Anda di halaman 1dari 7

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Lanjut usia adalah bagian dari proses tumbuh kembang yang merupakan
suatu proses alami yang di tentukan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Semua orang
akan mengalami proses menjadi tua dimana dimasa tersebut seseorang
mengalami kemunduran fisik, mental dan sosial secara bertahap (Azizah,
2011:1).

Menurut WHO (1999) dalam Azizah (2011:2), menggolongkan lanjut usia


berdasarkan usia kronologis/biologis menjadi 4 kelompok yaitu usia
pertengahan (middle age) antara usia 45 sampai 59 tahun, lanjut usia (elderly)
berusia antara 60 dan 74 tahun, lanjut usia tua (old) usia 75-90 tahun, dan usia
sangat tua (very old) diatas 90 tahun.

Lansia merupakan dua kesatuan fakta sosial dan biologi. Sebagai suatu fakta
sosial, lansia merupakan suatu proses penarikan diri berbagai status dalam
suatu struktur masyarakat. Secara fisik, pertambahan usia dapat berarti
semakin melemahnya manusia secara fisik dan kesehatan (Utari dkk, 2015).

Pada bertambahnya umur manusia maka terjadilah suatu proses penuaan


secara degeneratif, akibatnya akan menimbulkan dampak pada perubahan-
perubahan pada manusia itu sendiri. Perubahan-perubahan yang terjadi
antara lain perubahan fisik, kognitif, perasaan, sosial dan sexual (Azizah,
2011). Akibat dari proses degeneratif tesebut maka akan berdampak pada
menurunnya status kesehatan, kemampuan fisik, kemampuan motorik,
kebugaran dan kemampuan mental (Sari 2015).

Sistem tubuh yang terus menerus mengalami penurunan akan menimbulkan


ketidak seimbangan/homeostatis didalam tubuh terganggu. Sistem tubuh yang
terus menurun akan menimbulkan berbagai macam jenis penyakit,
diantaranya penyakit nyeri sendi. Berdasarkan prevalensi angka kejadian

1
2

penyakit sendi menurut provinsi di Indonesia adalah sebesar 11,9 %,


sedangkan angka kejadian untuk wilayah Kalimantan selatan 9,5 %
(Riskesdas) ( 2013).

Aktifitas fisik merupakan faktor terpenting dalam menjaga kesehatan ataupun


kebugaran. Kian dini memulai dan mempertahankan aktivitas tersebut secara
rutin, semakin besar pula manfaat yang diperoleh dan dirasakan pada
kemudian hari, manfaat yang dapat dirasakan diantaranya pengendalian berat
badan, memperbaiki sirkulasi didalam darah, peningkatan masa otot, menjaga
kebugaran, menambah ketahanan, serta memperbaiki keseimbangan tubuh
(Widuri, 2010).

Manfaat melakukan latihan kebugaran meningkatkan kekuatan otot,


meningkatkan kelenturan persendian, meningkatkan kelincahan gerak,
meningkatkan keseimbangan, meningkatkan daya tahan dan meningkatkan
stamina (Utari dkk, 2015).

Terapi Ling Tien Kung merupakan salah satu aktifitas terapi penyembuhan
dengan teknik pelatihan charge aki manusia yang berpusat pada pelatihan
anus/empet empet anus (Swee, 2007). Pada saat ini terapi Ling Tien Kung
menjadi salah satu terapi aktivitas yang banyak digemari oleh para lansia di
Indonesia khususnya di Banjarmasin Kalimantan Selatan. Di Banjarmasin
provinsi Kalimantan Selatan terdapat 18 komunitas terapi Ling Tien Kung
antara lain bertempat di halaman Polresta Banjarmasin, halaman Masjid Al
Jihad, halaman Sma 7, Komplek DPR, Al Amin, Koramil Banjarmasin
Selatan, Pasadena, Darul Arqam, Beruntuh Jaya, halaman Dinas Perhubungan
Komunikasi Dan Informasi, Halaman Wataer Boom, Dinas Bina Marga,
halaman Uniska, Puspa Sari, Taman Siring, Halaman SMA KORPRI. Data
komunitas Ling Tien Kung di atas menunjukan bahwa terapi olahraga Ling
Tien Kung banyak digemari masyarakat khususnya para lansia karena terapi
tersebut merupakan salah satu terapi penyembuhan berbagai penyakit
khususnya penyakit-penyakit degeneratif.
3

Terapi Ling Tien Kung memiliki banyak variasi gerakan seperti halnya senam
lansia yang bermanfaat untuk meningkatkan peregangan otot sehingga
membantu memperlancar aliran darah dan proses metabolisme sehingga
berdampak tehadap proses pengangkutan oksigen dan nutrisi ke sel. Latihan
pada terapi Ling Tien Kung tersebut akan meningkatkan kebugaran lansia,
menstabilkan kondisi tekanan darah dan syaraf, memperbaiki kualitas tidur,
menstabilkan gula darah dan dapat memperbaiki kondisi nyeri serta dapat
menghilangkan stress (Swee, 2007).

Latihan fisik seperti senam lansia ataupuan terapi Ling Tien Kung akan bisa
mendapatkan hasil optimal dengan memperhatikan beberapa faktor seperti
pengetahuan, kondisi penyakit, keaktifan mengikuti terapi atau keteraturan
mengikuti senam atau terapi, dukungan keluarga dan motivasi yang dimiliki
oleh lansia.

Sortell dan Kaluzny (1994) dalam suarli dan Bachtiar, (2002) mengartikan
motivasi sebagai perasaan atau pikiran yang mendorong seseorang melakukan
atau menjalankan kekuasaan, terutama dalam beperilaku. Berdasarkan jurnal
yang ditulis Sigalingging (2008), yang berjudul Sikap Motivasi Lanjut Usia
Terhadap Kegiatan Senam Lansia Berdasarkan Jenis Kelamin Di Desa
Sihumbang Taput menyatakan rendahnya motifasi terhadap lanjut usia laki-
laki mempengaruhi lanjut usia laki-laki dalam mengikuti senam lansia secara
rutin, penelitian ini menyatakan bahwa pentingnya motifasi dalam mendorong
seseorang melakukan aktifitas. Sedangkan Keaktifan berasal dari kata aktif
yang artinya giat bekerja, giat berusaha, mampu bereaksi dan beraksi,
sedangkan arti kata keaktifan adalah kesibukan atau kegiatan Em Zul Fajri
dan Ratu Aprilia Senja, (2004). Berdasarkan jurnal yang ditulis oleh
Suharningsih (2011), Hubungan Antara Keaktifan Lansia Mengikuti Senam
Lansia Dengan Keseimbangan Tubuh Pada Lansia di Wilayah Koripan
Kecamatan Susukan Semarang dari Universitas Muhammadiyah Surakarta,
membuktikan bahwa keaktifan senam akan memberikan dampak positif bagi
4

keseimbangan tubuh apabila dilakukan secaran rutin Jurnal Suharjono tahun


(2013) yang berjudul pengaruh senam lansia terhadap perubahan Nyeri
persendian pada lansia dikelurahan komplek kenjeran kecamatan bulak,
Surabaya didapatkan bahwa dari kelompok perlakuan yang berjumlah 10
orang didapatkan bahwa pada kelompok perlakuan mengalami perubahan
pada Nyeri persendian.

Semua jenis senam dan aktifitas olahraga ringan sangat bermanfaat untuk
menghambat proses degeneratif atau proses penuaan. Sehingga sangat penting
bagi lansia untuk mengikuti senam atau terapi Ling Tien Kung karena akan
membantu tubuh lansia agar tetap bugar dan tetap segar karena senam lansia
mampu melatih tulang tetap kuat mendorong jantung bekerja secara optimal
dan membantu menghilangkan radikal bebas yang terdapat didalam tubuh.

Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan peneliti pada tanggal 29 mei


2016 di komunitas terapi Ling Tien Kung yang bertujuan untuk mengetahui
motifasi dan keaktifan lansia mengikuti terapi bertempat di SMA KORPRI Jl.
Prumnas Kayu Tangi di ketahui jumlah lansia sebanyak 34 orang lansia.
Peneliti melakukan wawancara seputar motivasi dan keaktifan lansia
mengikuti terapi Ling Tien Kung dengan nyeri sendi. Di pilih 5 orang lansia
secara acak, mereka menyatakan bahwa motifasi dari keluarga, teman telah
mendorong mereka mengikuti terapi, dan pada ahirnya keaktifan mengikuti
terapi akan terjadi. Motivasi dan keaktifan yang di miliki lansia akan
memberikan banyak manfaat salah satunya dengan nyeri sendi. Berdasarkan
latar belakang di atas peneliti tertarik melakukan penelitian tentang korelasi
motivasi dan keaktifan dengan nyeri sendi lansi di komuitas terapi kung ling
tien kota Banjarmasin.

Berdasarkan latar belakang diatas, peneliti tertarik untuk melakukan


penelitian yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui korelasi pengalaman
5

terapi Ling Tien Kung dengan nyeri sendi lansia pada komunitas terapi Ling
Tien Kung di kota Banjarmasin.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Bagaimana motivasi dan keaktifan mengikuti terapi Ling Tien Kung
lansia komunitas terapi Ling Tien Kung di kota Banjarmasin?
1.2.2 Bagaimana penurunan nyeri sendi lansia pada komunitas terapi Ling
Tien Kung di kota Banjarmasin?
1.2.3 Apakah ada korelasi yang signifikan motivasi dan keaktifan mengikuti
terapi Ling Tien Kung dengan penurunan nyeri sendi lansia pada
komunitasterapi Ling Tien Kung di kota Banjarmasin?

1.3 Tujuan Penelitian


1.3.1 Tujuan Umum
Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui korelasi
motivasi dan keaktifan mengikuti terapi Ling Tien Kung dengan
penurunan nyeri sendi lansia pada komunitas terapi Ling Tien Kung di
kota Banjarmasin.
1.3.2 Tujuan Khusus
1.3.2.1 Mengidentifikasi motivasi dan mengikuti Terapi Ling Tien
Kung lansia pada komunitas terapi Ling Tien Kung di kota
Banjarmasin.
1.3.2.2 Mengidentifikasi keaktifan mengikuti Terapi Ling Tien Kung
lansia pada komunitas terapi Ling Tien Kung di kota
Banjarmasin.

1.3.2.3 Mengetahui tingkat dengan nyeri sendi lansia pada komunitas


terapi Ling Tien Kung di kota Banjarmasin.
1.3.2.4 Menganalisis hubungan motivasi mengikuti terapi Ling Tien
Kung dengan tingkat nyeri sendi lansia pada komunitas terapi
Ling Tien Kung di kota Banjarmasin.
1.3.2.5 Menganalisis hubungan keaktifan mengikuti Lien Tien Kung
dengan tingkat nyeri sendi lansia pada komunitas terapi Ling
Tien Kung di kota Banjarmasin.

1.4 Manfaat Penelitian


1.4.1 Manfaat teoritis
6

Hasil penelitian ini secara teoritis diharapkan dapat memberikan


sumbangan pemikiran tentang pentingnya menjaga penurunan nyeri
sendi diusia lanjut.
1.4.2 Manfaat praktis
1.4.2.1 Bagi lembaga/organisasi pelayanan lansia
Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan suatu sumber
rujukan demi meningkatkan pelayanan masyarakat terutama
lansia.
1.4.2.2 Bagi Dinas Kesehatan
Diharapkan dapat memberikan solusi untuk menghadapi
meledaknya angka pertubuhan lansia terutama di kalimantan
selatan.
1.4.2.3 Bagi BKOM (balai kesehatan olah raga masyarakat)
Mampu memberikan alternatif terapi olah raga bagi masyarakat
terutama lansia.
1.4.2.4 Bagi prodi keperawatan fakultas keperawatan dan ilmu
kesehatan universitas muhammadiyah Banjarmasin.
Di harapkan dapat dijadikan sumber informasi tentang
pentingnya menjaga penurunan nyeri sendi di usia lanjut terlebih
berkaitan dengan terapi Ling Tien Kung ini.
1.4.2.5 Bagi posyandu Lansia
Diharapkan bisa sebagai alternatif kegiatan olah raga mingguang
di Posyandu lansia.
1.4.2.6 Bagi peneliti yang akan datang
Dirapkan dapat di jadikan sebagai referensi untuk melakukan
penelitian lebih lanjut.

1.5 Penelitian Terkait


1.5.1 Joni Hariyanto, 2007 dengan judul Pengaruh senam lansia terhadap
nyeri persendian pada lansia di kelurahan komplek kenjeran, kecamatan
bulak, Surabaya 2007. Menggunakan metode survei dengan
pendekatan cross sectional. Jumlah sampel yang digunakan sebanyak
7

35 orang responden, instrumen yang digunakan adalah kuesioner dan


lembar opservasi.
Perbedaan dengan penelitian saya adalah waktu, tempat dan jumlah
populasi yang saya lakukan dalam penelitian. Waktu yang saya lakukan
pada saat penelitian adalah bulan Agustus tempat nya di SMA KORPRI
dan populasi saya berjumlah 30 orang.

1.5.2 Bambang Sulityo, 2012 dengan judul skala nyeri dipanti sosial Tresna
Werdha Budimulia 04 Marga Guna Jakarta Selatan. Menggunakan
metode one grup pretest-postest. Jumlah sample yang digunakan 54
orang, teknik pengambilan sample yaitu random sampling. Instrumen
menggunakan angket tertutup.
Perbedaan dengan penelitian saya adalah waktu, tempat dan jumlah
populasi yang saya lakukan dalam penelitian. Waktu yang saya lakukan
pada saat penelitian adalah bulan agustus tempat nya di SMA KORPRI
dan populasi saya berjumlah 30 orang.