Anda di halaman 1dari 6

Perdarahan Pada Kehamilan Muda

1. Definisi
National Center for Health Statistics, Centers for Disease Control and Prevention, dan
World Health Organization mendefinisikan abortus adalah penghentian kehamilan sebelum
gestasi 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram.2
2. Insidensi
lima belas sampai dua puluh persen dari kehamilan yang diakui secara klinis berakhir
dengan aborsi. Diperkirakan hingga 60% konsepsi menjadi aborsi dan sebagian besar tidak
dikenali secara klinis. Sebagian besar aborsi merupakan kegagaln implantasi dan sulit
dilakukan untuk mengenali secara klinis. Kualitas oosit dan kariotipe normal yang paling
penting untuk implantasi, lebih dari itu adalah faktor uterus.1
3. Klasifikasi
a. Spontaneus abortion
Abortus spontan 80% terjadi pada kehamilan 12 minggu pertama. Paling tidak
separuhnya disebabkan oleh anomali kromosom. Sejumlah faktor mempengaruhi angka
abortus spontan, sebagai contoh keguguran simtomatik meningkat seiring dengan
paritas serta usia ibu dan ayah. Abortus sering memperlihatkan kelainan perkembangan
zigot, midigah, janin atau kadang plasenta.2
b. Complete abortion
Gambaran klini menggambarkan sebuah perdarahan yang ditandai dengan
riwayat tes kehamilan positif, perdarahan per vaginam dengan pengeluaran jaringan,
dan tertutupnya ostium serviks pada saat didiagnosis. Pada pemeriksaan ultrasound
transvaginal tidak adanya kantung kehamilan.1
c. Incomplete abortion
Gambaran klinis menggambarkan riwayat kehamilan positif, perdarahan
pervaginam, dan ostium serviks terbuka. Janin dan plasenta mungkins seluruhnya tetap
berada pada uterus atau mungkin sebagian keluar melalui ostium yang terbuka.
Pemeriksaan USG transvaginal menunjukkan distorsi jaringan heterogen kanal
endometrium dengan/atau tanpa kantung kehamilan. Pada sebagian wanita diperlukan
dilatasi serviks tambahan sebelum dilakukannya kuretase. Perdarahan akibat abortus
inkomplet pada kehamilan tahap lanjut terkadang berat tetapi jarang mematikan, untuk
itu evakuasi segera dilakukan. Jika terjadi demam maka pasien diberi antibiotikyang
sesuai sebelum kuretase.1,2
d. Inevetable abortion
Gambaran klinis menggambarkan riwayat kehamilan positif, perdarahn per
vaginam tanpa pengeluaran jaringan, kantung kehamilan di dalam uterus, dan ostium
serviks terbuka.1
e. Missed abortion
Missed abortion disebabkan oleh kegagalan yang pertumbuhan embrio dan/atau
kegagalan memperthakan aktivitas jantungnya dari waktu ke waktu. Istilah missed
abortion digunakan untuk menjelaskan hasil konsepsi yang telah mati yang tertahan
selama beberapa hari, minggu atau bahkan bulan di dalam uterus dengan ostium serviks
tertutup. Karena keguguran spontan hampir selalu didahului oleh kematian mudigah,
maka secara tepat disebut sebagai missed. Pada kasus tipikal, pasien mengalami
kehamilan muda yang tampaknya normal, dengan amenorea, mual dan muntah,
perubahan payudara, dan pembesaran uterus. Setelah kematian mudigah, mungkin
terjadi perdarahan vaginaatau gejala abortus lainnya.1,2
4. Etiologi
Kelainan kromosom bertanggung jawab atas >50% dari semua abortus spontan.
Dianalisis sekitar 72% kasus terungkap aneuploidy dengan trisomi menjadi yang paling
umum. Penyebab lain mungki sekunder karena cacat genetik lainnya yang tidak mungkin
dibedakkan dengan kariotipe sederhana.1
5. Faktor Resiko
Risiko abortus meningkat dengan usia ibu, mulai dari 9% pada usia 22 tahun sampai
48% pada usia 48 tahun. Faktor resiko lainnya termasuk merokok, alkohol, asupan kafein
berlebih, abortus sebelumnya, lahir mati sebelumnya, komplikasi medis seperti diabetes,
dan perdarahan pervaginam. Penelitian baru-baru ini menunjukkan bahwa konsumsi kafein
dan kopi, terutama lebih dari tiga porsi perhari selama kehamilan secara signifikan
dikaitkan dengan abortus.1
6. Diagnosis1
a. Tranvaginal Ultrasound
Untuk memastikan 100% abortus dilakukan ultrasound (USG) di awal trimester.
Kriteria yang diadopsi dari Society of Radiologist in Ultrasound Multispecialty Panel.
b. Beta Human Chorionic Gonadotropin
Pada pasien yang stabil secara klinis dengan kehamilan yang sangat diinginkan,
satu level BHCG 3000 mIU/mL tidak dapat dibedakan antara kehamilan ektopik atau
abortus jika jantung kehamilan tidak divisualisasikan didalam rahim.
7. Tatalaksana1
a. Bad rest
Ada banyak bukti kualitas tinggi yang mendukung istirahat sebagai pencegahan
untuk abortus pada semester pertama kehamilan. Istirahat di tempat tidur tidak dapat
direkomendasikan untuk pencegahan. Sebenernya, itu mungkin berbahaya, mengingat
tingkat vena tromboembolisme yang lebih tinggi, otot atrofi, dan gangguan lainnya
yang terkait istirahat di tempat tidur.
b. Progesteron
Tidak ada bukti yang memedai untuk menilai efek suplementasi progesteron
pada wanita dengan ancaman abortus. tidak ada bukti efektivitas dengan penggunaan
progesteron dengan plasebo dalam mengurangi risiko abortus.
c. Human Chorionic Gonadotropin
Bukti saat ini tidak mendukung penggunaan hCG dalam pengobatan abortus.
Tidak ada perbedaan signifikan secara statistik dalam kejadian abortus antara hCG dan
tidak hCG (plasebo).
d. Relaksan otot
Tidak ada bukti yang memadai untuk penggunan obat pelemas otot uterus untuk
wanita dengan ancaman abortus, dan karenanya tidak seharusnya digunakan.
Management Abortus
a. Prinsip umum
Ada tiga pilihan untuk wanita dengan abortus yaitu hamil, medis, dan
menajemen bedah.
Manajemen yang berhasil memerlukan evakuasi yang lengkap dari uterus.
Keberhasilan masing-masing pilihan manajemen bergantung beberapa faktor,
misalnya jenis aborsinya (dengan atau tanpa gejala).
Kegagalan manajemen medis membutuhkan untuk dilakukannya evakuasi
bedah
Ada beberapa jenis manajemen pendekatan medis dan beberapan pendekatan
bedah.
b. Prinsip manajemen bedah
Prosedur: manajemen bedah abortus dapat dilakukan melalui aspirasi vakum
atau kuretase tajam
Aspirasi vakum lebih disukai karena dikaitkan dengan:
o Kehilangan darah yang sedikit
o Nyeri yang sedikit saat prosedur
o Durasi prosedur yang lebih pendek
o Sedikitnya komplikasi seperti perforasi uterus dan morbiditas lainnya.
Aspirasi vakum bisa dilakukan dengan vakum listrik Aspirasi (EVA) atau MVA
Lokasi: Aspirasi vakum bisa dilakukan di ruang operasi atau di ruang praktek
MVA adalah alternatif yang aman untuk masa gestasi 6-12 minggu, dan dapat
dilakukan di ruang praktik dengan anestesi lokal.
Tidak ada perbedaan signifikasn dalam keberhasilan atau komplikasi untuk
MVA dan EVA.
c. Prinsip manajemen medis
Obat yang digunakan
Misoprostol adalah analog prostaglandin E1, bersifat uterotonik yang
menyebabkan perlunakan serviks dan kontraksi untuk keluarkan produk
konsepsi. Efek samping sangat bervariasi.
Mifepristone adalah antiprogestin yang menyebabkan melemahnya uterus
untuk penempelan hasil konsepsi. Hal ini menghasilkan kerusakan kapiler dan
sintesis prostaglandin.
Metotreksat (intramuskular atau oral) berlawanan dengan asam folat, sebagai
kofaktor yang dibutuhkan untuk sintesis asam nukleat. Hai ini sangat toksikbagi
sel-sel trofoblas yang membelah.
Keberhasilan manajemen medis ditentukan oleh tidak adanya gejala yang
sginifikasn dan tidak adanya kantung gestasional pada USG transvaginal. Studi
yang digunakan ketebalan endometrium >15mm mungkin menurunkan tingkat
keberhasilan dan manajemen medis.
Keberhasilan manajemen medis lebih tinggi pada pasien dengan gejala seperti,
kram dan perdarahan.
Kontraindikasi

Komplikasi
Komplikasi jarang terjadi. kejadian infeksi ginekologis setelah operasi, hamil,
atau manajemen medis dari abortus rendah (2-3%). Tidak ada bukti yang
menunjukkan perbedaan risiko infeksi oleh pilihan manajemen.
Perbandingan manajemen medis dan bedah, tidak ada perbedaan komplikasi di
bawah ini:
o Perdarahan yang membutuhkan rawat inap dengan atau tanpa transfusi
o Rawat inap untuk endometrisis (<1%)
o Demam (3-4%)
o Kunjungan darurat ke rumah sakit dalam pengobatan 24 jam (2-3%)
o Kunjungan rumah sakit yang tidak terjadwal (17-23%)
o Penurunan hemoglobin <2g/dl (4-9%)
o Penurunan hemoglobin <3g/dl (1-5%)
8. Komplikasi1
Perdarahan vagina pada trimester pertama telah dikaitkan dengan beberapa komplikasi
pada kehamilan, termasuk perdarahan antepartum, ketuban pecah dini preterm, kelahiran
premature, IUGR, berat badan lahir rendah, dan kematian perinatal. Adanya hematoma
subchorionik yang terdeteksi pada USG (biasanya antara 5 dan 20 minggu) dikaitkan
dengan peningkatan risiko SAB, kematian janin intrauterine, dan kelahiran premature.
9. Pencegahan1
Modifikasi gaya hidup
Modulasi gaya hidup dapat meningkatkan potensi kesuburan, meski demikian
belum diuji secara acak. Modifikasi ini termasuk menghilangkan penggunaan produk
tembakau, alkohol, dan kafein serta penurunan indeks massa tubuh.
Multivitamin
Pada wanita berisiko tinggi, suplemen miltivitamin sebelum 20 minggu
dikaitkan dengan jumlahyang sama kematian janin. Suplemen multivitamin dikaitkan
dengan kajadian 38% lebih tinggi kehamilan multiple. Karena itu, suplementasi vitamin
tidak bisa direkomendasikan untuk pencegahan keguguran.
Progesteron
Tidak ada bukti yang mendukung penggunaan rutin progesteron (sintesis atau
alami) untuk mencegah abortus di awal. Tidak menunjukkan signifikan secara statistik
perbedaan risiko keguguran antara progesteron dan plasebo.
Suplementasi progesteron tidak dapat direkomendasikan untuk pencegahan keguguran,
mungkin ada manfaatnya pada wanita dengan riwayat abortus berulang