Anda di halaman 1dari 87

BAB II

USAHA DAN/ATAU KEGIATAN


YANG TELAH BERJALAN

2.1. Kegiatan Utama Dan Kegiatan Pendukung

2.1.1. Lokasi dan Koordinat Geografik Tapak

Keberadaan lokasi kegiatan penambangan batubara PT. Surya Bangun Sarana


secara administratif berada di wilayah Desa Saing Prupuk, Kecamatan Batu Engau,
Kabupaten Paser, Propinsi Kaltim. Lokasi wilayah PT. SBS seperti disajikan pada
Gambar 2.1.

Secara geografis, lokasi areal IUP Eksplorasi PT. Surya Bangun Sarana terletak di
antara koordinat 116 7 24,5- 116 12 32,5 Bujur Timur dan 2 2 14,6- 2 3
54,9 Lintang Selatan. Secara geografis wilayah eksplorasi PT. SBS terletak diantara
koordinat seperti tercantum pada Tabel 2.1.

2.1.2. Peruntukan Lahan Berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah

Berdasarkan overlay lokasi PT Surya Bangun Sarana dengan peta pola ruang
rencana tata ruang wilayah provinsi Kalimantan timur Tahun 2016-2036, seluruh
lokasi PT Surya Bangun Sarana masuk dalam kawasan perkebunan. Untuk lebih
jelasnya dapat dilihat pada Gambar 2.2.

2.1.3. Akses dan Jalan Disekitarnya

Lokasi penyelidikan PT. Surya Bangun Sarana terletak 40 km kearah


selatan dari Kota Tanah Grogot, Kabupaten Paser. Untuk mencapai lokasi
penyelidikan dapat dijangkau dengan menggunakan roda empat maupun roda
dua melalui jalan darat dengan waktu tempuh 5 jam perjalanan dari arah
Balikpapan, dengan rute sebagai berikut :

a. Balikpapan Penajam : Menggunakan fery dari Kariangau menuju


pelabuhan penajam membutuhkan waktu 1,5 jam

b. Penajam - Tanah Grogot : Jalan Penajam Tanah Grogot merupakan


jalan provinsi yang berjarak 139 km dengan waktu tempuh 2,5 jam.

c. Tanah Grogot Saing Prupuk : Berjarak 40 km yang dapat ditempuh 45


menit.

d. Saing Prupuk Lokasi : Berjarak 10 km, dapat ditempuh selama 20


menit dengan menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat.

DELH PT SURYA BANGUN SARANA II-1


Tabel 2.1. Koordinat Lokasi Areal Pt Surya Bangun Sarana

BUJUR TIMUR LINTANG SELATAN


NO
DERAJAT MENIT DETIK DERAJAT MENIT DETIK

1 116 7 24,5 2 2 17,7


2 116 9 09,3 2 2 17,7
3 116 9 09,3 2 2 37,6
4 116 9 55,1 2 2 37,6
5 116 9 55,1 2 2 21,2
6 116 10 29,4 2 2 21,2
7 116 10 29,4 2 2 14,6
8 116 11 21,3 2 2 14,6
9 116 11 21,3 2 2 21,9
10 116 11 26,7 2 2 21,9
11 116 11 26,7 2 2 31,8
12 116 11 34,7 2 2 31,8
13 116 11 34,7 2 2 39,2
14 116 11 40,1 2 2 39,2
15 116 11 40,1 2 2 43,7
16 116 11 45,9 2 2 43,7
17 116 11 45,9 2 2 48,4
18 116 11 52,9 2 2 48,4
19 116 11 52,9 2 2 54,5
20 116 12 01,2 2 2 54,5
21 116 12 01,2 2 3 00,0
22 116 12 06,3 2 3 00,0
23 116 12 06,3 2 3 04,1
24 116 12 10,4 2 3 04,1
25 116 12 10,4 2 3 09,2
26 116 12 14,0 2 3 09,2
27 116 12 14,0 2 3 15,6
28 116 12 17,8 2 3 15,6
29 116 12 17,8 2 3 22,9
30 116 12 24,5 2 3 22,9
31 116 12 24,5 2 3 34,7
32 116 12 32,5 2 3 34,7
33 116 12 32,5 2 3 54,9
34 116 12 03,0 2 3 54,9
35 116 12 03,0 2 3 22,0
36 116 11 49,6 2 3 22,0
37 116 11 49,6 2 2 55,1
38 116 11 23,2 2 2 55,1
39 116 11 23,2 2 2 38,1
40 116 11 01,5 2 2 38,1
41 116 11 01,5 2 2 51,9
42 116 10 47,2 2 2 51,9
43 116 10 47,2 2 3 02,2
44 116 10 35,8 2 3 02,2
45 116 10 35,8 2 3 14,2
46 116 9 19,0 2
Sumber: IUP OP PT SBS Nomor: 545/D3/Operasi Produksi/Ek/V/2013 3 14,2
47 116 9 19,0 2 3 06,6
48 116 7 24,5 2 3 06,6

DELH PT SURYA BANGUN SARANA II-2


Gambar 2.1. Peta lokasi

DELH PT SURYA BANGUN SARANA II-3


Gambar 2.2. Peta kesesuaian lokasi dengan tata ruang

DELH PT SURYA BANGUN SARANA II-4


2.1.4. Luas tapak

PT. Surya Bangun Sarana telah mendapatkan izin usaha pertambangan operasi
produksi pada areal seluas 1.179,611 Ha melalui Keputusan Bupati Paser No.
545/03/Operasi Produksi/Ek/V/2013 tanggal 15 Mei 2013.

2.1.5. Penggunaan Tapak Saat Ini dan Penggunaan Tapak Sebelumnya

Luas lahan yang dimiliki oleh PT SBS sesuai dengan izin usaha pertambangan
operasi produksi adalah 1.179,611 ha. Lahan tersebut akan digunakan untuk pit,
disposal area, settling pond, workshop dan jalan angkut. Untuk lebih jelasnya dapat
dilihat pada Tabel 2.2. Lay out pertambangan PT. SBS seperti Gambar 2.3.

Tabel 2.2. Penggunaan Lahan PT Surya Bangun Sarana

No. Penggunaa Lahan Luas (Ha) Keterangan


A AREA TERGANGGU
1. Pit 73,20 Rencana
2. Disposal 9,00 Realisasi
3. Settling Pond 0,09 Realisasi
4. Camp 1,00 Realisasi
5. Workshop 0,66 Realisasi
6. Jalan Angkut 3,98 Realisasi
B AREA TIDAK TERGANGGU 1.091,68 Realisasi
TOTAL 1.179,61

Penggunaan tapak sebelumnya adalah berupa vegetasi mangrove dan semak


belukar. Di dalam lokasi yang saat ini sedang berlangsung kegiatan pertambangan
bukan merupakan area kebun masyarakat. Kebun masyarakat terletak di bagian
Barat dari lokasi. Dan daerah tersebut bukan merupakan daerah yang ada deposit
batubaranya.

2.1.6. Uraian Tentang Berbagai Jenis Bangunan Yang Ada, Letak, Luas Dan
Penggunannya

Fasilitas-fasilitas penunjang yang terdapat di dalam lokasi PT SBS antara lain kantor,
pos keamanan, mess, dapur dan kantin, bengkel, rumah genset, tangki
penyimpanan BBM dan TPS limbah B3. Seluruh bangunan terbuat dari kayu dan
atap seng. Ukuran masifbng bangunan dapat dilihat pada Tabel 2.3.

DELH PT SURYA BANGUN SARANA II-5


Tabel 2.3. Fasilitas Penunjang Kegiatan Usaha Pertambangan Batubara
PT Surya Bangun Sarana

Panjang Lebar Luas


No. Jenis Bangunan Unit
(m) (m) (m2)

1 Kantor 8 4 1 32
2 Pos Keamanan 4 2 2 16
3 a.Mess Karyawan 20 8 1 160
b.Mess Karyawan 12 8 1 96
c.Mess Karyawan 8 8 1 64
4 Dapur dan Kantin 6 4 1 24
5 Bengkel 15 10 1 150
6 Rumah Genset 4 4 2 32
7 Tangki Penyimpanan BBM 20 15 1 300
8 TPS limbah B3 6 4 1 24
9 Tangki Penyimpanan Air 6 6 1 36
Total 934

9 7

3 Area parkir

Area
6 parkir
8
4
5
1

Layout Bangunan Fasilitas Camp

A. Kantor

Fasilitas kantor merupakan pusat pengendalian kegiatan pertambangan


batubara, baik kegiatan administratif maupun kegiatan operasional.

DELH PT SURYA BANGUN SARANA II-6


B. Pos keamanan

Pos keamanan dibangun untuk menunjang kegiatan pengamanan pada area


fasilitas penunjang dan stockpile yang dilakukan selama 24 jam. Pos keamanan
terutama ditempatkan pada lokasi yang menjadi jalan keluar-masuk area
fasilitas penunjang dan stockpile.

C. Mess karyawan

Mess karyawan merupakan bangunan yang disediakan bagi karyawan PT SBS


yang berasal dari luar daerah. Bangunan mess karyawan merupakan bangunan
semi permanen terbuat dari kayu.

D. Dapur dan Kantin

Fasilitas kantin dibangun berdekatan dengan fasilitas mess karyawan dan


kantor. Kantin merupakan tempat yang menyediakan makanan dan minuman
bagi karyawan PT SBS.

E. Bengkel

Fasilitas bengkel ditujukan untuk kegiatan perawatan dan perbaikan peralatan


sehingga peralatan tersebut dapat terus mendukung kelancaran kegiatan
pertambangan. Bangunan bengkel ini dilengkapi dengan gudang untuk
penyimpanan suku cadang peralatan dan lain-lain.

F. Rumah Genset

Genset ditempatkan pada bangunan tersendiri (rumah genset) sehingga


terhindar dari panas dan hujan secara langsung. Rumah genset terletak di
lokasi camp dan di lokasi stockpile.

G. Tangki Penyimpanan BBM

Tangki penyimpanan BBM yang disediakan terbuat dari plat besi dengan
kapasitas 500 m3. Tangki penyimpanan BBM terletak di lokasi camp dan di
lokasi stockpile.

H. TPS Limbah B3

TPS limbah B3 digunakan untuk penyimpanan sementara bahan-bahan bekas


tidak terpakai yang tergolong limbah B3, seperti: minyak pelumas bekas,
aki/accu bekas, filter oli bekas, kain majun bekas yang bersumber dari kegiatan
operasional PT SBS. Konstruksi TPS limbah B3 terbuat dari kayu dan atap dari
seng. Minyak pelumas bekas ditempatkan dalam drum. Kondisi TPS limbah
B3 saat ini masih belum memadai dan luasnya perlu ditambah agar mampu
menampung seluruh limbah B3 yang dihasilkan oleh PT SBS. Izin TPS limbah B3
saat ini sedang dalam proses di DLH Kab. Paser.

DELH PT SURYA BANGUN SARANA II-7


Gambar 2.3. PETA FASILITAS PENUNJANG

DELH PT SURYA BANGUN SARANA II-8


2.1.7. Uraian Kegiatan Utama, Kegiatan Pendukung, Proses, Bahan Baku Dan Bahan
Penolong

A. Penerimaan Tenaga Kerja

Jumlah tenaga kerja yang dimiliki oleh PT Surya Bangun Sarana saat ini adalah
122 orang. Dari jumlah tersebut, 65 orang atau 53,28% berasal dari penduduk
lokal. Sedangkan 57 orang atau 46,72 % berasal penduduk dari luar daerah.
Jumlah tersebut berubah sesuai dengan kebutuhan. Untuk lebih jelasnya dapat
dilihat pada Tabel 2.4 berikut.

Tabel 2.4. Tenaga Kerja yang Dimiliki oleh PT Surya Bangun Sarana

Jumlah Jabatan Jumlah


Jabatan (Orang) (Orang)
Direktur Utama 1 Kepala Pelabuhan 1
Direktur Operasional 1 Kepala Mekanik 1
KTT 1 Mekanik 10
Projeck Manager 1 Helper 6
Engineering 2 Operator 72
Suvervisor 4 Chef 6
Foreman 8 Admin Keuangan 2
Health, Safety and 2 Admin Produksi 4
Environment (HSE)
Total 20 Total 102

Gambar 2.4. Struktur Organisasi PT SBS

B. Penggunaan Alat Berat

Alat berat yang dimiliki PT SBS untuk kegiatan pembersihan lahan, penggalian
dan penimbunan over burden, penggalian batubara, pengolahan batubara dan
pengapalan batu bara. Jumlah bahan bakar yang dibutuhkan untuk menunjang
operasional alat berat adalah 500.000 liter/bulan. BBM diperoleh dari
distributor resmi. Jenis dan jumlah alat berat yang dimiliki dapat dilihat pada
Tabel 2.5.

DELH PT SURYA BANGUN SARANA II-9


Tabel 2.5. Jenis dan Jumlah Alat Berat yang Dimiliki Oleh PT SBS

RENCANA 2017
No JENIS PERALATAN TIPE KAPASITAS
JUMLAH UNIT Used Availability (%) STATUS MILIK/SEWA KONTRAKTOR SEWA UNIT
Komatsu Pc 400-8 1,8 m3 2 75 Sewa PT. Majau Inti Jaya (1) & PT. MA (1)
Hitachi ZX 350 H-5G 1,8 m3 1 75 Milik Sendiri
Hitachi ZX 200 0,9 m3 1 75 Milik Sendiri
1 Excavator
Hitachi ZX 210 0,9 m3 3 75 Milik Sendiri
Hitachi ZX470LC-5G 1,8 m3 2 75 Milik Sendiri
Dozan 500 LC 1,8 m3 3 75 Sewa PT. Terra Faktor (1) & PT. Majau Inti Jaya (2)
3 Motor Greader Caterpillar 120 K 1 75 Milik Sendiri
4 Bulldozer Komatsu D85-ESS 5,9 m4 5 75 Milik Sendiri
CWB45ALDN1 20 Ton 4 75 Milik Sendiri
6 Dump Truck Nissan CWB45 20 Ton 5 75 Sewa PT. Multi Adverindo (5)
FAW FD 336 DT 20 Ton 4 75 Sewa PT. Multi Adverindo (4)
Volvo A40E 40 Ton 3 75 Sewa PT. Terra Faktor (3)
7 Articulated Dump Truck CAT 740 40 Ton 4 75 Milik Sendiri
HM 400-2R 40 Ton 4 75 Sewa PT. Majau Inti Jaya (4)
Mitsubishi FE 349 10.000 lt 1 75 Milik Sendiri
8 `Fuel Truck
Mitsubishi FE 349 5.000 lt 1 75 Milik Sendiri
9 Water Truck Mitsubishi FE 350 5.000 lt 1 75 Milik Sendiri
10 LV Mitsubishi Triton 4D 2 75 Milik Sendiri
11 Genset Parkin 24 kVA 32/40 3 75 Milik Sendiri
12 Pompa Air Volvo SC 8x6 0,8 m3/sec 3 75 Milik Sendiri
13 Tower Lamp Terex 6 kVA 12 Hours 6 75 Milik Sendiri
14 Crushing Plan 150 mt/hours 1 75 Sewa

DELH PT SURYA BANGUN SARANA II-10


C. Pembersihan Lahan Tambang

Pembersihan lahan dilakukan antara lain penggalian (top of cut) meliputi


pekerjaan penggalian dan perubuhan pohon-pohon, semak belukar,
rerumputan dan pohon bakau dilakukan dengan Bulldozer Komatsu
D 85 SS-2 dan Excavator Pc 200.

Operasi pembersihan lahan penambangan dilakukan pada lokasi-lokasi


yang akan ditambang secara open pit, hal ini dilakukan untuk membatasi
daerah terbuka. Beberapa pekerjaan yang akan dilakukan berkaitan dengan
operasi ini adalah :

1. Pembabatan semak dan perdu

Pada lokasi perbukitan pekerjaan ini dilakukan dengan menggunakan


bulldozer, yang menjalankan fungsi gali- dorong dengan memanfaatkan
blade dan tenaga dorong yang besar. Semak dan perdu yang menutupi
area penambangan di dorong ke daerah-daerah pembuangan.

2. Perubuhan Pohon

Perubuhan pohon-pohon yang ada dilakukan sebelum operasi


pembersihan lahan penambangan. Lahan dari lokasi yang akan
ditambang biasanya ditumbuhi oleh berbagai jenis pohon, dari yang
berukuran kecil sampai besar. Untuk pohon yang berukuran besar seperti
bakau perlu dilakukan pemotongan dengan menggunakan alat berat
berupa excavator atau bulldozer yang kemudian batang pohon bakau
tersebut dibuang ke tempat yang telah disiapkan lalu ditimbun.
Sedangkan sisa akar dari pohon bakau akan di ambil dan ditempatkan
dibelakang tanggul yang akan berfungsi untuk menjaga kestabilan
daya hidup bakau tersebut dan menjaga kekuatan tanggul dari air
pasang

Gambar 2.5. Skema penambangan batubara secara terbuka (open pit)

DELH PT SURYA BANGUN SARANA II-11


D. Pengupasan d a n P e n i m b u n a n Tanah Pucuk

Pada lokasi rencana kegiatan penambangan terdapat 2 lokasi yaitu daerah


perbukitan dan daerah rawa-rawa. Pertimbangan penanaman kembali di
daerah perbukitan, pada area bekas tambang ini akan manggunakan
strategi pengelolaan lingkungan sacara menyeluruh terutama dalam hal
penanganan tanah pucuk (top soil) yang kaya akan unsur hara. Tanah humus
ini dikupas sampai kedalaman 80 cm dengan mengunakan bulldozer yang
kemudian ditumpuk dan ditimbun pada suatu tempat yang aman dari
kegiatan panambangan dan tidak terkena banjir/ari pasang
sungai/genangan agar nantinya dapat dimanfaatkan kembali dalam kegiatan
reklamasi. Sedangkan pada area rawa-rawa tidak terdapat top soil hanya
material lumpur. Material lumpur ini akan digunakan dan difungsikan sebagai
tanggul dan pada saat kegiatan reklamasi tanggul ini akan dirobohkan dan
diratakan kembali sehingga pada lokasi rawa-rawa dapat dikembalikan
fungsinya sebagai tempat penanaman pohon bakau.

Terdapat 1 (satu) lokasi penimbunan tanah pucuk yang telah disiapkan. Top
soil area 1 terletak disebelah selatan dari lokasi tambang pit 1 dengan jarak
angkut 300 m dengan luas 5 ha yang dapat menampung topsoil sebanyak
394.000 bcm, lokasi ini akan digunakan hanya sebagian saja terutama pada
daerah yang tidak terpengaruh pasang surut. Pengelolaan tanah pucuk
meliputi :

1. Material didorong dan kemudian dikumpulkan dengan Bulldozer dan


dimuat dengan Backhoe/Exavator ke dump truck untuk diangkut ke
lokasi penimbunan .

2. Penggalian sebaiknya dilakukan pada saat musim kemarau agar unsur


hara yang terkandung pada top soil dapat terjaga.

3. Tempat penimbunan top soil harus stabil dengan tinggi bench


maksimal 5 meter dan kemiringan maksimal 30.

Untuk menghindari terjadinya gully dan mempertahankan kesuburan


tanah pada tempat penimbunan, akan dilakukan pemupukan,
penanaman dan pemeliharaan cover crop.

Tanah pucuk yang berada pada bukaan pit yang mempunyai morfologi
perbukitan atau landai setelah dikeruk kemudian dipindahkan ke lokasi
penimbunan yang aman berupa dumping area (waste dump). Sedangkan
untuk lokasi lahan basah, tidak terdapat tanah pucuk hanya terdapat
lumpur dari pasang surut dengan tebal yang bervariasi antara 15 cm sampai
dengan 1.8 mtr, lumpur ini akan digunakan sebagai material tanggul.
Terdapat 1 (satu) lokasi penimbunan tanah pucuk yang telah disiapkan. Top
soil area 1 terletak disebelah selatan dari lokasi tambang pit 1 dengan jarak
angkut 300 m dengan luas 5 ha yang dapat menampung topsoil sebanyak
394,000 bcm.
DELH PT SURYA BANGUN SARANA II-12
E. Pengupasan dan Penimbunan Tanah Penutup

Pengupasan dan Pemindahan material hasil penggalian lapisan penutup


menggunakan excavator sebagai alat muat, dan dump truck sebagai alat
angkut. Lapisan penutup diangkut dari daerah penambanga ke lokasi
penimbunan (dumping area) yang telah direncanakan yaitu disposal area 1
yang terletak di timur laut dari pit 1 dengan luas 6 ha dan memiliki kapasitas
sebesar 1.277,400 bcm dan disposal area 2 yang terletak di sebelah barat
dari pit HB dengan luas 1 ha dan memiliki kapasitas sebesar 217,235 bcm.
Dan disposal area 3 yang terletak di sebelah barat dari pit 3 dengan luas 2
ha memiliki kapasitsa 558.777 bcm dan top soil luas 5 ha memiliki kapasitas
sebesar 394.000 bcm.

1. Arah kemajuan tambang yang akan diterapkan adalah searah dengan


arah jurus/strike batubara yaitu dari utara ke salatan.

2. Untuk mencapai target produksi batubara sebesar 540,000 MT per


tahunnya atau 45,000 MT per bulan dengan stripping ratio 1 : 5,9 maka
volume tanah penutup yang harus dikupas adalah 14.633.631 BCM/tahun.
Metode yang akan digunakan yaitu metode back filling.

3. Untuk mencapai target produksi yang telah ditetapkan dan memudahkan


dalam penambangan agar pelaksanaan backfilling dapat berjalan dengan
baik dimana laju pelaksanaan reklamasi seiring atau berbanding lurus
dengan laju kemajuan tambang maka pit tambang di bagi menjadi
beberapa sequence penambangan.

Tabel 2.6. Luas, Letak dan Kapasitas Waste Dump


Luas Kapasitas
No. Uraian Letak
(Ha) (bcm)
1 Waste dump area 1 Timur Laut 6,0 1.277.400
2 Waste dump area HB Barat Laut 1,0 217.235
3 Waste dump area 3 Barat Laut 2,0 558.777
4 Tanggul Utara 0,375 82,657
Sumber : Dokumen Studi Kelayakan PT. SBS
Keterangan:
Waste dump area 1 : 41116,375; 9772872,125
Waste dump area HB : 410372,125; 9773744,25
Waste dump area 3 : 409385,25; 977444,25
Realisasi Kegiatan Pengupasan dan Penimbunan Tahun 2016

- Pada tahun 2016 yang telah dibuka adalah pit 1 dan pit 2, lokasi ini
menjadi pilihan pertama karena disamping kandungan depositnya
yang besar, stripping ratio yang rendah.

- pit 3 dibagi menjadi 2 seqence sedangkan pit 1 menjadi 4 sequen


penambang dengan luas yang bervariasi.

DELH PT SURYA BANGUN SARANA II-13


- Lapisan tanah penutup yang berasal dari p i t 1 , p i t 3 akan
dibuang pada disposal area 1 dan 3 dan sebagiannya lagi akan
digunakan untuk keperluan pembuatan akses jalan, karena pada pit 3
ini keterdapatan material keras kurang, demikian juga dengan
topsoil yang berada di atasnya.

- Pit 1 dan pit 2 terdapat material top soil dan lumpur yang berasal dari
pasang surut sungai, dalam kegiatan penanambangan top soil akan
ditempatkan pada lokasi top soil area 1 dan sebagian lagi akan
digunakan untuk pembuatan tanggul.

- Pada awal penambangan di lokasi pit 1 dan pit 3 dan sequen 1 akan
dilakukan pembuatan tanggul untuk mencegah masuknyan pasang
surut air sehingga memudahkan dalam melakukan penambangan. Untuk
mengantisipasi air limpasan dari Pit tambang akan dibuatkan settling
pond temporary. Dari settling pond yang temporary air tambang
akan dialirkan melalui pompa ke settling pond permanen. Kegiatan
penambangan menggunakan sistem back filling.

- Dengan melakukan penataan tanah penutup pada elevasi pit


bekas kegiatan penambangan, diharapkan pada akhir tahun 2016
lubang bukaan yang sudah dilakukan back filling dapat di
minimalisir sekecil mungkin untuk melakukan penambangan ditahun
berikutnya.

Rencana Kegiatan Pengupasan dan Penimbunan Tahun 2017

- Tahun 2017 konsentrasi penambangan masih melanjutkan kegiatan


pada lokasi penambangan pit 1 dan pit 2.

- Sama dengan tahun 2016 dimana back filling tetap dijalankan


sehingga pada akhir penambangan tahun 2017 lokasi bekas
penambangan sudah dapat tertutup.

- Pada areal ini pit ini akan dibuatkan tanggul keliling sebanyak 2
(dua) buah, dengan tinggi tanggul 3 meter karena pada pit ini
pasang surut bias mencapai maximal 1,8 meter. Pembuatan settling
pond temporary akan dibuatkan dibeberapa titik.

Rencana Kegiatan Pengupasan dan Penimbunan Tahun 2018

- Tahun 2018 penambangan dilakukan melanjutkan penambangan pada


pit 1, pit 2 , pit HB dan pit 3.

- Pembuatan tanggul pada pit 2 pit ini hanya pada daerah lahan basah
sedangkan lahan perbukitan pembuatan tanggul tidak dilakukan.

- Pembukaan Pit berikutnya sama dengan Pit sebelumnya dimana back


filling tetap dijalankan sehingga pada akhir penambangan tahun 2018
lokasi semua bekas pit sudah tertutup.

DELH PT SURYA BANGUN SARANA II-14


Rencana Kegiatan Pengupasan dan Penimbunan Tahun 2019

- Untuk tahun 2019, pit yang akan dibuka adalah pit 1, pit 2 (lanjutan) dan
pit HB yang terletak disebelah utara dan selatan.

- Pada pit 1 dan pit HB ini akan dibuatkan tanggul keliling yang berfungsi
sebagai antisipasi pasang surut masuk dalam pit penambangan. tanggul
juga akan dibuatkan pada lokasi rencana settling pond permanen.

- Lapisan tanah penutup yang berasal dari pit 3 dibuang ke bukaan


sebelumnya dan sebagian dibuang ke disposal area 3 demikian halnya
dengan pit HB akan dibuang ke sequen sebelumnya dan sebagian
dibuang di disposal HB sedangkan top soil akan dibuang ke top soil
area 1.

- Setelah terdapat ruang , untuk kemudian lapisan tanah penutup pada


bukaan pit berikutnya dibuang ke lokasi pit (backfill) yang telah
ditambang.

Rencana Kegiatan Pengupasan dan Penimbunan Tahun 2020

- Untuk tahun 2020, pit yang akan dibuka adalah hanya pit 2 (lanjutan)
yang terletak disebelah selatan.

- Lapisan tanah penutup yang berasal dari pit 2 dibuang ke bukaan pit
sebelumnya demikian halnya dengan top soil dibuang ke top soil area 1.

- Pada akhir penambangan di pit 2 hanya tidak terdapat lubang bukaan


tambang tetapi hanya perbedaan elevasi yang membedakan
dikarenakan kurangnya material penutup.

Pengupasan dan pemindahan material hasil penggalian lapisan penutup


menggunakan excavator sebagai alat muat, dan dump truck sebagai alat
angkut. Lapisan penutup diangkut dari daerah penambangan ke lokasi
penimbunan (dumping area) yang telah direneanakan yaitu disposal area
1 yang terletak di timur dari pit 1 dengan luas 10 ha dan memiliki
kapasitas sebesar 1.277.400 bcm dan disposal area 3 yang terletak di
barat dari pit 3 dengan luas 3 ha dan memiliki kapasitas sebesar 558.777,
dan disposal area HB terletak di barat pit HB seluas 2,5 Ha memiliki kapasitas
217.235 bcm (lihat tabel 3.2). Pada Area Disposal ini, hanya sebagian saja
yang digunakan untuk tumpukan tanah penutup terutama pada lokasi
yang bukan rawa.

F. Penggalian Batubara

Rencana umur tambang

Dari jumlah cadangan batubara terukur sebesar 2.418.956 MT dengan waktu


kegiatan rencana penambangan adalah 4,5 atau 5 tahun maka skala usaha
dan kegiatan penambangan batubara yang akan dilakukan diperhitungkan
dari besarnya rencana usaha produksi selama 1 (satu) tahun. Berdasarkan
DELH PT SURYA BANGUN SARANA II-15
definisi diatas, rencana penambangan batubara yang akan dilakukan oleh PT.
Surya Bangun Sarana tergolong dalam klasifikasi penambangan batubara
skala kecil dengan tingkat produksi per tahun yang direncanakan berkisar
antara 540.000 MT atau dengan produksi rata-rata 45.000 MT per bulan
dengan volume lapisan tanah penutup sebesar 14.633.631 BCM dan striping
ratio 1 : 5,9.

Metode penambangan

Metode penambangan yang dipilih adalah metode tambang terbuka "Open Pit
Mining", dengan sistem back filling. Metode ini didasarkan pertimbangan
faktor-faktor teknis yang mencakup model geologi, kondisi lapisan tanah
penutup, kondisi lapisan batubara (strike, dip, ketebalan], serta pertimbangan
jumlah cadangan estimasi batubara. Metode penambangan ini akan
menggunakan kombinasi alat berat antara excavator sebagai alat gali muat,
truck sebagai alat angkut dan bulldozer sebagai alat bantu pengupasan.

Rencana pembongkaran batubara dengan menggunakan excavator. Excavator


ini dinilai lebih selektif dalam hal stripping permukaan batubara. Setelah
batubara terbongkar kemudian dikumpulkan dengan bulldozer blade atau
dengan bucket excavator yang langsung dimuat ke atas truck.

Tinggi jenjang

Alat gali yang direncanakan dalam pembuatan jenjang menggunakan


Excavator Komatsu PC-200 dan PC-400, dengan alat ini tinggi jenjang
disesuaikan dengan kemampuan daya jangkau alat. Diambil maksimal
ketinggian jenjang tunggal adalah maksimal 6 m.

Desain /geometri pit tambang

Dalam proyek ini, desain pit penambangan mengacu kepada Kep. Men.
Pertambangan dan Energi Nomor 555.K/26/M.PE/1995 tentang
Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pertambangan Umum Bab VI Tambang
Terbuka pasal 241 ; Tinggi Permukaan Kerja dan Lebar Teras Kerja, ayat
2 (b) dan ayat 5. Didukung informasi data lapangan dan menggunakan
beberapa asumsi dan informasi literatur. Direncanakan pit penambangan
akan mengikuti desain sebagai berikut :

Geometri Jenjang Individu (Individual Bench)

- Tinggi jenjang :56m

- Lebar bern :3m

- Kemiringan jenjang : 50

Geometri Lereng Akhir Tambang (Final pit slope)

- Tinggi lereng keseluruhan (overall) : 30 m

- Kemiringan lereng keseluruhan (overall slopes) : 45

DELH PT SURYA BANGUN SARANA II-16


Lereng Timbunan (dump slopes)

- Kemiringan keseluruhan (overall) : 20

- Tinggi jenjang : 3,0 m

- Lebar bern : 3,8 m

- Kemiringan jenjang individu : 30

Jalan Tambang (mine roads)

- Lebar total : 12 m

- Lebar permukaan jalan : 10 m

- Lebar selokan dan safety boom : 2 m

- Gradien maksimum : 8%(AASHTO 1994)

- Super elevasi : 4%(AASHTO 1994)

- Turning radius : 15 m

Desain Ramp

- Lebar pit ramp operasi : 22 m

- Gradien ramp : 8%

- Lebar selokan :1m

Penambangan batubara dimulai dari area yang sudah ditentukan menuju arah
jurus/strike ke down dip. Batubara hasil penambangan dimuat ke dump truck
diangkut ke stock room ataupun langsung ke crushing plant yang menggunakan
alat perecah untuk pengecilan ukuran dan selanjutnya ditimbun di stock pile
atau dekat dengan jety/pelabuhan.

Pada dokumen RR periode pertama tepatnya pada tahun 2012 2015 dengan
rencana luas bukaan 68,2 Ha. PT. Surya Bangun Sarana belum melakukan
aktiftas kegiatan penambangan ditahun 2012 2014 dikarenakan bebarapa
faktor.

Tahun 2015 (Aktual dan sudah ditempatkan)

Dan pada tahun 2015 PT. Surya Bangun Sarana telah melakukan kegiatan
penambangan dengan total bukaan lahan 5,36 ha, sebagai Tabel 2.7.

DELH PT SURYA BANGUN SARANA II-17


Tabel 2.7. Realisasi Bukaan Lahan Tahun 2015
Luas Overburden Coal
No Tahun/Pit Ket
[Ha] (BCM) (M/T)
A Tahun 2015
I Pit 1 dan Pit 3
1 Pit 1 1,10 173.412,00 41.734,00
2 Pit 3 0,90 97.564,00 23.654,00
3 Disposal Pit 1 0,60
4 Disposal Pit 3 0,40
5 Area Mess & Workshop 1,66 Aktif sd tahap RPT (Jamtup)
7 Jalan Logistik 0,70 Aktif sd tahap RPT (Jamtup)
Total Bukaan Lahan 5,36 270.976,00 65.388,00
Luas Bukaan Lahan Yang dijaminkan 3,00 3 Ha telah dijaminkan periode I
Keterangan : Penempatan Jaminan Reklamasi tahun 2015 seluas 3 Ha (Lokasi
Tersebut) telah ditempatkan pada jaminan reklamasi periode I.

Tahun 2016

Berdasarkan areal Pit penambangan yang telah dibuat untuk tahun 2016
konsentrasi penambangan dilakukan pada pit 1, dan pit 3. Table 2.8.

Tabel 2.8. Penambangan Tahun 2016


Luas Overburden Coal
No Tahun/Pit Ket
[Ha] (BCM) (M/T)
A Tahun 2016
I Pit 1, Pit 3, Dp Pit 1, dan Dp Pit 3.
1 Pit 1 2,47 411.195,00 106.465,00 Bukaan Baru
2 Pit 3 3,7 452.595,00 239.858,18 Bukaan Baru
3 Disposal Pit 1 5,3 Bukaan Baru
4 Disposal Pit 3 1,75 Bukaan Baru
5 Settling Pond 1 0,096 Aktif s/d tahap RPT (Jamtup)
6 Settling Pond 3 0,096 Aktif s/d tahap RPT (Jamtup)
10 Stock Pile dan Jetty 2,90 Aktif s/d tahap RPT (Jamtup)
11 Jalan Hauling 3,98 Aktif s/d tahap RPT (Jamtup)
Total Bukaan Lahan 20,29 863.790,00 346.323,18
Luas Bukaan Lahan Akan dijaminkan (Jamrek) 13,22

Tahun 2017

Pada tahun 2016 pit aktif yang akan ditambang masih melanjutkan kegiatan
penambangan di tahun 2016 dengan luas yang berbeda-beda sebagaimana
Table 2.9.

Tabel 2.9. Penambangan Tahun 2017


Luas Overburden Coal
No Tahun/Pit Ket
[Ha] (BCM) (M/T)
A Tahun 2017
I Pit 1, Pit 2, Dp Pit 1, dan Tanggul
1 Pit 1 6,1 566.601,00 244.012,00 Bukaan Baru
2 Pit 2 5 915.529,00 298.448,00 Bukaan baru
3 Disposal Pit 2 1,24 Bukaan Baru
4 Tanggul Permanent 0,375
5 Settling Pond Stock Pile 0,096 Aktif s/d tahap RPT (Jamtup)
Total Bukaan Lahan 12,81 1.482.130,00 542.460,00
Luas Bukaan Lahan Akan dijaminkan (Jamrek) 12,72

DELH PT SURYA BANGUN SARANA II-18


Tahun 2018

Tahun 2018 pit yang akan ditambang adalah melanjutkan penambangan pit 1,
pit 2, dan pit HB serta melanjutkan penambangan di lokasi pit 3

Tabel 2.10. Penambangan Tahun 2018


Luas Overburden Coal
No Tahun/Pit Ket
[Ha] (BCM) (M/T)
A Tahun 2018
I Pit 1, Pit 2, Pit 3, Pit HB dan DP Pit HB
1 Pit 1 9,48 2.152.243,00 293.334,05 Rencana Bukaan baru
2 Pit 2 9,63 2.081.892,00 196.756,00 Rencana Bukaan baru
3 Pit 3 2,40 515.648,00 128.184,24 Rencana Bukaan baru
4 Pit HB 2,20 461.729,00 81.267,00 Rencana Bukaan baru
5 Disposal Pit HB 1,00
Total Bukaan Lahan 24,71 5.211.512,00 699.541,29
Luas Bukaan Lahan Akan dijaminkan (Jamrek) 24,71

Tahun 2019

Tahun 2019 pit yang akan ditambang adalah melanjutkan penambangan di


pit 1, pit 2 dan pit HB, dimana di tahun 2019 ini setiap pit akan habis di tambang
hanya tersisa beberapa hektar dari pit 2.

Tabel 2.11. Penambangan Tahun 2019


Luas Overburden Coal
No Tahun/Pit Ket
[Ha] (BCM) (M/T)
A Tahun 2019
I Pit 1, Pit 2, dan Pit HB
1 Pit 1 9,00 1.420.830,00 274.763,00 Rencana Bukaan baru
2 Pit 2 10,00 2.814.760,00 228.306,53 Rencana Bukaan baru
3 Pit HB 2,80 358.579,00 76.926,00 Rencana Bukaan baru
Total Bukaan Lahan 21,80 4.594.169,00 579.995,53
Luas Bukaan Lahan Akan dijaminkan (Jamrek) 21,80

Tahun 2020

Tahun 2020 pit yang akan ditambang adalah melanjutkan penambangan di


pit 2.

Tabel 2.12. Penambangan Tahun 2020

Luas Overburden Coal


No Tahun/Pit Ket
[Ha] (BCM) (M/T)
A Tahun 2020
I Pit 2
1 Pit 2 10,20 2.482.030,00 287.986,47 Rencana Bukaan baru
Total Bukaan Lahan 10,20 2.482.030,00 287.986,47
Luas Bukaan Lahan Akan dijaminkan (Jamrek) 10,20

DELH PT SURYA BANGUN SARANA II-19


Rencana bukaan lahan kegiatan pertambangan batubara PT SBS dapat dilihat
pada Gambar 2.6.

G. Pengangkutan Batubara

Pedoman Iebar jalan angkut direkomendasikan minimal 4 kali Iebar alat


angkut terbesar. Dengan asumsi alat angkut terbesar adalah dump tuck
dengan kapasitas angkut sebesar 20 ton dan Iebar 2.5 meter, maka Iebar
jalan angkut adalah 10 meter dan badan jalan sebesar 3 meter. Secara
keseluruhan Iebar dan badan jalan minimal 15 meter dengan panjang jalan
2 km. Dengan asumsi tersebut maka luas area jalan adalah 6,6 ha (Jalan
Hauling dan Jalan Logistik).

Pengangkutan batubara adalah kegiatan untuk mentranslokasikan material


hasil tambang dari lokasi produksi ke tempat pengolahan dan pelabuhan.
Batubara yang diproduksi dari pit tambang langsung diangkut dengan
menggunakan dump truck (tronton) ke area stock pile dan pengolahan di
pelabuhan. Pengangkutan langsung ini dikarenakan jarak front tambang
dengan lokasi pelabuhan hanya berjarak 1 km yang terletak di Sungai Apar
Kecil.

H. Penimbunan dan Pengolahan Batubara

Batubara yang dihasilkan dari pit tambang langsung diangkut dengan


menggunakan dump truck ke area tempat penimbunan (stock pile) dan
pengolahan. Lokasi penimbunan batubara hanya akan dibangun di area
pelabuhan yang berada di Sungai Apar Kecil, hal ini dilakukan mengingat
karena lokasi tambang dengan pelabuhan hanya berjarak 700 s/d 3,000
meter dari front tambang. Luas area yang akan dibangun 4 ha sudah
termasuk, pelabuhan dan sarana penunjang lainnya.

DELH PT SURYA BANGUN SARANA II-20


Gambar 2.6. PETA RENCANA BUKAAN LAHAN

DELH PT SURYA BANGUN SARANA II-21


Dalam rangka memenuhi permintaan konsumen sesuai spesifikasi batubara
yang diinginkan pasar maka PT. Surya Bangun Sarana akan melakukan proses
pengolahan batubara (coal processing) yang bertujuan untuk mengolah
batubara keluaran tambang (row coal) menjadi produk batubara yang sesuai
dengan permintaan pasar, baik dalam hal ukuran produk dan kualitas produk
yang dipasarkan.

Dengan mempertimbangkan kualitas cadangan batubara, metode


penambangan yang dipilih dan kualitas permintaan pasar batubara maka
proses pengolahan batubara yang direncanakan meliputi: reduksi ukuran (size
reduction) melalui penggerusan (crushing), pemisahan atau pengelompokan
ukuran (classification) melalui pengayakan (screening).

Pengolahan batubara yang akan dilakukan oleh PT. Surya Bangun Sarana hanya
peremukan (crushing) untuk seluruh total produksi batubara tanpa adanya
pencucian karena kadar abu (ash) relatif kecil.

Sebagai umpan (feed) proses pengolahan batubara yang direncanakan adalah


batubara produksi kegiatan penambangan (row coal) yang telah ada atau
dikumpulkan pada stockpile. Batubara berukuran maksimum 600 mm terlebih
dahulu diremukkan secara manual dengan menggunakan breaking hammer
sampai memiliki ukuran yang lebih kecil.

Tahapan proses pengolahan batubara di tempat pengolahan batubara (coal


processing plant) dibedakan menjadi: primary crushing, vibrating screen,
dan secondary crushing.Batubara dari tambang maupun stockpile bisa
diangkut secara langsung oleh dumptruckataupun oleh wheell loader dari
stockpile dan dicurahkan ke vibrator hopper.

Vibrator hopper untuk menampung batubara pertama kali sebelum


dituangkan ke dalam crusher selanjutnya. Crusher type double roll,
merupakan alat penghancur batubara yang dibedakan menjadi dua jenis
yaitu primary crusher dan secondary crusher yang mempunyai kapasitas 150
ton per jam, untuk mereduksi ukuran butir batubara sampai ukuran 90 mm.
Setting double roll primary crusher adalah 90 mm sedangkan pada double
roll secondary crusher adalah 50 mm.

Primary crushing menggunakan double roll crusher (primary crusher) dengan


setting 90 mm. Dalam primary crusher batubara dilakukan pereduksian primer
agar didapatkan ukuran butir yang seragam berkisar 090 mm, digunakan
sebagai umpan yang diterima secondary crusher agar tidak terlalu besar,
kemudian hasil primary crushing dialirkan melalui vibrating screen.

Pada vibrating screen, batubara hasil primary crushing dipisahkan menjadi dua
ukuran, yaitu batubara ukuran butir 050 mm langsung dialirkan dengan belt
conveyor ke penimbunan, sedang batubara dengan ukuran butir 5090 mm
dialirkan masuk ke secondary crusher.Vibrating screen untuk memisahkan

DELH PT SURYA BANGUN SARANA II-22


batubara atau mendapatkan ukuran besar butir yang seragam sesuai
dengan permintaan konsumen dan memisahkan batubara yang hancur.

Belt conveyor digunakan untuk mengangkut batubara selama proses


pengolahan ke tempat penimbunan dan sebagai alat angkut dari satu peralatan
ke peralatan yang lainnya dalam proses pengolahan.

Secondary crushing menggunakan type double roll crusher (secondary crusher)


dengan setting 50 mm, batubara dilakukan pereduksian kedua sehingga
didapatkan ukuran butir yang seragam antara 050 mm, sesuai dengan
permintaan pasar, selanjutnya dengan belt conveyor diangkut ke tempat
penimbunan.

Recovery pengolahan batubara adalah perbandingan rencana perolehan


batubara yang diolah dibanding dengan umpan batubara hasil penambangan
terhadap batubara kotor, akan dilakukan dengan perhitungan dan pengamatan
secara periodik pada proses pengolahan. Kehilangan batubara selama proses
pengolahan berlangsung adalah sangat kecil karena tidak dilakukan proses
pencucian batubara (washing).

Bagan alir tahapan dan proses pengolahan batubara di coal processing plant
disusun disajikan pada Gambar 2.7.

a. Proses Pemisahan Ukuran (Screening)

Proses pemisahan ukuran adalah proses yang bertujuan untuk


membersihkan fraksi- fraksi batubara atas dasar ukuran yang diinginkan,
dengan tahapan unit operasi yaitu:

1) Grizzly Screen : memisahkan fraksi ukuran +600 mm sebelum


masuk sebagai umpan primary-crusher.

2) Vibrating Screen I : memisahkan fraksi ukuran +150 mm sebelum


masuk sebagai umpan secondary-crusher.

3) Vibrating Screen II : memisahkan fraksi ukuran +50 mm sebelum keluar


sebagai produk akhir proses pengolahan.

4) Trommel Screen: memisahkan ukuran fraksi dengan yang diinginkan


pasar.

b. Proses Peremukan (Crushing)


1) Primary Crusher: meremuk umpan yang memiliki ukuran -600 mm
menjadi faksi yang memenuhi persyaratan umpan secondary crusher
(-150 mm).

2) Secondary Crusher: meremuk umpan yang memiliki ukuran -150 mm


menjadi faksi dengan ukuran yang memenuhi persyaratan ukuran
pasar batubara (-50 mm). Batubara hasil peremukan diteruskan ke
screen. Material yang tidak lolos pada screen akan diremuk ulang pada
crusher sampai ukuran -50 mm.
DELH PT SURYA BANGUN SARANA II-23
Gambar 2.7. Bagan Alir Tahapan Dan Proses Pengolahan Batubara Di Coal
Processing Plant

I. Pengapalan batubara

Lokasi terminal khusus batubara PT SBS terletak di sungai Apar Kecil. Batubara
dari fine coal stock pile di angkut menuju tongkang menggunakan dump truck.
Setelah tongkang merapat dengan baik di jetty, antara jetty dan tongkang
dipasang jembatan dari konstruksi baja yang dapat dilewati oleh truck untuk
naik ke tongkang. Truk tidak di isi sampai melebihi bak truck untuk mencegah
terjadi ceceran batubara saat proses memindhkan batubara dari truk ke
tongkang. Batubara di angkut menggunakan tongkang kapasitas 7.500 ton
(300 feet). Frekuensi pengapalan batubara di tersus PT SBS adalah 5 (lima) trip
per bulan.

DELH PT SURYA BANGUN SARANA II-24


J. Aktifitas Bengkel dan Genset

Agar peralatan-peralatan yang digunakan dapat terus mendukung kelancaran


kegiatan pertambangan, diperlukan adanya perawatan dan perbaikan
peralatan. Kegiatan perawatan dan perbaikan peralatan (aktivitas bengkel)
mencakup kegiatan perbaikan peralatan-peralatan yang rusak, penggantian
suku cadang dan oli/pelumas pada mesin peralatan, dan perawatan rutin
lainnya.

Penggunaan dan Sumber Energi

PT SBS memiliki 2 unit genset yang masing-masing berkapasitas 54 KVA dan


85 KVA. Genset berkapasitas 85 KVA digunakan untuk pengoperasian instalasi
pengolahan batubara. Sedangkan genset berkapasitas 54 KVA digunakan untuk
pemenuhan kebutuhan tenaga listrik pada fasilitas penunjang (kantor, mess
karyawan, dan lain-lain), serta untuk penerangan.

K. Aktifitas Karyawan

Karyawan PT SBS selama bekerja di lokasi site selain melakukan kegiatan


penggalian batubara juga melakukan aktifitas yang menghasilkan limbah
domestik padat maupun cair. Limbah domestik padat yang dihasilkan antara
lain sisa makanan, kemasan makanan berupa plastik dan kertas. Limbah
domestik cair yang dihasilkan antara lain air cucian dan MCK.

Penggunaan dan Sumber Air

Kebutuhan air bersih diperoleh dari kolam air hujan yang ada di sekitar mess
karyawan. Air dari kolam tersebut dipompa dan ditampung di tandon air
berkapasitas 2.200 liter. Jumlah air yang digunakan setiap hari adalah 122 orang
x 20 liter = 2.440 liter. Hubungan arus pendek dan percikan api yang
ditimbulkan oleh karyawan (saat merokok) berpotensi menyebabkan terjadinya
kebakaran.

L. Kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR)

PT. SBS mempunyai komitmen untuk menjalankan salah satu amanat dari UU
No. 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, sehingga perusahaan
melaksanakan program Corporate Social Responsibility. Program Corporate
Social Responsibility yang dijalankan oleh pihak perusahaan disesuaikan dengan
ketentuan peraturan perundangan yang berlaku.

Penyusunan program CSR melibatkan masyarakat, perusahaan dan pemerintah,


Aspirasi dan harapan masyarakat tersebut akan ditampung dalam program CSR
PT. SBS. Seperti halnya program CSR yang telah dilaksanakan selama kegiatan
yang sebelumnya, program CSR yang akan datang juga akan berpedoman
pada:

a. Perda Provinsi Kalimantan Timur No. 3 Tahun 2013 Tentang Tanggung


Jawab Sosial dan Lingkungan Perseroan Terbatas Serta Program Kemitraan

DELH PT SURYA BANGUN SARANA II-25


dan Bina Lingkungan.

b. Perda Provinsi Kalimantan Timur No. 14 Tahun 2016 Tentang Perubahan


Atas Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Timur Nomor 3 Tahun 2013
Tentang Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Perseroan Terbatas Serta
Program Kemitraan dan Bina Lingkungan.

Pada tahun 2016, program CSR yang sudah dilaksanakan oleh PT SBS adalah di
bidang hubungan kemasyarakatan dan dibidang infrastruktur pendidikan
(Gambar 2.8 dan 2.9).

Gambar 2.8. Penambahan Ruang Kelas Sekolah Dasar di Desa Saing Prupuk

Gambar 2.9. Penyerahan Dana CSR Kepada Kepala Desa Saing Prupuk

DELH PT SURYA BANGUN SARANA II-26


Tabel 2.13. Rencana Program CSR PT Surya Bangun Sarana Tahun 2017

Sinergitas dengan
Provinsi
Sinergitas dengan
(12 Prioritas
Indikator Kinerja Kab/Kota (Lihat
Program dan Kegiatan Pembangunan & 57 Waktu
Program (outcame) & Kegiatan (output) RPJMD & RKPD 2017
Kegiatan Prioritas
Kab/Kota)
Pembangunan
Provinsi)
Program peningkatan
Meningkatkan kemampuan berpendidikan Per Semester
kemampuan Sama Sama
dan difasilitasi pengembangannya Kalender
untuk masyarakat lokal magang.
Bantuan transportasi pendidikan
Jumlah daya tarik berpendidikan dan
di area sekitar lokasi Sama Sama Akhir Tahun
difasilitasi transportasi
penambangan

Program bantuan pengobatan Mengurangi masyarakat yang terkena Per Triwulan


Sama Sama
kepada masyarakat penyakit dan difasilitasi pengadaannya Kalender

Program Kegiatan Penyediaan Air Meningkatkan Hidup Bersih dan yang Per Triwulan
Sama Sama
Bersih bagi masyarakat difasiliatasi penyediaannya Kalender

Jumlah ketertariakan masyarakat untuk


Bantuan pembibitan bagi Per Triwulan
melakukan kegiatan pertanian yang Sama Sama
masyarakat sekitar Kalender
difasilitasi penyediaannya
Meningkatkan SDM pendukung
pertanian, perkebunan, Meningkatkan masyarakat yang berwawasan Per Triwulan
Sama Sama
peternakan, perikanan dan dan bertanggung jawab Kalender
kehutanan.

DELH PT SURYA BANGUN SARANA II-27


Sinergitas dengan
Provinsi
Sinergitas dengan
(12 Prioritas
Indikator Kinerja Kab/Kota (Lihat
Program dan Kegiatan Pembangunan & 57 Waktu
Program (outcame) & Kegiatan (output) RPJMD & RKPD 2017
Kegiatan Prioritas
Kab/Kota)
Pembangunan
Provinsi)
Survey dampak kegiatan
penambangan kepada ekonomi Menambah wawasan masyarakat Sama Sama Akhir Tahun
lokal

Bantuan dalam lomba kegiatan Jumlah daya tarik masyarakat dan yang Per Semester
Sama Sama
MTQ difasilitasi pengembangannya Kelender

Program Kegiatan Memperingata Jumlah daya tarik Wisata Unggulan yang


Sama Sama Setahun Sekali
Hari Besar Nasional difasilitasi pengembangannya (KPP/kab/kota)

Kegiatan Bantuan Perlengkapan Meningkatkan gaya hidup sehat dan Per Semester
Sama Sama
Alat Olah Raga difasilitasi pengadaanya Kelender

Bantuan Sarana Dan Prasarana Meningkatkan pembangunan desa yang Sesuai


Sama Sama
Desa difasilitasi infrastrukturnya Kebutuhan

Program Bantuan Untuk Korban Jumlah kepedulian masyarakat terhadap Sesuai


Sama Sama
Bencana Alam sesama yang difasilitasi bantuannya Kebutuhan

Kontribusi Kegiatan Berdasarkan


Meningkatkan rasa saling peduli yang Sesuai
Proposal Permohonan Dari Sama Sama
difasilitasi pengadaanya Kebutuhan
Masyarakat

DELH PT SURYA BANGUN SARANA II-28


Sinergitas dengan
Provinsi
Sinergitas dengan
(12 Prioritas
Indikator Kinerja Kab/Kota (Lihat
Program dan Kegiatan Pembangunan & 57 Waktu
Program (outcame) & Kegiatan (output) RPJMD & RKPD 2017
Kegiatan Prioritas
Kab/Kota)
Pembangunan
Provinsi)

Meningkatkan respon cepat terhadap sesama


Kontribusi Kesehatan Masyarakat Sesuai
yang difasilitasi infrastruktur dan Sama Sama
yang Bersifat Urgen Kebutuhan
pengembangannya

DELH PT SURYA BANGUN SARANA II-29


M. Reklamasi dan Revegetasi Lahan

Penambangan dapat mengubah lingkungan fisik, kimia dan biologi seperti


bentuk lahan dan kondisi tanah, kualitas dan aliran air, debu, getaran, pola
vegetasi dan habitat fauna, dan sebagainya. Perubahan-perubahan ini
harus dikelola untuk menghindari dampak lingkungan yang merugikan
seperti erosi, sedimentasi, drainase yang buruk, masuknya gulma, hama dan
penyakit tanaman, pencemaran air permukaan air tanah oleh bahan beracun
dan lain-lain.

Dampak negatif kegiatan pertambangan terhadap lingkungan tersebut perlu


dikendalikan untuk mencegah kerusakan di luar batas kewajaran. Prinsip
kegiatan reklamasi adalah :

1. Kegiatan reklamasi harus dianggap sebagai keputusan yang utuh dari


kegiatan penambangan

2. Kegiatan reklamasi harus dilakukan sedini mungkin dan tidak harus


menunggu proses penambangan secara keseluruhan selesai dilakukan

Setiap lokasi pertambangan mempunyai kondisi tertentu yang


mempengaruhi pelaksanaan reklamasi. Pelaksanaan reklamasi umumnya
merupakan gabungan dari pekerjaan teknik sipil dan teknik vegetasi.
Pelaksanaan reklamasi meliputi kegiatan sebagai berikut :

a. Persiapan lahan yang berupa pengamanan lahan bekas tambang,


pengaturan bentuk lahan ("landscaping''), pengaturan/ penempatan
bahan tambang kadar rendah ("lowgrade") yang belum dimanfaatkan.

b. Pengendalian erosi dan sedimentasi

c. Pengelolaan tanah pucuk

d. Revegetasi (penanaman kembali) atau pemanfaatan lahan bekas


tambang untuk tujuan lainnya.

Kegiatan reklamasi dilakukan pada lahan bekas tambang dan lahan bekas
kegiatan non-tambang (lahan bekas timbunan tanah penutup jalan tambang,
lahan bekas kolam pengendap, lahan bekas fasilitas tambang).

Areal bekas tambang akan di reklamasi secara bertahap sesuai dengan


kemajuan penambangan. Dalam pelaksanaan reklamasi terhadap bekas
tambang akan dilakukan backfill, yaitu dengan menutup bekas bukaan
tambang dengan tanah penutup bukaan tambang pada penambangan
berikutnya. Luas area bekas tambang pada pit pertama yaitu 28 ha, pit
kedua 34,19 Ha, pit ketiga 6,01 Ha, Pit HB 5 Ha, sehingga total lahan
bekas tambang yang akan direklamasi seluas 73,2 Ha. Untuk lahan bekas
tambang pada pit 3 serta pit 2 backfilling-nya tidak akan maksimal, dan

DELH PT SURYA BANGUN SARANA II-30


akan ada perbedaan elevasi yang berbeda, pada sequen tersebut, sehingga
morfologinya lebih rendah dikarenakan kurangnya material penutup.

Setelah dilakukan backfill dan penataan lahan, selanjutnya dilakukan


penyebaran tanah pucuk (top soil) yang diambil dari lokasi timbunan
sementara tanah pucuk. Pada proses pengembalian tanah tersebut
diusahakan agar ketebalan tanah secara total (horizon A dan B) dengan
ketebalan minimal 80 cm. Tahap akhir adalah dengan melakukan revegetasi
areal tersebut, tahap awal revegetasi adalah dengan penanaman legume
covercrop seperti Centrosema pubescens, Puereria javanica dan
Colopogonium sampai tanah siap untuk ditanami tanaman pokok. Hal
ini akan disesuaikan dengan perjanjian dengan para pemangku kepentingan
(stake holders).

Sebagai upaya pengendalian erosi dan sedimentasi, akan di buatkan paritan


di sekeliling bekas pit tambang dan air larian akan di alirkan ke settling pond
sebelum diturunkan ke perairan bebas.

DELH PT SURYA BANGUN SARANA II-31


Tabel 2.14. Realisasi Program Reklamasi Lahan Bekas Tambang Tahun 2015
Tabel 3.0 Rencana Program Reklamasi Lahan Bekas Tambang
Pengupasan Tanah Penutup Program Reklamasi
Realisasi
Tahun Realisasi Volume Volume Prosentase Penebaran Tanah Speading & Penanaman Keterangan
Front Tambang Revegetasi
Luas (Ha) (Bcm) Disposal (Bcm) % Pucuk Konturing Covercrop
PIT 1 1,10 173.412 0,6 83.412 Triwulan I tahun Triwulan II Triwulan III Triwulan III Pada kedua Pit tersebut akan di backfill pada
2015 85,0
PIT 3 0,90 97.564 0,4 67.564 2015 tahun 2015 tahun 2015 tahun 2015 triwulan IV 2015
TOTAL TAHUN 2015 2,00 270.976 1,00 150.976

Keterangan :

Pada tahun 2015 kegiatan back fill belum dilakukan dikarenakan material lumpur sehingga mengharuskan out pit dump hingga mendapatkan luasan yang sesuai
untuk mendukung backfill/in pit dump.

Tabel 2.15. Realisasi Program Reklamasi Lahan Bekas Tambang Tahun 2016

Tabel 3.1 Rencana Program Reklamasi Lahan Bekas Tambang


Pengupasan Tanah Penutup Program Reklamasi
Realisasi
Tahun Realisasi Volume Volume Prosentase Penebaran Tanah Speading & Penanaman Keterangan
Front Tambang Revegetasi
Luas (Ha) (Bcm) Disposal (Bcm) % Pucuk Konturing Covercrop
PIT 1 2,47 411.195 5,3 624.532 Triwulan I tahun Triwulan II Triwulan III Triwulan III Pada kedua Pit tersebut akan di backfill pada
2016 85,0
PIT 3 3,7 452.595 1,75 376.310 2016 tahun 2016 tahun 2016 tahun 2016 triwulan IV 2016
TOTAL TAHUN 2016 6,17 863.790 7,05 1.000.842

Keterangan :

Sama dengan tahun sebelumnya, pada tahun 2016 kegiatan backfill belum dilakukan dikarenakan bebarapa faktor seperti tempat in pit dump yang masih sempit
serta material OB merupakan lumpur.

DELH PT SURYA BANGUN SARANA II-32


Tabel 2.16. Rencana
Tabel 3.2 Program Reklamasi
Rencana Program Lahan
Reklamasi Lahan Bekas
Bekas Tambang Tahun 2017
Tambang
Pengupasan Tanah Penutup Program Reklamasi
Realisasi
Tahun Realisasi Volume Volume Prosen tase Penebaran Tanah Speading & Penanaman Keterangan
Front Tambang Revegetasi
Luas (Ha) (Bcm) Disposal (Bcm) % Pucuk Konturing Covercrop
PIT 1 6,10 566.601 0,375 82.675 Triwulan I tahun Triwulan II Triwulan III Triwulan III Pit 1 dan 2 akan di backfill pada triwulan IV
2017 85,0
PIT 2 5,00 915.529 1,24 115.121 2017 tahun 2017 tahun 2017 tahun 2017 tahun 2017
TOTAL TAHUN 2017 11,10 1.482.130 1,62 197.796
Keterangan :

Pada tahun 2017 kegiatan backfill/in pit dump telah dilakukan diareal penambangan pit 2 dikarena lokasi tersebut mempunyai morfologi yang tinggi sehingga
memudahkan dalam melakukan kegiatan backfill. Serta melakukan pembuatan tanggul dilokasi yang mempunya morfologi yang rendah (Rawa).

Tabel 2.17. Rencana Program


Tabel 3.3 Reklamasi
Rencana Program Lahan
Reklamasi Bekas
Lahan Bekas Tambang Tahun 2018
Tambang
Pengupasan Tanah Penutup Program Reklamasi
Realisasi
Tahun Rencana Volume Volume Prosen tase Penebaran Tanah Speading & Penanaman Keterangan
Front Tambang Revegetasi
Luas (Ha) (Bcm) Disposal (Bcm) % Pucuk Konturing Covercrop
PIT 1 9,48 2.152.243 In Pit Dump 2.152.243
PIT 2 9,63 2.081.892 In Pit Dump 2.081.892 Triwulan I tahun Triwulan II Triwulan III Triwulan III Pit 1,2,dan 3 akan di backfill pada triwulan IV
2018 85,0
PIT 3 2,40 515.648 In Pit Dump 515.648 2018 tahun 2018 tahun 2018 tahun 2018 tahun 2018
PIT HB 2,20 461.729 1 221.729
TOTAL TAHUN 2018 23,71 5.211.512 1 4.971.512

Keterangan : Pada tahun 2018, kegiatan backfill/in pit dump akan dilakukan dikerana pada tahun ini akan mendapatkan luasan yang mendukung dalam kegiatan
backfill tersebut. Hanya pada lokasi pit HB belum dilakukan kegiatan backfill dikarenakan pada tahun ini lokasi tersebut baru akan dilakukan kegiatan
penambangan.

DELH PT SURYA BANGUN SARANA II-33


Tabel 2.18. Rencana
Tabel 3.4 Program Reklamasi
Rencana Program Lahan
Reklamasi LahanBekas Tambang Tahun 2019
Bekas Tambang
Pengupasan Tanah Penutup Program Reklamasi
Rencana Realisasi
Tahun Front Volume Volume Prosen tase Penebaran Speading & Penanaman Keterangan
Luas Revegetasi
Tambang (Bcm) Disposal (Bcm) % Tanah Pucuk Konturing Covercrop
(Ha)
Pit 1 9,00 1.420.830 In Pit Dump 1.420.830 Pit 1, 2 dan HB akan di
Triwulan I tahun Triwulan II Triwulan III Triwulan III
2019 Pit 2 10,00 2.814.760 In Pit Dump 2.814.760 85,0 backfill pada triwulan IV
2019 tahun 2019 tahun 2019 tahun 2019
Pit HB 2,80 358.579 In Pit Dump 358.579 tahun 2019
TOTAL TAHUN 2019 21,80 1.420.831 4.594.169

Keterangan :

Pada tahun 2019, kegiatan backfill/in pit dump akan dilakukan dikarenakan pada tahun ini akan mendapatkan luasan yang mendukung dalam kegiatan backfill
tersebut.

Tabel 2.19. Rencana Program Reklamasi Lahan Bekas Tambang Tahun 2020
Tabel 3.5 Rencana Program Reklamasi Lahan Bekas Tambang
Pengupasan Tanah Penutup Program Reklamasi
Rencana Realisasi
Tahun Front Volume Prosen tase Penebaran Speading & Penanaman Keterangan
Luas Volume (Bcm) Revegetasi
Tambang Disposal (Bcm) % Tanah Pucuk Konturing Covercrop
(Ha)

Pada akhir penambangan


Triwulan I Triwulan II Triwulan III Triwulan III tidak terdapat lubang
2020 PIT 2 10,20 2.482.030,00 In Pit Dump 2.482.030 85,0
tahun 2020 tahun 2020 tahun 2020 tahun 2020 tambang hanya perbedaan
elevasi yang membedakan

TOTAL TAHUN 2020 10,20 2.482.029 2.482.029

DELH PT SURYA BANGUN SARANA II-34


Teknik dan Peralatan yang Digunakan dalam Reklamasi

Pekerjaan reklamasi meliputi : backfilling, spreading dan konturing,


penyebaran tanah pucuk, serta revegetasi.

Backfilling
Backfilling akan dilakukan per sequence tambang. Setalah sequence
pertama terbuka kemudian lapisan tanah dari sequence kedua akan di
backfill langsung ke sequence pertama begitu juga dengan seterusnya
sampai kegiatan penambangan batubara berakhir. Kegiatan backfilling
ini rencananya akan dimulai pada tahun 2016 dan akan berakhir pada
tahun 2020 serta disesuaikan dengan berakhirnya umur penambangan.

Spreading dan konturing


Setelah dilakukan backfilling maka langkah selanjutnya adalah melakukan
spreading dan konturing. Kegiatan ini melibatkan alat bulldozer D 85 SS
sebagai alat sebar dan dorong.

Penyebaran tanah pucuk


Tanah pucuk yang tersimpan baik di area top soil akan dikembalikan
setelah kegiatan backfilling dan spreading selesai dikerjakan. Kegiatan
pengembalian tanah pucuk melibatkan alat excavator cat 330 (sebagai alat
muat), dump truck Nissan (sebagai alat angkut), dan bulldozer D 85 SS
(sebagai alat garu dan dorong).

Revegetasi
Setelah tahap demi tahap dalam pekerjaan reklamasi selesai maka langkah
akhir yang akan dilakukan adalah revegetasi, tapi sebelum dilakukan
penanaman dengan tanaman pokok akan ditanami terlebih dahulu
dengan tanaman fast growing seperti Sengon Laut dan tanaman legume
cover crop seperti Centrosema pubescens, Puereria javanica dan
Colopogonium. Hal ini dilakukan untuk mengembalikan kesuburan tanah.
Tanaman sengon dipilih karena merupakan jenis tanah yang unggul
pada lahan kritis dan telah dipergunakan secara luas untuk revegetasi
lahan pascatambang batubara. (Adman, B., 2013). PT Singlurus Pratama
dan PT Berau Coal adalah contoh perusahaan yang menggunakan
Sengon laut sebagai tanaman pionir dalam kegiatan revegetasi.
Adapun pekerjaan tambahan yang tidak kalah pentingnya adalah pekerjaan
pengendalian erosi sebagai akibat dari air larian (run off), maka akan
dilakukan pembuatan paritan untuk mengalirkan air larian menuju kolam
pengendap.

DELH PT SURYA BANGUN SARANA II-35


Kegiatan pelaksanaan, pekerjaan ini akan diawasi oleh seorang pengawas dari
tim lingkungan dan dimonitor oleh Kepala Tehnik Tambang yang sudah
ditetapkan.

Tabel 2.20. Peralatan yang Digunakan dalam Reklamasi

No Jenis Alat Jumlah

1 Buldozer D 85 SS 1
2 Excavator Cat 330 1
3 Dump Truck Nissan 3

Sumber material pengisi (backfilling)

Material pengisi yang digunakan untuk pengisian kembali bekas tambang


berasal dari tanah penutup. Adapun volume tanah penutup yang akan dikupas
dan akan dijadikan material tanah penutup adalah sebesar 14.633.631 bcm.
Penutupan lahan bekas tambang akan dilakukan secara bertahap sesuai
dengan kemajuan penambangan sehingga akan ada proses reklamasi setiap
tahunnya.

Revegetasi

Setelah pekerjaan penutupan bekas lubang tambang dilaksanakan yang


menghasilkan kontur baru, pekerjaan selanjutnya adalah menanami lahan
tersebut dengan tanaman fast growing dan legume covercrop seperti
Centrosema pubescens, Puereria Javanica dan Colopogonium yang maksud
tujuannya adalah mengurangi penyerapan air yang terdapat dalam tanah dari
sinar matahari yang akan berakibat tanah tersebut menjadi kering. Disamping
itu tujuan dari penanaman tanaman fast growing dan covercroup adalah untuk
menghidupkan kembali unsur hara yang terdapat dalam tanah bekas galian.

Tanaman legume covercroup seperti Centrosema pubescens, Puereria Javanica


dan Colopogonium dapat diambilkan dari sekitar lokasi tambang berupa
tanaman perdu dan rumput yang mana tanaman tadi akan mudah
berkembang dikarenakan sesuai dengan lingkungan tumbuhnya. Dan apabila
tanaman yang dimaksud tidak ada terdapat dan atau tidak mencukupi untuk
kebutuhan keperluan penanaman pada areal bekas tambang tadi, bisa
didatangkan dari daerah luar yang mampu hidup pada areal yang dimaksud.

Setelah tanaman covercrop tumbuh dengan baik, selanjutnya areal tersebut


dilakukan penanaman tanaman fast growing species dengan jarak tanam 4 x
4 m (625 pohon/ha), selanjutnya akan ditanam dengan tanaman sisipan
berupa tanaman sawit. Penanaman pohon sawit ini akan dilakukan
dengan cara jarak tanam 9 x 9 m ditanam secara merata dengan
sistem segitiga sama sisi. Penanaman pohon sawit merupakan kesepakatan

DELH PT SURYA BANGUN SARANA II-36


dengan masyarakat selaku pemilik lahan untuk pengelolaan revegetasi lahan
bekas tambang.

Luas area rencana lahan bekas tambang dan fasilitas lainnya yang akan
direvegetasi adalah sebagai berikut :

1. Lahan bekas pit tambang 73,2 ha


2. Lahan bekas timbunan tanah penutup + 9 ha
3. Tanggul Pit 0,375 ha

Pemeliharaan

Pelaksanaan pemeliharaan dan perawatan terhadap areal bekas lubang


tambang yang telah direklamasi dilaksanakan sejalan dengan kemajuan
penambangan dan kemajuan pelaksanaan reklamasi.

Hal tersebut sesuai dengan rencana penanganan tanah penutup secara


backfill. dimana setiap lubang bekas tambang yang telah selesai di tambang
akan segera ditutup kembali dengan tanah penutup, ditebarkan tanah pucuk
dan direvegetasi.

Pelaksanaan perawatan dan pemeliharaan adalah dengan melakukan


pemupukan dan pemberian obat tanaman.

Tingkat keberhasilan dari semua metode reklamasi dan revegetasi akan


berkurang bila tidak dilakukan pemeliharaan yang baik. Pemeliharaan yang
dimaksudkan untuk memacu pertumbuhan tanaman sedemikian rupa
sehingga dapat diwujudkan keadaan optimum bagi pertumbuhan tanaman.
Pemeliharaan yang dilakukan yaitu dengan melakukan kegiatan :

Penyulaman
Penyulaman dilakukan pada tanaman yang mati atau rusak, tidak
sehat/merana.

Pengendalian Gulma
Pengendalian gulma bertujuan untuk mengurangi atau memperkecil
persaingan akar antara tanaman pokok dengan tanaman penganggu.
Pengendalian gulma dapat dilakukan secara manual berupa
penyiangan dan pendangiran atau kimiawi berupa penyemprotan bahan
kimia/herbisida.

Pemupukan
Pemupukan dengan bahan organik maupun bahan anorganik dapat
meningkatkan usaha penanaman kembali pada rehabilitasi lahan- lahan
kritis pasca tambang. Hal ini disebabkan karena kebanyakan sisa
penambangan mengandung unsur nitrogen dan fosfor yang rendah dan
DELH PT SURYA BANGUN SARANA II-37
proses penanaman kembali umumnya membutuhkan tambahan zat
makanan sesering mungkin sampai terkumpulnya bahan organik yang
cukup. Pemupukan biasanya dilakukan pada awal penanaman bersamaan
dengan pembuatan lubang tanam sebagi pemupukan dasar, maupun
pada tahap pemeliharaan sebagai pupuk susulan. Pemberian pupuk dasar
pada lahan-lahan kritis pasca tambang mutlak diperlukan.
Pemupukan dasar umumnya terdiri dari pupuk anorganik yang
dikombinasi dengan pupuk organik dengan dosis yang tepat dan
diberikan pada setiap lubang tanam. Guna mendapat basil yang baik, maka
pupuk perlu dicampur secara merata pada semua isi lubang tanam 1-2
minggu sebelum penanaman dilakukan.

Pengapuran
Jika tanah di sekitar lubang tanam masam (pH < 5) maka diperlukan
pengapuran. Dengan dilakukan pengapuran senyawa-senyawa
kalsium, maka kompleks absorpsi tanah akan terisi dengan kation-
kation Ca2+ sehingga pH tanah yang semula asam akan berubah
menjadi lebih tinggi sampai akhirnya mendekati netral, karena kelebihan
ion H+ dalam larutan tanah dinetralisir dengan ion-ion OH- menjadi air
(H20). Dosis bahan pengapur untuk menaikkan pH tanah tentunya
bervariasi sesuai dengan sifat dan jenis tanah yang diberi pengapuran.

Pemakaian Mulsa
Pemakaian mulsa dianjurkan untuk menjaga stabilitas tanah
sementara pada saat sebelum penanaman vegetasi. Hal ini disebabkan
karena kandungan bahan organic tanah pada lahan pasca tambang
yang sangat kurang akan mempengaruhi produktivitas laban tersebut,
khususnya pada lahan-lahan yang miring. Oleh karena itu pemakaian
mulsa sangat dianjurkan selain pemakaian pupuk dan pengapuran,
karena memberikan beberapa keuntungan sebagai berikut :
1. Melindungi agregat tanah
2. Mengurangi kecepatan dan volume aliran permukaan
3. Meningkatkan agresi dan porositas tanah
4. Meningkatkan kandungan bahan organic tanah
5. Memelihara temperature dan kelembaban tanah

DELH PT SURYA BANGUN SARANA II-38


Dalam pemilihan pemakaian mulsa disesuaikan dengan kondisi tanah
yang ada. Suwardjo dan Arsjad (1981) telah berhasil membuktikan
bahwa pemakaian mulsa yang agak sukar lapuk (C/N ratio >) seperti
jerami padi dan batang jagung akan memberikan perlindungan yang
lebih baik jika dibandingkan dengan pemakaian mulsa yang mudah
lapuk (C/N ratio <). Cara penempatan bahan mulsa dengan disebar
merata dimaksudkan untuk memperoleh efektifitas penutupan paling
tinggi, sehingga dapat melindungi permukaan tanah dan mengurangi
aliran permukaan. Penempatan mulsa dapat dilakukan pula dalam jalur
untuk mensulapi air dalam tanah.

DELH PT SURYA BANGUN SARANA II-39


Gambar 2.10. PETA RENCANA REKLAMASI

DELH PT SURYA BANGUN SARANA II-40


2.1.8. Rona Lingkungan Komponen Fisik-Kimia

A. Rona Lingkungan Sub Komponen Kualitas Udara Ambien

Dalam aktivitas pelaksanaan kegiatan operasional pertambangan batubara PT SBS


terjadinya dampak terhadap kualitas udara ambien (peningkatan kadar emisi gas
SO2, NO2, CO dan TSP) merupakan suatu keadaan yang tidak dapat dihindari,
karena dalam aktifitas kegiatannya menggunakan alat-alat berat untuk kegiatan
operasional pertambangan batubara tersebut. Berdasarkan pengamatan secara
visual pada lokasi rencana Kegiatan diprakirakan bahwa terjadinya dampak
terhadap penurunan kualitas udara ambien akan mempengaruhi derajat kesehatan
masyarakat yang bermukim di sekitar lokasi kegiatan. Hasil pengukuran kualitas
udara di wilayah studi dapat dilihat pada Tabel 2.21 berikut.

Tabel 2.21. Kualitas Udara Ambien di Lokasi Studi

Kadar Terukur Pada


Baku Mutu
No. Parameter Satuan Lokasi Pengukuran
Udara
1 2
Kondisi Pengukuran
1. Suhu C 0
- 31 32
2. Kelembaban % - 72 67
3. Kecepatan Angin m/s - 1,1 1,2
4. Arah Angin Dari 0
- 180 210
Kualitas Udara
1. Nitrogen Dioksida (NO2) g/Nm3 400 0,5 72,2
2. Karbon Monoksida (CO) g/Nm3 30.000 925,3 1691,6
3. Sulfur Dioksida (SO2) g/Nm3 900 2,4 57,4
4. Debu g/Nm3 230 50,2 114,4
Sumber : Hasil Analisis Laboratorium, 2017.
Keterangan: 1 : Pemukiman Desa Saing Prupuk
2 : Lokasi Proyek

Berdasarkan hasil analisis laboratorium menunjukkan bahwa semua parameter yang


telah diuji di beberapa wilayah studi tidak melebihi baku mutu yang telah
ditetapkan berdasarkan PP No. 41 tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran
Udara. Hal ini dikarenakan tidak ada sumber pencemaran udara yang dominan.

Salah satu data yang diperlukan untuk memprakirakan potensi penyebaran kualitas
udara adalah data iklim. Iklim adalah keadaan cuaca rata-rata dalam waktu satu
tahun yang penyelidikannya dilakukan dalam jangka waktu yang lama dan meliputi
wilayah yang luas.

Intensitas curah hujan di wilayah studi selama satu tahun rata-rata sebesar 121,25
mm/bulan dengan curah hujan bulanan maksimal adalah 271 mm yakni terjadi
pada bulan Januari, sedangkan curah hujan minimal sebesar 0 mm yakni terjadi
pada bulan desember. Hari hujan tahunan maksimal terjadi pada bulan januari dan
februari yakni sebanyak 10 hari dan hari hujan tahunan minimal terjadi pada

DELH PT SURYA BANGUN SARANA II-41


bulan desember yakni tidak pernah terjadi hujan. Data curah hujan dan hari hujan
di wilayah studi disajikan pada Tabel 2.22.

Tabel 2.22. Curah hujan dan hari hujan di Wilayah Studi Tahun 2015

Jumlah Curah Hujan Jumlah Hari Hujan


No Bulan
(mm) (hari)
1 Januari 271 10
2 Februari 255 10
3 Maret 162 5
4 April 190 7
5 Mei 68 5
6 Juni 33 2
7 Juli 104 5
8 Agustus 39 2
9 September 60 3
10 Oktober 47 5
11 November 226 8
12 Desember 0 0
Total 1455 62
Rata-rata 121,25 5,16
Sumber: Kecamatan Batu Engau Dalam Angka, 2016

B. Rona Lingkungan Sub Komponen Kebisingan

Data kebisingan merupakan data primer, sehingga pengumpulannya dilakukan


dengan cara pengukuran langsung di lapangan. Lokasi pengukuran kebisingan sama
dengan lokasi pengambilan sampel kualitas udara. Hasil pengukuran kebisingan di
beberapa lokasi tersebut akan dibandingkan dengan baku mutu parameter
kebisingan, yaitu mengacu pada Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. KEP-
48/MENLH/11/1996 tentang Baku Tingkat Kebisingan untuk fasilitas umum,
permukiman dan industry. Sedangkan untuk linkungan kerja mengacu kepada
Keputusan Menteri Tenaga Kerja No. 51 tahun 1999 tentang Nilai Ambang Batas
Faktor Fisika Di Tempat Kerja Menteri Tenaga Kerja. Data intensitas kebisingan di
lokasi studi disajikan pada Tabel 2.23. berikut.

Tabel 2.23. Intensitas Kebisingan di Lokasi Studi

No. Lokasi Satuan Baku Mutu Kadar Terukur


1. Pemukiman Desa Saing Prupuk**) dB(A) 55 47,2
2. Lokasi Proyek *) dB(A) 85 62,6
Sumber : Hasil Analisis Laboratorium, 2016.
Keterangan:
*) Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No.51 Tahun 1999 Tentang Nilai
ambang Batas Faktor Fisika di Tempat Kerja
**) Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 48 Tahun 1996 tentang Baku Tingkat
Kebisingan

Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa hasil pengukuran kebisingan pada lokasi
studi masih dibawah baku mutu tingkat kebisingan disekitar lingkungan kerja

DELH PT SURYA BANGUN SARANA II-42


sesuai dengan Menaker No.Kep-51/MEN/1999 dan baku mutu tingkat kebisingan
sekitar pemukiman sesuai KepMen LH No. 48 Tahun 1996.

C. Rona Lingkungan Sub Komponen Topografi dan Morfologi

.Berdasarkan Peta Rupa Bumi Skala 1 : 50.000 dan peta kelas lereng lokasi KP
Eksplorasi PT. SBS terdapat 3 kelas lereng yaitu 0 8% (datar), 8 15% (landai), dan
15 25% (agak curam), dengan elevasi antara 10 20 meter. Morfologi lokasi
studi terdiri dari dua satuan morfologi yaitu morfologi dataran rendah dan
morfologi perbukitan.

1. Satuan Morfologi Dataran rendah

Satuan ini menempati sebagian besar dari wilayah utara dan selatan lokasi studi.
Terbentuk oleh proses pengendapan sedimen yang relatif muda, hal ini
dicirikan oleh sudut kemiringan lereng berkisar antara 0 -5 menempati daerah
di sepanjang aliran sungai dengan ketinggian rata-rata 15 mdpal.

2. Satuan Morfologi Perbukitan Bergelombang Lemah- Sedang

Satuan ini menempati wilayah barat dan selatan dari daerah studi, hal ini
dicirikan oleh sudut kemiringan lereng berkisar antara 5 -15 dengan beda
tinggi berkisar antara 10 meter 20 meter. Membentuk punggungan berarah
baratdaya-timurlaut atau hampir berarah utara-selatan. Diantara perbukitan
yang agak curam sedang seringkali terdapat alur sungai. Titik ketinggian
maksimal berada di 35 m dpl.

Morfologi lokasi studi dibentuk oleh dataran rendah dan perbukitan


bergelombang lemah sedang yang terdapat alur sungai. Morfologi ini
umumnya diisi oleh batuan sedimen pasiran dan lempung. Morfologi daerah
penyelidikan yaitu sebagai berikut :

a. Pada bagian utara daerah penyelidikan mempunyai morfologi relatif


rendah yang ditumbuhi oleh semak belukar dan bakau.

b. Pada bagian selatan daerah penyelidikan, morfologi relatif bergelombang


lemah sedang, ditumbuhi oleh semak belukar dan hutan sekunder.

c. Pada bagian barat daerah penyelidikan mempunyai morfologi relatif


bergelombang lemah sedang, ditanami oleh semak belukar, hutan
sekunder dan perkebunan sawit masyarakat.

d. Pada bagian timur daerah penyelidikan mempunyai morfologi relatif


bergelombang lemah sedang, ditanami oleh semak belukar, hutan
sekunder dan tanaman bakau.

Lokasi daerah penyelidikan, pada bagian utara terdapat sungai Apar Besar dan
pada bagian selatan terdapat sungai Apar Kecil, yang mana aliran sungai tersebut

DELH PT SURYA BANGUN SARANA II-43


rata-rata menuju ke arah utara selatan yaitu muara sungai Apar Besar.

Proses geomorfologi yang mempengaruhi daerah ini adalah erosi stadium


dewasa yang menjadikan bentuk lembah sungai berbentuk huruf U.

Peta topografi dan kelas lereng lokasi kegiatan pertambangan batubara PT. Surya
Bangun Sarana dapat dilihat pada Gambar 2.11. dan Gambar 2.12.

D. Rona Lingkungan Sub Komponen Geologi

Secara regional lokasi studi berada di dalam Anak Cekungan Pasir. Terletak
disebelah timur dari cekungan antar pegunungan yang termasuk bagian dari
pegunungan- pegunungan Meratus bagian utara.

Secara umum daerah penyelidikan eksplorasi berada pada bagian timur dari
cekungan antar pegunungan yang terletak di punggungan Gunung Meratus,
keadaan geologinya tidak berbeda dengan geologi regionalnya. Batuan penyusun
di daerah penyelidikan disusun oleh Formasi Pamaluan (Tmp) yang berumur
Miosen Awal dan Aluvial (Qa) yang berumur Holosen. Formasi Pamaluan
(Tmp) menempati hampir 75% daerah penyelidikan yang terletak di bagian
utara daerah penyelidikan, sedangkan Aluvial (Qa) menempati hampir 25% yang
terletak di bagian selatan daerah penyelidikan.

Perlapisan batuan yang ditemukan di wilayah penyelidikan umumnya berarah


utara selatan dengan kemiringan lapisan relatif kearah timur, besarnya
kemiringan berkisar antara 5 - 15. Batuan yang ditemukan didaerah penyelidikan
berupa perselingan batulempung dan batupasir dengan sisipan batubara.

Berdasarkan hasil penyelidikan eksplorasi, batuan penyusun di lokasi


penyelidikan adalah sebagai berikut :

1. Batupasir, bewarna kuning, klastik, ukuran butir halus sampai sedang, sortasi
baik, massif, sampai laminasi, komposisi mineral kuarsa, feldsfar dan oksidan
besi serta rapuh sampai kompak.

2. Batulempung, ciri fisik di lapangan warna abu-abu kehijauan, lunak, ukuran


butir clay, merupakan lapisan antara batubara (interburden).

3. Batubara, memiliki ketebalan 0.5 meter - 4 meter, umumnya bewarna


hitam buram, sampai mengkilap, pecahan konkoidal, getas sampai sedang,
ringan sampai sedang, bersih, sedikit mengandung resin, terpecahkan, top
dan bottom lapisan batubara umumnya coallyshale.

Berdasarkan kenampakan dan pengamatan fisik batuan serta kesebandingan


dengan stratigrafi regional, maka batuan di lokasi penyelidikan termasuk dalam
Formasi Pamaluan. Peta geologi di wilayah studi disajikan pada Gambar 2.13
dibawah ini.

DELH PT SURYA BANGUN SARANA II-44


E. Rona Lingkungan Sub Komponen Tata Guna Lahan

Berdasarkan informasi peta penutupan lahan, diketahui bahwa pola penggunaan


lahan di lokasi kegiatan pertambangan batubara PT SBS adalah hutan mangrove
sekunder dengan luas sebesar 451,357 ha atau 38,26%, perkebunan sebesar
713,510 ha atau 60,49%, dan tanah terbuka/tambang sebesar 14,744 ha atau
1,25%. Untuk lebih jelasnya penutupan lahan lokasi kegiatan pertambangan
batubara PT. SBS dapat dilihat pada Peta penutupan lahan pada Gambar 2.14.

F. Rona Lingkungan Sub Komponen Tanah

1. Jenis Tanah

Berdasarkan informasi peta jenis tanah skala 1:50.000, diketahui bahwa sebaran
jenis tanah di lokasi rencana kegiatan usaha pertambangan batubara PT SBS
terdiri atas asosiasi Typic Hapludults, Typic Dystrudepts, Plinthudults dan asosiasi
Sulfaquents, Endoaquepts (sulfic), Hydraquents. Masing-masing asosiasi tanah
mencakup areal dengan luas sebagai berikut.

Tabel 2.24. Luas Masing Masing Jenis Tanah

Persentase
No. Jenis Tanah Luas (Ha)
(%)
1. Typic Hapludults, Typic Dystrudepts, Plinthudults 809,431 68,62
2. Sulfaquents, Endoaquepts (sulfic), Hydraquents 370,180 31,38
Total 1.179,611 100,00
Sumber : Peta Jenis Tanah PT SBS

Untuk menggambarkan secara komprehensip mengenai sebaran jenis tanah


pada lokasi penambangan batubara PT. SBS dapat dilihat pada peta jenis tanah
pada Gambar 2.15.

2. Sifat Kimia Tanah

Data ini diambil dari hasil anaisis contoh tanah komposit sebagai sampel di
laboratorium. Pengambilan sampel sifat kimia tanah dilakukan pada kedalaman
0 30 cm dan 30 60 cm. Parameter sifat kiia tanah yang aka dikumpulkan
antara lain pH, kation basa, KTK, Al+++, H+, N total, C- organic, ratio c/n, P2O5,
kejenuhan basa dan kejenuhan Al. Berikut hasil sifat kimia tanah di lokasi studi
yang diperolah dari hasil analisis laboraturium.

a. pH Tanah
pH tanah merupakan salah satu sifat kimia tanah yang berperan penting
dalam menentukan jenis tanaman yang dapat tumbuh pada tanah tersebut.
Hasil analisis dari sampel tanah (0-60 cm) yang diambil dari lokasi T1
menunjukkan bahwa pH tanah di wilayah studi tergolong sangat masam
dengan pH tanah (H2O) berkisar antara 4,28-4,34, dan hasil analisis pH dari
sampel tanah (0-60 cm) di lokasi T2 menunjukkan bahwa tanah di wilayah

DELH PT SURYA BANGUN SARANA II-45


studi tergolong sangat masam dengan kisaran angka 4,30-4,38. Hasil analisis
pH sampel tanah dari wilayah studi dapat dilihat pada Tabel 2.25.

Tabel 2.25. pH Tanah di Wilayah Studi

No. Lokasi Kedalaman pH Status


0-30 4,28 Sangat Masam
1 T1
30-60 4,34 Sangat Masam
0-30 4,38 Sangat Masam
2 T2
30-60 4,30 Sangat Masam
Sumber : Hasil Analisis Laboratorium, 2017.
Keterangan :
1. Lokasi pengambilan sampel tanah (Asosiasi Typic Hapludults, Typic Dystrudepts,
Plinthudults)
2. Lokasi pengambilan sampel tanah (Asosiasi Sulfaquents, Endoaquepts (sulfic),
Hydraquents)

b. Kapasitas Tukar Kation (KTK)


Kapasitas Tukar Kation (KTK) tanah merupakan gambaran kemampuan misel
tanah untuk mempertukarkan kation-kation dalam tanah, parameter kimia
tanah ini berperanan terhadap kemampuan tanah untuk mengikat unsur
hara. Hasil analisis sampel tanah (0-60 cm) menunjukkan bahwa KTK tanah
di lokasi T1 rendah dengan nilai KTK berkisar antara 5,58-6,54 me/100 g,
namun analisis sampel tanah (0-60 cm) di lokasi T2 menunjukkan nilai KTK
tanah sangat rendah yaitu berkisar antara 3,65-3,91 Hasil analisis KTK sampel
tanah dari wilayah studi dapat dilihat pada Tabel 2.26.

Tabel 2.26. KTK Tanah di Wilayah Studi

KTK
No. Lokasi Kedalaman Status
(meq/100 g)
0-30 6,54 Rendah
1 T1
30-60 5,58 Rendah
0-30 3,65 Sangat Rendah
2 T2
30-60 3,91 Sangat Rendah
Sumber : Hasil Analisis Laboratorium, 2017.
Keterangan :
1. Lokasi pengambilan sampel tanah (Asosiasi Typic Hapludults, Typic Dystrudepts, Plinthudults)
2. Lokasi pengambilan sampel tanah (Asosiasi Sulfaquents, Endoaquepts (sulfic), Hydraquents)

c. Kejenuhan Basa (KB)


Kejenuhan basa (KB) merupakan sifat kimia tanah yang menunjukan
besarnya jumlah kation basa yang terserap pada komplek pertukaran dalam
tanah. Hasil analisis sampel tanah (0-60 cm) yang diambil dari lokasi T1
menunjukkan bahwa KB tanah tergolong sangat rendah dengan nilai KB
berkisar antara 9,47-10,42 %. Hasil analisis sampel tanah (0-60 cm) yang
diambil dari lokasi T2 menunjukkan bahwa KB tanah tergolong rendah
dengan nilai KB berkisar antara 10,57-20,02 %. Hasil analisis KB sampel tanah

DELH PT SURYA BANGUN SARANA II-46


dari wilayah studi dapat dilihat pada Tabel 2.27.

Tabel 2.27. KB Tanah di Wilayah Studi

No. Lokasi Kedalaman KB (%) Status


0-30 9,47 Rendah
1 T1
30-60 10,42 Rendah
0-30 20,02 Rendah
2 T2
30-60 10,57 Rendah
Sumber : Hasil Analisis Laboratorium, 2017
Keterangan :
1. Lokasi pengambilan sampel tanah (Asosiasi Typic Hapludults, Typic Dystrudepts, Plinthudults)
2. Lokasi pengambilan sampel tanah (Asosiasi Sulfaquents, Endoaquepts (sulfic), Hydraquents)

d. Nitrogen (N), Fosfor (P2O5), dan Kalium (K2O)


Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K) merupakan unsur hara yang sangat
penting di dalam tanah untuk pertumbuhan tanaman. Unsur hara N, P, dan K
sangat besar pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman, baik untuk
pertumbuhan vegetatif maupun generatif. Hasil analisis sampel tanah (0-60
cm) yang diambil di lokasi T1 menunjukkan bahwa kandungan N dalam
tanah tergolong sangat rendah berkisar antara (0,05-0,06%), kandungan P
tersedia dalam tanah tergolong rendah (0,79-2,38 ppm), dan kandungan K
tersedia dalam tanah tergolong sangat rendah sampai sedang (14,14-14,40
ppm). Hasil analisis sampel tanah (0-60 cm) yang diambil di lokasi T2
menunjukkan bahwa kandungan N dalam tanah tergolong sangat rendah
(0,03%), kandungan P tersedia dalam tanah tergolong sangat rendah (1,37
ppm), dan kandungan K tersedia dalam tanah tergolong sangat rendah
sampai sedang (16,30-16,52 ppm) Hasil analisis kandungan N, P, dan K sampel
tanah dari wilayah studi dapat dilihat pada Tabel 2.28.

Tabel 2.28. Kandungan N, P, dan K dalam Tanah di Wilayah Studi

Nitrogen (N) (P2O5) (K2O)


No. Lokasi Kedalaman
% Status ppm Status ppm Status
0-30 0,06 SR 0,79 R 14,40 R
1 T1
30-60 0,05 SR 2,38 R 14,14 R
0-30 0,03 SR 1,37 R 16,30 R
2 T2
30-60 0,03 SR 1,37 R 16,52 R
Sumber : Hasil Analisis Laboratorium, 2017
Keterangan :
1. Lokasi pengambilan sampel tanah (Asosiasi Typic Hapludults, Typic Dystrudepts, Plinthudults)
2. Lokasi pengambilan sampel tanah (Asosiasi Sulfaquents, Endoaquepts (sulfic), Hydraquents)
SR = Sangat Rendah; R = Rendah; Sd = Sedang

DELH PT SURYA BANGUN SARANA II-47


e. Kejenuhan Aluminium (Al)
Kejenuhan Al merupakan salah satu indikator kemasaman tanah. Semakin
tinggi kejenuhan Al dalam tanah mengindikasikan bahwa tanah memiliki
kemasaman potensial yang tinggi sehingga tanah akan cenderung bersifat
masam. Hasil analisis sampel tanah (0-60 cm) yang diambil dari lokasi T1
menunjukkan bahwa kejenuhan Al dalam tanah tergolong sangat tinggi yaitu
(61,21-76,50%), hasil analisis sampel tanah (0-60 cm) yang diambil dari lokasi
T2 juga menunjukkan bahwa kejenuhan Al dalam tanah tergolong sangat
tinggi yaitu (76,65-77,70%) Hasil analisis kejenuhan Al sampel tanah dari
wilayah studi dapat dilihat pada Tabel 2.29.

Tabel 2.29. Kejenuhan Al dalam Tanah di Wilayah Studi

No. Lokasi Kedalaman Kejunahan AL (%) Status


0-30 76,50 Sangat Tinggi
1 T1
30-60 61,21 Sangat Tinggi
0-30 77,70 Sangat Tinggi
2 T2
30-60 76,65 Sangat Tinggi
Sumber : Hasil Analisis Laboratorium, 2017
Keterangan :
1. Lokasi pengambilan sampel tanah (Asosiasi Typic Hapludults, Typic Dystrudepts, Plinthudults)
2. Lokasi pengambilan sampel tanah (Asosiasi Sulfaquents, Endoaquepts (sulfic), Hydraquents)

f. Bahan Organik
Bahan organik tanah memiliki peran yang sangat penting dalam kesuburan
tanah. Bahan organik tanah dapat memperbaiki struktur tanah menjadi
gembur, meningkatkan stabilitas agregat tanah, meningkatkan kemampuan
tanah dalam menyerap air, meningkatkan aktivitas biologi tanah yang
menunjang kesuburan tanah, dan lain-lain. Kandungan bahan organik tanah
diindikasikan oleh kandungan karbon (C) organik dalam tanah. Hasil analisis
sampel tanah (0-60 cm) yang diambil dari lokasi T1 menunjukkan bahwa
kandungan C organik tanah di wilayah studi tergolong sangat rendah (0,86-
0,94 %), hasil analisis sampel tanah (0-60 cm) yang diambil dari lokasi T2
juga menunjukkan bahwa kandungan C organik tanah di wilayah studi
tergolong sangat rendah (0,48-0,64 %). Hasil analisis kandungan C organik
sampel tanah dari wilayah studi dapat dilihat pada Tabel 2.30.

Tabel 2.30. Kandungan C organik di Wilayah Studi

No. Lokasi Kedalaman C Organic (%) Status


0-30 0,94 Rendah
1 T1
30-60 0,86 Rendah
0-30 0,64 Rendah
2 T2
30-60 0,48 Rendah
Sumber : Hasil Analisis Laboratorium, 2017
Ket : 1. Lokasi pengambilan sampel tanah (Asosiasi Typic Hapludults, Typic Dystrudepts, Plinthudults)
2 Lokasi pengambilan sampel tanah (Asosiasi Sulfaquents, Endoaquepts (sulfic), Hydraquents)

DELH PT SURYA BANGUN SARANA II-48


g. Status Kesuburan Tanah
Untuk penilaian status kesuburan tanah, parameter yang digunakan sebagai
faktor penilaian adalah KTK, KB, P (P2O5), K (K2O), dan C organik. Berdasarkan
kombinasi dari kelima parameter tersebut, diketahui bahwa status kesuburan
tanah di lokasi tergolong sangat rendah sampai sedang. Hasil penilaian
status kesuburan tanah di wilayah studi dapat dilihat pada Tabel 2.31.

Tabel 2.31. Status Kesuburan Tanah di Wilayah Studi

Status
No. Lokasi Kedalaman KTK KB P2O5 K2O C-Organik Kesuburan
Tanah
0-30 R R R R R R
1 T1
30-60 R R R R R R
0-30 SR R R R R SR
2 T2
30-60 SR R R R R SR
Sumber : Hasil Analisis Laboratorium, 2017
Keterangan :
1. Lokasi pengambilan sampel tanah (Asosiasi Typic Hapludults, Typic Dystrudepts, Plinthudults)
2. Lokasi pengambilan sampel tanah (Asosiasi Sulfaquents, Endoaquepts (sulfic), Hydraquents)
SR = Sangat Rendah; R = Rendah; Sd = Sedang; T = Tinggi; Sangat Tinggi (ST)

3. Sifat Fisik Tanah

Kajian fisika tanah tanah berguna untuk pemahaman dasar tentang mekanisme
pengaturan perilaku tanah secara fisika dan kimiawi, serta perannya dalam
biosfer, termasuk proses saling hubungan dalam pertukaran energi di dalam
tanah serta siklus air dan material yang dapat diangkutnya. Di sisi lain, fisika
tanah dapat digunakan sebagai asas untuk manajemen sumberdaya tanah dan
air, termasuk kegiatan irigasi, drainase, konservasi tanah dan air. Hasil analisis
tekstur sampel tanah dari wilayah studi dapat dilihat pada Tabel 2.32.

Tabel 2.32. Sifat Fisik Tanah di Wilayah Studi

Hasil Analisis Sampel


No Parameter Satuan
T1 T2
0-30 30-60 0-30 30-60
1 Silt % 7,30 8.20 10,30 12.80
2 Clay % 56,00 59.50 33,70 37.10
3 Coarse sand % 0,00 0.00 0,00 0.00
4 Medium sand % 0,00 0.00 0,00 0.00
5 Fine sand % 36,70 31.40 56,00 59.20
6 Total sand % 36,70 31.40 56,00 59.20
7 Texture - Clay Clay SCL SCL
Sumber : Hasil Analisis Laboratorium, 2017
Keterangan :
1. Lokasi pengambilan sampel tanah (Asosiasi Typic Hapludults, Typic Dystrudepts, Plinthudults)
2. Lokasi pengambilan sampel tanah (Asosiasi Sulfaquents, Endoaquepts (sulfic), Hydraquents)

DELH PT SURYA BANGUN SARANA II-49


Hasil analisa fisika tanah terhadap beberapa contoh tanah yang diambil dengan
kedalaman pengambilan sampel tanah 0 30 cm dan 30 60 cm, dapat
diketahui bahwa fraksi butiran tanah yang mendominasi tekstur tanah adalah
Clay yaitu berkisar 33,70%-59,50%. Silt berkisar 7,30% 12,80%. Coarse sand 0
%, Medium sand 0%. Fine sand dan total sand berkisar 31,40%-59,20%. Hasil
analisis tekstur sampel tanah (0-60 cm) yang diambil dari wilayah studi
menunjukkan bahwa tanah di wilayah studi tergolong tanah bertekstur Clay dan
SCL.

DELH PT SURYA BANGUN SARANA II-50


Gambar 2.11. Peta Topografi

DELH PT SURYA BANGUN SARANA II-51


Gambar 2.12. Peta Kelerangan

DELH PT SURYA BANGUN SARANA II-52


Gambar 2.13. Peta Geologi

DELH PT SURYA BANGUN SARANA II-53


Gambar 2.14. Peta Penutupan Lahan

DELH PT SURYA BANGUN SARANA II-54


Gambar 2.15. Peta jenis tanah

DELH PT SURYA BANGUN SARANA II-55


G. Rona Lingkungan Sub Komponen Erosi dan Sedimentasi

1. Erosi

Erosi tanah dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu iklim (jumlah dan intensitas
hujan), faktor tanah (erodibilitas tanah yang dipengaruhi oleh sifat fisik
dan kimia tanah), panjang dan kemiringan lereng serta pengolahan tanah
dan tanaman. Kehidupan perairan dapat terganggu oleh adanya erosi, yang
selain membawa butiran tanah juga dapat meningkatkan kekeruhan serta
membawa unsur-unsur yang mengganggu biota perairan. Sementara di lokasi
terjadinya erosi akan menyebabkan kemerosotan kesuburan tanah yang
ditimbulkan oleh terangkatnya lapisan permukaan tanah yang relatif subur.

Total curah hujan yang mewakili wilayah studi mencapai 1455 mm per tahun,
dengan curah hujan tertinggi pada bulan Januari sebesar 271 mm dan
terendah pada bulan desember sebesar 0 mm. Hasil perhitungan nilai indeks
erosivitas hujan (R) untuk wilayah studi mencapai 1,148,96.

Hasi perhitungan tingkat bahaya erosi pada rona lingkungan hidup awal secara
rinci disajikan pada Tabel 2.32. Dapat disimpulkan bahwa tingkat bahaya
erosi tanah berkisar 32,95 hingga 461.25 ton/ha/tahun dengan kategori
sangat ringan hingga berat.

Tabel 2.33. Laju Erosi Rata-Rata di Wilayah Studi

Erosi
Tutupan lahan R K Ls CP
(ton/ha/tahun)
Perkebunan 1148,96 0,31 1,85 0,07 46,12
Hutan mangrove sekunder 1148,96 0,31 1,85 0,05 32,95
Tanah terbuka 1148,96 0,31 1,85 0,7 461,25
Sumber : Hasil analisi data primer 2017

Keterangan
R = Indeks Erosifitas hujan
K = Indeks Erodibilitas tanah
LS = Indeks panjang dan kemiringan lereng
C = Indeks Vegetasi
P = Indeks konservasi tanah
TBE = Tingkat Bahaya Erosi
Sedangkan berdasarkan hasil perhitungan menggunakan metode matematis,
erosi yang terjadi di lokasi studi berdasarkan tutupan lahan, yakni perkebunan,
mangrove dan lahan terbuka adalah 46,12 ton/ha/tahun, 32 ton/ha/tahun dan
461,25 ton/ha/tahun. Menurut Saifuddin 1978 dalam Suprapta, 1996, jika
pembentukan tanah setebal 25 mm selama 30 tahun setara dengan 12,5
ton/ha/tahun, maka nilai tersebut dapat digunakan sebagai gambaran
besarnya tingkat erosi yang masih diperbolehkan.

DELH PT SURYA BANGUN SARANA II-56


2. Beban sedimen sungai

Sedimen merupakan material hasil erosi yang dibawa oleh runoff menuju sungai.
Pengendapan bahan sedimen tersebut akan mengakibatkan pendangkalan
sungai yang umumnya terjadi bagian hilir sungai. Hasil analisis beban sedimen
sungai di wilayah studi disajikan pada Tabel 2.34. di bawah ini.

Tabel 2.34. Beban Sedimen Sungai di Wilayah Studi

Debit Sungai Kadar Sedimen Beban Sedimen


Sungai
(m3/detik) Melayang (mg/l)* (t/hari)
Apar Kecil 84 7,76 56,31

Sumber : Hasil analisi data primer 2017

H. Rona Lingkungan Sub Komponen Hidrologi

1. Karakteristik Daerah Aliran Sungai

Sungai-sungai yang terdapat di sekitar areal lokasi pertambangan batubara


PT. Surya Bangun Sarana adalah Sungai Apar Besar dan Sungai Apar kecil
yang mengalir kearah Timur- Tenggara. Sungai Apar Besar memiliki lebar
sekitar 215 meter dengan kedalaman 9 m sedangkan sungai apar kecil
memiliki lebar 150 m dengan kedalaman 7 m. Sungai tersebut merupakan
tempat dimana aliran permukaan dari areal studi akan masuk ke sungai
tersebut. Bentuk aliran sungai denritik dan luas daerah tangkapan relatif tidak
luas sehingga debit sungai rata-rata relatif kecil.

2. Debit Sungai

Besar debit sesaat untuk aliran-aliran sungai di wilayah studi diperoleh melalui
pengukuran langsung di lapangan. Data mengenai debit sesaat secara rinci
sebagaimana disajikan pada Tabel 2.35.

Tabel 2.35. Hasil Pengukuran Debit Sesaat Sungai Di Wilayah Studi

Dalam Kecepatan Arus Debit


Nama Sungai Lebar (m)
(m) (m/det) (m3/dt)
Apar Kecil 150 7 0.08 84
Sumber : Hasil analisi data primer 2017

3. Koefisien Aliran Permukaan


Debit aliran sungai di wilayah studi dipengaruhi oleh musim hujan dan
kemarau, pada saat musim hujan biasanya debit air lebih besar dari pada
musim kemarau. Oleh karena di wilayah studi walaupun dikatakan musim
kemarau, namun masih turun hujan juga, sehingga di sepanjang tahun air
Sungai Apar Besar mengalir walaupun pada kemarau debit akan menurun.
Berdasarkan pola curah hujan yang ada maka debit sungai turun pada bulan
antara Juni- Agustus.

DELH PT SURYA BANGUN SARANA II-57


Area tersus Batubara yang terletak disekitar sungai Apar kecil merupakan
daerah peralihan dimana air tawar dan air laut bercampur yang sering
dikatakan sebagai perairan muara (estuarine waters). Sepanjang garis pantai
sungai tersebut di tumbuhi oleh vegetasi pantai yaitu mangrove.

Lokasi tersus Batubara terletak di Sungai Apar Kecil yang menjadi bagian dari
Sungai Apar Besar. Sungai apar kecil merupakan salah satu sungai yang
bermuara ke teluk Apar.

4. Kualitas Air Permukaan

Kondisi umum untuk mengetahui rona awal kualitas air sungai di sekitar lokasi
kegiatan, telah dilakukan penelitian lapangan dan analisa laboratorium dengan
cara pengambilan contoh-contoh air sungai di 3 (tiga) titik pengamatan yang
tersebar di sekitar lokasi yang diprakirakan akan menerima dampak dari
kegiatan pertambangan. Hasil analisa kualitas air sungai di sekitar lokasi
penambangan batubara PT SBS dapat dilihat pada Tabel 2.36.

DELH PT SURYA BANGUN SARANA II-58


Tabel 2.36. Hasil Analisis Kualitas Air Permukaan di Sekitar Lokasi PT SBS

Baku Hasil Pengukuran


No Parameter Satuan
Mutu*) 1 2 3
A. Fisika
1. TDS mg/L 1000 17400 17100 17300
2. TSS mg/L 50 10.02 12.84 10.44
3. Warna TCU 180 30 50 40
B. Kimia
1. pH - 69 6.8 6.8 6.9
2. BOD-5 mg/L 3 3.5 3.5 3.5
3. COD mg/L 25 465 475 521
4. DO mg/L 4 3.9 4.3 4.7
5. Fospat mg/L 0.2 0.85 0.84 0.85
6. Nitrat mg/L 10 0.7 0.8 0.7
7. Ammonia - - -
8. Kadmium mg/L 0.01 0.01 - 0.032
9. Kromium (VI) mg/L 0.05 - - -
10. Tembaga mg/L 0.02 0.06 0.13 0.17
11. Besi mg/L - 0.17 0.15 0.22
12. Timbal mg/L 0.03 0.49 0.38 0.4
13. Mangan mg/L - < 0.5 < 0.5 < 0.5
14. Seng mg/L 0.05 0.1 0.04 0.17
15. Klorida mg/L 600 250 250 250
16. Sianida mg/L 0.02 < 0.01 < 0.01 < 0.01
17. Nitrit mg/L 0.06 0.08 0.1 0.09
18. Sulfat mg/L - > 300 > 300 > 300
19. Kesadahan (CaCO3) mg/L 50 > 500 > 500 > 500
Sumber : Hasil Analisi Laboratoriumm 2017
Keterangan : Baku Mutu Berdasarkan Lampiran V Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan
Timur No. 02 Tahun 2011 Tentang Pengelolaan Kualitas Air dan
Pengendalian Pencemaran Air Kelas II.
Lokasi Sampel : 1. Sungai Apar kecil S: 020 04 03,32 E: 1160 12 11,18)
2. Sungai Apar kecil S: 020 04 00,78 E: 1160 12 05,25)
3. Sungai Apar kecil S: 020 04 00,84 E: 1160 12 01,89)

Berdasarkan analisa laboratorium kualitas air di lokasi sekitar pertambangan


batubara PT. SBS masih baik sesuai dengan baku mutu lampiran V Peraturan
Daerah Provinsi Kalimantan Timur No. 02 Tahun 2011 tentang pengelolaan
kualitas air dan pengendalian pencemaran air kelas II. Namun ada beberapa
parameter yang melebihi baku mutu diantaranya parameter TDS, BOD, COD,
DO, dan Kesadahan (CaCO3). Parameter TDS melebihi baku mutu diprakirakan
disebabkan oleh tingginya kandungan mineral non organic berupa klorida.
Tingginya kadar BOD dan COD mengindikasikan adanya pencemaran air yang
bersumber dari limbah domestik sedangkan penyebab dari rendahnya nilai DO
diprakirakan adanya kegiatan pertambangan dan perkebunan disekitar sungai.

DELH PT SURYA BANGUN SARANA II-59


Gambar 2.16. PETA HIDROLOGI

DELH PT SURYA BANGUN SARANA II-60


2.1.9. Rona Lingkungan Komponen Biologi

A. Keberadaan jenis vegetasi

Berdasarkan survei lapangan dan informasi dari masyarakat, areal penambangan


PT. SBS. Vegetasi yang berkembang terdiri dari hutan sekunder dan semak
belukar, dibagian selatan ditumbuhi tanaman bakau.

1. Tumbuhan Semak Belukar

Pada lokasi sekitar calon areal stockpile, Jenis vegetasi yang dijumpai sebagian
besar berupa semak belukar, padang ilalang, kebun campuran.

Jenis vegetasi yang mendominasi semak belukar adalah jenis-jenis pioner


seperti: mahang (Macaranga triloba), puspa (Schima walici), trema (Trema
orientalis), laban (Vitex pinata). Tumbuhan bawah pada semak belukar adalah
pakis-pakisan atau paku- pakuan (Acrosticum sp.), karamunting (Melastoma
malabaricum), rumput-rumputan (Paspalus conugatum), predang (Cyperus sp.)
dan plenandra (Plenandra azurae).

2. Tumbuhan Rawa Mangrove

Berdasarkan hasil pengamatan dilokasi rencana Tersus PT. SBS, jenis vegetasi
dominan adalah mangrove dari jenis Jangkah (Rhozopora apiculata). Untuk lebih
jelasnya Jenis Mangrove Yang Dijumpai Di Wilayah Studi disajikan pada tabel
2.37. di bawah ini.

Tabel 2.37. Jenis Mangrove Yang Dijumpai Di Wilayah Studi.

No Nama Lokal Nama Ilmiah

1 Bius Brugeira parviflora


2 Tengah Ceriops tagal
3 Dungun Heritiera littoralis
4 Jangkah Rhizopora apiculata
5 Bakau Rhizopora mucronata
6 Nipah Nypa fruticans
Sumber : Survei lapangan 2017

B. Keberadaan Jenis Satwa Liar

Hutan mangrove yang ada disekitar areal Pertambangan PT. SBS merupakan
habitat dari beberapa jenis binatang mulai ikan, serangga, invertebrata, burung
sampai mamalia besar. Berdasarkan informasi dari masyarakat setempat bahwa
jenis satwa yang dapat dijumpai adalah jenis satwa seperti di tampilkan dalam
Tabel 2.38.

DELH PT SURYA BANGUN SARANA II-61


Tabel 2.38. Beberapa Jenis Satwa Liar Yang Ada Di Wilayah Studi

No Nama Lokal Nama Ilmiah

1 Pecuk Ular Anhinga melanogaster


2 Cangak Laut Ardea sumatrana
3 Cangak merah Ardea purpurea
4 Kowak malam kelabu Nycticorax nycticorax
5 Kowak malam merah Nycticorax caledonicus
6 Bangau Tongtong Leptotilus javanicus
7 Kokokan Laut Butoroides strianus
8 Elang Bondol Haliastur indus
9 Cekakak merah Halcyon coromanda minor
10 Caladi cilik Picoides moloccencis
11 Paok Bakau Pitta megarhynca
12 Kancilan Bakau Pachycephala cinerea
13 Gelatik batu kelabu Parus major
14 Burung madu sriganti Nectarinia jugularis
15 Sikatan Bakau Cyomis rufigastra
16 Cinenen merah Orthotomus sericeus
17 Cinenen kelabu Orthotomus ruficeps
18 Burung madu Bakau Nectarinia calcostheta
19 Kipasan belang Rhipidura javanica
20 Kacamata biasa Zosterops palpebrosa

Dari hasil pengamatan di lapang dan informasi dari masyarakat setempat masih
dapat dijumpai mamalia dan primata. Jenis-jenis satwaliar yang dapat
teridentifikasi di sekitar areal Pertambangan PT. SBS dapat dilihat pada Tabel 2.39.

Tabel 2.39. Mamalia Dan Primata Yang Masih Dapat Dijumpai di Wilayah
Studi

No Nama Lokal Nama Ilmiah

1 Bekantan Nasalis narvatus


2 Warik ekor panjang Macaca fascicularis
3 Kucing Batu Felis marmorata
4 Biawak Varanus albigularis
Sumber : Survei lapangan 2017

Bekantan menempati hutan mangrove karena kemampuannya untuk memakan


daun- daunan di habitat tersebut, begitu juga dengan jenis lutung. Daun-daunan
pada hutan mangrove merupakan sumber makanan yang sulit dimanfaatkan oleh
mamalia, karena molekul selulosanya yang panjang, sehingga sukar untuk dicerna
tanpa penyesuaian dengan cara pencernaan yang khusus. Habitat mangrove
adalah habitat terakhir bagi Bekantan untuk bertahan hidup. Kerusakan dan

DELH PT SURYA BANGUN SARANA II-62


kehilangan mangrove akan berdampak kepada punahnya primata jenis ini.
Adanya lokasi mangrove yang panjang dan luas dapat digunakan sebagai jaminan
bagi keberadaan jenis mangrove sebagai pakan mereka. Sebaliknya populasi
Warik atau kera ekor panjang diperkirakan dapat beradaptasi dengan lingkungan
yang ada. Jenis ini memiliki kemampuan adaptasi yang kuat dan luas, dari mulai
hutan pantai, mangrove, rawa dan hutan dataran rendah.

Jenis kucing liar adalah pemakan ikan yang memanfaatkan kekayaan


sumberdaya perairan habitat pasang surut. Namun demikian keberadaan kucing
liar di kawasan ini sudah sangat jarang ditemukan, mengingat kawasan ini
termasuk sering dikunjungi oleh masyarakat untuk mencari ikan dan kayu bakar,
walaupun pemukiman penduduk terletak cukup jauh dari lokasi tersebut.
Sedangkan untuk kelompok reptilia umumnya tercatat Crocodilus sp (Buaya) dan
Varanus javanicus (Biawak). Buaya dan biawak menjadi penyeimbang dalam
ekosistem mangrove dengan bertindak sebagai predator bagi hewan-hewan kecil.
Namun dari catatan yang ada belum pernah terjadi konflik antar manusia dan
buaya di darah tersebut.

C. Keberadaan Jenis Biota Air

Mempelajari suatu sistem perairan, perlu diawali dengan mengidentifikasi


komponen- komponen penyusun perairan tersebut dan hubungan ekologis antara
komponen- komponen penyusunnya. Plankton merupakan salah satu komponen
perairan, yang hampir selalu hadir di setiap badan air. Kelompok ini
biasa dibedakan antara fitoplankton dan zooplankton. Fitoplankton berperan
sebagai produsen primer, sedangkan zooplankton berperan penting dalam
memindahkan energi dari produsen primer yaitu fitoplankton (alga), ke tingkat
konsumen yang lebih tinggi seperti serangga akuatik, larva ikan, dan ikan-ikan
kecil.

Pengambilan sampel plankton dilakukan di inlet dan outlet sungai Apar


Besar. Sedangkan data nekton (ikan) diperoleh berdasarkan hasil informasi dari
masyarakat sekitar sungai tersebut.

1. Keanekaragaman jenis plankton

Plankton merupakan organisme perairan yang melayang secara pasif dan


terbawa aliran air serta menempati tingkatan tropik dasar yang sangat
berperan dalam menjembatani transfer energi dari produsen primer ke
konsumen atau organisme yang berjenjang tropik yang lebih tinggi.
Berdasarkan jenisnya plankton dapat dibagi menjadi 2 jenis yaitu
phytoplankton (tumbuhan) dan zooplankton (hewan).

Phytoplankton merupakan produsen primer yang mampu merubah khlorofil


(zat warna) menjadi senyawa organik yang kaya energi melalui proses
fotosintesa. Dengan melihat fungsinya di alam, maka kedudukan

DELH PT SURYA BANGUN SARANA II-63


phytoplankton sangat penting dalam rantai makanan. Zooplankton
menempati tropik lebih tinggi setelah phytoplankton dan merupakan
makanan utama dari ikan, udang dan biota perairan yang lebih besar
lainnya. Data mengenai plankton dapat dilihat pada Tabel 2.39.

Dari data diatas diketahui bahwa di jumlah plankton/liter berkisar (366


1281)/liter, Indeks Keanekaragaman (H) berkisar (1,0735 2,1365), indeks
keseragaman (E) berkisar (0,7533 1.000) dan Indeks Dominan (D)
berkisar (0,1338-1.000).

Tabel 2.40. Komposisi Biota Perairan (Plankton) Di Perairan Wilayah Studi

Hasil
No Jenis Plankton 1 2 3
A. Algae
1 Closterium sp 244
2 Schizogonium murale 244
3 Sphaeroclonium sp 61
4 Stigeoclonium lubricum 183
B. Bacillarophyceae
1 Achnanthes sp 61
2 Biddulphia sp 61
3 Campylodiscus sp 61
4 Coscinudiscus lineolus 61
5 Coscinudiscus sp 427 61
6 Cyclotella sp 61
7 Nitschia ricta 305
8 Nitschia sp 122
9 Pleurosigma angulatum 183
10 Pleurosigma pelagicum 61
C. Copepoda
1 Diaptomus sp 61
2 Cyclops sp 61
3 calanus sp 61
D. Cladocera
1 Dapnia sp 61
E. Rotifera
1 Entetroplea sp 61
Jumlah Plankton (N) 488 732 1281
Indeks Keanekaragaman (H') 1,0735 1,3498 2,1365
Jumlah Taksa 4 6 10
Indeks Keseragaman (E') 0,7744 0,7533 0,9279
Indeks Dominasi (D') 0,4375 0,3750 0,1338
Sumber : Hasil Analisis Laboratoriu, 2017
Lokasi Sampel : 1. Sungai Apar kecil S: 020 04 03,32 E: 1160 12 11,18)
2. Sungai Apar kecil S: 020 04 00,78 E: 1160 12 05,25)
3. Sungai Apar kecil S: 020 04 00,84 E: 1160 12 01,89)

DELH PT SURYA BANGUN SARANA II-64


Untuk menentukan kualitas lingkungan dari keanekaragaman jenisnya
digunakan indeks keanekaragaman jenis Shannon-Wiever (H), yaitu
digolongkan sebagai berikut :

1 Indeks keanekaragaman Shannon-Wienner (H) < 1,0, komunitas biota


tidak stabil atau sangat buruk dan kualitas air tercemar berat (kualitas
sangat buruk, skala 1)

2 Indeks keanekaragaman Shannon-Wienner (H) 1,0 1,5, stabilitas


komunitasbiota dalam kondisi buruk (kualitas buruk, skala 2)

3 Indeks keanekaragaman Shannon-Wienner (H) 1,6 2,2, stabilitas


komunitas biota dalam kondisi sedang (kualitas sedang, skala 3)

4 Indeks keanekaragaman Shannon-Wienner (H) 2,3 2,9, stabilitas


komunitas biota dalam kondisi baik (kualitas baik, skala 4)

5 Indeks keanekaragaman Shannon-Wienner (H) > 3, stabilitas komunitas


biota dalam kondisi sangat baik (kualitas sangat baik, skala 5)

Berdasarkan hasil analisis biota plankton tersebut terlihat bahwa jenis-jenis


plankton yang terdapat di sungai-sungai yang berada di areal
Pertambangan PT. SBS. tergolong sedikit, dimana dijumpai 6 klas, yaitu
Algae, Dinoflaggelata, Branchionida, Diatom, Chlorophytadan Bacillariphyta.

Jumlah jenis pada klas Algae menunjukkan jumlah yang paling banyak
jenisnya. Hal ini menunjukkan bahwa perairan sungai yang diamati
masih ada kegiatan proses fotosintesis. Algae merupakan indicator tingkat
kesuburan perairan, hal ini berhubungan dengan terdapatnya
mikroorganisme fotosintesis yang mampu menguraikan zat organik menjadi
energi, CO2 dan H2O. Melihat kelimpahan Algae yang tergolong kecil, maka
dapat dikatakan secara umum perairan di calon areal Pertambangan PT. SBS
kondisinya pada saat ini tergolong masih cukup baik sebagai habitat biota
perairan yang stratanya lebih tinggi (seperti ikan/nekton).

2. Benthos

Benthos merupakan organisme yang hidupnya menempel di dasar perairan


dan menempati tropik lebih tinggi setelah zooplankton. Benthos umumnya
pemakan detritus dan plankton, serta beberapa jenis merupakan makanan
ikan, udang dan burung. Ada beberapa jenis benthos tertentu yang digunakan
sebagai bio-indikator terhadap pencemaran perairan, karena sifat hidupnya
yang diam menetap di dasar suatu perairan dan mempunyai toleransi yang
tinggi serta mampu menerima segala perubahan ekstrim yang terjadi di
perairan. Sehingga jenis benthos tertentu dapat digunakan sebagai indikator
pencemaran dalam perairan. Data mengenai benthos dapat dilihat pada Tabel
2.41.

DELH PT SURYA BANGUN SARANA II-65


Hasil identifikasi organisme benthos di perairan sungai yang ada di areal
Pertambangan PT. SBS diantaranya adalah Gastropoda dengan nilai
kelimpahan sedang, yaitu berkisar antara 15 25 individu/liter. Hal ini
kemungkinan dapat terjadi karena kondisi perairan sungai tersebut cukup
baik kandungan planktonnya sebagai makanan benthos.

Tabel 2.41. Komposisi Biota Perairan (Benthos) Di Perairan Wilayah Studi


D.

Hasil
No Jenis Bentos
1 2 3
A Gastropoda
1 Crepidula conuexa 44
2 Tarebia granifera 44
3 Nassarius venustus 44
B Bivalvia
1 Limaria fragilis
2 Medionidus conradius 4-4
3 Vulsella vulsella
Jumlah Bentos/M2 132 44 0
Indeks Keanekaragaman (H') 1,0986 0 0
Jumlah Taksa 3 1 0
Indeks Keseragaman (E') 0,2250 0 0
Indeks Dominasi (D') 0,3333 1 0
Sumber : Hasil Analisis Laboratorium, 2017
Lokasi Sampel : 1. Sungai Apar kecil S: 020 04 03,32 E: 1160 12 11,18)
2. Sungai Apar kecil S: 020 04 00,78 E: 1160 12 05,25)
3. Sungai Apar kecil S: 020 04 00,84 E: 1160 12 01,89)

3. Kekayaan jenis nekton

Berdasarkan hasil wawancara kepada masyarakat yang tinggal sekitar wilayah


studi diinformasikan bahwa jenis nekton yang terdapat di wilayah studi cukup
beragam yaitu 12 jenis. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 2.41.

Sebagaimana biota perairan lainnya, kekeruhan dari kepadatan jenis nekton


khususnya ikan juga tergantung pada kualitas habitat perairannya. Di perairan
sungai di areal studi secara keseluruhan masih memiliki potensi jenis ikan
yang cukup tinggi, seperti ditunjukkan pada Tabel di atas. Pada tabel tersebut
nampak bahwa tidak dijumpai jenis ikan yang dilindungi, namun demikian
sebagian jenis ikan merupakan jenis-jenis ekonomis yang menjadi salah satu
sumber pencaharian penduduk di beberapa tempat.

Jenis-jenis ikan yang tercatat pada tabel tersebut pada dasarnya dapat
dijumpai di seluruh sungai.

DELH PT SURYA BANGUN SARANA II-66


Tabel 2.42. Jenis-Jenis Nekton Yang Terdapat DI Perairan Wilayah Studi
E.

No. Jenis Ikan / Nekton Nama Latin

1 Udang galah Macrobracium roseenbergii


2 Ikan julung julung Zenarchopterus dispar
3 Ikan kakap putih Lates calcarifer
4 Ikan kakap merah Ltjanus ergetimaculatus
5 Ikan sembilang Plotusus sp
6 Ikan sumpit Toxotes jaculator
7 Ikan balanak Mugil sp
8 Ikan kakap Lates calcarifer, Bloch
9 Ikan baronang Siganus canaliculatus
10 Ikan balanak Valamugil seheli
11 Ikan kerapu Epinephelus sp
12 Kepiting Callinectes sapidus
Sumber : Survey lapangan, 2017.

2.1.10. Rona Lingkungan Komponen Sosial, Ekonomi dan Budaya

A. Lalu Lintas Sungai

Lalu lintas sungai yang dinaksud adalah di Sungai Apar Kecil, karena letak dermaga
batubara PT SBS terletak di Sungai Sungai Apar Kecil, di wilayah Desa Saing Prupuk,
Kecamatan Batu Engau, Kabupaten Paser, Provinsi Kalimantan Timur. Sungai ini
digunakan oleh penduduk di wilayah studi maupun penduduk wilayah sekitarnya
untuk berbagai keperluan, termasuk untuk prasarana transportasi, baik transportasi
orang maupun barang. Sarana transportasi yang digunakan mulai dari perahu
bermesin (ketinting) sampai kapal kayu, tongkang, dan kapal tunda. Ketinting
umumnya digunakan oleh penduduk lokal sebagai sarana transportasi antar desa,
pergi ke ladang, menangkap ikan, dan menyeberangi sungai. Tongkang/ponton
umumnya digunakan untuk mengangkut batubara. Kapal tunda biasanya
digunakan untuk menarik ponton batubara.

Berdasarkan hasil survei lapangan diketahui bahwa belum pernah terjadi kecelakaan
di sekitar lokasi TUKS PT SBS.

B. Kesempatan kerja dan berusaha

Kesempatan kerja akan memberikan pendapatan bagi masyarakat. Kesempatan


kerja yang ada saat ini terbatas di sektor pertanian, sebagai tenaga kerja di
perkebunan keluarga sendiri, buruh tani dan karyawan di perkebunan yang ada di
wilayah studi. Disamping itu terdapat juga kesempatan kerja dalam jasa transportasi
(tukang ojek), berdagang barang-barang kebutuhan sehari-hari (sembako) dan
warung-warung yang menjual makanan dalam intensitas yang terbatas.

DELH PT SURYA BANGUN SARANA II-67


Kesempatan berusaha adalah jenis kegiatan diluar proyek yang bersifat
mendukung proyek secara langsung (pemasok bahan kebutuhan proyek), maupun
tidak langsung (misalnya membuka warung makan, jasa ojek untuk karyawan
proyek). Dampak terhadap kesempatan kerja dan berusaha dapat terjadi bila
dilakukan pemutusan hubungan kerja (PHK). Bila PHK terkena terhadap jumlah
tenaga kerja yang cukup besar, maka akan berdampak terhadap berkurangnya
pendapatan masyarakat, berkurangnya jenis dan jumlah kegiatan ekonomi non-
formal, bahkan dapat mempengaruhi perekonomian lokal dan regional.

Saat ini jumlah tenaga kerja yang dimiliki PT SBS 122 orang. Artinya terdapat 122
lapangan pekerjaan bagi penduduk lokal, namun tidak semua dari lapangan
pekerjaan tersebut mampu dipenuhi oleh penduduk lokal karena penduduk lokal
belum bisa memenuhi kopenrensi yang dibutuhkan. Sebanyak 65 orang atau
53,28% berasal dari penduduk lokal, dan 57 orang atau 46,72% berasal dari luar
daerah. Dari jumlah tersebut sudah cukup besar persetase penduduk lokal yang
dilibatkan dalam kegiatan operasional pertambangan PT SBS.

C. Fasilitas umum dan fasilitas sosial

Fasilitas umum dan sosial merupakan fasilitas yang dapat digunakan oleh setiap
penduduk, baik untuk perseorangan maupun kelompok. Fasilitas umum dan sosial
yang ada di wilayah studi antara lain kantor desa, kantor BPD, balai pertemuan, pos
kamling, lapangan olah raga, sekolahan, masjid, mushola dan lain-lain.

Salah satu faktor penunjang terbentuknya SDM yang berkualitas adalah tingkat
pendidikan. Oleh karena itu, semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang dapat
diasumsikan SDM orang yang bersangkutan akan semakin berkualitas. Salah satu
indikatornya adalah dengan melihat sarana prasarana dan fasilitas pendidikan di
wilayah studi. Berdasarkan Data Kecamatan Batu Engau Dalam Angka 2016
diketahui fasilitas pendidikan yang terdapat di wilayah studi hanya sekolahan TK
dan SD.

D. Tingkat pendapatan penduduk

Tingkat pendapatan merupakan salah satu indikator tingkat kesejahteraan


penduduk. Kesejahteraan penduduk dapat dikaitkan dengan kemampuan
penduduk dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Semakin besar tingkat
pendapatan penduduk, maka semakin besar pula kemampuan penduduk dalam
memenuhi kebutuhan hidupnya dan semakin tinggi pula tingkat kesejahteraannya.

Hasil survey tingkat pendapatan penduduk di wilayah studi menunjukkan bahwa 3


responden memiliki tingkat pendapatan Rp.1.000.000,- s.d. Rp. 1.500.000,- per
bulan, 13 responden memiliki tingkat pendapatan Rp. 2.000.000,- s.d. Rp.
2.500.000,- per bulan dan sebanyak 39 responden memiliki tingkat pendapatan >
Rp. 2.500.000,- per bulan.

DELH PT SURYA BANGUN SARANA II-68


Dari standar Badan Pusat Statistik, di jelaskan bahwa pendapatan penduduk 600
ribu ke bawah/bulan termasuk dalam kategori miskin. Sedangkan pendapatan
masyarakat di skitar lokasi proyek diatas standar kemiskinan, sehingga dapat
dikatakan bahwah rata-rata masyarakat di skitar proyek tidak miskin.

E. Konflik Sosial

Potensi konflik atau faktor risiko konflik antara perusahaan dengan masyarakat,
umumnya berhubungan dengan penguasaan lahan, kepedulian sosial perusahaan
untuk membantu kemajuan masyarakat, serta perubahan kualitas kesehatan dan
kenyamanan lingkungan masyarakat akibat kegiatan perusahaan. Selain itu
rmasalah sosiologis (sosiological problem) akibat kurangnya komunikasi antara
penduduk setempat dengan pendatang juga merupakan salah satu potensi konflik.

Berdasarkan hasil survey lapangan, diketahui bahwa di wilayah studi PT SBS belum
pernah terlibat konflik dengan masyarakat namun, pernah terjadi konflik antara
masyarakat dengan perusahaan sawit PT CBSS sumber konflik tersebut karena bau
yang ditimbulkan dari aktifitas pabrik kelapa sawit. Menurut responden cara
penyelesaian yang terbaik bila terjadi konflik adalah musyawarah secara
kekeluargaan dan damai untuk mencapai mufakat atau melibatkan pemerintah
desa dan atau kecamatan untuk menyelesaikan masalah tersebut.

F. Persepsi dan Sikap masyarakat terhadap usaha dan/ atau kegiatan

Berdasarkan hasil wawancara terhadap responden diketahui bahwa sebagian besar


responden setuju dengan dilaksanakannya kegiatan pertambangan batubara PT
SBS dan menganggap hal tersebut sebagai bentuk dukungan terhadap
pembangunan daerah, karena dengan adanya kegiatan proyek tersebut dapat
menciptakan lapangan pekerjaan dan menambah penghasilan bagi penduduk
sekitar.

2.1.11. Rona Lingkungan Komponen Kesehatan Masyarakat

A. Status Kesehatan Masyarakat

Berdasarkan data yang diperoleh dari puskesmas pembantu di desa saing prupuk
jumlah penderita ISPA di wilayah studi cukup banyak jika dibanding dengan
jumlah penderita penyakit lainnya. Jumlah penderita ISPA menduduki peringkat ke
pertama dengan jumlah kunjungan sebanyak 57 kali, sedangkan jumlah kunjungan
paling sedikit adalah jenis penyakit abses yakni sebanyak 9 kunjungan. Kondisi ini
juga relatif tidak berubah dibanding kondisi pada awal beroperasinya PT SBS.
Namun demikian kemungkinan terjadinya jumlah penderita penyakit ini sebagai
dampak dari kegiatan PT SBS, baik kegiatan pemuatan batubara ke dalam ponton
maupun kegiatan pengolahan batubara (crushing) dan penumpukan batubara di
stockpile akan tetap diwaspadai, mengingat di lapangan menunjukkan bahwa
kegiatan-kegiatan ini telah menyebarkan debu batubara (fly ash) yang cukup jauh.

DELH PT SURYA BANGUN SARANA II-69


Data 10 besar penyakit terbanyak selama bulan januari sampai dengan bulan juni
tahun 2017 disajikan pada Tabel 2.43. Sebagai berikut.

Tabel 2.43. Data 10 Besar Penyakit Terbanyak Selama Bulan Januari Sampai
Dengan Bulan Juni Tahun 2017

No. Jenis Penyakit Jumlah Kunjungan

1. Penyakit ISPA 57
2. Febris 34
3. Dermatitis 32
4. Common Cold 25
5. Gastritis 16
6. Hipertensi 15
7. Myalgia 14
8. Cephalgia 11
9. Ge 11
10. Abses 9
Sumber : -Kantor Pusban Saing Prupuk, 2017

B. Sumber Air Bersih

Sumber air bersih untuk kegiatan MCK bagi sebagian penduduk di wilayah studi
masih mengandalkan sumber air dari sungai serta air hujan. Adapun kebutuhan air
bersih untuk minum dan memasak pada umumnya penduduk memanfaatkan air
bersih dari sumber air bersih dari sumur yang ditimba atau disedot dengan mesin
pompa. Penggunaan air sumur telah banyak digunakan oleh sebagian besar
penduduk di wilayah studi, meskipun peran sumber air dari sungai masih sangat
diperlukan untuk kegiatan MCK.

C. Pengelolaan sampah domestik

Aktifitas rumah tangga sehari-hari menghasilkan sisa buangan berupa limbah


domestik (sampah). Sampah rumah tangga dikelompokkan menjadi organik dan
anorganik karena sampah organik lebih mudah terurai.Sedangkan sampah
anorganik tidak mudah terurai, namun dapat dimanfaatkan kembali melalui proses
daur ulang. Sampah harus dikelola dengan baik agar sampah tidak menjadi sumber
penularan penyakit. Apabila sampah telah dikelola dengan baik, maka akan
mendukung tercapainya kondisi lingkungan yang sehat.

Berdasarkan hasil survei, masyarakat di wilayah studi membuang sampah di


lubang sampah, kemudian sampah tersebut dibakar di sekitar pekarangan rumah
masyarakat.

D. Sarana dan Pelayanan Kesehatan Masyarakat

Sarana/prasarana kesehatan yang ada di wilayah studi masih sangat kurang.


Fasilitas kesehatan yang ada di wilayah hanya terdapat 1 unit puskesmas

DELH PT SURYA BANGUN SARANA II-70


pembantu dan 1 unit posyandu. Tenaga kesehatan di wilayah studi terdiri dari 1
orang bidan dan 1 orang tenaga medis. Keadaan ini sudah barang tentu akan
mempengaruhi pada tingkat kualitas kesehatan masyarakat di wilayah ini. Dengan
demikian penambahan jumlah dan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat di
wilayah studi perlu mendapat perhatian yang sangat besar dari berbagai pihak yang
berkepentingan, untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang ada.
Beberapa kendala atau hambatan yang terkait dengan pelayanan kesehatan pada
masyarakat adalah keterbatasan tenaga medis dan obat-obatan serta aksesibilitas
yang terbatas yang menyebabkan frekuensi/intensitas dan kualitas pelayanan
pengobatan atau pemeriksaaan kesehatan pada penduduk desa masih relatif
terbatas.

DELH PT SURYA BANGUN SARANA II-71


Gambar 2.17. PETA KEGIATAN LAIN

DELH PT SURYA BANGUN SARANA II-72


Gambar 2.18. PETA SAMPEL

DELH PT SURYA BANGUN SARANA II-73


2.2. Kegiatan Operasional yang Menjadi Sumber Dampak yang Telah Terjadi

Kegiatan pertambangan batubara PT Surya Bangun Sarana yang berlangsung pada


saat ini adalah tahap operasi. Kegiatan pertambangan batubara PT SBS yang menjadi
sumber dampak adalah:

a. Penerimaan tenaga kerja


b. Pembersihan lahan tambang
c. Pengupasan dan penimunan tanah pucuk
d. Pengupasan dan penimbunan tanah penutup
e. Penggalian batubara
f. Pengangkutan batubara
g. Penimbunan dan pengolahan batubara
h. Pengapalan batubara
i. Aktifitas bengkel dan genset
j. Aktifitas karyawan
k. Kegiatan CSR
l. Reklamasi dan revegetasi lahan
2.3. Identifikasi Dampak Yang Telah/Sedang Terjadi Selama Kegiatan Berjalan

2.3.1. Identifikasi Penerimaan Tenaga Kerja

A. Terbukanya kesempatan kerja akibat adanya kebutuhan karyawan untuk kegiatan


operasional PT SBS

B. Meningkatnya pendapatan masyarakat merupakan dampak lanjutan dari


terbukanya kesempatan kerja

2.3.2. Identifikasi Dampak Akibat Kegiatan Pembersihan Lahan Tambang

Kegiatan pembersihan lahan diidentifikasi menimbulkan dampak lingkungan antara


lain:

A. Hilangnya vegetasi akibat kegiatan pembersihan lahan untuk area penambangan.

B. Meningkatnya laju erosi akibat hilangnya tutupan vegetasi tanah menjadi terbuka
sehingga lebih mudah tererosi saat hujan.

C. Meningkatnya beban sedimen akibat massa tanah dari hasil erosi yang terbawa
oleh runoff masuk ke sungai dan mengendap menyebabkan peningkatan
sedimentasi sungai.

D. Menurunnya kualitas air permukaan akibat massa tanah dari hasil erosi yang
terbawa oleh runoff masuk ke sungai dan menyebabkan peningkatan TSS (padatan
tersuspensi) dalam air sungai.

E. Berkurangnya keanekaragaman jenis biota air merupakan dampak turunan dari


menurunnya kualitas air permukaan. Peningkatan TSS akan meningkatkan
kekeruhan air sehingga mengurangi cahaya matahari yang masuk ke perairan.
Kurangnya cahaya matahari yang masuk ke perairan akan mengganggu aktivitas

DELH PT SURYA BANGUN SARANA II-74


fotosintesis dari organisme fitoplankton yang selanjutnya dapat mengakibatkan
berkurangnya organisme tersebut. Hal ini akan mempengaruhi mekanisme rantai
makanan pada perairan tersebut.

F. Berkurangnya keanekaragaman satwa liar merupakan dampak lanjutan dari


hilangnya vegetasi. Pembersihan lahan dari vegetasi (tumbuhan) mengakibatkan
berkurangnya habitat satwa liar sehingga berpotensi menimbulkan dampak
terhadap eksistensi jenis-jenis satwa liar tersebut pada ekosistem hutan di sekitar
lokasi rencana kegiatan.

G. Meningkatnya kebisingan akibat peralatan-peralatan yang digunakan dalam


pembukaan lahan tambang seperti chainsaw dan bulldozer menimbulkan suara
bising.

2.3.3. Identifikasi Dampak Akibat Kegiatan Pengupasan dan Penimbunan Tanah Pucuk

Kegiatan pengupasan dan penimbunan tanah pucuk diidentifikasi menimbulkan


dampak lingkungan antara lain:

A. Menurunnya kesuburan tanah akibat Pengupasan tanah pucuk mengakibatkan


hilangnya lapisan permukaan tanah yang subur dan menyisakan lapisan bawah
yang tidak subur pada lahan yang dikupas.

B. Meningkatnya kebisingan akibat suara bising yang ditimbulkan oleh peralatan-


peralatan yang digunakan dalam kegiatan pengupasan dan penimbunan tanah
pucuk seperti bulldozer, excavator, dan dump truck akan mengakibatkan
peningkatan kebisingan.

C. Menurunnya kualitas udara akibat tebaran debu yang ditimbulkan oleh pergerakan
dump truck saat pengangkutan tanah pucuk menuju lokasi penimbunan akan
mengakibatkan peningkatan kadar debu (TSP) di udara ambien.

D. Meningkatnya laju erosi akibat timbunan tanah pucuk akan lebih mudah tererosi
saat hujan karena permukaan timbunannya yang berlereng dan terbuka (tidak
bervegetasi).

E. Meningkatnya beban sedimen akibat massa bahan-bahan tanah dari hasil erosi
pada lokasi timbunan tanah pucuk yang terbawa oleh runoff masuk ke sungai saat
hujan juga akan mengakibatkan peningkatan sedimentasi sungai.

F. Menurunnya kualitas air permukaan akibat massa bahan-bahan tanah dari hasil
erosi pada lokasi timbunan tanah pucuk yang terbawa oleh runoff masuk ke sungai
saat hujan akan mengakibatkan peningkatan kadar TSS (padatan tersuspensi)
dalam air sungai.

G. Berkurangnya keanekaragaman jenis biota air karena peningkatan TSS akan


meningkatkan kekeruhan air sehingga mengurangi cahaya matahari yang masuk
ke perairan. Kurangnya cahaya matahari yang masuk ke perairan akan

DELH PT SURYA BANGUN SARANA II-75


mengganggu aktivitas fotosintesis dari organisme fitoplankton yang selanjutnya
dapat mengakibatkan berkurangnya organisme tersebut. Hal ini akan
mempengaruhi mekanisme rantai makanan pada perairan tersebut.

H. Meningkatnya jumlah penderita penyakit kulit dan ISPA merupakan dampak


turunan dari menurunnya kualitas air dan kualitas udara.

2.3.4. Identifikasi Dampak Akibat Kegiatan Pengupasan dan Penimbunan Tanah


Penutup

Kegiatan penggalian dan penimbunan tanah penutup diidentifikasi menimbulkan


dampak lingkungan antara lain:

A. M e n i n g k a t n y a k e b i s i n g a n a k i b a t suara bising yang ditimbulkan oleh


peralatan-peralatan yang digunakan dalam kegiatan pengupasan dan penimbunan
tanah pucuk seperti bulldozer, excavator, dan dump truck akan mengakibatkan
peningkatan kebisingan.

B. M e n u r u n n y a k u a l i t a s u d a r a a k i b a t tebaran debu yang ditimbulkan oleh


pergerakan dump truck saat pengangkutan tanah penutup menuju lokasi
penimbunan akan mengakibatkan peningkatan kadar debu (TSP) di udara ambien.

C. Meningkatnya laju erosi akibat timbunan tanah penutup pada disposal area akan
lebih mudah tererosi saat hujan karena permukaan timbunannya yang berlereng
dan terbuka (tidak bervegetasi).

D. Meningkatnya beban sedimen akibat meningkatnya massa bahan-bahan tanah


dari hasil erosi yang terbawa oleh runoff masuk ke sungai saat hujan juga akan
mengakibatkan peningkatan sedimentasi sungai.

E. Menurunnya kualitas air permukaan akibat massa bahan-bahan tanah dari hasil
erosi pada lokasi timbunan tanah pucuk yang terbawa oleh runoff masuk ke sungai
saat hujan akan mengakibatkan peningkatan kadar TSS (padatan tersuspensi)
dalam air sungai.

F. Berkurangnya keanekaragaman jenis biota air merupakan dampak turunan dari


menurunnya kualitas air permukaan.

G. Meningkatnya jumlah penderita penyakit kulit dan ISPA merupakan dampak


turunan dari menurunnya kualitas air permukaan dan kualitas udara.

2.3.5. Identifikasi Dampak Akibat Kegiatan Penambangan Batubara

Kegiatan penggalian batubara diidentifikasi menimbulkan dampak lingkungan antara


lain:

A. Menurunnya kualitas air sungai akibat air hujan yang jatuh di area penambangan
batubara (pit) akan membentuk air asam tambang. Bila air asam tambang tersebut
masuk ke sungai, maka kualitas air sungai tersebut berpotensi mengalami

DELH PT SURYA BANGUN SARANA II-76


penurunan, khususnya pada parameter pH (kemasaman), TSS (padatan
tersuspensi), Fe, dan Mn.

B. Berkurangnya keanekaragaman jenis biota air merupakan dampak turunan dari


menurunnya kualitas air permukaan.

C. Meningkatnya jumlah penderita penyakit kulit merupakan dampak turunan dari


menurunnya kualitas air sungai.

2.3.6. Identifikasi Dampak Akibat Kegiatan Pengangkutan Batubara

Kegiatan pengangkutan tanah dan batubara diidentifikasi menimbulkan dampak


lingkungan antara lain:

A. Meningkatnya kebisingan akibat suara bising dari alat angkut (dump truck) yang
digunakan dalam pengangkutan batubara.

B. Menurunnya kualitas udara akibat tebaran debu yang ditimbulkan oleh pergerakan
dump truck saat pengangkutan batubara menuju lokasi stockpile.

C. Meningkatnya jumlah penderita penyakit ISPA merupakan dampak turunan dari


menurunnya kualitas udara.

2.3.7. Identifikasi Dampak Akibat Kegiatan Pengolahan dan Penimbunan Batubara

Kegiatan pengolahan dan penimbunan batubara diidentifikasi menimbulkan dampak


lingkungan antara lain:

A. Meningkatnya kebisingan akibat suara bising yang dihasilkan oleh coal crusher
plant.

B. Menurunnya kualitas udara akibat tebaran debu halus batubara saat pengolahan
batubara

C. Meningkatnya jumlah penderita penyakit kulit dan ISPA merupakan dampak


turunan dari menurunnya kualitas air dan kualitas udara.

D. Menurunnya kualitas air sungai akibat air hujan yang jatuh di area pengolahan dan
penimbunan batubara dan membentuk air asam tambang dan memasuki badan
perairan.

E. Berkurangnya keanekaragaman jenis biota air merupakan dampak turunan dari


menurunnya kualitas air permukaan.

2.3.8. Identifikasi Dampak Akibat Kegiatan Pengapalan Batubara

Kegiatan pemuatan batubara ke ponton diidentifikasi menimbulkan dampak


lingkungan antara lain:

A. Menurunnya kualitas air permukaan akibat ceceran batubara yang jatuh ke sungai
saat proses pengapalan

DELH PT SURYA BANGUN SARANA II-77


B. Berkurang keanekaragaman jenis biota air merupakan dampak lanjutan dari
menurunnya kualitas air

C. Terjadinya kecelakaan lalu lintas air akibat manuver ponton saat akan sandar atau
saat akan meninggalkan dermaga.

2.3.9. Identifikasi Dampak Akibat Aktifitas Bengkel dan Genset

A. Meningkatnya kebisingan akibat suara bising yang ditimbulkan oleh genset akan
mengakibatkan peningkatan kebisingan.

B. Menurunnya kualitas udara akibat Emisi gas buang yang dihasilkan oleh genset
akan mengakibatkan peningkatan kadar SO2, NO2, dan CO di udara ambien.

C. Menurunnya kualitas air permukaan Bila limbah cair seperti minyak pelumas bekas
dan ceceran BBM dari aktivitas bengkel dan genset masuk ke sungai, maka akan
mengakibatkan penurunan kualitas air sungai tersebut khususnya peningkatan
kadar minyak.

D. Berkurangnya keanekaragaman jenis biota air merupakan dampak lanjutan dari


menurunnya kualitas air permukaan.

2.3.10. Identifikasi Dampak Akibat Kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR)

Kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) diidentifikasi menimbulkan dampak


lingkungan yakni munculnya sikap dan persepsi positif masyarakat terhadap kegiatan
pertambangan batubara PT SBS akibat didorong oleh adanya manfaat-manfaat yang
dirasakan oleh masyarakat dari program CSR PT SBS.

2.3.11. Identifikasi Dampak Akibat Kegiatan Reklamasi dan Revegetasi Lahan

Kegiatan reklamasi dan revegetasi lahan diidentifikasi menimbulkan dampak


lingkungan antara lain:

A. Meningkatnya kebisingan akibat suara kerja mesin alat berat yang digunakan untuk
kegiatan reklamasi dan revegetasi lahan.

B. Menurunnya kualitas udara.akibat tebaran debu yang dihasilkan dari gesekan roda
kendaraan alat berat dengan tanah.

DELH PT SURYA BANGUN SARANA II-78


Gambar 2.19. PETA BATAS WILAYAH STUDI

DELH PT SURYA BANGUN SARANA II-79


2.4. Pengelolaan Dan Pemantauan Lingkungan Yang Telah Dilakukan Dalam
Menanggulangi Dampak Lingkungan Yang Terjadi

Kegiatan-kegiatan pengelolaan lingkungan yang telah dilakukan oleh PT SBS secara


ringkas disajikan pada Tabel 2.44. berikut.

Tabel 2.44. Kegiatan-Kegiatan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Yang


Telah Dilakukan oleh PT SBS

No. Jenis Dampak Kegiatan Pengelolaan yang Telah Dilakukan


A. Penerimaan tenaga kerja
1. Terbukanya Melakukan penerimaan tenaga kerja secara transparan
kesempatan kerja Komitmen pemrakarsa terhadap penerimaan tenaga
kerja lokal dengan memprioritaskan tenaga kerja lokal
sesuai kualifikasi dan kompetensi pekerjaan yang
dibutuhkan.
Memasang pengumuman penerimaan tenaga kerja pada
tempat-tempat yang banyak dikunjungi oleh masyarakat
seperti pasar, kantor desa, posyandu, pusban, dan lain-lain
sehingga lebih maksimal.
Berkoordinasi dengan Dinas Tenaga Kerja dan
Transmigrasi Kabupaten Paser dalam melakukan
penerimaan tenaga kerja
Berkoordinasi dengan pemerintah Desa dan tokoh
masyarakat dalam melakukan penerimaan tenaga kerja
2. Meningkatnya Memberikan upah sesuai dengan Upah Minimum Sektoral
pendapatan Kabupaten untuk Tahun berjalan
masyarakat
B. Pembersihan Lahan Tambang
1. Peningkatan Mengoperasikan alat-alat berat hanya pada batas-batas
kebisingan optimal (bukan pada batas maksimal) kemampuan mesin alat
berat sesuai pekerjaan yang dilakukan, sehingga suara bising
yang dikeluarkan tidak mencapai batas maksimal
kebisingannya.

2. Hilangnya vegetasi Melakukan pembukaan lahan secara bertahap dan seefisien


mungkin sesuai dengan arah kemajuan tambang.
Segera melaksanakan kegiatan reklamasi lahan setelah
berakhirnya kegiatan penambangan batubara.
Membuat dokumen rencana reklamasi sebagai pedoman
dalam melakukan reklamasi dan revegetasi lahan pasca
tambang
3. Berkurangnya Dampak terhadap satwa liar merupakan dampak turunan dari
keanekaragaman dampak hilangnya vegetasi. Pengelolaan terhadap dampak
satwa liar berkurangnya keanekaragaman satwa liar sama dengan
pengelolaan dampak hilangnya vegetasi.
Memasang papan larangan berburu di dalam lokasi PT SBS
4. Peningkatan laju erosi Dampak terhadap erosi merupakan dampak turunan dari
tanah. dampak hilangnya vegetasi. Pengelolaan terhadap dampak
peningkatan laju erosi tanah sama dengan pengelolaan
dampak hilangnya vegetasi.

DELH PT SURYA BANGUN SARANA II-80


No. Jenis Dampak Kegiatan Pengelolaan yang Telah Dilakukan

5. Penurunan kualitas air Membuat tanggul untuk mencegah air larian dari bukaan
sungai yaitu lahan langsung masuk ke badan perairan.
peningkatan kadar Membuat kolam pengendapan (settling pond) dengan
TSS memperhatikan arah kemiringan lahan untuk mengolah air
limpasan (surface runoff) dari bukaan lahan tambang.
Membuat paritan (sekeliling area tambang) dan saluran
drainase untuk mengalirkan air runoff dari bukaan lahan
tambang ke settling pond yang telah dibuat.
Mencampur air runoff yang telah ditampung di settling pond
dengan bahan koagulan seperti tawas atau bahan koagulan
lainnya untuk mengendapkan kandungan TSS-nya.
Melakukan pemeliharaan (pengurasan lumpur) settling pond
secara rutin agar dapat berfungsi secara maksimal.
6. Peningkatan beban Membuat sediment trap yang terhubung dengan settling pond
sedimen sungai dengan memperhatikan arah kemiringan.
Membuat paritan (sekeliling area tambang) dan saluran
drainase untuk mengalirkan air runoff dari bukaan lahan
tambang ke sediment trap.
Mencampur air runoff yang telah ditampung di sediment trap
dengan bahan koagulan (tawas) untuk mengendapkan
material sedimen potensial (liat dan pasir).
Melakukan pemeliharaan sediment trap secara rutin agar
dapat berfungsi secara maksimal.
7. Berkurangnya Dampak terhadap biota air merupakan dampak turunan dari
keanekaragaman jenis dampak menurunnya kualitas air sungai. Pengelolaan
biota air. terhadap dampak berkurangnya keanekaragaman jenis biota
air sama dengan pengelolaan dampak menurunnya kualitas
air sungai.
C. Pengupasan dan penimbunan Tanah Pucuk
1. Penurunan kesuburan Menempatkan lokasi penimbunan tanah pucuk (topsoil
tanah bank/disposal area) pada daerah yang bebas banjir.
Melakukan penanaman cover crop pada timbunan tanah
pucuk untuk menghindari terjadinya erosi.
Pemeliharaan tanaman cover crop pada timbunan tanah pucuk
secara rutin.
2. Peningkatan Mengoperasikan alat-alat berat hanya pada batas-batas
kebisingan optimal (bukan pada batas maksimal) kemampuan mesin alat
berat sesuai pekerjaan yang dilakukan, sehingga suara bising
yang dikeluarkan tidak mencapai batas maksimal
kebisingannya.

3. Peningkatan kadar Melakukan penyiraman jalan jika jalan dalam kondisi kering.
debu (TSP) di udara Membatasi kecepatan kendaraan angkut maksimal 40 km/jam.
ambien.
4. Meningkatnya jumlah Dampak terhadap meningkatnya jumlah penderita penyakit
penderita penyakit ISPA merupakan dampak turunan dari dampak menurunnya
ISPA kualitas udara. Pengelolaan terhadap dampak meningkatnya
jumlah penderita penyakit ISPA sama dengan pengelolaan
dampak menurunnya kualitas air udara.

DELH PT SURYA BANGUN SARANA II-81


No. Jenis Dampak Kegiatan Pengelolaan yang Telah Dilakukan
5. Peningkatan laju erosi Melakukan pengaturan kemiringan lereng timbunan tanah
tanah pucuk dengan sistem berjenjang.
Segera melakukan penanaman tanaman penutup tanah (cover
crop) pada timbunan tanah pucuk.
Pemeliharaan tanaman cover crop pada timbunan tanah pucuk
secara rutin.
6. Penurunan kualitas air Membuat paritan (sekeliling area timbunan tanah pucuk) dan
sungai yaitu saluran drainase untuk mengalirkan air runoff dari lahan yang
peningkatan kadar dibuka ke settling pond yang telah dibuat.
TSS Mencampur air runoff yang telah ditampung di settling pond
dengan bahan koagulan seperti tawas atau bahan koagulan
lainnya untuk mengendapkan kandungan TSS-nya.
Melakukan pemeliharaan settling pond secara rutin agar dapat
berfungsi secara maksimal.
7. Peningkatan beban Membuat sediment trap yang terhubung dengan settling pond
sedimen sungai dengan memperhatikan arah kemiringan.
Membuat paritan (sekeliling area tambang) dan saluran
drainase untuk mengalirkan air runoff dari bukaan lahan
tambang ke sediment trap.
Mencampur air runoff yang telah ditampung di sediment trap
dengan bahan koagulan (tawas) untuk mengendapkan
material sedimen potensial (liat dan pasir).
Melakukan pemeliharaan sediment trap secara rutin agar
dapat berfungsi secara maksimal.
8. Berkurangnya Dampak terhadap biota air merupakan dampak turunan dari
keanekaragaman jenis dampak menurunnya kualitas air sungai. Pengelolaan
biota air terhadap dampak berkurangnya keanekaragaman jenis biota
air sama dengan pengelolaan dampak menurunnya kualitas
air sungai.
D. Pengupasan dan Penimbunan Tanah Penutup
1. Bentang lahan Menyediakan top soil bank dan disposal area agar dapat
digunakan untuk reklamasi dan revegetasi lahan bekas
tambang
Membuat dokumen Rencana Reklamasi
Melakukan kegiatan reklamasi dan revegtasi sesuai dengan
jadwal yang sudah ditentukan pada dokumen Rencana
Reklamasi
2. Peningkatan Mengoperasikan alat-alat berat hanya pada batas-batas
kebisingan optimal (bukan pada batas maksimal) kemampuan mesin alat
berat sesuai pekerjaan yang dilakukan, sehingga suara bising
yang dikeluarkan tidak mencapai batas maksimal
kebisingannya.

3. Penurunan kualitas Melakukan penyiraman jalan jika jalan dalam kondisi kering.
udara ambien dengan Membatasi kecepatan kendaraan angkut maksimal 40 km/jam.
indikator peningkatan
kadar debu (TSP) di
udara ambien
4. Peningkatan laju erosi Melakukan pengaturan kemiringan lereng timbunan tanah
tanah penutup dengan sistem berjenjang.

DELH PT SURYA BANGUN SARANA II-82


No. Jenis Dampak Kegiatan Pengelolaan yang Telah Dilakukan
Permukaan timbunan tanah penutup ditutup dengan lapisan
tanah pucuk dengan ketebalan 25100 cm, kemudian
dilakukan penanaman tanaman penutup tanh (cover crop).
Pemeliharaan tanaman cover crop pada timbunan tanah
penutup secara rutin.

5. Penurunan kualitas air Membuat paritan (sekeliling area timbunan tanah penutup)
sungai dengan dan saluran drainase untuk mengalirkan air runoff dari lahan
indikator peningkatan yang dibuka ke settling pond yang telah dibuat.
kadar padatan Mencampur air runoff yang telah ditampung di settling pond
tersuspensi (TSS), Besi dengan bahan koagulan (tawas atau bahan koagulan lainnya)
(Fe), dan Mangan (Mn) untuk mengendapkan kandungan TSS dan bahan kapur untuk
serta penurunan pH menaikkan pH dan menurunkan kadar Fe dan Mn.
Melakukan pemeliharaan settling pond secara rutin agar dapat
berfungsi secara maksimal, seperti pengurasan lumpur, dll.
6. Peningkatan beban Membuat sediment trap yang terhubung dengan settling pond
sedimen sungai dengan memperhatikan arah kemiringan.
Membuat paritan (sekeliling area tambang) dan saluran
drainase untuk mengalirkan air runoff dari bukaan lahan
tambang ke sediment trap.
Mencampur air runoff yang telah ditampung di sediment trap
dengan bahan koagulan (tawas) untuk mengendapkan
material sedimen potensial (liat dan pasir).
Melakukan pemeliharaan sediment trap secara rutin agar
dapat berfungsi secara maksimal.
7. Berkurangnya Dampak terhadap biota air merupakan dampak turunan dari
keanekaragaman jenis dampak menurunnya kualitas air sungai. Pengelolaan
biota air terhadap dampak berkurangnya keanekaragaman jenis biota
air sama dengan pengelolaan dampak menurunnya kualitas
air sungai.
8. Meningkatnya jumlah Dampak terhadap meningkatnya jumlah penderita penyakit
penderita penyakit ISPA dan penyakit kulit merupakan dampak turunan dari
ISPA dan penyakit dampak menurunnya kualitas udara dan menurunnya
kulit penyakit kulit. Pengelolaan terhadap dampak meningkatnya
jumlah penderita penyakit ISPA dan penyakit kulit sama
dengan pengelolaan dampak menurunnya kualitas udara dan
menurunnya kualitas air sungai.

E. Penambangan Batubara
1. Penurunan kualitas air Mengalirkan/memompa air yang masuk ke dalam lokasi
permukaan pada penambangan ke settling pond.
parameter pH, Fe, Mn Mencampur air limbah yang telah ditampung di settling pond
dan TSS. dengan bahan koagulan (tawas atau bahan koagulan lainnya)
untuk mengendapkan kandungan TSS dan bahan kapur untuk
menaikkan pH dan menurunkan kadar Fe dan Mn.
Melakukan pemeliharaan settling pond secara rutin agar dapat
berfungsi secara maksimal, seperti pengurasan lumpur, dll.

DELH PT SURYA BANGUN SARANA II-83


No. Jenis Dampak Kegiatan Pengelolaan yang Telah Dilakukan
2. Berkurangnya Dampak terhadap biota air merupakan dampak turunan dari
keanekaragaman jenis dampak menurunnya kualitas air sungai. Pengelolaan
biota air terhadap dampak berkurangnya keanekaragaman jenis biota
air sama dengan pengelolaan dampak menurunnya kualitas
air sungai.
3. Meningkatnya jumlah Dampak terhadap meningkatnya jumlah penderita penyakit
penderita penyakit kulit merupakan dampak turunan dari dampak menurunnya
kulit kualitas air permukaan. Pengelolaan terhadap dampak
meningkatnya jumlah penderita penyakit kulit sama dengan
pengelolaan dampak menurunnya kualitas air sungai.
F. Pengangkutan Batubara
1. Peningkatan Membatasi kecepatan kendaraan angkut maksimal 40 km/jam.
kebisingan.
2. Peningkatan kadar Melakukan penyiraman jalan (jika jalan dalam kondisi kering).
debu (TSP) di udara Membatasi kecepatan kendaraan angkut maksimal 40 km/jam.
ambien
3. Meningkatnya jumlah Dampak terhadap meningkatnya jumlah penderita penyakit
penderita penyakit ISPA merupakan dampak turunan dari dampak menurunnya
ISPA. kualitas udara. Pengelolaan terhadap dampak meningkatnya
jumlah penderita penyakit ISPA sama dengan pengelolaan
dampak menurunnya kualitas udara.
G. Pengolahan dan penimbunan Batubara
1. Peningkatan Mengoperasikan alat berat hanya pada batas-batas optimal
kebisingan (bukan pada batas maksimal) kemampuan mesin peralatan
sesuai pekerjaan yang dilakukan, sehingga suara bising yang
dikeluarkan tidak mencapai batas maksimal kebisingannya.
2. Penurunan kualitas Memasang water spray di beberapa titik pada unit crushing
udara ambien dengan plant untuk mencegah tabaran debu dari crusher menyebar ke
parameter debu (TSP) udara ambien.
3. Meningkatnya jumlah Dampak terhadap meningkatnya jumlah penderita penyakit
penderita penyakit ISPA merupakan dampak turunan dari dampak menurunnya
ISPA. kualitas udara. Pengelolaan terhadap dampak meningkatnya
jumlah penderita penyakit ISPA sama dengan pengelolaan
dampak menurunnya kualitas udara.
4. Penurunan kualitas air Membuat settling pond untuk mengelola air limpasan (surface
sungai terutama pada runoff) dari area pengolahan dan penimbunan batubara.
parameter pH, Fe, Mn Membuat saluran drainase untuk mengalirkan air runoff dari
dan TSS area pengolahan dan penimbunan batubara ke settling pond
yang telah dibuat.
Mencampur air runoff yang telah ditampung di settling pond
dengan bahan koagulan (tawas) untuk mengendapkan
kandungan TSS dan bahan kapur untuk menaikkan pH dan
menurunkan kadar Fe dan Mn.
Melakukan pemeliharaan settling pond secara rutin agar dapat
berfungsi secara maksimal, seperti pengurasan lumpur, dll.
5. Berkurangnya Dampak terhadap biota air merupakan dampak turunan dari
keanekaragaman jenis dampak menurunnya kualitas air sungai. Pengelolaan
biota air terhadap dampak berkurangnya keanekaragaman jenis biota
air sama dengan pengelolaan dampak menurunnya kualitas
air sungai.

DELH PT SURYA BANGUN SARANA II-84


No. Jenis Dampak Kegiatan Pengelolaan yang Telah Dilakukan
H. Pengapalan batubara
1. Penurunan kualitas air Proses pengangkutan batubara menuju kapal dilakukan
sungai terutama pada dengan hati-hati untuk meminimalisir ceceran batubara dari
parameter pH, Fe, Mn dump truck.
dan TSS Memastikan kapal tongkang benar-benar telah bersandar
dengan baik di dermaga untuk mencegah batubara jatuh ke
sungai.
Menyediakan fasilitas penerangan yang cukup jika pemuatan
dilakukan pada malam hari.
2. Berkurangnya Dampak terhadap biota air merupakan dampak turunan dari
keanekaragaman jenis dampak menurunnya kualitas air sungai. Pengelolaan
biota air terhadap dampak berkurangnya keanekaragaman jenis biota
air sama dengan pengelolaan dampak menurunnya kualitas
air sungai.
3. Terjadinya kecelakaan Memasang sarana bantu navigasi pelayaran seperti rambu
lalu lintas sungai suar dan pelampung suar untuk menunjukkan adanya
bangunan dermaga dan aktivitas kepelabuhanan.
Pemasangan sarana bantu navigasi pelayaran sesuai Peraturan
Menteri Perhubungan Nomor PM 25 tahun 2011 tentang
Sarana Bantu Navigasi-Pelayaran.
I. Aktifitas bengkel dan genset
1. Peningkatan Memilih jenis genset silent type
kebisingan. Mengoperasikan mesin genset bila dibutuhkan saja.
Mengoperasikan mesin genset pada batas optimal yaitu sesuai
dengan suplai listrik yang dibutuhkan, sehingga suara bising
yang ditimbulkan tidak mencapai batas maksimal suara bising
mesin genset.
Melakukan pemeliharaan dan perawatan mesin-mesin genset
secara rutin
2. Penurunan kualitas Mengoperasikan mesin genset bila dibutuhkan saja.
udara ambien dengan Mengoperasikan mesin genset pada batas optimal yaitu sesuai
indikator peningkatan dengan suplai listrik yang dibutuhkan, sehingga emisi gas
kadar gas SO2, NO2, yang ditimbulkan tidak mencapai batas maksimal emisi gas
dan CO mesin genset.
Melakukan pemeliharaan dan perawatan mesin-mesin genset
secara rutin
3. Penurunan kualitas air Ceceran minyak pelumas bekas yang telah tertangkap dan
sungai dengan tertampung pada oil trap dipindahkan sesegera mungkin ke
indikator peningkatan dalam drum.
kadar minyak dan Apabila drum tersebut penuh, maka drum tersebut harus
lemak. ditutup rapat untuk menghindari terjadinya kebocoran dan
kemudian diberi label yang menggambarkan jenis,
karakteristik, jumlah atau volume dari minyak pelumas bekas
dan bertuliskan MINYAK BEKAS (USED OIL), kemudian
dikumpulkan pada TPS limbah B3.
4. Berkurangnya Dampak terhadap biota air merupakan dampak turunan dari
keanekaragaman jenis dampak menurunnya kualitas air sungai. Pengelolaan
biota air terhadap dampak berkurangnya keanekaragaman jenis biota
air sama dengan pengelolaan dampak menurunnya kualitas
air sungai.

DELH PT SURYA BANGUN SARANA II-85


No. Jenis Dampak Kegiatan Pengelolaan yang Telah Dilakukan
J. Aktifitas karyawan
Menurunnya sanitasi Menyediakan tempat sampah di pos keamanan, kantor,
lingkungan kantin, bengkel dan mess karyawan
Mengumpulkan limbah padat pada tempat sampah yang
sudah di sediakan
Membuang sampah ke lubang yang sudah disediakan di
dalam lokasi PT SBS
Mengalirkan air dari aktifitas MCK karyawan ke septik tank

Terjadinya kebakaran Memasang tanda larangan merokok di dekat tangki


penyimpanan BBM, bengkel dan TPS limbah B3
Memasang instalasi listrik sesuai dengan SNI yang berlaku
Memberikan pelatihan penanganan kebakaran kepada
karyawan
Menyediakan APAR di kantor, mess, bengkel dan alat-alat
berat
K. Kegiatan CSR
1. Munculnya sikap dan Melakukan musyawarah dengan Pemerintah dan tokoh-tokoh
persepsi positif masyarakat Desa Saing Prupuk untuk menyusun program CSR
masyarakat terhadap yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan agar tidak
kegiatan terjadi tumpang tindih dengan program pemerintah.
pertambangan Musyawarah ini juga berguna untuk menjelaskan kepada
batubara PT SBS. masyarakat bila terdapat program-program CSR yang
diusulkan oleh masyarakat namun tidak dapat dipenuhi oleh
perusahaan karena keterbatasan kemampuan finansial
perusahaan.
Merealisasikan program CSR sesuai komitmen perusahaan
terhadap masyarakat.
L. Reklamasi dan Revegetasi Lahan
1. Peningkatan Membatasi kecepatan kendaraan angkut maksimal 40 km/jam.
kebisingan.
2. Penurunan kualitas Melakukan penyiraman jalan jika jalan dalam kondisi kering.
udara ambien dengan Membatasi kecepatan kendaraan angkut maksimal 40 km/jam.
indikator peningkatan
kadar debu (TSP) di
udara ambien.

Evaluasi Pelaksanaan Pemantauan Kualitas Air,Tanah, Udara

Sampai dengan Triwulan Tahun I 2017, PT. Surya Bangun Sarana melakukan pengujian
Internal settling pond tambang, melalui pengetesan PH air dengan Kertas Lakmus
masih normal yaitu 6,0 7,3. Untuk kualitas udara ambien, kualitas tanah, kebisingan
dan kualitas emisi udara di lakukan per enam bulan sekali yaitu di triwulan II sesuai
RKTTLAB tahun 2017.

Evaluasi Pelaksanaan Pemantauan Tingkat Erosi

Sampai dengan Triwulan I Tahun 2017, PT. Surya Bangun Sarana melakukan
pemantauan langsung dilapangan secara berkala terhadap lokasi yang rawan erosi

DELH PT SURYA BANGUN SARANA II-86


akibat air limpasan hujan seperti : Lokasi high wall tambang, Lokasi disposal yang
merupakan timbunan tanah penutup . Kondisi di lapangan sampai akhir bulan Maret
2017 masih aman.

Evaluasi Pelaksanaan Pemantauan Stabilitas Lereng

Pemantauan stabilitas lereng telah di lakukan dilapangan secara berkala khususnya


pada lokasi : tambang, memantau dan perbaikan kondisi jenjang dan slope bench.
Dengan melakukan koordinasi antar departemen untuk selalu melakukan pengawasan
terhadap kestabilan lereng sehingga bila ditemukan hal hal yang membahayakan
segera dilaporkan.

Evaluasi Pelaksanaan Pemantauan Revegetasi

Pemantauan revegetasi belum dapat di lakukan karena tidak adanya area reklamasi di
lokasi tambang di mana sampai Triwulan I periode Januari sampai Maret 2017 masih
melakukan kegiatan di Pit 1 Sequen 1e dan Pit 3 sequen 3a serta Pit 2 sequen 2c belum
berpindah sequen tetapi hanya melewati sequen lainnya.

Evaluasi Pelaksanaan Pemantauan Lingkungan lain (flora dan fauna).

Pemantauan yang dilakukan lebih kearah himbauan terhadap semua karyawan agar
sama-sama menjaga kondisi flora dan fauna disekitar lingkungan tempat kerja.

DELH PT SURYA BANGUN SARANA II-87

Anda mungkin juga menyukai