Anda di halaman 1dari 3

Sebuah Pelajaran untuk Pemimpin dari Hudaibiyah

DZAHABIE APRIL 6, 2016 0 COMMENTS

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata tentang hikmah yang terkandung dalam perang
(peristiwa) Hudaibiyah, Sungguh sangat besar dan agung hikmah yang terkandung di
dalamnya. Hanya Allah saja yang tahu. Dia-lah yang menciptakan sebab-sebabnya yang
penuh dengan kebajikan. Sehingga tercapailah tujuan dari hikmah tersebut. Segala puji bagi-
Nya.

Banyak hikmah yang terkandung dalam peristiwa ini. Ibnul Qayyim rahimahullah dalam
Zaad Al-Maad dan Muhammad ibn Abdul Wahab dalam Mukhtasharnya membahas secara
khusus tentang hikmah di balik peristiwa ini. Kurang lebih ada 139 pelajaran dan hikmah dari
peristiwa tersebut. Berikut hanya sebagian kecil faedah yang diangkat dari perang
Hudaibiyah, sebagai pembelajaran buat kita kaum muslimin yang menjadi pemimpin bagi
dirinya.

1. Optimisme

Ini adalah perjalanan kaum muslimin ke Baitullah Haram Mekkah pada akhir tahun ke-6 H
untuk melaksanakan umroh sejak mereka tiba di Madinah. Hanya saja mereka tidak
mendapatkan izin dari pihak Quraisy untuk memasuki Kota Mekkah. Kaum muslimin
tertahan di Hudaibiyah dekat dengan Mekkah. Rasulullah mengutus Utsman bin Affan untuk
bernegosiasi dengan pihak Quraisy. Hasilnya, pihak Quraisy pun mengirimkan kembali
beberapa negosiator untuk berunding. Diantara utusan Quraisy kepada Rasulullah adalah
Suhail bin Amr.

Ketika Suhail bin Amr datang, lalu Rasulullah melihatnya dan berkata, Semoga Allah
memudahkan urusan kalian. Hal ini mengajarkan kepada kita untuk bersikap optimis dalam
segala keadaan.

2. Talk less do more

Wajar kaum muslimin sangat kecewa dengan hasil perjanjian. Mereka masih belum paham
apa makna di balik perjanjian tersebut. Semua merasa bingung menghadapi keanehan yang
datang secara tiba-tiba. Beberapa saat setelah selesai dari penandatanganan perjanjian
tersebut Rasulullah berkata, Bangunlah! Sembelihlah hewan Qurban dan bercukurlah!
Beliau mengulangi perintah tersebut sebanyak tiga kali, namun tak ada yang bergerak
melaksanakan perintah tersebut. Beliapun meninggalkan para sahabatnya dan masuk
menemui Ummu Salamah radhiyallahu anha. Kemudian beliau menceritakan apa yang
terjadi.

Ummu Salamah seorang wanita yang cerdas, ia menyarankan kepada Rasulullah sebuah saran
yang jitu. Temuilah kembali mereka, jangan berbicara kepada siapapun hingga engkau
menyembelih sendiri qurbanmu. Panggillah tukang cukur untuk mencukurmu. Ketika
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam menjalankan saran tersebut, para sahabat pun
bergegas untuk memotong rambut mereka dan menyembelih qurbannya.

Ini menunjukkan betapa pentingnya keteladanan yang baik. Sebuah tindakan nyata
memberikan efek pengaruh yang besar ketimbang hanya sebuah ucapan belaka. Perbuatan
seorang pemimpin di depan bawahannya adalah teladan bagi mereka. Seorang ayah di
rumahnya adalah teladan bagi anak-anaknya. Mereka akan melihat kemudian terpengaruh
oleh perilaku ayah mereka. Untuk itulah kita sebagai seorang muslim adalah dai yang
mengajak kepada kebenaran. Sudah sepatutnya untuk memperhatikan perilaku dan
menjadikannya modal dakwah dalam rangka memberikan keteladanan yang baik bagi
masyarakat sekitar.

3. Memberikan Motivasi

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam menjelaskan tentang keutamaan menggunduli


rambut hingga plontos daripada mencukurnya sebagian, dengan mengulang-ngulang doa agar
mendapatkan curahan rahmat bagi yang menggunduli plontos sebanyak 3 kali. Sementara
yang memendekkan hanya satu kali saja.

Ini merupakan sebuah motivasi yang Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam berikan kepada
para sahabatnya dalam melaksanakan perkara yang lebih baik. Sudah sepantasnya bagi tiap
pemimpin untuk memberikan motivasi kepada yang dipimpinnya.

4. Menepati janji

Dalam kasus penyerahan kembali Abu Jandal bin Suhail bin Amr kepada kaum Musyrikin
ketika ia datang untuk bergabung dengan Muslimin karena terikat dengan perjanjian
Hudaibiyah. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam menepati isi perjanjian tersebut dengan
menyerahkan Abu Jandal, walaupun terasa berat juga bagi Rasul.

Allah memuji kaum mukminin yang menepati janji,

Yaitu orang yang memenuhi janji Allah dan tidak melanggar perjanjian. (Ar-Radu: 20)

Mari kita bandingkan dengan kebanyakan pemimpin pada hari ini. Banyak pemimpin yang
menebar janji-janji indah pada awal masa kampanye, namun pada saat merealisasikannya
hanya melihat kepada yang menguntungkan pihaknya saja. Mana yang untung buat dirinya, ia
realisasikan. Mana yang merugikan ia tinggalkan. Padahal Rasulullah Shalallahu Alaihi
Wasallam telah mencontohkan untuk menepati setiap perjanjian, baik disaat terasa berat
maupun tidak.

5. Tidak gegabah dalam menilai persoalan

Sebagian sahabat tidak menyukai hasil dari perjanjian tersebut. Secara zhahir tampaknya
merugikan kaum muslimin. Namun Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam memiliki
pandangan lain yang ternyata memang membawa kebaikan bagi Islam dan kaum muslimin.
Ibnu Hajar Berkata tentang kemenangan ini, Secara zhahir memang merendahkan kaum
muslimin, tetapi di balik itu adalah kemenangan bagi mereka. Untuk itulah seorang muslim
tidak boleh gegabah dalam menilai persoalan dan tidak melihat secara zhahirnya saja.
Hendaknya memohon kepada Allah agar selalu diberikan dan ridha terhadap ketentuan-Nya.
Begitulah sedikit pelajaran yang dapat dipetik dari peristiwa Hudaibiyah. Hanya sekelumit
dari kehidupan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam, namun sangat sarat dengan hikmah.
Alangkah indahnya jika seorang pemimpin muslim meneladani Rasulullah Shalallahu Alaihi
Wasallam dalam tiap aspek kehidupannya.

Maraji

1. Prof. Dr. Zaid bin Abdil Karim Az-Zaid. Fikih Sirah Nabawiyah. 2014. Darussunnah:
Jakarta
2. Muhammad Ghazaly. Fiqhussiroh.
3. Shafiyurrahman mubarakfury. Raudhatul Anwar fi sirotin Nabiy al mukhtar.
4. Zekr. Alquran application for windows

*Muhammad Adz Dzahabie, alumni Akademi Siroh angkatan I