Anda di halaman 1dari 3

Yusuf, Kisah Terbaik untuk Umat Muhammad

UST. BUDI ASHARI, LC. APRIL 1, 2016 1 COMMENT

Al-Quran ialah kitab yang isinya sejarah, namun berbeda dengan buku sejarah. Dalam Al-Quran,
sejarah yang disajikan ialah sejarah yang akan menjadi panduan. Dan salah satu kisah yang diabadikan
dalam Al-Quran ialah kisah Nabi Yusuf. Kisah Nabi Yusuf ini disajikan lengkap dalam satu surat utuh
yang juga dinamakan surat Yusuf. Rasulullah banyak mengambil ibroh dari kisah Nabi Yusuf. Aisyah
juga mengambil ibroh dari kisah Nabi Yusuf saat haditsul ifki menimpanya.

Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al-Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu
memahaminya. (Yusuf: 2)

Awalan surat ini menjadi mukadimah yang luar biasa dalam kisah Yusuf. Al-Quran diturunkan dalam
bahasa Arab agar kalian berakal. Maksud berakal di sini ialah berilmu. Mengapa harus bahasa Arab?

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa hal ini karena bahasa Arab ialah bahasa yang paling fasih, yang paling
jelas, dan paling luas. Bahasa Arab ialah bahasa yang paling mampu mengungkapkan makna yang
diinginkan dalam jiwa. Karenanya, inilah kitab paling mulia yang diturunkan oleh Allah dengan bahasa
paling mulia, diturunkan pada Rasul yang paling mulia, oleh malaikat yang paling mulia, dan di bulan
yang paling mulia.

Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al-Quran ini kepadamu, dan
sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan)nya adalah termasuk orang-orang yang belum
mengetahui. (Yusuf: 3)

Ahsanal Qasash artinya kisah terbaik. Seluruh kisah dalam Al-Quran ialah kisah terbaik, namun dalam
surat Yusuf ini ada pengkhususan.

Ada beberapa cara Allah menuturkan kisah, dua di antaranya ialah:

1. Kisah yang kronologis, dimulai dari kecil hingga dewasa. Misalnya kisah Nabi Yusuf.
2. Kisah yang disebar dalam beberapa surat, ibarat puzzle. Misalnya kisah Nabi Musa.

Saat itu, kisah Nabi Yusuf tidak diketahui sebelumnya oleh masyarakat Quraisy maupun Yahudi. Oleh
karena itu, Yahudi berkomplot dengan Quraisy untuk menanyakan kisah Nabi Yusuf pada Rasulullah.

Allah pun menurunkan kisah Yusuf. Kisah ini bukan


hanya sebagai jawaban atas pertanyaan orang kafir,
namun juga menjadi jawaban atas kondisi umat Islam.
Surat Yusuf ini turun di masa Amul Huzni, tahun
kesedihan di tahun 10 kenabian. Dan begitulah sejarah,
ia mampu menjawab segala hal yang menjadi
permasalahan zaman.
(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat
sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku. (Yusuf: 4)
Kisah Yusuf dalam Al-Quran dimulai dengan dialog mengenai mimpi Nabi Yusuf bahwa 11 bintang,
matahari, dan bulan bersujud kepadanya. Menariknya, keseluruhan kisah Yusuf ini diawali dengan mimpi
Nabi Yusuf, di tengahnya ada mimpi (mimpi dua orang yang dipenjara bersama Yusuf), dan di akhirnya
pun ada mimpi (mimpi penguasa Mesir).

Penakwilan Nabi Yusuf atas mimpi penguasa Mesir inilah yang menjadi penyebab dibebaskannya Nabi
Yusuf dari penjara. Dan akhir kisah Nabi Yusuf merupakan takwil atas mimpi Nabi Yusuf. Mimpi adalah
hal yang penting dan mulia jika mampu didalami oleh ahli ilmu. Rasulullah bersabda bahwa tidak ada
yang tersisa dari kenabian melainkan mubasyirat (kabar gembira) yang didapatkan dari mimpi.

Akhir kisah Nabi Yusuf menjadi takwil atas mimpi Nabi Yusuf yang di awal. Sebelas bintang ialah
saudara-saudaranya, matahari ialah ayahnya, dan bulan ada yang berpendapat ibunya. Salah satu pelajaran
dari mimpi ini bahwa laki-laki diibaratkan matahari dan perempuan diibaratkan dengan rembulan.

Ayahnya berkata: Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu,
maka mereka membuat makar (untuk membinasakan)mu. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang
nyata bagi manusia. (Yusuf: 5)

Nabi Yakub berpesan agar jangan sampai Nabi Yusuf menceritakan mimpi ini kepada saudaranya, karena
nanti mereka akan membuat makar. Nabi Yakub juga mengajari bahwa setan itu musuhnya manusia.
Ternyata, meskipun tidak diceritakan pada saudaranya, saudara Nabi Yusuf tetap membuat makar pada
Nabi Yusuf, yaitu dengan membuang Nabi Yusuf ke dalam sumur. Nabi Yakub pun bertahan selama 80
tahun dalam keyakinan bahwa Nabi Yusuf masih hidup. Keyakinan ini didapatkan dari penakwilan atas
mimpi Nabi Yusuf.

Beberapa pelajaran dari kisah Nabi Yusuf:

1. Pentingnya pendidikan anak di usia dini. Nabi Yakub dan Yusuf berpisah selama 80 tahun, namun Nabi Yusuf
terus mengingat pendidikan yang dilakukan oleh ayahnya ketika Nabi Yusuf masih kecil.
2. Bertanya adalah kunci kebesaran ilmu. Ibnu Abbas dikaruniai Allah hati yang berakal dan lisan yang mau
bertanya.
3. Penting sekali untuk berlaku adil pada anak-anak kita. Saudara Nabi Yusuf ingin membunuh Nabi Yusuf
diakibatkan sifat hasad, meskipun pada akhirnya tidak jadi dibunuh, tapi hanya dibuang ke sumur. Saudara
Nabi Yusuf merasa bahwa ayahnya lebih mencintai Yusuf dan Bunyamin. Hasad ialah dosa pertama di langit
dan di bumi. Bahkan hasad di antara saudara dapat menyebabkan pembunuhan.
4. Balaslah kebaikan dengan kebaikan. Inilah akhlak para Nabi. Dalam sabdanya, Nabi menyuruh kita membalas
kebaikan dengan kebaikan. Dan jika tidak mampu, balaslah dengan mendoakannya.
5. Untuk membahasakan tipu daya, Allah menyebutkan bahwa tipu daya setan ialah lemah, sedangkan tipu daya
wanita besar. Hal ini bukanlah bermaksud merendahkan wanita, namun menjadi peringatan bagi para laki-laki
dan wanita. Tipu daya istri penguasa Mesir ialah dengan memfitnah Nabi Yusuf, padahal dirinya yang
menggoda Nabi Yusuf. Ia juga mengundang para wanita yang menggosipkan dirinya dengan Nabi Yusuf.
Mengapa Penguasa Mesir ini tidak terlalu marah dengan kelakuan buruk istrinya? Menurut Ibnu Katsir ada dua
kemungkinan. Pertama, penguasa ini berhati lembut. Kedua, penguasa ini memiliki aib yang semisal pula
dengan istrinya.
6. Milikilah hati yang lapang. Tidak perlu mengungkit kesalahan saudara kita di masa lalu. Inilah akhlak para
Nabi. Nabi Yusuf tidak mengungkit kesalahan saudaranya di masa lalu. Nabi Yusuf memosisikan dirinya
sebagai adik dari saudara-saudaranya.

Di akhir kisah Nabi Yusuf, seluruh keluarganya pun berkumpul kembali, diundang ke istana, dan
bersujud pada Nabi Yusuf sebagai bentuk penghormatan. Bersujud pada manusia saat itu masih
diperbolehkan sampai zaman Nabi Isa. Seluruh peristiwa yang dialami Nabi Yusuf menjadi pengantar
menuju takdir baik Nabi Yusuf, yaitu menjadi Nabi dan penguasa di negeri Mesir.
Maka inilah kisah Nabi Yusuf, Nabi yang masuk penjara
karena ketampanan wajahnya dan dikeluarkan dari
penjara karena ketampanan hatinya.
*Resume kajian Ust. Budi Ashari tanggal 4 Ramadhan 1436 H oleh Abdullah Ibnu Ahmad.