Anda di halaman 1dari 5

Qaulan Sadiidaa untuk Anak Kita

oleh Salim A. Fillah dalam Inspirasi. 16/12/2011

Remaja. Pernah saya menelusur, adakah kata itu dalam peristilahan agama kita?

Ternyata jawabnya tidak. Kita selama ini menggunakan istilah remaja untuk menandai suatu masa dalam perkembangan manusia.

Di sana terjadi guncangan, pencarian jatidiri, dan peralihan dari kanak-kanak menjadi dewasa. Terhadap masa-masa itu, orang

memberi permakluman atas berbagai perilaku sang remaja. Kata kita, Wajar lah masih remaja!

Jika tak berkait dengan taklif agama, mungkin permakluman itu tak jadi perkara. Masalahnya, bukankah aqil dan baligh menandai

batas sempurna antara seorang anak yang belum ditulis amal dosanya dengan orang dewasa yang punya tanggungjawab terhadap

perintah dan larangan, juga wajib, mubah, dan haram? Batas itu tidak memberi waktu peralihan, apalagi berlama-lama dengan

manisnya istilah remaja. Begitu penanda baligh muncul, maka dia bertanggungjawab penuh atas segala perbuatannya; amal

shalihnya berpahala, amal salahnya berdosa.

Ismail alaihissalaam, adalah sebuah gambaran bagi kita tentang sosok generasi pelanjut yang berbakti, shalih, taat kepada Allah

dan memenuhi tanggungjawab penuh sebagai seorang yang dewasa sejak balighnya. Masa remaja dalam artian terguncang,

mencoba itu-ini mencari jati diri, dan masa peralihan yang perlu banyak permakluman tak pernah dialaminya. Ia teguh, kokoh, dan

terbentuk karakternya sejak mula. Mengapa? Agaknya Allah telah bukakan rahasia itu dalam firmanNya:

Dan hendaklah takut orang-orang yang meninggalkan teturunan di belakang mereka dalam keadaan lemah yang senantiasa mereka

khawatiri. Maka dari itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengatakan perkataan yang lurus benar.

(QSnAn Nisaa 9)

Ya. Salah satu pinta yang sering diulang Ibrahim dalam doa-doanya adalah mohon agar diberi lisan yang shidiq. Dan lisan shidiq

itulah yang agaknya ia pergunakan juga untuk membesarkan putera-puteranya sehingga mereka menjadi anak-anak yang tangguh,

kokoh jiwanya, mulia wataknya, dan mampu melakukan hal-hal besar bagi ummat dan agama.

Nah, mari sejenak kita renungkan tiap kata yang keluar dari lisan dan didengar oleh anak-anak kita. Sudahkah ia memenuhi syarat

sebagai qaulan sadiidaa, kata-kata yang lurus benar, sebagaimana diamanatkan oleh ayat kesembilan Surat An Nisaa? Ataukah

selama ini dalam membesarkan mereka kita hanya berprinsip asal tidak menangis. Padahal baik agama, ilmu jiwa, juga ilmu

perilaku menegaskan bahwa menangis itu penting.


Kali ini, izinkan saya secara acak memungut contoh misal pola asuh yang perlu kita tataulang redaksionalnya. Misalnya ketika

anak tak mau ditinggal pergi ayah atau ibunya, padahal si orangtua harus menghadiri acara yang tidak memungkinkan untuk

mengajak sang putera. Jika kitalah sang orangtua, apa yang kita lakukan untuk membuat rencana keberangkatan kita berhasil tanpa

menyakiti dan mengecewakan buah hati kita?

Saya melihat, kebanyakan kita terjebak prinsip asal tidak menangis tadi dalam hal ini. Kita menyangka tidak menangis berarti

buah hati kita tidak apa-apa, tidak keberatan, dan nanti juga lupa. Betulkah demikian? Agar anak tak menangis saat ditinggal

pergi, biasanya anak diselimur, dilenabuaikan oleh pembantu, nenek, atau bibinya dengan diajak melihat umpamanya- ayam,

Yuk, kita lihat ayam yuk.. Tu ayamnya lagi mau makan tu! Ya, anak pun tertarik, ikut menonton sang ayam. Lalu diam-diam

kita pergi meninggalkannya.

Si kecil memang tidak menangis. Dia diam dan seolah suka-suka saja. Tapi di dalam jiwanya, ia telah menyimpan sebuah pelajaran,

Ooh.. Aku ditipu. Dikhianati. Aku ingin ikut Ibu tapi malah disuruh lihat ayam, agar bisa ditinggal pergi diam-diam. Kalau begitu,

menipu dan mengkhianati itu tidak apa-apa. Nanti kalau sudah besar aku yang akan melakukannya!

Betapa, meskipun dia menangis, alangkah lebih baiknya kita berpamitan baik-baik padanya. Kita bisa mencium keningnya penuh

kasih, mendoakan keberkahan di telinganya, dan berjanji akan segera pulang setelah urusan selesai insyaallah. Meski menangis,

anak kita akan belajar bahwa kita pamit baik-baik, mendoakannya, tetap menyayanginya, dan akan segera pulang untuknya. Meski

menangis, dia telah mendengar qaulan sadiida, dan kelak semoga ini menjadi pilar kekokohan akhlaqnya.

Di waktu lain, anak yang kita sayangi ini terjatuh. Apa yang kita katakan padanya saat jatuhnya? Ada beberapa alternatif. Kita bisa

saja mengatakan, Tuh kan, sudah dibilangin jangan lari-lari! Jatuh bener kan?! Apa manfaatnya? Membuat kita sebagai orangtua

merasa tercuci tangan dari salah dan alpa. Lalu sang anak akan tumbuh sebagai pribadi yang selalu menyalahkan dirinya sepanjang

hidupnya.

Atau bisa saja kita katakan, Aduh, batunya nakal yah! Iih, batunya jahat deh, bikin adek jatuh ya Sayang? Dan bisa saja anak kita

kelak tumbuh sebagai orang yang pandai menyusun alasan kegagalan dengan mempersalahkan pihak lain. Di kelas sepuluh SMA,

saat kita tanya, Mengapa nilai Matematikamu cuma 6 Mas? Dia tangkas menjawab, Habis gurunya killer sih Ma. Lagian, kalau

ngajar nggak jelas gitu.


Atau bisa saja kita katakan, Sini Sayang! Nggak apa-apa! Nggak sakit kok! Duh, anak Mama nggak usah nangis! Nggak apa-apa!

Tu, cuma kayak gitu, nggak sakit kan? Sebenarnya maksudnya mungkin bagus: agar anak jadi tangguh, tidak cengeng. Tapi

sadarkah bahwa bisa saja anak kita sebenarnya merasakan sakit yang luar biasa? Dan kata-kata kita, telah membuatnya mengambil

pelajaran; jika melihat penderitaan, katakan saja Ah, cuma kayak gitu! Belum seberapa! Nggak apa-apa! Celakanya, bagaimana

jika kalimat ini kelak dia arahkan pada kita, orangtunya, di saat umur kita sudah uzur dan kita sakit-sakitan? Nggak apa-apa Bu,

cuma kayak gitu. Jangan nangis ah, sudah tua, malu kan? Akankah kita kutuk dia sebagai anak durhaka, padahal dia hanya

meneladani kita yang dulu mendurhakainya saat kecil?

Ah.. Qaulan sadiida. Ternyata tak mudah. Seperti saat kita mengatakan untuk menyemangati anak-anak kita, Anak shalih masuk

surga.. Anak nakal masuk neraka.. Betulkah? Ada dalilnya kah? Padahal semua anak jika tertakdir meninggal pasti akan menjadi

penghuni surga. Juga kata-kata kita saat tak menyukai keusilan baca; kreativitas-nya semisal bermain dengan gelas dan piring

yang mudah pecah. Kita kadang mengucapkan, Hayo.. Allah nggak suka lho Nak! Allah nggak suka!

Sejujurnya, siapa yang tak menyukainya? Allah kah? Atau kita, karena diri ini tak ingin repot saja. Alangkah lancang kita

mengatasnamakan Allah! Dan alangkah lancang kita mengenalkan pada anak kita satu sifat yang tak sepantasnya untuk Allah

yakni, Yang Maha Tidak Suka! Karena dengan kalimat kita itu, dia merasa, Allah ini kok sedikit-sedikit tidak suka, ini nggak

boleh, itu nggak benar.

Alangkah agungnya qaulan sadiida. Dengan qaulan sadiida, sedikit perbedaan bisa membuat segalanya jauh lebih cerah. Inilah

kisah tentang dua anak penyuka minum susu. Anak yang satu, sering dibangunkan dari tidur malas-malasannya oleh sang ibu

dengan kalimat, Nak, cepat bangun! Nanti kalau bangun Ibu bikinkan susu deh! Saat si anak bangun dan mengucek matanya, dia

berteriak, Mana susunya! Dari kejauhan terdengar adukan sendok pada gelas. Iya. Sabar sebentaar! Dan sang ibupun tergopoh-

gopoh membawakan segelas susu untuk si anak yang cemberut berat.

Sementara ibu dari anak yang satunya lagi mengambil urutan kerja berbeda. Sang ibu mengatakan begini, Nak, bangun Nak. Di

meja belajar sudah Ibu siapkan susu untukmu! Si anakpun bangun, tersenyum, dan mengucap terimakasih pada sang ibu.

Ibu pertama dan kedua sama capeknya; sama-sama harus membuat susu, sama-sama harus berjuang membangunkan sang putera.

Tapi anak yang awal tumbuh sebagai si suka pamrih yang digerakkan dengan janji, dan takkan tergerak oleh hal yang jika dihitung-
hitung tak bermanfaat nyata baginya. Anak kedua tumbuh menjadi sosok ikhlas penuh etos. Dia belajar pada ibunya yang tulus;

tak suka berjanji, tapi selalu sudah menyediakan segelas susu ketika membangunkannya.

Ya Allah, kami tahu, rumahtangga Islami adalah langkah kedua dan pilar utama dari dawah yang kami citakan untuk mengubah

wajah bumi. Ya Allah maka jangan Kau biarkan kami tertipu oleh kekerdilan jiwa kami, hingga menganggap kecil urusan ini. Ya

Allah maka bukakanlah kemudahan bagi kami untuk menata dawah ini dari pribadi kami, keluarga kami, masyarakat kami, negeri

kami, hingga kami menjadi guru semesta sejati.

Ya Allah, karuniakan pada kami lisan yang shidiq, seperti lisan Ibrahim. Karuniakan pada kami anak-anak shalih yang kokoh

imannya dan mulia akhlaqnya, seperti Ismail. Meski kami jauh dari mereka, tapi izinkan kami belajar untuk mengucapkan qaulan

sadiida, huruf demi huruf, kata demi kata.. Aamiin..

sepenuh cinta,

Salim A. Fillah

Doa Empat Ribu Tahun


oleh Salim A. Fillah dalam Rajutan Makna. 07/06/2013

Ya RasulaLlah, begitu suatu hari para sahabat bertabik saat mereka menatap wajah beliau yang purnama, Ceritakanlah tentang

dirimu.

Dalam riwayat Ibn Ishaq sebagaimana direkam Ibn Hisyam di Kitab Sirah-nya; kala itu Sang Nabi ShallaLlahu Alaihi wa

Sallam menjawab dengan beberapa kalimat. Pembukanya adalah senyum, yang disusul senarai kerendahan hati, Aku hanyasanya

doa yang dimunajatkan Ibrahim, Alaihissalam..

Doa itu, doa yang berumur 4000 tahun. Ia melintas mengarungi zaman, dari sejak lembah Makkah yang sunyi hanya dihuni Ismail

dan Ibundanya hingga saat 360 berhala telah menyesaki Kabah di seluruh kelilingnya. Doa itu, adalah ketulusan seorang moyang

untuk anak-cucu. Di dalamnya terkandung cinta agar orang-orang yang berhimpun bersama keturunannya di dekat rumah Allah itu

terhubung dan terbimbing dari langit oleh cahayaNya.


Duhai Rabb kami, dan bangkitkan di antara mereka seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri; yang akan membacakan atas

mereka ayat-ayatMu, mengajarkan Al Kitab dan Al Hikmah, serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkau Maha Perkasa lagi

Maha Bijaqksana. (QS Al Baqarah [2]: 129)

Kata adalah sepotong hati, ujar Abul Hasan Ali An Nadwi, maka doa adalah setetes nurani. Ia disuling dari niat yang haru dan

getar lisan yang syahdu. Ia dibisikkan dengan tadharru dan khufyah; dengan berrendah-rendah mengakui keagungan Allah dan

berlirih-lirih menginsyafi kelemahan diri. Dalam diri Ibrahim, kekasih Ar Rahman itu, doanya mencekamkan gigil takut, gerisik

harap, dan getar cinta.

Maka dari doa itu kita belajar; bahwa yang terpenting bukan seberapa cepat sebuah munajat dijawab, melainkan seberapa lama ia

memberi manfaat. Empat ribu tahun itu memang panjang. Tapi bandingkanlah dengan hadirnya seorang Rasul yang tak hanya

diutus untuk penduduk Makkah, tapi seluruh alam; menjadi rahmat bukan hanya bagi anak-turunnya, tapi semesta; membacakan

ayatNya bukan hanya dalam kata, tapi dengan teladan cahaya; mensucikan jiwa bukan hanya bagi yang jumpa, tapi juga yang

merindunya; dan mengajarkan Kitab serta Hikmah bukan hanya tuk zamannya, tapi hingga kiamat tiba.

Dari doa itu kita belajar; bahwa Allah Maha Pemurah; tak dimintaipun pasti memberi. Maka dalam permohonan kita, bersiaplah

menerima berlipat dari yang kita duga. Allah Maha Tahu; maka berdoa bukanlah memberitahu Dia akan apa yang kita butuhkan.

Doa adalah bincang mesra, agar Dia ridhai untuk kita segala yang dianugrahkanNya.

Dalam syukur pada 2 orang yang disebut Uswatun Hasanah itu, kita teringat shalawat yang diajarkan Muhammad ShallaLlahu

Alaihi wa Sallam dengan rendah hati; mengenang bapak para Nabi yang atas doanyalah beliau diutus. Maka tiap kebaikan yang

dipancarkan Muhammad hingga hari kiamat, Ibrahim memegang sahamnya.

Dan kita yang rindu pada Sang Nabi untuk disambut di telaganya, diberi minum dengan tangannya, dinaungi bersamanya, dan

beroleh syafaatnya; mari tak bosan membaca, Allahumma shalli ala Muhammad, wa ala Ali Muhammad; kama shallaita ala

Ibrahim wa ala Ali Ibrahim..

sepenuh cinta {dimuat dalam UMMI edisi Juni}

Salim A. Fillah