Anda di halaman 1dari 33

DAFTAR ISI

Daftar Isi ........................................................................................................... 1

Kata Pengantar .................................................................................................. 3

Bab 1 Pendahuluan ............................................................................................ 4

Bab 2 Tinjauan Pustaka...................................................................................... 6

A. Kornea .......................................................... 6

1. Anatomi..................................................................................6

2. Fisiologi ................................................................................8

B. Lensa Kontak........................... ........................................................10

1. Definisi ................................................................................10

2. Jenis Kontak lensa.................................................................10

C. Fungsi Kontak Lensa .......................................................................12

D. Hard Contact lens............................................................................ 13

E. Soft Contact Lens............................................................................ 14

F. Rigid Gas Premiable........................................................................ 18

G. Indikasi............................................................................................ 24

H. Kontraindikasi..................................................................................26

I. Komplikasi.........................................................................................28

1
Bab 3 Kesimpulan........................................................................................... 32

Daftar Pustaka .................................................................................................33

2
KATA PENGANTAR

Segala puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan yang maha Esa atas

berkatnya penulis dapat menyelesaikan referat dengan judul Lensa kontak.

Penyusunan tugas ini merupakan salah satu tugas yang penulis laksanakan selama

mengikuti kepaniteraan di SMF Mata RS UKI Jakarta.

Penulis mengucapkan terima kepada dr. Jusuf Wijaya, SpM selaku

dokter pembimbing dalam penyelesaian tugas referat ini, terima kasih atas

bimbingan dan waktunya, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas ini.

Akhirnya, penulis berharap semoga referat ini dapat memberikan manfaat

pada pembaca. Penulis menyadari bahwa penyusunan tugas ini masih jauh dari

kesempurnaan. Dalam kesempatan ini penulis mengharapkan kritik dan saran yang

dapat membangun demi kesempurnaan laporan ini.

Jakarta, 09 Juni 2017

3
BAB I

PENDAHULUAN

Lensa kontak merupakan suatu alat yang digunakan untuk perbaikan masalah

refraksi, kosmetik dan untuk tujuan terapeutik, sebagai media refraksi yang buatan

pada permukaan anterior mata manusia. 1

Sejarah pembuatan lensa kontak; lensa kontak ditemukan oleh Leonardo da

Vinci pada 1508. Dia menggambarkan gelas cangkir yang mengandung air

ditempatkan di atas mata, menghilangkan kornea sebagai permukaan bias. Kemudian

oleh Zeis, tahun 1920 memproduksi satu set lensa kontak yang dapat digunakan

untuk memperbaiki keratoconus. Pada tahun 1929 oleh Heine dijelaskan metode pas

lensa kontak melalui serangkaian uji coba yang terdiri dari sejumlah besar lensa

kontak. Kemudian pada tahun 1937, ada sebuah terobosan oleh William Feinbloom,

sebuah plastik digunaan di Amerika dalam pembuatan lensa kontak. Dan setahun

sebelumnya pada tahun 1936 Rohm dan Hass memperkenalkan transparan metal

metakrilat. Kemudian pada tahun 1960 Wichetrle menemukan lensa kontak lunak,

lensa yang terbuat dari bahan hidrofilik. 2,3

Pada tahun 2004, diperkirakan sekitar 125 juta orang (2%) menggunakan

lensa kontak di seluruh dunia. Sekitar 35 juta orang di Amerika Serikat memakai

lensa kontak, diantaranya 20% untuk tujuan koreksi refraksi. Lensa kontak digunakan

untuk memperbaiki visual dan kegunaan kosmetik sebagai alternatif untuk kacamata.

Sekitar 85% orang menggunakan lensa kontak karena kenyamanan. Lensa kontak

4
mirip seperti kornea mata, lapisan luar yang transparan pada mata. Lensa kontak

terbuat dari hidrofilik, plastik yang menyerap cairan.1

Secara umum alasan pasien dalam mencari perawatan mata adalah untuk

mengoptimalkan ketajaman visual. Pasien akan mnggunakan perawatan mata untuk

beberapa bentuk koreksi bias dan kelainan refraksi lainnya. Lensa kontak telah

digunakan terutama untuk menetralisir kesalan bias, selama lebih dari 100 tahun, dan

telah mencapai kesuksesan dalam beberapa dekade terakhir.

5
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Kornea

1. Anatomi Kornea

Kornea adalah salah satu bagian dari mata dengan jaringan transparan yang

strukturnya sebanding dengan kristal sebuah jam tangan kecil. Pada kornea

dewasa rata-rata memiliki diameter horizontal sekitar 11,75 mm dan vertikalnya

10,6 mm. Kornea merupakan lapis jaringan yang menutup bola mata sebelah

depan dan terdiri atas lapisan epitel, lapisan bowman, stroma, membran

descement, dan lapisan endotel (Gambar 2.2). Batas antara sklera dan kornea

disebut limbus kornea. Kornea dipersarafi oleh banyak saraf sensorik terutama

berasal dari saraf siliar longus, saraf nasosiliar, saraf ke V, saraf siliar longus

berjalan supra koroid, masuk ke dalam stroma kornea, menembus membran

bowman melepaskan selubung Schwannnya. Sumber nutrisi kornea adalah

pembuluh-pembuluh darah limbus, humour aquous dan air mata. Kornea

superfisial juga mendapat oksigen sebagian besar dari atmosfer.4,5

Fungsi dari kornea sendiri adalah menerima serta meneruskan cahaya yang masuk

ke mata dan memberikan perlindungan terhadap bagian sensitif mata yang ada di

bawahnya. Cahaya yang diterima kornea akan diteruskan ke bagian dalam mata

yang kemudian berakhir di retina. Kerusakan sel-sel endotel menyebabkan edema

kornea dan hilangnya sifat transparan. Sebaliknya cedera pada epitel hanya

6
menyebabkan edema lokal stroma kornea sesaat yang akan menghilang bila sel-

sel epitel itu telah beregenerasi.6

Sumber :http://bangkudepan.com/anatomi-
bagian-mata-manusia-dan-fungsinya/

Gambar 2.1. Kornea mata

Sumber :https://razimaulana.files.wordpress.com/2008/12/ulkus-
kornea_drrazi.doc
Gambar 2.2. Lapisan kornea

7
2. Fisiologi Kornea

Kornea memiliki tiga fungsi utama yaitu : media refraksi, media transmisi

sinar (400 700 nm), dan fungsi proteksi. 7

Epitel , terdapat dua fungsi utama epitel: (1) membentuk barier antara

dunia luar dengan stroma kornea dan (2) membentuk permukaan refraksi yang

mulus pada kornea dalam interaksinya dengan tear film. Barier dibentuk ketika sel-

sel epitel bergerak dari lapisan basal ke permukaan kornea, secara progresif

berdiferensiasi hingga sel-sel superfisial membentuk dua lapisan sel tipis yang

melingkar yang dihubungkan oleh tight junction (zonula okluden), merupakan

membran yang bersifat semipermiabel dan resistensi tinggi. Barier ini mencegah

masuknya cairan dari tear film ke stroma dan juga melindungi struktur kornea dan

intraokuler dari infeksi oleh patogen. Mikrovili pada hampir seluruh permukaan

superfisial sel-sel epitel dilindungi oleh glikokaliks sehingga dapat berinteraksi

dengan lapisan musin tear film agar permukaan kornea tetap licin. Berbagai proses

metabolik, biokemikal dan fisikal tampaknya mempunyai tujuan primer

mempertahankan keadaan lapisan sel epitel yang berfungsi sebagai barier dan agar

permukaan kornea tetap licin. Permukaan kornea yang licin berperan penting dalam

terbentuknya penglihatan yang jelas.5

Membrana Bowman Membrana Bowman merupakan lapisan superfisial

pada stroma, yang berfungsi sebagai barier terhadap stroma. Kepadatan lapisan

Bowman menghalangi penyebaran infeksi ke dalam stroma yang lebih dalam.

8
Lapisan ini tidak dapat beregenerasi sehingga bila terjadi trauma akan diganti

dengan jaringan parut.6,7

Stroma, tersusun atas matriks ekstraselular seperti kolagen dan

proteoglikan. Matriks ekstraselular ini memegang peranan penting dalam struktur

dan fungsi kornea. Stroma terdiri atas kolagen yang diproduksi oleh keratosit dan

lamella kolagen. Karena ukuran dan bentuknya seragam menghasilkan keteraturan

yang membuat kornea menjadi transparan. Serat-serat kolagen tersusun seperti

lattice (kisi-kisi), pola ini berfungsi untuk mengurangi hamburan cahaya.5

Transparansi juga tergantung kandungan air pada stroma yaitu 70%.

Proteoglikan yang merupakan substansi dasar stroma, memberi sifat hidrofilik pada

stroma. Hidrasi sangat dikontrol oleh barier epitel dan endotel serta pompa endotel.5

Membrana Descemet Membrana Descemet bersifat elastis dan lebih

resisten terhadap trauma dan penyakit, dari pada bagian lain dari kornea.6,7

Endotel Dua faktor yang berkontribusi dalam mencegah edem stroma dan

mempertahankan kandungan air tetap pada 70% adalah fungsi barier dan pompa

endotel. Fungsi barier endotel diperankan oleh adanya tight junction diantara sel-sel

endotel.15 Pompa endotel Stroma kornea memiliki konsentrasi Na+ 134 mEq/L

sedangkan humor aquous 143 mEq/L. Perbedaan osmolaritas tersebut menyebabkan

air berpindah dari stroma ke humor aquous melalui osmosis. Mekanisme ini diatur

oleh pompa metabolik aktif sel-sel endotel. Pompa metabolik ini dikontrol oleh

Na+ / K+ ATPase yang terletak di lateral membrane. Dalam menjalankan fungsinya

pompa endotel tergantung pada oksigen, glukosa, metabolisme karbohidrat dan

9
adenosine triphosphatase. Keseimbangan antara fungsi barier dan pompa endotel

akan mempertahankan keadaan deturgesensi kornea.6

B. Kontak Lensa

1. Definisi Kontak Lensa

Lensa kontak adalah alat bantu dari kaca atau plastik yang

melengkung digunakan langsung diatas bola mata atau kornea mata untuk

memperbaiki kesalahan refraksi mata. Lensa kontak juga dapat didefinisikan

sebagai lensa yang menempel pada mata atau selaput bening yang

dipergunakan seseorang dengan gangguan refraksi untuk memperbaiki

penglihatannya. Pada mata tidak dipergunakan kacamata akan tetapi lensa

yang diatur kelengkungannya sehingga dapat menempel pada kornea mata. 4

2. Jenis- Jenis Kontak Lensa 4,8,9

a. Hard Contact Lens atau Lensa Kontak Keras

Lensa kontak keras adalah jenis lensa yang pertama dikeluarkan pada

tahun 1960-an dibuat dari sejenis plastik yaitu polymethyl methacrylate

(PMMA). Lensa ini sangat tahan lama tapi menghambat oksigen dari udara

untuk mencapai kornea. Jika mata berkedip, maka lensa akan tergeser

sedikit sehingga oksigen menyerap pada lapisan air mata baru dapat

mencapai kornea. Lensa kontak keras ini kurang nyaman dipakai dan sudah

jarang digunakan.

10
b. Soft Contact Lens atau Lensa Kontak Lunak

Lensa kontak lunak adalah jenis lensa yang pembuatannya baru

dilakukan pada akhir tahun 1950 dengan menggunakan poly hydroxyethyl

methacrylate (pHEMA), yaitu sejenis bahan polymer yang dapat

mengandung air. Air tersebut dapat membuat lensa ini lembut dan lebih

flexibel, serta memungkinkan sebagian oksigen mencapai kornea. Bahan

ini masih terus dikembangkan dan digunakan sebagai bahan lensa kontak

hingga masa sekarang ini.

Lensa kontak lunak tersedia untuk pemakaian jangka panjang dan

pemakaian harian. Lensa kontak lunak lebih nyaman dan masa adaptasinya

lebih singkat dibanding lensa kontak keras. Lensa jenis ini hanya

memerlukan waktu beberapa hari untuk penyesuaian. Dalam masa

penyesuaian, pasien mungkin akan sedikit terganggu dengan adanya rasa

mengganjal karena lensa tersebut dirasakan sebagai benda asing oleh mata.

Menggunakan lensa kontak lunak juga kecil kemungkinannya untuk

terlepas ketika melakukan aktivitas yang berlebihan.

c. Rigid Gas Permeable atau RGP

Lensa kontak RGP lebih aman dan nyaman dibandingkan dengan lensa

kontak keras dan lunak tetapi memerlukan waktu adaptasi yang lebih lama.

Waktu adaptasi yang diperlukan untuk lensa RGP sekitar 2-4 minggu.

Lensa ini terbuat dari bahan plastik yang dicampur dengan bahan lain

11
seperti silikon. Bahan plastik ini tipis dan fleksibel sehingga

mempermudah masuknya oksigen ke mata.

Lensa RGP bersifat mudah dilalui oleh oksigen sehingga kornea mata

lebih berfungsi dengan baik. Pada lensa ini, oksigen bukan hanya didapat

pada saat mata berkedip, tetapi sebagian oksigen juga diperoleh dari udara

bebas yang dapat melalui lensa untuk mencapai kornea. Hal ini

menyebabkan lensa RGP lebih nyaman digunakan untuk waktu yang lama.

Pada saat ini lensa RGP lebih sering dipakai dengan alasan faktor

keamanan dan kenyamanan.

C. Fungsi Kontak Lensa

Fungsi dari lensa kontak bermacam-macam mulai dari yang digunakan sebagai

alat bantu penglihatan sampai dengan yang ditujukan untuk mempercantik diri. Lensa

kontak dipakai sebagai alat bantu penglihatan untuk mereka yang mempunyai

gangguan refraksi pada mata. Orang yang menderita gangguan mata minus lebih

memilih menggunakan lensa kontak dibanding kacamata, terlebih bagi mata minus

yang ukuran antara mata kiri dan kanannya berbeda lebih dari 2 dioptri. Sebagai

contoh mata sebelah kiri minus 1 dan mata sebelah kanan minus 6. Dalam keadaan

seperti ini kacamata kurang bisa membantu karena ketebalan lensa yang digunakan

mata kiri dan kanan akan sangat berbeda sehingga membuat orang yang mengalami

12
gangguan mata seperti itu akan merasakan penglihatan yang tidak nyaman dan

mengakibatkan sakit kepala pada saat menggunakannya.10,11

Lensa kontak juga dapat digunakan sebagai terapi bandage untuk aplikasi obat

dengan tujuan mempercepat proses penyembuhan luka dan juga melindungi luka

pada kornea. Pada keratokonus yaitu kelainan pada kornea dimana bagian tengah

kornea menipis sehingga kornea berbentuk kerucut dan tidak teratur, pemakaian lensa

kontak terutama lensa kontak keras berfungsi membentuk permukaan baru yang lebih

teratur, menahan perkembangan keratokonus dan mengoreksi kelainan refraksi yang

ada.8,10

Sedangkan lensa kontak yang ditujukan untuk mempercantik diri mempunyai

bermacam-macam warna. Selain itu lensa kontak juga mempunyai bermacam-macam

gambar dengan bentuk yang lucu dan unik, dengan demikian banyak orang yang

tertarik untuk menggunakan lensa kontak karena warna dan gambarnya yang banyak

diminati. Lensa kontak ini di desain untuk merubah penampilan mata sehingga

pemakai lebih terlihat modis dan tampil cantik. Lensa jenis ini juga dapat

mengkoreksi penglihatan tetapi sering terjadi resiko penglihatan kabur dan terjadi

gangguan pada mata. Hal ini disebabkan karena hasil dari warna, ketebalan dan

desainnya sehingga lensa kurang dapat memperbaiki gangguan pada mata dengan

baik.10

13
D. Hard Contact Lens

Bentuk lensa kontak diawali oleh Leonardo Da Vinci yang membuat

sketsa awal dari lensa kontak, tahun 1827 J.F.W. Herschell mendeskripsikan

lensa kontak sebagai kapsul gelas steril berisi jelly dengan permukaan

refraktif dibagian belakangnya dan dapat digunakan untuk kasus kornea yang

irregular. Tahun lahirnya lensa kontak adalah 1888 ketika Adolf Eugene Fick

(Jerman) seorang dokter spesialis mata yang bertugas di Zurich, membuat

studi klinis pertama tentang lensa kontak di ikuti oleh Kalt dan Muller dengan

penggunaan lensa kontak pada keratokonus yang bertujuan untuk

mendatarkan kornea.

Lensa kontak keras adalah jenis lensa yang pertama dikeluarkan pada

tahun 1960-an. Ianya diperbuat daripada sejenis plastik yaitu polymethyl

methacrylate (PMMA) di mana sangat tahan lama namun tidak membenarkan

oksigen dari udara mancapai kornea secara terus. Lensa ini kurang nyaman

dipakai dan sudah jarang digunakan.

E. Soft Contact Lens

1. Jenis Soft Contact Lens


a. Daily Wear (DW)

Lensa kontak ini digunakan pada hari siang dan dikeluarkan,

dibersihkan dan didisinfeksi.

b. Extended Wear (EW)

14
Lensa kontak untuk jangka waktu yang lama yaitu Extended Wear

(EW) merupakan design lensa kontak untuk pemakaian siang dan malam

selama 1 hingga 7 hari, merupakan waktu yang maximum pemakaian lensa

kontak yang dipersetujui oleh FDA (Food and Drug Administration). Lensa

kontak ini harus dikeluarkan, dibersihkan dan didisinfeksi selepas > 1 hari

atau < 7 hari pemakaian. Pada tahun 2001, FDA telah mempersetujui lensa

kontak yang diperbuat daripada silicon hidrogel untuk penggunaan berterusan

selama 30 hari siang dan malam.

Lensa kontak lunak yang DW dan EW diperbuat daripada material

dasar yang sama dan mempunyai nilai permeabilitas oksigen yang sama.

Walaupun nilai adalah cukup untuk DW, tetapi ia adalah 1/3 daripada nilai

yang diperlukan untuk EW. EW mengalami hipoksia dan hidrasi dan

kebersihan yang kurang pada lensa kontak lunak semasa tidur akan

meningkatkan resiko untuk infeksi dan reaksi inflamasi pada jaringan

disebabkan oleh penggunaan lensa kontak untuk jangka waktu yang lama dan

berterusan. Contohnya, terjadi, keratitis mikrobial adalah 10-15 kali lebih

sering pada lensa EW daripada DW.

Disposable Contact Lenses

15
Penggunaan lensa kontak lunak yang sekali pakai telah berkembang

sejak dipasarkan pada tahun 1986. Bahan dasar pembuatannya adalah sama

seperti DW dan EW lensa kontak lunak.

Colored Lenses

Lensa kontak lunak mempunyai warna yang sedikit supaya visual

dapat dipertingkatkan. Lensa kontak lunak yang berwarna gelap adalah untuk

tujuan kosmetik untuk orang yang mempunyai warna iris yang lembut dan

opak untuk orang dengan iris yang gelap. Lensa kontak lunak seperti ini

mempunyai area sentral sekitar 4 mm untuk tujuan penglihatan dan area jelas

pada annular periferal sekitar 1 mm yang bertempat pada sclera.

16
Gambar Lensa Kontak Berwarna

Pemasangan dan Pelepasan Lensa Lunak

Prosedur pemasangan dan pelepasan lensa lunak sebagai berikut:

1) Sebelum melakukan pemasangan atau pelepasan lensa sebaiknya mencuci tangan

dengan air dan sabun, lalu dikeringkan.

17
2) Bersihkan lensa kontak dengan larutan pencuci.

3) Letakkan lensa kontak pada ujung jari telunjuk tangan kanan, yang sebelumnya

sudah dibasahi agar lensa tidak mudah jatuh.

4) Basahi lensa kontak lagi dengan setetes cairan pembasah.

5) Jari tengah tangan kiri menahan kelopak mata atas, dan supaya mata tidak

berkedip, jari tengah tangan kanan menahan kelopak mata bawah.

6) Lensa kontak pada jari telunjuk tangan kanan diletakkan tepat di

kornea.

7) Lepaskan jari telunjuk, lalu lepaskan kelopak mata bawah perlahanlahan,

kemudian kelopak mata atas.

8) Tutup mata, lalu dengan lembut masase kelopak mata.

9) Dengan bantuan mata yang lain, fokuskan letak lensa dengan benar.

10) Ulangi prosedur yang sama pada mata berikutnya.

11) Pada saat pelepasan lensa, pandangan ke depan, jari tengah menahan kelopak

mata bawah.

12) Tarik lensa ke bagian putih mata (konjungtiva bulbi), tarik lensa dengan

menggunakan ibu jari dan jari telunjuk kemudian keluarkan. bersihkan lensa untuk

penggunaan berikutnya.

F. Rigid Gas Permeable

Lensa Kaku Permeabel Gas ( Rigid Gas Permeable Lenses)

18
Lensa kontak ini terbuat dari karet, silikon dan polimer PMMA, bersifat

hampir sama dengan lensa kontak keras, tetapi lebih lunak, lebih fleksibel dan lebih

mudah ditembus gas. Lensa kontak seperti ini umumnya hanya dipakai siang hari

(daily wear), tetapi dapat dipakai selama 24 jam (extended wear) pada keadaan

khusus. Lensa permeable gas ini merupakan lensa pilihan utama untuk mengoreksi

keratokonus dan astigmatisme dan pada kondisi yang memerlukan lensa bifokus atau

multifokus.

Dapat digunakan mengoreksi kelainan astigmat serta kondisi kornea yang

irregular pasca trauma, operasi keratoplasti maupun operasi refraktif (operasi lasik),

dan dapat digunakan untuk mengontrol progesivitas myopia dan juga digunakan

untuk pemakaian lensa jangka lama karena kemampuan transmisi oksigen yang lebih

besar dibandingan lensa kontak jenis lain.

Teknik Pemasangan Lensa RGP

Sebelum memegang lensa kontak terlebih daluhu mencuci tangan.

Gambar 2: Teknik pemasangan Lensa RGP

19
Berdiri menghadap ke cermin.

1) Bersihkan lensa kontak dengan larutan pencuci.

2) Letakkan lensa kontak pada ujung jari telunjuk tangan kanan, yang sebelumnya

sudah dibasahi agar lensa tidak mudah jatuh.

3) Basahi lensa kontak lagi dengan setetes cairan pembasah.

4) Jari tengah tangan kiri menahan kelopak mata atas, dan supaya mata tidah

berkedip, jari tengah tangan kanan menahan kelopak mata bawah.

5) Lensa kontak pada jari telunjuk tangan kanan diletakkan tepat di kornea.

6) Lepaskan kelopak mata bawah perlahan-lahan, kemudian kelopak mata atas.

5,6,8,10

b. Teknik Pelepasan Lensa RGP 3,8

Untuk melepaskan lensa kontak RPG disediakan sebuah karet penghisap.

Gambar 3: Teknik Pelepasan Lensa RGP.

Sebelum melepas lensa kontak, tangan juga harus dicuci dahulu dan berdiri

menghadap cermin.

1) Mata melihat lurus dan berfiksasi dalam cermin.

20
2) Ujung karet penghisap dibersihkan dengan cara dicelupkan ke dalam air bersih

atau aqua.

3) Dekatkan dan tempelkan penghisap tadi ke lensa kontak yang menempel di kornea,

maka dengan sendirinya lensa kontak akan terhisap.

4) Tarik perlahan-lahan hingga keluar mata. Jangan menarik lensa dari karet

penghisap untuk melepaskannya, tetapi geserlah lensa kontak tersebut secara

perlahan-lahan.

Bahan Pembuatan Lens

Cellulose Acetate Butyrate (CAB)

Merupakan bahan yang pertama kali digunakan dalam pembuatan lensa kontak RGP.

Kelebihan CAB adalah kemampuan permeabilitas oksigen yang lebih baik daripada

PMMA. Kekurangannya adalah lebih rapuh, daya tahan pemakaiannya lebih singkat,

dan kualitas penglihatan yang dihasilkan lebih rendah.

Silicon Acrylates (SA)

Silicon Acrylates merupakan generasi selanjutnya bahan pembuatan lensa kontak

RGP. Bahan ini berasal dari copolymerantara silikon dan PMMA. Silicon

mempunyai kemampuan permeabilitas oksigen yang tinggi, akan tetapi silicon

bersifat hidrofobik, terlalu lunak, dan fleksibel. PMMA ditambahkan bertujuan untuk

meningkatkan kelembaban dan membuat lensa kontak lebih kaku. Dengan

21
perbandingan antara PMMA dan silicon 65% dan 35% maka lensa kontak RGP yang

terbentuk akan bersifat kuat, stabil, dan permeabilitas tinggi.

Fluorine Copolymer

Jenis copolymer yang terbaru adalah Fluorosilicone acrylates dan perfluoropolyether.

Fluorine bersifat meningkatkan permeabilitas oksigen saat melalui suatu kelarutan.

Lensa kontak dengan komposisi fluorine memiliki nilai Dk (permeabilitas oksigen)

yang tertinggi dibandingkan bahan pembuatan lensa kontak RGP lainnya sehingga

dapat diberikan dengan diameter yang lebih besar agar lebih nyaman dalam

pemakaiannya dan lebih stabil serta lebih fleksibel daripada silicone acrylate dan

PMMA. Generasi terbaru bahan pembuatan lensa RGP didasarkan pada konsep

biomimesis. Konsep ini meningkatkan biocompatibility bahan agar dapat beradaptasi

dengan baik. Penerapan bahan polimer baru ini diharapkan dapat menghindari efek

samping akibat lensa kontak. Kopolimer polysulphone dengan bahan lensa kontak

yang ada, menghasilkan polimer baru yang lebih stabil, tipis dan biocompatible.

Hanya saja lensa kontak RGP henis ini masih sulit didapatkan.

Keuntungan Lensa kontak RGP

Dapat mengoreksi astigmat karena adanya lapisan yang terbentuk oleh air mata yang

berada diantara permukaan posterior lensa kontak dan kornea. Dapat digunakan untuk

dry eye dan gangguan lapisan air mata. Lensa kontak RGP tidak menyebabkan

adanya deposit karena sifatnya yang water demanding. Mudah dipakai dan dilepas

22
serta lebih ekonomis. Umumnya digunakan untuk pasien astigmat sedang,

keratokonus, dan pasca keratoplasti.

Kerugian Lensa Kontak RGP

Periode adaptasi pemakaian lensa kontak RGP lebih lama dari pada lensa kontak

lunak, tinggal kenyamanan lebih rendah danpada pasien dengan jarak antara palpebra

yang kecil lensa kontak RGP mudah lepas.

Prinsip Fitting Lensa Kontak RGP

Pilihlah lensa kontak RGP yang paling kecil diameternya dan paling tipis, karena

dapat memberikan kualitas penglihatan yang lebih baik dan meminimalkan

rangsangan pada kelopak mata dan meningkatkan transmisi oksigen.

Jauhi apeks kornea, keadaan ini ditunjukkan oleh gambaran fluoresin minimal

clearance pada apeks. Apabila lensa kontak menyentuh apeks kornea maka akan

memberikan keluhan penglihatan kabur, ketidaknyamanan, dan terkadang tarikan

pada kornea.

Hubungan diameter kornea dan diameter lensa kontak, pada pasien hipermetropia

kornea cenderung kecil sehingga dipilih lensa kontak dengan diameter kecil dan fit

steeper. Sedangkanpada pasien myopia kornea cenderung lebih besar sehingga lensa

kontak RGP dengan diameter lebig besar dan fit flatter.

23
Penting untuk mengetahui posisi lensa kontak RGP, posisi uperior merupakan posisi

ideal bagi lensa kontak RGP. Pada posisi ini bagian tepi dari lensa kontak terlindungi

oleh mata sehingga mengurangi gesekan dan memudahkan sirkulasi air mata ketika

berkedip. Karena posisinya yang sebagian dibawah kelopak mata atas makan maka

pada posisi ini diameter lensa kontak RGP haruslah lebih.

Pada posisi sentral lensa kontak berada diantara kelopak mata atas dan bawah. Pada

posisi ini lensa kontak haruslah fit steep untuk meminilmalisasi gerakan lensa kontak.

Diameter lebih kecil dan tepi lensa kontak yang lebih tipis agar tidak terganggu saat

berkedip.

Posisi inferior ini jarang dianjurkan , apabila digunakan lensa kontak yang dipilih

haruslah memiliki diameter yang besar agar dapat menutup pupil. Fit Steep berguna

untuk membatasi gerakan yang berlebihan.

Indikasi Lensa Kontak RGP

Lensa kontak RGP dapat digunakan pada keadaan dry eye, dapat mengoreksi

kelainan astigmat, serta kondisi kornea yang irregular paska trauma, operasi

keratoplasti maupun operasi refraktif, dapat digunakan untuk mengontrol

progresivitas myopia dan dapat digunakan untuk pemakaian lensa jangka lama karena

kemampuan transmisi oksigen yang lebih besar disbanding lensa kontak jenis lain.

24
Kontraindikasi Lensa Kontal RGP

Adanya kelainan pada korne atau konjungtiva (keratitis dan pterigium), penggunaan

obat-obatan yang data menghambat produksi air mata, penyakit endokrin (tiroid,

diabetes), blefaritis, disfungsi kelenjar Meibomian, dan olahraga.

G. Indikasi

Indikasi penggunaan lensa kontak adalah sebagai berikut:

a. Indikasi optik Digunakan pada anisometropia, aphakia unilateral, myopia

yang berminus tinggi, keratokonus dan astigmatisma irregular. Lensa

kontak dapat digunakan oleh setiap orang yang memiliki kelainan refraksi

mata dengan tujuan kosmetik.

b. Indikasi terapeutik

1. Penyakit pada kornea, contohnya ulkus kornea non-healing,

keratopathi bullousa, keratitis filamentari, dan sindrom erosi kornea

yang rekuren.

2. Penyakit pada iris mata, contohnya aniridia, koloboma, albino

untuk menghindari kesilauan cahaya.

25
3. Pada pasien glukoma, lensa kontak digunakan sebagai alat

pengantar obat.

4. Pada pasien ambliopia, lensa kontak opak digunakan untuk oklusi.

5. Bandage soft contact lenses digunakan untuk keratoplasti dan

perforasi mikrokornea.

c. Indikasi preventif Digunakan untuk prevensi simblefaron dan restorasi

forniks pada penderita luka bakar akibat zat kimia, keratitis, dan trichiasis.

d. Indikasi diagnostik Digunakan selama menggunakan gonioskopi,

elektroetinografi, pemeriksaan fundus pada astigmatisma irregular, fundus

fotografi,

e. Indikasi operasi Lensa kontak digunakan selama operasi goniotomi untuk

glukoma congenital, vitrektomi, fotokoagulasi endokular.

f. Indikasi kosmetik Digunakan apabila terdapat skar pada kornea mata yang

menyilaukan mata (lensa kontak warna), ptosis, lensa sclera kosmetik pada

phthisis bulbi.

g. Indikasi occupational Occupational seperti olahragawan, pilot dan actor.

H. Kontraindikasi

26
Kontraindikasi penggunaan lensa kontak, sebelum memilih lensa kontak

untuk tujuan koreksi mata, adalah penting untuk mengevaluasi motivasi pasien,

kebutuhan mata, dan riwayat penyakit mata. Pasien yang tidak termotivasi, cenderung

tidak mematuhi metode dan rejimen perawatan lensa kontak, dan ini menempatkan

mereka pada risiko yang lebih besar terhadap komplikasinya .

a. Peradangan akut atau subakut pada segmen anterior mata

b. Infeksi mata akut dan kronis

c. Setiap penyakit mata yang mempengaruhi kornea, konjungtiva, dan kelopak

mata, misalnya: kelainan epitel (epithelial fragility), kelainan pada endotel,

mata kering (dry eye syndrome), alergi, pinguekula dan pterigium

d. Hipesthesia kornea

e. Glaukoma yang tidak terkontrol

f. Vitreocorneal pada aphakia (mata tanpa lensa)

g. Intoleransi psikologis

h. Lingkungan kerja yang terpapar dengan debu dan kotor.

i. Ketidak mampuan untuk menangani dan merawat lenasa dengan benar

I. Komplikasi

Berikut komplikasi berdasarkan anatomi mata:

27
a. Kelopak mata

1.) Ptosis

Ini timbul akibat adanya massa pada lensa, skar, jaringan fibrosa di kelopak

mata. Lensa kontak yang menempel pada kornea mata juga akan membentuk skar dan

kontraksi pada jaringan kelopak mata yang mengakibatkan retraksi pada kelopak

mata. Ptosis juga dapat timbul akibat dari giant papillary conjunctivitis yang berat.

2.) Alergi kontak

Merupakan reaksi hipersensitivitas dermatitis kontak akibat dari zat-zat kimia

host yang didapati dari larutan lensa kontak. Manifestasi klinisnya adalah rasa gatal

yang diikuti dengan adanya injeksi, rasa terbakar, merah, berair, secret mukoid, dan

chemosis. Sebagai tambahan kelopak mata bisa edema dan eritema.

3.) Giant papilae pada palpebra

Untuk lensa RGP, Giant papilae conjunctivitis mudah berpindah dari kornea

ke forniks atas. Jika tidak dapat dideteksi, maka lensa akan mengikis forniks

melewati konjungtiva dan membawanya ke dalam jaringan yang lembut di kelopak

mata, dan akan menimbulkan gejala yang relatif asimptomatik. Akibatnya, jaringan

yang disekitar lensa kontak akan mengalami iritasi dan inflamasi, dan menimbulkan

abses yang steril. Lensa yang dianggap sebagai benda asing akan terbentuk jaringan

granulasi disekitar lensa, dan membungkusnya seperti bentuk kista. Apabila terdapat

giant papillae pada palpebra superior,maka akan terjadi gejala seperti rasa gatal dan

pengeluaran sekret mukoid.

28
b. Konjungtiva

1.) Giant papillary conjunctivitis (GPC)

Rata-rata 1-3% pengguna lensa kontak akan mendapatkan simptom GPC yang

kompleks, terdiri dari injeksi konjungtiva, sekret mukoid, gatal, debris pada tear film,

lapisan lensa, pandangan kabur, dan pergerakan lensa yang berlebihan.

GPC adalah komplikasi yang tersering timbul akibat penggunaan soft lens. Ini timbul

akibat salah satu dari 3 faktor yaitu peningkatan frekuensi pemakaian lensa,

penurunan lama pemakaian lensa kontak, perubahan larutan pembersih yang kuat.

Pengguna harus mengurangkan jangka waktu pemakaian dan mengunakan Mast-Cell

Stabilizer (cth, natrium kromolin 4x/hari).

2.) Contact lens-induced superior limbic keratoconjunctivits (CL-ISLK)

Merupakan suatu reaksi imun pada konjungtiva perifer. Manifestasi klinisnya

adalah penebalan konjungtiva, eritema, dan timbul berbagai warna pada konjungtiva

bulbaris superior. Sel epitelium keratinisasi akan berisi banyak sel-sel goblet yang

diinvasi oleh neutrofil. Akibatnya akan terasa seperti ada benda asing, fotofobia,

berair, rasa terbakar, gatal, dan penurunan akuitas visual.

c. Epitelium Kornea

1) Kerusakan epitel yang mekanik

Lensa kontak merupakan benda asing yang akan menggosok kornea

dan menekan epitel kornea setiap mengedipkan mata sepanjang hari dan

menimbulkan abrasi kornea. Jika tidak dikenali dan diobati akan

29
mengakibatkan stres pada epitel yang kronis. Kerusakan epitel akan

memudahkan bakteri menempel pada kornea dan mengakibatkan infeksi

stroma, serta menstimulasi sub-epitel fibrosa tanpa adanya infeksi.

2.) Chemical epithelial defect.

Berbagai larutan kimia lensa kontak akan menimbulkan kerusakan

epitel ditandai dengan adanya erosi. Larutan pembersih surfaktan biasanya

akan menyebabkan nyeri, merah, fotopobia, dan berair, segera setelah

dibersihkannya lensa. Gejala ini akan hilang dalam 1-2 hari. Jika hidroksi

peroksida diteteskan ke mata, maka akan timbul gelembung-gelembung gas

pada intra-epitel dan sub-epitel. Gelembung ini terlihat dan menyebabkan

hilangnya penglihatan secara signifikan yang bersifat temporer, dan hidroksi

peroksida juga menyebabkan perubahan refraksi permanen dan larutan

desinfeksi kimia dapat merusak epitel yang tidak terlihat dan bersifat

intermiten.

3.) Hypoxia.

Kebutuhan oksigen di kornea mata dipengaruhi karena lapisan lensa

kontak mengurangi jumlah oksigen yang masuk. Hipoksia yang ringan

mengakibatkan edema epitel dan penglihatan kabur yang temporer, sedangkan

hipoksia berat akan terjadi kematian sel-sel epitel dan deskuamasi. Pengguna

tidak merasa nyaman, penurunan penglihatan temporer, dan fotopobia. Salah

satu tanda hipoksia kornea kronis adalah adanya neovaskularisasi superfisial

terutama sepanjang limbus superior. Epitel kornea yang lebih tipis

30
dibandingkan lensa kontak menyebabkan hipoksia yang kronis dan

menurunkan aktivitas mitosis. Pembentukan sel-sel epitel menurun,

ukurannya membesar, dan memudahkan menempelnya Pseudomonas

aeruginosa pada permukaan sel epitel.

4.) Reaksi imun superfisial.

Variasi larutan lensa kontak dapat menimbulkan toksik superfisial atau

reaksi imun. Ditandai dengan adanya keratophati, injeksi konjungtiva, berair,

gatal dan chemos.

31
BAB III

KESIMPULAN

Kontak Lensa digunakan untuk memperbaiki visual dan kegunaan kosmetik

sebagai alternatif untuk kacamata.Sekitar 85% menggunakan contact lens karena

kenyamanan yang baik. Lensa kontak mirip seperti kornea, lapisan luar yang

transparan pada mata. Lensa lunak terbuat dari hidrofilik,plastik yang menyerap

cairan.Jika bahan-bahan ini menyerap air, lensa akan menjadi kenyal dan lembut.

Pengunaan utama lensa kontak adalah untuk koreksi myopia, tetapi lensa kontak juga

dapat digunakan untuk koreksi hiperopia,astigmatism,presbiopia, dan afakia.

Beberapa tipe lensa kontak yang dapat digunakan sebagai pilihan pada saat

ini adalah lensa kontak lunak (soft contact lenses), lensa kaku permeable gas

(rigid gas permeable lenses), lensa kontak keras. Penggunaan lensa kontak harus

dilakukan secara benar, serta harus dilakukan perawatan secara reguler, sehingga

dapat menghindari komplikasi yang dapat saja timbul. Beberapa komplikasi yang

dapat terjadi akibat penggunaan lensa kontak antara lain kelainan pada kornea, seperti

keratitis, ulkus kornea; mata merah, dapat terjadi karena cara pemasangan lensa

kontak yang tidak benar atau infeksi sekunder oleh penggunaan lensa kontak. oleh

karena itu penggunaan lensa kontak harus dengan indikasi yang benar, cara

pemasangan yang benar, dan perawatan lensa yang

teratur.

32
Daftar pustaka

1. Oxford American Handbook of ophthalmology, James C.T-Sai,Ala-Stair K.O

Denniston, Pg 215-216.

2. Wahyuni I,Saleh T.2007.Jurnal opthalmologi Indonesia Vol 5 no 3:Fitting lensa

kontak RGP.Fakultas kedokteran Universitas Airlangga,surabaya.

3. Sulley, Anna. 2005. Contact Lens Fitting Today, Part 2: Soft Contact Lens Fitting.

Association of Optometrics Ireland

33