini dapat diberikan kepada
klien yang sudah mengalami perbaikan kondisi kesehatan.
8. Penemu masalah kesehatan (Case Finder)
Melaksanakan monitoring terhadap perubahan-perubahan yang terjadi pada
individu, keluarga, kelompok dan masyarakat yang menyangkut masalah-masalah
kesehatan dan keperawatan yang timbul serta berdampak terhadap status kesehatan
melalui kunjungan rumah, pertemuan-pertemuan, observasi dan pengumpulan data.
9. Koordinator pelayanan kesehatan (Coordinator of Services)
Peran perawat sebagai koordinator antara lain mengarahkan, merencanakan dan
mengorganisasikan pelayanan kesehatan yang diberikan kepada klien. Pelayanan dari
semua anggota tim kesehatan, karena klien menerima pelayanan dari banyak
profesional (Mubarak, 2005).
10. Pembawa perubahan atau pembaharu dan pemimpin (Change Agent and Leader)
Pembawa perubahan adalah seseorang atau kelompok yang berinisiatif merubah
atau yang membantu orang lain membuat perubahan pada dirinya atau pada sistem.
Marriner torney mendeskripsikan pembawa peubahan adalah yang mengidentifikasikan
masalah, mengkaji motivasi dan kemampuan klien untuk berubah, menunjukkan
alternative, menggali kemungkinan hasil dari alternatif, mengkaji sumber daya,
menunjukkan peran membantu, membina dan mempertahankan hubungan membantu,
membantu selama fase dari proses perubahan dan membimbing klien melalui fase-fase
ini (Mubarak, 2005).
11. Pengidentifikasi dan pemberi pelayanan komunitas (Community Care Provider and
Researcher)
Peran ini termasuk dalam proses pelayanan asuhan keperawatan kepada
masyarakat yang meliputi pengkajian, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi masalah
kesehatan dan pemecahan masalah yang diberikan. Tindakan pencarian atau
pengidentifikasian masalah kesehatan yang lain juga merupakan bagian dari peran
perawat komunitas.
I. Kegiatan Praktek Keperawatan Komunitas
Kegiatan praktek keperawatan komunitas yang dilakukan perawat mempunyai lahan
yang luas dan tetap menyesuaikan dengan tingkat pelayanan kesehatan, wilayah kerja
perawat tetapi secara umum kegiatan praktek keperawatan komunitas adalah sebagai
berikut:
1) Tahap Persiapan:
- Pembekalan dari departemen komunitas dan dinas kesehatan tentang program
praktek.
- Penjajakan ke daerah, meliputi wilayah, sistem dalam komunitas, masalah dan
kesehatan utama.
- Penyusunan instrumen data.
- Uji coba instrumen pengumpulan data.
- Pertemuan awal dengan komunitas dan keluarga untuk perkenalan, penjelasan
program praktek dan mengadakan kontrak dengan komunitas.
- Melaksanakan pendataan dengan melibatkan tokoh-tokoh dan kader kesehatan
setempat.
- Melakukan tabulasi data, menganalisa data dengan pendekatan demografi,
epidemiologi dan statistik serta membuat visualisasi/penyajian data.
- Mengidentifikasi pra musyawarah komunitas: menyusun kepanitiaan,
menyiapkan dan melatih masyarakat yang akan terlibat dalam musyawarah dan
menyebarkan undangan.
- Melaksanakan musyawarah komunitas tingkat RW:
- Penyajian data hasil pengkajian kesehatan masyarakat
- Diskusi kelompok untuk menetapkan hasil masalah, prioritas masalah, garis
besar rencana kegiatan
- Membentuk kelompok kerja kesehatan sesuai dengan masalah yang telah
ditetapkan.
- Tanggapan-tanggapan dari tokoh-tokoh masyarakat dan petugas kesehatan dari
instansi terkait.
2) Tahap Pelaksanaan:
- Menyusun kembali rencana kerja hasil musyawarah bersama dengan kelompok
kerja kesehatan.
- Melaksanakan kegiatan di komunitas bersama-sama dengan kelompok kerja
kesehatan:
o Pelatihan kader kesehatan
o Penyuluhan kesehatan
o Simulasi/demonstrasi
o Pembuatan model/percontohan
o Kunjungan rumah (home health care)
o Kerja bakti, daan lain-lain.
- Berkoordinasi dengan puskesmas dan instansi terkait dalam pelaksanaan
kegiatan.
3) Tahap Evaluasi:
a. Mengevaluasi setiap kegiatan yang dilakukan di komunitas dalam hal kesesuaian,
kefektifan dan keberhasilan kegiatan serta aktivitas dari komunitas.
b.Mengevaluasi seluruh kegiatan di komunitas dalam hal pencapaian tujuan,
keberhasilan pemecahan masalah dan kemampuan komunitas dalam pemecahan
masalah.
J. Model Konseptual Dalam Keperawatan Komunitas
Model adalah sebuah gambaran deskriptif dari sebuah praktik yang bermutu
yang mewakili sesuatu yang nyata atau gambaran yang mendekati kenyataan dari
konsep. Model praktik keperawatan didasarkan pada isi dari sebuah teori dan konsep
praktik (Riehl & Roy, 1980 dalam Sumijatun, 2006).
Salah satu model keperawatan kesehatan komunitas yaitu Model Health Care
System (Betty Neuman, 1972). Model konsep ini merupakan model konsep yang
menggambarkan aktivitas keperawatan, yang ditujukan kepada penekanan penurunan
stress dengan cara memperkuat garis pertahanan diri, baik yang bersifat fleksibel,
normal, maupun resisten dengan sasaran pelayanan adalah komunitas (Mubarak &
Chayatin, 2009).
Menurut Sumijatun (2006) teori Neuman berpijak pada metaparadigma
keperawatan yang terdiri dari yang terdiri dari klien, lingkungan, kesehatan dan
keperawatan. Asumsi Betty Neuman tentang empat konsep utama yang terkait dengan
keperawatan komunitas adalah:
1. Manusia, merupakan suatu sistem terbuka yang selalu mencari keseimbangan dari
harmoni dan merupakan suatu kesatuan dari variabel yang utuh, yaitu: fisiologi,
psikologi, sosiokultural, perkembangan dan spiritual
2. Lingkungan, meliputi semua faktor internal dan eksternal atau pengaruh-pengaruh
dari sekitar atau sistem klien
3. Sehat, merupakan kondisi terbebas dari gangguan pemenuhan kebutuhan. Sehat
merupakan keseimbangan yang dinamis sebagai dampak dari keberhasilan
menghindari atau mengatasi stresor.

Skema Sehat Bersifat Dinamis

Skema Health Care System Model


Model ini menganalisi interaksi anatara empat variabel yang menunjang keperawatan
komunitas, yaitu aspek fisik atau fisiologis, aspek psikologis, aspek sosial dan kultural, serta
aspek spiritual.
Sehat menurut Neuman adalah suatu keseimbangan bio, psiko, cultural dan spiritual
pada tiga garis pertahanan klien, yaitu garis pertahanan fleksibel, normal dan resisten. Sehat
dapat diklasifikasikan dalam delapan tahapan, yaitu:
1. Normally well, yaitu sehat secara psikologis, medis dan social
2. Pessimistic, yaitu bersikap atau berpandangan tidak mengandung harapan baik
(misalnya khawatir sakit, ragu akan kesehatannya, dan lain-lain)
3. Socially ill, yaitu secara psikologis dan medis baik, tetapi kurang mampu secara social,
baik ekonomi maupun interaksi social dengan masyarakat
4. Hypochondriacal, yaitu penyakit bersedih hati dan kesedihan tanpa alasan
5. Medically ill, yaitu sakit secara medis yang dapat diperiksa dan diukur
6. Martyr, yaitu orang yang rela menderita atau meninggal dari pada menyerah karena
mempertahankan agama/kepercayaan. Dalam kesehatan, seseorang yang tidak
memperdulikan kesehatannya, dia tetap berjuang untuk kesehatan/keselamatan orang
lain
7. Optimistic, yaitu meskipun secara medis dan social sakit, tetapi mempunyai harapan
baik. Keadaan ini sering kali sangat membantu dalam penyembuhan sakit medisnya
8. Seriously ill, yaitu benar-benar sakit, baik secara psikologis, medis dan social
Model keperawatan komunitas disusun mengacu pada model atau teori keperawatan
dan teori yang terkait dengan kesehatan masyarakat, diantaranya ; menurut Chang (1982)
perawatan komunitas adalah menyeluruh, mampu berfungsi sebagai tim dalam memberikan
pelayanan kesehatan masyarakat, mampu berkomunikasi dan memotivasi masyarakat untuk
memecahkan masalah kesehatan pada masyarakat tersebut.
Sedangkan Ruth B Freeman (1981) mendefinisikan perawatan komunitas adalah
kesatuan yang unik dari praktek keperawatan dan kesehatan masyarakat yang ditujukan
kepada pengembangan dan peningkatan kemampuan kesehatan baik sendiri sebagai
perorangan maupun secara kolektif sebagai keluarga, kelompok khusus atau masyarakat,
pelayanan ini tercakup dalam spektrum pelayanan kesehatan untuk masyarakat.
Model teori Neuman didasari oleh teori sistem dimana terdiri dari individu, keluarga
atau kelompok dan komunitas yang merupakan terget pelayanan kesehatan. Kesehatan
masyarakat ditentukan oleh hasil interaksi yang dinamis antara komunitas dan lingkungan
serta tenaga kesehatan untuk melakukan tiga tingkatan pencegahan, yaitu pencegahan
primer, sekunder dan tersier.
1. Pencegahan Primer
Pencegahan primer dalam arti sebenarnya, terjadi sebelum sakit atau
diaplikasikan ke populasi yang sehat pada umumnya. Pencegahan primer ini mencakup
kegiatan mengidentifikasikan faktor resiko terjadinya penyakit, mengkaji kegiatan-
kegiatn promosi kesehatan dan pendidikan dalam komunitas. Pencegahan ini mencakup
peningkatan kesehatan pada umumnya dan perlindungan khusus terhadap penyakit.
2. Pencegahan Sekunder
Pencegahan sekunder adalah intervensi yang dilakukan pada saat terjadinya
perubahan derajat kesehatan masyrakat dan ditemukannya masalah kesehatan.
Pencegahan sekunder menekankan pada diagnosa dini, intervensi yang tepat,
memperpendek waktu sakit dan tingkat keparahan atau keseriusan penyakit.
3. Pencegahan Tersier
Fokus pada tingkat pencegahan ini adalah untuk mempertahankan kesehatan
setelah terjadi gangguan beberapa sistem tubuh. Rehabilitasi sebagai tujuan pencegahan
tersier tidak hanya untuk menghambat proses penyakitnya, tetapi juga mengendalikan
individu kepada tingkat berfungsi yang optimal dari ketidakmampuannya.
K. Proses Asuhan Keperawatan Komunitas
Proses keperawatan komunitas merupakan suatu metode atau proses yang
bersifat alamiah, sistematis, dinamis, kontinu, dan berkesinambungan dalam rangka
memecahkan masalah kesehatan dari klien, keluarga serta kelompok atau masyarakat.
Fungsi proses keperawatan komunitas, antara lain:
1. Memberikan pedoman yang sistematis dan ilmiah bagi tenaga kesehatan
masyarakat dan keperawatan dalam memecahkan masalah klien melalui asuhan
keperawatan.
2. Agar masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan yang optimal sesuai dengan
kebutuhannya.
3. Memberikan asuhan keperawatan melalui pendekatan pemecahan masalah,
komunikasi yang efektif dan efisien serta melibatkan peran serta masyarakat.
4. Agar masyarakat bebas mengemukakan pendapat berkaitan dengan permasalahan
atau kebutuhannya, sehingga mendapat pelayanan yang cepat agar mempercepat
proses penyembuhan.
5. Dalam penerapan proses keperawatan (nursing proces), terjadi proses alih peran
dari tenaga keperawatan kepada klien (sasaran) secara bertahap dan berkelanjutan
untuk mencapai kemandirian sasaran dalam menyelesaikan masalah kesehatannya.
Proses alih peran tersebut digambarkan sebagai lingkaran dinamis proses
keperawatan

Gambar 1.Lingkaran dinamis proses keperawatan


Dalam melaksanakan asuhan keperawatan komunitas, metode yang digunakan adalah proses
keperawatan sebagai suatu pendekatan ilmiah di dalam bidang keperawatan, melalui tahap-
tahap sebagai berikut:
1. Pengkajian
Pengkajian merupakan upaya pengumpulan data secara lengkap dan sistematis
terhadap masyarakat untuk dikaji dan dianalisis sehingga masalah kesehatan yang
dihadapi oleh masyarakat baik individu, keluarga atau kelompok yang menyangkut
permasalahan pada fisiologis, psikologis, sosial ekonomi, maupun spiritual dapat
ditentukan. Tujuan dari pengkajian keperawatan komunitas ini adalah untuk
mengidentifikasi faktor-faktor (baik positif atau negatif) yang mempengaruhi kesehatan
warga masyarakat agar dapat mengembangkan strategi promosi kesehatan. Dalam tahap
pengkajian ini terdapat 5 kegiatan, yaitu : pengumpulan data, pengolahan data, analisis
data, perumusan atau penentuan masalah kesehatan masyarakat dan prioritas masalah
(Mubarak, 2005).
Jenis data secara umum dapat diperoleh dari data subyektif dan obyektif.
1) Data subyektif, yaitu data yang diperoleh dari keluhan atau masalah yang dirasakan
oleh individu, keluarga, kelompok dan komunitas, yang diungkapkan secara
langsung melalui lisan.
2) Data obyektif, yaitu data yang diperoleh melalui suatu pemeriksaan, pengamatan
dan pengukuran.
Sumber data dapat diperoleh dari data primer dan data sekunder.
1) Data primer, adalah data yang dikumpulkan oleh pengkaji dalam hal ini mahasiswa
atau perawat kesehatan masyarakat dari individu, keluarga, kelompok dan komunitas
berdasarkan hasil pemeriksaan atau pengkajian.
2) Data sekunder, adalah data yang diperoleh dari sumber lain yang dapat dipercaya,
misalnya : kelurahan, catatan riwayat kesehatan pasien atau medical record.

a. Pengumpulan Data
Pengumpulan data dimaksudkan untuk memperoleh informasi mengenai
masalah kesehatan pada masyarakat sehingga dapat ditentukan tindakan yang harus
diambil untuk mengatasi masalah tersebut yang menyangkut aspek fisik, psikologis,
sosial ekonomi dan spiritual serta faktor lingkungan yang mempengaruhi (Mubarak,
2005).
Terdapat lima metode pengumpulan data komunitas:
1) Wawancara informan (informant interview), dilakukan dengan secara langsung
mengajukan kepada penduduk komunitas. Sumber data berasal dari anggota
komunitas atau kelompok agregasi.
2) Pengamatan partisipan (participant observation), dilakukan dengan mengamati apa
yang sedang terjadi pada lingkungan sosial tertentu kemudian secara sistematis
mencatat pengamatan ini.
3) Analisis sekunder dari data yang ada (secondary analysis), sumber data yang
digunakan adalah analisis catatan, dokumen dan data lain yang telah dikumpulkan.
Data mungkin sudah ada dalam bentuk data sensus, catatan historis, diary, catatan
pengadilan, ringkasan penting, studi komunitas sebelumnya
4) Melakukan survey, anggota komunitas atau kelompok agregasi memberikan
jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan spesifik baik tertulis maupun lisan yang
didasarkan pada sampel populasi.
5) Windshield survey, kunjungan mengitari komunitas geopolitik dengan
menggunakan pengamatan melalui kaca mobil (automobile) sebagai cara
mengumpulkan informasi tentang lingkungan komunitas.
Kegiatan pengkajian yang dilakukan dalam pengumpulan data meliputi :
1) Data inti
a) Riwayat atau sejarah perkembangan komunitas
Tanyakan siapa yang mengetahui sejarah daerah tersebut.
Tanyakan kepada toma tentang bagaimana riwayat berdirinya daerah tersebut,
sudah berapa lama.
Tanyakan tentang wilayah-wilayah yang diyakini oleh penduduk setempat
memiliki nilai mistik.
Observasi kondisi bangunan yg ada di daerah tersebut.
b) Values (nilai-nilai yang dianut masyarakat), beliefs (keyakinan), agama
Tanyakan tentang nilai-nilai dan keyakinan yg dianut masyarakat terkait pola
kebiasaan.
Tanyakan tentang norma yg berlaku di masyarakat.
Identifikasi tentang pola budaya yg banyak diyakini masyarakat terkait dgn
kesehatan.
Apakah terdapat mesjid, gereja, dll (sarana ibadah) ?
Apakah keyakinan agamanya homogen ?
c) Data demografi
Komposisi penduduk; umur dan jenis kelamin
Tipe keluarga dan Satatus perkawinan
Ras/suku dan bahasa
Pekerjaan dan tingkat pendapatan
d) Vital statistic
Kelahiran
Kematian (berdasarkan umur dan penyebab kematian, angka kematian kasar
atau CDR)
Morbiditas
2) Data subsistem komunitas
a) Lingkungan Fisik
Pemeriksaan fisik mrp.kan komponen kritis dlm pengkajian pasien individual,
begitu pula dlm pengkajian komunitas.
Kelima indra kita diperlukan untuk pemeriksaan fisik pasien, begitu pula
dalam pemeriksaan tingkat komunitas.

Gambar 2. Komponen dan sumber data lingkungan fisik


b) Pelayanan Kesehatan Dan Sosial
Fasilitas didalam komunitas
Fasilitas diluar komunitas
Gambar 3. Komponen dan sumber informasi layanan kesehatan dan sosial

c) Ekonomi
Jenis pekerjaan
Jumlah penghasilan rata-rata tiap bulan
Jumlah pengeluaran rata-rata tiap bulan
Jumlah pekerja dibawah umur, ibu rumah tangga, dan lanjut usia
Gambar 4. Indikator dan sumber informasi ekonomi

d) Keamanan dan transportasi

Gambar 5. Indikator dan sumber informasi transportasi dan keselamatam


e) Politik dan pemerintahan
Pemerintah (Rt, Rw, Lurah, Camat, Dst)
Kelompok pelayanan masyarakat :
- PKK - Karang Taruna
- LKMD - Posyandu
- Panti Werdha - Dll
Politik (Peran serta Partai Politik dalam pelayanan kesehatan, Kebijakan
pemerintah dalam pelayanan kesehatan)

f) Sistem komunikasi
Sarana umum komunikasi
Jenis alat komunikasi dan digunakan dalam komunitas
Cara penyebaran informasi

Gambar 6. Komponen dan sumber informasi komunikasi


g) Pendidikan
Tingkat atau status pendidikan komunitas
Fasilitas pendidikan yang tersedia (formal dan non formal)
h) Rekreasi
Dimana anak-anak bermain?
Bentuk / jenis rekreasi
b. Pengolahan data
Setelah data diperoleh, kegiatan selanjutnya adalah pengolahan data
dengan cara sebagai berikut:
a) Klasifikasi data atau kategori data.
b) Penghitungan prosentase cakupan.
c) Tabulasi data.
d) Interpretasi data.
c. Analisis data
Analisis data adalah kemampuan untuk mengkaitkan data dan menghubungkan
data dengan kemampuan kognitif yang dimiliki sehingga dapat diketahui tentang
kesenjangan atau masalah yang dihadapi oleh masyarakat apakah itu masalah
kesehatan atau masalah keperawatan (Mubarak, 2005).
d. Penentuan masalah atau perumusan masalah kesehatan
Berdasarkan analisa data dapat diketahui masalah kesehatan dan keperawatan
yang dihadapi oleh masyarakat, sekaligus dapat dirumuskan yang selanjutnya
dilakukan intervensi. Namun demikian masalah yang telah dirumuskan tidak mungkin
diatasi sekaligus. Oleh karena itu, diperlukan prioritas masalah (Mubarak, 2005).
e. Prioritas masalah
Dalam menentukan prioritas masalah kesehatan masyarakat dan keperawatan
perlu mempertimbangkan berbagai faktor sebagai kriteria diantaranya
adalah (Mubarak, 2005):
a) Perhatian masyarakat.
b) Prevalensi kejadian.
c) Berat ringannya masalah
d) Kemungkinan masalah untuk diatasi.
e) Tersedianya sumberdaya masyarakat.
f) Aspek politis.
Seleksi atau penapisan masalah kesehatan komunitas menurut format Mueke
(1988) mempunyai criteria penapisan, antara lain:
a) Sesuai dengan peran perawat komunitas.
b) Jumlah yang beresiko.
c) Besarnya resiko.
d) Kemungkinan untuk pendidikan kesehatan.
e) Minat masyarakat.
f) Kemungkinan untuk diatasi.
g) Sesuai dengan program pemerintah.
h) Sumber daya tempat.
i) Sumber daya waktu.
j) Sumber daya dana.
k) Sumber daya peralatan.
l) Sumber daya manusia.
Prioritas masalah juga dapat ditentukan berdasarkan hirarki kebutuhan menurut
Abraham H. Mashlow yaitu:
a) Keadaan yan mengancam kehidupan
b) Keadaan yang mengancam kesehatan
c) Persepsi tentang kesehatan dan keperawatan
Dalam menyusun atau mengurut masalah atau diagnosis komunitas sesuai
dengan prioritas (penapisan) yang digunakan dalam keperawatan komunitas adalah
format penapisan menurut Stanhope , Lancaster, 1988 :
a) Kesadaran masyarakat terhadap masalah
b) Motivasi komuniti untuk mengatasi masalah
c) Kemampuan perawat untuk mengatasi masalah
d) Fasilitas yang tersedia untuk mengatasi
e) Adanya hambatan-hambatan dalam menyelesaikan masalah
f) Waktu yang diperlukan untuk mengatasi masalah
2. Diagnosis keperawatan
Diagnosis keperawatan ditetapkan berdasarkan masalah yang ditemukan.
Diagnosa keperawatan akan memberi gambaran masalah dan status kesehatan
masyarakat baik yang nyata (aktual), dan yang mungkin terjadi (potensial) (Mubarak,
2005). Masalah actual adalah masalah yang diperoleh pada saat pengkajian, sedangkan
masalah potensial adalah masalah yang mungkin timbul kemudian. (American Nurses
Of Association (ANA). Dengan demikian diagnosis keperawatan adalah suatu
pernyataan yang jelas, padat dan pasti tentang status dan masalah kesehatan pasien yang
dapat diatasi dengan tindakan keperawatan.
Diagnosa keperawatan mengandung komponen utama yaitu problem (masalah) yang
merupakan kesenjangan atau penyimpangan dari kondisi normal, etiologi (penyebab dari
masalah kesehatan atau keperawatan yang dapat memberi arah intervensi keperawatan),
sign atau symptom (tanda dan gejala) (Mubarak, 2005).
Contoh Diagnosa Keperawatan
1) Resiko terjadinya diare di RW. 02 Ds. Genuk Semarang sehubungan dengan
sumber air tidak memenuhi syarat, lingkungan yang buru dan kebersihan perorangan
kurang di manifestasikan oleh : banyaknya sampah yang berserakan, penggunaan sungai
sebagai tempat mencuci, mandi dan pembuangan kotoran.
2) Tingginya kejadian karies gigi SMP 29 Semarang sehubungan dengan
kurangnya pemeriksaan gigi dan kurangnya fluor pada air minum di manifestasikan
dengan 62% caries dengan inspeksi pada murid-murid SMP 29.
3) Ketidakefektifan koping komunitas di komunitas RW 06 kec. Rempoah
purwokerto b.d kurangnya layanan pendukung dalam komunitas dan sistem komunitas
yang tidak efektif dimanifestasikan dengan kurangnya sistem medis darurat, sistem
transportasi, sistem perencanaan bencana dan sistem keamanan desa.

1. Perencanaan keperawatan
Merupakan penyusunan rencana tindakan asuhan keperawatan kesehatan masyarakat
yang akan dilaksanakan untuk mengatasi masalah sesuai diagnosa keperawatan yang
telah ditetapkan dengan tujuan terpenuhinya kebutuhan pasien.
Langkah-langkah dalam perencanaan keperawatan komunitas mencakup perumusan
tujuan, rencana tindakan keperawatan yang akan dilakukan dan kriteria hasil untuk
menilai pencapaian tujuan (Mubarak, 2005).
a. Kriteria perumusan tujuan:
Fokus pada masyarakat
Jelas dan singkat
Dapat diukur dan diobservasi
Realistik
Ada target waktu
Melibatkan peran serta masyarakat
b. Langkah rencana tindakan keperawatan:
1. Identifikasi alternatif tindakan keperawatan
2. Tetapkan teknik & prosedur yang akan digunakan
3. Melibatkan peran serta masyarakat dalam penyusunan perencanaan kegiatan :
MMD
4. Pertimbangkan fasilitas dan sumber daya masyarakat yang tersedia
5. Tindakan sesuai dengan kebutuhan masyarakat
6. Mengarah pada tujuan
7. Tindakan yang realistik
8. Disusun berurutan
c. Kriteria hasil, digunakan untuk menilai pencapaian tujuan dan bersifat spesifik.
Terdapat 2 macam :
>> kriteria verbal : kriteria hasil untuk sebuah kegiatan KIE
>> kriteia psikomotor : kriteria hasil untuk sebuah tindakan seperti pembentukan
kader, penggiatan posyandu dll
2. Pelaksanaan
Pelaksanaan merupakan tahap realisasi dari rencana asuhan keperawatan yang telah
disusun. Dalam pelaksanaan tindakan keperawatan, perawat kesehatan masyarakat harus
bekerjasama dengan anggota tim kesehatan lainya. Dalam hal ini melibatkan pihak
Puskesmas, Bidan desa dan anggota masyarakat (Mubarak, 2005).
Prinsip yang umum digunakan dalam pelaksanaan atau implementasi pada keperawatan
komunitas adalah :
a. Inovatif
Perawat kesehatan masyarakat harus mempunyai wawasan luas dan mampu
menyesuaikan diri dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi (IPTEK) dan
berdasar pada iman dan taqwa (IMTAQ) (Mubarak, 2005).
b. Integrated
Perawat kesehatan masyarakat harus mampu bekerjasama dengan sesama profesi, tim
kesehatan lain, individu, keluarga, kelompok dan masyarakat berdasarkan azas
kemitraan (Mubarak, 2005).
c. Rasional
Perawat kesehatan masyarakat dalam melakukan asuhan keperawatan harus
menggunakan pengetahuan secara rasional demi tercapainya rencana program yang
telah disusun (Mubarak, 2005).
d. Mampu dan mandiri
Perawat kesehatan masyarakat diharapkan mempunyai kemampuan dan kemandirian
dalam melaksanakan asuhan keperawatan serta kompeten (Mubarak, 2005).
e. Memiliki keyakinan
Perawat kesehatan masyarakat harus yakin dan percaya atas kemampuannya dan
bertindak dengan sikap optimis bahwa asuhan keperawatan yang diberikan akan
tercapai. Dalam melaksanakan implementasi yang menjadi fokus adalah : program
kesehatan komunitas dengan strategi : komuniti organisasi dan partnership in
community (model for nursing partnership) (Mubarak, 2005).
Level pencegahan dalam pelaksanaan praktik keperawatan komunitas terdiri atas:
1. Pencegahan Primer
2. Pencegahan Sekunder
3. Pencegahan Tersier
5. Evaluasi atau Penilaian
Evaluasi memuat keberhasilan proses dan keberhasilan tindakan keperawatan.
Keberhasilan proses dapat dilihat dengan membandingkan antara proses dengan
pedoman atau rencana proses tersebut. Sedangkan keberhasilan tindakan dapat dilihat
dengan membandingkan antara tingkat kemandirian masyarakat dalam perilaku
kehidupan sehari-hari dan tingkat kemajuan kesehatan masyarakat komunitas dengan
tujuan yang telah ditetapkan atau dirumuskan sebelumnya (Mubarak, 2005).
Evaluasi dilakukan atas respon komunitas terhadap program kesehatan dalam upaya
mengukur kemajuan terhadap tujuan obyektif program. Data evaluasi merupakan hal
penting untuk memperbaiki database dan diagnosis keperawatan komunitas yang
dihasilkan dari analisis pengkajian data komunitas.Hal-hal yang perlu dievaluasi adalah
masukan (input), pelaksanaan (proses) dan hasil akhir (output). Penilaian yang dilakukan
berkaitan dengan tujuan yang akan dicapai, sesuai dengan perencanaan yang telah
disusun semula.
Jenis evaluasi, antara lain:
Evaluasi Formatif: mencerminkan pengamatan perawat dan analisa respon
pasien segera setelah dilakukan intervensi, metode yg digunakan dgn menggunakan
Catatan Perkembangan
Evaluasi sumatif: rekapitulasi dari hasil intervensi keperawatan yang telah
diberikan berupa narasi, seperti resume pasien.
Evaluasi Struktur : evaluasi terkait persiapan (contoh: rencana penyuluhan telah
dilakukan seminggu sebelum acara, undangan telah disebar)
Evaluasi Proses : pelaksanaan (jumlah peserta yang hadir ... Orang, 15 % dari
peserta aktif bertanya, penyuluhan dilaksanakan di tempat.....)
Evaluasi hasil : dari tujuan yang ditetapkan (contoh: warga dapat memahami
ISPA).
Kegiatan yang dilakukan dalam penilaian:
1. Membandingkan hasil tindakan yang dilaksanakan dengan tujuan yang telah
ditetapkan
2. Menilai efektifitas proses keperawatan mulai dari tahap pengkajian sampai
dengan pelaksanaan
3. Hasil penelitian keperawatan digunakan sebagai bahan perencanaan selanjutnya
apabila masalah belum teratasi
Komponen penting dalam fokus evaluasi adalah:
a. Relevansi atau hubungan antara kenyataan yang ada dengan pelaksanaan
b. Perkembangan atau kemajuan proses
c. Efisiensi biaya
d. Efektifitas kerja
e. Dampak : apakah status kesehatan meningkat/menurun, dalam jangka waktu
berapa lama?
Tujuan akhir perawatan komunitas adalah kemandirian keluarga yang terkait dengan
lima tugas kesehatan, yaitu: mengenal masalah kesehatan, mengambil keputusan
tindakan kesehatan, merawat anggota keluarga, menciptakan lingkungan yang dapat
mendukung upaya peningkatan kesehatan keluarga serta memanfaatkan fasilitas
pelayanan kesehatan yang tersedia, sedangkan pendekatan yang digunakan adalah
pemecahan masalah keperawatan melalui proses asuhan keperawatan komunitas.

\
DAFTAR PUSTAKA

Anderson, Elizabeth T, dkk. 2006. Buku Ajar Keperawatan Komunitas Teori dan Praktik,
edisi 3, Jakarta : EGC.

Anderson ET and McFarlane J. 2000. Community as partner: Theory and practice in nursing,
3rd.ed, Philadelpia: Lippincott.

Allender JA and Spradley BW. 2001. Community health nursing : Concepts and practice,
4th.ed, Philadelpia: Lippincott

Dermawan, Deden. 2012. Buku Ajar Keperawatan Komunitas, Yogyakarta: Gosyen


Publishing.
Mubarak, Wahit Iqbal. 2009. Pengantar dan Teori Ilmu Keperawatan Komunitas 1, Jakarta:
Sagung Seto.

Mubarak, Wahit Iqbal, dkk. 2006. Teori Ilmu Keperawatan Komunitas 2, Jakarta: Sagung Seto.

Paula JC dan Janet WK. 2009. Proses Keperawatan Aplikasi Model Konseptual Edisi 4,
Jakarta: EGC.

Stanhope M & Lancaster J. 2000. Community & public health nursing. 5th Ed. St. Louis :
Mosby.