Anda di halaman 1dari 10

Nama : Fadila Anggraini

NPM : 1102007105

1. Memahami tentang pembiayaan kesehatan di klinik dokter keluarga.


Macam dan sumber pembiayaan
biaya kesehatan adalah besarnya dana yang harus disediakan untuk menyelenggarakan dan
atau memanfaatkan berbagai upaya kesehatan yang diperlukan oleh perorangan, keluarga,
kelompok dan masyarakat.
Biaya kesehatan dapat dilihat dari dua sudut:
1. penyedia pelayanan kesehatan (health provider)
besarnya dana yang harus disediakan untuk dapat menyelenggarakan upaya kesehatan
dan lebih menunjuk pada seluruh biaya investasi (investment cost) dan biaya operasional
(operational cost). Ini merupakan persoalan utama dari pihak pemerintah atau swasta
yakni pihak-pihak yang menyelenggarakan upaya kesehatan.
2. pemakai jasa kesehatan (health consumer)
besarnya dana yang harus disediakan untuk dapat memanfaatkan jasa pelayanan.ini
menjadi persoalan utama para pemakai jasa pelayanan.
Sumber biaya kesehatan:
pemerintah, swasta, masyarakat, sumber lain(hibah, pinjaman dari luarnegri).
1. seluruhnya bersumber dari anggaran pemerintah
tergantung dari bentuk pemerintahan yang dianut, ada ditemukan suatu negara yang
menanggung biaya kesehatan sepenuhnya (cuma-cuma), pada negara seperti ini tidak
ditemukan pelayanan kesehatan swasta.
2. sebagian ditanggung oleh masyarakat
masyarakat diajak berperan serta, baik dalam menyelenggarakan upaya kesehatan
ataupun pada waktu memanfaatkan jasa pelayanan kesehatan. Dapat ditemukan
pelayanan kesehatan swasta,dalam hal ini masyarakat diharuskan membayar pelayanan
kesehatan yang dimanfaatkannya.
Macam-macam biaya kesehatan:
Tergantung dari jenis dan kompleksitas pelayanan kesehatan yang diselenggarakan dan atau
dimanfaatkan. Hanya saja disesuaikan dengan pembagian pelayanan kedokteran, maka
biaya kesehatan tersebut.
secara umum dapat dibedakan atas dua macam yakni:
1. biaya pelayanan kedokteran
biaya yang dimaksud adalah yang dibutuhkan intuk menyelenggarakan dan atau
memanfaatkan pelayanan kedokteran. Yakni yang tujuan utamanya untuk mengobati
penyakit serta memulihkan kesehatan penderita.
2. biaya pelayanan kesehatan masyarakat
biaya yang dimaksud adalah yang dibutuhkan untuk menyelenggarakan dan atau
memanfaatkan pelayanan kesehatan masyarakat. Yakni yang tujuan utamanya untuk
memelihara dan meningkatkan kesehatan serta untuk mencegah penyakit.
asuransi kesehatan
adalah suatu mekanisme pengalihan resiko(sakit) dari resiko perorangan menjadi resiko
kelompok. Dengan cara mengalihkan resiko individu menjadi resiko kelompok, beban
ekonomi yang harus dipikul oleh masing0masing peserta asuransi akan lebih tetapu
mengandung kepastian karena memperoleh jaminan.
Unsur-unsur asuransi kesehatan:
ada perjanjian
ada pembelian perlindungan
ada pembayaran premi oleh masyarakat
jenis-jenis asuransi kesehatan di Indonesia:
a) asuransi kesehatan sosial (social health insurance)
asuransi ini memegang teguh prinsipnya bahwa kesehatan adalah sebuah pelayanan
sosial, pelayanan kesehatan tidak boleh semata-mata diberikan berdasarkan status sosial
masyarakat sehingga semua lapisan berhak untuk memperoleh jaminan pelayanan
kesehatan. contoh: PT.askes, PT.jamsostek
Prinsip kerja:
keikutsertaannya bersifat wajib
menyertakan tenaga kerja dan keluarganya
iuran/premi berdasarkan persentase gaji/pendapatan. Idealnya harus dihitung 5% dari
GDP
premi untuk tenaga kerja ditanggung bersama (50%) oleh pemberi kerja dan tenaga
kerja
premi tidak ditentukan oleh resiko perorangan tetapi didasarkan pada resiko
kelompok (collective risk sharing)
tidak diperlukan pemeriksaan awal
jaminan pemeliharaan kesehatan yang diperoleh bersifat menyeluruh (universal
coverage)
peran pemerintah sangat besar untuk mendorong berkembangnya asuransi kesehatan
sosial di Indonesia. Semua pegawai negeri diwajibkan untuk mengikuti asuransi
kesehatan
b) asuransi kesehatan komersial perorangan(private voluntary health insurance)
jenis asuransi ini dapat dibeli preminya baik individu maupun segmen masyarakat kelas
menengah keatas.contoh: lipo life, BNI life, Tugu Mandiri dll.
Prinsip kerja:
kepersertaan bersifat perorangan dan sukarela
iuran/premi berdasarkan angka absolut, ditetapkan berdasarkan jenis tanggungan
yang dipilih.
Premi berdasarkan atas resiko perorangan dan ditentukan faktor usia, jenis kelamin,
jenis pekerjaan.
Dilakukan pemeriksaan kesehatan awal
Santunan diberikan sesuai kontrak
Peranan pemerintah relatif kecil
c) asuransi kesehatan komersial kelompok (regulated private health insurance)
ini merupakan alternatif lain sistem asuransi kesehatan komersial dengan prinsip-prinsip
dasar sbb:
keikutsertaan bersifat sukarela berkelompok
iuran/preminya dibayar berdasarkan atas angka absolut
perhitugan premi bersifat community rating yang berlaku untuk kelompok
masyarakat
santunan (jaminan pemeliharaan kesehatan) diberikan sesuai dengan kontrak
tidak diperlukan pemeriksaan awal
peranan pemerintah cukup besar dengan membuat peraturan perundang-undangan.

2. Memahami tentang sisem pembiayaan kesehatan dalam Islam.


Penyelenggaraan kesehatan dalam pandangan Islam termasuk pengertian riayatus
suun(pelayanan umum) yang wajib dilakukan oleh negara atas seluruh rakyatnya, baik muslim
maupun non muslim, kaya ataupun miskin. Seluruh biaya yang diperlukan secara wajib di
tanggung oleh Baitul Mal (kas negara). Adapun peran non-pemerintah (swasta) dalam
pembiayaan kesehatan bukanlah hal yang utama.
Negara bertanggung jawab menjamin pemenuhan kebutuhan dasar itu. Nabi saw
Bersabda : Imam (Khalifah) laksana pengembala dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya
( HR al-Bukhari). Tidak terpenuhinya atau terjaminnya kesehatan dan pengobatan akan
mendatangkan dharar bagi masyarakat. Oleh karena itu, penyediaan layanan kesehatan menjadi
tanggung jawab dan kewajiban negara (Khilafah). Khilafah wajib membangun berbagai rumah
sakit, klinik, laboratorium medis, apotik , pusat dan lembaga litbang kesehatan, sekolah
kedokteran , apoteker, perawat, bidan dan sekolah lainnya yang menghasilkan tenaga medis, serta
berbagai sarana prasarana kesehatan dan pengobatan lainnya.
Semua pelayanan kesehatan dan pengobatan harus dikelola sesuai dengan aturan syariah.
Juga harus memperhatikan faktor ihsan dalam pelayanan yaitu wajib memenuhi 3 (tiga) prinsip
baku yang berlaku umum untuk setiap pelayanan masyarakat dalam sistem Islam: pertama,
sederhana dalam peraturan (tidak berbelit-belit). Kedua, cepat dalam pelayanan. Ketiga,
profesional dalam pelayanan, yakni dikerjakan oleh orang yang kompeten dan amanah

Sejarah Asuransi Syariah


Pada jaman Nabi Muhammad SAW, konsep asuransi syariah sudah dikenal dengan
sebutan Al-Aqila. Saat itu suku arab terdiri atas berbagai suku besar dan suku kecil. Sebagaimana
kita ketahui, Rasulullah adalah keturunan suku Qurais, salah satu suku yang terbesar. Menurut
dictionary of islam, yang ditulis Thomas Patrick, jika ada salah satu anggota suku yang terbunuh
oleh anggota suku lainnya, sebagai kompensasi, keluarga terdekat dari si pembunuh akan
membayar sejumlah uang, darah atau diyat kepada pewaris Qurban.
Alaql adalah denda, sedangkan makna alaqil adalah orang yang menbayar denda.
Beberapa ketentuan system Aqilah yang merupakan bagian dari asuransi social ditungkan oleh
Nabi Muhammad SAW dalam piagam madina yang merupakan konstitusi pertama setelah Nabi
hijrah ke madina. Dalam pasal 3 Konstitusi madina, Rasullulah membuat ketentuan mengenai
penyelamatan jiwa para tawanan. Ketentuan tersebut menyatakan bahwa jika tawanan tertahan
oleh musuh karena perang, pihak tawanan harus membayar tebusan pada musuh untuk
membebaskannya
Konsep dasar asuransi syariah adalah tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan
(al birri wat taqwa). Konsep tersebut sebagai landasan yang diterapkan dalam setiap perjanjian
transaksi bisnis dalam wujud tolong menolong (akad takafuli) yang menjadikan semua peserta
sebagai keluarga besar yang saling menanggung satu sama lain di dalam menghadapi resiko,
yang kita kenal sebagai sharing of risk, sebagaimana firman Allah SWT yang memerintahkan
kepada kita untuk taawun (tolong menolong) yang berbentuk al birri wat taqwa (kebaikan dan
ketakwaan) dan melarang taawun dalam bentuk al itsmi wal udwan (dosa dan permusuhan).
Dalam asuransi konvensional, asuransi merupakan transfer of risk yaitu pemindahan
risiko dari peserta/tertanggung ke perusahaan/penanggung sehingga terjadi pula transfer of fund
yaitu pemindahan dana dari tertanggung kepada penanggung. Sebagai konsekwensi maka
kepemilikan dana pun berpindah, dana peserta menjadi milik perusahaan ausransi.
Beberapa perbedaan asuransi syariah dengan asuransi konvensional, di antaranya adalah
sebagai berikut:
Akad (Perjanjian)
Setiap perjanjian transaksi bisnis di antara pihak-pihak yang melakukannya harus jelas
secara hukum ataupun non-hukum untuk mempermudah jalannya kegiatan bisnis
tersebut saat ini dan masa mendatang. Akad dalam praktek muamalah menjadi dasar
yang menentukan sah atau tidaknya suatu kegiatan transaksi secara syariah. Hal tersebut
menjadi sangat menentukan di dalam praktek asuransi syariah. Akad antara perusahaan
dengan peserta harus jelas, menggunakan akad jual beli (tadabuli) atau tolong menolong
(takaful).
Akad pada asuransi konvensional didasarkan pada akad tadabuli atau perjanjian jual
beli. Syarat sahnya suatu perjanjian jual beli didasarkan atas adanya penjual, pembeli,
harga, dan barang yang diperjual-belikan. Sementara itu di dalam perjanjian yang
diterapkan dalam asuransi konvensional hanya memenuhi persyaratan adanya penjual,
pembeli dan barang yang diperjual-belikan. Sedangkan untuk harga tidak dapat
dijelaskan secara kuantitas, berapa besar premi yang harus dibayarkan oleh peserta
asuransi utnuk mendapatkan sejumlah uang pertanggungan. Karena hanya Allah yang
tahu kapan kita meninggal. Perusahaan akan membayarkan uang pertanggunggan sesuai
dengan perjanjian, akan tetapi jumlah premi yang akan disetorkan oleh peserta tidak
jelas tergantung usia. Jika peserta dipanjangkan usia maka perusahaan akan untung
namun apabila peserta baru sekali membayar ditakdirkan meninggal maka perusahaan
akan rugi. Dengan demikian menurut pandangan syariah terjadi cacat karena
ketidakjelasan (gharar) dalam hal berapa besar yang akan dibayarkan oleh pemegang
polis (pada produk saving) atau berapa besar yang akan diterima pemegang polis (pada
produk non-saving).
Gharar (Ketidakjelasan)
Definisi gharar menurut Madzhab Syafii adalah apa-apa yang akibatnya tersembunyi
dalam pandangan kita dan akibat yang paling kita takuti.
Gharar/ketidakjelasan itu terjadi pada asuransi konvensional, dikarenakan tidak adanya
batas waktu pembayaran premi yang didasarkan atas usia tertanggung, sementara kita
sepakat bahwa usia seseorang berada di tangan Yang Mahakuasa. Jika baru sekali
seorang tertanggung membayar premi ditakdirkan meninggal, perusahaan akan rugi
sementara pihak tertanggung merasa untung secara materi. Jika tertanggung
dipanjangkan usianya, perusahaan akan untung dan tertanggung merasa rugi secara
financial. Dengan kata lain kedua belah pihak tidak mengetahui seberapa lama masing-
masing pihak menjalankan transaksi tersebut. Ketidakjelasan jangka waktu pembayaran
dan jumlah pembayaran mengakibatkan ketidaklengkapan suatu rukun akad, yang kita
kenal sebagai gharar. Para ulama berpendapat bahwa perjanjian jual beli/akad tadabuli
tersebut cacat secara hukum.
Pada asuransi syariah akad tadabuli diganti dengan akad takafuli, yaitu suatu niat
tolong-menolong sesama peserta apabila ada yang ditakdirkan mendapat musibah.
Mekanisme ini oleh para ulama dianggap paling selamat, karena kita menghindari
larangan Allah dalam praktik muamalah yang gharar.
Pada akad asuransi konvensional dana peserta menjadi milik perusahaan asuransi
(transfer of fund). Sedangkan dalam asuransi syariah, dana yang terkumpul adalah milik
peserta (shahibul mal) dan perusahaan asuransi syariah (mudharib) tidak bisa
mengklaim menjadi milik perusahaan.
Tabarru dan Tabungan
Tabarru berasal dari kata tabarraa-yatabarra-tabarrawan, yang artinya sumbangan atau
derma. Orang yang menyumbang disebut mutabarri (dermawan). Niat bertabbaru
bermaksud memberikan dana kebajikan secara ikhlas untuk tujuan saling membantu satu
sama lain sesama peserta asuransi syariah, ketika di antaranya ada yang mendapat
musibah. Oleh karena itu dana tabarru disimpan dalam rekening khusus. Apabila ada
yang tertimpa musibah, dana klaim yang diberikan adalah dari rekening tabarru yang
sudah diniatkan oleh sesama peserta untuk saling menolong.
Menyisihkan harta untuk tujuan membantu orang yang terkena musibah sangat
dianjurkan dalam agama Islam, dan akan mendapat balasan yang sangat besar di
hadapan Allah, sebagaimana digambarkan dalam hadist Nabi SAW,"Barang siapa
memenuhi hajat saudaranya maka Allah akan memenuhi hajatnya."(HR Bukhari
Muslim dan Abu Daud).
Untuk produk asuransi jiwa syariah yang mengandung unsur saving maka dana yang
dititipkan oleh peserta (premi) selain terdiri dari unsur dana tabarru terdapat pula unsur
dana tabungan yang digunakan sebagai dana investasi oleh perusahaan. Sementara
investasi pada asuransi kerugian syariah menggunakan dana tabarru karena tidak ada
unsur saving. Hasil dari investasi akan dibagikan kepada peserta sesuai dengan akad
awal. Jika peserta mengundurkan diri maka dana tabungan beserta hasilnya akan
dikembalikan kepada peserta secara penuh.
Prof. Mustafa Ahmad Zarqa berkata bahwa dalam asuransi konvensional terdapat unsur
gharar yang pada gilirannya menimbulkan qimar. Sedangkan al qimar sama dengan al
maisir. Muhammad Fadli Yusuf menjelaskan unsur maisir dalam asuransi konvensional
karena adanya unsur gharar, terutama dalam kasus asuransi jiwa. Apabila pemegang
polis asuransi jiwa meninggal dunia sebelum periode akhir polis asuransinya dan telah
membayar preminya sebagian, maka ahliwaris akan menerima sejumlah uang tertentu.
Pemegang polistidak mengetahui dari mana dan bagaimana cara perusahaan asuransi
konvensional membayarkan uang pertanggungannya. Hal ini dipandang karena
keuntungan yang diperoleh berasal dari keberanian mengambil risiko oleh perusahaan
yang bersangkutan. Muhammad Fadli Yusuf mengatakan, tetapi apabila pemegang polis
mengambil asuransi itu tidak dapat disebut judi. Yang boleh disebut judi jika perusahaan
asuransi mengandalkan banyak/sedikitnya klaim yang dibayar. Sebab keuntungan
perusahaan asuransi sangat dipengaruhi oleh banyak /sedikitnya klaim yang
dibayarkannya.
Riba
Dalam hal riba, semua asuransi konvensional menginvestasikan dananya dengan bunga,
yang berarti selalu melibatkan diri dalam riba. Hal demikian juga dilakukan saat
perhitungan kepada peserta, dilakukan dengan menghitung keuntungan di depan.
Investasi asuransi konvensional mengacu pada peraturan pemerintah yaitu investasi
wajib dilakukan pada jenis investasi yang aman dan menguntungkan serta memiliki
likuiditas yang sesuai dengan kewajiban yang harus dipenuhi. Begitu pula dengan
Keputusan Menteri Keuangan No. 424/KMK.6/2003 Tentang Kesehatan Keuangan
Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi. Semua jenis investasi yang diatur
dalam peraturan pemerintah dan KMK dilakukan berdasarkan sistem bunga.
Asuransi syariah menyimpan dananya di bnak yang berdasarkan syariat Islam dengan
sistem mudharabah. Untuk berbagai bentuk investasi lainnya didasarkan atas petunjuk
Dewan Pengawas Syariah. Allah SWT berfirman dalam surat Ali Imron ayat 130,"Hai
orang-orang yang beriman janganlah kamu memakan riba yang memang riba itu
bersifat berlipat ganda dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapatkan
keberuntungan." Hadist, "Rasulullah mengutuk pemakaian riba, pemberi makan riba,
penulisnya dan saksinya seraya bersabda kepada mereka semua sama."(HR Muslim)
Dana Hangus
Ketidakadilan yang terjadi pada asuransi konvensional ketika seorang peserta karena
suatu sebab tertentu terpaksa mengundurkan diri sebelum masa reversing period.
Sementara ia telah beberapa kali membayar premi atau telah membayar sejumlah uang
premi. Karena kondisi tersebut maka dana yang telah dibayarkan tersebut menjadi
hangus. Demikian juga pada asuransi non-saving atau asuransi kerugian jika habis masa
kontrak dan tidak terjadi klaim, maka premi yang dibayarkan akan hangus dan menjadi
milik perusahaan.
Kebijakan dana hangus yang diterapkan oleh asuransi konvensional akan menimbulkan
ketidakadilan dan merugikan peserta asuransi terutama bagi mereka yang tidak mampu
melanjutkan karena suatu hal. Di satu sisi peserta tidak punya dana untuk melanjutkan,
sedangkan jika ia tidak melanjutkan dana yang sudah masuk akan hangus. Kondisi ini
mengakibatkan posisi yang dizalimi. Prinsip muamalah melarang kita saling menzalimi,
laa dharaa wala dhirara ( tidak ada yang merugikan dan dirugikan).
Asuransi syariah dalam mekanismenya tidak mengenal dana hangus, karena nilai tunai
telah diberlakukan sejak awal peserta masuk asuransi. Bagi peserta yang baru masuk
karena satu dan lain hal mengundurkan diri maka dana/premi yang sebelumnya
dimasukkan dapat diambil kembali kecuali sebagian kecil dana yang dniatkan sebagai
dana tabarru (dana kebajikan). Hal yang sama berlaku pula pada asuransi kerugian. Jika
selama dan selesai masa kontrak tidak terjadi klaim, maka asuransi syariah akan
membagikan sebagian dana/premi tersebut dengan pola bagi hasil 60:40 atau 70:30
sesuai kesepakatan si awal perjanjian (akad). Jadi premi yang dibayarkan pada awal
tahun masih dapat dikembalikan sebagian ke peserta (tidak hangus). Jumlahnya sangat
tergantung dari hasil investasinya,

3. Memahami tentang analisis peranan dokter serta mitra kerjanya.


Sistem Pelayanan Dokter Keluarga (SPDK)
Pada dasarnya sistem perlayanan dokter keluarga (selanjutnya digunakan SPDK), haruslah
menerapkan ketiga tahapan pelayanan medis sesempurna mungkin. Komponen sistem, yang
sekarang biasa disebut sebagai pemegang saham (stakeholders), paling tidak terdiri atas:
1. DPU/DK (Sebagai Penyelenggara Pelayanan Tingkat Primer)
2. DSp (sebagai Penyelenggara Pelayanan Tingkat Sekunder)
3. DSpK (sebagai Penyelenggara Pelayanan Tingkat Tersier)
4. Dokter gigi
5. Pihak pendana (Asuransi Kesehatan, Pemerintah, dsb.)
6. Regulasi (perundangan, Sistem Kesehatan Nasional, dsb.)
7. Pasien (dengan keluarga dan masyarakatnya)
8. Farmasi (profesional dan pengusaha)
9. Staf klinik selain dokter (Bidan, perawat, dsb)
10. Karyawan non-medis
11. Dsb.
Mereka harus bekerjasama secara mutualistis mewujudkan pelayanan kesehatan
yang bermutu. Semua pemegang saham mempunyai andil, hak dan kewajiban yang sama
dalam mewujudkan pelayanan kesehatan yang bermutu. Yang dimaksud dengan pelayanan
kesehatan yang bermutu adalah pelayanan kesehatan yang memuaskan bagi pasien, tidak
melanggar aturan atau perundangan maupun etika profesi, dan menjamin kesejahteraan bagi
penyelenggaranya. Jika salah satu komponen sistem merusak tatanan, menyalahi aturan
main agar memperoleh keuntungan bagi dirinya, maka akibat negatifnya akan dirasakan
oleh seluruh komponen sistem termasuk, pada akhirnya, yang menyalahi aturan itu. Oleh
karena itu diperlukan kerjasama profesional yang mutualistis di antara anggota sistem.
Dengan kata lain, dalam sistem pelayanan dokter keluarga pelayanan
diselenggarakan oleh tim kesehatan yang bahu-membahu mewujudkan pelayanan yang
berumutu. Setiap komponen sistem mempunyai tugas masing-masng dan harus dikerjakan
sungguh-sungguh sesuai dengan tatanan yang berlaku. Bidan dan perawat membantu dokter
di klinik misalnya, memberikan obat kepada pasien d ibawah tanggung-jawab dokter. Jadi
bidan dan perawat tidak memberikan obat tanpa persetujuan dokter. Sebaliknya dokter harus
memberikan perintah tertulis di dalam rekam medis untuk setiap pemberian obat. Bidan dan
perawat dibenarkan mengingatkan dokter jika perintah pemberian obat itu tidak jelas atau
belum dicantumkan. Demikian pula dokter keluiarga yang sebenarnya dokter praktik umum
dibenarkan mengingatkan dan diharuskan bertanya langsung kepada dokter spesialis yang
dikonsuli atau dirujuki jika ada hal yang kurang jelas atau berbeda pendapat. Demikianpula
komponen system yang lain termasuk masyarakat pasien dibenarkan dan bahkan diharuskan
saling kontrol saling mengingatkan agat tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Dapat di lihat bentuk komunikasi atau kerjasama antara dokter dan teman
sejawatnya di lakukan dalam berbagai hal seperti :
1. Merujuk pasien
Pada pasien rawat jalan, karena alasan kompetensi dokter dan keterbatasan fasilitas
pelayanan, dokter yang merawat harua merujuk pasiennya pada teman sejawat lainnya.
2. Bekerjasama dengan sejawat
Dokter harus memperlakukan teman sejawat tanpa membeda-bedakan jenis kelamin, ras,
usia, kecacatan, agama, status sosial atau perbedaan kompetensi yang dapat merugikan
hubungan profesional antar sejawat.
3. Bekerja dalam tim
Asuhan kesehatan selalu di ingatkan melalui kerjasama dalam tim multidisiplin.
4. Mengatur dokter pengganti.
Ketika seorang dokter berhalangan, dokter tersebut harus menentukan dokter pengganti
serta mengatur proses mengalihkan yang efektif dan komunikatif dengan dokter
pengganti.
5. Mematuhi tugas
Seorang dokter yang bekerjapada institusi pelayanan atau pendidikan kedokteran harus
mematuhi tugas yang digariskan pimpinan institusi, termasuk sebagai dokter pengganti.
6. Pendelegasian wewenang
Pendelegasian wewenang kepada perawat, peseta prograrm pendidikan spesialis,
mahasiswa kedokteran dalam hal pengobatan atau perawatan atas nama dokter yang
merawat, harus disesuaikan dengan kompetensi dalam melaksanakan prosedur dan
terapi yang sesuai dengan peraturan baru.
Komunikasi Dokter-Profesi Lain
1. Kolaborasi
Pengertian Menurut Shortridge, et al (1986)
Hubungan timbal balik di mana [pemberi pelayanan] memegang tanggung jawab
paling besar untuk perawatan pasien dalam kerangka kerja bidang respektif mereka.
Elemen-elemen Kolaborasi
1. Struktur
2. Proses
3. Hasil Akhir
Model Kolaboratif Tipe I
1. Menekankan Komunikasi Dua Arah
2. Masih menempatkan Dokter pada posisi utama
3. Masih membatasi Hubungan Dokter dengan Pasien
Model Kolaboratif Tipe II
1. Lebih berpusat pada Pasien
2. Semua Pemberi Pelayanan harus bekerja sama
3. Ada kerja sama dengan Pasien
4. Tidak ada pemberi pelayanan yang mendominasi secara terus-menerus
Hubungan perawat-dokter adalah satu bentuk hubungan interaksi yang telah cukup
lama dikenal ketika memberikan bantuan kepada pasien. Perspektif yang berbeda
dalam memandang pasien, dalam prakteknya menyebabkan munculnya hambatan-
hambatan teknik dalam melakukan proses kolaborasi. Kendala psikologis keilmuan
dan individual, factor sosial, serta budaya menempatkan kedua profesi ini
memunculkan kebutuhan akan upaya kolaborasi yang dapat menjadikan keduanya
lebih solid dengan semangat kepentingan pasien.
Hambatan kolaborasi dokter dan perawat sering dijumpai pada tingkat profesional
dan institusional. Perbedaan status dan kekuasaan tetap menjadi sumber utama
ketidaksesuaian yang membatasi pendirian profesional dalam aplikasi kolaborasi.
Dokter cenderung pria, dari tingkat ekonomi lebih tinggi dan biasanya fisik lebih
besar dibanding perawat, sehingga iklim dan kondisi sosial masih medukung
dominasi dokter. Inti sesungguhnya dari konflik perawat dan dokter terletak pada
perbedaan sikap profesional mereka terhadap pasien dan cara berkomunikasi
diantara keduanya.
Kolaborasi adalah suatu proses dimana praktisi keperawatan atau perawat klinik
bekerja dengan dokter untuk memberikan pelayanan kesehatan dalam lingkup
praktek profesional keperawatan, dengan pengawasan dan supervisi sebagai pemberi
petunjuk pengembangan kerjasama atau mekanisme yang ditentukan oleh peraturan
suatu negara dimana pelayanan diberikan. Perawat dan dokter merencanakan dan
mempraktekan bersama sebagai kolega, bekerja saling ketergantungan dalam batas-
batas lingkup praktek dengan berbagi nilai-nilai dan pengetahuan serta respek
terhadap orang lain yang berkontribusi terhadap perawatan individu, keluarga dan
masyarakat.
Elemen kunci kolaborasi dalam kerja sama team multidisipliner dapat digunakan
untuk mencapai tujuan kolaborasi team :
a) Memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas dengan menggabungkan
keahlian unik profesional.
b) Produktivitas maksimal serta efektifitas dan efesiensi sumber daya
c) Peningkatnya profesionalisme dan kepuasan kerja, dan loyalitas
d) Meningkatnya kohesifitas antar profesional
e) Kejelasan peran dalam berinteraksi antar profesional,
f) Menumbuhkan komunikasi, kolegalitas, dan menghargai dan memahami orang
lain
Kesuksesan kolaborasi dalam suatu pelayanan kesehatan dipengaruhi oleh faktor-
faktor
a) Faktor interaksi ( interactional determinants), yaitu hubungan interpersonal
diantara anggota tim yang terdiri dari kemauan untuk berkolaborasi, percaya,
saling menghargai dan berkomunikasi .
b) Faktor Organisasi ( organizational determinants) yaitu kondisi di dalam
organisasi tersebut yang terdiri dari:
1. Organizational structure (struktur horisontal dianggap lebih berhasil daripada
struktur hierarkis);
2. Organizations philosophy (nilai nilai keterbukaan, kejujuran, kebebasan
berekspresi, saling ketergantungan, integritas dan sikap saling percaya;
3. administrative support ( kepemimpinan);
4. team resource (tersedianya waktu untuk bertemu dan berinteraksi, membagi
lingkup praktek dengan profesional lain, bekerja dalam suatu unit yang
kecil) ;
5. coordination mechanism ( pertemuan formal untuk diskusi, standarisasi
prosedur dalam bekerja ).
c) Faktor lingkungan organisasi( organizations environment/ systemic
determinants) yaitu elemen diluar organisasi, seperti sistem sosial, budaya,
pendidikan dan profesional.
2. Pendekatan Praktik Hirarkis
Menekankan Komunikasi satu arah
Kontak Dokter dengan Pasien terbatas
Dokter merupakan Tokoh yang dominan
Cocok untuk diterapkan di keadaan tertentu, spt IGD
Sebelum ada model Kolaborasi, hubungan yang ada adalah Model PRAKTIK
HIRARKIS.
Praktik Hirarkis merupakan salah satu pendekatan yang dilakukan sebelum profesi
perawat semakin berkembang.
Selanjutnya dikenal ada 2 (dua) model Kolaborasi yang lain (Model 1 dan
Pendekatan Praktik Hirarkis
menekankan komunikasi satu arah.
kontak dokter dengan pasien terbatas.
dokter merupakan tokoh yang dominan.
cocok untuk ditetapkan di keadaan tertentu , seperti: IGD
pendekatan ini sekarang masih dominan dalam praktek dokter di Indonesia

DOKTER

REGISTERED NURSE

PEMBERI PELAYANAN
LAIN

PASIEN

Komunikasi Dokter-Apoteker
Untuk dapat berkomunikasi dengan baik, dokter perlu mengetahui apa yang menjadi
tanggung jawab profesi apoteker dalam pelayanan farmasi. Pelayanan farmasi dapat
dilakukan di berbagai tempat seperti rumah sakit, Puskesmas, Poliklinik, Apotek, dll.
Adanya pemahaman masing-masing pada profesi mitra kerjanya akan memudahkan
terjadinya komunikasi yang baik antar profesi
Empat unsur Pelayanan Farmasi
Pelayanan Farmasi yang baik.
Pelayanan profesi apoteker dalam penggunaan obat.
Praktik dispensing yang baik.
Pelayanan profesional apoteker yg proaktif dalam berbagai kegiatan yg bertujuan untuk
meningkatkan mutu pelayanan kepada pasien.

4. Memahami tentang manajemen berkualitas berdasarkan fakta (Evidence Based) dalam


penyelesaian masalah kesehatan individu sebagai komponen keluarganya.
Evidence-based medicine (EBM) adalah suatu pendekatan medik yang didasarkan pada
bukti-bukti ilmiah terkini untuk kepentingan pelayanan kesehatan penderita. Dengan
demikian, dalam praktek, EBM memadukan antara kemampuan dan pengalaman klinik
dengan bukti-bukti ilmiah terkini yang paling dapat dipercaya. (Sackett et al. 1996)
Evidence based medicine (EBM) adalah proses yang digunakan secara sistematik untuk
menemukan, menelaah/me-rewew, dan memanfaatkan hasil-hasil studi sebagai dasar dari
pengambilan keputusan klinik.
Secara lebih rinci EBM merupakan keterpaduan antara:
1. Best research evidence. Di sini mengandung arti bahwa bukti-bukti ilmiah tersebut harus
berasal dari studi-studi yang dilakukan dengan metodologi yang sangat terpercaya
(khususnya randomized controlled trial), yang dilakukan secara benar. Studi yang
dimaksud juga harus menggunakan variabel-variabel penelitian yang dapat diukur dan
dinilai secara obyektif (misalnya tekanan darah, kadar Hb, dan kadar kolesterol), di
samping memanfaatkan metode-meiode pengukuran yang dapat menghindari risiko
bias dari penulis atau peneliti.
2. Clinical expertise. Untuk menjabarkan EBM diperlukan suatu kemampuan klinik
(clinical skills) yang memadai. Di sini termasuk kemampuan untuk secara cepat
mengidentifikasi kondisi pasien dan memperkirakan diagnosis secara cepat dan tepat,
termasuk mengidentifikasi faktor-faktor risiko yang menyertai serta memperkirakan
kemungkinan manfaat dan risiko (risk and benefit) dari bentuk intervensi yang akan
diberikan. Kemampuan klinik ini hendaknya juga disertai dengan pengenalan secara
baik terhadap nilai-nilai yang dianut oleh pasien serta harapan-harapan yang tersirat dari
pasien.
3. Patient values. Setiap pasien, dari manapun berasal, dari suku atau agama apapun tentu
mem-punyai nilai-nilai yang unik tentang status kesehatan dan penyakitnya. Pasien juga
tentu mempunyai harapan-harapan atas upaya penanganan dan pengobatan yang
diterimanya. Hal ini harus dipahami benar oleh seorang klinisi atau praktisi medik, agar
setiap upaya pelayanan kesehatan yang dilakukan selain dapat diterima dan didasarkan
pada bukti-bukti ilmiah juga mempertimbangkan nilai-nilai subyektif yang dimiliki oleh
pasien.
Mengingat bahwa EBM merupakan suatu cara pendekatan ilmiah yang digunakan untuk
pengambilan keputusan terapi, maka dasar-dasar ilmiah dari suatu penelitian juga perlu diuji
kebenarannya untuk mendapatkan hasil penelitian yang selain update, juga dapat
digunakan sebagai dasar untuk pengambilan keputusan

5. Memahami tentang sistem rujukan.


Sistem rujukan adalah pelimpahan wewenang dantanggung jawab atas masalah kesehatan
ataukasus penyakit yang dilakukan secara vertikalatau horizontal
Vertikal antar sarana pelayanan strata berbeda
Horizontal antar sarana pelayanan strata sama
Dibedakan atas dua macam:
1. Rujukan kesehatan
2. Rujukan medis
Manfaat sistem rujukan
1. Pemerintah: efektifitas dan efisiensi penyelenggaraan pelayanan kesehatan,
2. Penyelenggara pelayanan : kejelasan jenjang karier,
3. Masyarakat; kejelasan pola pelayanan, efektifitas dan efisiensi pemanfaatan pelayanan
kesehatan.
Rujukan kesehatan:
Lingkup: Masalah kesehatan masyarakat
Tujuan: Pemeliharaan den pencegahan
Jalur: Dinas Kesehatan secara bertingkat
Dibedakan atas tiga macam:
Rujukan sarana
Rujukan teknologi
Rujukan operasional

Anda mungkin juga menyukai