Anda di halaman 1dari 4

AMERIKA PASCA TRAGEDI WTC

Salam cinta pembaca yang budiman !


Amerika Serikat (AS) dan dunia berduka karena ratusan atau
mungkin ribuan orang mati sia-sia setelah tiga pesawat terbang komersial
AS ditabrakkan ke dua menara World Trade Centre (WTC) di kota New
York dan Pentagon diWashington DC (sebuah pesawat lagi jatuh di
Pensylvania sebelum bisa ditabrakkan ke white house) pada 11 September
kemarin.Siapapun-kecuali kaum teroris- akan mengutuk tragedi ini.
Karena terorisme dilihat dari segi manapun bertentangan dengan nilai
kemanusiaan universal dan nilai agama.
Bagi Amerika sendiri, peristiwa itu bukan hanya merupakan tragedi
kemanusiaan tapi merupakan kejadian yang memalukan bagi negara
superpower ini, karena peristiwa ini berarti bahwa seluruh sistem
pengamanan negara yang sangat terkenal kecanggihannya itu (dilengkapi
dengan pesawat tempur dan kapal perang paling modern, sistem radar
superpeka, aparat intelejen superhebat, sampai sistem pengamanan
bandara yang luar biasa ) ternyata dibuat tidak berdaya sama sekali. Disisi
lain, penteror sendiri tidak bermodal apa-apa, selain beberapa bilah pisau,
ketrampilan memiloti pesawat terbang (yang dipelajari dari AS juga),
tekad dan ideologi, keberanian, kecerdasan serta kreativitas.
Kreativitas itulah yang menyebabkan orang AS (termasuk presiden
sampai CIA-nya) sama sekali tidak menduga serangan tidak datang dari
darat (dengan bom bunuh diri ), melainkan dari udara. Serangan udara
itupun tidak dengan pesawat rempur MIG buatan Rusia, melainkan
menggunakan pesawat komersil milik perusahaan AS sendiri (sehingga
tidak tertangkap radar AS manapun)
Pembajakan pesawat udara juga tidak menggunakan senjata api atau
granat, melainkan pisau-piasu kecil yang selama ini memang diijinkan
dibawa kekabin pesawat. Pendeknya, segala yang tidak pernah terpikir
oleh otak cerdasnya bangsa AS itilah yang dilakukan para teroris itu.

Kala Schwarzenegger dan Rambo Kehilangan Wibawa


Gumpalan darah kemarahan warga AS telah menggunung dan
sewaktu-waktu siap ditumpahkan kemana saja. Gambaran AS sebagai
negara terkuat -sebagaimana diyakini warganya tercabik-cabik oleh
tragedi WTC dan Pentagon itu. Perasaan kalah dan terhina ini harus
cepat berakhir .
Menlu As Collin Powel terjepit. Ia dan kawan intelijen harus bergerak
cepat mengumpulkan bukti cukup mengenai Osama Bin Laden dan
beking pemerintah Taliban.
Selama ini, AS telah tersupremasi oleh dunia perfilman Hollywood.
Sejarah boleh mengatakan AS kalah dimedan perang Vietnam. Tapi
melalui sosok Ssylvester Stallone yang memainkan tokoh Rambo berhasil
menunjukkan bahwa seorang warga AS bisa mengalahkan satu kompi
pasukan komunis Vietnam.
Dengan begitu, lubang-lubang trauma-sebagai bangsa yang kalah-
peninggalan perang Vietnam-tertambal sudah. Masyarakat bisa menjalani
kehidupan sehari-hari seperti biasa, dengan pencitraan diri yang
mencerminkan gejala superiority complex : AS tak terkalahkan.
Namun ketika fiksi-fiksi yang ditawarkan Hollywood menjadi nyata,
segalanya menjadi berubah. Hingga minggu kedua serangan teror
masyarakat Amerika masih dikuntit bayangan horor. Dan Hollywood pun
ikut terinsyafkan dengan kejadian ini. Para produser televisi dan eksekutif
bidang ini segera menghentikan distribusi film film yang berbau teror
dan kekerasan. Film Colleteral Damage yang dibintangi Arlnold. S. tidak
jadi muncul sesuai jadwal dan juga film Spiderman yang menggunakan
gedung WTC sebagai tempat kejadaian cerita dan rencana pemutaran
ulang film Pearl Harbour serta sejumlah film lainnya dihentikan. Bahkan
poster-poster film tentang terorisme yang menempel di halte-halte bus
telah dicopot. Kemungkinan dari hal ini adlah Mereka sekedar ingin lepas
dari kejaran hantu WTC dan Pentagon atau memang sosok pendekar
mereka telah kehilangan wibawa (Koran tempo, 26/9/01).
Bagaikan lingkaran setan, peristiwa teror itupun membawa
dampak panjang bagi kehidupan manusia tidak hanya bagi Amerika
Serikat sendiri dan dunia perfilman Holliwood tapi juga seluruh dunia
Munculnya spekulasi bahwa serangan itu dilakukan Osamah Bin
Laden dan orang Timur Tengah juga menyebabkan orang Arab dan
Muslim di Amerika mengalami teror balik dari warga AS. Tidak hanya
pria yang dijadikan sasaran tapi banyak wanita muslimah yang juga
diteror, intimidasi dan serangan fisik secara menakutkan.
Tak cukup dengan akibat itu Amerika juga telah mengancam akan
melakukan agresi ke Afganisthan dimana kaum Taliban dituduh
melindungi Osamah Bin Laden meski Osama dan taliban sendiri telah
berulang kali menyatakan tidak beranggung jawab atas serangan ke AS
itu.
Hingga senin kemarin Amerika masih terus mengerahkan kekuatan
militernya ,yang merupakan mobilisasi paling besar pasca perang teluk,
kekawasan Teluk dan Samudra Hindia.
Selain itu Presiden AS George W. Bush memerintahkan untuk
membekukan aset yang dimiliki 27 kelompok dan individu yang diduga
berkaitan dengan aksi teror untuk memetikan jaringan terorisme,
termasuk kelompok Alqaidah pimpinan Osama.
Rencana Agresi AS segera mendapat reaksi keras dari negara-
negara Islam. Di Iran, tokoh Syiah terkemuka, ayatullah Makarim
Syihrazi menegasakan, negara-negara Islam tidak akan tinggal diam jika
ada negara Muslaim yang diserang apalagi dilakukan terhadap warga sipil
sementara itu pemimpin Taliban Mullah Muhammad Umar menyatakan,
AS harus segera menarik kekuatannya dari teluk dan mendukung bangsa
Palestina dalam konflik Israil. Sebab kematian Osama tidak akan
mengurangi aksi eror terhadap AS. Presiden Iran, Khatami ,juga
menambahkan kalau serangan terhadap Afganistan seharusnya berada
dibawah payung PBB. Pernyatan ini berlawanan dengan pendapat
presiden AS yang menyatakan bahwa perlawanan terhadap terorismetidak
harus seijin PBB ( KR,25/9/01)
Di Indonesia sendiri reaksi kontra terhadap AS terlihat pada aksi
unjuk rasa dari berbagai kalangan, Rencana Sweeping warga AS serta
rennana pengiriman pasukan jihad keAfganisthan yang menganggap AS
telah menerapkan standart ganda dan hamya mengkambinghitamkan
Osama Bin Laden.

KHOTIMAH
Rakyat AS belum lupa, ketika Timothy Mc Veigh meledakkan gedung
federal di Oklahoma beberapa tahun lalu, semua orang menuduh Osama
Bin Laden dan orang Arab (muslim)ada di balik terorisme sadis itu
ternyata salah.
Senyatanya, kehadiran aksi terorisme salah satunya disebabkan
oleh suatu keangkuhan suatu kelompok bangsa dalam menyikapi
kehidupan global. Dalam kondisi seperti itu kelompok yang memiliki
power sering menindas kelompok lemah dengan alasan yang dicari-cari.
Sebaliknha kelompok yang lemah-dengan berbagai justifikasi-akan
mencoba melawan. Fromm(2000)menyebut bangsa yang mengklaim
dirinya dengan ungkapan paling kuat,paling hebat, paling berbudaya
sebagai sifat narsisme yangmana citra ini akan menaik sampai titik
tertinggi seiring dengan merosotnya citra bangsa lain. Kelompok
Narsistik akan berbuat semena-mena dan menganggap lawanya sebagai
kelompok yang buruk, licik, brutal tak berperadaban dan Buas.
Persoalan akan semakin runyam jika jika antara kelompok teroris dan
bangsa narsistik ini berlainan agama. Bahasa agama lalu menjadi
wacana kuat mewarnai aksi itu dan balasannya. Biasanya justifikasi
agama sering dicomot oleh kelompok yang lemah untuk beraksi dan
mencari dukungan.
Alhasil antara terorime dan narsisme sebenarnya dibatasi sekat
yang amat tipis. Terlepas pada prbedaannya, keduanya hanya akan
berujung pada kebrutalan dan destruktif. Terorisme adalah tindakan
destruktif begitu juga jika AS jadi menyerang Afganistan tanpa disertai
bukti dan alasan yang dapat dipertanggunggajawabkan. Lebih jauh lagi
kedua hal tersebut tidak akan pernah mengantarkan manusia kepada
kehidipan umat manusia yamg damai.
AS seharusnya menghilangkan sifat narsistiknya dan bersikap cerdas
dalam mencari siapa pelaku teror sehingga tidak terus
mengkambinghitamkan Osama Bin Laden dan bangsa Arab serta kaum
muslim.
Wallahu alam bi Alsawab