Anda di halaman 1dari 2

1.

Pentingnya aspirasi pada saat anastesi lokal


Agar tidak terjadi injeksi intravascular, larutan anastetikum diinjeksikan ke dalam pembuluh
darah.
Overdosis akibat injeksi intravascular
Injeksi intravascular dapat terjadi pada tipe blok nervus intraoral. Injeksi
intravena (IV) dan intraarterial (IA) mampu menghasilkan overdosis. Injeksi IA yang
cepat dapat menyebabkan aliran darah retrograde pada arteri ketika obat anastesi
didepositkan. Teknik aspirasi yang tepat sebelum injeksi dari larutan anastesi, overdosis
sebagai akibat dari injeksi intravascular dapat diminimalkan. Toksisitas adalah tanda dan
gejala klinik akibat pemberian obat berlebihan (konsentrasi obat tinggi dalam darah).
Gejala : overdosis ringan : banyak bicara, mengacau, pusing, pucat, nadi naik,
tensi naik; overdosis sedang : gelisah, sakit kepala, mual/muntah, pandangan kabur, nadi
turun, tensi naik. Overdosis berat : konvulsi, depresi SSP, Depresi tekanan darah,
pernapasan cepat denyut jantung cepat, hipoksia dan bisa meninggal.
(Malamed SF. Handbook of Local Anesthesia 4th ed. Mosby: Year Book. 1997)
Trauma vascular
Teknik injeksi yang tepat termasuk aspirasi dalam dua bidang yang berbeda untuk
meminimalkan injeksi intravascular. Bagaimanapun, aspirasi hanya memperlihatkan isi
pada ujung jarum saat aspirasi. Aspirasi false negative adalah kemungkinan ujung dari
jarum hanya masuk di dalam dinding lumen atau ketika tekanan negative pada ujung
jarum menyebabkan dinding pembuluh darah untuk menutup pembukaan sebelum darah
dapat masuk. Injeksi intraarterial membawa obat menjauh dari jantung dan kutaneus
blanching atau tanda awal dari toksisitas CNS (Central Nervus System), sementara
injeksi intravena embawa darah menuju ke jantung, mengarahkan pada stimulasi cardiac
jika vasokntriktor digunakan. Juga cukup memungkinkan ujung dari jarum anastesi untuk
menginjeksi dengan tidak hati-hati dan merobek dinding pembuluh darah yang mengarah
perdarahan, yang akan berlanjut hingga pembentukan bekuan atau ketika tekanan luar
dari pembuuh darah menjadi lebih besar daripada tekanan di dalam pembuluh darah.
Takik arterial akan berdarah lebih lama daripada takik vena, yang akan mengakibatkan
hematoma yang lebih besar. Infratemporal fossa adalah sisi yang paling sering telibat.
Perawatan terdiri dari kompres dingin dan penekanan manual untuk beberapa
menit untuk meminimalkan volume dari darah dan pemberian antibiotic profilaksis.
(Wiley J, Sons. Anesthesia Complications in the Dental Office)

2. Syarat-syarat suturing :
Jarum masuk 2-3 mm menjauh dari margin flap (jaringan begerak) dan keluar pada jarak
yang sama di sisi yang berlawanan
Dua ujung jahitan disimpul kemudian dipotong 0,8 cm di atas simpul
Untk menghindari robeknya flap, jarum harus masuk melalui margin luka satu kali, dan
sekurang-kurangnya 0,5 cm menjauh dari tepi
Jahitan yang terlalu ketat harus dihindari (resiko nekrosis jaringan), juga hindari
tumpang tindih dai tepi luka ketika memposisikan simpul
Pada interrupted suture adalah jahitan ditempatkan sebaris, sehinngga bia salah satu
jahitan longgar bahkan lepas tidak mempengaruhi jahitan lainnya.
(Fragiskos FD. Oral Surgery. Springer: Verlag Berlin Heidelberg. 2007)

Anda mungkin juga menyukai