Anda di halaman 1dari 2

Musa, Peringatan bagi Firaun di Setiap Zaman

UST. ROFIQ HIDAYAH, LC. APRIL 12, 2016 2 COMMENTS

Kisah Nabi Musa alaihissalam adalah kisah yang paling banyak mendapatkan porsi di dalam Al Quran.
Kisah yang sarat dengan pelajaran dan banyak mengandung ibroh ini amat penting kita pahami untuk
melihat bagaimana kebenaran itu pada akhirnya menggilas kejahatan. Kisah Nabi Musa terdapat di 10
tempat dan disebutkan sebanyak 136 kali dalam Al-Quran.

Saat Perang Hunain, sebagian orang Anshar merasa tidak adil dengan kebijakan Rasulullah shallalahu
alaihi wa sallam dalam membagikan harta rampasan perang. Rasulullah shallalahu alaihi wa
sallam menunjukkan kemarahan ketika ada yang menuduh beliau tidak berlaku adil dalam pembagian
tersebut. Jika Allah dan Rasul-Nya dianggap tidak adil, lantas siapa lagi yang mampu berlaku adil?
Namun, di akhir kalimatnya Rasulullah berkata, Semoga Allah merahmati Musa. Beliau disakiti oleh
kaumnya melebihi dari ini dan mampu bersabar. Ini adalah pelajaran besar bahwa Nabi shallalahu alaihi
wa sallam kita pun mengambil ibrah dari sejarah.

Dalam kisah Nabi Musa terdapat dalam beberapa episode dan masing-masing episode memiliki pelajaran
tersendiri:

1. Firaun, dan ini yang paling banyak. Isinya tentang fitnah kekuasaan.
2. Qarun. Isinya kisah tentang fitnah kekayaan.
3. Samiri. Isinya kisah tentang fitnah beragama.
4. Nabi Khidir. Isinya tentang fitnah ilmu pengetahuan.
5. Bani Israil. Kisah kesabaran Nabi Musa dan umat yang paling susah diatur.

Firaun menjadi simbol kezaliman sepanjang masa. Di dalam dirinya terkumpul kesesatan dalam akidah,
kezaliman yang paling tinggi, dan keengganan menerima kebenaran. Nama Firaun yang banyak sekali
disebut di dalam Al Quran adalah salah satu dari tokoh-tokoh sejarah yang menolak kebenaran dari Allah
yang kemudian dibinasakan dalam kesesatannya. Al Quran menjadikan akhir kehidupan buruk orang-
orang semacam ini agar umat manusia khususnya para penguasa mengambil pelajaran dan berfikir.

Dalam surat Al-Fatihah, kita meminta ditunjukkan pada jalan mereka yang Allah ridhai, dan dijauhkan
dari jalan mereka yang sesat. Di dalam sejarah, terdapat jalan hidup umat terdahulu yang telah nyata
kesesatannya, dan kisah umat terdahulu yang telah diridhai Allah.

Salah satu kezaliman Firaun terhadap Bani Israil ialah kebijakan pembunuhan bayi laki-laki mereka.
Firaun yang takut dengan pertumbuhan kaum Bani Israil mengeluarkan kebijakan bahwa setiap bayi laki-
laki yang lahir harus dibunuh. Kesombongan yang ditopang dengan kekuasan memang kerap kali menjadi
penyebab rusaknya tatanan alam di muka bumi.

Orang dengan karakter Firaun akan selalu ada di


setiap zaman. Dan sunnatullah pun berlaku, bahwa
setiap ada Firaun, ada pula Musa. Inilah semangat
yang ingin dibangkitkan dalam kisah Nabi Musa.
Kemenangan itu akan hadir pada mereka yang berada
dalam kebenaran, dan bahwa kebenaran akan selalu
mengalahkan kebatilan.
Kisah Firaun ini juga menjadi pelajaran bagi setiap pemimpin agar tidak berlaku zalim terhadap
rakyatnya, sebelum berlaku atas dirinya sebagaimana yang berlaku atas diri Firaun.

Dalam kisah Firaun, Allah berkehendak menjadikan Nabi Musa alaihissalam sebagai orang yang paling
dibenci dan ditakuti oleh Firaun, padahal ia adalah orang yang pernah dikasihinya karena diasuh di
dalam istana oleh istrinya Firaun. Ini tentunya adalah hantaman psikologis yang sangat kuat sebelum
hukuman fisik berlaku atas dirinya. Allah masih menambah lagi siksaan batin Firaun dengan menjadikan
orang-orang terdekat yang ada di sekelilingnya justru beriman dengan apa yang dibawa Nabi Musa.

Orang-orang kafir itu membuat tipu daya dan Allah membalas tipu daya. Dan Allah sebaik-baik
pembalas tipu daya. (QS. Ali Imran : 54)

Pada episode lain, Nabi Musa tinggal selama 10 tahun di negeri Madyan, membantu dua gadis
penggembala memberi minum gembalaannya, yang belakangan diketahui mereka berdua adalah anak
Nabi Syuaib. Kemudian beliau dinikahkan dengan salah satu dari mereka oleh ayahnya dengan mahar
bekerja untuknya di negeri itu selama 8 tahun yang digenapkan kemudian hingga 10 tahun oleh Nabi
Musa. Episode ini penting karena menjadi tonggak sejarah yang mengubah sejarah Bani Israil.

Melihat dunia hari ini, kita membutuhkan Musa-Musa baru yang berani menyuarakan keadilan di
hadapan pemimpin yang zalim, berani memperjuangkan mereka yang tertindas. Firaun adalah sosok
penguasa yang kejam dan zalim, namun Allah Taala berwasiat kepada Nabi Musa agar nasihat kebenaran
itu disampaikan dengan lemah lembut.

Pergilah kamu berdua kepada Firaun, Sesungguhnya Dia telah melampaui batas; Maka berbicaralah
kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia ingat atau takut.
(QS. Thaha : 43-44)

Nabi Musa tidak pernah mengetahui skenario yang telah Allah tetapkan untuknya ketika membawa Bani
Israel keluar dari Mesir, beliau tidak mengetahui bagaimana kisah mereka sesudah keluar dari
kungkungan Firaun. Seringkali Nabi Musa disakiti kaumnya walaupun mereka menyaksikan banyak
sekali kemukjizatan sebagai bukti nyata bahwa beliau adalah utusan Allah. Bahkan oleh Bani Israel, Nabi
Musa dianggap sebagai biang kesialaan yang mereka rasakan.

Di sini ada pelajaran besar bahwa seringkali pertolongan dari Allah itu bentuknya tidak sesuai dengan apa
yang kita harapkan, sebagaimana Nabi Musa tidak mengetahui bahwa lautan merah akan terbelah sesudah
dipukul dengan tongkatnya. Yang beliau lakukan hanya patuh dan taat mengikuti petunjuk Allah untuk
membawa Bani Israel keluar dari Mesir. Pelajaran lainnya adalah bahwa seringkali manusia terbaik itu
prestasinya bukan di mata kaumnya, orang tersebut terus menerus bersabar dalam upaya memperbaiki
umatnya walupun upaya itu sedikit pun tidak disambut baik oleh mereka. Namanya harum setelah
wafatnya, ia disanjung tidak pada masanya dan semua prestasinya hanya Allah yang menilainya.

Ketika Allah terus memberikan kesuksesan bagi orang-orang yang zalim dalam melakukan kezalimannya,
bisa jadi saat itu Allah hendak menyesatkannya sampai jauh, hingga ia sampai pada titik tidak bisa lagi
kembali untuk mendapat petunjuk. Persis seperti yang dialami oleh Firaun. Allah mencabut nyawa
Firaun saat pertaubatannya sudah lagi tak diterima. Ketika Allah sudah berkehendak menyesatkan
seseorang, maka tiada siapa pun yang mampu memberinya hidayah. Ingatlah bahwa setiap kezaliman
akan menemui jalan kesengsaraan.