Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH BIMBINGAN KONSELING

ASAS-ASAS DAN KODE ETIK BIMBINGAN KONSELING

OLEH

Nama : DIANA SAFITRI


NIM/TM : 14035022/2014
Fakultas : FMIPA
Prodi : Pendidikan Kimia
Dosen Pembimbing : Dr. Yeni Karneli, M.Pd, Kons

MATA KULIAH DASAR ILMU KEPENDIDIKAN

UNIVERSITAS NEGERI PADANG


2015

KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr.Wb.

Segala puji syukur atas kehadirat Allah SWT karena atas karunia-Nyalah penulis dapat

menyelesaikan makalah ini sesuai dengan waktu yang direncanakan.

penulis sebagai penyusun juga mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing,

orang tua, dan teman-teman yang telah banyak membantu dan mendukung dalam menyelesaikan

makalah ini baik materi maupun moril.

Makalah ini disusun agar pembaca dapat mengetahui tentang hal-hal yang menyangkut

Asas-asas bk, peran guru mata pelajaran dalam penerapan asas bk serta kode etik bk.

Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca ,

khususnya sebagai calon pendidik.Walaupun dalam penyusunan makalah ini masih banyak

kesalahan dan kekurangan, oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat penulis

harapkan yang berguna untuk perbaikan yang lebih baik lagi.

Wassalamualaikum Wr.Wb.

Padang, September 2015

PENULIS

DAFTAR ISI
Kata Pengantar

Daftar Isi

Bab I Pendahuluan

1.1 Latar Belakang Masalah

1.2 Rumusan Masalah

1.3 Tujuan

Bab II Pembahasan

2.1 Asas-asas BK

2.2 Peran Guru Mata Pelajaran dalam Penerapan asas bk

2.3 Kode etik BK

Bab III Penutup

3.1 Kesimpulan

3.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003 pasal 3 menyatakan
bahwa Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta
peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan
untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan
menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Sejalan dengan tujuan pendidikan nasional maka dirumuskan tujuan pendidikan dasar
yakni memberi bekal kemampuan dasar kepada siswa untuk mengembangkan kehidupannya
sebagai pribadi, anggota masyarakat, warga negara dan anggota umat manusia serta
mempersiapkan siswa untuk mengikuti pendidikan menengah (pasal 3 PP nomor 28 tahun 1990
tentang Pendidikan Dasar).
Guru merupakan salah satu komponen penting dalam rangka mencapai amanat Undang-
Undang tersebut dimana guru mempunyai fungsi strategis mengembangkan potensi peserta didik
dalam hal ketakwaan, pengetahuan, sikap, dan keterampilan siswa secara keseluruhan. Peran
guru juga sangat diharapkan mampu secara optimal mengembangkan peserta didik dengan tidak
hanya sebagai pembelajar, melainkan juga sebagai pembimbing peserta didik dalam mengenal
dirinya dan lingkungannya. Hal ini dilakukan agar peserta didik tidak tersesat dalam proses
menuju generasi yang sesuai amanat Undang-Undang. Salah cara atau wadah untuk
mempermudah mewujudkan hal tersebut adalah layanan bimbingan dan konseling bagi peserta
didik di sekolah.
Bimbingan dan konseling merupakan bantuan kepada individu peserta didik dalam
menghadapi persoalan-persoalan yang dapat timbul dalam hidupnya atau dalam proses
belajarnya. Bantuan semacam itu sangat tepat jika diberikan di sekolah, agar setiap peserta didik
dapat lebih berkembang ke arah yang seoptimal mungkin. Dengan demikian bimbingan dan
konseling menjadi bidang layanan khusus dalam keseluruhan kegiatan pendidikan sekolah yang
ditangani oleh tenaga-tenaga ahli dalam bidang tersebut, termasuk seorang guru.
Dalam konteks pemberian layanan bimbingan konseling, Prayitno (1997:35-36)
mengatakan bahwa pemberian layanan bimbingan konseling meliputi layanan orientasi,
informasi, penempatan dan penyaluran, pembelajaran, konseling perorangan, bimbingan
kelompok, dan konseling kelompok.
Guru mata pelajaran harus melaksanakan ketujuh layanan bimbingan konseling tersebut
agar setiap permasalahan yang dihadapi siswa dapat diantisipasi sedini mungkin sehingga tidak
menggangu jalannya proses pembelajaran. Dengan demikian siswa dapat mencapai prestasi
belajar secara optimal tanpa mengalami hambatan dan permasalahan pembelajaran yang cukup
berarti.
Realitas di lapangan yaitu yang terjadi di sekolah menunjukkan bahwa peran guru mata
pelajaran dalam pelaksanaan bimbingan konseling belum dapat dilakukan secara optimal
mengingat tugas dan tanggung jawab guru mata pelajaran yang sarat akan beban selain
melaksanakan tugas pokoknya menyampaikan semua materi, guru mata pelajaran juga dibebani
seperangkat administrasi yang harus dikerjakan, sehingga tugas memberikan layanan bimbingan
konseling belum dapat dilakukan secara maksimal.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apasajakah asas-asas dari bimbingan konseling?

2. Bagaimanakah peran guru mata pelajaran dalam penerapan asas BK?

3. Bagaimanakah kode etik dari bimbingan konseling?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui dan memahami asas-asas bimbingan konseling.

2. Untuk mengetahui dan memahami bagaimana peranan yang seharusnya dilakukan


oleh guru mata pelajaran dalam menerapkan asas BK.

3. Untuk mengetahui kode etik dari bimbingan konseling.


BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Asas-Asas Bimbingan Konseling

Pelayanan bimbingan dan konseling adalah pekerjaan prodesional sesuai dengan makna
uraian tentang pemahaman, pelanggaran, dan penyikapan (yang meliputi unsure-unsur kognisi,
afeksi dan perlakuan) konselor terhadap kasus pekerjaan professional itu harus dilaksanakan
dengan mengikuti kaidah-kaidah yang menjamin efisien dan efektivitas proses dan lain-lainya.
Kaidah-kaidah tersebut didasarkan atas tuntutan keilmuan layanan di satu segi (antara lain bahwa
layanan harus didasarkan atas data dan perkembangan klien),dan tuntutan optimalisasi proses
penyelenggaraan layanan di segi lain (yaitu suasana konseling ditandai oleh adanya
kehangatan,pemahaman,penerimaaan,kebebasan dan keterbukaan,serta sebagai sumber daya
yang perlu diaktifkan). Asas bimbingan dan konseling yaituketentuan-ketentuan yang harus
diterapkan dalam penyelenggaraann layanan itu. Apabila asas-asas itu diselenggarakan dan
diikuti dengan baik,maka dapat diharapkan proses pelayanan mengarah pada pencapaian tujuan
yang diharapkan;sebaliknya,apabila asas itu diabaikan atau dilanggar maka sangat dikhawatirkan
kegiatan yang terlaksana itu justru berlawanan dengan tujuan bimbingan dan konseling,bahkan
akan dapat merugikan orang-orang yang terlibat dalam pelayanan,serta profesi bimbingan dan
konseling itu sendiri.
Dalam menyelenggarakan layanan bimbingan dan konseling di sekolah hendaknya selalu
mengacu pada asas-asas bimbingan dan konseling. Asas-asas ini dapat diterapkan yakni asas
kerahasiaan, asas kesukarelaan, asas keterbukaan, asas kekinan,asas kemandirian, asas
kegiatanasas kedinamisan, asas keterpaduan, asas kenormatifan, asas keahlian, asas alih tangan,
dan asas tutwuri handayani
Untuk mendapatkan wawsan dan pemahaman yang memadai mengenai asas-asas bimbingan dan
konseling diatas dijelaskan sebagai berikut :
1. Asas kerahasiaan
Pelayanan bimbingan dan konseling ada kalanya berhubungan dengan klien yang mengalami
masalah. Sebagaimana telah diketahui bahwa dalam kegiatan bimbingan konseling kadang-
kadang klient harus menyampaikan hal-hal yuang sangat pribadi/ rahasia, kepada konselor, oleh
karena itu konselor harus menjaga kerahasiaan data yang diperolehnya dari klientnya. Bagi klien
yang bermasalah dan ingin menyelesaikan masalahnya akan sangat membutuhkan bantuan dari
orang yang dapat memnyimpan kerahasian masalah yang dihadapinya. Oleh karena itu segala
sesuatu yang dibicarakan klien kepada konselor tidak boleh disebarluaskan kepad pihak lain.Jika
asas ini benar-benar dilaksanakan oleh konselor, maka konselor akan mendapat kepercayaan
dari semua pihak dan mereka akan memanfaatkan jasa bimbingan dan konseling dengan sebaik-
baiknya. Sebaliknya ,jika konselor tidak dapat memegang asas kerahasiaan ini dengan baik,maka
hilanglah kepercayaan klien terhadap konselor,sehingga akibatnya pelayanan bimbingan tidak
dapat tempat atau diterima di hati klien dan para calon klien. Selain itu klien akan takut meminta
bantuan pada konselor sebab khwatir masalah dan diri mereka akan menjadi bahan pembicaraan
orang. Sementara itu ada kemungkinana klien akan menyebarluaskan pengalaman yang yang
tidak menyenangkan ini kepada klien lain. Hal yang demikian dapat berdampak terhadap
pelaksanaan bimbingan dan konseling selanjutnya,dan konselor tidak dapat dipercaya oleh klien.
Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa asas kerahasiaan merupakan asas kunci dalam
usaha bimbingan dan konseling,dan harus benar-benar dilaksanakan dengan penuh tanggung
jawab.

2. Asas kesukarelaan
Proses bimbingan dan konseling harus berlangsung atas dasar kesukarelaan,baik dari pihak
konselor maupun klien.Dengan ini keberhasilan pelayanan bimbingan dan konseling akan
tercapai.kesukarelaan itu ada pada konselor maupun pada klien. Artinya klien secara sukarela
tanpa cara terpaksa mau menyampaikan masalah yang ditanganinya dengan mengungkapkan
secara terbuka hal-hal yang dialaminya,serta mengungkapkan segenap fakta,data dan seluk beluk
yang berkenaan dengan masalah yang dialaminya. Sementara konselor hendaknya dapat
memberikan bantuan dnegan tidak terpaksa,atau dengan kata lain konselor memberikan bantuan
dnegan ikhlas.
3. Asas keterbukaan
Dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling sangat diperlukan suasana keterbukaan,baik dari
pihak konselor maupun klien. Keterbukaan ini bukan hanya sekadar bersedia menerima saran-
saran dari luar, malahan lebih dari itu,diharapkan masing pihak yang bersangkutan bersedia buka
diri untuk kepentingan masalah.individu yang membutuhkan bimbngan diharapakan dapat
berbicara sejujur mungkin dan berterus terang tentang dirinya sendiri sehingga dengan
keterbukaan ini penelahan serta pengkajian berbagai kekuatan dan kelemahan klien dapat
dilaksanakan
Keterusterangan si klien akan terjadi jika klien tidak lagi mempersoalkan asas kerahasiaan dan
kesukarelaan maksudnya klien betul- betul mempercyai konselor dan benar benar
mengharapakan bantuan dari konselornya.
Keterbukaan disisni ditinjau dari 2 arah .dari pihak klien diharapakan pertama-tama membuka
diri sehingga apa yang ada pada dirinya dapat diketahui oleh orang lain(dalam hal ini orang
konselor)dan yang kedua mau membuka diri dalam arti mau menerima saran dan masukan
lainnya dari pihak luar.dari pihak konselor keterbukaan terwujud dengan kesedian konselor
menjawab pertanyaan- pertanyaan dari klien dan mengunkapkan diri konselor sendiri jika hal itu
memang di kehendaki oleh klien.dalam hubungan suasana seperti itu masing- masing pihak
bersifat transparan(terbuka)terhadap pihak lainya.dengan keterbukaan ini penelahan masalah
serta pengkajian berbagai kekuatan dan kelemahan klien semakin muda dipahami.

4. Asas kekinian
Masalah klien yang ditangani melalui kegiatan dan bimbingan dan konseling adalah masalah
masalah yang sedang dirasakan,bukan masalah yang pernah dialami pada masa lampau,dan juga
bukan masalah yang mungkin dialami di masa yang akan datang .apabila ada hal tertentu yang
menyangkut masa lampu dan atau masalah yang akan datang yang perlu dibahas dalam upaya
bimbingan yang sedang di selenggrakan itu,pembahasan tersebut hanyalah merupakn latar
belakang dan atau latar depan dari maslah yang dihadapi sekarang,sehingga masalah yang
sedang dialami dapat terselesaikan.dalam usaha bersifat pencegahan,pada dasarnya pertanyaan
yang perlu dijawab adalah apa yang perlu dilakukan sekarang sehingga kemungkinan yang tidak
baik dapat di hindari.
Asas kekinian juga mengandung pengertian bahwa konselor tidak boleh menundah-nundah
pemberian bantuan. Jika diminta bantuan oleh klien atau jelas-jelas terlihat misalnya adanya
siswa yang mengalami masalah, maka konselor hendaklah segera memberi bantuan. Konselor
tidak selayaknya menunda-nunda memberi bantuan dengan berbagai dalih. Konselor harus
mendahulukan kepentingan klien dari pada yang lainnya. Jika konselor benar-benar memiliki
alasan yang kuat untuk tidak memberi bantuannya maka harus dapat mempertanggungjawabkan
bahwa penundaan yang dilakukan itu justru untuk kepentingan klien.
5. Asas Kemandirian
Pelayanan bimbingan dan konseling bertujuan menjadikan klien dapat berdiri sendiri tidak
bergantung pada orang lain atau konselor. Ciri-ciri pokok dari individu yang setelah dibimbing
dan dapat mandiri adalah sebagai berikut:
a. Mengenal diri sendiri dan lingkungan sebagai mana adanya
b. Menerima diri sendiri dan lingkungan secara positif dan dinamis
c. Mengambil keputusan untuk dan oleh diri sendiri
d. Mengarahkan diri sendiri sendiri sesuai keputusan itu
e. Mewujudkan diri secara optimal sesuai dengan potensi,minat,dan kemampuan yang dimilikinya
Kemandirian dengan ciri-ciri umum diatas haruslah di sesuaikan dengan tingkat perkembangan
dan peranan klien dalam kehidupan sehari-hari. Kemandirian sebagai hasil konseling menjadi
arah dari keseluruhan proses konseling,dan hal itu didasari baik oleh konselor maupun klien.
Dengan demikian,maka para konselor hendaknya senantiasa berusaha menghidupkan
kemandirian pada diri klien,bukan justru menghidupkan ketergantungan klien pada konselor.
6. Asas kegiatan
Usaha bimbingan dan konseling tidak akan memberikan buah yang berarti bila klien tidak
melakukan sendiri dalam mencapai tujuan bimbingan dan konseling. Hasil usaha bimbingan dan
konseling tidak akan tercapai dengan sendirinya,melainkan harus dengan kerja giat dari klien
sendiri. Konselor hendaknya membangkitkan semangat klien sehingga klien mampu dan mau
melaksanakan kegiatan yang diperlukan dalam penyelesaian masalah yang menjadi pokok
pembicaraan dalam konseling.
7. Asas kedinamisan
Upaya pelayanan bimbingan dan konseling menghendaki terjadinya perubahan pada diri klien
yang dibimbing yaitu perubahan tingkah laku kearah yang lebih baik. Perubahan itu tidak
sekedar mengulang hal yang lama yang bersifat monoton melainkan perubahan yang menuju ke
suatu pembaruan,sesuatu yang lebih maju,dinamis,sesuai dengan arah perkembangan klien yang
dikehendaki. Asas kedinamisan mengacuh pada hal-hal; yang baru yang hendaknya terdapat
pada dan menjadi ciri-ciri dari proses konseling dan hasil-hasilnya.
8. Asas keterpaduan
Pelayanan bimbingan dan konseling berusaha memadukan sebagai aspek kepribadian klien.
Sebagaimana diketahui klien memiliki berbagai aspek kepribadian yang kalau keadaannya tidak
seimbang,serasi dan terpadu justru akan menimbulkan masalah. Disamping keterpaduan pada
diri klien,juga harus diperhatikan keterpaduan isi dan proses layanan yang diberikan. Jangan
terjadinya aspek layanan yang satu dengan aspek layanan yang lainnya menjadi tidak serasi.
Untuk terselenggaranya asas keterpaduan,konselor perlu memiliki wawasan yang luas tentang
perkembangan klien dan aspek-aspek lingkungan klien,serta sebagai sumber yang dapat
diaktifkan untuk menangani masalah klien. Kesemuanya itu dipadukan dalam keadaan serasi dan
saling menunjang dalam upaya bimbingan dan konseling.
9. Asas kenormatifan
Usaha bimbingan dan konseling tidak boleh bertentangan dengan norma-norma yang
berlaku,baik ditinjau dari norma agama,adat,hukum atau negara,ilmu, maupun kebiasaan sehari-
hari. Asas ini diterapkan terhadap isi maupun proses penyelenggaraan bimbingan dan konseling.
Seluruh isi layanan harus sesuai dengan norma-norma yang ada. Demikian pula
prosedur,tekhnik,dan peralatan yang dipakai tidak menyimpang dari norma-norma yang
dimaksudkan. Ditinjau dari permasalahan klien,barangkali pada awalnya ada materi bimbingan
dan konseling yang tidak bersesuaian dengan norma (misalnya klien mengalami masalah
melanggar norma-norma tertentu), namun justru dengan pelayanan bimbingan dan konselinglah
tingkah laku yang melanggar norma itu di arahkan kepada yang lebih bersesuaian dengan norma.
10. Asas Keahlian
Usaha bimbingan konseling perlu dilakukan asas keahlian secara teratur dan sistematik dengan
menggunakan prosedur, tekhnik dan alat (instrumentasi bimbingan dan konseling) yang
memadai. Untuk itu para konselor perlu mendapat latihan secukupnya, sehingga dengan itu akan
dapat dicapai keberhasilan usaha pemberian layanan. Pelayanan bimbingan dan konseling adalah
pelayanan profesional yang diselenggarakan oleh tenaga-tenaga ahli yang khusus dididik untuk
pekerjaan itu. Asas ini selain mengacu kepada kualifikasi konselor (misalnya pendidikan sarjana
bidang bimbingan dan konseling ), juga kepada pengalaman. Teori dan praktek bimbingan dan
konselor perlu dipadukan. Oleh karena itu, seorang konselor ahli harus benar-benar menguasai
teori dan praktek konseling secara baik.
11. Asas Alih Tangan
Dalam pemberian layanan bimbingan dan konseling,asas ini jika konselor sudah mengerahkan
segenap kemampuannya untuk membantu individu, namun inidividu yang bersangkutan belum
dapat terbantu sebagaimana yang diharapkan,maka konselor dapat mengirim individu tersebut
kepada petugas atau badan yang lebih ahli. Disamping itu asas ini juga mengisyaratkan bahwa
pelayanan bimbingan konseling hanya menangani masalah-masalah individu sesuai dengan
kewenangan petugas yang bersangkutan, dan setiap masalah yang ditangani oleh ahli yang
berwenang untuk itu. Hal terakhir itu secara langsung mengacu kepada batasan yang telah
diuraikan pada BAB II ,bahwa bimbingan dan konseling hanya memberikan kepada individu-
individu yang pada dasarnya normal (tidak sakit jasmani maupun rohani) dan bekerja dengan
kasus-kasus yang terbebas dari masalah-masalah kriminal maupun perdata.
12. Asas Tutwuri Handayani
Asas ini menunjuk pada suasana umum yang hendaknya tercipta dalam rangka hubungan
keseluruhan antara konselor dan klien. Lebih-lebih dilingkungan sekolah, asas ini makin
dirasakan keperluannya dan bahkan perlu dilengkapi dengan ing ngarso sung tulodo,ing madya
mangun karso. Asas ini menuntut agar layanan bimbingan dan konseling tidak hanya dirasakan
pada waktu klien mengalami masalah dan menghadap kepada konselor saja ,namun diluar
hubungan proses bantuan bimbingan dan konseling pun hendaknya dirasakan adanya dan
manfaatnya pelayanan bimbingan dan konseling itu.

2.2 Peran Guru Mata Pelajaran dalam Penerapan Asas BK


Guru berusaha membimbing siswa agar dapat menemukan berbagai potensi yang
dimilikinya, membimbing siswa agar dapat mencapai dan melaksanakan tugas-tugas
perkembangan mereka, sehingga dengan ketercapaian itu ia dapat tumbuh dan berkembang
sebagai individu yang mandiri dan produktif. Siswa adalah individu yang unik. Artinya, tidak
ada dua individu yang sama. Walaupun secara fisik mungkin individu memiliki kemiripan, akan
tetapi pada hakikatnya mereka tidaklah sama, baik dalam bakat, minat, kemampuan dan
sebagainya. Di samping itu setiap individu juga adalah makhluk yang sedang berkembang. Irama
perkembangan mereka tentu tidaklah sama juga. Perbedaan itulah yang menuntut guru harus
berperan sebagai pembimbing.
Hubungan guru dan siswa seperti halnya seorang petani dengan tanamannya. Seorang
petani tidak bisa memaksa agar tanamannya cepat berbuah dengan menarik batang atau daunnya.
Tanaman itu akan berbuah manakala ia memiliki potensi untuk berbuah serta telah sampai pada
waktunya untuk berbuah. Tugas seorang petani adalah menjaga agar tanaman itu tumbuh dengan
sempurna, tidak terkena hama penyakit yang dapat menyebabkan tanaman tidak berkembang dan
tidak tumbuh dengan sehat, yaitu dengan cara menyemai, menyiram, memberi pupuk dan
memberi obat pembasmi hama. Demikian juga halnya dengan seorang guru. Guru tidak dapat
memaksa agar siswanya jadi itu atau jadi ini. Siswa akan tumbuh dan berkembang menjadi
seseorang sesuai dengan minat dan bakat yang dimilikinya. Tugas guru adalah menjaga,
mengarahkan dan membimbing agar siswa tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensi,
minat dan bakatnya. Inilah makna peran sebagai pembimbing. Jadi, inti dari peran guru sebagai
pembimbing adalah terletak pada kekuatan intensitas hubungan interpersonal antara guru dengan
siswa yang dibimbingnya.
Di sekolah, tugas dan tanggung jawab utama guru adalah melaksanakan kegiatan
pembelajaran siswa. Kendati demikian, bukan berarti dia sama sekali lepas dengan kegiatan
pelayanan bimbingan dan konseling. Peran dan konstribusi guru mata pelajaran tetap sangat
diharapkan guna kepentingan efektivitas dan efisien pelayanan Bimbingan dan Konseling di
sekolah. Bahkan dalam batas-batas tertentu guru pun dapat bertindak sebagai konselor bagi
siswanya. Wina Senjaya (2006) menyebutkan salah satu peran yang dijalankan oleh guru yaitu
sebagai pembimbing dan untuk menjadi pembimbing baik guru harus memiliki pemahaman
tentang anak yang sedang dibimbingnya. Sementara itu, berkenaan peran guru mata pelajaran
dalam bimbingan dan konseling, Sofyan S. Willis (2005) mengemukakan bahwa guru-guru mata
pelajaran dalam melakukan pendekatan kepada siswa harus manusiawi-religius, bersahabat,
ramah, mendorong, konkret, jujur dan asli, memahami dan menghargai tanpa syarat.
Lebih jauh, Abin Syamsuddin (2003) menyebutkan bahwa guru sebagai pembimbing
dituntut untuk mampu mengidentifikasi siswa yang diduga mengalami kesulitan dalam belajar,
melakukan diagnosa, prognosa, dan kalau masih dalam batas kewenangannya, harus membantu
pemecahannya (remedial teaching). Berkenaan dengan upaya membantu mengatasi kesulitan
atau masalah siswa, peran guru tentu berbeda dengan peran yang dijalankan oleh konselor
profesional. Sofyan S. Willis (2004) mengemukakan tingkatan masalah siswa yang mungkin bisa
dibimbing oleh guru yaitu masalah yang termasuk kategori ringan, seperti: membolos, malas,
kesulitan belajar pada bidang tertentu, berkelahi dengan teman sekolah, bertengkar, minum
minuman keras tahap awal, berpacaran, mencuri kelas ringan.
Dalam konteks organisasi layanan Bimbingan dan Konseling, di sekolah, peran dan
konstribusi guru sangat diharapkan guna kepentingan efektivitas dan efisien pelayanan
Bimbingan dan Konseling di sekolah. Prayitno (2003) memerinci peran, tugas dan tanggung
jawab guru-guru mata pelajaran dalam bimbingan dan konseling adalah:
1. Membantu konselor mengidentifikasi siswa-siswa yang memerlukan layanan
bimbingan dan konseling, serta pengumpulan data tentang siswa-siswa tersebut.
2. Membantu memasyarakatkan pelayanan bimbingan dan konseling kepada siswa.
3. Mengalihtangankan siswa yang memerlukan pelayanan bimbingan dan konseling
kepada konselor.
4. Menerima siswa alih tangan dari konselor, yaitu siswa yang menuntut konselor
memerlukan pelayanan khusus, seperti pengajaran/latihan perbaikan, dan program pengayaan.
5. Membantu mengembangkan suasana kelas, hubungan guru-siswa dan hubungan siswa-
siswa yang menunjang pelaksanaan pelayanan pembimbingan dan konseling.
6. Memberikan kesempatan dan kemudahan kepada siswa yang memerlukan
layanan/kegiatan bimbingan dan konseling untuk mengikuti/menjalani layanan/kegiatan yang
dimaksudkan itu.
7. Berpartisipasi dalam kegiatan khusus penanganan masalah siswa, seperti konferensi
kasus.
8. Membantu pengumpulan informasi yang diperlukan dalam rangka penilaian pelayanan
bimbingan dan konseling serta upaya tindak lanjutnya.

Implementasi kegiatan Bimbingan dan Konseling dalam pelaksanaan Kurikulum Berbasis


Kompetensi sangat menentukan keberhasilan proses belajar-mengajar. Oleh karena itu peranan
guru mata pelajaran dalam pelaksanaan kegiatan Bimbingan Konseling sangat penting dalam
rangka mengefektifkan pencapaian tujuan pembelajaran yang dirumuskan.
Agar guru dapat mengoptimalkan perannya sebagai pembimbing, berikut ini beberapa
hal yang perlu diperhatikan:
a. Guru harus memiliki pemahaman tentang anak yang sedang dibimbingnya. Misalnya
pemahaman tentang gaya dan kebiasaan belajar serta pemahaman tentang potensi dan
bakat yang dimiliki anak, dan latar belakang kehidupannya. Pemahaman ini sangat
penting, sebab akan menentukan teknik dan jenis bimbingan yang harus diberikan
kepada mereka.
b. Guru dapat memperlakukan siswa sebagai individu yang unik dan memberikan
kesempatan kepada siswa untuk belajar sesuai dengan keunikan yang dimilikinya.
c. Guru seyogyanya dapat menjalin hubungan yang akrab, penuh kehangatan dan saling
percaya, termasuk di dalamnya berusaha menjaga kerahasiaan data siswa yang
dibimbingnya, apabila data itu bersifat pribadi.
d. Guru senantiasa memberikan kesempatan kepada siswanya untuk mengkonsultasikan
berbagi kesulitan yang dihadapi siswanya, baik ketika sedang berada di kelas maupun
di luar kelas.
e. Guru sebaiknya dapat memahami prinsip-prinsip umum konseling dan menguasai
teknik-tenik dasar konseling untuk kepentingan pembimbingan siswanya, khususnya
ketika siswa mengalami kesulitan-kesulitan tertentu dalam belajarnya.

2.3 Kode Etik BK

Kode etik jabatan ialah pola ketentuan/ aturan/ tata cata yang menjadi pedoman dalam
menjalankan tugas dan aktivitas suatu profesi Winkel (1992)
Rumusan kode etik bimbingan dan konseling yang dikemukakan oleh Ikatan Petugas
Bimbingan Indonesia yang dikutip oleh Syahril dan Riska Ahmad (1982), yaitu :
a. Pembimbing/konselor menghormati harkat pribadi, integritas,dan keyakinan klien.
b. Pembimbing/konselor menempatkan kepentingan klien diatas kepentingan pribadi
pembimbing/konselor sendiri.
c. Pembimbing/konselor tidak membedakan klien atas dasar suku bangsa, warna kulit,
kepercayaan atau status social ekonomi.
d. Pembimbing/konselor dapat menguasai dirinya dalam arti kata berusaha untuk
mengerti kekurangan-kekurangannya dan prasangka-prasangka yang ada pada dirinya
yang dapat mengakibatkan rendahnya mutu layanan yang akan diberikan serta
merugikan klien.
e. Pembimbing/konselor mempunyai serta memperlihatkan sifat-sifat rendah hati,
sederhana, sabar, tertib, percaya pada paham hidup sehat.
f. Pembimbing/konselor terbuka terhadap saran atau pendapat yang diberikan
kepadanya, dalam hubungannya dengan ketentuan-ketentuan tingkah laku professional
sebagaimana dikemukakan dalam kode etik bimbingan dan konselor.
g. Pembimbing/konselor memiliki sifat tanggung jawab, baik terhadap lembaga dan
orang-orang yang dilayani maupun terhadap profesinya.
h. Pembimbing/konselor mengusahakan mutu kerjanya setinggi mungkin. Dalam hal ini
dia perlu menguasai keterampilan dan menggunakan teknik-teknik dan prosedur-
prosedur khusus yang dikembangkan atas dasar ilmiah.
i. Pembimbing/konselor menguasai pengetahuan dasar yang memadrai tentang hakikat
dan tingkah laku orang, serta tentang teknik dan prosedur layanan bimbingan guna
memberikan layanan dengan sebaik-baiknya.
j. Seluruh catatan tentang diri klien informasi yang bersifat rahasia, dan pembimbing
menjaga kerahasianan ini. Data ini hanya dapat disampaikan kepada yang berwenang
menafsirkan dan mengunakannya, dan hanya dapat diberikan atas dasar persetujuan
klian
k. Sesuatu tes hanaya boleh diberikan oleh petugas yang berwenang mengunakan
menafsirkan hasilnya
l. Testing psikologi baru boleh diberikan dalam penanganan kasus dan keperluan
lainyang membutuhkan data tentang sifat atauu diri kepribadian serta taraf inteligensi,
minat, bakat dan kecenderungan dalam diri pribadi diri seseorang
m. Data hasil tes psikologi harus di intergransikan dalam informasi lainnya dari diperoleh
sumber lain, serta harus diperlakukan setaraf dengan informasi lainnya itu
n. Konselor memberikan orientasi yang dapat tepat kepada kien mengenai alas an
digunakannya tes psiologi dan hubungannya dengan masalah yang dihadapi klien.
o. Hasil tes psikologi diberitahukan kepada klien dengan disertai dengan alasan-alasan
tentang kegiatannya dan hasil tersebut dapat diberitahukan pada pihak lain, sejauh
pihak yang diberitahu itu ada hubungannya dengan usaha bantuan pada klien dan tidak
merugikan klien sendiri.
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

1. Asas-asas dari bimbingan konseling terdiri dari asas kerahasiaan, kesukarelaan, katerbukaan,
kekinian, kemandirian, kegiatan, keterpaduan, kedinamisan, kenormatifan, keahlian, alih
tangan, dan tut wuri handayani.

2. Peranan guru mata pelajaran dalam menerapkan prinsip BK:


1. Membantu konselor mengidentifikasi siswa-siswa yang memerlukan layanan
bimbingan dan konseling, serta pengumpulan data tentang siswa-siswa tersebut.
2. Membantu memasyarakatkan pelayanan bimbingan dan konseling kepada siswa.
3. Mengalihtangankan siswa yang memerlukan pelayanan bimbingan dan konseling
kepada konselor.
4. Menerima siswa alih tangan dari konselor, yaitu siswa yang menuntut konselor
memerlukan pelayanan khusus, seperti pengajaran/latihan perbaikan, dan
program pengayaan.
5. Membantu mengembangkan suasana kelas, hubungan guru-siswa dan hubungan
siswa-siswa yang menunjang pelaksanaan pelayanan pembimbingan dan
konseling.
6. Memberikan kesempatan dan kemudahan kepada siswa yang memerlukan
layanan/kegiatan bimbingan dan konseling untuk mengikuti/menjalani
layanan/kegiatan yang dimaksudkan itu.
3. Rumusan kode etik bimbingan dan konseling yang dikemukakan oleh Ikatan Petugas
Bimbingan Indonesia yang dikutip oleh Syahril dan Riska Ahmad (1982), yaitu :
a. Pembimbing/konselor menghormati harkat pribadi, integritas,dan keyakinan klien.
b. Pembimbing/konselor menempatkan kepentingan klien diatas kepentingan pribadi
pembimbing/konselor sendiri.
c. Pembimbing/konselor tidak membedakan klien atas dasar suku bangsa, warna kulit,
kepercayaan atau status social ekonomi.

3.2 Saran
Sebagai seorang guru mata pelajaran, kita harus memiliki sikap simpati kepada peserta
didik dalam mengidentifikasi permasalahan yang terjadi pada peserta didik dengan berbagai
faktor yang melatar belakanginya. Peran guru sebagai pengajar sekaligus pendidik harus mampu
mendukung dan mengembangkan potensi yang dimiliki peserta didiknya. Guru mata pelajaran
sebaiknya mampu menjadi jembatan penghubung antara siswa dengan guru pembimbing (guru
BK) sehingga mampu mengatasi permasalahan yang sedang dihadapi peserta didik, dengan
memahami juga konsep dari asas-asas BK dank ode etik BK.
DAFTAR PUSTAKA

Haryono. 2010. ASAS BIMBINGAN KONSELING. (di unduh melalui :


http://belajarpsikologi.com)

Sudrajat, Akhmad. 2008. Fungsi Prinsip dan Asas Bimbingan Konseling. (di unduh melalui :
http://akhmadsudrajat.wordpress.com)

http://nurulmutmainna1293.blogspot.co.id/2014/05/kode-etik-bimbingan-dan-konseling.html

https://afhny.wordpress.com/peran-guru-dalam-bimbingan-konseling/html

http://teguhfuady.blogspot.com/2010/04/asas-prinsip-dan-tujuan-bimbingan.html

http://ashakhso.blogspot.com/2012/01/asas-asas-dan-prinsip-prinsip-bimbingan.html