Anda di halaman 1dari 3

Empat Fungsi Mempelajari Sejarah

UST. BUDI ASHARI, LC. SEPTEMBER 17, 2016 1 COMMENT


Bacalah satu kisah di bawah ini dan rasakan betapa dahsyatnya sebuah kisah yang masuk dalam relung
jiwa kita. Dia bergerak, berfungsi, dan bekerja dalam diri kita.

Di dalam kitab Siyar Alam An-Nubala, Imam Adz-Dzahabi menyampaikan kisah pertemuan empat orang
anak muda. Yang satu adalah putra Umar bin Khattab radhiyallahu anhu, yaitu Abdullah bin
Umar radhiyallahu anhuma. Adapun yang tiga sisanya adalah putra-putra dari sahabat mulia, Zubair bin
Awwam radhiyallahu anhu. Yang pertama adalah Abdullah bin Zubair, yang kedua adalah Urwah bin
Zubair, dan yang ketiga adalah Mushab bin Zubair radhiyallahu anhum.

Keempat anak muda ini berkumpul di Hijr Ismail. Kita tahu Hijr Ismail adalah setengah lingkaran yang
ada di Kabah yang hari ini bisa kita lihat. Mereka berkumpul di dalam Hijr Ismail. Kemudian mereka
duduk bersama membuka sebuah majelis yang sangat unik karena mereka membuka dengan kalimat
mereka, mari kita jadikan majelis atau pertemuan ini sebagai pertemuan berharap, pertemuan bercita-
cita, majelis cita-cita.

Maka kemudian dimulailah majelis itu oleh kalimatnya Abdullah bin Zubair radhiyallahu anhu.

Kalimat yang diucapkan Abdullah bin Zubair radhiyallahu anhu sederhana. Dia mengatakan, Saya ingin
kekhilafahan. Masya Allah, seorang anak muda berfikir dia ingin mendapatkan kekhilafahan dan dia
ingin menjadi khalifahnya. Sebuah cita-cita.

Kemudian disusul berikutnya oleh Urwah bin Zubair radhiyallahu anhu. Ia berkata, Saya ingin menjadi
tempat masyarakat ini mengambil ilmu. Menjadi ulama. Menjadi ilmuwan besar. Inilah keinginan
Urwah bin Zubair radhiyallahu anhu.

Disusul berikutnya oleh Musab bin Zubair radhiyallahu anhu. Mushab berkata, Saya ingin menjadi
amir Iraq (pemimpin di Iraq) dan menikah dengan Aisyah binti Thalhah dan Sukainah binti
Husein. Aisyah dan Sukainah ialah dua wanita yang sangat cerdas dan dua wanita yang sangat cantik di
zamannya. Disebut sekaligus dua nama itu, dan dia berminat untuk menikahi keduanya. Anak muda
bercita-cita menjadi seorang pemimpin Iraq dan menikahi dua wanita sangat cerdas dan cantik di
zamannya. Dan kedua-duanya adalah putri dari sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Kemudian yang terakhir adalah Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma. Ia berkata, Aku ingin Allah
mengampuni aku.

Dan Subhanallah, Hijr Ismail menjadi saksi bahwa cita-cita yang tulus mereka sampaikan ternyata Allah
sampaikan pada takdirnya.

Abdullah bin Zubair radhiyallahu anhu benar-benar menjadi khalifah selama kurang lebih 9 tahun.

Urwah bin Zubair radhiyallahu anhu benar-benar menjadi ulama besar. Salah seorang ulama besar di kota
Madinah. Banyak sekali sanad hadits dari Urwah bin Zubair radhiyallahu anhu yang diambil dari
Aisyah radhiyallahu anha. Tidak aneh jika kemudian Urwah menjadi seorang ulama besar di zamannya.

Dan yang berikutnya adalah Musab bin Zubair radhiyallahu anhu. Ia benar-benar menjadi seorang
pemimpin di negeri Iraq dan benar-benar bisa menikahi dua wanita yang disebutkannya.

Yang tidak bisa kita lihat adalah jawaban dari harapan dan cita-cita Abdullah bin Umar radhiyallahu
anhuma. Akan tetapi, Imam Adz-Dzahabi rahimahullah mengatakan, Allah akan mengampuni dosa-
dosa Abdullah bin Umar radhiyallahu anhu sebagaimana yang dia inginkan di dalam majelis itu.
Ini baru satu kisah. Apa rasanya begitu kisah ini kita baca? Bukankah di sana sangat banyak pelajaran
mahal yang bisa kita ambil?

Umpamanya pelajaran tentang jangan pernah khawatir untuk bercita-cita. Bercita-cita itu boleh bagi
semua orang. Bedakan orang yang bercita-cita dengan seseorang yang sedang bermimpi dan berkhayal.
Orang yang bercita-cita boleh menggantung setinggi langit, tapi bedanya dengan orang-orang yang
berkhayal adalah ketika orang yang bercita-cita itu melaksanakan, mencoba untuk berupaya maksimal
dalam mencapai apa yang diinginkannya itu. Adapun orang-orang yang berkhayal, dia hanya di tempat
tidurnya. Dia tidak kemana-mana. Tidak bergerak sama sekali, tapi setinggi langit dia menginginkannya.
Dan begitulah manusia. Ia hanya ditugasi untuk bercita-cita, kemudian ia berusaha semaksimal mungkin
dalam upayanya menjadi hamba Allah Subhanahu wa Taala yang mulia, yang baik, dan yang berilmu.
Biarkanlah nanti sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu alaihi
wasallam, Bekerjalah kalian! Berusahalah kalian! Setiap kalian akan dimudahkan menuju takdirnya
masing-masing.

Untuk itulah kemudian sejarah memiliki fungsi-fungsi lainnya. Setidaknya ada empat fungsi yang dapat
kita ambil dari mempelajari sejarah.

Fungsi yang pertama adalah sebagai Motivasi.

Kisah yang tadi kita baca, jika kita renungi, adalah kisah yang menjadi motivasi bagi kita semua.
Bukankah kita menjadi termotivasi? Bahwa siapa pun punya kesempatan. Siapalah Abdullah bin Zubair,
sehingga kemudian dia bercita-cita ingin menjadi seorang khalifah? Dia bukan dari keluarga istana,
walaupun benar bahwa dia keluarga dari sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam yang mulia. Dan
setiap orang boleh bercita-cita. Setinggi apapun itu. Sejarah memiliki kekuatan motivasi. Bacalah sejarah,
ia akan mendorong kepada kita untuk kita melakukan sesuatu. Dan sejarah adalah sang motivator yang
sangat hebat.

Kedua, sejarah memiliki kekuatan Solusi. Sepanjang nanti kita mempelajari sejarah Islam, kita akan
mendapatkan solusi-solusi. Sangat detail sejarah memberikan kita pelajaran solusi dari segala
permasalahan yang kita hadapi. Permasalahan pribadi, permasalahan keluarga, permasalahan aktivitas
kita, permasalahan negeri ini, bahkan permasalahan bumi ini. Sejarah akan memberikan kepada kita
solusinya.

Ketiga, sejarah juga memberikan kekuatan Inspirasi. Kita akan sangat kaya dengan inspirasi. Hal-hal
yang sangat baru. Dan justru kita akan maju beberapa langkah ke depan dibandingkan dengan orang-
orang yang lain. Kita akan memiliki berbagai macam gagasan dan ide yang baru. Karena memang sejarah
akan mengajarkan kepada kita tentang sesuatu yang telah terjadi di masa lalu. Dan bukan hanya masa
lalu, bahkan lebih hebatnya lagi, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pun menyampaikan dalam
hadits-hadits beliau yang disebut dengan an-nubuwat. An-nubuwat adalah sabda Nabi shallallahu alaihi
wasallam yang berbicara tentang masa depan. Ini bukan ramalan juga bukan prediksi. Akan tetapi ini
adalah sebuah kepastian karena disampaikan dari wahyu oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Dan fungsi sejarah yang keempat adalah kekuatan Prediksi. Kita bisa memprediksi banyak hal. Bahkan
sebagiannya bukan prediksi, sebagiannya adalah nubuwat yang merupakan sebuah kepastian masa depan.
Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyampaikan kepada para sahabat bahwa muslimin
akan menaklukkan Persia, Romawi, dan Mesir, semua itu belum terlaksana saat Rasul masih hidup, atau
bahkan saat Rasul sudah wafat. Tetapi semua itu berhasil ditaklukkan di zaman kekhilafahan Umar bin
Khattab radhiyallahu anhu. Sebuah kepastian.

Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyampaikan bahwa muslimin akan membuka
Konstantinopel, hal ini baru terjadi lebih dari 8 abad setelah sabda Rasulullah shallallahu alaihi
wasallam diucapkan. Konstantinopel ditaklukkan oleh Muhammad Al-Fatih. Dan ketika
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyampaikan dalam hadits yang sama bahwa muslimin akan
mengantarkan hidayah hingga ke Roma (membuka Roma sebagaimana membuka Konstantinopel), maka
ini pasti akan terjadi. Hanya saja, sampai hari ini Roma belum kunjung mendapatkan hidayah-Nya. Dan
yang sedang kita bicarakan bukan hanya masalah prediksi, tapi sebuah kepastian.

Sejarah juga memberikan kekuatan prediksi. Karena ia adalah suatu sunatullah yang berulang. Kalau kita
berbicara tentang masalah pembersihan Palestina dari tangan-tangan zionis, maka kita akan tahu bahwa
para ulama hari ini mencoba memprediksi dengan sebuah prediksi yang sangat berani. Ketika terjadi
perang besar dan zionis menjatuhkan berton-ton bom mereka di Gaza tahun 2009, muncullah sebuah
keyakinan dari para ilmuwan di negeri jihad tersebut. Keyakinan bahwa anak-anak yang terlahir di saat
bom-bom itu dijatuhkan (lebih kurang terlahir 3000 anak), adalah anak-anak yang Insya Allah dalam
rentang 15 20 tahun ke depan akan membebaskan Palestina dari zionis.

Dari mana analisanya? Mengapa prediksi itu bisa keluar?

Jawabannya, karena mereka mencoba berkaca dari sejarah Shalahuddin Al-Ayubi, orang yang sangat
ditakuti dalam sejarah zionis. Hari ini zionis sangat takut dengan nama Shalahuddin Al-Ayubi karena
nama inilah yang telah berhasil membersihkan Palestina dari tangan-tangan salib. Dan Shalahuddin
adalah generasi ketiga sejak orang-orang salib menguasai Palestina.

Sebagaimana anak-anak yang terlahir di Gaza tahun 2009 itu adalah generasi ketiga dari para mujahid
yang mencoba membebaskan Palestina, maka kemudian para ilmuwan hari ini mencoba untuk
memprediksi. Jikalau sejarah Shalahuddin terulang, maka generasi ketiga inilah yang akan membebaskan
Palestina dengan izin Allah. Begitulah kuatnya sejarah. Maka, mari kita mempelajarinya. Mudah-
mudahan kita mendapatkan satu, dua, tiga, atau bahkan keempat kekuatan sejarah tersebut. Kekuatan
motivasi, solusi, inspirasi, dan prediksi.

*artikel ini merupakan transkripsi dari podcast Siroh Nabawiyah Ust. Budi Ashari, Lc., dengan
perubahan redaksi.
Pentranskripsi: Budi Sulistyarini
Editor: Abdullah Ibnu Ahmad