Anda di halaman 1dari 31

PERUBAHAN ANATOMIK ORGAN TUBUH PADA PENUAAN

Yang terhormat:
Ketua dan para anggota Dewan Penyantun Universitas Sebelas Maret Surakarta,
Bapak Rektor/ Ketua Senat, Sekretaris Senat dan para Anggota Senat Universitas Sebelas
Maret Surakarta,
Para Pejabat Sipil dan Militer,
Para Dekan, Direktur Pasca Sarjana,
Para Ketua Lembaga, Kepala Biro dan Ketua UPT di lingkungan Universitas Sebelas
Maret Surakarta,
Para Ketua Jurusan, Kepala Laboratorium/Kepala Bagian, Kepala Tata Usaha dan
KaSubBag serta seluruh Tenaga Administrasi di lingkungan Fakultas Kedokteran
Universitas Sebelas Maret Surakarta,
Para Dosen, Mahasiswa serta segenap Sivitas Akademika Fakultas Kedokteran
Universitas Sebelas Maret Surakarta,
Para Tamu undangan, Sanak Keluarga dan Handai Taulan serta hadirin sekalian yang
saya muliakan,

Perkenankanlah, sebelum memulai pidato pengukuhan ini, saya mengajak seluruh


hadirin untuk sejenak memanjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan, yang Maha Penyayang
dan Maha Pemurah. Karena limpahan karunia-Nya kita diberi kesempatan berkumpul
diruangan ini dalam keadaan sehat walafiat untuk mengikuti Sidang Senat Terbuka
dengan acara tunggal pegukuhan saya sebagai Guru Besar di Fakultas Kedokteran
Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Pada kesempatan ini ijinkanlah saya memenuhi kewajiban dan tradisi akademik
yang dipersyaratkan oleh Senat Universitas Sebelas Maret kepada setiap Guru Besar baru
untuk menyampaikan pidato pengukuhannya. Pidato pengukuhan ini merupakan
pandangan saya tentang anatomi yang merupakan ilmu dasar yang mempunyai peran
memberi landasan pada ilmu yang menjadi mata rantai selanjutnya yaitu ilmu kedokteran
klinis. Yufrem Rukhin seorang dokter bangsa Rusia mengatakan Seorang dokter yang
tidak mengenal Anatomi, tidak hanya sebagai dokter yang tidak berguna tetapi juga
seorang dokter yang berbahaya.
Pandangan tersebut saya tuangkan dalam pidato dengan judul: Perubahan Anatomik
Organ Tubuh Pada Penuaan.

Hadirin yang saya hormati,


Anti Aging Medicine berkembang dengan sangat pesat akhir-akhir ini. Pusat-pusat
kedokteran yang maju berlomba-lomba menemukan formula-formula atau cara untuk
memperlambat proses penuaan ini. Anti Aging Medicine adalah cabang ilmu kedokteran
yang menerapkan ilmu dan teknologi kedokteran mutakhir untuk deteksi dini, prevensi,
terapi serta membalikkan disfungsi organ yang berhubungan dengan usia tua.
Disadari atau tidak secara naluri manusia ingin selalu tampil muda dan menarik.
Sepanjang sejarah dan tiap kebudayaan banyak ditemui obat- obat dan resep-resep agar
tampil awet muda. Berabad-abad yang lalu bangsa Mesir rela berendam dalam lumpur
karena percaya lumpur dapat mengencangkan kulit. Kabarnya, orang yang mandi air
terjun Tirtosari di Magetan dapat tetap awet muda (spa pilar anti aging medicine).
Hebohnya di Singapura terdapat tempat-tempat, dimana orang dapat mengembalikan
payudara dan wajahnya yang sudah kendor menjadi kencang kembali, dan banyak orang
Indonesia yang pergi kesana. Tentu ini bukan untuk melawan takdir, karena kemudaan
dan kecantikan tetap di tangan Tuhan. Tetapi tidak ada salahnya sekedar menunda gejala
alam agar hidup bisa dinikmati lebih lama dan nyaman.
Menua adalah suatu proses menghilangnya kemampuan jaringan untuk
memperbaiki dan mengganti diri serta mempertahankan struktur dan fungsi normal. Jadi
pada dasarnya pada proses penuaan akan terjadi perubahan-perubahan anatomis pada
organ-organ tubuh. Dalam kenyataannya sulit untuk membedakan apakah suatu
abnormalitas disebabkan oleh proses menua atau proses penyakit. Pembedaan ini sangat
penting untuk memberikan pelayanan kesehatan yang tepat pada usia lanjut, karena harus
dihindari pemberian obat pada abnormalitas yang diakibatkan proses menua yang normal.
Dengan makin lanjutnya usia, maka penurunan anatomik dan fungsi organ semakin besar.
Peneliti Andres dan Tobin mengintroduksi hukum 1% yang menyatakan bahwa fungsi
organ menurun sebanyak 1 % setiap tahunnya setelah usia 30 tahun.
Sering dikatakan bahwa anatomi adalah ilmu yang mati dan statis. Kenesi
mengatakan: Anatomy is an exhausted science, with no future in investigation and rooted
in the past. Tetapi sebenarnya anatomi adalah ilmu yang sangat dinamis yang
berkembang seiring dengan kehidupan manusia bahkan pada setiap tahap kehidupan
terjadi perubahan anatomis. Pada proses penuaan organ-organ tubuh berubah sejalan
berjalannya waktu. Artinya akan terjadi perubahan gambaran anatomis organ tubuh dari
bayi sampai ke manula. Contoh yang sederhana papilla mama (puting susu), didalam
buku ajar anatomi, literatur bahkan dosen anatomi selalu mengajarkan bahwa papilla
mama terletak setinggi IC V, tetapi bila terletak setinggi IC VIII apakah ini salah?
karena pada wanita yang telah berkali kali menyusui letak papilla akan turun dan ini
normal bukan penyakit, pada orang yang berusia 80 th papillanya dapat turun setinggi
Umbilicus (pusar). Ini membuktikan bahwa antomi bukanlah ilmu yang statis maka
didalam pengajaran anatomi pengajar harus cerdik dan tidak kaku supaya proses belajar
tidak menakutkan dan tidak membosankan karena anatomi terkenal dengan sebutan ilmu
yang menakutkan karena mahasiswa langsung berhadapan dengan jasad manusia
sebenarnya.

Perubahan-Perubahan Anatomik Organ Tubuh pada Penuaan


I. Perubahan Anatomik pada Sistem Integumen
1. Kulit
a. Kulit kering.
Kekeringan ini terjadi karena menurunnya hormon androgen, menurunnya
fungsi kelenjar sebasea, berkurangnya jumlah dan fungsi kelenjar keringat
dan berkurangnya kadar air dalam epidermis.
b. Permukaan kulit kasar dan bersisik.
Hal ini disebabkan kelainan proses keratinisasi serta perubahan ukuran dan
bentuk sel epidermis, stratum korneum mudah lepas dan sel-sel mati ini
cenderungan melekat menjadi satu pada permukaan kulit, dan faktor
kekeringan kulit karena berkurangnya lemak permukaan kulit.
c. Kulit kendor/menggelantung dengan kerutan dan garis kulit lebih jelas.
Hal ini disebabkan oleh:
- Penurunan jumlah fibroblast yang menyebabkan penurunan jumlah serat
elastin, lebih sklerotik dan menebal sehingga jaringan kolagen menjadi
kendor dan serabut elastin kehilangan daya kenyalnya, kulit menjadi tidak
dapat tegang dan kurang lentur.
- Tulang dan otot menjadi atrofi, jaringan lemak subkutan berkurang,
lapisan kulit tipis serta kehilangan daya kenyalnya sehingga membentuk
kerutan dan garis-garis kulit.
- Kontraksi otot mimik tidak diikuti oleh kontraksi kulit yang sesuai
sehingga mengakibatkan alur-alur keriput di daerah wajah.
d. Gangguan pigmentasi pada kulit.
Disebabkan perubahan distribusi pigmen melanin dan proliferasi melanosit,
serta fungsi melanosit menurun sehingga penumpukan melanin tidak teratur
dalam sel basal epidermis. Disamping itu epidermal turn over menurun
sehingga lapisan sel kulit mempunyai banyak waktu untuk menyerap
melanin yang mengakibatkan terjadinya bercak pigmentasi pada kulit.
Lentigo senilis (lentigo solaris), kelainan kulit berupa makula
hiperpigmentasi pada daerah terpapar sinar matahari seperti muka,
punggung tangan, lengan atas, lengan bawah dan lain-lain.warna
kecokelatan sampai cokelat tua, berbatas tegas, bentuk bulat lonjong, ukuran
mili sampai lebih dari 1 cm. terutama timbul pada golongan kaukasia dan
mongoloid, antara dekade keempat dan keenam. Kadang-kadang lesi
menyerupai tahi lalat.
e. Terjadi Proliferasi yang sifatnya jinak.
1. Acrochordon (fibroma molle, skin tag).
Berupa papul multiple yang lunak, filiformis, seperti kantong soliter, atau
bertangkai. Berukuran 15 mm, dapat >1cm, berwarna seperti kulit normal
sampai cokelat muda. Biasanya ditemukan didaerah aksila, leher,
muka/pelupuk mata, dada bagian atas, tubuh dan ekstermitas. Lebih sering
ditemukan pada orang tua yang gemuk dan wanita lebih banyak dari pada
pria.
2. Cherry angioma (Ruby spot, cherry spot, hemangiona senilis).
Lesi berupa pungta yang timbul di atas kulit, membentuk kubah, berwarna
merah terang, perabaan lunak, dengan ukuran 1 sampai 3 atau 4 mm, biasanya
multiple. Terutama terdapat di lengan, dada, dan badan.
3. Keratosis seboroik.
Lesi berbentuk bulat lonjong, berbatas tegas, sedikit meninggi diatas
permukaan kulit dengan permukaan dapat tidak rata/verukosa, dapat licin
dengan keratik plug. Berwarna cokelat atau hitam. Ukuran 2 mm akan tetapi
dapat sampai 2 atau 3 cm. Permukaan lesi kadang halus seperti beludru. Lesi
terlihat seakan-akan menempel pada permukaan kulit. Lesi terutama
ditemukan pada daerah berminyak seperti misalnya wajah, kulit kepala, leher,
dada/dibawah buah dada, punggung dan jarang ditemukan pada ekstremitas.
4. Hiperplasia kelenjar sebasea.
Lesi berupa papul atau modul multiple, lunak, berwarna kuning, kadang-
kdang dengan umbilikasi, berukuran 2-3 mm, Terutama terdapat di dahi
hidung dan pipi.
2. Rambut
a. Pertumbuhan menjadi lambat, lebih halus dan jumlahnya sedikit.
b. Rambut pada alis, lubang hidung dan wajah sering tumbuh lebih panjang.
c. Rambut memutih.
d. Rambut banyak yang rontok.
3. Kuku
a. Pertumbuham kuku lebih lambat, kecepatan pertumbuhan menurun 30-50%
dari orang dewasa.
b. Kuku menjadi pudar.
c. Warna kuku agak kekuningan.
d. Kuku menjadi tebal, keras tapi rapuh.
e. Garis-garis kuku longitudinal tampak lebih jelas. Kelainan ini dilaporkan
terdapat pada 67% lansia berusia 70 tahun.
II. Perubahan Anatomik pada Sistema Muskuloskeletal
Massa tulang kontinu sampai mencapai puncak pada usia 30-35 tahun setelah itu
akan menurun karena disebabkan berkurangnya aktivitas osteoblas sedangkan aktivitas
osteoklas tetap normal. Secara teratur tulang mengalami turn over yang dilaksanakan
melalui 2 proses yaitu; modeling dan remodeling, pada keadaan normal jumlah tulang
yang dibentuk remodeling sebanding dengan tulang yang dirusak. Ini disebut positvely
coupled jadi masa tulang yang hilang nol. Bila tulang yang dirusak lebih banyak terjadi
kehilangan masa tulang ini disebut negatively coupled yang terjadi pada usia lanjut.
Dengan bertambahnya usia terdapat penurunan masa tulang secara linier yang
disebabkan kenaikan turn over pada tulang sehingga tulang lebih pourus. Pengurangan ini
lebih nyata pada wanita, tulang yang hilang kurang lebih 0,5 sampai 1% per tahun dari
berat tulang pada wanita pasca menopouse dan pada pria diatas 80 tahun, pengurangan
tulang lebih mengenai bagian trabekula dibanding dengan kortek. Pada pemeriksaan
histologi wanita pasca menopouse dengan osteoporosis spinal hanya mempunyai
trabekula kurang dari 14%. Selama kehidupan laki-laki kehilangan 20-30% dan wanita
30-40% dari puncak massa tulang.
Pada sinofial sendi terjadi perubahan berupa tidak ratanya permukaan sendi
terjadi celah dan lekukan dipermukaan tulang rawan. Erosi tulang rawan hialin
menyebabkan pembentukan kista di rongga sub kondral. Ligamen dan jaringan peri
artikuler mengalami degenerasi Semuanya ini menyebabkan penurunan fungsi sendi,
elastisitas dan mobilitas hilang sehingga sendi kaku, kesulitan dalam gerak yang rumit
Perubahan yang jelas pada sistem otot adalah berkurangnya masa otot terutama
mengenai serabut otot tipe II. Penurunan ini disebabkan karena otropi dan kehilangan
serabut otot. Perubahan ini menyebabkan laju metabolik basal dan laju komsumsi oksigen
maksimal berkurang. Otot menjadi mudah lelah dan kecepatan laju kontraksi melambat.
Selain penurunan masa otot juga dijumpai berkurangnya rasio otot dan jaringan lemak.

III. Perubahan anatomik pada sistema kardiovaskuler


1. Jantung (Cor)
Elastisitas dinding aorta menurun dengan bertambahnya usia. Disertai dengan
bertambahnya kaliber aorta. Perubahan ini terjadi akibat adanya perubahan pada dinding
media aorta dan bukan merupakan akibat dari perubahan intima karena aterosklerosis.
Perubahan aorta ini menjadi sebab apa yang disebut isolated aortic incompetence dan
terdengarnya bising pada apex cordis.
Penambahan usia tidak menyebabkan jantung mengecil (atrofi) seperti organ
tubuh lain, tetapi malahan terjadi hipertropi. Pada umur 30-90 tahun massa jantung
bertambah ( 1gram/tahun pada laki-laki dan 1,5 gram/tahun pada wanita).
Pada daun dan cincin katup aorta perubahan utama terdiri dari berkurangnya
jumlah inti sel dari jaringan fibrosa stroma katup, penumpukan lipid, degenerasi kolagen
dan kalsifikasi jaringan fibrosa katup tersebut. Daun katup menjadi kaku, perubahan ini
menyebabkan terdengarnya bising sistolik ejeksi pada usia lanjut. Ukuran katup jantung
tampak bertambah. Pada orang muda katup antrioventrikular lebih luas dari katup
semilunar. Dengan bertambahnya usia terdapat penambahan circumferensi katup, katup
aorta paling cepat sehingga pada usia lanjut menyamai katup mitral, juga menyebabkan
penebalan katup mitral dan aorta. Perubahan ini disebabkan degenerasi jaringan kalogen,
pengecilan ukuran, penimbunan lemak dan kalsifikasi. Kalsifikasi sering terjadi pada
anulus katup mitral yang sering ditemukan pada wanita. Perubahan pada katup aorta
terjadi pada daun atau cincin katup. Katup menjadi kaku dan terdengar bising sistolik
ejeksi .
2. Pembuluh Darah Otak
Otak mendapat suplai darah utama dari Arteria Karotis Interna dan a.vertebralis.
Pembentukan plak ateroma sering dijumpai didaerah bifurkatio kususnya pada pangkal
a.karotis interna, Sirkulus willisii dapat pula terganggu dengan adanya plak ateroma juga
arteri-arteri kecil mengalami perubahan ateromatus termasuk fibrosis tunika media
hialinisasi dan kalsifikasi. Walaupun berat otak hanya 2% dari berat badan tetapi
mengkomsumsi 20% dari total kebutuhan oksigen komsumsion. Aliran darah serebral
pada orang dewasa kurang lebih 50cc/100gm/menit pada usia lanjut menurun menjadi
30cc/100gm/menit.
Perubahan degeneratif yang dapat mempengaruhi fungsi sistem vertebrobasiler
adalah degenerasi discus veterbralis (kadar air sangat menurun, fibrokartilago meningkat
dan perubahan pada mukopoliskharid). Akibatnya diskus ini menonjol ke perifer
mendorong periost yang meliputinya dan lig.intervertebrale menjauh dari corpus
vertebrae. Bagian periost yang terdorong ini akan mengalami klasifikasi dan membentuk
osteofit. Keadaan seperti ini dikenal dengan nama spondilosis servikalis.
Discus intervertebralis total merupakan 25% dari seluruh collumna vertebralis
sehingga degenerasi diskus dapat mengakibatkan pengurangan tinggi badan pada usia
lanjut. Spondilosis servikalis berakibat 2 hal pada a.vertebralis, yaitu:
a. Osteofit sepanjang pinggir corpus vetebrales dan pada posisi tertentu bahkan
dapat mengakibatkan oklusi pembuluh arteri ini.
b. Berkurangnya panjang kolum servikal berakiabat a.verterbalies menjadi
berkelok-kelok. Pada posisi tertentu pembuluh ini dapat tertekuk sehingga
terjadi oklusi.
Dengan adanya kelainan anatomis pembuluh darah arteri pada usia lanjut seperti
telah diuraikan diatas, dapat dimengerti bahwa sirkulasi otak pada orang tua sangat rentan
terhadap perubahan-perubahan, baik perubahan posisi tubuh maupun fungsi jantung dan
bahkan fungsi otak
3. Pembuluh Darah Perifer.
Arterosclerosis yang berat akan menyebabkan penyumbatan arteria perifer yang
menyebabkan pasokan darah ke otot-otot tungkai bawah menurun hal ini menyebabkan
iskimia jaringan otot yang menyebabkan keluhan kladikasio.

IV. Perubahan Anatomik pada Sistem Pernafasan (System Respiratorius)


1. Dinding dada: Tulang-tulang mengalami osteoporosis, rawan mengalami osifikasi
sehingga terjadi perubahan bentuk dan ukuran dada. Sudut epigastrik relatif
mengecil dan volume rongga dada mengecil.
2. Otot-otot pernafasan: Musuculus interkostal dan aksesori mengalami kelemahan
akibat atrofi.
3. Saluran nafas: Akibat kelemahan otot, berkurangnya jaringan elastis bronkus dan
aveoli menyebabkan lumen bronkus mengecil. Cicin rawan bronkus mengalami
pengapuran.
4. Struktur jaringan parenkim paru: Bronkiolus, duktus alveoris dan alveolus
membesar secara progresip, terjadi emfisema senilis. Struktur kolagen dan elastin
dinding saluran nafas perifer kualitasnya mengurang sehingga menyebabkan
elastisitas jaringan parenkim paru mengurang. Penurunan elastisitas jaringan
parenkim paru pada usia lanjut dapat karena menurunnya tegangan permukaan
akibat pengurangan daerah permukaan alveolus.
Perubahan anatomi tersebut menyebabkan gangguan fisiologi pernapasan sebagai
berikut:
a. Gerak pernafasan: adanya perubahan bentuk, ukuran dada, maupun
volume rongga dada akan merubah mekanika pernafasan menjadi dangkal,
timbul gangguan sesak nafas, lebih-lebih apabila terdapat deformitas
rangka dada akibat penuaan.
b. Distribusi gas: perubahan struktur anatomik saluran nafas akan
menimbulkan penimbulkan penumpukan udara dalam alveolus (air
trapping) ataupun gangguan pendistribusian gangguan udara nafas dalam
cabang bronkus.
c. Volume dan kapasitas paru menurun: hal ini disebabkan karena beberapa
faktor: (1) kelemahan otot nafas, (2) elastisitas jaringan parenkim paru
menurun, (3) resistensi saluaran nafas (menurun sedikit). Secara umum
dikatakan bahwa pada usia lanjut terjadi pengurangan ventilasi paru.
d. Gangguan transport gas: pada usia lanjut terjadi penurunan PaO2 secara
bertahap, penyebabnya terutama disebabkan oleh adanya
ketidakseimbangan ventilasi-perfusi. Selain itu diketahui bahwa
pengambilan O2 oleh darah dari alveoli (difusi) dan transport O2 ke
jaringan berkurang, terutama terjadi pada saat melakukan olahraga.
Penurunan pengambilan O2 maksimal disebabkan antara lain karena: (1)
berbagi perubahan pada jaringan paru yang menghambat difusi gas, dan
(2) kerena bertkurangnya aliran darah ke paru akibat turunnyan curah
jantung.
e. Gangguan perubahan ventilasi paru: pada usia lanjut terjadi gangguan
pengaturan ventilasi paru, akibat adanya penurunan kepekaan
kemoreseptor perifer, kemoreseptor sentral atupun pusat-pusat pernafasan
di medulla oblongata dan pons terhadap rangsangan berupa penurunan
PaO2, peninggian PaCO2, Perubahan pH darah arteri dan sebagainya.
V. Perubahan Anatomik pada Sistem Pencernaan (System Digestivus)
1. Rongga Mulut (Cavum Oris)
a. Gigi (Dente)s
Atrial: Hilangnya jaringan gigi akibat fungsi pengunyah yang terus menerus.
Dimensi vertikal wajah menjadi lebih pendek sehingga merubah penampilan
/estetik fungsi pengunyah.
Meningkatkan insiden karies terutama bagian leher gigi dan akar, karies sekunder
di bawah tambalan lama.
Jaringan penyangga gigi mengalami kemunduran sehingga gigi goyang dan
tanggal.
b. Muskulus
Koordinasi dan kekuatan muskulus menurun sehingga terjadi pergerakan yang
tidak terkontrol dari bibir, lidah dan rahang orafacial dyskinesis.
c. Mukosa
Jaringan mukosa mengalami atrofi dengan tanda-tanda tipis, merah, mengkilap,
dan kering.
d. Lidah (Lingua)
Manifestasi yang sering terlihat adalah atrofi papil lidah dan terjadinya fisura-
fisura. Sehubungan dengan ini maka terjadi perubahan persepsi terhadap
pengecapan. Akibatnya orang tua sering mengeluh tentang kelainan yang
dirasakan terhadap rasa tertentu misalnya pahit dan asin. Dimensi lidah biasanya
membesar dan akibat kehilangan sebagian besar gigi, lidah besentuhan dengan
pipi waktu mengunyah, menelan dan berbicara.
e. Kelenjar liur (Glandula Salivarius)
Terjadi degenerasi kelenjar liur, yang mengakibatkan sekresi dan viskositas saliva
menurun.
f. Sendi Temporo Mandibular (Art Temporo Mandibularis)
Perubahan pada sendi Temporo Mandibularis sering sudah terjadi pada usia 30-50
tahun. Perubahan pada sendi Temporo Mandibularis ini akibat dari proses
degenerasi. Dengan manifestasi adanya TM joint sound, melemahnya otot-otot
mengunyah sendi, sehingga sukar membuka mulut secara lebar.
g. Tulang Rahang (Os Maxilare dan Os Mandibulare)
Terdapat resorbsi dan alveolar crest sampai setinggi 1 cm terutama pada rahang
tanpa gigi atau setetelah pencabutan.
2. Lambung (Ventriculus)
Terjadi atrofi mukosa, atrofi sel kelenjar dan ini menyebabkan sekresi asam lambung,
pepsin dan faktor intrinsik berkurang. Ukuran lambung pada lansia menjadi lebih
kecil, sehingga daya tampung makanan berkurang. Proses pengubahan protein menjadi
pepton terganggu. Karena sekresi asam lambung berkurang rangsang rasa lapar juga
berkurang. Absobsi kobalamin menurun sehingga konsentrasi kobalamin lebih rendah.
3. Usus halus (Intestinum Tenue)
Mukosa usus halus mengalami atrofi, sehingga luas permukaan berkurang jumlah vili
berkurang yang menyebebabkan penurunan proses absorbsi. Di daerah duodenum
enzim yang dihasilkan oleh pancreas dan empedu menurun, sehingga metabolisme
karbohidrat, protein dan lemak menjadi tidak sebaik sewaktu muda. Keadaan seperti
ini menyebabkan gangguan yang disebut sebagai maldigesti dan mal absorbsi.
4. Pankreas (Pancreas)
Produksi ensim amylase, tripsin dan lipase menurun sehingga kapasitas metabolisme
karbohidrat, protein dan lemak juga menurun. Pada lansia sering terjadi pankreatitis
yang dihubungkan dengan batu empedu. Batu empedu yang menyumbat ampula vateri
menyebabkan oto-digesti parenkim pankreas oleh ensim elastase dan fosfolipase-A
yang diaktifkan oleh tripsin dan/atau asam empedu.
5. Hati (Hepar)
Ukuran hati mengecil dan sirkulasi portal juga menurun pada usia kurang dari 40
tahun 740 ml/menit, pada usia diatas 70 tahun menjadi 595 ml/menit.
Hati berfungsi sangat penting dalam proses metabolisme karbohidrat, protein dan
lemak. Disamping juga memegang peranan besar dalam proses detoksikasi, sirkulasi,
penyimpanan vitamin, konyugasi, bilirubin dan lain sebagainya. Dengan
meningkatnya usia secara histologik dan anatomik akan terjadi perubahan akibat atrofi
sebagian besar sel, berubah bentuk menjadi jaringan fibrous sehingga menyebabkan
penurunan fungsi hati. Hal ini harus di ingat terutama dalam pemberian obat-obatan.
6. Usus Besar dan Rektum (Colon dan Rectum)
Pada colon pembuluh darah menjadi ber kelok-kelok yang menyebabkan motilitas
colon menurun, berakibat absobsi air dan elektrolit meningkat sehingga faeses menjadi
lebih keras sering terjadi konstipasi.

VI. Perubahan Anatomik pada Sistema Urinarius


1. Ginjal (Ren)
Setelah umur 30 tahun mulai terjadi penurunan kemampuan ginjal dan pada usia
60 tahun kemampuan tingggal 50% dari umur 30 tahun, ini disebabkan berkurangnya
populasi nefron dan tidak adanya kemampuan regenerasi. Dengan menurunnya jumlah
populasi nefron akan terjadi penurunan kadar renin yang menyebabkan hipertensi.
Terjadi penebalan membrana basalis kapsula Bowman dan terganggunya permeabilitas,
perubahan degeneratif tubuli, perubahan vaskuler pembuluh darah kecil sampai
hialinisasi arterioler dan hiperplasia intima arteri menyebabkan disfungsi endotel yang
berlanjut pada pembentukan berbagai sitokin yang menyebabkan resobsi natrium
ditubulus ginjal.
Efisien ginjal dalam pembuangan sisa metabolisme terganggu dengan
menurunnya massa dan fungsi ginjal
- jumlah neufron tinggal 50% pada akhir rentang hidup rata-rata
- aliran darah ginjal tinggal 50% pada usia 75 tahun
- tingkat filtrasi glomerlusdan kapasitas ekskresi maksimum menurun
2. Kandung Kemih (Vesica Urinarius)
Dengan bertambahnya usia kapasitas kandung kemih menurun, sisa urin setelah
selesai berkemih cenderung meningkat dan kontraksi otot kandung kemih yang tidak
teratur sering terjadi keadaan ini menyebabkan sering berkemih dan kesulitan menahan
keluarnya urin. Pada wanita pasca menopouse karena menipisnya mukosa disertai dengan
menurunnya kapasitas, kandung kemih lebih rentan dan sensitif terhadap rangsangan
urine, sehingga akan berkontraksi tanpa dapat dikendalikan keaadan ini disebut over
active bladder. Gangguan ini mengenai sekurang-kurangnya 50 juta orang di negara yang
berkembang.
Normal berkemih seorang sehat dalam waktu 24 jam adalah: 1100-1800 cc,
frekuensi kurang 8 kali, nokturna kurang 2 kali, volume berkemih rata-rata 200-400 cc,
dan volume maksimum berkemih 400-600 cc.

VII. Perubahan Anatomik pada Sistema Genitalia


A. Wanita
Dengan berhentinya produksinya hormon estrogen, genitalia interna dan eksterna
berangsur-angsur mengalami atrofi.
1. Vagina
Vagina mengalami kontraktur, panjang dan lebar vagina mengalami pengecilan.
Fornises menjadi dangkal, begitu pula serviks tidak lagi menonjol ke dalam vagina.
Sejak klimakterium, vagina berangsur-angsur mengalami atropi, meskipun pada
wanita belum pernah melahirkan. Kelenjar seks mengecil dan berhenti berfungsi.
Mukosa genitalia menipis begitu pula jaringan sub-mukosa tidak lagi
mempertahankan elastisitasnya akibat fibrosis.
Perubahan ini sampai batas tertentu dipengaruhi oleh keberlangsungan koitus, artinya
makin lama kegiatan tersebut dilakukan kurang laju pendangkalan atau pengecilan
genitalia eksterna.
2. Uterus
Setelah klimaterium uterus mengalami atrofi, panjangnya menyusut dan
dindingnya menipis, miometrium menjadi sedikit dan lebih banyak jaringan fibrotik.
Serviks menyusut tidak menonjol, bahkan lama-lama akan merata dengan dinding
jaringan.
3. Ovarium
Setelah menopause, ukuran sel telur mengecil dan permukaannya menjadi
keriput sebagai akibat atrofi dari medula, bukan akibat dari ovulasi yang berulang
sebelumnya, permukaan ovarium menjadi rata lagi seperti anak oleh karena tidak
terdapat folikel. Secara umum, perubahan fisik genetalia interna dan eksterna
dipengaruhi oleh fungsi ovarium. Bila ovarium berhenti berfungsi, pada umumnya terjadi
atrofi dan terjadi inaktivitas organ yang pertumbuhannya oleh hormon estrogen dan
progesteron.
4. Payudara (Glandula Mamae)
Payudara akan menyusut dan menjadi datar, kecuali pada wanita yang gemuk,
dimana payudara tetap besar dan menggantung. Keadaan ini disebabkan oleh karena
atrofi hanya mempengaruhi kelenjar payudara saja.
Kelenjar pituari anterior mempengaruhi secara histologik maupun fungsional,
begitu pula kelenjar tiroid dan adrenal menjadi keras dan mengkibatkan bentuk tubuh
serupa akromegali ringan. Bahu menjadi gemuk dan garis pinggang menghilang. Kadang
timbul pertumbuhan rambut pada wajah. Rambut ketiak, pubis mengurang, oleh karena
pertumbuhannya dipengaruhi oleh kelenjar adrenal dan bukan kelenjar ovarium. Rambut
kepala menjadi jarang. Kenaikan berat badan sering terjadi pada masa klimakterik.
B. Pria
1. Prostat
Pembesaran prostat merupakan kejadian yang sering pada pria lansia, gejala yang
timbul merupakan efek mekanik akibat pembesaran lobus medius yang kemudian seolah-
olah bertindak sebagai katup yang berbentuk bola (Ball Valve Effect). Disamping itu
terdapat efek dinamik dari otot polos yang merupakan 40% dari komponen kelenjar,
kapsul dan leher kantong kemih, otot polos ini dibawah pengaruh sistem alfa adrenergik.
Timbulnya nodul mikroskopik sudah terlihat pada usia 25-30 tahun dan terdapat pada
60% pria berusia 60 tahun, 90% pada pria berusia 85 tahun, tetapi hanya 50% yang
menjadi BPH Makroskopik dan dari itu hanya 50% berkembang menjadi BPH klinik
yang menimbulkan problem medik.
Kadar dehidrosteron pada orang tua meningkat karena meningkatnya enzim 5 alfa
reduktase yang mengkonfersi tetosteron menjadi dehidro steron. Ini yang dianggap
menjadi pendorong hiperplasi kelenjar, otot dan stroma prostat. Sebenarnya selain proses
menua rangsangan androgen ikut berperan timbulnya BPH ini dapat dibuktikan pada pria
yang di kastrasi menjelang pubertas tidak akan menderita BPH pada usia lanjut.
2. Testis
Penuaan pada pria tidak menyebabkan berkurangnya ukuran dan berat testis tetapi
sel yang memproduksi dan memberi nutrisi (sel Leydic) pada sperma berkurang jumlah
dan aktifitasnya sehingga sperma berkurang sampai 50% dan testoteron juga menurun.
Hal ini menyebabkan penuruna libido dan kegiatan sex yang jelas menurun adalah
multipel ejakulasi dan perpanjangan periode refrakter. Tetapi banyak golongan lansia
tetap menjalankan aktifitas sexsual sampai umur lanjut.

VIII. Perubahan Anatomik pada Sistem Imun.


1. Kelenjar Timus (Glandula Thymus)
Pemeriksaan anatomis menunjukkan bahwa ukuran maksimal kelenjar Timus
terdapat pada usia pubertas sesudahnya akan mengalami proses pengecilan. Pada usia 40-
50 tahun jaringan kelenjar tinggal 5-10%. Diketahui bahwa Timus merupakan kelenjar
endokrin sekaligus tempat deferensiasi sel limfosit T menjadi sel imunokompeten
Involusi ditandai dengan adanya infiltrasi jaringan fibrous dan lemak. Sentrum
Germinativum jumlahnya berkurang dan menjadi fibrotik serta kalsifikasi.
Konsekwensinya kemampuan kelenjar Timus untuk mendewasakan sel T berkurang.
2. Limpa (Lien), kelenjar Limfe
Tidak ada perubahan morfologis yang berarti hanya menunjukkan turunnya
kemampuan berproliferasi dan terdapat sedikit pembesaran limpa.

IX. Perubahan Anatomik pada sistema Syaraf Pusat (Systema Nervosum


Centrale).
1. Otak
Berat otak kurang lebih 350 gram pada saat kelahiran kemudian meningkat
menjadi 1,375 gram pada usia 20 tahun, berat otak mulai menurun pada usia 45-50 tahun
penurunan ini kurang lebih 11% dari berat maksimal. Berat dan volume otak berkurang
rata-rata 5-10% selama umur 20-90 tahun. Otak mengandung lebih 100 million sel
termasuk diantarnya sel neuron yang berfungsi menyalurkan impuls listrik dari susunan
saraf pusat. pada penuaan otak kehilangan 100.000 neuron /tahun. Neuron dapat
mengirim signal kepada beribu-ribu sel lain dengan kecepatan 200 mil/jam.
Pada orang tua Sulci pada permukaan otak melebar sedangkan girus akan
mengecil. Pada orang muda rasio antara subtansia grisea dan substansia alba 1 : 28, pada
orang tua menurun menjadi 1 : 13. Terjadi penebalan meningeal, atropi cerebral(berat
otak menurun 10% antara usia 30-70 tahun. Secara berangsur-angsur tonjolan dendrit
dineuron hilang disusul membengkaknya batang dendrit dan batang sel.
Secara progresif terjadi fragmentasi dan kematian sel. Pada semua sel terdapat
deposit lipofusin (pigment wear &tear yang terbentuk di sitoplasma, kemungkinan
berasal dari lisosom atau mitokondria). RNA, Mitokondria dan enzym sitoplasma
menghilang, inklusi dialin eosinofil dan badan Levy, neurofibriler menjadi kurus dan
degenerasi granulovakuole. korpora amilasea terdapat dimana-mana dijaringan otak.
Berbagai perubahan degeneratif ini meningkat pada individu lebih dari 60 tahun
dan menyebabkan gangguan persepsi, analisis dan integrasi, input sensorik menurun
menyebabkan gangguan kesadaran sensorik (nyeri sentuh, panas, dingin posisi sendi).
Tampilan sensori motor untuk menghasilkan ketepatan melambat. Gangguan mekanisme
mengontrol postur tubuh dan daya anti grafitasi menurun, keseimbangan dan gerakan
menurun. Daya pemikiran abstrak menghilang, memori jangka pendek dan kemampuan
belajar menurun, lebih kaku dalam memandang persoalan, lebih egois dan introvet.
2. Saraf Otonom
Pusat pengendali saraf otonom adalah hipotalamus. Penelitian tentang berbagai
gangguan fungsi hipotalamus pada usia lanjut saat ini sedang secara intensif dilakukan di
berbagai senter, yang antara lain diharapkan bisa mengungkap berbagai penyebab
terjadinya gangguan otonom pada lansia.
Beberapa hal yang dikatakan sebagai penyebab terjadinya gangguan otonom pada
usia lanjut adalah penurunan asetilkolin, atekolamin, dopamin, noradrenalin.
Perubahan pada neurotransmisi pada ganglion otonom yang berupa penurunan
pembentukan asetil-kolin yang disebabkan terutama oleh penurunan enzim utama
kolin-asetilase.
Terdapat perubahan morfologis yang mengakibatkan pengurangan jumlah
reseptor kolin
Hal ini menyebabkan predeposisi terjadinya hipotensi postural, regulasi suhu sebagai
tanggapan atas panas/dingin terganggu, otoregulasi disirkulasi cerebral rusak
sehingga mudah terjatuh.
X Perubahan Anatomik pada Organon Visus
1. Palpebra.
Dengan bertambahnya usia akan menyebabkan kekendoran seluruh jaringan
kelopak mata. Perubahan ini yang juga disebut dengan perubahan involusional terjadi
pada:
M. orbikularis okuli
Perubahan pada m.orbicularis menyebabkan perubahan kedudukan palbera
yaitu terjadi entropion atau ekstropion. Entropion /Ekstropion yang terjadi pada
usia lanjut disebut entropion/ektropion senilis/involusional. Adapun proses
terjadinya mirip, namun yang membedakan adalah perubahan pada m.orbicularis
preseptal dimana pada entropion, musculus tersebut berpindah posisi ke tepi
bawah tarsus, sedangkan pada ektropion musculus tersebut relatif stabil.
Retraktor palpebra inferior
Kekendoran retraktor palpebra inferior mengakibatkan tepi bawah tarsus
rotasi /berputar kearah luar sehingga memperberat terjadinya entropion.
Tarsus
Bila tarsus kurang kaku oleh karena proses atropi akan menyebabkan tepi
atas lebih melengkung ke dalam sehingga entropion lebih nyata.
Tendo kantus medial/lateral
Perubahan involusional juga mengenai tendon kantus media/lateral
sehingga secara horizontal kekencangan palpebra berkurang.
Perubahan pada jaringan palpebra juga di perberat dengan keadaan dimana bola
mata pada usia lanjut lebih enoftalmus karena proses atropi lemak peri orbita.
Akibatnya kekencangan Palpebra secara horizontal relatif lebih nyata. Jadi apakah
proses involusional tersebut menyebabkan margo palpebra menjadi inversi atau
eversi tergantung pada perubahanperubahan yang terjadi pada
m.orbicularisoculi, retraktor palpebra inferior dan tarsus.
Aponeurosis muskulus levator palpebra
Aponeurosis m.levator palpebra mengalami disinsersi dan terjadi
penipisan, akibatnya terjadi blefaroptosis akuisita.
Kulit
Pada usia lanjut kulit palpebra mengalami atropi dan kehilangan
elastisitasnya sehingga menimbulkan kerutan dan lipatan kulit yang berlebihan.
Keadaan ini biasanya di perberat dengan terjadinya perenggangan septum orbita
dan migrasi lemak preaponeurotik ke anterior. Keadaan ini bisa terjadi pada
palpebra superior maupun inferior dan disebut dengan dermatokalasis.
2. Glandula lakrimalis
Pada usia lanjut sering dijumpai keluhan nrocos, ini disebabkan kegagalan fungsi
pompa sistem kanalis lakrimalis oleh karena kelemahan palpebera, eversi punctum atau
malposisi palpebra. Namun sumbatan sistim kanalis lakrimalis yang sebenarnya atau
dacryostenosis sering juga dijumpai, dimana dikatakan bahwa dacryostenosis akuisita
tersebut lebih banyak dijumpai pada wanita dibanding pria. Adapun patogenesis yang
pasti terjadinya sumbatan ductus nasolakrimalis masih belum jelas, namun diduga oleh
karena terjadi proses fibrotik dan berakibat terjadinya sumbatan.
Setelah usia 40 tahun khususnya pada wanita pasca menopause sekresi basal
kelenjar lakrimal tak menunjukkan gejala epifora oleh karena volume air matanya
sedikit. Akan tetapi bilamana sumbatan sistim lakrimalis tak nyata akan memberi keluhan
mata kering yaitu adanya rasa tidak enak seperti terdapat benda asing atau seperti ada
pasir, mata terasa lelah dan kering bahkan kabur. Sedangkan gejala obyektif yang
didapatkan adalah konjungtiva bulbi kusam dan menebal kadang hiperaemi, pada kornea
didapatkan erosi dan filamen. Pemeriksaan yang perlu dilakukan adalah Schirmer, Rose
Bengal, Tear film break up time.
3. Kornea (Cornea)
Arkus Senilis (Gerontoxon, Arcus Cornea)
Merupakan manifestasi proses penuaan pada kornea yang sering dijumpai.
Keberadaan arcus senilis ini tidak memberikan keluhan, hanya secara kosmetik sering
menjadi masalah. Kelainan ini berupa infiltrasi lemak yang berwarna keputihan,
berbentuk cincin dibagian tepi kornea. Mula-mula timbulnya dibagian inferior kemudian
diikuti bagian superior berlangsung luas dan akhirnya berbentuk cincin (anulus senilis).
Etiologi arkus senilis diduga ada hubungannya denga peningkatan kolesterol dan
low density lipoprotein (LDL). Bahan yang membentuk cincin tersebut terdiri dari ester
kolesterol, kolesterol dan gliserid. Arkus senilis mulai dijumpai pada usia 4060 tahun
dan terjadi pada hampir pada semua orang yang berusia diatas 80 tahun dimana laki-laki
lebih awal timbulnya dibanding wanita.
4. Muskulus siliaris (Musculus Ciliaris)
Dengan bertambahnya usia, bentuk dari muskulus siliaris mengalami perubahan.
Pada masa kanak-kanak muskulus tersebut cenderung datar, namun semakin bertambah
usia seseorang serabut otot dan jaringan ikatnya bertambah sehingga muskulus tersebut
menjadi lebih tebal, terutama bagian inferior. Proses tersebut berlanjut dan mencapai
tebal maksimal pada usia lebih kurang 45 tahun. Setelah itu terjadi proses degenerasi
dimana maskulus tersebut mengalami proses atropi, juga hialinisasi. Tampak peningkatan
jaringan ikat diantara serabut-serabut muskulus siliaris dan nukleusnya menipis. Tampak
pula butiran lemak dan deposit kalsium diantara serabut muskulus tersebut.
Dengan bertambahnya usia terjadi penurunan amplitudo akamodasi dengan
manifestasi klinis yaitu presbiopia. Penurunan amplitudo akomodasi ini dikaitkan dengan
perubahan serabut lensa yang menjadi padat dan kapsulnya kurang elastis, sehingga lensa
kurang dapat menyesuaikan bentuknya. Untuk mengatasi hal tersebut muskulus siliaris
mengadakan kompensasi sehingga mengalami hipertropi. Proses ini terus berlanjut
dengan semakin bertambahnya usia sehingga terjadi manifestasi presbiopia.
5. Humor Aqueous
Pada mata sehat dengan pemeriksaan fluorofotometer diperkirakan produksi
H.Aqueous 2,4 l+/_ 0,06 micro liter/menit. Beberapa faktor berpengaruh pada pada
produksi H.Aqueous. Dengan pemeriksaan fluorofotometer menunjukkan bahwa dengan
bertambahnya usia terjadi penurunan produksi H.Aqueous 2% (0,06 micro liter/menit)
tiap dekade.
6. Lensa Kristalina
Bentuk lensa cakram biconvex; berukuran diameter 9 mm dan tebal bagian sentral
4mm. Bagian-bagiannya adalah: kapsul, korteks, nukleus.
Pada usia muda lensa tidak bernukleus, pada usia 20 tahun nucleus mulai
terbentuk. Semakin bertambah umur nuleus makin membesar dan padat, sedangkan
volume lensa tetap, sehingga bagian korteks menipis, elastisitas lensa jadi berkurang,
indeks bias berubah (membias sianar jadi lemah). Lensa yang mula-mula bening
transparan, menjadi tampak keruh (Sklerosis) berwarna kekuning-kuningan ini mungkin
yang menyebabkan kekurang mampuan membedakan warna antara biru dan purple.
Kekeruhan lensa yang disertai gangguan visus disebut katarak.
7. Iris
Mengalami proses degenerasi, menjadi kurang cemerlang dan mengalami
depigmentasi tampak ada bercak berwarna muda sampai putih dan strukturnya menjadi
lebih tebal.
8. Pupil
Konstriksi, mula-mula berdiameter 3mm, pada usia tua terjadi 1 mm, reflek direk
lemah, kemampuan akomodasi menurun. Pupil pada orang muda menghantar sinar 6x
lebih besar dibanding orang ber-usia 80 tahun. Pada tempat yang gelap orang yang
berusia 20 tahun menerima sinar 16x lebih besar.
9. Badan Kaca (Corpus Vitreum)
Pada usia diatas 50 tahun badan kaca akan mengalami liquefaksi (sineresis),
kavitasi namun dibagian tepi justru mengalami kondensasi dan penebalan serta lepasnya
membran hyaloid dari retina maupun kapsul lensa belakang. Konsistensi badan kaca lebih
encer, dapat menimbulkan keluhan photopsia (melihat kilatan cahaya saat ada perubahan
posisi bola mata).
10. Retina
Terjadi degenerasi (Senile Degenaration). Gambaran Fundus mata yang mula-
mula merah jingga cemerlang menjadi suram dan ada jalur berpigmen (Tygroid
Appearance) terkesan seperti kulit harimau. Jumlah sel fotoreseptor berkurang sehingga
adaptasi gelap dan terang memanjang dan terjadi penyempitan lapangan pandang, ini
disebabkan terlambatnya regenerasi dari rodopsin.
11. Syaraf Optik (Nervus Opticus)
Jumlah akson syaraf optik berkurang dan ada penambahan jaringan ikat, warna
papil Syaraf optik lebih pucat. Atrofi peripapiler, depigmentasi sekeliling papil
menimbulkan warna pucat sekeliling papil.
XI. Perubahan Anatomik pada Organon Auditus
Dengan makin lanjutnya usia terjadi degenerasi primer di organ corti berupa
hilangnya sel epitel syaraf yang dimulai pada usia pertengahan. Juga dilaporkan bahwa
keadaan yang sama terjadi pula pada serabut aferen dan eferen sel sensorik dari kokhlea.
Disamping itu juga terdapat penurunan elastisitas membran basalis di kokhlea dan
membran timpani. Pasokan darah dari reseptor neuro-sensorik mengalami gangguan,
sehingga baik jalur audiotorik dan lubus temporalis otak sering terganggu, dari penjelasan
diatas terlihat bahwa gangguan pendengaran pada usia lanjut dapat disebabkan oleh
berbagai sebab antara lain: gangguan pendengaran tipe konduktif, adalah gangguan
bersifat mekanik, sebagai akibat dari kerusakan kanalitas auditorius, membran timpani
atau tulang pendengaran. Salah satu penyebab gangguan pendengaran tipe konduktif
yang terjadi pada usia lanjut adalah adanya serumen obturans, yang justru sering
dilupakan pada pemeriksaan. Hanya dengan membersihkan lubang telinga dari serumen
ini pendengaran bisa menjadi lebih baik.

Kesimpulan
1. Proses menua disebabkan oleh faktor intrinsik, yang berarti terjadi perubahan
struktur anatomik dan fungsi sel maupun jaringan disebabkan oleh penyimpangan
didalam sel/jaringan dan bukan oleh faktor luar (penyakit). Menghambat penuaan
berarti mempertahankan struktur anatomi pada suatu tahapan kehidupan tertentu
sepanjang mungkin maka untuk ini diperlukan penguasaan ilmu anatomi
2. Terjadinya perubahan anatomik pada sel maupun jaringan tiap saat dalam tahapan
kehidupan menunjukan bahwa anatomi adalah ilmu yang dinamis.
3. Anatomi adalah ilmu dasar yang selalu menjadi dasar dari ilmu yang berkembang
kemudian, mengembangkan ilmu anatomi berarti membina ilmu masa depan.
UCAPAN TERIMA KASIH

Hadirin yang saya muliakan,


Sebelum mengahkiri pidato pengukuhan ini, perkenankan saya menyampaikan rasa
syukur kehadirat Tuhan yang Maha Kuasa atas segala tuntunan, kekuatan, kesabaran,
serta limpahan rahmat dan karuniaNya. Sehingga mendapat kepercayaan menerima
jabatan akademik Guru Besar dan pada kesempatan ini perkenankan saya menyampaikan
rasa hormat dan terimakasih setulus-tulusnya kepada:
1. Pemerintah Republik Indonesia, (melalui) Menteri Pendidikan Nasional, Prof. Dr.
Bambang Sudibyo, MBA atas kepercayaan yang diberikan kepada saya untuk
memangku jabatan sebagai Guru Besar Anatomi di Fakultas Kedokteran
Universitas Sebelas Maret.
2. Rektor Universitas Sebelas Maret Surakarta, Prof. Dr.H. Moch.Syamsulhadi,dr,
SpKJ(K), para anggota Senat Universitas, Senat Fakultas Kedokteran, Dekan
Fakultas Kedokteran UNS, Dr.A.A Subijanto, dr, MS saya ucapkan terimakasih
atas persetujuannya dalam menilai dan meloloskan CCP saya untuk memperoleh
jabatan akademik Guru Besar di lingkungan Fakultas Kedokteran Universitas
Sebelas Maret Surakarta.
3. Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta, DR. A.A
Subijanto, dr, MS. Pembantu Dekan I Prof DR Satimin Hadiwijaya dr,PAK,
MARS, Pembantu Dekan II Isdaryanto dr,MARS, Pembantu Dekan III Bambang
Suratman dr, SpTHT (KL) atas bantuan dan tuntunan yang baik selama ini,
sehingga jabatan Guru Besar Anatomi dapat saya peroleh.
4. Mantan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta, Dr.
Admadi Suroso, dr, SpM, MARS, atas ijin yang diberikan sehingga saya dapat
mengikuti program Doktor di Surabaya yang akhirnya dapat menghantarkan saya
untuk meraih jabatan Guru Besar.
5. Prof. Drs. Soekijo dan Prof. Drs. Anton Sukarno atas dorongan dan bantuannya
maka surat keputusan pengangkatan Guru Besar saya dapat terwujud dalam waktu
yang relatif singkat.
6. Kepada Prof H Ari Gunawan, dr, MS,Phd; Prof. Dr. Hj Juliati Hood A, dr, MS,
SpPA, FIAC; Prof. Dr Indri Safitri, dr, MS sebagai promotor dan co-promotor
yang selalu membimbing dan memberi petunjuk dengan sabar dan dukungan
moril yang memberikan kesejukan dan ketenangan dalam menyelesaikan
pendidikan program Doktor di Universitas Airlangga.
7. Prof Djumikan, dr (alm).Guru saya yang selalu membimbing dengan penuh
perhatian sebagai seorang bapak,semoga Tuhan memberi tempat yang layak
disisinya.
8. Prof. Dr Satimin Hadiwijaya,dr, MARS, kepala laboratorium anatomi senior
saya yang mendorong dan memberi ijin kepada saya untuk melanjutkan studi S3
di Unair.
9. Seluruh staf edukatif, administratif maupun tenaga laboran di Laboratorium
Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret, Hasan Doewes, dr, SU,
MARS, PAK., Sri Indratni, dr, PAK, MOr., Ratnaningsih H, drg, Ort., Selfi
Handayani, dr, MKES, Nanang Wiyono, dr., mbak Sribukit, mas Mujiono, mas
Darmanto, dan mas Lasimin atas bantuan pengertian dan kerjasama yang baik
selama ini, sehingga saya dipercaya untuk memangku jabatan akademik Guru
Besar Anatomi.
10. Semua guru saya, mulai dari guru di Sekolah Rakyat, SMP, SMA, serta
pendidikan di Fakultas kedokteran Undip, Program Pascasarjana di STIMJ,
Program Pasca Sarjana Kedokteran Keluarga UNS, Program Pasca Sarjana
Universitas Airlangga, atas bimbingan dan didikannya.
11. Mbakyu Dra Endang Sudiyono, kakak saya yang tanpa mengenal lelah memberi
dorongan semangat dan doa.
12. Kedua orang tua saya, almarhum Bapak Slamet Sutantyo dan almarhumah Ibu Sri
Rahayu yang telah membesarkan dan mendidik saya dengan penuh kasih sayang.
Ananda haturkan sembah sujud atas bimbingan, didikan dan doa yang selalu
terucap pada saat kami terlelap.
13. Kedua mertua saya almarhum Bapak Siswanto dan almarhumah Ibu Kustiartini
yang senantiasa memberikan doa restu kepada saya sekeluarga.
14. Saudara -saudara kandung saya beserta keluarga saya ucapkan terima kasih yang
tulus atas segala doa dan dorongannya.
15. Saudara-saudara ipar beserta keluarga terima kasih atas dukungan dan doanya.
16. Istri tersayang Dwi Yanti Hastuti, dari lubuk hati yang terdalam saya sampaikan
ucapan terima kasih atas segala kesabaran, keprihatinan, dorongan dan dukungan
doa selama ini, mengikuti dan menyertai sejak awal hingga saya berhasil meraih
jabatan akademik tertinggi ini
17. Ketiga anak saya, Wulandari Ekorini S Kom beserta suaminya William Budi
Kurniawan Dipl Inf, Endah Dwi Palupi SPd,MM , Retno Tri Astuti SE, engkau
semua adalah permata yang Tuhan anugerahkan kepadaku.Tak ketinggalan untuk
cucuku Sidney engkau pembawa keceriaan dan kebahagian. Terima kasih untuk
dorongan kepada saya untuk melakukan yang terbaik bagi keluarga, masyarakat
dan bangsa.
18. Semua pihak yang tidak dapat saya sebut satu persatu yang telah membantu,
mendorong dan memberi doa restu sehingga saya berhasil meraih jabatan ini
19. Hadirin sekalian, yang telah meluangkan waktu yang sangat berharga ini, dengan
tekun dan penuh kesabaran berkenan untuk mengikuti prosesi pengukuhan saya
sebagai Guru Besar, mohon maaf apabila ada kata atau tingkah laku yang kurang
berkenan.
20. Seluruh panitia pengukuhan Guru Besar yang telah mempersiapkan segala
sesuatunya, sehingga acara prosesi pengukuhan saya sebagai Guru Besar Anatomi
di Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret berjalan dengan lancar. Saya
sampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya semoga Tuhan yang
membalasnya.Amin.
Daftar Pustaka

Agoestina T. 2001. Pentingnya Terapi Sulih Hormon pada Wanita Menoupouse.


Medika no. 11 Tahun XXIII, Nopember 2001.

Best B. 2006. Mechanism of Aging://wysiwyg 1 /file/e/mechanism of Aging htm.

Brain & Aging, 2006. http://www.biorap.org/rg/rgagebrainaging.html

Carola R, Harley JP, Noback, 1990. Human Anatomy and Physiology. McGraw-Hill
Publishing Company.

Carmel R, 1997. Cobalamin, Stomach, and Aging. Am J Clin Nutr 1997; 66: 750-9.

Darmojo RB, 2001. A Visit to Geriatric Heart Disease (Sukaman Lecture).


Medika no. 6 TahunXXVII, Juni 2001.

Darmojo RB, 2002. Penatalaksanaan Penderita Lanjut Usia secara Terpadu.


Medika no. 1 tahun XXVIII, juni 2002.

Darmojo RB, et al, 2004. Buku Ajar Geriatri.Balai Penerbit FK UI Jakarta.

Djuwantoro D, 2006. Overactive Bladder. Patofisiologi dan Penatalaksanaan.


Medika no.6 Tahun XXXI, juni 2006.

Guttman M. The Aging Brain.


http://www.usc.edu/hsc/info/pr/hmm/01spring/brain.html

Hartford JA, 2002. Aging & Sensory Function. http://www.nyu.edu/education


/nursing/hartford.institute/course

Kennard C, 2005. The Aging Brain. http.//alzheimer.about.com/od/research

Kodim N, 1999, Perubahan Proses Berkemih, Masalah Kesehatan Potensial pada


Kelompok Usia Lanjut. Medika no. 12 Tahun XXV, Desember 1999.

Laksmiasanti, 1987. The Pathophysiology of Brain Ischaemia.


Geriatrics Symposium on Dementia and Brain Ischaemia

Mayo Clinic Staff. 2005. Anti Aging Therapies: Too Good To be True?
http://health.MSN.com/womenshealth/articlepage

Montagna W, Carlisle K, 1979. Structural Changes in Aging Human Skin.


The Journal of Investigative Dermatology, 73: 47-53
Nair KS, 2005. Aging Muscle. Am J Clin Nutr 2005; 81:953-963.

Nalla Rk, et al, 2004. Effect of Aging on the Toughness of Human Cortical Bone:
Evaluation By R-Curves. UCRL_JRNL.

National Institute on Aging, 2005. Skin Care and Aging, http://www.nia.nih.gov

Nasution I, 2003. Pendekatan Farmakologis pada Benign Prostatic Hyperplasia


(BPH). Medika no. 3 tahun XXIX, Maret 2003.

Nolan DE, 2006. Normal Age-Related Vision Loss and Related Services for the
Elderly . http:/nubel.statsu.edu/research/donia/agng-visual changes.htm

Pribakti B, 2004. Prolaps Urogenital Pasca Menoupause.


Medika no. 2 Tahun XXX, Pebruari 2004.

Reiman E, 2006. What Physical Changes Happen to The Brain?

Russell RM, 1992. Changes in Gastrointestinal Function Attributed to Aging. Am J


Clin Nutr 1992; 55:1203s-7s.

Setiati S, 2003. Radikal Bebes, Antioksidan, dan Proses Menua.


Medika no. 6 Tahun XXIX, Juni 2003.

Siregar AH, 2006. Spa Medic Pilar Anti Aging Medicine.


Cermin Dunia Kedokteran no. 150, 2006

Situmeang R, 2000. Terapi Growtth Hormon pada Perawakan Pendek.


Medika no. 11 Tahun XXVI, November 2000.

Soejono CH, 2004. Pasien Geriatri dan Permasalahannya.


Medika no.5 tahun XXX, Mei 2004.

Subrata G, 1995. Pencegahan dan Terapi Mutakhir Osteoporosis dengan Clodronate.


Medika no. 5 Tahun XXI, Mei 1995.

Suhardjo, 1994. Pola Kelainan Mata pada Usia Lanjut.


Medika no. 10 Tahun XX, Oktober 1994.

Taslim H, 2001. Gangguan Muskuloskeletal pada Usia Lanjut.


Medika no. 7 Tahun XXVII, Juli 2001.

Vision and Anatomic changes with aging eye. The Eye Digest.
http://www.agingeye.net 2007 01/10/2007.
BIODATA
Data Pribadi
Nama : Prof. DR. dr. Didik Gunawan Tamtomo, PAK., MM, MKes.
N.I.P : 130 543 994
Tempat & tgl lahir : Surakarta, 13 Maret 1948
Agama : Kristen
Pekerjaan : Dosen Anatomi FK. UNS
Pangkat/ Golongan : Pembina Utama Muda (Gol. IV/c)
Jabatan Dosen : Guru Besar Anatomi
Nama Isteri : Dwi Yanti Hastuti
Nama Anak : 1. Wulandari Ekorini. Skom.
2. Endah Dwi Palupi. SPd. MM.
3. Retno Tri Astuti. SE.
Alamat Rumah : JI. RM. Said 156/Magorejo II/3 Surakarta
Alamat Kantor : JL. Ir.Sutami 36 A Surakarta

Riwayat Pendidikan
Tahun 1962 : Lulus Sekolah Dasar Kristen Pasar Legi Surakarta
Tahun 1965 : Lulus SMP Kristen Pasar Legi Surakarta
Tahun 1968 : Lulus SMA Santo Yoseph Surakarta
Tahun 1976 : Lulus Dokter Fakultas Kedokteran Univ. Diponegoro Semarang
Tahun 1990 : Brevet Ahli Anatomi Kedokteran dari IDI
Tahun 1991 : Brevet Ahli Anatomi dari PAAI
Tahun 1995 : Lulus Magister Manajemen Sekolah Tinggi llmu Manajemen
Jakarta
Tahun 2001 : Lulus Magister Kedokteran Keluarga Pasca Sarjana UNS
Tahun 2005 : Lulus Doktor Pasca Sarjana IImu Kedokteran Universitas
Airlangga
Pendidikan Tambahan
1. Training Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja. Surakarta, 1978
2. Program Akta Mengajar Lima. Universitas Terbuka, 1984
3. Kursus Ekonomi Manajerial. Semarang, 1991
4. Kursus Riset Operasi. Semarang, 1991
5. Kursus Manajemen Keuangan. Semarang, 1991
6. Kursus Manajemen Pemasaran. Semarang, 1991
7. Kursus Business Environment. Semarang, 1992
8. Kursus Investment. Semarang, 1992
9. Kursus Business Strategy and Policy. Semarang, 1992
10. Kursus Public Policy Analysis. Semarang, 1992
11. Pendidikan Akupuntur Tingkat Lanjut. Surabaya, 2003.

Riwayat Pekerjaan
1. Tahun 1976 : Calon Pegawai Negri Sipil (III/a)
2. Tahun 1977 : Penata Muda, Asisten Ahli Madya (III/a)
3. Tahun 1981 : Penata Muda Tingkat I, Asisten Ahli (III/b)
4. Tahun 1985 : Penata, Lektor Muda (III/c)
5. Tahun 1989 : Penata Tingkat I, Lektor Madya(III/d)
6. Tahun 1993 : Pembina, Lektor (IV/a)
7. Tahun 1997 : Pembina Tingkat I, Lektor Kepala Madya (IV/b)
8. Tahun 2001 : Pembina Utama Muda, Lektor Kepala ( IV/c)

Riwayat Jabatan Struktural


Tahun 2002 2003 : Wakil Direktur Bidang Administrasi Umum dan
Keuangan Program Studi Magister Kedokteran
Keluarga Progam Pascasarjana Universitas Sebelas
Maret.
Tahun 2002 2003 : Koordinator Administrasi Umum dan Keuangan UNS
Medical Center.
Tahun 2006-sekarang : Bagian Pengembangan dan Kerjasama Medical Center
Organisasi Profesi
Tahun 1976 sekarang : Anggota IDI SURAKARTA
Tahun 1977 sekarang : Anggota PAAI
Tahun 2001 sekarang : Anggota KDKI
Tahun 2005 sekarang : Anggota PASTI

Karya Ilmiah
A. Publikasi Jurnal Ilmiah
1. Pengukuran Antropometri Tebal Lipat Lemak Kulit sebagai indikator kondisi
Koresterol Darah, 2002.
2. Hubungan antara Lingkar Genggam Bagian Luar, Tinggi Badan, dan Ukuran
Panjang Telapak Kaki Orang Indonesia di Surakarta, 2003.
3. Budaya Kerokan sebagai Upaya Pengobatan Tradisional, 2004.
Artikel
1. Antara Krisis Ekonomi, Kaum Perempuan dan Kesehatan Reproduksi.
Bernas, 2003
2. Ruang Hijau Pangkal Keluarga Sehat. Suara Merdeka, 2003.
3. Sekilas Tentang Pelayanan Dokter Keluarga. Buletin UNS, 2004.
4. Peran Dokter Keluarga Dalam Penatalaksanaan Obesitas. Buletin UNS,
2004.
5. Prevensi dan Promosi Penyakit Kanker. Pewara Dinamika, 2004.
6. Kesehatan Reproduksi Wanita di Lingkungan Industri. Buletin UNS, 2004.
7. Budaya Kerokan Sebagai Upaya Pengobatan Tradisional, Buletin UNS 2004
8. Tatalaksana Dislipidemia Dengan Susu Kedelai. Pewara dinamika
Universitas Negri Yogyakarta, 2005.
9. Makanan dan Kanker Usus Besar, Pewara DINAMIKA Universitas Negri
Yogyakarta, 2005
10. Prevensi dan Promosi Ketagihan Narkoba, Buletin UNS, 2005
11. Olahraga Untuk Penderitaan Hipertensi, Buletin UNS , 2005
12. Olahraga Untuk Penderitaan Asma, Pewara DINAMIKA Universitas Negri
Yogyakarta, 2006
B. Karya Tulis Buku
1. BPK Situs Pelvicus 1988
2. Anatomi Kebidanan 1996, UNS Press (ISBN: 979-496-110)
3. Anatomi Jantung 1998, UNS Press (ISBN: 979-498-121)

C. Pembicara
1. Pembicara pada roundtable discussion tentang dokter keluarga dan
pelayanan kesehatan yang bermutu. Surakarta, 2001.
2. Pembicara pada roundtable discussion tentang keterpaduan pelayanan
kesehatan pada sistem dokter keluarga. Surakarta, 2002.
3. Pembicara pada penyuluhan penyakit hepatitis. Bank Indonesia Surakarta,
2005.
4. Pembicara pada penyuluhan penyakit demam berdarah. Bank Indonesia
Surakarta, 2005.
5. Pembicara pencegahan penyakit jantung pada ikatan wanita bank sewilayah
Surakarta. .Surakarta, 2005.
6. Pembicara ceramah kesehatan mengenai penyakit hepatitis pada persatuan
istri pegawai Bank Indonesia. Surakarta, 2005.
7. Pembicara pada seminar Nasional Kedokteran Keluarga tentang
Penanganan Aging Dalam Praktek Dokter Keluarga, 2006.

D. Desertasi
Kajian Biologi Molekuler Pengobatan Tradisional Kerokan Pada Penanggulangan
Mialgia

E. Penghargaan
1. International Golden Citra Award 1999
2. Indonesia Development Award 1999
3. Insan Penggerak Pembangunan Indonesia 1999
4. 2000 Outstanding Intellectuals of the 21 at Century in Health and
Education
5. Top 100 Health Professional Pinnacle of Achievement Award in Family
Medicine, England 2005
6. Great Minds of the 21 at Century in Traditional Medicine, American
Biographical Institute
7. Who's Who in the World 2005
8. International Health Professional of the Year 2005 in Family Medicine,
England
9. Penghargaan dari Kasunanan Surakarta sebagai Kanjeng Raden Aryo
Tumenggung 2006

Beri Nilai