Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM

KERANGKA DASAR HORIZONTAL

GD2201R ILMU UKUR TANAH II

KELOMPOK III :

Aliffia (23115043)

Aski Pramono (23115029)

Raden Dimas H.P (23115005)

Ratna Mustika Sari (23115030)

Rizqi Aulia (23115013)

TEKNIK GEOMATIKA

JURUSAN TEKNOLOGI INFRASTRUKTUR DAN KEWILAYAHAN

INSTITUT TEKNOLOGI SUMATERA

2017
BAB I

Pendahuluan

1.1 LatarBelakang
Dalam pembuatan sebuah peta kita memerlukan sebuah kerangka dasar yang akan
memudahkan kita dalam melakukan proses pemetaan. Dalam membuat kerangka dasar
suatu pemetaan kita memerlukan kerangka dasar horizontal dan vertikal.
Kerangka Dasar Horizontal adalah adalah sebuah kerangka sejumlah titik yang telah
diketahui koordinatnya dalam suatu system koordinat tertentu. Sistem koordinat disini
adalah system koordinat kartesian dimana bidang datarnya merupakan sebagian kecil dari
permukaan elipsioda bumi. Metode untuk membuat kerangka sejumlah titik disebut
metode poligon. Metode polygon adalah salah satu cara penentuan posisi titik pengukuran
secara horizontal dimana titik satu dan titik lainnya dihubungkan dengan sudut dan jarak
sehingga membentuk rangkaian titik-titik atau polygon.
Selain menentukan kerangka horizontal, pembuatana peta juga harus menggunakan
pengukuran untuk membuat kerangka dasar vertikal. Kerangka dasar vertikal ini
memerlukan ketinggian setiap titik. Agar bisa menentukan ketinggian tersebut, maka
dilakukan pengukuran beda tinggi pada kerangka dasar yang ingin dipetakan dengan
metode pengukuran polygon yang menggunakan alat automatic level.

Setelah melakukan pengukuran kerangka dasar horizontal dan vertikal kami juga harus
melakukan pengukuran posisi tiap titik. dimana titik detail pemetaan adalah titik yang
dipilih/ditentukan untuk mewakili obyek unsur muka bumi yang akan disajikan pada peta.
Pengukuran titik detail ini bertujuan untuk memberikan informasi apa dan di mana obyek
yang akan disajikan. Titik detail pemetaan, dapat dinyatakan dalam 2 bentuk data, yaitu
koordinat Cartesian 3D ( X,Y,Z ) dan koordinat polar 3D ( , D , H ) dari titiik yang
telah memiliki koordinat Cartesian 3D.
1.2 TujuanPraktikum
Kerangka Dasar Horizontal:
- Untuk menentukan posisi horizontal titik-titik pada jaring kerangka dasar
horizontal yang telah ditentukan.
- Mendapatkan nilai ketinggian tiap titik kerangka
Kerangka Dasar Vertikal:
- Mengetahui faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pengukuran dan
pengolahan data pengukuran beda tinggi
Detail Situasi:
- Untuk mengukur posisi titik detail dilapangan
- Untuk menggambarkan objek dilapangan
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam praktikum ini adalah :
- Untuk membuat sebuah peta dari hasi pengukuran menggunakan metode
Kerangka Dasar Vertikal, Kerangka Dasar Horizontal, dan Detail Situasi.
- Untuk memenuhi tugas akhir mata kuliah Ilmu Ukur Tanah II

1.3 WaktuPraktikum
Pengukuran KDH
Hari / Tanggal : Selasa / 14 Maret 2017, Selasa / 21 Maret 2017, Selasa/ 4 April 2017
Waktu :09.00-12.00 WIB, 10.00-15.00 WIB, 09.00-12.00 WIB
Pengukuran KDV
Hari/ Tanggal : Jumat / 7 April 2017, Selasa/ 11 April 2017
Waktu : 09.00 11.00 WIB, 08.00 11.00 WIB,
Pengukuran Detail Situasi
Hari / Tanggal : Rabu /12 April 2017, Selasa/18 April 2017, Selasa/25 April 2017,
Selasa 3 April 2017
Waktu :15.00-17.00 WIB, 09.00-12.00 WIB, 10.00-12.00 WIB, 15.00-16.00

1.4 Volume Kerja


Kerangka Dasar Horizontal
Centring alat di setiap titik dilakukan +/- 15 menit per titik, centring prisma
memerlukan waktu +/- 10 menit per titik, untuk mengukur 1 satu sudut biasa dan luar
bisa memerlukan waktu 15 menit, sehingga untuk menyelesaikan satu kring kerangka
dasar ini memerlukan waktu sekitar 4 jam, dan terdapat beberapa kali kesalahan yang
membuat kami melakukan pengukuran ulang.
Pembagian tugas sbb :
No Nama Tugas
1 Aliffia Membidik,mencatat
2 Aski Pramono Membidik, sentring prisma
3 Ratna Mustika Sari Membidik, mencatat
4 Raden Dimas Membidik, sentring prisma
5 Rizky Aulia Membidik, mencatat

Kerangka Dasar Vertikal


Pengambilan data per seksi (antar titik) memerlukan waktu +/- 10 menit atau dapat
dikatakan maksimal 15 menit sehingga untuk menyelesaikan satu kring kerangka dasar
ini memerlukan waktu sekitar 2,5 jam, namun sering terdapat beberapa kesalahan hingga
koreksi tidak mencapai target, dan dilakukan pengukuran ulang.
No Nama Tugas
1 Aliffia Membidik,mencatat,setring prisma
2 Aski Pramono Membidik, ranger, setring prisma
3 Ratna Mustika Sari Membidik, mencatat,setring prisma
4 Raden Dimas Membidik, ranger, setring prisma
5 Rizky Aulia Membidik, ranger, setring prisma

Detail Situasi
Pengambilan data data detail situasi dilakukan selama 4 hari, situasi kontur tanah
dilakukan selama 4 jam, pengukuran detail situasi parit 1 jam, pengukuran detail situasi
jalan 2 jam, pengukuran detail situasi embung 1 jam
No Nama Tugas
1 Aliffia Membidik,mencatat
2 Aski Pramono Membidik, ranger
3 Ratna Mustika Sari Membidik, mencatat, ranger
4 Raden Dimas Membidik, ranger
5 Rizky Aulia Membidik, mencatat
1.5 Alat
Kerangka Dasar Horizontal
NamaAlat Jenis / KeteranganAlat Jumlah
ETS - 1
Statif - 3
Prisma - 2
Kalkulator - 1
Rompi - 5
Helm - 5
Meteran - 1

Kerangka Dasar Vertikal


NamaAlat Jenis / KeteranganAlat Jumlah
Waterpass - 1
Rambu ukur - 1
Statif - 3
Prisma - 2
Kalkulator - 1
Rompi - 5
Helm - 5
Meteran - 1

Pengukuran Detail Situasi


NamaAlat Jenis / KeteranganAlat Jumlah
Waterpass - 1
Jalon - 1
reflektor - 1
Statif - 3
Prisma - 2
Kalkulator - 1
Rompi - 5
Helm - 5
Meteran - 1
1.6 LokasiPraktikum
Lokasi praktikum berada di area parkir motor gedung C dan D sampai lapangan volley
kampus ITERA.

BAB II
DasarTeori

2.1 KerangkaDasar
Berdasarkan literature digital yang diberikan dosen sebagai referensi dalam
mata kuliah Ilmu Ukur Tanah II, kerangka dasar merupakan titik-titik tempat
berdirinya alat dalam proses pemetaan yang membentuk suatu jaring. Mengingat
posisi titik detail dinyatakan dari titik kerangka, maka salah satu fungsi kerangka
dasar adalah sebagai acuan semua titik detail. Setiap ada kesalahan pada titik
kerangka, akan mengakibatkan kesalahan posisi yang lebih besar lagi pada titik
detail, sehingga pengukuran titik kerangka harus lebih teliti dibandingkan dengan
pengukuran titik detail.
Perhatikan gambar di bawah ini!
Gambar
tersebut

merupakan contoh jarring kerangka dasar.

2.2 Posisi Horizontal

Metoda polygon ini, merupakan metoda yang umum digunakan, dimana pada
bentuk nya menyerupai rangkaian metoda Polar. Walaupun demikian, tidak berarti
setiap titik polygon mempunyai parameter azimuth secara langsung. Azimuth
setiap sisi poligon, diwakili oleh sudut-sudut yang dibentuk jurusan/sisi poligon
yang bersangkutan. Azimuth ini baru diperoleh dari hitungan. Pada poligon,
parameter yang diukur adalah sudut dan jarak, sehingga hal ini yang membeda-kan
metoda polygon ini dari metoda polar.
Suatu bentuk geometrik yang istimewa dan memiliki persyaratan khusus
adalah bentuk Kring (Loop). Yang dimaksudkan dengan bentuk kring, adalah
suatu bentuk geometrik di mana titik akhir dan titik awal pengukuran (obyek
ukuran) berada pada tempat yang sama (berimpit). Bentuk ini, dalam mathematika
menjadi suatu bentuk segi-banyak, di mana syarat geometric segi-banyak bidang
datar, seluruhnya harus terpenuhi. (lihat Gambar 20)

32

1
5

6
8

PoligonTertutup

Secara umum, syarat geometric bentuk ini adalah sebagai berikut :

Untuksudut :
dalam = (m 2) . 180o
luar = (m + 2) . 180o

Untuk koordinat :
Xakhir = Xawal

Yakhir = Yawal

di mana :

dalam ; luar = jumlah sudut dalam/luar

m = banyaknya sudut/titik

Xawal , Yawal = koordinat titik awal


Xakhir , Yaakhir = koordinat titik awal
Syarat geometric poligon, khusus untuk bentuk ini, dapat dituliskan sebagai berikut :
0 = u
(m-2).180o F (untuk sudut dalam)

0 = u
(m+2).180o F (untuk sudut luar) , atau :

F = u (m 2).180o (sudutdalam)

F = u (m + 2).180o (sudutluar)

0 = X FX; 0 = Y FY, atau :

FX = X

FY = Y

2.3 Penentuan Posisi Vertikal

Berbeda dengan posisi horizontal suatu titik, di mana setiap titik dinyatakan dalam bentuk 2
dimensi (2D), maka pada posisi vertikal hanya dinyatakan pada dengan 1 (satu) dimensi
(1D) . Posisi vertikal ini lebih dikenal edngan istilah "ketinggian" yang dinotasikan
bermacam-macam. Sebagian besar memberi notasi Z untuk pernyataan posisi pada sumbu
Z, H untuk menyatakan height dan mungkin T untuk pernyataan tinggi.

rambu

BTA BT
B garis bidik

B
A HAB

Sipat datar (level)


DHAB = BTA - BTB

BTa = Bacaan benang tengah di titik A

BTb = Bacaan benang tengah di titik B

1. Pemeriksaan (Checking) BT , yaitu dengan :


BA + BB = 2.BT
2. Mengukur jarak dari alat ke rambu sepanjang garis bidik, berdasarkan perbesaran optik

D = 100 ( BA BB )

2.4 Pengukuran Titik Detail

Telah diketahui, bahwa titik detail pemetaan adalah titik yang dipilih/ditentukan untuk
mewakili obyek unsur muka bumi yang akan disajikan pada peta. Terdapat persyaratan untuk
menentukan pilihan tersebut, yaitu pertama hubungan antar titik detail, merupakan garis lurus
atau lengkung teratur yang sesuai dengan bentuk obyek ukuran. Kedua obyek yang akan
disajikan pada peta adalah obyek permukaan tanah, pengguna tanah, sehingga titik detail dapat
berupa titik wakil obyek pada dan di atas permukaan tanah, relief permukaan tanah (bentuk
permukaan tanah). Ketiga keseragaman obyek dilihat dari jenis, bentuk dan ukuran. Data
yang harus terkumpul adalah Posisi 3D titik detail. Keterangan, berupa data kualitativ dari titik.
Sketsa pengukuran, yang menggambarkan secara keadaan sekeliling tempat pengukuran.

Metoda Pengukuran

Z
B
JAB
ZA

m B

A DAB

B
Y
AZ XAB
A
X
YAB
Keterangan :

A, A = titik kerangka (tempat alat) di ruang , di bidang datar

B, B = titik detail (tempat target) di ruang , di bidang datar

X,Y,Z= beda absis, ordinat dan tinggi

JAB, DAB = jarak A-B , di ruang dan di bidang datar

, m = sudut vertikal, sudut Zenith dan sudut miring

Az, = Azimuth, sudut mendatar dari titik kerangka lain


BAB III
Langkah Kerja

Kegiatan praktikum dilakukan dengan sistematik sebagai berikut ini :

a. Meminjam alat di laboratorium


- setelah kami tiba dan berkumpul di depan ruang lab, kami kemudian berdiskusi
mengenai apa yang akan dilakukan dan alat apa saja yang diperlukan, kemudian
meminjamnya ke kepala lab, peminjaman alat harus mengisi form pemintaman
alat yang telah di sediakan di lab geomatika.
pengambilan alat sesuai dengan kebutuhan praktikum:
KDH:
ETS
Statif
Prisma
Kalkulator
Rompi
Helm
Meteran
KDV:
Waterpass
Rambu ukur
Statif
Prisma
Kalkulator
Rompi
Helm
Meteran

Detail Situasi:

Waterpass
Jalon
reflektor
Statif
Prisma
Kalkulator
Rompi
Helm
Meteran

b. Pengarahan (briefing)
- Sebelum melakukan pengukuran, kami melakukan pengarahan dengan membagi
job-desk pada masing-masing anggota, dan kami membuat sketsa kerangka yang
akan kami kerjakan.
c. Pengambilan data
- Setelah briefing, kami bergerak keposisi masing-masing sesuai job-desk yang
telah diterima per individu,
- pengambilan data dilakukan dengan:
KDH:
Meletakkan alat pada titik awal jaring kerangka dasar
Setring alat
Mengukur tinggi alat
Meletakkan prisma pada titik kemuka dan titik dibelakang
String prisma
Mengukur tinggi prisma
Bidik target
Catat hasil bidikan
begitu seterusnya bergerak maju sesuai dengan ketentuan dalam briefing
mengembaalikan alat ke laboratorium

KDV:

Meletakkan alat waterpass pada titik awal jaring kerangka dasar


Setring alat waterpass
Mengukur tinggi Alat
Meletakkan prisma pada titik kemuka dan titik dibelakang
String prisma
Mengukur tinggi prisma
Bidik target
Catat hasil bidikan
Bidik rambu ukur
Catat hasil bidikan
begitu seterusnya bergerak maju sesuai dengan ketentuan dalam briefing
mengembaalikan alat ke laboratorium

Detail Situasi:

Meletakkan alat ETS pada titik awal jaring kerangka dasar yang telah
ditentukan
Setring alat ETS
Mengukur tinggi alat
Meletakkan prisma pada titik belakang
Mengukur tinggi prisma
Siapkan ranger yang telah memegang jalon
String jalon
Bidik jalon
Catat hasil bidikan
begitu seterusnya bergerak maju sesuai dengan ketentuan dalam briefing
mengembaalikan alat ke laboratorium
d. Pengolahan data
- data yang telah kami peroleh, kami olah sesuai dengan dasar teori yang kami
ambil, agar data yang kami peroleh dapat menjadi sebuah informasi yang berguna
sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
e. Penyajian data dalam bentuk peta
Beberapa data yang telat di olah yaitu Kerangka Dasar Horizontal, Kerangka
Dasar Vertikal, dan Detail Situasi disatukan kemudian dan di ploting dan di sajikan
dalam bentuk peta.
f. Membuat laporan
- setelah data kami olah dan sesuai dengan kaidah pada teori dasar, maka kemudian
untuk memenuhi keperluan akademik, kami membuat laporan sesuai dengan
aturan yang berlaku, laporan juga merupakan bentuk penyajian data telah diolah.
BAB IV
Data dan Pengolahan Data

3.1 Data
Data yang kami peroleh setelah melakukan pengambilan data adalah sebagai berikut.

DIISI TABEL DATA !!!

3.2 Pengolahan Data


Adapun pengolahan data yang kami lakukan adalah sebagai berikut.
a. Menghitung ukuran sudut di tiap titik berdiri alat terhadap titik di depan dan di
belakangnya, sehingga diperoleh data sebagai berikut :

b. Setelah diperoleh beberapa besaran data ukuran sudut dan jarak hasil ukuran, kami
menghitung rerata data ukuran tersebut untuk dijadikan data yang kami anggap benar
dan sebagai bahan untuk kami olah lebih lanjut, sehingga diperoleh hasil sebagai
berikut :

c. Kemudian, melalui data yang telah diolah tersebut, kami lakukan perhitungan untuk
polygon tertutup (kring) dengan tujuan memperoleh koordinat setiap titik yang ada,
adapun table hasilnya adalah sebagai berikut.
- Titik awal adalah titik. dengankoordinat (0,0) dalam meter;
- Perhitungan berjalan dari titik ...dst ..;
- Sudut selaras adalah sudut kiri atau dapat dikatakan sudut dalam;
- Sudut jurusan awal adalah ....dengan sisi awal adalah sisi ..;
BAB V
Analisis

Berdasarkan data dan pengolahan data di BAB IV, setiap angota kelompok memiliki analisis
sebagai berikut :

Pada praktikum kerangka dasar hirzontal ini kita dapat menentukan posisi horizontal titik-
titik pada jaring kerangka dasar horizontal yang telah ditentukan. Dari data hasil pengukuran
kita dapat melakukan pengolahan data, dan dilakukan perhitungan pada poligon tertutup
disini azimuth awal kita definisikan sebesar ,. dan koordinat awal kita definisikan
sebesar . Kemudian setelah dilakukan perhitung kita dapat mengetahui koordinat akhir.
Dari perhitungan yang telah dilakukan koordinat awal sama dengan koordinat akhir maka
pengukuran yang dilakukan pada praktikum ini benar.
BAB VI
Kesimpulan dan Saran

6.1 Kesimpulan
Berdasarkan pengukuran dan perhitungan dari data tersebut kita dapat menentukan posisi
horizontal titik-titik pada jaring kerangka dasar horizontal.

6.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA

Soedomo, A. S. (2006). KERANGKA DASAR. Bandung.

Soedomo, A. S. (2006). KERANGKA DASAR. Bandung.

LAMPIRAN