Anda di halaman 1dari 13

PERBEDAAN LAMA WAKTU TAHAP-TAHAP PERKAWINAN LALAT BUAH

( Drosophila melanogaster ) SRAIN N dan Vg

LAPORAN PROYEK

Disusun untuk memenuhi salah satu tugas Matakuliah Genetika I


yang dibina oleh Prof. Dr. Agr. Mohammad Amin, M. Pd dan Andik Wijayanto, S.Si, M.Si

Oleh :
Kelompok 15 / Offering H

Solichatul Afifah (150342603789)


Zauhara Faiqohtun W (150342605971)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
PROGRAM STUDI S1 BIOLOGI
April 2017
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Drosophila melanogaster banyak digunakan dalam penelitian-penelitian bidang
genetika (Karmana, 2010). Ada beberapa alasan Drosophila melanogaster dijadikan
sebagai model organisme yaitu karena memiliki karakter fenotip yng berbeda dan
terlihat nyata, mudah mendapatkannya, murah (dapat dibiakkan dalam botol yang
hanya berisi media pisang yang difermentasi) dan mempunyai waktu perkembiakan
yang tidak terlalu lama (2 minggu dengan waktu pematangan seksual awal yaitu 7
jam setelah keluar dari pupa) (Walter,1938 dalam Aini,2008) . selian itu menurut
Sokolowski(2001) Banyak gen yang ditemukan pada Drosophila, yang memiliki struktur
homolog atau fungsional pada vertebrata, termasuk manusia, berarti bahwa penemuan
genetik di lalat buah dapat berkontribusi dalam pemahaman umum tentang proses
perkembangan dan fisiologis.
Untuk mempertahankan atau melestarikan jenisnya makhluk hidup memiliki
kemampuan bereproduksi. Ciri inilah yang membedakan makhluk hidup dengan benda
tak hidup. Perkembangbiakan makhluk hidup terjadi secara kawin(seksual=generatif)
dan atau tak kawin(aseksual= vegetatif) (Suyitno,2005). Drosophila melanogaster
merupakan salah satu spesies dari marga Drosophila dan termasuk dalam kelas insekta
yang melakukan proses reproduksi secara seksual. Macam sel kelamin dan interaksinya
menjadi dasar untuk menemukan kecocokan dan isolasi reproduksi antar spesies
(Mendelson et al., 2012). D. melanogaster melakukan reproduksi seksualnya dengan
kopulasi, dimana kopulasi tersebut terdapat beberapa tahapan yang dimulai dari tahap
orientasi. Revadi et al (2015) menjelaskan bahwa durasi kawin Drosophila berkisar
antara 16-37 menit, dengan durasi rata-rata 26 menit.
Saat ini telah banyak diketahui bahwa Drosophila melanogaster telah mengalami
mutasi. Mutasi adalah perubahan materi genetik (DNA dan RNA) dan proses yang
menyebabkan terjadinya perubahan. Sedangkan mutan adalah organisme yang
menunjukkan fenotip baru sebagai hasil terjadinya mutasi (Snustad, 2012). Perbedaan
tersebut terlihat pada mutasi warna mata, bentuk mata, bentuk sayap dan warna tubuh.
dengan hal tersebut, maka dikenal berbagai strain (mutan) dari Drosophila
melanogaster (Zarzen, 2004 dalam Karmana, 2010).
Berdasarkan uraian di atas maka peneliti melakukan sebuah penelitian untuk
mengetahui apakah ada perbedaan lama waktu setiap tahapan kopulasi D. melanogaster
yang dimulai dari tahap orientasi sampai dengan kopulasi menggunakan strain yang
berbeda. Untuk itu peneliti mengangkat judul Perbedaan Lama Waktu Tahap-Tahap
Perkawinan Lalat Buah ( Drosophila melanogaster ) Srain N Dan Vg.

1.2 Rumusan Masalah


Rumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut:
1. Apakah ada perbedaan tahapan perkawinan pada persilangan Drosophila
melanogaster strain N dan Vg?
2. Apakah ada perbedaan lama waktu perkawinan pada persilangan Drosophila
melanogaster strain N dan Vg?
3. Apakah ada perbedaan lama waktu setiap tahapan perkawinan pada persilangan
Drosophila melanogaster strain N dan Vg?

1.3 Tujuan penelitian


Tujuan dari penelitian ini sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui apakah ada perbedaan tahapan perkawinan pada persilangan
Drosophila melanogaster strain N dan Vg
2. Untuk mengetahui apakah ada perbedaan lama waktu perkawinan pada persilangan
Drosophila melanogaster strain N dan Vg
3. Untuk mengetahui apakah ada perbedaan lama waktu setiap tahapan perkawinan pada
persilangan Drosophila melanogaster strain N dan Vg

1.4 Hipotesis
Hipotesis dari penelitian ini sebagai berikut:
1. Ada perbedaan tahapan perkawinan pada persilangan Drosophila melanogaster strain
N dan Vg
2. Ada perbedaan lama waktu perkawinan pada persilangan Drosophila melanogaster
strain N dan Vg
3. Ada perbedaan lama waktu setiap tahapan perkawinan pada persilangan Drosophila
melanogaster strain N dan Vg
1.5 Kegunaan Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:

1. Memberikan pengetahuan baru mengenai lama waktu perkawinan Drosophila


melanogaster strain N dan Vg pada setiap tahapannya.
2. Memberikan pengetahuan bagi peneliti lain mengenai penelitian yang berkaitan
dengan perbedaan lama waktu perkawinan Drosophila melanogaster yang memiliki
strain berbeda

1.6 Ruang Lingkup dan Keterbatasan Penelitian


1. Mutan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Drosophila melanogaster strain
normal (N) dan vestigial (Vg)
2. Ciri fenotip yang diamati pada masing-masing mutan terbatas pada warna mata,
warna tubuh dan bentuk sayap.
3. Aspek yang diamati dalam penelitian ini adalah lama waktu perkawinan dan lama
waktu setiap tahapannya serta perbedaan tahapan perkawinannya.
4. Pengamatan lama waktu perkawinan dilakukan pada strain Drosophila melanogaster
dengan persilangan (strain N >< strain N , strain Vg >< strain Vg , Strain N
>< strain Vg dan strain Vg >< strain N ).

1.7 Asumsi Penelitian


Pada penelitian ini, peneliti berasumsi bahwa:
1. Umur Drosophila melanogaster yang digunakan dianggap sama.
2. Nutrisi yang diterima oleh Drosophila melanogaster pada tiap medium dianggap
sama.
3. Faktor lingkungan di sekitar Drosophila melanogaster dianggap sama.

1.8 Definisi Operasional


Dalam penyusunan laporan ini terdapat beberapa istilah yang digunakan untuk
menjelaskan berbagai hal. Adapun istilah tersebut sebagai berikut :
1. Mutasi adalah perubahan materi genetik (ADN dan ARN) dan proses yang
menyebabkan terjadinya perubahan (Snustad, 2012).
2. Mutan adalah organisme yang menunjukkan fenotip baru sebagai hasil terjadinya
mutasi (Snustad, 2012).
3. Fenotip adalah karakter-karakter yang dapat diamati pada suatu individu seperti
morfologi, fisiologi, tingkah laku yang merupakan hasil interaksi antara enotip dengan
lingkungan tempat hidup dan berkembang (Corebima, 2013).
4. Tahapan kopulasi adalah serangkaian urutan kegiatan yang dilakukan selama proses
perkawinan, meliputi orientating, tapping, singing, licking, attemping copulation, dan
copulation (Sokolowski, 2001).
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Klasifikasi Drosophila melanogaster

Drosophila melanogaster sering digunakan dalam percobaan karena Drosophila


melanogaster memiliki jumlah kromosom yang sedikit, yaitu 2n = 8. Drosophila
melanogaster memiliki siklus hidup yang pendek yaitu sekitar 10-12 hari, dengan
menghasilkan telur yang banyak tiap kali Drosophila melanogaster betina bertelur, sehingga
mudah dirawat dan mempunyai banyak karakter mutan. Drosophila melanogaster memiliki
tiga pasang kromosom penting, yang mempunyai sistem kromosom XX / XY untuk
penetapan kromosom seks, mempunyai kromosom raksasa pada kelenjar ludah dari larvanya,
dan pada Drosophila melanogaster jantan tidak ditemukan crossing over atau pindah silang
saat meiosis terjadi (Jones & Rickards. 1991)
Menurut Dewey (2015) klasifikasi Drosophila melanogaster sebagai berikut:
Filum : Arthopoda

Kelas : Insecta

Ordo : Diptera

Family : Drosophilidae

Genus : Drosophila

Spesies : Drosophila sp.

2.2 Karakteristik Drosophila melanogaster


Lalat buah dan Artrophoda lainnya mempunyai kontruksi modular, suatu seri segmen
yang teratur. segmen ini menyusun tiga bagian tubuh utama, yaitu: kepala, thoraks, dan
abdomen (Silvia, 2003)

Gambar 1. Karakteristik Drosophila melanogaster (Gompel. 2013)


Ciri umum dari Drosophila melanogaster diantaranya warna tubuh kuning kecoklatan
dengan cincin berwarna hitam di tubuh bagian belakang, berukuran kecil antara 3-5 mm, urat
tepi sayap (costal vein) mempunyai dua bagian yang terinteruptus dekat dengan tubuhnya,
sungut (arista) umumnya berbentuk bulu, memiliki 7-12 percabangan, crossvein posterior
umumnya lurus, tidak melengkung, mata majemuk berbentuk bulat agak ellips dan berwana
merah, terdapat mata oceli pada bagian atas kepala dengan ukuran lebih kecil dibanding mata
majemuk, thorax berbulu-bulu dengan warna dasar putih, sedangkan abdomen bersegmen
lima dan bergaris hitam dan sayap panjang, berwarna transparan, dan posisi bermula dari
thorax (Suryo. 2008)
Umumnya Drosophila melanogaster betina dan jantan memiliki perbedaan ciri
morfologi. Drosophila melanogaster betina memiliki ukuran tubuh yang lebih besar bila
dibandingkan dengan Drosophila melanogaster jantan. Bagian abdomen (perut) Drosophila
melanogaster betina terdapat garis-garis hitam yang tebal pada bagian dorsal hingga ujung
abdomen. Bagian abdomen Drosophila melanogaster jantan juga terdapat pola garis hitam
yang tebal di sepanjang abdomen bagian dorsal, akan tetapi garis hiam di bagian ujung
abdomennya berfusi. Bagian ujung abdomen Drosophila melanogaster betina lancip, kecuali
ketika sedang dipenuhi telur-telur, sedangkan ujung abdomen Drosophila melanogaster jantan
membulat dan tumpul. (Suryo. 2008)

Khusus Drosophila melanogaster jantan terdapat karakter khusus berupa sex comb
yaitu kira-kira 10 bulu berwarna gelap yang terletak di tarsal pertama pada kaki depannya.
Sex comb adalah ciri utama Drosophila melanogaster jantan. Sex comb dapat dipakai untuk
mengidentifikasi jenis kelamin lalat buah pada dua jam pertama setelah lalat tersebut
menetas, ketika bentuk dan pigmentasi lalat tersebut belum berkembang sempurna (Jones &
Rickards. 1991)
Gambar 2. Karakteristik Drosophila jantan dan betina (Gompel. 2013)

Pada Drosophila melanogaster selain dari keadaan normal (N) ditemukan ada beberapa
strain yang merupakan hasil mutasi dan menghasilkan mutan-mutan yang berbeda dari
keadaan normalnya . Perbedaan tersebut terkait dengan warna mata, bentuk sayap dan warna
tubuh. (Karmana. 2010) Mutasi yang terjadi pada sayap Drosophila contohnya yaitu Vg
(vestigial). Vestigial (vg) merupakan mutan dengan sayap yang tereduksi yang berarti
panjang sayap mutan jauh lebih pendek dibanding panjang sayap Drosophila melanogaster
normal, akibatnya Drosophila melanogaster dengan bentuk sayap tersebut tidak dapat
terbang. Mereka hanya mengandalkan bristle sebagai alat sensor mekaniknya (Tatsushi
Igaki., et al. 2002)

Gambar 3. Perbedaan Drosophila melanogaster Strain Normal dan Vestigial


(Tatsushi Igaki., et al. 2002)

2.3 Siklus Hidup


Ketika serangga ini ditetaskan dari telur, dihasilkan serangga yang tidak memiliki
wujud yang sama dengan serangga dewasa. Drosophilla melanogaster tergolong
Holometabola, memiliki periode istirahat yaitu dalam fase pupa. Dalam perkembangannya D.
melanogaster mengalami metamorphosis sempurna yaitu fase telur, larva pupa dan D.
melanogaster dewasa (Frost. 1959)
Lamanya siklus hidup Drosophila melanogaster bervariasi sesuai suhu. Rata-rata lama
periode telur-larva pada suhu 20C sekitar 8 hari, pada suhu 25C lama siklus menurun yaitu
5 hari. Siklus hidup pupa pada suhu 20C adalah sekitar 6.3 hari, sedangkan pada suhu 25C
sekitar 4,2 hari. Sehingga pada suhu 25C siklus hidup Drosophila melanogaster dapat
sempurna sekitar 10 hari.(Nur Aini. 2008)

Gambar 4. Siklus hidup Drosophila melanogaster .(Nur Aini. 2008)

2.4 Perilaku kawin dan tahap-tahap pacaran


Selama aktivitas perkawinanya Drosophila melanogaster akan melakukan serangkaian
kegiatan yang berhubungan dengan perkawinan. Shorrock (1972) mengatakan bahwa
sebelum kopulasi Drosophila melanogaster akan melakukan urutan kegiatan yang biasanya
disebut pacaran. Tahap pacaran ini didahului dengan proses Orientating kemudian
dilanjutkan Penepukan tubuh betina oleh kaki depan jantan (Tapping). Jika gejala di atas
tidak muncul dapat diartikan bahwa individu jantan dan betina merupakan spesies yang
berbeda sehingga tidak akan terjadi perkawinan (Shorrock, 1972 dalam hartanti, 1998)

Tahap awal yang dilakukan oleh Drosophyla Melanogaster selama pacaran adalah
individu jantan dan betina saling berhadapan dengan jarak 2 mm, kemudian individu jantan
akan mengikuti betina dengan bergerak berputar yang bisanya disebut orientating.

Shorrock, (1972) mngemukakan pula bahwa individu jantan Drosophyla Melanogaster


dapat juga melakukan kesalahan pada prosedur tepukan, demikian pula jika urut-urutan
kegiatan pacaran terputus karena sesuatu sebab, individu jantan dapat kehilangan jejak dan
pengalihan perhatianya kepada individu betina yang lain. Pada keadaan dimana terdapat
campuran populasi, kadang-kadang individu betina yang lain itu ternyata tidak tergolong
sesama jenis. Andai kata demikian individu jantan tetap mencarinya, sekalipun individu
betina itu tidak harus mengizinkannya melakukan kopulasi, dikatakan bahwa tampaknya
individu betina tersebut tidak puas terhadap individu jantan, dan menyadari bahwa yang
bersangkutan tidak tergolong sesame jenis (Shorrock,1972 dalam Corebima, 1993).
Selanjutnya individu jantan melakukan Singing mengangkat sayapnya membentuk
sudut 90 dan menghasilkan suara yang khas bila individu betina belum tertarik, maka yang
jantan akan mengulangi kegiatan dari awal (Wilkinz, 1993 dalam Nusantari, 1997). Menurut
Shorrock (1972) dalam Corebima (1993) selanjutnya individu jantan akan memperlebar
posisi sayapnya membentuk sudut 900 dari badanya (berada pada jarak yang paling dekat
dengan individu betina) sambil menggetarkanya selama periodik (scissoring). selama
melakukan getaran itu, individu jantan biasanya berada di depan individu betina dikatakan
bahwa gerakan tambahan dari sayap yang dilakukan di depan individu betina itu merupakan
pameran visual. Di samping itu, individu jantan dihasilkan oleh individu jantan D.
Melanogaster dihasilkan itu terulang 20 kali per detik.

Setelah itu sayap akan dipanjangkan dan dinaikkan kemudian digulung dan diturunkan
lagi (rowing). Tahap licking terjadi jika individu jantan menjilati alat kelamin betina dengan
mengunakan belalainya (proboscis), mengatur posisi tubuhnya dan akhirnya melakukan
kopulasi. Jika individu betina telah reseptif, individu jantan akan menaikinya kemudian
terjadi kopulasi (Shorrock,1972, Fowler, 1973 dalam Hartanti, 1998). Setelah tahap licking
selanjutnya adalah tahap attenting kopulasion yang mana D. Melanogaster akan mencoba
untuk melakukan kopulasi (usaha kopulasi). Kemudian tahap terakhir adalah kopulasi, yaitu
individu jantan memasukkan alat kelaminya ke dalam alat kelamin betina (Wilkinz, 1993
dalam Nusantari, 1997).

White (1978) yang mengutip Averhoff dan Richardson (1974, 1976) serta Bennet-Clark
dkk. (1976) menyatakan bahwa sudah dapat dipastikan ada feromon yang mempunyai
peranan penting bahwa sudah dapat dipastikan ada feromon yang mempunyai peranan
penting pada periode pacaran pada D. Melanogaster bermula dari adanya rangsangan
feromon-feromon individu betina atas individu jantan untuk mulai melakukan kegiatan
pacaran dan feromon indiviu jantan mendorong betina untuk menerima kehadiranya.

Shorey dan Bartell (1970) sebagaimana yang dikutip Ehrman (1981) juga telah
menemukan suatu fenomena kelamin yang bersifat volatile, yang dihasilkan oleh individu
betina D. Melanogaster. Feromon kelamin itu merangsang dan mendorong timbulnya tingkah
laku pacaran pada individu jantan, dikatakan pula bahwa feromon kelamin itu juga
memperbesar peluang individu jantan untuk mendekati sesuatu individu betina yang berada
didekatnya. Dilaporkan bahwa tingkah laku selama pacaran juga dirangsang oleh bau-
bauan yang dihasilkan oleh individu-individu jantan yang lain akan tetapi dayanya kurang
dari sepersepeluh daya feromon kelamin yang hasilkan oleh individu betina.

Ehrman dan Probbes yng dikutip Ehrman (1981) mengajukan hipotsis yang
menyatakan bahwa feromon-feromon pada Drosophila merupakan senyawa-senyawa hasil
metabolisme yang berfungsi sebagai suatu karangan bunga bagi individu jantan. Ehrman
(1981) menyatakan pula bahwa feromon-feromon itu adalah semacam hormon yang
menyebar melalui udara yang berfungsi untuk mempengaruhi tingkah laku pacaran
individu jantan itu dirangsang oleh feromon-feromon yang dihasilkan oleh strain-strain lain,
dikatakan bahwa keadaan ini justru akan mencegah terjadinya inbreeding pada populasi-
populasi yang kecil ukuranya. Pada bagian lain dapat disimpulkan bahwa fungsi feromon
kelamin tampaknya berhubungan dengan feromon keunggulan individu jantan yang
jumlahnya jarang: (rare-male adventage) dikalangan Drosophyla Melanogaster yang akan
dikemukakan lebih lanjut.

Susunan kimiawi feromon kelamin pada Drosophila belum banyak terungkap. Dalam
hubungan ini susunan kimiawi feromon kelamin pada Drosophila pseudoobscura
sebagaimana yang pernah diajukan ole Ehrman, ternyata tidak sesuai dengan hasil pelacakan
yang menggunakan kromatografi gas (ehrman, 1981). Akan tetapi sehubungan dengan
feromon-feromon kelamin pada lemak tidak ditentukan pada bagian aktif feromon (Ehrman
dan Probbes, 1978 yang dikutip Ehrman, 1981).

Gambar 5. Tahap dan perilaku kawin Drosophila melanogaster


2.5 Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan kawin
Kemampuan kawin pada D. melanogaster dipengaruhi oleh faktor genetic dan
lingkungan. Sejauh ini, kontribusi jantan dalam hal keberhasilan kawin sangat menentukan
karena individu jantan melakukan seleksi terhadap betina yang akan dikawininya. Meskipun
diketahui bahwa jantan dapat melakukan perkawinan dengan lebih dari satu betina, tetapi
waktu yang diperlukan bagi jantan untuk melakukan perkawinan kedua dan lama kopulasi
pada perkawinan kedua tersebut belum dapat diketahui secara pasti. Umumnya, lama
kopulasi pada D. melanogaster terjadi dalam selang waktu sekitar 12-20 menit (Singh and
Singh. 2000). Selain itu menurut Corebima (1995) yang menyatakan bahwa jumlah betina D.
Melanogaster yang semakin banyak akan meningkatkan kemampuan kawin individu jantan
D. Melanogaster. Mc Sheely (1963), juga menyatakan bahwa jumlah individu betina akan
menentukan frekuensi kawin individu jantan pada beberapa jenis D. Melanogaster. Dimana
jika individu jantan disilangkan dengan 15 individu betina maka kemampuan kawin akan
meningkat 1,52 kali.
Faktor lain yang dapat mempengaruhi kemampuan kawin D. melanogaster diantaranya
umur dan jumlah individu betina. Betina dengan umur yang belum mencapai kematangan
seksual akan menolak jantan hingga betina tersebut telah mencapai kematangan seksual.
Selain itu, D. melanogaster mempunyai semacam feromon yang menunjukkan dimorfisme
seksual. Dalam perkawinan, feromon memiliki peran penting karena feromon yang
dikeluarkan oleh individu betina yang diterima jantan akan menstimulus jantan untuk
memulai tahap-tahap kopulasi (Vosshall, 2008).
Pada D. melanogaster feromon-feromon yang dihasilkan individu betina diterima
individu jantan untuk memulai kegiatan pacaran. Di lain pihak feromon individu jantan
mendorong individu betina untuk menerima kehadirannya. Feromon kelamin itu merangsang
dan mendorong timbulnya tigkah laku pacaran pada individu D. melanogaster jantan.
Dijelaskan pula bahwa feromon kelamin itu memperbesar peluang individu jantan untuk
mendekati individu betina yang berada di dekatnya (Wijayati. 2009)
Tingkah laku pacaran juga dirangsang oleh bau-bauan yang dihasilkan oleh individu
jantan lain, akan tetapi dayanya kurang bila dibandingkan dengan daya feromon kelamin
yang dihasilkan individu betina. Feromon dari lalat betina menyebabkan peningkatan empat
sampai lima lipatan tingkatan dalam tingkah laku pacaran. Sedangkan feromon dari lalat
jantan menyebabkan dua lipatan peningkatan (Shorey dan Bartell. 1970)
Menurut Nusantari (1997) terdapat hubungan di antara persentase kemenarikan
perkawinan pada individu jantan dan kesuksesan perkawinan pada individu betina hal ini
merupakan kombinasi dari tiga mekanisme, yaitu yang dikemukakan lebih lanjut:

Pilihan individu jantan, terdapat strain tertentu yang lebih tertarik dengan individu
betina asing, individu betina virgin dan individu betina yang sudah dikawini. Hal
ini terlihat pada perkawinan mereka yang sangat berhasil.
Kemenarikan individu betina, individu betina yang tidak menarik bagi individu
jantan kecil kemungkinanya untuk dipilih oleh individu jantan sehingga
berpengaruh terhadap kesuksesan kawin.
Keengganan individu betina, individu betina strain tertentu sangant enggan
melakukan kopulasi sehingga kesuksesan kawin lebih kecil. Individu betina yang
kehilangan keengganan kawin akan tinggi kesuksesan kawinnya dibandingkan
individu yang enggan menjalani kopulasi.